Kamis, 18 April 2013

Semesta Yang Komikal

Apa yang lebih menyebalkan dari kebetulan-kebetulan yang terjadi dalam sebuah repetisi tengik? Sebuah kejadian sama persis lantas mengingatkan kita pada masa lalu? Seperti sebuah adegan yang mutlak sama terjadi. Seperti kau memutar ulang peristiwa lampau yang pernah terjadi hanya dengan orang yang sama sekali berbeda dan waktu yang sama sekali baru. Seperti kado yang mirip, ucapan yang karib dan tindakan serta yang pikiran yang rumit?

"Kadang kupikir semesta sedang asik mempermainkanku," kata perempuan.

Si lelaki hanya diam. Matanya memandang kosong pada bohlam lampu di langit-langit kamar. Baru beberapa saat yang lalu kamar itu riuh dengan lenguhan dan desah. Keringat meluncur dari dahi si lelaki "Bercinta itu melelahkan. Kenapa orgasme tak semudah kita menelan makanan? Kau tahu? Beberapa makanan tak perlu dikunyah," katanya.

Si perempuan hanya terdiam. Tak ada cinta dalam pergemulan malam itu. Hanya sekedar buang hajat yang terlalu. Hanya sekedar vakansi dari penat yang terlalu. Barangkali cinta sudah lama hilang. Si lelaki mengutuk pengkhianatan, si perempuan meneluh kenangan. Keduanya terluka dan lelah percaya. Nasib sudah kepalang brengsek mempermainkan perasaan si perempuan, sementara si lelaki sudah terlalu jengah diombang-ambingkan takdir.

"Seandainya kita berjumpa beberapa tahun lebih awal. Barangkali kau dan aku sudah punya dua anak," kata si perempuan duduk lantas membakar sebatang rokok.

Sudah terlalu sering luka merambati hati perempuan itu. Barangkali lebih sering daripada cendawan muncul di musim hujan. Atau jumlah anak sebelum ditemukan kontrasepsi. Atau lebih banyak daripada bersin yang terjadi akibat debu berterbangan. Terlalu sering sampai-sampai malaikat hanya perlu mencontreng satu jenis luka dari beragam luka yang masuk inventarisnya selama bertahun-tahun hidup di pundak si perempuan. "Kita hanya telat berjumpa. Jika ya kita barangkali tak akan jadi batu seperti sekarang," katanya menghembus asap rokok dan mengotori kamar hotel ber AC dingin itu.

Ada yang tak lunas diceritakan oleh kata-kata. Si lelaki sudah lama membenci puisi dan prosa seperti si perempuan membenci perhatian yang tak perlu. Mereka hanya berjumpa untuk bercinta, panas, tanpa emosi lantas berpisah seolah tak pernah terjadi apa-apa. Si perempuan pulang ke kotanya tak hendak ditemani, si lelaki pergi menjalani hidupnya yang seperti robot. Menjilat satu pantat lantas menjilat pantat lainnya hanya untuk memenuhi target penjualan. 

Dulu si lelaki mencintai perempuan lain ia hanya memanggilnya dengan sebutan mesra satu huruf konsonan. Si lelaki mabuk kepayang hingga tak bisa berpikir jernih. Ia lelaki yang terlampau gagap untuk memahami gejolak zaman. Bahwa perempuan tak lagi menyukai puisi. Bahwa perempuan tak lagi menikmati lagu-lagu dengan lirik dalam. Bahwa perempuan tak lagi butuh pembuktian dengan perjuangan. Si lelaki adalah manusia naif yang hidup dalam dongeng-dongen. Dalam kisah-kisah tua dimana pangeran dan putri bahagia selamanya. Ia tak tahu dunia berjalan gegas membawa Prada dan Ferari beserta sang putri, sementara lelaki kecut dengan puisi lepek hanya tertinggal jadi alas kaki para pembesar kerajaan.

"I loved you, and I probably still do, And for a while the feeling may remain. But let my love no longer trouble you, I do not wish to cause you any pain." si lelaki bangkit mengambil tisu basah seraya membersihkan kemaluannya. "Apa yang lebih tengik daripada berpuisi sambil membersihkan mani?" katanya.

Ia tertawa getir. Membersihkan kemaluannya secara teatreikal seolah beraksi di depan penonton yang memujanya karena akting maha dahsyat. Seolah ia adalah tokoh dalam adegan drana Quill tentang Marquis de Sade. Si lelaki ingat bagaimana sajak menjadi sangat murah. Tentang bagaimana puisi menjadi tak lebih baik dari doa perayu wanita untuk terlentang di ranjang. Tentang bagaiman moral tak lebih baik dari berak kuda yang disapu di jalanan. 

Si perempuan tertawa keras hingga terbahak. "Kita mahluk rusak. Cacat dan terkutuk masyarakat, tapi setidaknya kita jujur. Kita adalah nanah yang nyata, bukan kanger yang sembunyi dibalik kulit yang halus," katanya sinis. 

"Kamu berkotbah?" jawab si lelaki nyinyir.

Ada satu waktu dimana Tuhan dan agama tak lagi penting. Ketika kutbah dan pesan-pesan kitab suci tak lebih haru dari sekedar pengingat masa lalu. Mereka yang terduduk telanjang dalam kamar itu sama-sama meratapi peristiwa yang sudah terjadi.Manusia-manusia yang menghamba pada imaji belantara cerita yang semestinya sudah selesai. Si perempuan pernah mencintai lantas membenci. Si lelaki pernah menyukai lantas mendendam. Keduanya berkelindan membagi luka yang tak habis-habis. Persetubuhan antara dua luka yang sama-sama tak selesai. Sama-sama tengik dan sama-sama bacin. Mereka bergantung dan sekaligus membenci satu sama lain.

"Tulilit tulilit," ponsel touch screen merah jambu berbunyi nyaring.

"Siapa?" tanya si lelaki.

"Tunanganku. Dia tanya kemana aku, rupanya dia datang ke kantor untuk menjemputku," katanya datar. Tak ada emosi tak ada ketakutan. Wajah yang dingin dan tak lebih wajar dari emosi yang terjadi ketika tawar menawar harga bawang terjadi. "Halo sayang? Iya. Aku sedang di jalan. Mampir ambil bahan. Baiklah sayang. Oke sayang. Iya aku juga. Dagh," katanya dengan suara manja yang hampir sempurna.

"Kamu harusnya jadi artis. Barangkali bisa lebih sukses daripada menjadi pegawai kantoran," ejek si lelaki.

Sudah terlalu sering si lelaki dikecewakan harapan. Ia hidup dengan menyimpan bara api yang lebih pekat dari darahnya sendiri. Di sisi kiri dadanya ia merajah mantra keji tentang kematian yang paling mengerikan yang bisa ia temukan. Lantas mencatat segala nama musuh-musuhnya di punggungnya. Pada satu malam kelam seusai bersenggama dengan perempuan paling jelek yang bisa ia temukan si lelaki mengucap sumpah. Tak akan mati sebelum mereka yang namanya tertulis pada punggungnya mati dengan mengerikan.

Si lelaki dulunya tak begitu. Ia adalah lelaki yang mencintai Tuhan. Lelaki yang menghapal lebih banyak pujian Tuhan daripada artis sinetron. Lelaki yang tak akan berpikir dua kali untuk melompat dalam kolam menyelamatkan mereka yang ia sebut kawan. Lelaki yang dengan sigap memasang badan menghadapi pengeroyokan daripada melihat kawannya di nista. Ia lelaki yang mencintai hidup dan mencintai kehidupan. Barangkali lelaki paling manis yang bisa dibayangkan ibu yang sedang mengandung dan karib paling dicari oleh sahabat yang kesepian.

Tapi itu dulu. Sebelum ia dikecewakan. Sebelum ia tahu mereka yang ia sebut sahabat tak lebih hina dari belatung yang melata. Tak lebih kerdil dari cacing dalam berak. "Aku melakukannya karena aku bisa. Tak penting siapa wanitanya, tak penting siapa orangnya, aku bisa merebutnya dan kau tak akan bisa apa-apa," kalimat itu terus terngiang dari kepala si lelaki. "Dasar kau lemah. Bisanya memohon. Bisanya mengirim pesan. Sudahlah kau itu hina. Sadar diri tak usah meminta-minta," kalimat lain terdengar dalam kepala si lelaki.

Sejak itu terjadi ia tak lagi percaya apapun. Tak lagi mengharapkan apapun. Barangkali kelemahannya. Barangkali juga egonya. Tak ada yang tahu apa yang membuatnya sakit lantas terluka begitu hebat. Tak ada yang mau mengerti apa yang membuatnya begitu mendendam begitu kuat. "Aib dibagi, janji disunat, kelebat teman hanya rautan, lukaku punah, sembab bernanah," katanya bergumam aneh. Seolah bicara dengan bayangan yang tak ada. Berdebat dengan sesuatu yang tak nyata.

Masih dalam keadaan telanjang si perempuan duduk dibahu ranjang. Hawa dingin AC tak membuatnya gentar. Bulir-bulir keringat sudah mengering sejak tadi. Matanya kosong. Dingin dan tak lagi memancarkan kehidupan. Tubuhnya mulai menua, keriput, uban dan lemak yang bertambah banyak tak membuat kecantikannya serta merta hilang. Barangkali hanya menambah cita rasa dengan selera yang berbeda. Toh masih ada satu dua lelaki yang merayunya meminta menikmati tubuh itu dalam ranjang yang panas. Tapi si perempuan menolak. Hanya kepada lelaki tertentu saja ia rela berbagi. 

Hanya kepada mereka yang membuatnya mengingat lelaki dingin di masa lalu yang membuatnya sakit begitu rupa.

Si perempuan adalah Batara Durga. Mendendam karena perih yang terlalu lama. Ia serupa kisah Calon Arang yang mengutuk lelaki karena memberinya cinta palsu. Cinta yang hanya sekedar angin lalu. Ia adalah patung bopeng. Ia adalah lukisan yang coreng. Seorang lelaki memberinya cinta lantas merebutnya tiba-tiba tanpa alasan. Menahun kemudian ia tahu ia hanya menjadi tumbal persinggahan. Menjadi perempuan yang kesekian. Barangkali itulah saat ketika ia menanggalkan cinta dari hatinya. Menggantinya dengan seperangkat kebencian yang paling kejam.

Tapi ia tak begitu. Si perempuan dulunya adalah ibu peri. Mencintai kanak-kanak dengan segala ramai dan celotehnya yang lugu. Mencintai langit malam dan bukit yang menjorok tinggi memandang redup lampu sebagai sebuah syair. Perempuan yang membagikan senyum lebih sering daripada pramutama bank dan pelayan restoran. Perempuan yang dibahunya ratusan anak bandel menjadi lebih tenang daripada patung Budha yang diam. Perempuan yang kata-katanya memadamkan amarah paling ramai. 

Tapi itu sudah lewat. Kini si perempuan tak peduli apapun. Ia tak lagi peduli pada kematian seekor bayi anjing yang ditabrak kereta. Ia tak peduli lagi tangis bayi yang meraung. Ia tak peduli lagi pada buku yang terbakar. Kejahatan orang lain tak disadari bisa mempengaruhi manusia lain dengan begitu rupa. Ia adalah doa yang dirapalkan setan ketika terusir dari surga. Si perempuan mengamininya, Tuhan mengabulkannya. Lantas cerita sesudahnya tak lebih dari dusta.

"Ah iya. Aku harus pergi. Pacarku hendak main ke kosan," kata si lelaki datar.

"Aku juga harus pulang," jawab si perempuan.

"Kita makan dulu? Atau kau langsung pulang?" tanya si lelaki.

"Sudahlah. Basa basimu bikin aku muntah,"

Si lelaki terbahak lantas memakai pakaiannya. Pergi begitu saja tanpa pamit pada si perempuan. Seolah tak pernah ada apa-apa sebelumnya. Seolah mereka adalah sepasang asing yang bertemu di jalan tanpa perlu bertegur sapa menyelipkan pamit doa ketika berpisah. Hanya begitu saja. Si lelaki pergi membuka pintu kamar hotel lantas berlalu. Berlalu dengan sigap dan tak pernah menoleh lagi ke belakang. Berlalu seolah itu adalah jalan umum yang biasa ia lewati dengan bosan, repetitif dan tanpa ada emosi.

Tapi tak ada yang tahu. Tidak juga si lelaki. Perempuan itu masih menunggu untuk percaya. Bahwa satu hari kelak si lelaki akan sadar bahwa ia mencintainya. Menunggunya untuk bertanya "Maukah kau membagi luka bersamaku? Maukah kau berjalan bersama menyembuhkannya seraya berjalan?" si perempuan hanya bisa menunggu. Bahwa ia akan sekali lagi punya kesempatan untuk bahagia dan menjadi hidup. Ia menunggu. Dalam keremangan kamar hotel ia menangis. Untuk kesekian kalinya setelah persetubuhan yang ganas. Tapi si lelaki tak pernah tahu. Ia menyiman harapan itu sendirian.

Tapi tak ada yang tahu. Tidak juga si perempuan. Jika si lelaki melangkah dengan mengepalkan jemari. Menahan setiap perkatan dan keinginan untuk berlari ke dalam kamar hotel itu. Memohon bersimpuh pada si perempuan. Memujanya seraya berkata "Berikan aku sebagian lukamu. Kita berjalan pada kisah yang baru. Aku mencintaimu perempuanku." Ia tahu itu mustahil. Si perempuan adalah kisah lain yang tak mungkin ia masuki. Si perempuan adalah rindu yang tak boleh ia lakukan.

Barangkali begitu. Aku si narasi hanya bisa mengumpat. Mengapa mereka yang jahat dan keji lepas begitu saja. Mengapa mereka yang culas dan jahat dipuja selayaknya karib yang tiada punya aib. Aku si narasi hanya bisa berpikir keras mengapa ini terjadi. Sementara aku tahu, Tuhan tertawa sangat keras di singgasana Nya. Begitu saja.

3 komentar: