Jumat, 31 Mei 2013

Buku Luka Cerita

Dalam satu tafsir yang tak tunggal barangkali Tuhan sudah patah hati berulang kali terhadap manusia. Ia menciptakan Adam, lantas kecewa karena dikhianati. Kita terbuang dari surga dan kehidupan manusia tak pernah sama. Tapi apakah patah hati selalu tentang luka? Saya kira tidak. “Turunlah kamu semuanya dari surga itu!", perintah Tuhan datang dengan rasa khawatir "...datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” 

Patah hati hanya perkara keinginan. Seringkali harapan yang tak terpenuhi adalah sumber kelahiran rasa sakit itu. Menyadari bahwa sebenarnya keinginan adalah satu bentuk egoisme, rengekan dan semacam kegiatan fasis. Apakah kita percaya semua itu? Entahlah. Tapi patah hati seringkali adalah sebuah keadaan sementara. Tak pernah ada patah hati yang abadi, beberapa memilih kematian daripada menanggung pedih hidup. Sementara yang lain larut tunduk pada kefanaan bernama hilang sadar.

Apakah patah hati selalu berujung perih? Seringkali iya tapi tidak selalu. Beberapa penulis terhebat dunia melahirkan karya karena patah hati. Beberapa di antaranya tak pernah benar-benar pulih hingga akhir hayatnya. Sementara yang lain bertahan hidup dan merasakan cinta yang lain. Dante Alighieri melahirkan Divine Comedy untuk kekasih yang tak pernah ia miliki. Jane Austen menuliskan berbagai buku setelah memutuskan melajang karena cinta yang tak bersambut. Tapi apakah patah hati melulu perkara cinta?

Edward Said orientalis dan pemikir brilian kelahiran Yerusalem itu kecewa pada negara dan bangsa yang membuat tanah airnya tercerai berai. Basuki Resobowo, virtuoso lukisan Indonesia, begitu sakit hati ketika menemui rekan-rekan sejawatnya di tanah air telah menjadi "antek kapital" dan melupakan "cita-cita revolusi". Barangkali juga seperti Jan Palach si pemuda tampan dari Ceko yang membakar diri karena cintanya pada negeri dihancurkan barisan tentara merah Soviet.

Apakah cinta yang semacam ini tak berhak mendapat tempat di ruang patah hati? Di atas itu semua bagi saya hanya buku yang mampu menggambarkan kepedihan dari patah hati secara paripurna. Ia membekas karena mampu menghadirkan detak, irama dan adegan yang membuat kita mampu berbagi perasaan. Juga seperti efek placebo, ia menghadirkan sebuah keniscayaan, bahwa narasi dalam buku tersebut adalah sekeping peristiwa yang menjadi representasi perasaan kita.

Untuk itu saya menyusun sedikit daftar tentang buku patah hati yang sebaiknya anda baca. Susunan buku ini sangat subyektif. Tidak memiliki kaidah keilmuan yang saklek. Disusun dengan 'agak gimana gitu' dan perasaan yang berantakan. Bukankah selera perihal masing-masing manusia? Kita boleh setuju boleh tidak. Namun satu yang pasti, patah hati selalu lebih sunyi ketika kau melewatinya dengan membaca buku.

8. Magdalena - Mustafa Lutfi Al Manfaluthi

Alphonse Karr harus berterima kasih pada sastrawan mesir Mustafa Lutfi Al Manfaluthi karena menyadur karyanya Sous les Tilleus dengan sangat baik. Sehingga karya yang di negeri asalnya tak lebih jadi karya picisan. Namun di tangan Al Manfaluthi kisah cinta yang akhirnya tragis ini, bisa menjadi sebuah dialog yang hidup. Dengan gaya tutur sebagian besar berupa saling silang surat antara Steven dan Magdalena, pembaca diajak memahami isi hati masing-masing karakter melalui kata-kata yang tersusun.

Buku yang berjudul asli Al Majdulin ini berjalan sangat lambat. Di awal kisah cenderung sangat membosankan dan membuat saya jengah. Namun jalinan kisah misterius dari Stevan yang dirundung duka membuat saya terus tetap bertahan mencari tahu apa simpul permasalahan kisah ini. Karya saduran Al Manfaluthi sangat cocok bagi mereka yang patah hati karena ditinggal nikah oleh kekasihnya. Memberikan sebuah pandangan bagaimana semestinya menanti di lalui.

Tapi bukan tentang "ditinggal menikah kekasih jadi sedih lantas mati" yang membuat Magdalena menjadi istimewa. Jika hanya itu puisi/prosa Khalil Gibran barangkali sudah berbusa berkisah tentang itu. Namun bagaimana Al Manfaluthi menangkap relasi sosial kelas penguasa dan kekuatan untuk berjuang. Tentang Stevan yang berjuang melawan melodrama dan mencapai kesuksesan. Seharusnya putus cinta, meminjam istilah supir truk, tak seperti putus rem yang bisa menghilangkan nyawa.

7. Cinta Di Tengah Kengerian Perang - alih bahasa oleh Landung Simatupang

Apa yang dipikirkan seorang serdadu di medan terdepan peperangan ketika sedang merindu kekasihnya? Interaksi percakapan melalui medium surat membuat kita tersadar bagaimana kekuatan kata-kata yang ringkas bisa bermakna sangat lumer. Ia bicara tentang ketiadaan harapan, tentang rasa pasrah, tentang bagaimana seseorang dipaksa menerima nasib tanpa diberikan kesempatan melawan. Perang, kata penulis Margaret Atwood, terjadi karena bahasa gagal menerjemahkan makna perdamaian.

Beberapa surat tak ditulis dengan nuansa muram dan sedih. Beberapa prajurit masih percaya bahwa pada satu titik perang akan berakhir dan mereka akan pulang. Pulang adalah sebuah kata sakti yang membuat serdadu paling nasionalis tergetar karenanya. Pulang berarti merindu segala yang kau cintai, kekasih yang montok, musim panas yang indah, atau tentang "cara menyimpan sandwich yang norak". Dalam surat para serdadu Jerman yang kalah ini kita melihat sepotong kehidupan yang hancur karena perang.

Tapi mungkin yang paling membuat patah hati adalah bagaimana seorang serdadu dapat kehilangan keyakinan. Serdadu yang dalam dirinya ada bagian identitas sebagai umat, sebagai manusia yang tunduk dan patuh pada perintah agama. Ketika ia menjumpai perang ia lantas melihat kengerian-kengerian yang tak bisa dibahasakan. Seperti dalam sebuah surat yang ditulis serdadu pada kekasihnya yang taat. "Aku tak lagi percaya tuhan baik. Jika demikian ia tak akan membiarkan ketidakadilan yang dahsyat ini,"

6. Derita Cinta Tak Berbalas - Sephanie Iriana

"Cinta itu gak pernah logis," barangkali adalah kalimat klise paling masuk akal yang pernah saya dengar. Tapi bukan berarti sakit karena cinta tak bisa diteliti sebagai sebuah fenomena psikologis yang bisa disusun secara saintifik. Oke saintifik barangkali merupakan kata yang keras, namun dari sebuah skripsi lahirlah sebuah buku dengan kaidah penelitian ilmiah yang ketat. Stephanie Iriana adalah pihak yang mungkin bisa menolong kita seusai imaji utopis tentang sebuah hubungan hancur berantakan.

Mengambil sampel penelitian dua orang yang tengah patah hati Iriana berusaha mendedah apa itu nyeri dalam hati? Rasa sakit yang tak bisa didefinisikan, mengunci ulu hati, hilangnya selera makan dan matinya daya hidup. Meski menggunakan banyak teori psikolog kontemporer Victor E Frankl, pembaca akan dibuat seolah sedang menikmati film dari curhat dan relasi komunikasi antara korban patah hati dan pelaku patah hati.

Buku ini susah untuk dicerna. Karena terlalu teknis dan kaku buku ini harus pelan-pelan dibaca. Apalagi jika anda membacanya langsung seusai sebuah percintaan kandas. Namun dengan perspektif menarik dari kajian psikologi populer. Iriana berhasil mengkonstruksi keping-keping logika yang kita sisihkan ketika jatuh cinta. Patah hati karena cinta tak berbalas bisa jadi membuat manusia lebih logis dari pakar filsafat manapun.

5. Cinta Tak Datang Tepat Waktu - Puthut EA

Buku ini adalah salah satu dari sedikit buku yang masuk kompilasi buku yang wajib dibaca sebelum akhir zaman versi saya. Buku ini, seperti judulnya, bercerita tentang kisah-kisah cinta yang dimulai namun urung selesai. Disusun dengan sangat bernas oleh Puthut EA sebagai sebuah kisah otobigrafis (fiksi?) yang teliti. Detil-detil sederhana yang mengisahkan kehidupan aktivis sebelum dan sesudah 98 dan bagaimana kehidupan pribadi mereka.

Ada banyak fragmen dialog, monolog dan deskripsi yang membuat novel ini harus dibaca oleh para mahasiswa dan so called aktivis sosial media. Bukan karena ia bicara tentang gerakan sosial tapi ia berkisah secara nyata bagaimana sebuah gerakan dilangsungkan. Tapi tentu saja ada kisah pelik percintaan yang membuat para penderita patah hati seolah memiliki kedekatan dengan narasi yang ditawarkan. Penolakan, cinta yang gagal juga bagaiman seorang lelaki secara keras kepala jatuh cinta.

Lagi pula ada satu kalimat masyur yang akan membuat novel ini abadi. "Aku ingin mencintaimu dengan cara yang paling sunyi." Selebihnya biarkan anda dibuat mengumpat tentang pasangan yang "terlepas begitu saja tanpa berhasil diselamatkan".

4. Wuthering Heights - Emily Bronte

Wuthering Heights, seperti yang ditampilkan dalam beberapa filmnya, bercerita tentang lanskap murung pedalaman Inggris. Berkisah tentang cinta tak berbalas yang melahirkan tragedi. Buku ini barangkali adalah yang paling kelam dari peradaban sastra yang dihasilkan Bronte bersaudara. Berbeda dengan kakaknya Charlotte Bronte yang menulis dengan nuansa lebih 'ceria'. Emily memuja sifat buruk dendam,sebagai satu-satunya elemen paling jujur pada manusia.

Berkisah secara mundur tentang kehidupan Heathcliff si anak jadah yang mencintai dengan terlalu putri tuan tanah baik hati bernama Catherine Earnshaw. Selayaknya kisah sinetron dan FTV hari ini Heathcliff digagalkan cintanya karena kurang berpendidikan dan tak punya apa-apa. Penolakan Catherine dan penghinaan yang dilakukan kakaknya Hindley Earnshaw. Melahirkan sumpah kebencian akan pembalasan dendam yang keji.

Sisanya bagi saya tak penting lagi. Tapi bagaimana Emily Bronte menyusun kisah ini sangat luar biasa. Ia bicara tentang penderitaan dengan sangat renyah. Seolah-olah ia bisa menerjemahkan rasa perih karena penolakan kekasih dengan kata-kata yang ketika dibaca kita bisa mengalami sensasi yang sama. Di Indonesia ada dua versi terjemahan yang saya kira sama baiknya. Namun untuk menikmati benar karya ini ada baiknya anda tidak menonton filmnya terlebih dahulu. Mengapa? Just don't.

3. Biografi Kehilangan - Dina Oktaviani

Dina Oktaviani adalah sedikit dari penyair perempuan Indonesia yang bisa keluar dan memperoleh panggung sendiri. Ia menulis dengan ragu-ragu, sajaknya bimbang dan sedikit sekali menawarkan kepastian. Tapi bukankah itu esensi dari sebuah sajak? Saya kira penyair menempatkan sajak mereka bukan untuk dipahami selayaknya slogan, tapi untuk dicerna pelan-pelan dan direnungi maknanya.

Pada beberapa sajak yang ia tulis dalam Biografi kehilangan saya menemukan sebuah gaya menulis yang unik. Bukan baru tentu saja, tapi bagaimana kata diperlakukan seperti sebuah karib. Beberapa sajak ia tuliskan sebagai penghormatan orang dengan pendekatan yang saya kira sangat intim. Pada Solitaire untuk Alexander Supartono misalnya. "bertahanlah / aku akan memejamkanmu, kedua mata yang parau // dan mengikat seluruh kegelisahan sepatumu / pada kota ini,"

Tapi pada sajak sajak tentang cinta yang picisan saya kira Dina Oktaviani malah lantang berkisah. Sajak seperti  Kalender Sepi, Sepasang Orang Kalah, Cinta Yang Sengit, atau sajak yang paling saya sukai Sakramen. Dina menulis dengan indah sebuah kepergian yang saya kira adalah perpisahan. Dimana ia tuliskan "tuhan pergi, sayang / ia balikan punggungnya / dan kita bicarakan ini dengan hati," ini adalah puisi yang menolak manusia menjadi fatalis. Bahkan ketika sebuah perpisahan terjadi.

2. Sepasang Luka Cinta - Maruli Simbolon

Maruli Simbolon telat dilahirkan sehingga ia tak mendapatkan ketenaran yang seharusnya ia miliki. Jauh sebelum twitter melahirkan selebriti karbitan dalam meramu melankolia, penulis asal  Rantauprapat, Labuhan Batu, Sumatera Utara ini telah mendefinisikan apa itu melankolia. Ia tidak menulis tentang patah hati, tidak pula menulis tentang galau, ia juga tak bicara tentang pengkhianatan. Ia bicara tentang Sepasang Luka Cinta yang lahir dari sebuah harapan yang sumbing.

Tapi apakah Sepasang Luka Cinta itu? Dalam pemahaman Maruli Simbolon cinta lebih dari sekedar perwujudan dari koyaknya sebuah hubungan. Cinta adalah ibu yang berjuang untuk membeli buku mahal. Cinta juga bisa berarti sebuah iman yang luntur. Cinta adalah perpisahan klise karena kelas dan materi. Cinta adalah apa yang kau temui dalam sampah. Cinta adalah filsafat yang tak membutuhkan jawaban. Cinta bagi Maruli Simbolon adalah Taik Kucing yang tak pernah selesai.

Ditulis dengan eskperimental Dosen IKJ ini memberikan sebuah penjelasan apa itu cerita mini atau mikro fiksi. Sekali lagi, jauh sebelum perdebatan dan perhelatan kosong Fiksi Mini, Maruli telah merumuskan dan mempraktikan apa yang ia maksud sebagai gaya alternatif dalam penulisan karya sastra. Ia jelas bukan pioner atawa penemu, namun ia adalah sedikit dari avant garde yang meretas perdebatan tentang apa itu cerita mini dengan menuliskan karya secara anggun.

1. A Lover's Discourse -  Roland Barthes 

Saya tidak pernah tahu bila Roland Barthes, sang filsuf kece ini, adalah seorang yang melankolis. Setidaknya itu yang saya raba dari kumpulan 82 tatal perihal cinta yang ia buat. Barthes, merangkai sekumpulan fragmen-fragmen definisi dan perenungan mengenai perasaan yang ia curigai sebagai cinta. Tentu saja tidak melulu pemaknaan yang rapuh, lembek, menye, atau memuakkan. Ia bicara tentang perenungan mendalam tentang perasaan-perasaan yang muncul ketika jatuh cinta seperti cemas, cemburu, gembira, senang, bernafsu dan sebagainya.

Salah satu fragmen yang saya sukai adalah exil / exile. Sebuah kondisi kalah, atawa pengakuan terhadap superioritas terhadap liyan. Atau dalam bahasa Barthes, "Deciding to give up the amorous condition," katanya. Sebagai sebuah bentuk penyesalan dan ketidakmampuan menghadapi kenyataan. "The subject sadly discovers himself exiled from his Image-repetoire." Bicara tentang sebuah cinta yang hidup terlampau lama lantas disepakati dibunuh. Bukan oleh orang lain tapi oleh kedua pelaku karena cinta itu membuat mereka tercerabut dari apapun yang dulunya mereka hargai.

Jika Barthes menulis Mythology dalam keadaan geram terhadap kondisi sastra Perancis saat itu. Maka saya boleh menduga Ia menulis A Lover's Discourse dalam keadaan sedih. Banyak fragmen-fragmen kisah, cerpen, puisi dan gumaman tak jelas yang melingkupi tatal ini. Seolah tak hendak memberikan penjelasan yang utuh terhadap permasalahan yang kerap menempel ketat pada cinta itu sendiri. Tapi barangkali patah hati, seperti juga cinta, tak ingin dijelaskan. Ia seperti juga sambal hanya perlu dirasakan pedasnya untuk kemudian hilang begitu saja.


Rabu, 29 Mei 2013

Pleidoi Seorang Turis yang Pergi Ke Borobudur Untuk Menonton Lampion Terbang

Pertama-tama selaku seorang manusia yang telanjur dicap sebagai pendosa tanpa diberikan ruang untuk membela diri, saya mengucapkan permohonan maaf kepada sidang socmed yang mulia dan tanpa cela. Saya tahu kehidupan para anggota sidang pemilik akun social media merupakan laku hidup yang syarat kezuhudan, kesalehan yang tiada cela serta selalu bersikap lurus tanpa kompromi. Apalah saya ini seorang turis hina yang memang terbukti dengan meyakinkan telah menjadi seorang pesakitan, karena bertindak amoral dalam menikmati momen sebagai turis.

Merupakan benar adanya apabila saya datang ke Borobudur pada perayaan Waisyak kemarin bukan untuk merayakan ritus keagamaan. Sama seperti ribuan orang lain saya hendak melihat langsung tentang prosesi penerbangan lampion. Apakah ini salah? Saya hanyalah sedikit dari ribuan orang yang tertarik tentang momen Waisyak di Borobudur dari bacaan saya di majalah, buku atau situs perjalanan. Mereka hanya berkata "Menikmati Momen Magis Waisak", "Eksotisme Lampion Borobudur", "Keindahan Tersembunyi Perayaan Waisak," tanpa satupun menyertakan tautan tentang do and don't do ketika Waisyak.

Sebagai bebek saya hanya bisa ikut-ikutan hype para pesohor tanpa sempat belajar tentang sakralitas sebuah destinasi. Sebagai konsumen industri pariwisata saya merasa berhak menikmati apa yang saya bayarkan. Selama ini toh saya menilai dari berbagai situs, bacaan dan panduan yang ada keberadaan saya, turis, membawakan kemakmuran. Harusnya para bikhu ini senang dong saya datang dengan membawa uang untuk berbelanja. Undangan datang, promosi pariwisata dan buzzer event pariwisata mengatakan bahwa acara ini adalah is a must to attend. Saya hanya mengamini apa yang diminta apa saya salah?

Juga benar adanya apabila kemarin saya tanpa tendeng aling-aling memotret para bikhu dengan perilaku seekor hyena yang haus mangsa. Mengapa demikian? Saya hanya ikut arus dimana seorang pelaku lain memulai mata rantai yang kemudian membuat saya terekam pada satu gambar. Gambar yang kemudian membuat saya diadili sebagai seorang turis yang tak beretika dalam mengambil foto.

Tapi apakah etika dalam fotografi itu? Apakah kita harus santun dengan sikap pramuka ketika mengambil gambar? Ataukah sebelum mengambil foto harus menggunakan ewuh pakewuh dan basa basi pengantar izin memotret? Ataukah sidang pembaca sekalian mengharapkan saya si turis amatir ini untuk duduk takzim memohon doa pada yang kuasa sebelum menekan shutter? Apakah etika itu? Jikalau ada etika dalam fotografi apakah itu?

Dalam sebuah perdebatan tentang etika fotografi jurnalistik ketika sebuah momen muncul, katakanlah tragedi atau kelaparan, apa yang harusnya dilakukan fotografer. Menolong dulu atau memotret dulu? Tentu sebagai fotografer yang bertugas ia berkewajiban mengambil foto dahulu baru menolong. Bagaimana jika turis? Sejauh mana sebuah etika dalam mengambil foto bisa diberlakukan. Jika diberlakukan siapa yang berhak menentukan? Misal pada sebuah trip ke Argo Puro seorang fotografer amatir kebetulan memotret Harimau Jawa yang hilang. Lantas karena keberadaan foto itu berbondong-bondong turis datang dan merusak ekosistem yang ada etiskah?

Bagaimana jika seorang penyelam memotret dengan bangga telah melakukan penyelaman di sebuah daerah konservasi laut. Karena foto itu destinasi tersebut menjadi banyak peminat, investor masuk, daerah yang dulunya sepi menjadi ramai. Masyarakat menjadi makmur, tanah dijual murah untuk resort, pemuda desa yang nganggur menemukan pekerjaan. Lantas apakah tak beretika si pemotret karena menjual daerah konservasi untuk kemaslahatan bersama.

Jika dalam kasus ini sidang pembaca socmed menganggap saya bajingan karena naik stupa lantas memotret bikhu dengan pakaian minim. Mari kita tentukan apa yang tak beretika. Pakaiankah? Naik ke stupa kah? Memotret dari atas seolah saya raja dan bikhu budak. Jika kemudian sudah ditentukan. Mari kita tanyakan apa yang lebih penting bagi fotografer, baik amatir maupun profesional, momen atau etika?

Dalam sebuah tesis berjudul Ethics In Photojournalism: Past, Present, and Future karya Daniel R. Bersak ada sebuah poin penting etika yang ingin saya sampaikan pada sidang pembaca socmed yang adiluhung. Perihal konsep Golden Rules dimana pada sebuah subjek pelaku dan objek foto ada relasi penempatan posisi. "Apakah saya nyaman jika difoto demikian?" pada suatu kesempatan beberapa bikhu malah memberi ruang pada fotografer untuk memotret mereka. Mereka, para bikhu, kadang bisa bersikap welas asih daripada hakim-hakim yang tidak berada ditempat ketika sebuah momen diambil.

Tentu sidang pembaca socmed yang budiman pernah menonton film klasik tentang mahaguru James Nacthwey seorang "War Photographer" yang masyur itu. Kita tahu, foto-foto yang ia buat selalu intim, selalu dekat, selalu penuh dengan manusia yang menjadi objek gambar. Lantas bolehlah saya, seorang turis amatir yang hina lagi kotor ini bertanya, apakah ia juga tak beretika ketika mengambil objek gambarnya? Lihat saja foto ketika ia memotret anak korban perang atau keluarga yang berduka karena kematian. Apakah itu juga disebut melanggar etika?

Sidang pembaca socmed yang budiman tentu saja akan berkilah "Mahaguru James Nacthwey sebelumnya sudah berkomunikasi dengan objek foto. Ya tentu saja boleh dong mengambil foto dengan jarak dekat," jika demikian adanya. Saya hendak bertanya dengan sidang pembaca socmed yang suci, apa yang membuat anda berpikir ketika saya memotret para bikhu budha saya tak meminta izin sebelumnya? Apakah ada panduan khusus pengadilan sebuah foto hanya dari sebuah gambar tanpa narasi yang jelas. Apakah rekan MY, fotografer pengunggah foto turis memotret bikhu, sudah bertanya, menegur ataukah ia hanya sekedar mengambil gambar lantas menunggahnya sebagai sebuah sensasi konyol?

Tapi bagai gunting makan di ujung, saya sebagai turis bodoh yang telah terlanjur bersalah tanpa pembelaan ini, sekali lagi meminta maaf kepada para sidang pembaca socmed yang luhur budi. Jika bung Ayos Purwoadji dalam The Almighty Photographer menggunakan metafora lukisan sebagai penjelasan perilaku saya. Maka saya selaku turis hina ini akan melakukan hal yang sama. Saya akan menggunakan lukisan S Sudjojono yang berjudul “Tjap Go Meh” yang dibuat pada 1940. Dalam karya ini maestro jiwa ketok ini menggambarkan emosi yang meluap-luap, tentang hiruk pikuk manusia yang tanpa kendali, dengan pusat horison seorang penari yang tersenyum lebar. Apakah ada rerlasi penaklukan disitu? 

Jika bung Ayos yang terhormat menggambarkan lukisan maestro moii Raden Saleh sebagai relasi penaklukan. Maka saya ingin bicara, terlepas sakralitas dan nilai transenden Waisak, perayaan di Borobudur kemarin adalah sebuah momen vakansi. Seperti lukisan “Tjap Go Meh”  ia bisa berarti karnaval yang tentu saja akan naif jika tiada bicara tentang luberan ektase rasa gembira. Apa yang akan anda lakukan jika anda seorang turis, dengan kamera, lantas melihat sebuah momen/tradisi/kebiasaan asing yang anda kira itu eksotik? Saya kira jawaban kita seragam akan mengambil gambar tersebut tanpa pretensi apapun.

Maafkan saya sidang pembaca socmed yang santun tanpa cela, jika saya mengatakan tanpa prentensi apapun. Saya tak pandai fotografi jika kemudian gesture saya dalam mengambil foto disebut sebagai sebuah relasi antara budak dan penguasa. Sekali lagi saya ucapkan maaf. Sebagai turis yang tak tahu diri dan tak tahu apa-apa yang saya tahu dalam pengambilan gambar selain momen, hal penting lain yang penting diawasi adalah cahaya, dan cahaya dan cahaya. Sudahkah anda melihat latar dimana cahaya datang dan pergi?

Selain itu Roland Barthes jika sidang pembaca yang terdidik sudi membaca pernah berkata "The Photographic Message" relasi foto (jurnalistik) terletak pada bagaimana sebuah institusi media (dalam hal ini pengambil foto saya berdiri di atas stupa) membentuk konsepsi kepada resepien yaitu pembaca media (atau sidang pembaca socmed yang suci). Sebuah foto bisa berfungsi sebagai framing perception, apa yang hendak disampaikan dari pengambil foto seorang turis yang berdiri di atas stupa? Apakah dia ingin bilang "Ini loh turis norak, gue gak norak," ataukah "Ini adalah turis hina yang salah kaprah, tapi saya gak mau memperingatkan baik-baik, saya posting di instagram aja biar dia malu"

Meminjam istilah Susan Sontag dalam On Photography "Reality has always been interpreted through the reports given by images," pada kasus ini saya tak diberikan kesempatan membela diri, diperingatkan jika salah atau diberi tahu jika tidak etis. Klaim sepihak seringkali menyebalkan bukan? Ludwig Feuerbach pun telah menubuatkan hal ini dalam The Essence of  Christianity. Dimana kelak pada satu titik peradaban akan lebih mementingkan apa yang nampak dari pada apa yang sebenarnya terjadi 

"Society prefers the image to the thing, the copy to the original, the representation to the reality, appearance to being"  Ludwig Feuerbach - The Essence of  Christianity

Apakah salah? Saya kira tidak. Kita adalah mahluk visual yang hanya menilai dari apa yang tampak. Ketika sebuah foto turis sedang menaiki stupa dengan pakaian minim menjadi sebuah pusat perhatian. Barangkali kita juga alpa menafsir bahwa dibelakangnya juga beberapa pelaku, yang dalam konteks etika, sama bersalahnya. Meminjam istilah bung Ayos Purwoadji, dalam sebuah foto akan muncul tafsir atas "atribut yang dikenakan; wanita-pria, modern-tradisi, materialisme-idealisme, liberal-konservatif, profan-sakral, dan seterusnya." Salah jika kemudian penumpahan kesalahan pada satu wanita bisa ditafsirkan sebagai usaha penindasan terhadap eksistensi wanita secara misoginistik?

Lantas sekali lagi saya bertanya apakah etika itu? Apakah ia yang dengan bijak memperingatkan "Hei nona anda bisa lebih baik loh memakai penutup badan dan tidak memotret di atas stupa," atau dengan keji dan pretenius "ah gue foto lo biar dibully orang setemlen!" Dari sekian banyak tulisan dan pengadilan di social media oleh para anggota sidang yang terhormat sedikit sekali narasi yang berkisah tentang apa yang sebenarnya terjadi di lokasi kejadian selain turis turis brengsek atau traveler sakit jiwa.

Apakah anggota sidang socmed yang bijak bestari tahu jika ada praktik scamming alias penipuan kecil-kecilan di lokasi Waisak? Tentang tukang becak yang bekerja sama dengan penjual bakpia, atau jarak tempuh yang dibuat jauh untuk membuat tarif bertambah, atau tentang mobil sewa yang tak bekerja profesional sesuai ijab-qabul? Atau barangkali etika dan moral lebih penting daripada relasi kemanusiaan. Kita berbicara soal baik dan benar tanpa mau mendengar penjelasan, apa yang lebih tengik dari itu?

Sebagai penutup saya hendak mengutip perkataan mahaguru James Nacthwey dalam The War Photographer. "Every minute I was there, I wanted to flee. I did not want to see this. Would I cut and run, or would I deal with the responsibility of being there with a camera" Apa artiya sebuah kamera yang dibawa jika tidak dimanfaatkan sebagai peruntukannya? Tabik.

Senin, 27 Mei 2013

Penindas


AA Navis pernah berkisah tentang sebuah lebai masjid yang terlalu sibuk mengejar akherat hingga lupa mengurus dunia. Ia bicara tentang sebuah sindiran. Sarkasme yang berbalut sebuah kisah tentang bagaimana sebuah hidup semestinya dijalani dijalani. Pada beberapa derajat kita menyebut perbuatan tidak menyenangkan itu sebagai peringatan. Tapi kita tahu bagaimana akhirnya. Si lebai memutuskan bunuh diri karena tak tahan dengan sindiran. Kata-kata seringkali bisa lebih keji dari kematian itu sendiri. Ia merusak mental, menghancurkan kebanggaan dan ia membuat manusia merasa kalah tak berharga.

Alegori kisah tentang kyai yang masuk neraka adalah usaha Navis untuk mengkritik dengan cara yang halus. Tapi ketidakmampuan lebai masjid tersebut untuk menerima kritik tidak jadi membuat Navis orang yang salah. Kritik, juga sindiran, sayangnya kerap dimaknasi sebagai bentuk kebencian. Padahal jika bisa sedikit saja berpikir lantas merenung, kritik bisa diartikan sebagai usaha untuk mencintai. Lagipula siapa yang rela buang waktu mencari celah buruk dari kita lantas lantang berucap jika tidak untuk cinta?

Dahulu orang menulis cerpen untuk melakukan kritik. Menyamarkan rupa cerita untuk memberikan peringatan. Kita mengenal Harian Rakjat sebagai koran yang kerap menghajar para tokoh melalui rubrik kebudayaan. Ada yang frontal menyebut nama ada pula yang sembunyi dengan metafora. Polemik lahir sebagai ajang untuk menjatuhkan nama dan mental. Koran menjadi hantu yang mengerikan karena disana borok bisa ditunjukan, aib diumbar dan perilaku diadili. Tak ada satu orang yang selamat dengan muka tegap, bahkan buya HAMKA menjadi bulan bulanan.

Social Media adalah hantu baru itu, ia adalah kengerian yang kita sebut sebagai akses langsung untuk berpendapat tanpa harus bertatap muka. Nafsu dominasi dan usaha membuat manusia lain lebih rendah melalui kata-kata nyinyir dan umpatan. Kita menemukan terma baru bullying atau penggencetan sebagai bentuk relasi agresif untuk membuat satu pihak lebih terhina dari yang lain. Seringkali bullying diawali dari guyonan, namun tak sedikit yang memang dilahirkan dengan keinginan menyakiti.

Apa yang salah dari bullying? Saya kira tak ada. Sudahlah jujur saja jika kita menikmati perilaku ini. Ada rasa puas ketika kita melakukan penindasan pada orang yang dianggap lebih inferior dari kita. Ada euforia dan kenikmatan endorfin dari perasaan dominasi atas nasib orang lain. Bahwa orang yang kita tekan, tindas, gencet dan nistakan itu memang pantas diperlakukan demikian. Nafsu primata hewani kita mengambil alih melalui kata-kata keji, pedas, kejam dan ancaman. Saya tak malu mengatakan saya menikmati itu.

Ada perasaan luar biasa nikmat ketika menyakiti orang yang kita anggap sok tau, sok benar, salah dan sebagainya. Kita mengatakan hal-hal buruk, dengan maksud jahat, dan berusaha agar si objek yang kita tuju tak bisa membantah. Twitter dalam hal ini adalah medium yang paling efektif dan paling efisien dalam melakukan tindak penindasan ini. Saya sering mencari-cari kesalahan orang lantas menindasnya, menghujat, atau sekedar pamer superioritas. Saya tak malu. Saya mengakui menikmati hal ini.

Kemarin ada seseorang yang memutuskan mengakhiri nyawa karena tak tahan menerima hujatan. Mungkin begitu. Entahlah saya tak tahu pasti, tapi kebencian juga amarah bisa mengakhiri nyawa seseorang adalah benar adanya. Seorang remaja putri di Atjeh mengakhiri nyawa karena dituduh sebagai pelacur, beberapa siswa SMA depresi karena dihujat setelah melakukan tarian seperti ibadah. Para predator seperti saya seolah mendapatkan legitimasi dan panggung untuk melakukan hujatan dan menyalurkan kebencian.

Internet adalah perwujudan dari ruang publik yang dicita-citakan oleh Habermas. Bahwa seseorang bisa menjadi bagian dari dunia terlepas dari identitas yang ia miliki. Internet menjanjikan sebuah akses tanpa batas kepada para penggunanya untuk bisa mendapatkan apa yang ia mau. Termasuk juga nafsu untuk menyakiti orang lain. Penindasan atawa cyber bullying adalah hal yang jamak ditemui. Seseorang dengan pengetahuan lebih merasa berhak meluruskan fakta yang salah dengan menyakiti.

Pada akhirnya saya pikir penindasan itu tak akan pernah bisa diakhiri. Diredam mungkin bisa untuk beberapa hari kedepan. Kematian adalah keseharian yang bisa terjadi kapan saja. Tragedi hari ini akan berakhir jadi statistik toh social media merupakan panggung dimana bullying atau penindasan itu sebagai salah satu hiburannya. Mereka yang berpikir untuk berhenti sebentar melakukan bullying karena berpikir itu tidak etis bagi saya sama munafiknya dengan membiarkan kematian itu sendiri.

Tak ada yang bisa dilakukan kecuali menakar diri bahwa ada ruang-ruang dimana sebuah umpatan bisa dilakukan, sebuah kata tajam bisa utarakan dan kritik pedas disampaikan. Tak pernah ada yang tahu batas etika dan moralitas di internet. Bagi saya itu semua tak penting. Menjadi jujur bahwa saya adalah biang kerok dan orang ketus setidaknya lebih membuat hidup ringan. Tidak perlu menjadi seorang yang belagak sok bijak atau rendah hati. Ketus, keji dan tidak mau kalah adalah jati diri yang tidak takut saya akui.

Beberapa dari kita merasa bisa jadi bijak dengan bersikap santun menghadapi kematian seseorang. Padahal esensinya bukan itu. Bukan pada kematian itu kita bersikap bajik tapi pada keseharian yang lampau. Menjadi bijak adalah usaha untuk menjadi santun dan jujur pada setiap saat. Bukan hanya satu momen tertentu atau hanya karena masyarakat menekan kita berbuat demikian. Seseorang yang berkata lacur tiba-tiba menjadi suci hanya karena dikritik dan takut dicap sebagai amoral. Apa yang lebih menjijikan dari ini?

Twitter memang menjanjikan kemuliaan semu. Perasaan bahwa kita memiliki penggemar yang ribuan, ratusan ribu hingga jutaan. Tapi untuk apa? Untuk menunjukan bahwa kita tahu banyak dan tak setuju pada banyak hal? Kultweet agar dikira cendekia yang bijak bestari. Mungkin satu hari kejujuran dan bersikap apa adanya adalah sebuah sikap membosankan. Kepura-puraan yang keji adalah hal yang kita pikir benar tapi hal itu adalah sebenar-benarnya hal busuk! Lantas kita memujanya sebagai kehidupan, apa yang lebih konyol dari itu?

Sabtu, 25 Mei 2013

Tentang Cerpen

Harold Bloom, kritikus sastra paling penting abad ini, pernah berujar “Short stories are not parables or wise sayings, and so cannot be fragments; we ask them for the pleasure of closure.” Cerita pendek adalah sebuah jagat mungil yang padat. Ia tidak sepanjang novel tapi tak juga sependek pepatah. Pada satu titik tertentu cerita pendek memberikan ruang yang tak mungkin diberikan oleh novel dan pepatah. Cerita pendek atau cerpen, adalah sebuah rangkuman dari kisah panjang yang di dalamnya barangkali memiliki nilai dan kebijaksanaan. Tapi apakah benar demikian?

Cerpen merupakan salah satu varian paling menarik dalam kazanah sastra. Ia memberikan bentuk yang lebih cair daripada puisi. Namun disaat yang sama seperti juga novel ia bertutur perihal kisah dengan ruang yang lebih sempit. Penyair dan penulis masyur Amerika Serikat, Edgar Allan Poe, penah berseloroh. “Cerpen adalah sebuah kisah yang habis dibaca dalam sekali duduk,” katanya. Tapi apakah sekali duduk itu? Apakah semalaman? Sepanjang hari? Sekali duduk dalam terma Poe merujuk pada waktu seorang menikmati sebatang cerutu. Bisa jadi hanya sekitar 10 sampai 15 menit. Sebuah cerita pendek bisa jadi lebih efektif dibaca dan dimaknai sebagai sebuah petuah, daripada novel yang panjang membosankan.

Indonesia merupakan surga penulis cerita pendek. Keberadaan medium bernama koran dengan laman sastra tiap Minggu memberikan kesempatan bagi penulis untuk naik podium. Tak terbilang sastrawan besar yang lahir dari cerpen lantas dikenal sebagai penulis kelas wahid. Sebut saja Seno Gumira Adjidarma, Linda Chrystanti, Damhuri Muhammad, Misbach Yusa Biran, Puthut EA dan banyak lainnya. Nama tersebut tidak lahir semalam lantas muncul begitu saja dari sikap malas dan keberuntungan. Namun dari melatih diri memejal intuisi menulis sehingga melahirkan cerpen kelas wahid.

Lembaga Pers Mahasiswa Farmasi Lingkar Universitas Jember beberapa waktu mengadakan kompetisi menulis cerpen tingkat SMA dan Perguruan Tinggi. Sebagai juri saya mendapat kehormatan untuk membaca karya penulis-penulis muda yang mungkin belum terjamah ini. Beberapa di antara mereka saya akui berbakat dan memiliki gaya bertutur yang menarik. Sisanya bukannya tidak bagus, tapi mungkin berbeda selera cerita dengan saya saja.

Saya sendiri memiliki kriteria digunakan sebagai standar baku pemenangan. Pertama jelas perspektif dalam menulis cerpen. Kedua adalah gaya bertutur narasi yang digunakan. Terakhir adalah kemampuan penulis menyerap diksi. Pentingnya perspektif bisa menentukan kualitas penulis. Berkisah tentang sepasang kekasih yang patah hati sudah jamak ditemui. Tapi bagaimana jika menulis patah hati dari perspektif seorang jagal kambing misalnya? Ekslporasi sudut pandang seringkali bisa membuat pembaca merasa tertantang untuk menyelesaikan sebuah kisah dengan ekstase tersendiri.

Penggalian ide yang dilakukan oleh seorang penulis akan sia-sia jika ia tak bisa menuturkan kisahnya dengan baik. Ernest Hemingway menulis kisah dengan pendek dan sedikit dialog. Sementara Vladimir Nabokov selalu berusaha menciptakan momen magis dengan deskripsinya tentang latar. Sementara Damhuri Muhammad selalu sukses menghasilkan penokohan karakter dengan deskripsi pekerjaan yang unik dan mempengarui cara ia menuliskan kisah. Hampir semua tema cerita telah dibahas yang membedakan adalah cara kita menuturkan cerita tersebut. Itu yang membuat sebuah cerpen jadi istimewa.

Dari sekian naskah yang saya terima untuk kategori pelajar SMA, barangkali karya Neesrina Mafaza Suroyya berjudul Renta yang paling menarik. Cerpen ini punya sudut berbeda dalam menentukan tokoh utama cerpen. Sayang ia kurang tuntas dalam menggali tema dan alur cerita sehingga cerita yang ia buat terlalu padat, dipaksakan dan sedikit membosankan. Belum lagi cara narator berdialog dengan pembaca yang diulang-ulang. Meski ending yang coba ditawarkan merupakan sebuah twist yang manis.

Annisa Nurul Pratiwi Sudarmadi melalui Kayuhan Kaki Si Mbah hampir sempurna menuliskan cerita. Ia berkisah manusia dengan bopeng kehidupan. Bahwa hidup tidak seindah FTV atau sinetron. Tak semua manusia malaikat. Ada kesalahan dan juga dosa yang dibuat. Kerja keras dan bagaimana ia mempengaruhi kehidupan seseorang tidak eksplisit dituturkan secara hitam putih. Sehingga pembaca bisa menilai sendiri apakah si tokoh pantas atau tidak untuk memperoleh kesuksesan. Meski dalam sebuah cerpen tidak harus memiliki akhir yang bahagia.

Restoe Prawironegoro Ibrahim dalam Riau Pos, Minggu, 19 Mei 2013 pernah menuliskan empat kendala yang membuat seorang cerpenis muda gagal sukses. Pertama, sebagian besar penulis cerita pendek adalah penulis pemula. Mereka kerap bermasalah dalam menyusun masalah secara utuh tentang isi cerita. Kedua, selain itu dalam menceritakan misalnya tentang kemiskinan, cenderung cara mereka berkisah lebih dipengaruhi oleh apa yang pernah mereka lihat bukan rasakan. Sehingga penjiwaan imajinasinya minim sekali. Ketiga, kebanyakan penulis kurang dalam ketika melakukan riset untuk bahan cerpen. Mereka hanya menuangkan begitu saja apa yang ada di benaknya tanpa memperhatikan permasalahan secara mendetail yang sebenarnya, sehingga pendalaman alur ceritanya agak kaku.

Sementara yang terakhir dan yang paling fatal adalah rasa cepat puas. Hal ini terlihat dengan adanya beberapa cerita pendek yang dikirim seorang penulis, kemudian dimuat. Selain itu, si penulis cerita pendek tersebut mengirimkan cerita pendek lagi ke dewan redaksi dan diturunkan lagi. Kebetulan, dari cerita  pertama yang dimuat selang beberapa minggu kemudian cerita pendek kedua dimuat. Para penulis muda kategori SMA sangat jelas menampakan gejala ini. Mereka terburu-buru dalam menulis sehingga kurang waktu untuk membaca lagi dan merefleksikan isi dari cerpen yang mereka bikin.

Sementara pada kategori mahasiswa Febrina Sylva Uhibukkum Fillah dengan cerita Aku Mencintaimu Karna Allah punya karakter penulisan yang sangat luar biasa. Sayang saya tak berani memasukan ceritanya dalam kategori cerpen karena 30 halaman terasa sangat panjang dan bertele-tele. Hal yang sama juga dilakukan oleh Imam Suwandi dengan cerpennya Mawar Putih, meski punya kemampuan menuliskan ragam diksi yang menyenangkan ceritanya terlampau panjang untuk disebut sebagai cerpen.

Tapi Dwi Puspita Sari melalui Rindu Pelangi bagi saya merupakan cerita paling bagus yang saya baca dari seluruh naskah yang masuk. Ia sempurna dalam beberapa hal seperti penggunaan diksi yang baik, narasi yang tidak bertele-tele, karakter prosa yang kuat namun mudah dipahami dan yang paling membuat cerita ini menarik adalah bagaimana ia meramu kata hingga bisa membuat imaji visual yang baik. Meski memang ceritanya bagi saya selain terlalu dramatik hiperbolis, juga terlalu kesinetron-sinetronan. Padahal jika ia mau konsisten bercerita tentang pelangi sebagai sebuah metafora, saya kira nashkahnya layak dikirim ke media nasional semacam Jawa Pos atau Media Indonesia.

Felicia J.T dengan Sang Pejuang Kehidupan punya kemampuan deskripsi yang baik. Ia menulis cerpen seolah sedang bicara. Kata-katanya sederhana padat dan mengalir. Namun sayang selain judul yang kepalang, maaf, norak. Felicia menulis ceritanya terlalu panjang dan terlalu mendetil untuk sebuah adegan yang singkat. Harusnya ia lebih memasukan banyak drama, konflik dan juga penyelesaian  yang indah. Ending yang dibikin meski tak jelek tapi sekali lagi terlalu sinetron untuk bisa diterima sebagai kisah tragedi. Ia bicara seperti seorang motivator kelas dua dengan petuah-petuah membosankan. 

Cerpen mengajarkan kebijaksanaan melalui tutur cerita bukan kotbah membosankan tentang moralitas.



Seni Ruang Kota


Perbincangan mengenai seni kontemporer di Indonesia adalah perbincangan tentang menjelaskan sesuatu yang biasa-biasa saja sebagai sesuatu yang luar biasa tanpa perlu bertindak berlebihan dan melakukan klaim yang tak perlu. Seperti menjelaskan mengapa perupa Nasirun menggunakan medium undangan peluncuran pameran senirupa lantas menjadikannya sebagai karya seni yang baru. Atau menjelaskan mengapa Popoh memanfaatkan mural dan humor sebagai sarana penyampaian pesan di lingkungan urban perkotaan.

Seni kontenporer sebenarnya bukanlah hal yang baru di Indonesia. Ia lahir sebagai anti tesis dari segala tesis mapan terhadap seni, khususnya senirupa, di Indonesia. Semenjak pertentangan atas gaya Mooi indie yang dibawa Raden Saleh dan gaya lukis jiwa khetok yang dibawa S Sudjojono. Atau yang paling baru adalah Gaya Seni Rupa Baru yang dibawa Jim Supangkat dan kawan-kawan yang menolak dominasi galeri, kurator dan satu jenis aliran kesenian yang dianggap sudah terlalu mapan. Seni Kontemporer Indonesia hari ini telah mencapai masa keemasan karena kebebasan medium, cara dan lokasi ekspresinya.

Jember sendiri sayangnya bukan kota yang intim dengan perkembangan seni rupa. Boleh dibilang seni rupa merupakan anak tiri dibanding perkembangan sastra dan teater. Pameran seni rupa dalam rentang waktu delapan tahun sejak saya tinggal di Kota ini hanya dua kali terjadi. Pertama adalah pameran lukisan Mbah Fadli awal 2008 dan pameran grafis Sindikat yang dilakukan pada medio 2009. Selepas itu tak pernah ada lagi pameran seni rupa yang benar-benar serius digarap untuk bisa diakses oleh publik secara luas dan bukan hanya satu kalangan tertentu.

Maka ketika Cak Rahmat founder dan penggagas warung kopi Cak Wang mengajak untuk turut serta dalam pameran seni Instalasi Patah Hati saya menyambutnay dengan riang. Sebagai sebuah wahana untuk mengenalkan dan mengambangkan pemahaman tentang seni rupa, acara ini saya kira sangat baik untuk kembali menyegarkan publik Jember bahwa kota ini masih belum berhenti berdetak dan menyisakan ruang kreatif di dalamnya.

Seni instalasi sendiri adalah proses atau hasil karya seni yang dikerjakan dengan membentuk, memasang, menyatukan, dan mengkontruksi sejumlah benda yang dianggap bisa merujuk pada suatu konteks kesadaran makna tertentu. Seni intalasi bisa jadi tidak bisa dipahami secara lugas karena relasi antara seniman dan audience seni sangat personal. Namun benda-benda yang dipamerkan bisa menjadi sangat dekat karena adanya ikatan emosional dan komunikatif.

Pada seni intalasi karya Dadang Christanto yang bertajuk “Hujan Merah” (Red Rain, 1988) misalnya. Ia bisa saja dimaknai sebagai sebuah karya seni yang menggambarkan gelimang darah, penderitaan, represi dan tragedi. Tapi di sisi lain secara estetik karya Dadang bisa menjadi sebuah seni intalasi yang indah, karena menawarkan sensasi visual berupa objek serupa benang-benang merah yang bertaut dan menghasilkan imaji hujan merah. Persepsi dan pemahaman audience seni menjadi salah satu hal yang menyebabkan tafsir berbeda dan unik satu sama lainnya.

Kemunculan Pameran Patah hati pada awalnya adalah usaha untuk meraakan gagasan, memori, ekspresi dan kenangan perihal jatuh bangunnya sebuah hubungan percintaan. Cinta, dalam hal ini sebuah relasi personal, tak melulu harus sebuah interaksi lawan jenis yang dimaknai secara platonik atawa pemuasan birahi. Tapi juga tentang ikatan pertemanan, persaudaraan, orang tua dan anak. Cinta tak terbatas pada sebuah konsep sederhana pacaran belaka. Pada 2011 ketika pameran Patah Hati #1 pertama di gelar di Jogjakarta mengangkat tema “Romantsick” yang dilanjut pada 2013 lalu dengan tema “Move On Phobia”.

Seni instalasi tak melulu harus lahir dari benda-benda dengan cita rasa tinggi dan memiliki kaidah seni konvensional yang menekankan pada konsep estetika dan keunikan. Seni instalasi justru berusaha untuk melawan itu semua dengan menawarkan modifikasi dan perlawanan dari benda-benda yang dianggap bukan produk kesenian. Salah satunya seperti Fountain (pancuran) tahun 1917 karya Marcel Duchamp seniman Dadaisme yang masyur. Ia mengejek sekaligus menawarkan komedi dengan membuat seni instalasi pancuran air minum yang dibuat dari kakus.

Di tanah air kita mengenal Pink Swing Park  karya perupa Agus Suwage dan Davy Linggar yang memicu kontroversi besar pada 2005 lalu. Konsep seni intstalasi yang mencoba merekonstruksi dibuangnya Adam dan Hawa itu sempat membuat geger karena diprotes oleh Ormas Fasis Keagamaan karena dianggap merusak moral bangsa. Pink Swing Park sendiri dibuat dari modifikasi ayunan dan tempat duduk becak yang dicat Pink dan ditempatkan dalam sebuah ruangan yang dikelilingi hasil foto dari Davy Linggar.

Pembahasan mengenai seni rupa di ruang publik mengingatkan saya pada kelas kritik seni rupa di Ruang Rupa tahun lalu. Salah satu pemateri Ardi Yunanto membuka kelas kritik seni rupa dan budaya visual dengan sebuah pertanyaan sederhana. Ia bicara tentang  apa itu “seni rupa publik” dan bagaimana ia bisa berkembang. Ardi, saya kira tengah mencoba  mempertanyakan kepada para peserta mengenai definisi awal tentang kesenian. Sehingga masing-masing dari kami para peserta workshop bisa memiliki pemahaman awal yang seragam tentang seni rupa publik dan bagaimana perkembangannya di Indonesia.

Ardi membagi tiga ranah dalam seni rupa publik. Yaitu; Budaya Visual Kota, Seni Rupa Publik dan Seni Rupa itu sendiri. Hal ini bukan merupakan klaim atau batasan. Namun lebih pada usaha untuk memudahkan pengelompokan dan penjelasan mengenai seni rupa publik. Lebih dari itu Ardi juga membagi periodesasi kemunculan seni rupa publik sebelum masa orde baru. Dalam penjelasannya itu seni rupa publik selalu dinamis dan mencari bentuk-bentuk baru dalam ekspresinya.

Pada akhir dekade 90an sesudah muncul GSRB, para seniman kerap membubuhkan pemikiran politis dalam karya seni rupa publik mereka. Hal ini adalah sebuah bentuk perlawanan yang diklaim menjadi suara para liyan. Selepas Orde Baru runtuh karya politis menjamur karena mereka menikmati euforia kebebasan  bependapat. Ardi mensinyalir ini merupakan titik balik kesadaran para seniman terhadap keberadaan persoalan Urban. “Saya selalu percaya, meminjam istilah Ameng di Ruru, jika seni urban harus ada. Maka ia harus ditampilkan di jalanan dekat dengan kita,” kata Ardi.

Pada perkembangannya Ardi mencatat ada tiga bentuk seni rupa publik yang sangat berkembang di Indonesia. Seperti ; Praktik-praktik seni rupa yang memperlakukan ruang publik sebagai media komunikasi, di mana medium dan bentuk artistik karya biasanya sudah ditetapkan sebelum dieksekusi di ruang publik. Lalu praktik seni rupa yang menanggapi ruang publik dari aspek terlihatnya. Aspek-aspek terlihat tersebut biasanya menimbulkan permasalahan di suatu ruang publik.

Bagi saya yang menarik adalah bentuk seni rupa publik yang ketiga Praktik seni rupa yang terinspirasi dari permasalahan di suatu ruang maupun fasilitas publik tertentu. Ardi mencontohkan penggunaan seni intalasi ayunan yang ada di sebuah halte bus. Di mana karya ini membuat saya tersenyum hanya dengan membayangkan saja. Bahwa kita kerap kali lupa, di jalan, kita terpaku pada kehendak pulang.

Kita lantas sering luput menikmati perjalanan sebagai proses “mengalami dan memahami” lingkungan sekitar. Adanya ayunan tersebut membuat saya berdecak kagum atas kejelian si seniman dalam memandang  pemanfaatan ruang publik sebagai area bermain (playground). Ia otonom dari segala macam kehendak atau peraturan. Karena dalam ruang bermain segalanya memungkinkan dan diberi kebebasan yang mutlak. Tapi apakah itu penting? Entahlah.


Minggu, 19 Mei 2013

Menulis Musik

Apa asyiknya menulis musik dengan teori? Tak ada. Malahan, bagi saya, menulis musik dengan teori itu membosankan. Sangat membosankan sekali.  Tapi menulis musik dengan pemahaman mendalam dan sikap opini pribadi itu menyenangkan. Ia memperjelas pengetahuan dan posisi kita dalam memaknai musik sebagai sebuah karya seni yang perlu apresiasi. Menulis musik bukan hanya tentang berbincang tentang apa dan siapa. Tapi lebih dari itu, menulis musik adalah menulis tentang gairah dan kecintaan pada band, lagu, skena atau penyanyi yang bahkan lebih mempengaruhi kita dari agama manapun di dunia ini.

Lalu sebenarnya apa itu menulis musik dengan teori? Saya tak tahu, yang saya tahu ketika menulis tentang musik selalu ada perasaan meletup-letup tentang keinginan berbagi. Bahwa menempatkan pembaca artikel musik sebagai seseorang yang mungkin belum pernah mendengar, secara literer, karya dan nama mereka. Hal ini saya lakukan untuk meraih kebebasan bahwa menulis musik tak melulu bicara tentang suara gitar, merdu vokal, atau lirik yang indah. Menulis musik bisa juga bicara tentang proses kreatif manusia, latar cerita perihal sebuah karya diciptakan. 

Beberapa orang meributkan tentang kemurnian menulis musik. "Menulis musik ya menulis musik saja. Apa perlunya menambahkan sejumput pemikiran filsafat, teori ekonomi atawa cerita yang tak relevan?" Tapi apakah itu relevan? Ketika Lester Bangs menuliskan tentang “The White Noise Supremacists” apakah ia bicara tentang industri musik yang bobrok? Atau ketika Theodor Adorno berbicara tentang "On Popular Music" apakah ia bicara bagaimana musik populer merusak kesucian musik serius? Menulis musik bisa jadi sangat serius. Ia tak sekedar tentang bagaimana gitar dipetik, atau syair dinyanyikan, atau bagaimana meriahnya sebuah konser.

Menulis musik telah jauh berkembang menjadi sebuah usaha untuk memberikan pemahaman tentang bagaimana sebuah karya dilahirkan. Mungkin beberapa dari kita barangkali dilahirkan terlalu tua sehingga tak bisa mengikuti gerak jaman yang gegas. Barangkali bagi beberapa dari kita menulis musik adalah perihal menulis tentang musik itu sendiri. Tentang bagaimana lirik sebuah syair ditulis, tentang lengking dan teknik gitar dimainkan, atau bagaimana kualitas suara seorang penyanyi dinilai. Hal-hal teknis membosankan yang bagi saya hanya bisa dinilai dan dimaknai jika kita secara pembaca mengalami sensasi estetis yang sama dalam mendengarkan.

Masalahnya penilaian tentang musik adalah penilaian tentang selera dan ia selalu personal. Bagi beberapa orang musik klasik adalah karya arkaik. Mereka adalah legenda yang sudah melahirkan karya kanonik yang susah dibantah keburukannya. Namun bagi yang lain musik klasik adalah relik yang mestinya dilupakan. Ada pula yang menganggap kebaruan adalah sesuatu yang cool. Avant-garde yang menemukan bebunyian dan suara baru sangat keren. Tetapi bagi yang lainnya, itu dull sebuah usaha keren-kerenan yang tidak ada artinya. De gustibus non est disputandum bukan?

Saya pikir menulis musik dengan menyertakan sebuah narasi cerita sosiologis dari sebuah lagu/band/konser/album adalah hal yang stylish. Tapi tentu akan ada orang-orang pemalas yang malas membaca mengira itu snobbish. Selalu ada yang mengira menyertakan informasi tambahan pada sebuah tulisan adalah bagian dari budaya posh. Sementara buat yang lainnya, itu bosh (ngutip kalimat dari sini). Kita tak bisa memuaskan semua manusia perihal apa yang kita rasakan. Sekali lagi saya percaya bahwa 'thousands of friends and zero enemies' adalah omong kosong pengecut yang tak berani bersikap perihal selera sendiri.

Satu permasalahan klasik dalam menulis musik, sebut saja review album atau konser, adalah menghadirkan kembali pengalaman sakral sensasi mendengarkan sebuah lagu. Review album memiliki celah bahwa selera si penulis bisa jadi sangat berbeda dengan selera pembaca. Permainan kata serta deskripsi kalimat tak akan pernah utuh menyampaikan pengalaman mendengarkan secara langsung. Bagaimana seorang penulis bisa membuat pembaca membayangkan suara yang dihasilkan oleh katakanlah Sigur Ros. Apa yang membedakan suara yang dibikin oleh Jonsi dengan Eny Sagita? Terlepas dari bahasa yang digunakan keduanya punya nilai estetik tersendiri. 

Apa yang membedakan ad libitium Miles Davis dalam So What dengan Sodiq ketika menggarap Keramat bersama OM Monata? Atau apa yang membuat konser Blur di Jakarta beberapa waktu lalu lebih istimewa daripada konser dangdut dengan 25 tahun sejarah panjang di Purawisata di Jogja? Apakah ada kasta dalam musik? Bagi saya tak ada. Tapi saya percaya ada pembagian ruang pembaca dalam penulisan musik.  Mereka yang menulis tentang gelimang visual dan suara magis ala Godspeed You Black Emperor, saya ragu ia berharap tulisannya akan dimengerti oleh tukang becak.

Apakah tukangg becak tak boleh menikmati GYBE! atau memahami musik mereka? Tentu saja boleh. Tapi ada baiknya menulis musik disesuaikan dengan target pembaca kita. Menyebut seseorang hipster hanya karena ia tahu lebih banyak dan ingin lebih berbagi cerita sebuah band bagi saya adalah absurd. Ah sudahlah. Toh bagi saya JKT48 merupakan mood booster paling ampuh daripada album terbaru Explosions In The Sky.

Senin, 13 Mei 2013

Pada Sebuah Kota


Mari kita andaikan jika kota adalah sebuah kanvas. Dan kita memiliki kuas untuk mengespresikan segala imaji tanpa batas. Maka kota akan berubah menjadi ajang pertarungan estetis dari ratusan lini pikir manusia yang ada di dalamnya. Setiap manusia memiliki definisi keindahan tersendiri dalam benaknya. Namun kita andaikan bahwa segala manusia yang tinggal di dalam kota tadi bijaksana. Maka kita akan menemukan sebuah kota yang indah lagi menarik. Sebuah kota yang dibangun atas kesadaran seni para penduduknya.

Sayangnya kota-kota dimana manusia tinggal seringkali mengutamakan fungsi daripada estetika. Kota-kota dibangun dengan dingin. Seolah mereka yang tinggal di dalamnya hanya bidak, skrup, atawa boneka. Memunculkan asumsi tidak perlu estetika jika efisiensi bisa direngkuh dengan mengorbankan keindahan. Kota diperkosa kegunaan. Dan manusia yang tinggal dalam kota semacam ini seringkali membosankan.

Dinding gedung menjulang dengan warna monokrom seragam. Dingin, ketus, disiplin dan totaliter. Hampir nir warna-warna cerah yang melahirkan semangat. Mari kita tengok Jakarta, New York, Kuala Lumpur, atawa Bangkok. Balok-balok gedung menulang tinggi serupa penjara yang memasung keindahan. segala kedegilan bentuk ini bermuara pada hipotesis sederhana. Manusia-manusia urban mendikte bentuk dan tata ruangnya sendiri.
         
Tata ruang kota menjadi sebuah medan perang. Antara kepentingan ekonomis, ekologis, estetis dan utilitas. Tetapi seperti yang kita ketahui, bahwa fungsi ekonomis adalah raja diraja dari segala bentuk tata ruang. Kota dikembangkan serempak sesuai keinginan komprador berduit. Menindas dan menginjak habis segala kepentingan umum. Lihatlah kelahiran prematur mall-mall di perkotaan, atawa pembangunan jalan layang-cum-tol yang berujung pada penundaan. Kota dikebiri kepentingan segelintir untuk menambah pundi-pundi uang.

Jember, kota dimana saya tinggal, memang bukan kota besar seperti jakarta atawa surabaya. Tetapi pertarungan ruang dan perebutan lahan hidup telah menjadikan kota ini sebagai fron terdepan dari sebuah medan perang. Masyarakatnya berjejal memanfaatkan ruang-ruang tak bertuan yang berserakan di antara aliran sungai dan tanah kosong di belakang pertokoan. Manusia-manusia yang beradaptasi dengan ruang sempit untuk bisa tinggal murah dan dekat dengan kehidupan kota. Sebuah eskapisme yang imajiner.

Jember awalnya adalah sebuah kota perkebunan. Pemerintah Belanda tak berniat membuat kota ini jadi kota niaga dan kota pemerintahan. Malah dalam rencana tata ruang Gubermen Belanda di Jawa Timur. Kota tetangga Jember, Bondowoso, adalah kota yang dipersiapkan sebagai kota pemerintahan dan niaga. Hal ini terbukti dari tata ruang Bondowoso yang lebih rapi dan lebih jelas ketimbang Jember. Bondowoso memiliki arah yang jelas mengenai lokasi tinggal, lokasi niaga dan juga lokasi pemerintahan. Sesuatu yang tak di miliki oleh Jember.

 Akibatnya adalah Jember menjadi sebuah kota yang semerawut. Pusat niaga dan perkantorannya terletak di jantung kota yang dekat dengan lokasi pemerintahan. Dimana di balik gedung-gedung pertokoan yang angkuh terdapat ratusan rumah petak yang dibangun semi permanen dengan tata rancang semau gue. Hasilnya adalah puluhan gang yang mirip dengan labirin.

Labirin di tengah kota Jember ini menjadi sebuah saksi multikulturalisme dan rekam jejak sejarah Jember. Ada gang Dahlok, sebuah gang multi etnis yang ditinggali oleh masyarakat tionghoa dan arab sekaligus. Juga gang Samanhudi, sebuah gang yang sempat memerah dengan darah para penghuninya yang dituduh simpatisan Lekra dan Gerwani karena di sinilah pentolan politbiro PKI Njoto tinggal.

Belum lagi gang-gang yang ada di belakang pasar Jompo yang menyimpan bukti toleransi umat beragama warisan kolonial. Di sana sebuah klenteng tertua dibangun berdekatan dengan sebuah mushola yang dulunya bekas pesantren. Klenteng Fung San Sie tetap bertahan namun pesantrennya sudah hilang berganti rumah rumah petak. Di sebuah kota dimana fungsi dan kepentingan praktis adalah hal yang utama, sejarah hanyalah gincu yang setiap saat bisa diganti dengan topeng yang bisa dibongkar pasang.

Tapi apakah sejarah itu? Apakah sebuah kota tak bisa menyelaraskan keindahan dan fungsi? Apakah tembok tembok dan ruang kosong hanyalah properti para pemilik kapital. Mural dan seni hanyalah sebuah katalis bagi pemilik produksi untuk menjajakan produknya. Tak ada keindahan yang murni hanya sebuah pesan tak kasat mata untuk meminta kita membeli, membeli dan membeli.

Pada sebuah kota pada akhirnya kesadaran para penduduk yang membuat mereka bergerak. Mereka yang dipaksa melihat visual mengerikan dari rayuan utuk membeli. Dinding, lampu dan segala macam tremor mengerikan bernama iklan. Kita lantas dipaksa menyerah, dipaksa menyepakati bahwa hal ini adalah sebuah keharusan. Sebuah kondisi apa boleh bikin dan tak bisa dilawan. Pemilik kapital dan segala macam pledoi bernama kesepakatan, janji dan kontrak. Ia adalah tuhan baru yang membuat kita tunduk.

Pada sebuah kota, ruang adalah nama rupa yang kita kutuki keberadaannya. 

Sabtu, 04 Mei 2013

Paradoks Mo Yan


Mo Yan adalah paradoks hidup. Ia meraih nobel karena karya-karyanya berusaha bicara tentang represi, narasi kecil, dan segregasi jender yang masih ketat di China. Tapi di sisi lain ia mendukung sensor oleh partai komunis China, menolak dukungan petisi pembebasan pada pejuang HAM China Liu Xiaobao. Lantas bagaimana cara kita bisa memahami jalan pikir novelis yang pada 2012 lalu meraih penghargaan nobel kategori sastra ini? Jawabannya bagi saya adalah tidak perlu. Sebisa mungkin kita melepaskan relasi penulis terhadap karya sastra mereka. 

Tapi pun jika kita hendak berusaha untuk memahami Mo Yan ada baiknya membaca Big Breasts and Wide Hips (BBAWH). Karya ini yang konon digadang-gadang merupakan karya terbaik dan alasan mengapa ia terpilih menjadi jawara Nobel. Kita sekali lagi bisa melihat secara gamblang paradoks Mo Yan. Ia bicara tentang sembilan perempuan, seorang ibu dan delapan kakak perempuan dari berbeda ayah, melalui lisan lelaki bungsu yang masih gemar menyusu. Ia bicara tentang kekerasan, represi dan penindasan namun di sisi lain ia membiarkan pemerintah China menindas Tibet. Meminjam salah satu dialog dalam film V for Vendetta, seorang seniman berbicara tentang kebenaran melalui dusta.

Sejujurnya saya bukan penggemar karya sastra asal Tiongkok. Selain terlalu berbelit, rumit dan filosofis. Karya sastra dari China seringkali melahirkan gegar budaya yang terlalu. Banyak leksikon lokal yang gagap saya pahami. Sementara metafora dan penamaan karakter yang seringkali banyak dan tak Jelas (seperti dalam Gunung Jiwa karangan Gao Xingjian) menciptakan gaya tutur yang rumit dan sangat membosankan. Namun dalam buku BBAWH ini, Mo Yan bisa menghancurkan dikotomi itu dan membuat pembaca awam seperti saya bisa sedikit lebih menikmati karya sastra ini.

Novel ini dimulai dengan kelahiran Jintong yang telah lama diharapkan oleh keluarga pandai besi Shangguan. Setelah tujuh kali melahirkan anak perempuan Shangguan Lu berharap bisa melahirkan anak laki-laki sebagai penerus nama keluarga. Ketika Jintong lahir desa dimana mereka tinggal sedang dalam suasana invasi jepang. Lantas disela-sela itu ada berbagai detil kecil tentang bagaimana Laidi yang kakinya diikat hingga kecil untuk bisa laku (belakangan kita akan membaca alasannya pada halaman 78). Lantas cerita beralih pada kisah hidup sang ibu dan ketujuh anaknya yang masing-masing merepresentasikan periode sejarah China.

Sang narator mulai berkisah sejak ia disapih sampai dengan dewasa dan kembali ke kampung halaman menahun setelah ia pergi mengungsi akibat invasi Jepang. Ada yang coba ditunjukan dari marginalisasi karakter laki-laki dalam cerita BBAWH. Seluruh karakter lelaki dalam keluargga Shangguan sang Kakek, Ayah sampai dengan Jintong digambarkan lemah hati, pengecut, egois, pemalas dan tak berguna. Sementara di sisi lain seluruh tokoh perempuan dari nenek mertua, ibu dan delapan anak perempuan menjadi tokoh kuat dan tabah.

Fragmen pepatah nenek mertua Shangguan Lű yang diucapkan ketika ia sakit saya kira menjadi inti utama dari cerita ini. “Ayah dan anak lelaki terikat kebaikan, sedangkan ibu dan menantu perempuan terikat kebencian,”. Mo Yan sedari awal barangkali tak hendak menunjukan sebuah romansa yang indah tentang kehidupan para perempuan dari keluarga kelas pekerja di China. Delapan saudara Jintong juga ibu dan nenek mertua merupakan penggambaran degil bagaimana perempuan dijadikan komoditas dan objek represi pada masyarakat patriarkhis.

Bagi saya kekuatan Mo Yan dalam BBAWH adalah deskripsi yang detail. Entah ini karena kepiawaian Rahmani Astuti selaku penerjemah atau memang diksi yang digunakan Mo Yan memang sangat hidup. Deskripsi inilah yang mampu menebas jarak antara pembaca dan imaji ruang dalam novel ini. pada halaman 383 misalnya ketika tokoh Ibu mengangkat mayat Zhaodi, Mo Yan seolah membuat pembaca bisa hadir dan melihat langsung adegan tersebut. Padahal seluruh deskripsi hanya ditulis dalam satu paragraf saja.

Deskripsi ini bisa menjadi sebuah blunder jika pembacanya tak sabaran. Belum lagi dialog yang bertele-tele dan terkesan seperti basa basi tak penting. Pada sebuah dialog pembaca dipaksa untuk sangat berkonsentrasi karena Mo Yan akan dengan mudah membuat kita membaca dan menyelami pikiran si karakter. Hal ini belum ditambah dengan kebiasaan Mo Yan untuk melakukan flash back dan deskripsi perihal masalah sederhana yang menuntut para pembacanya benar-benar teliti.

John Updike, kritikus buku New Yorker, menyebut deskripsi Mo Yan sebagai abundant and hyperactive. Ia tak salah. Mari kita baca deskripsi Jintong tentang payudara Laidi, pada halaman 289 “Dengan gugup aku menuju paling, dimana tubuhnya kini melengkung seperti seekor ikan air tawar yang melompat,” atau pada halaman 429 “Air mata mengalir dari matanya yang sendu, bercampur dengan keringat di wajahnya dan menciptakan petak petak ngarai berwarna ungu,” deskripsi ini di satu sisi sangat hidup dan menciptakan imaji yang sangat liar. Namun di sisi lain seperti kata John Updike berlebihan.


Berbeda dengan banyak warga China yang hidup pada masa revolusi, Mo Yan menolak melupakan masa lalu. Sadar akan sejarah kelam bangsa yang mengalami banyak kematian di bawah rezim Mao. Ia menggunakan metafor dua ibu Shangguan Lű dan Shangguan Lu sebagai representasi negara China. Satu produk kejayaan terakhir kerajaan yang berikutnya adalah produk transisi revolusi kebudayaan yang kejam. Namun peraih nobel sastra 2012 ini dengan satir mengubah tragedi menjadi sebuah lelucon yang pahit getir menjadi menggelikan.

Pengambilan judul Big Breasts and Wide Hips misalnya. Merupakan contoh bagaimana masyarakat patriarkhis China sangat memuja kesuburan. Dada besar dan pinggul lebar dianggap akan memudahkan punya banyak anak. Karena filosofi banyak anak banyak rezeki ini mengingatkan Mo Yan pada bagaimana ia dilahirkan dan dibesarkan sebagai anak petani miskin. Keluarga yang mengharapkan anak lelaki sebagai pembawa kehormatan justru mampu bertahan hidup karena keberadaan perempuan-perempuan yang dianggap tak penting.

Mo Yan sendiri sebenarnya bukanlah nama asli dari pengarang yang dijuluki Shalman Rusdhie "Penulis Aji Mumpung" ini. Mo Yan dalam bahasa Cina artinya “Jangan Bicara” adalah sebuah nama pena dari Guan Moye. Penamaan ini terkait dengan sikapnya yang doyan bicara dan terlalu terbuka, sehingga kerap membuat warga China dan khususnya partai Komunis menjadi tak nyaman. Namun meski banyak karyanya lantang bersuara melawan partai oleh banyak kritikus buku ia tak disukai karena tak mau ambil bagian dalam oposisi yang tegas.

Penulisan lingkungan dan suasana dari novel ini konon merupakan penggambaran dari kampung halaman Mo Yan di daerah Pedesaan Shandong, daerah bagian Gaomi. Daerah yang digambarkan perbukitan mistis yang ketika kabut datang seolah merupakan negeri para dewa. Namun dalam saat yang bersamaan para petani, buruh dan warga miskin (seperti juga keluarga Mo Yan) bekerja sebagai sebuah ironi. Deskripsi dan penggambaran inilah yang membuat ia disandingkan maestro genre realisme magis Gabriel Garcia Marquez.

Novel ini oleh beberapa kalangan disebut sangat orisinal dan menggugah karena melahirkan sebuah genre baru. Genre Hallucinatory Realism atau Realisme Halusinasi. Banyak fragmen dan penggambaran dalam novel-novel  Mo Yan yang sangat aneh atau puitik. Deskripsi mengenai lingkungan, suasana, dan emosi karakternya seolah tergambar menjadi masyarakat yang tinggal di negeri khayangan. Bayangkan sebuah lukisan kaligrafi China maka Mo Yan bisa menggambarkan deskripsi itu sebagai latar dan pembacanya tak perlu repot memahami apa yang ia mau.

Howard Goldblatt, penerjemah karya-karya Mo Yan di Amerika Serikat, menyebut Mo Yan sebagai penulis berani dan nakal yang setara dengan Charles Dickens dan William Faulkner. Goldblatt menyebut kekuatan Mo Yan adalah pada kekuatannya untuk menunjukan bahwa manusia memiliki sisi lemah. Namun dengan penggambaran imajinasi, bahasa dan humor satir kita bisa memahami manusia itu. Mo Yan memang dalam berbagai karyanya seringkali membalut kisah tragedi sebagai sebuah komedi. 

Perempuan-perempuan dalam kisah ini adalah perempuan-perempuan yang menolak tunduk dan menyerah. Mereka adalah China itu sendiri. kekuatan ibu bumi dari simbol kekuatan yang menjadikan china bangkit dan berkembang. Terlepas kontroversinya belakangan ini yang berseteru dengan Salman Rushdie dan Zang Zimou yang membuat film Red Sorghum. Novel Mo Yan ini pantas dibaca namun tidak direkomendasikan bagi mereka yang tak suka dengan dialog panjang dan metafora yang berlebihan.

Sayangnya Serambi, selaku penerbit buku ini, melakukan kesalahan yang bagi saya lumayan fatal. Pada awal bab pengenalan tokoh-tokoh secara tersirat jalan cerita novel ini sudah bisa diraba. Sebagai pembaca tentu saja saya merasa terganggung. Bukan hanya karena kesenangan untuk menguak misteri cerita direbut, tetapi juga definisi karakter yang terlebih dahulu telah diberi label. Semoga jika novel ini mengalami cetak ulang penjelasan serta deskripsi karakter bisa sedikit diperbaiki, sehingga pembaca tak perlu mengalami kecemasan yang saya rasakan.

Rabu, 01 Mei 2013

Surat dari Seorang Perempuan.




untuk: Al

Al, matahari belum cukup tinggi saat aku tiba di rumahmu. Kira-kira pukul 10, tapi sengatannya tak kalah panas dari nafasmu saat kita bercumbu di sofa ruang tamu. Bisa kau bayangkan bagaimana aku dibakar gairah seorang diri? Aku masuk ke ruang kerjamu dan menyalakan AC.  Mencoba mengalihkan perhatian dengan merapikan kertas-kertas yang berserakan di atas meja, dan membuang bungkus Pocky rasa coklat yang entah sejak kapan terdampar di puncak tertinggi tumpukan bukumu.

Setelah itu, aku ke dapur, membuat sarapan. Menyeduh kopi luwak tanpa gula dan memanggang roti tawar dengan olesan selai kacang. Aku duduk sendirian di dekat jendela dapur, mengamati rimbun tanaman yang kau rawat setiap hari hingga bunga-bunganya bermekaran dengan indah. Kopiku pelan-pelan habis. Piring persegi menyisakan secuil pinggiran roti yang gosong. Dan puntung rokok menggunung dalam asbakmu yang berlambang Manchester United. Bagaimana denganmu? Apakah perjalanan panjang 12 jam menuju Jogja cukup menyenangkan? Apakah kau bertemu dengan seorang perempuan yang menarik di gerbong yang sama? Lalu kalian berkenalan seperti Jesse dan Celine dalam film Before Sunrise? Ah, aku akan cemburu bila itu terjadi.

BTW, terima kasih telah memberiku izin untuk masuk ke dalam rumahmu yang luas dan nyaman ini, Al—di mana tolpes-toples makanan tersusun rapi di lemari penyimpanan. Aku suka kesederhanaanmu yang  terealisasi dalam penataan ruang sehingga siapapun juga yang datang berkunjung betah berlama-lama duduk di sini, sekedar menikmati kue-kue kering sambil mendengarkan The Beatles. Di rumahmu, segalanya begitu mudah dijangkau seperti sedang terdampar di rumah orang Jepang yang bergaya minimalis. Aku tak pernah kebingungan menemukan apa yang kubutuhkan. Buku-bukumu tertata apik di rak besar yang hampir menutupi separuh dinding, sebuah piala penghargaan besar berdiri di sudut ruangan—dekat buku biografi orang-orang yang kamu idolakan. Dan tentu saja kau tak memasang banyak ornamen yang mengganggu pemandangan kecuali sebuah pigura berukuran medium—berisi fotomu dengan pose menyamping.

Aku tak ingin mengubah apapun dalam rumahmu kecuali merapikan meja kerjamu dan menyampul buku-buku impor yang selalu kau beli tiap minggu. Di rumah ini, aku menemukan banyak kebahagiaan kecil yang membuatku tak ingin lekas pulang. Adakalanya aku merindukan tempat ini jauh melebihi rinduku pada aroma bantal di rumahku sendiri. Aku rindu dekapanmu, aku rindu percakapan-percakapan kita, aku rindu aroma kamar mandimu, aku rindu sofamu, aku rindu dongeng-dongeng yang kau bacakan sebelum aku tidur, aku rindu masakanmu, aku rindu keringatmu, aku rindu perutmu yang buncit, aku rindu pertengkaran kita, juga percumbuan yang membuatku utuh.

Tampaknya siang telah meradang, aku harus pulang, Al. Seminggu lagi aku akan menyusulmu ke Jogja. Banyak rencana jalan-jalan yang harus kita tuntaskan selama beberapa hari. Pergi ke toko buku, nonton bioskop, makan gulai kepala ikan, menemaniku menghabiskan es krim sambil menyusuri jalan Malioboro, menyambangi Pasar Beringharjo, menikmati berjalannya waktu yang (semoga) lebih lambat, dan kembali menekuni rutinitas yang merenggut hari-hari kita. Tunggu aku di sana, Al. Di kota di mana kita bisa jatuh cinta berkali-kali.

pelukan hangat untukmu,
dari seorang perempuan berinisial: P