Jumat, 31 Mei 2013

Buku Luka Cerita

Dalam satu tafsir yang tak tunggal barangkali Tuhan sudah patah hati berulang kali terhadap manusia. Ia menciptakan Adam, lantas kecewa karena dikhianati. Kita terbuang dari surga dan kehidupan manusia tak pernah sama. Tapi apakah patah hati selalu tentang luka? Saya kira tidak. “Turunlah kamu semuanya dari surga itu!", perintah Tuhan datang dengan rasa khawatir "...datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” 

Patah hati hanya perkara keinginan. Seringkali harapan yang tak terpenuhi adalah sumber kelahiran rasa sakit itu. Menyadari bahwa sebenarnya keinginan adalah satu bentuk egoisme, rengekan dan semacam kegiatan fasis. Apakah kita percaya semua itu? Entahlah. Tapi patah hati seringkali adalah sebuah keadaan sementara. Tak pernah ada patah hati yang abadi, beberapa memilih kematian daripada menanggung pedih hidup. Sementara yang lain larut tunduk pada kefanaan bernama hilang sadar.

Apakah patah hati selalu berujung perih? Seringkali iya tapi tidak selalu. Beberapa penulis terhebat dunia melahirkan karya karena patah hati. Beberapa di antaranya tak pernah benar-benar pulih hingga akhir hayatnya. Sementara yang lain bertahan hidup dan merasakan cinta yang lain. Dante Alighieri melahirkan Divine Comedy untuk kekasih yang tak pernah ia miliki. Jane Austen menuliskan berbagai buku setelah memutuskan melajang karena cinta yang tak bersambut. Tapi apakah patah hati melulu perkara cinta?

Edward Said orientalis dan pemikir brilian kelahiran Yerusalem itu kecewa pada negara dan bangsa yang membuat tanah airnya tercerai berai. Basuki Resobowo, virtuoso lukisan Indonesia, begitu sakit hati ketika menemui rekan-rekan sejawatnya di tanah air telah menjadi "antek kapital" dan melupakan "cita-cita revolusi". Barangkali juga seperti Jan Palach si pemuda tampan dari Ceko yang membakar diri karena cintanya pada negeri dihancurkan barisan tentara merah Soviet.

Apakah cinta yang semacam ini tak berhak mendapat tempat di ruang patah hati? Di atas itu semua bagi saya hanya buku yang mampu menggambarkan kepedihan dari patah hati secara paripurna. Ia membekas karena mampu menghadirkan detak, irama dan adegan yang membuat kita mampu berbagi perasaan. Juga seperti efek placebo, ia menghadirkan sebuah keniscayaan, bahwa narasi dalam buku tersebut adalah sekeping peristiwa yang menjadi representasi perasaan kita.

Untuk itu saya menyusun sedikit daftar tentang buku patah hati yang sebaiknya anda baca. Susunan buku ini sangat subyektif. Tidak memiliki kaidah keilmuan yang saklek. Disusun dengan 'agak gimana gitu' dan perasaan yang berantakan. Bukankah selera perihal masing-masing manusia? Kita boleh setuju boleh tidak. Namun satu yang pasti, patah hati selalu lebih sunyi ketika kau melewatinya dengan membaca buku.

8. Magdalena - Mustafa Lutfi Al Manfaluthi

Alphonse Karr harus berterima kasih pada sastrawan mesir Mustafa Lutfi Al Manfaluthi karena menyadur karyanya Sous les Tilleus dengan sangat baik. Sehingga karya yang di negeri asalnya tak lebih jadi karya picisan. Namun di tangan Al Manfaluthi kisah cinta yang akhirnya tragis ini, bisa menjadi sebuah dialog yang hidup. Dengan gaya tutur sebagian besar berupa saling silang surat antara Steven dan Magdalena, pembaca diajak memahami isi hati masing-masing karakter melalui kata-kata yang tersusun.

Buku yang berjudul asli Al Majdulin ini berjalan sangat lambat. Di awal kisah cenderung sangat membosankan dan membuat saya jengah. Namun jalinan kisah misterius dari Stevan yang dirundung duka membuat saya terus tetap bertahan mencari tahu apa simpul permasalahan kisah ini. Karya saduran Al Manfaluthi sangat cocok bagi mereka yang patah hati karena ditinggal nikah oleh kekasihnya. Memberikan sebuah pandangan bagaimana semestinya menanti di lalui.

Tapi bukan tentang "ditinggal menikah kekasih jadi sedih lantas mati" yang membuat Magdalena menjadi istimewa. Jika hanya itu puisi/prosa Khalil Gibran barangkali sudah berbusa berkisah tentang itu. Namun bagaimana Al Manfaluthi menangkap relasi sosial kelas penguasa dan kekuatan untuk berjuang. Tentang Stevan yang berjuang melawan melodrama dan mencapai kesuksesan. Seharusnya putus cinta, meminjam istilah supir truk, tak seperti putus rem yang bisa menghilangkan nyawa.

7. Cinta Di Tengah Kengerian Perang - alih bahasa oleh Landung Simatupang

Apa yang dipikirkan seorang serdadu di medan terdepan peperangan ketika sedang merindu kekasihnya? Interaksi percakapan melalui medium surat membuat kita tersadar bagaimana kekuatan kata-kata yang ringkas bisa bermakna sangat lumer. Ia bicara tentang ketiadaan harapan, tentang rasa pasrah, tentang bagaimana seseorang dipaksa menerima nasib tanpa diberikan kesempatan melawan. Perang, kata penulis Margaret Atwood, terjadi karena bahasa gagal menerjemahkan makna perdamaian.

Beberapa surat tak ditulis dengan nuansa muram dan sedih. Beberapa prajurit masih percaya bahwa pada satu titik perang akan berakhir dan mereka akan pulang. Pulang adalah sebuah kata sakti yang membuat serdadu paling nasionalis tergetar karenanya. Pulang berarti merindu segala yang kau cintai, kekasih yang montok, musim panas yang indah, atau tentang "cara menyimpan sandwich yang norak". Dalam surat para serdadu Jerman yang kalah ini kita melihat sepotong kehidupan yang hancur karena perang.

Tapi mungkin yang paling membuat patah hati adalah bagaimana seorang serdadu dapat kehilangan keyakinan. Serdadu yang dalam dirinya ada bagian identitas sebagai umat, sebagai manusia yang tunduk dan patuh pada perintah agama. Ketika ia menjumpai perang ia lantas melihat kengerian-kengerian yang tak bisa dibahasakan. Seperti dalam sebuah surat yang ditulis serdadu pada kekasihnya yang taat. "Aku tak lagi percaya tuhan baik. Jika demikian ia tak akan membiarkan ketidakadilan yang dahsyat ini,"

6. Derita Cinta Tak Berbalas - Sephanie Iriana

"Cinta itu gak pernah logis," barangkali adalah kalimat klise paling masuk akal yang pernah saya dengar. Tapi bukan berarti sakit karena cinta tak bisa diteliti sebagai sebuah fenomena psikologis yang bisa disusun secara saintifik. Oke saintifik barangkali merupakan kata yang keras, namun dari sebuah skripsi lahirlah sebuah buku dengan kaidah penelitian ilmiah yang ketat. Stephanie Iriana adalah pihak yang mungkin bisa menolong kita seusai imaji utopis tentang sebuah hubungan hancur berantakan.

Mengambil sampel penelitian dua orang yang tengah patah hati Iriana berusaha mendedah apa itu nyeri dalam hati? Rasa sakit yang tak bisa didefinisikan, mengunci ulu hati, hilangnya selera makan dan matinya daya hidup. Meski menggunakan banyak teori psikolog kontemporer Victor E Frankl, pembaca akan dibuat seolah sedang menikmati film dari curhat dan relasi komunikasi antara korban patah hati dan pelaku patah hati.

Buku ini susah untuk dicerna. Karena terlalu teknis dan kaku buku ini harus pelan-pelan dibaca. Apalagi jika anda membacanya langsung seusai sebuah percintaan kandas. Namun dengan perspektif menarik dari kajian psikologi populer. Iriana berhasil mengkonstruksi keping-keping logika yang kita sisihkan ketika jatuh cinta. Patah hati karena cinta tak berbalas bisa jadi membuat manusia lebih logis dari pakar filsafat manapun.

5. Cinta Tak Datang Tepat Waktu - Puthut EA

Buku ini adalah salah satu dari sedikit buku yang masuk kompilasi buku yang wajib dibaca sebelum akhir zaman versi saya. Buku ini, seperti judulnya, bercerita tentang kisah-kisah cinta yang dimulai namun urung selesai. Disusun dengan sangat bernas oleh Puthut EA sebagai sebuah kisah otobigrafis (fiksi?) yang teliti. Detil-detil sederhana yang mengisahkan kehidupan aktivis sebelum dan sesudah 98 dan bagaimana kehidupan pribadi mereka.

Ada banyak fragmen dialog, monolog dan deskripsi yang membuat novel ini harus dibaca oleh para mahasiswa dan so called aktivis sosial media. Bukan karena ia bicara tentang gerakan sosial tapi ia berkisah secara nyata bagaimana sebuah gerakan dilangsungkan. Tapi tentu saja ada kisah pelik percintaan yang membuat para penderita patah hati seolah memiliki kedekatan dengan narasi yang ditawarkan. Penolakan, cinta yang gagal juga bagaiman seorang lelaki secara keras kepala jatuh cinta.

Lagi pula ada satu kalimat masyur yang akan membuat novel ini abadi. "Aku ingin mencintaimu dengan cara yang paling sunyi." Selebihnya biarkan anda dibuat mengumpat tentang pasangan yang "terlepas begitu saja tanpa berhasil diselamatkan".

4. Wuthering Heights - Emily Bronte

Wuthering Heights, seperti yang ditampilkan dalam beberapa filmnya, bercerita tentang lanskap murung pedalaman Inggris. Berkisah tentang cinta tak berbalas yang melahirkan tragedi. Buku ini barangkali adalah yang paling kelam dari peradaban sastra yang dihasilkan Bronte bersaudara. Berbeda dengan kakaknya Charlotte Bronte yang menulis dengan nuansa lebih 'ceria'. Emily memuja sifat buruk dendam,sebagai satu-satunya elemen paling jujur pada manusia.

Berkisah secara mundur tentang kehidupan Heathcliff si anak jadah yang mencintai dengan terlalu putri tuan tanah baik hati bernama Catherine Earnshaw. Selayaknya kisah sinetron dan FTV hari ini Heathcliff digagalkan cintanya karena kurang berpendidikan dan tak punya apa-apa. Penolakan Catherine dan penghinaan yang dilakukan kakaknya Hindley Earnshaw. Melahirkan sumpah kebencian akan pembalasan dendam yang keji.

Sisanya bagi saya tak penting lagi. Tapi bagaimana Emily Bronte menyusun kisah ini sangat luar biasa. Ia bicara tentang penderitaan dengan sangat renyah. Seolah-olah ia bisa menerjemahkan rasa perih karena penolakan kekasih dengan kata-kata yang ketika dibaca kita bisa mengalami sensasi yang sama. Di Indonesia ada dua versi terjemahan yang saya kira sama baiknya. Namun untuk menikmati benar karya ini ada baiknya anda tidak menonton filmnya terlebih dahulu. Mengapa? Just don't.

3. Biografi Kehilangan - Dina Oktaviani

Dina Oktaviani adalah sedikit dari penyair perempuan Indonesia yang bisa keluar dan memperoleh panggung sendiri. Ia menulis dengan ragu-ragu, sajaknya bimbang dan sedikit sekali menawarkan kepastian. Tapi bukankah itu esensi dari sebuah sajak? Saya kira penyair menempatkan sajak mereka bukan untuk dipahami selayaknya slogan, tapi untuk dicerna pelan-pelan dan direnungi maknanya.

Pada beberapa sajak yang ia tulis dalam Biografi kehilangan saya menemukan sebuah gaya menulis yang unik. Bukan baru tentu saja, tapi bagaimana kata diperlakukan seperti sebuah karib. Beberapa sajak ia tuliskan sebagai penghormatan orang dengan pendekatan yang saya kira sangat intim. Pada Solitaire untuk Alexander Supartono misalnya. "bertahanlah / aku akan memejamkanmu, kedua mata yang parau // dan mengikat seluruh kegelisahan sepatumu / pada kota ini,"

Tapi pada sajak sajak tentang cinta yang picisan saya kira Dina Oktaviani malah lantang berkisah. Sajak seperti  Kalender Sepi, Sepasang Orang Kalah, Cinta Yang Sengit, atau sajak yang paling saya sukai Sakramen. Dina menulis dengan indah sebuah kepergian yang saya kira adalah perpisahan. Dimana ia tuliskan "tuhan pergi, sayang / ia balikan punggungnya / dan kita bicarakan ini dengan hati," ini adalah puisi yang menolak manusia menjadi fatalis. Bahkan ketika sebuah perpisahan terjadi.

2. Sepasang Luka Cinta - Maruli Simbolon

Maruli Simbolon telat dilahirkan sehingga ia tak mendapatkan ketenaran yang seharusnya ia miliki. Jauh sebelum twitter melahirkan selebriti karbitan dalam meramu melankolia, penulis asal  Rantauprapat, Labuhan Batu, Sumatera Utara ini telah mendefinisikan apa itu melankolia. Ia tidak menulis tentang patah hati, tidak pula menulis tentang galau, ia juga tak bicara tentang pengkhianatan. Ia bicara tentang Sepasang Luka Cinta yang lahir dari sebuah harapan yang sumbing.

Tapi apakah Sepasang Luka Cinta itu? Dalam pemahaman Maruli Simbolon cinta lebih dari sekedar perwujudan dari koyaknya sebuah hubungan. Cinta adalah ibu yang berjuang untuk membeli buku mahal. Cinta juga bisa berarti sebuah iman yang luntur. Cinta adalah perpisahan klise karena kelas dan materi. Cinta adalah apa yang kau temui dalam sampah. Cinta adalah filsafat yang tak membutuhkan jawaban. Cinta bagi Maruli Simbolon adalah Taik Kucing yang tak pernah selesai.

Ditulis dengan eskperimental Dosen IKJ ini memberikan sebuah penjelasan apa itu cerita mini atau mikro fiksi. Sekali lagi, jauh sebelum perdebatan dan perhelatan kosong Fiksi Mini, Maruli telah merumuskan dan mempraktikan apa yang ia maksud sebagai gaya alternatif dalam penulisan karya sastra. Ia jelas bukan pioner atawa penemu, namun ia adalah sedikit dari avant garde yang meretas perdebatan tentang apa itu cerita mini dengan menuliskan karya secara anggun.

1. A Lover's Discourse -  Roland Barthes 

Saya tidak pernah tahu bila Roland Barthes, sang filsuf kece ini, adalah seorang yang melankolis. Setidaknya itu yang saya raba dari kumpulan 82 tatal perihal cinta yang ia buat. Barthes, merangkai sekumpulan fragmen-fragmen definisi dan perenungan mengenai perasaan yang ia curigai sebagai cinta. Tentu saja tidak melulu pemaknaan yang rapuh, lembek, menye, atau memuakkan. Ia bicara tentang perenungan mendalam tentang perasaan-perasaan yang muncul ketika jatuh cinta seperti cemas, cemburu, gembira, senang, bernafsu dan sebagainya.

Salah satu fragmen yang saya sukai adalah exil / exile. Sebuah kondisi kalah, atawa pengakuan terhadap superioritas terhadap liyan. Atau dalam bahasa Barthes, "Deciding to give up the amorous condition," katanya. Sebagai sebuah bentuk penyesalan dan ketidakmampuan menghadapi kenyataan. "The subject sadly discovers himself exiled from his Image-repetoire." Bicara tentang sebuah cinta yang hidup terlampau lama lantas disepakati dibunuh. Bukan oleh orang lain tapi oleh kedua pelaku karena cinta itu membuat mereka tercerabut dari apapun yang dulunya mereka hargai.

Jika Barthes menulis Mythology dalam keadaan geram terhadap kondisi sastra Perancis saat itu. Maka saya boleh menduga Ia menulis A Lover's Discourse dalam keadaan sedih. Banyak fragmen-fragmen kisah, cerpen, puisi dan gumaman tak jelas yang melingkupi tatal ini. Seolah tak hendak memberikan penjelasan yang utuh terhadap permasalahan yang kerap menempel ketat pada cinta itu sendiri. Tapi barangkali patah hati, seperti juga cinta, tak ingin dijelaskan. Ia seperti juga sambal hanya perlu dirasakan pedasnya untuk kemudian hilang begitu saja.


2 komentar:

  1. nulis buku cinta yang tak layak terbit gih...

    BalasHapus
  2. "patah hati akan lebih sunyi ketika kau membaca buku".
    Pinjami aku bukumu, Kak.. :D
    Well, aku selalu suka tulisanmu, Kak Dhani.

    Salam.

    BalasHapus