Rabu, 01 Mei 2013

Surat dari Seorang Perempuan.




untuk: Al

Al, matahari belum cukup tinggi saat aku tiba di rumahmu. Kira-kira pukul 10, tapi sengatannya tak kalah panas dari nafasmu saat kita bercumbu di sofa ruang tamu. Bisa kau bayangkan bagaimana aku dibakar gairah seorang diri? Aku masuk ke ruang kerjamu dan menyalakan AC.  Mencoba mengalihkan perhatian dengan merapikan kertas-kertas yang berserakan di atas meja, dan membuang bungkus Pocky rasa coklat yang entah sejak kapan terdampar di puncak tertinggi tumpukan bukumu.

Setelah itu, aku ke dapur, membuat sarapan. Menyeduh kopi luwak tanpa gula dan memanggang roti tawar dengan olesan selai kacang. Aku duduk sendirian di dekat jendela dapur, mengamati rimbun tanaman yang kau rawat setiap hari hingga bunga-bunganya bermekaran dengan indah. Kopiku pelan-pelan habis. Piring persegi menyisakan secuil pinggiran roti yang gosong. Dan puntung rokok menggunung dalam asbakmu yang berlambang Manchester United. Bagaimana denganmu? Apakah perjalanan panjang 12 jam menuju Jogja cukup menyenangkan? Apakah kau bertemu dengan seorang perempuan yang menarik di gerbong yang sama? Lalu kalian berkenalan seperti Jesse dan Celine dalam film Before Sunrise? Ah, aku akan cemburu bila itu terjadi.

BTW, terima kasih telah memberiku izin untuk masuk ke dalam rumahmu yang luas dan nyaman ini, Al—di mana tolpes-toples makanan tersusun rapi di lemari penyimpanan. Aku suka kesederhanaanmu yang  terealisasi dalam penataan ruang sehingga siapapun juga yang datang berkunjung betah berlama-lama duduk di sini, sekedar menikmati kue-kue kering sambil mendengarkan The Beatles. Di rumahmu, segalanya begitu mudah dijangkau seperti sedang terdampar di rumah orang Jepang yang bergaya minimalis. Aku tak pernah kebingungan menemukan apa yang kubutuhkan. Buku-bukumu tertata apik di rak besar yang hampir menutupi separuh dinding, sebuah piala penghargaan besar berdiri di sudut ruangan—dekat buku biografi orang-orang yang kamu idolakan. Dan tentu saja kau tak memasang banyak ornamen yang mengganggu pemandangan kecuali sebuah pigura berukuran medium—berisi fotomu dengan pose menyamping.

Aku tak ingin mengubah apapun dalam rumahmu kecuali merapikan meja kerjamu dan menyampul buku-buku impor yang selalu kau beli tiap minggu. Di rumah ini, aku menemukan banyak kebahagiaan kecil yang membuatku tak ingin lekas pulang. Adakalanya aku merindukan tempat ini jauh melebihi rinduku pada aroma bantal di rumahku sendiri. Aku rindu dekapanmu, aku rindu percakapan-percakapan kita, aku rindu aroma kamar mandimu, aku rindu sofamu, aku rindu dongeng-dongeng yang kau bacakan sebelum aku tidur, aku rindu masakanmu, aku rindu keringatmu, aku rindu perutmu yang buncit, aku rindu pertengkaran kita, juga percumbuan yang membuatku utuh.

Tampaknya siang telah meradang, aku harus pulang, Al. Seminggu lagi aku akan menyusulmu ke Jogja. Banyak rencana jalan-jalan yang harus kita tuntaskan selama beberapa hari. Pergi ke toko buku, nonton bioskop, makan gulai kepala ikan, menemaniku menghabiskan es krim sambil menyusuri jalan Malioboro, menyambangi Pasar Beringharjo, menikmati berjalannya waktu yang (semoga) lebih lambat, dan kembali menekuni rutinitas yang merenggut hari-hari kita. Tunggu aku di sana, Al. Di kota di mana kita bisa jatuh cinta berkali-kali.

pelukan hangat untukmu,
dari seorang perempuan berinisial: P








Tidak ada komentar:

Posting Komentar