Sabtu, 25 Mei 2013

Tentang Cerpen

Harold Bloom, kritikus sastra paling penting abad ini, pernah berujar “Short stories are not parables or wise sayings, and so cannot be fragments; we ask them for the pleasure of closure.” Cerita pendek adalah sebuah jagat mungil yang padat. Ia tidak sepanjang novel tapi tak juga sependek pepatah. Pada satu titik tertentu cerita pendek memberikan ruang yang tak mungkin diberikan oleh novel dan pepatah. Cerita pendek atau cerpen, adalah sebuah rangkuman dari kisah panjang yang di dalamnya barangkali memiliki nilai dan kebijaksanaan. Tapi apakah benar demikian?

Cerpen merupakan salah satu varian paling menarik dalam kazanah sastra. Ia memberikan bentuk yang lebih cair daripada puisi. Namun disaat yang sama seperti juga novel ia bertutur perihal kisah dengan ruang yang lebih sempit. Penyair dan penulis masyur Amerika Serikat, Edgar Allan Poe, penah berseloroh. “Cerpen adalah sebuah kisah yang habis dibaca dalam sekali duduk,” katanya. Tapi apakah sekali duduk itu? Apakah semalaman? Sepanjang hari? Sekali duduk dalam terma Poe merujuk pada waktu seorang menikmati sebatang cerutu. Bisa jadi hanya sekitar 10 sampai 15 menit. Sebuah cerita pendek bisa jadi lebih efektif dibaca dan dimaknai sebagai sebuah petuah, daripada novel yang panjang membosankan.

Indonesia merupakan surga penulis cerita pendek. Keberadaan medium bernama koran dengan laman sastra tiap Minggu memberikan kesempatan bagi penulis untuk naik podium. Tak terbilang sastrawan besar yang lahir dari cerpen lantas dikenal sebagai penulis kelas wahid. Sebut saja Seno Gumira Adjidarma, Linda Chrystanti, Damhuri Muhammad, Misbach Yusa Biran, Puthut EA dan banyak lainnya. Nama tersebut tidak lahir semalam lantas muncul begitu saja dari sikap malas dan keberuntungan. Namun dari melatih diri memejal intuisi menulis sehingga melahirkan cerpen kelas wahid.

Lembaga Pers Mahasiswa Farmasi Lingkar Universitas Jember beberapa waktu mengadakan kompetisi menulis cerpen tingkat SMA dan Perguruan Tinggi. Sebagai juri saya mendapat kehormatan untuk membaca karya penulis-penulis muda yang mungkin belum terjamah ini. Beberapa di antara mereka saya akui berbakat dan memiliki gaya bertutur yang menarik. Sisanya bukannya tidak bagus, tapi mungkin berbeda selera cerita dengan saya saja.

Saya sendiri memiliki kriteria digunakan sebagai standar baku pemenangan. Pertama jelas perspektif dalam menulis cerpen. Kedua adalah gaya bertutur narasi yang digunakan. Terakhir adalah kemampuan penulis menyerap diksi. Pentingnya perspektif bisa menentukan kualitas penulis. Berkisah tentang sepasang kekasih yang patah hati sudah jamak ditemui. Tapi bagaimana jika menulis patah hati dari perspektif seorang jagal kambing misalnya? Ekslporasi sudut pandang seringkali bisa membuat pembaca merasa tertantang untuk menyelesaikan sebuah kisah dengan ekstase tersendiri.

Penggalian ide yang dilakukan oleh seorang penulis akan sia-sia jika ia tak bisa menuturkan kisahnya dengan baik. Ernest Hemingway menulis kisah dengan pendek dan sedikit dialog. Sementara Vladimir Nabokov selalu berusaha menciptakan momen magis dengan deskripsinya tentang latar. Sementara Damhuri Muhammad selalu sukses menghasilkan penokohan karakter dengan deskripsi pekerjaan yang unik dan mempengarui cara ia menuliskan kisah. Hampir semua tema cerita telah dibahas yang membedakan adalah cara kita menuturkan cerita tersebut. Itu yang membuat sebuah cerpen jadi istimewa.

Dari sekian naskah yang saya terima untuk kategori pelajar SMA, barangkali karya Neesrina Mafaza Suroyya berjudul Renta yang paling menarik. Cerpen ini punya sudut berbeda dalam menentukan tokoh utama cerpen. Sayang ia kurang tuntas dalam menggali tema dan alur cerita sehingga cerita yang ia buat terlalu padat, dipaksakan dan sedikit membosankan. Belum lagi cara narator berdialog dengan pembaca yang diulang-ulang. Meski ending yang coba ditawarkan merupakan sebuah twist yang manis.

Annisa Nurul Pratiwi Sudarmadi melalui Kayuhan Kaki Si Mbah hampir sempurna menuliskan cerita. Ia berkisah manusia dengan bopeng kehidupan. Bahwa hidup tidak seindah FTV atau sinetron. Tak semua manusia malaikat. Ada kesalahan dan juga dosa yang dibuat. Kerja keras dan bagaimana ia mempengaruhi kehidupan seseorang tidak eksplisit dituturkan secara hitam putih. Sehingga pembaca bisa menilai sendiri apakah si tokoh pantas atau tidak untuk memperoleh kesuksesan. Meski dalam sebuah cerpen tidak harus memiliki akhir yang bahagia.

Restoe Prawironegoro Ibrahim dalam Riau Pos, Minggu, 19 Mei 2013 pernah menuliskan empat kendala yang membuat seorang cerpenis muda gagal sukses. Pertama, sebagian besar penulis cerita pendek adalah penulis pemula. Mereka kerap bermasalah dalam menyusun masalah secara utuh tentang isi cerita. Kedua, selain itu dalam menceritakan misalnya tentang kemiskinan, cenderung cara mereka berkisah lebih dipengaruhi oleh apa yang pernah mereka lihat bukan rasakan. Sehingga penjiwaan imajinasinya minim sekali. Ketiga, kebanyakan penulis kurang dalam ketika melakukan riset untuk bahan cerpen. Mereka hanya menuangkan begitu saja apa yang ada di benaknya tanpa memperhatikan permasalahan secara mendetail yang sebenarnya, sehingga pendalaman alur ceritanya agak kaku.

Sementara yang terakhir dan yang paling fatal adalah rasa cepat puas. Hal ini terlihat dengan adanya beberapa cerita pendek yang dikirim seorang penulis, kemudian dimuat. Selain itu, si penulis cerita pendek tersebut mengirimkan cerita pendek lagi ke dewan redaksi dan diturunkan lagi. Kebetulan, dari cerita  pertama yang dimuat selang beberapa minggu kemudian cerita pendek kedua dimuat. Para penulis muda kategori SMA sangat jelas menampakan gejala ini. Mereka terburu-buru dalam menulis sehingga kurang waktu untuk membaca lagi dan merefleksikan isi dari cerpen yang mereka bikin.

Sementara pada kategori mahasiswa Febrina Sylva Uhibukkum Fillah dengan cerita Aku Mencintaimu Karna Allah punya karakter penulisan yang sangat luar biasa. Sayang saya tak berani memasukan ceritanya dalam kategori cerpen karena 30 halaman terasa sangat panjang dan bertele-tele. Hal yang sama juga dilakukan oleh Imam Suwandi dengan cerpennya Mawar Putih, meski punya kemampuan menuliskan ragam diksi yang menyenangkan ceritanya terlampau panjang untuk disebut sebagai cerpen.

Tapi Dwi Puspita Sari melalui Rindu Pelangi bagi saya merupakan cerita paling bagus yang saya baca dari seluruh naskah yang masuk. Ia sempurna dalam beberapa hal seperti penggunaan diksi yang baik, narasi yang tidak bertele-tele, karakter prosa yang kuat namun mudah dipahami dan yang paling membuat cerita ini menarik adalah bagaimana ia meramu kata hingga bisa membuat imaji visual yang baik. Meski memang ceritanya bagi saya selain terlalu dramatik hiperbolis, juga terlalu kesinetron-sinetronan. Padahal jika ia mau konsisten bercerita tentang pelangi sebagai sebuah metafora, saya kira nashkahnya layak dikirim ke media nasional semacam Jawa Pos atau Media Indonesia.

Felicia J.T dengan Sang Pejuang Kehidupan punya kemampuan deskripsi yang baik. Ia menulis cerpen seolah sedang bicara. Kata-katanya sederhana padat dan mengalir. Namun sayang selain judul yang kepalang, maaf, norak. Felicia menulis ceritanya terlalu panjang dan terlalu mendetil untuk sebuah adegan yang singkat. Harusnya ia lebih memasukan banyak drama, konflik dan juga penyelesaian  yang indah. Ending yang dibikin meski tak jelek tapi sekali lagi terlalu sinetron untuk bisa diterima sebagai kisah tragedi. Ia bicara seperti seorang motivator kelas dua dengan petuah-petuah membosankan. 

Cerpen mengajarkan kebijaksanaan melalui tutur cerita bukan kotbah membosankan tentang moralitas.



2 komentar:

  1. sangar!! jadi juri, mau lah diliatin cerpen terbaik nya versi juri.. abis itu mau lah diajarin bikin cerpen.. hahaha..

    BalasHapus
  2. juri yang budiman. tabik.

    BalasHapus