Rabu, 05 Juni 2013

Apa yang Kau Inginkan?

Allan Watts, seorang praktisi Zen Buddha, pernah bertanya sebuah kalimat sederhana yang sampai saat ini saya bingung untuk menjawabnya. Apa yang kau ingin lakukan jika dunia tak mengenal uang? Atau jika hidup tak perlu menggunakan uang untuk dicari? Ia bicara sebuah masyarakat yang sempurna. Makan tinggal ambil, buku tinggal baca, birahi tinggal senggama. Kita terbatasi karena kita kesulitan memenuhi semua itu tanpa uang.

Bagi saya hidup yang sempurna adalah hidup dengan banyak buku bacaan, udara segar dan teman berbincang yang hangat. Hidup dengan gelimang kekayaan bagi saya terlalu asing, bukan karena saya dilahirkan miskin, tapi ide memiliki banyak hal tanpa bisa menikmatinya benar-benar buat saya adalah kesia-siaan. Kita diperbudak keinginan-keinginan tanpa sempat menuntaskan semuanya secara sempurna. Rasa ingin memenuhi mengambil alih nalar lantas memutus naluri manusia untuk jadi manusia itu sendiri.

Al Imam Al Ghazali pada sebuah hikayat pernah berbincang dengan murid-muridnya. Lantas ia bertanya "Apakah yang paling berat di jagat raya ini?" Para murid yang hadir menjawab berbagai hal. Mulai dari matahari, bumi, gajah, unta, dan sebagainya. Al Ghazali membenarkan semua jawaban para muridnya itu. "Tapi dari semua itu yang paling berat adalah Nafsu manusia. Ia tak akan pernah habis dipenuhi, tak akan selesai dipenuhi dan tak akan puas diberikan,".

Lantas sebenarnya apakah nafsu itu?

Nafsu, bagi Buddha, adalah sebuah garis tepi yang memisahkan manusia dan kebahagiaan absolut. Peradaban berkembang, ajaran ditemukan dan agama diciptakan. Kita mengenal agama sebagai sebuah manifesto yang berusaha mengekang nafsu. Keberadaan agama hanya dan untuk mengendalikan nafsu. Ia mungkin bicara tentang yang esa, yang transenden dan yang ghaib.

Tapi kita tahu. Tak ada satu pun entitas, atau regulasi, yang benar-benar mengekang nafsu. Ia hadir secara permanen, dinamis dan selalu adaptif. Pada kemunculan new age pada era perang dingin, spiritualisme, menjadi salah satu katalis yang menjebatani antara nafsu dan realitas diri. Dengan pemahaman bahwa nafsu yang tak mungkin dikekang harus dilepaskan sebagai sebuah kesadaran. Bahwa ia pasti, bahwa ia tak melulu destruktif dan tak melulu bicara tentang kepemilikan.

Pertanyaan kemudian apakah dengan memenuhi segala nafsu tersebut, terlepas pada caranya, entah dengan drugs, seks, gajet, atau kekuasaan. Apakah manusia bahagia? Kebahagiaan adalah sebuah konsep yang absurd. Ia bicara tentang kepuasan, tentang keterpenuhan kebutuhan, ia bicara pula tentang sebuah fiksi bernama ketiadaan nafsu. Konsep ketiadaan nafsu, seperti juga kebahagiaan absolut, adalah sebuah ketidakmungkinan yang pasti.

Ketika band nir vokal Explosions in The Sky menggubah nada-nada dengan meniadakan suara manusia apakah ia serta-merta berusaha melepas peran manusia pada instumen musik? Usaha-usaha manusia untuk menjadi beda, menjadi sempurna, menjadi sesuatu yang benar-benar baru adalah usaha yang sama sia-sianya untuk menjadi bahagia. Bagi saya manusia yang hidup sebagai bidak, sebagai pemilik, sebagai motivator, sebagai ulama, atau sekedar sebagai pemimpi punya derajat yang sama. Pada satu titik mereka akan dipecundangi kematian lantas ketika sekarat bertanya, sudahkah hidupku berarti?

Apa sebenarnya yang kita inginkan? Yang benar-benar kita inginkan. Bukan karena televisi mengatakan bahwa hidup sempurna adalah dengan tubuh yang ramping, mobil yang cepat atau teknologi yang gegas. Juga bukan karena ibumu berkata jurusan kedokteran lebih memakmurkan daripada seni rupa. Juga bukan karena sahabat karibmu berkata bahwa rambut putih yang lurus adalah bukti kecantikan yang paripurna. Apa yang sebenar-benarnya kita inginkan?