Senin, 29 Juli 2013

Kemana Penyair Muda?

Ada yang salah ketika kumpulan puisi yang dipajang dan dicetak ulang adalah milik penyair tua. Generasi kita dipaksa untuk melanjutkan upaya kanonisasi masa lalu yang sudah basi. Saya menyalahkan toko buku. Ia merupakan garda depan pengenalan sastra modern setelah koran dan kritikus hari ini sudah pelan-pelan jadi jelaga usang. Belum lagi gempuran internet yang melahirkan situs sosial media, yang sedihnya, menjadi dangkal oleh kutipan-kutipan klise dan puisi kitsch dari penyair apkiran. Ada apa ini?

Saya kira kita perlu kembali lagi, mau tidak mau, ke masa lalu. Ketika pelajaran sastra, bukan bahasa Indonesia, masih diajarkan. Ketika pertikaian dan polemik kesusastraan dipelihara di koran-koran. Semua orang masih suka membaca dan menulis. Ketika sastra bukan sekedar kata eklektik 140 karakter. Sastra, dalam hal ini puisi, adalah barang mewah yang lahir dari pergulatan, perenungan dan pemikiran yang intens, kalis juga subtil. Ia bukan sekedar terjemahaan kata-kata mutiara, atau saduran yang bisa kita dapat dari mengetik kata romantic poem di google. Puisi adalah proses penciptaan yang lahir dari selibat hati dari materalisme dunia.

Mungkin saya salah. Kepenyairan hanyalah sekedar label yang diberikan orang lain dengan argumen dan pembenarannya sendiri. Kita mengenal HB Jassin, paus sastra Indonesia, yang rajin sekali mencari-cari, mempromosikan dan mengkritik para penyair muda untuk kemudian diperkenalkan. Jassin tidak sembarangan memperkenalkan, tentu dengan catatan dan juga penjabaran yang serius mengapa seorang penyair wajib dikenal. Kritikus dalam hal ini tidak melulu mencari cela dan salah dari orang lain untuk kemudian diutarakan dalam kata-kata pedas. Kritikus juga berperan memperkenalkan orang, komunitas atau sebuah karya untuk bisa diapresasi lebih luas sebagai karya sastra yang agung.

Tapi tentu saja kritikus bisa jadi para praktisi itu sendiri. Saya ingat bagaimana Subagio Sastrowardoyo dalam Sosok Pribadi dalam Sajak atau Goenawan Moehamad dalam buku di sekitar sajak, menulis tentang penyair dan puisi-puisinya. Juga bagaimana Afrizal Malna dalam Sesuatu Indonesia: Personifikasi Pembaca yang Tak Bersih  menjelaskan rona zaman melalui esai-esai tentang puisi yang dibuat oleh para pendahulunya. Namun apakah kita akan melulu hanya dicekoki mereka? Penulis yang hanya mengglorifikasi dan menasbihkan masing-masing kelompoknya sebagai kelompok sastra terbaik. Apakah kita melulu hanya akan menerima sajak dari Chairil, Rendra, Sapardi, Goenawan Moehammad dalam kutipan-kutipan dan apresiasi sastra. Lantas kemana sebenarnya penyair muda?

Toko buku, juga penerbit mainstream hari ini, hanya menerbitkan buku puisi dari penyair yang telah dikenal. Mereka tentu paham buku puisi tidak selaku buku-buku motivasi dan novel yang bisa laku cetak hinga belasan kali. Sementara buku puisi harus tertatih dan mengejan untuk bisa laku dalam satu kali cetakan. Mengapa demikian? Saya kira kita jauh jatuh pada era kebergegasan dimana menikmati puisi, yang tak bisa sebentar, adalah perbuatan yang sia-sia. Joe Kraus dalam artikel bernasnya menyebut zaman ini sebagai culture of distraction. Zaman ketika informasi, pekerjaan dan trend bergerak sangat cepat sehingga yang mampu kita cerna hanya kelebat-kelebat dan fragmen-fragmen saja.

Seorang kawan yang juga editor dan penerbit buku mandiri berpendapat jika para penyair muda telah terpinggirkan. Mereka, para penyair tadi, tinggal di bilik-bilik maya, di buku-buku indie dan forum-forum kecil yang jauh dari hingar bingar. Era digital melahirkan pesohor-pesohor karbitan, penulis-penulis dadakan yang dirayakan dengan seberapa sering ia di re tweet, di favorite dan ditawarkan kontrak menulis kumpulan tweet. Pada satu kadar tertentu hal ini tak ada yang salah. Buku, apapun isinya, punya nasib sendiri yang tak perlu dipusingkan ajalnya. Tapi apakah kita mau melulu mengenal karya sastra hanya dari sekumpulan ocehan sepanjang 140 karakter?

Kita, atau barangkali saya, perlu lagi berpikir apakah sebuah zaman perlu mencecap pentingnya sastra? Terutama puisi yang barangkali sudah kepalang kadaluarsa relevansinya untuk dinikmati hari ini. Ketika berhala bernama teknologi dan kuasa rasa diukur dari materi yang dipakai/dimiliki. Apalah arti puisi? Ketika semua gaya, terma, leksikon, lema dan kata juga diksi telah habis dibabat oleh penyair sebelumnya. Apalah arti eksplorasi puisi? Ketika semua wacana dan perdebatan soal puisi telah habis dibabat. Apalagi arti apresiasi puisi? Lantas apa yang tersisa bagi mereka penyair muda?

Barangkali jawabannya bukan lagi mencari lahan yang baru. Jika internet dan toko buku hanya berisi karya-karya picisan atau fragmen usang penyair tua. Para penyair muda harus bergerak dan bergerilya dari satu forum komunitas ke satu panggung yang lain. Jika dunia maya dan industri hanya memuja mereka yang mapan dan kuat. Maka terbentang luas kesempatan para penyair untuk bereksistensi dan berkarya di alam nyata. Toh kepenyairan pada awalnya adalah upaya untuk tampil dan bicara di lokus-lokus terpencil, intim dan dekat. Tak perlu mengejar dunia jika kalian bisa berkarya dan diapresiasi secara bernas oleh sekawanan yang serius.

Penyair muda atau penyair baru tak perlu bingung tunggang langgang mengejar kebaruan. Toh orisinalitas hanya perkara klaim dan dukungan saja. Gaya berpuisi apapun itu aku lirik, mbeling, mantra atau bahkan haiku merupakan identitas kepenyairan yang tunggal. Ia boleh saja meniru tapi semirip-miripnya sajak, asalkan tidak menjiplak atau menyadur, tentu punya makna dan pemahamannya sendiri. Jika saat ini sebuah gaya hanya sekedar perdebatan dalam ranah proses kreatif, maka buatlah karya syair dan sajak yang lahir dari upaya yang iseng dan main-main. Toh jika harus berkarya seorang penyair tak wajib membebek penyair lampau untuk bisa diterima bukan?

Jika permasalahan hilangnya para penyair muda karena miskinnya apresiasi, maka jawabannya adalah sering-sering berbagi dan manggung dengan karya sendiri. Perang sesungguhnya dari puisi adalah ketika ia dideklamasikan. Puisi seindah apapun jika ia tak pernah dibaca atau dipertanggungjawabkan secara estetis di atas panggung, bagi saya, ia hanya tak lebih sekedar pamflet sabun cuci. Seorang penyair harus berani adu nyali membagikan sebanyak mungkin karyanya, entah dijual ataupun ditautkan secara gratis, kepada banyak orang untuk dinilai. Kritik, seperti yang telah saya ungkapkan di atas, merupakan apresiasi paling baik. Karena untuk melakukan kritik seseorang harus membaca dengan serius dan tuntas.

Beda pasal apabila kalian para penyair muda membuat sajak hanya untuk cumbu rayu dan pamor. Maka kalian hanya berakhir menjadi penyair bergincu yang lemah nyali. Jenis penyair semacam ini hanya haus pujian dan apabila dikritik akan berderai air mata macam ditulah oleh seluruh alam. Tak terbilang sebenarnya penyair-penyair yang besar karena hantaman dan kritik lantas menjadi kanon. Ambilah nama (aduh mau tak mau menulis penyair tua) Linus Suryadi, yang ketika melepas karya Pengakuan Pariyem: Dunia Batin Seorang Wanita Jawa  dianggap premordial dan merendahkan perempuan. Apakah ia jatuh tersungkur? Tidak, malah kita mengenal karyanya sebagai sebuah kanon atas realitas konco wingking yang sering luput ditengok.

Jadi kepada para penyair muda. Kini tentukan saja daras sajak kalian akan dibawa kemana. Ke panggung gemerlap dimana seluruh orang akan antri mengutip dan berbincang karya kalian, dengan resiko tentu saja kalian akan menjadi kanon usang yang miskin kritik. Atau dibicarakan secara tersembunyi namun intens dan akrab, tentu dengan resiko kalian akan dilupakan dan tak dikenal. Tapi apapun pilihannya jangan lupa bahwa tugas penyair adalah bicara soal kedalaman rasa. Bukan sekedar keinginan dikenal atau berdagang.

Sabtu, 27 Juli 2013

Peradaban Iri

Barangkali tuhan berpihak pada kejahatan. Ia memberikan Iblis keabadian agar bisa membuat manusia kalah dan masuk neraka. Sedangkan kita tak diberikan seperangkat kekuatan untuk menjauhi pengaruh-pengaruh keji itu. Kita hanya diberikan janji dan dogma. Jika manusia tabah, tekun, dan tetap beriman kita akan dilindungi dan kelak akan masuk sorga. Toh kita tahu itu tidak sepenuhnya benar. Tak ada yang benar-benar masuk surga dengan langsung dan tanpa sebelumnya bertanggung jawab atas dosa yang ia bikin. “Karena dosa sekejil biji zara pun akan mendapat perhitungan.” Sejak awal manusia memang ditakdirkan untuk kalah dalam permainan surga dan neraka ini.

Tapi barangkali disini kita belajar bahwa menjadi baik bisa jadi tak berguna. Bahwa menjadikan diri kita tulus, jujur dan terbuka bisa jadi sebuah bumerang. Dalam dog eat dog worlds, siapa yang paling tega dan paling kejam, ialah yang paling mungkin hidup. Saya meyakini itu, saya menyaksikan itu dan saya mengalami itu. Pada satu titik pernah percaya bahwa saya punya kawan yang tulus menjadi sahabat dan rela akan melakukan apapun demi saya. Tapi rupanya hidup tidak sebaik ending film-film disney. Seorang kawan menikam saya dari belakang, kawan yang lain memilih diam memahami hal tersebut, sementara kawan yang lain memilih terus menerus mengulang, mengungkit dan membahas itu sebagai bahan lawakan yang tiada habis.

Apakah saya dendam? Belum. Setidaknya ketika itu terjadi hidup saya masih baik-baik saja. Hidup saya masih berjalan apa adanya dan masih percaya bahwa orang yang saya anggap kawan itu akan menyadari bahwa apa yang ia anggap gurauan sebenarnya dalah luka yang sangat perih bagi saya. Saya tak pernah sekalipun dalam hidup berkhianat, mendiamkan kejahatan dan menertawakan kegetiran orang lain. Tapi rupanya saya salah. Hidup, sejauh ini, adalah tentang semua itu. Jika kawanmu dikhianati, bahas terus lukanya, anggap bahwa itu hal sepele yang perlu dikatakan berulang ulang, bahwa apalah masalah itu dibanding krisis nuklir Korea Utara, kapitalisme Amerika Serikat atau harga tiket Gun N Roses.

Semua tak lebih penting daripada bahan lawakan yang kerdil.

Tapi meski ditikam, didiamkan, dan dijadikan objek lawakan saya masih cukup menahan diri. Setidaknya, saya pikir, saya punya tuhan. Saya punya pelindung maha adil, maha kuasa, maha penyayang dan pengasih yang dapat diandalkan dan dijadikan inspirasi hidup. Sekali lagi saya salah. Tuhan rupanya masih berpihak pada mereka yang berbuat keji. Mereka yang mendiamkan, menikam dan menjadikan kesengsaraan kawannya sebagai objek gurauan. Tuhan melimpahkan kemuliaan dan kebesaran bagi mereka yang keji dan jahat.

Oh barangkali saya hanya merajuk, bertingkah seperti anak kecil yang iri melihat mainan kawannya lebih keren dan lebih mahal. Barangkali saya begitu. Barangkali juga Tesla begitu. Ketika ia menciptakan konsep arus listrik murah dan lampu bohlam sebelum Thomas Alfa Edisson. Sejarah boleh berkata bahwa Edisson yang menemukan lampu bohlam dan aliran listrik yang memberi nyawa peradaban modern. Tapi bagi mereka yang mencari tahu dan menyangsikan sejarah memahami jauh sebelum Edisson berpikir tentang mencipta cahaya, Tesla telah membayangkan serta mengupayakan masyarakat yang terbebas dari beban kegelapan dengan memberikan pelita secara gratis.

Saya memilih untuk kecewa pada tuhan, pada masyarakat dan pada orang-orang yang berpihak di sisi kekejian semacam ini. Atau barangkali saya sendiri yang buta dan tak memahami realitas. Atau saya sendiri yang bopeng dalam berperilaku dan sumbing dalam bersikap. Seharusnya di dunia yang keji semacam ini bersikap tulus adalah kesia-siaan. Mungkin Solmed, semacam ustad populer, itu benar. Saya menciptakan musuh saya sendiri. Saya merasa memiliki musuh padahal orang-orang yang saya anggap musuh itu tak ada. Mereka bahkan tak peduli pada keberadaan saya, mereka tak tahu kebencian dan kemarahan saya. Mereka bahkan bahagia tanpa saya. Sedangkan disini saya tersiksa perasaan saya sendiri.

Pada sebuah hikayat dikatakan jika Schopenhauer membuat kelas bersamaan dengan Hegel. Apakah ia iri pada kemasyuran filsuf sejarah itu? Mungkin. Tapi yang jelas ia merasa bahwa Hegel adalah musuh sepadan yang harus ia kalahkan dalam berbagai hal. Entah popularitas, karya dan pemikiran. Kita tentu tahu jika Schopenhauer hanya mengalami delusi. Ia dipenjara oleh obsesinya sendiri sehingga merasa bahwa Hegel selalu bersaing dan berusaha melemahkan dirinya. Padahal Hegel tak pernah (menganggap) keberadaan Schopenhauer sebagai rival atau musuh yang perlu ditanggapi. Kekecewaan ini berulang terjadi sampai keduanya meninggal.

Iri hati adalah penyakit yang membuat manusia terus berkembang. Kita mengenal dua anak Adam yang bertikai melalui penuturan kitab suci. Al Kitab menyebutnya sebagai Abel dan Cain sementara Al Quran menyebutnya sebagai Habil dan Qabil. Sesudah itu, kita semua tahu tragedi yang lahir karena iri dan dengki. Manusia menemukan pemakaman dan dosa pertama manusia di bumi diciptakan. Repetisi dari sikap iri ini terjadi ketika Iblis menolak tunduk pada Adam seperti juga Malaikat yang mempertanyakan keputusan Tuhan mencipta manusia. Iri hati melahirkan peradaban-peradaban yang barangkali melukai orang.

Saya menyerah untuk percaya dunia akan jadi lebih baik dengan sikap tulus. Pengkhianatan dan sikap keji yang berulang terjadi membuat saya percaya: mereka yang kejam adalah mereka yang bertahan. Meski saya berharap bahwa hal ini hanyalah rasa iri saya saja. Bahwa segala hal yang saya curigai itu hanyalah sebuah ilusi. Teman-teman saya baik dan tulus. Kawan-kawan saya setia dan selalu baik dalam bersikap. Semoga demikian. Semoga saya hanya iri saja. 

Rabu, 17 Juli 2013

Perjalanan Yang Lain

Saya tidak pernah suka perjalanan. Lebih dari apapun, saya akan menghindari kegiatan ini. Perjalanan hanya membuat saya lelah, mengantuk, berkeringat dan pada akhirnya lemas. Perjalanan terlalu panas dan buku saya bisa lepek karena terik matahari atau basah karena rintik hujan. Tapi bukan berarti saya sinis dan menganggap bahwa perjalanan itu tidak berarti apapun. Perjalanan seringkali malah semacam terapi, semacam usaha untuk memejalkan nyali, menyabung nasib dan mempertaruhkan sesuatu pada hal yang belum pasti. Perjalanan, bagi beberapa orang, adalah cara untuk menjadi dewasa.

Seperti hari ini, ketika bangun pagi saya harus melakukan perjalanan dari atas kasur ke kamar mandi. Ini masalah pelik. Selain karena menuju ke kamar mandi berarti saya harus berdiri dan memakai celana, ya saya tak suka memakai apapun ketika tidur, berarti saya harus membuka pintu kamar tidur turun ke bawah lantas menuju kamar mandi. Pekerjaan berat membosankan yang melelahkan. Kita harus berdiri, menyibak selimut, membuka jendela kamar, lantas berjalan tertatih menuju kamar mandi yang jauhnya empat meter. Ugh...

Kegiatan pagi memang sangat menyebalkan. Terutama jika kita tidur terlampau larut pada malam sebelumnya. Kita tercerabut dalam dua momen: gelap malam dan terang pagi. Manusia dipaksa untuk beraktifitas di pagi hari sementara malam digunakan untuk tidur. Dalam banyak peradaban, masyarakat Inca di Peru misalnya, percaya jika gelap merepresentasikan kejahatan, misteri dan teror. Sementara cahaya terang merepresentasikan pencerahan, kreasi dan kedamaian. Sehingga mengawali hari merupakan kegiatan paling penting dalam hidup. Tapi saya tak pernah setuju. Pagi hari terlalu dingin dan silau untuk bangkit lantas mengerjakan apapun.

Barangkali kita perlu belajar dari para ibu di Republik Dominika perihal mengawali hari. Pada bulan-bulan awal melahirkan para ibu akan tetap di rumah saat pagi tiba. Mereka sudah sibuk menyembunyikan anaknya di dalam ruangan secara hati-hati sejak subuh berakhir. Mereka percaya jika pada masa-masa itu monster, hantu, kolong wewe dan roh jahat akan mengganggu tidur bayi mereka. Jikalau terpaksa, pada kondisi yang tak terelakan, harus keluar rumah. Para ibu di Republik Dominika akan melindungi seluruh tubuh bayinya dengan tudung gelap, jimat, lotion dan segala penangkal bala. Barangkali bukan cuma saya yang sepaham, matahari terlalu silau untuk ditatap sebangun tidur.

Saya sendiri tak keberatan untuk tinggal berlama lama di atas kasur. Namun keinginan untuk kencing begitu menggebu, begitu binal sampai membuat saya terpaksa bangun untuk pergi. Tapi tentu saja, barangkali, kamar mandi itu hanya 10 cm di depan kita. Kita tak pernah tau. Jika saya berhenti sekarang saya akan menyerah dan tak bisa menikmati puncak. Puncak kenikmatan dimana saya tak lagi menahan kencing. Terbebas dari beban yang mengikat ulu hati, mengganggu waktu tidur saya dan tentunya merusak kenyeyakan tidur yang telah lama saya damba. Untuk itu saya harus menuju kamar mandi meski pada akhirnya terpaksa melewati tumpukan buku yang berserakan di lantai, tumpukan baju kotor dan juga kotak kardus berisi koleksi kaset tape yang belum saya singkirkan. Sementara sinar matahari pagi yang malu-malu mulai muncul di antara celah jendela yang tertutup kelambu. Silau sekali.

Semilir angin yang berhembus membuat kulit saya bergidik dingin. Pelan-pelan saya melangkahkan kaki telanjang menapaki karpet di kamar menuju pintu. Pekik kicau burung di luar memang menyegarkan. Tapi mata saya mengantuk dan tak bisa ditahan. Tapi saya tak bisa menyerah di sini. Tidak setelah saya bersusah payah bangun dan berdiri dari kasur yang melenakan itu. Saya harus tetap berjalan ke depan. Menemukan surga tersembunyi yang barangkali belum dieksplorasi. Kakus di kamar mandi saya barangkali merpukan spot terbaik untuk kencing. Tak banyak orang yang datang ke sana. Barangkali ini adalah kesempatan saya untuk jadi pertama yang datang ke kamar mandi hari ini. Menikmati tempat itu sebelum orang lain. Oh pasti keren sekali.

Sebenarnya ada jalur yang lebih mudah untuk mendapatkan kamar mandi. Cukup melakukan reservasi sebelumnya saya bisa mendapatkan paket murah kamar tidur dan kamar mandi dalam. Saat itu sedang promo karena rumah saya renovasi. Ibu saya menawarkan kamar tidur dengan fasilitas kamar mandi dalam, pendingin ruangan dan pemandangan terbaik. Tapi akomodasi ini harus satu paket dengan pilihan menetap di rumah. Apa menariknya promo semacam ini jika kemudian kebebasan itu hanya semu. Bahwa sesungguhnya pilihan untuk menginap atau memilih jalur perjalanan menuju kamar mandi adalah hakiki milik si pejalan. Untuk itu saya memilih untuk mendapat kamar tidur paling ujung, yang paling sempit, yang paling jauh asal saya tetap bisa menjadi seorang pejalan mandiri dan bukan turis.

Jelas kamar yang saya miliki ini lebih mirip sebuah bilik asmara yang dibangun tergesa gesa. Oh jangan salah, bilik asmara tak melulu tentang tindakan mesum. Pada masa kolonial di Amerika Serikat misalnya, pasangan muda yang ingin menikah kerap melakukan praktik bundling. Dalam kamar yang berukuran tak lebih besar dari kamar mandi, lelaki dan perempuan muda dikumpulkan. Sepasang kekasih diuji kesiapan mental menahan birahi. Dalam hukum bundling mereka diminta tidur berpakaian lengkap di ranjang dengan papan untuk meredam setiap godaan seksual. Kadang-kadang mereka dipisahkan dengan sebuah kain menjadi lembaran di antara mereka.

Pelan pelan saya telah melakukan dua langkah perjalanan. Sungguh prestasi yang membanggakan. Mata berat yang menggantung membuat pandangan saya sedikit buram. Perjalanan masih jauh dan saya tak mau menyerah sampai di sini. Sepanjang perjalanan menuju kamar mandi saya dimanjakan oleh tembok putih dan lemari pakaian di sisi kiri dan kanan. Ugh, andai saya membawa kamera saya pasti momen ini bisa diabadikan. Sebuah pemandangan syahdu nan subtil dimana tembok putih polos dengan sedikit retakan yang eksotis dipadu dengan sarang laba-laba penuh debu. Saya yakin instagram tak pernah menemukan foto seperawan ini tentang tembok kamar tidur.

Akhirnya langkah ketiga terjadi. Pagi masih sepi dan diisi kebisingan burung yang berkicau. Di kejauhan kamar sebelah dimana ibu saya tinggal sudah ramai dengan tartil Quran. Memang ada perbedaan besar antara kamar saya dan ibu. Secara geopolitis kami memiliki kebijakan dan idiologi yang berbeda dalam menentukan arah gerak dan Pedoman Penataan Kamar yang Disempurnakan (PPKD). Untuk memahami kebijakan sebuah negara tak bisa naif hanya memandang hitam putih belaka. Keadaan kamar saya dan kamar ibu saya bisa jadi merupakan perwujudan betapa negara yang direpresentasikan aktor bisa berpengaruh pada kebijakan penataan kamar.

Sebagai contoh pembangunan Baikonur Cosmodrome di Kazahstan pada 1950an misalnya,merupakan produk zaman ketika ekspedisi ruang angkasa mencapai puncak kejayaannya. Saat itu ketika Uni Soviet masih bersitegang dengan Amerika Serikat melakukan serangkaian kampanye masif untuk unjuk gigi terhadap kedigdayaan negaranya. Kondisi ini terus terulang, entah dalam hal persenjataan, catur, teknologi nuklir hingga yang paling kekinian. Pariwisata. Ia tak bisa dibaca sebagai sebuah geliat pariwisata modern secara an sich.  Mengatakan bahwa industri pariwisata adalah hal besar yang bisa dikontrol oleh negara itu naif. Senaif mengatakan bahwa eksploitasi pertambangan melahirkan kemakmuran pada masyarakatnya. Same shit different story.

Kosmopolitanisme dan kejumudan teritorial membuat manusia terus bergerak. Juga keinginan untuk buang air yang menggebu. Satu langkah lagi aku akan mencapai pintu kamar. Pintu kayu yang tentu saja bukan terbuat dari jati. Mengapa demikian? Eksploitasi berlebihan pada Jati menyebabkan kayu ini terlalu diminati dan semakin langka. Padahal ketika masa pemerintahan kolonial Belanda telah memulai pengelolaan hutan jati (Tectona grandis) di Jawa dan Madura pada pertengahan abad ke-19, setelah lebih dari 200 tahun lamanya hutan alam jati dipotong secara besar-besaran. Eksploitasi oleh pemerintah Hindia Belanda dilakukan untuk memasok bahan baku industri-industri kapal kayu milik pengusaha Cina dan Belanda, yang tersebar di sepanjang pantai Utara Jawa mulai dari Tegal, Jepara, Juwana, Rembang, Tuban, Gresik, sampai Pasuruan.

Sampai akhir abad ke-18 kondisi hutan jati di Jawa mengalami degradasi yang sangat serius. Karena itu, ketika pemerintah kolonial Belanda kemudian mengangkat Herman Willem Daendels sebagai Gubernur Jenderal di Hindia Belanda pada tanggal 14 Januari 1808, salah satu tugas yang dibebankan kepadanya adalah merehabilitasi kawasaan hutan melalui kegiatan reforestasi pada lahan-lahan hutan yang mengalami degradasi serius.  Dalam melaksanakan tugas rehabilitasi dan reforestasi yang menjadi tanggung jawabnya Daendels membentuk Dienst van het Boschwezen (Jawatan Kehutanan),  membuat perencanaan reforestasi untuk kawasan hutan yang mengalami degradasi, dan juga mengeluarkan peraturan mengenai kehutanan, yang membatasi pemberian ijin penebangan kayu jati, dan memberi sanksi pidana bagi penebang kayu-kayu jati tanpa seijin Jawatan Kehutanan.

Pintu sudah dibuka dan saya masih harus turun untuk menuju kamar mandi. Entah berapa banyak noda sabun yang saya miliki karena sering keluar masuk toilet orang. Barangkali ratusan? Ribuan? Entah saya tak pernah menghitung jumlahnya. Bagi saya jumlah noda sabun, seperti juga stempel pada passport, tak lebih penting dari tujuan saya masuk kamar mandi. Apakah hendak kencing ataukah cuma memperbaiki gincu di kaca kakus? Beberapa dari kita memang lebih genit dan berisik dari kucing yang hendak kawin. Tapi tak apalah. Barangkali ada orang yang gagal logika sekolah sehingga merasa bahwa pencapaian perjalanan melulu diukur dari jarak dan destinasi, bukan lagi kedewasaan dan kebijaksanaan. Prek konsep kok ngawang.

Satu persatu tangga saya turuni untuk menuju kamar mandi. Memang tidak sekestrim menuruni kawah Rinjani. Tidak perlu juga harus seteknis dan sesaklek menuruni tebing Prekestolen, Dataran Tinggi Kjerag, Forsand, Norwegia. Namun tetap saja saya harus berpegangan tangan di antara bahu tangga. Dalam perjalanan turun nyali saya diadu dengan alam rumah. Keringat dingin mengalir di dahi dan leher saya. Tangan menekan keras tembok untuk menjaga saya tetap seimbang. Sedikit saja angin bertiup saya akan jatuh. Sementara jarak antara tangga dan tanah terasa masih jauh. Mata sedikit berkunang-kunang karena bangun tergesa setelah tidur semalaman. Menuruni tangga untuk menuju kamar mandi tak pernah seberbahaya ini.

Untunglah satu persatu tangga terjal itu saya takluki. Memang benar pepatah yang mengatakan jangan pernah bermain-main dengan alam. Karena dengan sedikit kekuatannya manusia bisa hancur lebur. Untuk itu kita mesti konsisten menjaga alam. Mau di gunung atau di rumah tetaplah bijak untuk tak mengambil apapun kecuali gambar dan jangan meninggalkan apapun kecuali jejak. Sampai di pos bawah menuju kamar mandi saya beristirahat. Tak menyangka perjalanan dari kamar tidur ke kamar mandi membuat saya kelelahan. Kebetulan di meja makan ada segelas teh melati hangat. Saya minum teh itu dengan perlahan dan menikmati sesap hangatnya sendirian. Anugerah tuhan bisa kita nikmati dengan sangat subtil jika dilakukan dengan bersyukur.

Konon menurut sejarah tanaman teh pertama kali masuk ke Indonesia pada 1684. Awalnya dibawa dari Jepang oleh warga negara Jerman bernama Andreas Cleyer. Pemanfaatannya yang pertama bukanlah untuk konsumsi melainkan sebagai tanaman hias di Jakarta. Setelah berhasil melakukan penanamanskala besar di Purwakarta dan di Banyuwangi, Jacobus Isidorus Loudewijk Levian Jacobson, seorang ahli teh, menaruh landasan bagi usaha perkebunan teh di Jawa. Sehingga pada tahun 1828 bersama Gubernur Jendral Belanda Van Den Bosh, Teh menjadi salah satu tanaman yang harus ditanam rakyat melalui politik Tanam Paksa. Tapi tentu ini tak penting, karena minum teh ketika kebelet kencing adalah sebuah kesalahan.

Dengan bergegas saya menuju ke kamar mandi. Beruntung kamar mandi kosong sehingga secara aklamasi saya ambil alih ruangan itu. Melalui tindakan khidmat dan penuh penghayatan saya membuang air seni di dalam kakus. Bentuk kakus di Indonesia biasanya berbentuk leher angsa dengan lubang pembuangan dibagian belakang. Hal ini mau tak mau membuat saya mengingat dongeng Zizek tentang makna kakus. Ia menelaah pemikiran Hegel yang menemukan anomali bentuk kakus dalam tiga peradaban.

Pertama adalah kakus Jerman yang umumnya, lubang tempat pembuangan kotoran terletak di bagian depan, sehingga kotoran itu akan terpampang bagi kita untuk diendus dan diamati apakah ada jejak-jejak penyakit. Sementara dalam kakus Perancis umumnya, lubangnya terletak di belakang dimana kotoran itu harus menghilang secepat mungkin. Terakhir, kakus Anglo-Saxon (Inggris atau Amerika) menghadirkan sejenis sintesis, mediasi antara dua kutub yang bertentangan tadi. Cekungan kakus itu penuh terendam air, sehingga tahinya mengambang: bisa terlihat, tapi bukan untuk diamati.

Hegel termasuk orang pertama yang menafsirkan bahwa segitiga geografis Jerman-Perancis-Inggris ini mengekspresikan tiga sikap eksistensial yang berbeda: Jerman ketelitian permenungan, Perancis ketergesaan revolusioner, sementara Inggris pragmatisme utilitarian moderat. Dalam pengertian sikap politik, segitiga ini bisa dibaca sebagai konservatisme Jerman, radikalisme revolusioner Perancis, dan liberalisme moderat Inggris. Sedangkan dalam pengertian dominasi bidang kehidupan sosial, tersebutlah metafisika dan puisi Jerman lawan politik Perancis dan ekonomi Inggris ( tertuang dalam The Plague of Fantasies (London: Verso, 1997) yang diterjemahkan oleh Ronny Agustinus (2007-2008), khusus untuk jurnal online Paralaks.)

Ah. Usai sudah perjalanan saya menuju kakus. Kini saya harus memilih. Kembali ke haribaan kasur yang melenakan atau berusaha bangkit mandi dan menghadapi hari. Kita melakukan perjalanan lantas ketagihan untuk terus menerus berjalan, mencari dan menaklukan. Mungkin memang benar adanya. Beberapa dari kita terlampau sering melakukan perjalanan sehingga pada akhirnya lupa untuk pulang.