Sabtu, 31 Agustus 2013

Mazel Tov

Beberapa orang mengatakan manusia terlalu dipusingkan oleh remeh temeh. Soal bagaimana mereka terlalu ribut soal perasaan. Tentu saja ada hal yang kita pikir menjadi sumber kebahagiaan malah menjadi rupa lain penderitaan. Juga hal-hal yang kita pikir menjadi sebuah kebenaran, ternyata hanya sebuah bopeng dengan gincu yang tebal. Tapi cinta, seperti juga ukuran Top yang tiap hari mengecil, barangkali adalah kerumitan yang lain.

"Kamu itu seperti isi busway di senin pagi pukul 7. Sumpek dan menyebalkan," kata si perempuan merajuk.

"Kamu seperti Seperti Tuhan dalam kisah Tolstoy, kamu tahu tapi memilih untuk menunggu." kata si lelaki.

Hidup seringkali tidak serumit membaca atau menerjemahkan karya Proust dalam bahasa Swahili. Perempuan murung itu diam. Ia yang memiliki mata lebih muram dari malam memilih tidak lagi bicara. Si lelaki itu tahu mengapa. Karena ia alasan mengapa hidup si perempuan dikebiri harapan-harapan. Barangkali memang benar, nyeri paling hebat bukanlah luka badan, tapi luka yang lahir dari penantian.

"Kamu baca dongeng lagi dong. Aku suka caramu membaca. Terserah dongeng siapa," kata si perempuan. 

Si perempuan hanya pekerja kantoran biasa. Ah frasa pekerja kantoran biasa itu menyebalkan. Seolah-olah ada strata pekerja kantoran luar biasa dan pekerja kantoran tidak biasa. Di kota yang memelihara mayat hidup ini semua pekerja kantoran adalah sama. Mereka adalah zombie yang bangun pagi, berdesakan di kendaraan umum, mengutuk macet, terlambat kerja untuk besok mengulangi hal yang sama. Di kota ini fungsi harapan hanyalah untuk diinjak lantas dilumat tanpa sisa.

"Haruskah kita bekerja hari ini? Aku malas sekali. Aku ingin kamu disini bercanda soal karakter-karakter di Kota Bebek sepanjang hari," kata si perempuan.

"Sejak kapan kamu melankolis?" kata si lelaki.

"Sejak kita bertemu. Sejak kamu bilang kamu sayang aku dan kamu gak peduli aku sayang kau atau tidak," lanjut si perempuan.

Si lelaki hanya diam. Ia masih terus berkutat di depan komputer. Membaca data laporan pencemaran limbah tambang dan korelasinya pada kerusakan hutan di Kalimantan. Dia bukan aktivis lingkungan, hanya seorang konsultan analisis resiko yang disewa perusahaan tambang besar untuk membela diri. "Ini makin ngaco aja metode estraksi batu baranya," si lelaki tak peduli.

Ia malah bingung mencari gelas kopi yang sedari tadi hilang tertutup kertas-kertas laporan dari daerah.

"Hei kamu dengerin aku gak sih?" kata si perempuan merajuk.

Si lelaki tetap tak peduli. Ia hanya butuh si perempuan untuk melepaskah kebosanan dan penat kepala, sementara pekerjaan ini maha penting. Ia hendak pergi ke Vienna untuk konvensi analis geologi dunia. "Hah? Apa?" kata si lelaki itu datar. Ia tak punya ruang untuk hal-hal sentimentil. Barangkali karena kepalanya yang hanya berisi batu dan isi bumi itu tak bisa mencerna puisi. Ia hanya tahu sebab akibat dan keberadaan rumus-rumus fisika.

"Kamu itu anak geologi atau fisika sih sebenarnya?" kata si perempuan.

"Aku anak jadah google. Aku cuma belajar sendiri cari tahu sendiri, asal ngomong dan orang percaya," kata si lelaki menjawab sekenanya. Ia benar. Dengan internet, kemauan belajar dan sedikit usaha untuk banyak membaca. Kau bisa tahu banyak hal. "Tapi paham tentang sesuatu dan tahu tentang sesuatu itu berbeda. Pemahaman didapat setelah proses kontenplasi. Sedangkan pengetahuan bisa didapat lewat bacaan atau pengalaman. Kamu tahu?," lanjut si lelaki.

"Tahu apa?" si perempuan masih di situ. Di tempat yang sama dimana ia duduk sedari tadi. Lingkar gelap maya karena kurang tidur tak membuat ia menjadi kurang menarik. "Hei. Kalau bicara jangan setengah-setengah. Tahu apa?"

"Ilmu tukang." katanya datar tanpa menoleh. "Setiap tukang lahir dari kuli. Mereka hanya bisa meniru, bikin kesalahan, belajar, bikin kesalahan, belajar. Begitu berulang-ulang sampai akhirnya menjadi mahir. Menjadi virtuoso."

Hening. Hanya suara keyboard yang ditekan dan dengung suara laptop yang kepayahan setelah semalaman tak berhenti bekerja. Barangkali dalam jeda itu mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing. Menyoal harga pangan yang makin mahal, petik lagu Eyes Set To Kill, rasa kue cucur atau sekedar racauan tentang masa lalu yang membosankan. "Kita sepertinya harus berpisah," kata si perempuan tiba-tiba.

"Aku tidak pernah memintamu untuk tinggal," kali ini si lelaki cepat menjawab. Ia lantas membalik badan dan tersenyum. "Kita tidak pernah menjadi apa-apa. Kita bukan siapa-siapa dan seharusnya juga tidak perlu ada apa-apa," katanya seraya menggenggam tangan si perempuan.

Si lelaki menunggu perbincangan ini sejak lama. Bukan karena ia membenci perempuan itu. Ia, lebih dari siapapun di belahan tengah bumi, mencintai perempuan itu dengan tulus. Barangkali lebih tulus dari ibu si perempuan itu sendiri. Lebih dari dirinya sendiri. "Ada hal yang baiknya tidak dimulai atau segera diakhiri sebelum ia kemudian berkembang terlalu jauh," kata si lelaki datar. Tanpa emosi.

"Cepet banget ngejawabnya. Gak suka aku di sini?" Si perempuan merajuk. Ia tak tahu si lelaki hampir saja menyerah dan memeluknya. Ia dengan wajah merajuk yang membikin leleh dunia. "Kok gak ada perjuangannya sama sekali sih? Kita mau pisah loh. Mungkin gak akan ketemu lagi," katanya beruntun. Cepat dan tanpa jeda.

"Lho kita memang tidak pernah memulai apapun kan? Hanya sekedar rekan flâneur menyusuri biadabnya kota ini. Tidak pernah lebih, mungkin kurang dari itu." si lelaki mulai melepaskan genggaman tangannya.

Kini si perempuan gugup. Wajahnya yang tadi serupa batu mulai runtuh dan tangis itu hanya perkara menunggu. "Tapi sebentar, kenapa harus perempuan yang menangis dalam perpisahan?" Pikirnya.
Mengapa tidak si lelaki? Aku bukan korban dan ia bukan agresor. Kami setara. Aku tak ingin menangis. Aku tak mau menangis. Aku tak bisa menangis." Pikiran-pikiran si perempuan menuliskan ceritanya sendiri.

"Oh ya udah sih kalo gitu," kata si perempuan. Mengemasi segala benda yang ia bawa. Sebuah buku berjudul Paradise Lost, I pod dan syal rajut yang dikerjakan dengan buruk.

"Syalnya mau dibawa kemana? Katanya buat aku," goda si lelaki.

Senja turun dan ruangan kamar temaram. Cukup untuk membuat mata minus laki-laki itu tak menyadari bahwa si perempuan hangus dibakar malu dan kemarahan. "Hih. Ni ambil," katanya seraya berjalan keluar kamar dan tak menoleh ke belakang.

Si lelaki diam di tempat. Ia tak berniat mengejar apalagi memperbaiki apa yang mungkin bisa mereka selamatkan. "Kau narator tak usah ikut campur. Ini urusan kami para tokoh dalam tulisanmu. Yang tidak jatuh cinta tak boleh ambil bagian," kata si lelaki mengambil alih kerja penulis blog ini.

Sementara di luar si perempuan gamang. Ia masih duduk dalam mobilnya. Mini Cooper dengan warna merah hitam. Ia menunggu. Menunggu si lelaki keluar memanggilnya lantas mereka akan kembali bercengkrama. Bicara soal musik dan buku. Tidak ada premarital sex. Hanya teh madu, kopi pahit dan berderet nama penulis yang tak pernah tercatat dalam buku sastra Indonesia. "Ayolah keluar panggil aku. Ayolah," si perempuan bergumam.

Aku bisa saja membantumu menuliskan cerita ini jadi indah. Misalnya kutuliskan si lelaki keluar mengejarmu lantas memeluk dan mencumbumu.

"Kau bisa?" tanya si perempuan pada penulis kisah ini.

Aku bisa. Aku berkuasa atas apa yang aku tulis. Tapi kau yakin itu maumu? Mendapatkan lelaki karena kontrol orang lain, bukan karena ia menginginkanmu.

"Tapi aku cinta dia. Lebih dari dia mencintai dirinya sendiri," kata si perempuan memohon.

Oh aku tahu sekali. Aku yang menulis kisah ini, kau tahu? Aku bisa saja menuliskan ia tiba-tiba berahi memperkosamu lantas membunuhmu keji, atau kubikin ia mengemis-ngemis meminta cintamu, juga dapat kubuat si lelaki tadi pergi hilang saat ini juga dengan plot ia diculik alien dari galaksi terluar bima sakti.

"Oh tuhan jangan. Aku mohon aku masih butuh dia," kata si perempuan semakin memohon.

Agak aneh. Aku tak suka perempuan lemah yang memohon. Kupikir aku menuliskanmu menjadi sosok yang kuat dan mandiri. Merdeka pada pilihanmu sendiri. Atau aku yang lupa sebenarnya cerita ini kutulis untuk apa?

"Kami perempuan bebas merdeka! Bahkan dari kehendak yang menuliskan kisah kami," kata si perempuan menyalak keras. Ia mengacungkan jarinya ke atas mencari penulis kisah ini.

Jadi kamu mau dia mencitaimu karena aku menuliskannya. Atau kau mau rebut sendiri apa yang seharusnya bisa kau peroleh sendiri.

"Kau tak akan mengganti cerita ini kan? Nanti begitu aku berusaha kau bikin dia mengganti hati." kata si perempuan menawar.

Well, kita tidak pernah tahu itu. Saat aku menuliskan kisah ini aku hanya mau menulis prosa pendek saja. Tiba-tiba kalian meloncat dari naskah dan merebut peranku untuk bercerita. Aku bisa apa? Membuat kisah ini berhenti saat ini dan menggantungkan akhir cerita? Itu menggelikan. Lagi pula kalian itu cuma tokoh cerita. Kenapa begitu ngotot ingin menentukan nasib sendiri?

"Karena kami ini tokoh cerita. Kami yang menjalani, bukan kau. Kau hanya menuliskan apa yang kau pikir bagus. Tapi sejatinya kami yang hidup di sini. Dibaca orang. Sudah berapa pasangan yang kau bikin terpisah di cerita-cerita sebelumnya?" kata si perempuan menantang penulis kisah ini.

Err banyak sekali. Aku suka ending yang tragis.

"Kali ini tidak! Aku akan kembali. Aku akan memintanya mencintaiku. Aku akan memperjuangkan kebahagianku sendiri. Kau penulis tidak berhak menentukan kisahku seenaknya sendiri," si perempuan lantas ke luar dari mobil. Berlari dengan gegas, dengan wajah penuh kemenangan, dengan rupa kebahagiaan yang hanya bisa disanding dengan kanak-kanak berebut layangan putus.

Kisah ini seharusnya berakhir disini. Sayang dua tokoh cerita itu menolak takdirnya ditentukan penulis. Oh harusnya aku menulis kisah yang biasanya saja.

Sabtu, 24 Agustus 2013

Kepada Siapapun Kamu

Halo orang asing.

Tahukah kamu mengapa aku menulis ini? Tentu saja kau tak tahu. Akupun tak tahu alasannya. Barangkali tidak semua hal di dunia ini bisa dijelaskan atau perlu dijelaskan. Terlalu banyak hal di dunia ini yang membutuhkan penjelasan sehingga kita lupa makna dari menjadi tidak tahu. Terlalu banyak omong kosong dan kata-kata yang lahir dari perdebatan perihal makna. Tapi terlalu sedikit yang benar-benar memahami bahwa hal-hal yang coba dijelaskan itu seringkali tak lebih berguna daripada diam dan menerima.

Kita yang tak pernah berjumpa juga tidak pernah berkenalan. Lantas mengaku rindu. Tapi apakah itu perlu? Kita adalah sepasang manusia ganjil yang belum pernah bertemu. Lantas jatuh hati. Aku jatuh hati. Entah dirimu. Entah dengan apa adanya dirimu, apa yang kau rasakan? Apakah kau seperti aku? Merasakan kesepian dan rindu yang menggebu? Merasa sendiri dengan nyeri melilit di ulu hati? Atau kau sibuk mengutuk? Sehingga lupa cara mengantuk? Aku tidak tahu, karena memang kita belum bertemu.

Mungkin kalimatku terlalu rumit untuk bisa dipahami. Tapi apa yang lebih rumit dari jatuh cinta pada seseorang yang tidak pernah ditemui?

Tapi aku tahu kau ada disana. Di satu titik, di maha luasnya bumi ini, kau sedang menunggu. Barangkali kau berdiri dengan cemas di satu halte bus, atau duduk serius dalam kubikel kantor, mungkin kau sedang tersenyum bahagia di antara rimbun pohon oak tua berumur ratusan tahun, atau kau sedang diam berkelahi dengan empat kepribadian di dalam kepalamu. Aku tahu kau ada. Kau disitu sendirian sedang menunggu agar segala omong kosong sunyi soal hidup brengsek yang kau rasakan segera berakhir.

Aku juga begitu. Menunggu agar pada sebuah waktu yang tepat kita akhirnya akan berjumpa. Bertemu dan kemudian berbincang tentang banyak hal. Soal malam yang panjang, buih sabun, kapitalisme coca-cola dan remeh temeh tentang betapa lengkung alismu yang tebal itu sangat mempesona. Ya, kita akan berbicara tentang banyak hal. Tapi tidak saat ini, tidak mungkin saat ini. Kita belum bertemu dan kau belum ditemukan. Mungkin nanti ketika kita sudah usai berdamai dengan diri kita masing-masing, kita akan berjumpa selayaknya kawan lama.

Setiap dari kita akan membawa salibnya masing-masing. Cerita tentang gigir yang penuh luka. Penampang kengerian bernama masa lalu yang membuat kita selalu menemukan sudut komikal dari takdir paling keji. Itulah kita. Sepasang manusia yang merasakan cinta tapi tak pernah bertemu dan betegur sapa. Tapi apakah itu mungkin? Apakah mungkin dari milyaran manusia yang ada kita berjumpa dan menjadi satu. Menjadi hal yang kita sendiri tidak yakini bisa terjadi. Mengakhiri kesepian yang terjadi ketika malam datang dan sunyi menyerang.

Kesepian itu menyesakan. Ia datang menyeka rupa, lalu memberikan harapan bahwa di luar sana, ada seseorang yang mencintaimu, merindukanmu, mampu mengakhiri rasa sendirimu. Tapi ia juga adalah kesunyian itu sendiri, diam yang kering, kaku dan pelan-pelan merambat bahwa sebenarnya kita sedang tidak bersama siapapun. Tapi aku tahu kau ada. Di satu sudut sunyi, barangkali di belahan dunia yang lain, kamu sama sepertiku. Sendirian meringkuk dan merindukan kebersamaan dengan yang lain.

Tapi siapapun dirimu. Siapapun kamu. Orang asing yang belum pernah aku jumpai atau aku kenali wajahnya. Sadarilah ini. Aku mencintaimu. Mencintai dengan seluruh perasaan yang bisa aku rasakan, mencintai dengan seluruh emosi yang aku miliki dan mencintai dengan seluruh kesanggupan yang aku bisa. Kamu mungkin tak ada. Kamu mungkin belum ada. Kamu mungkin tak pernah ada. Tapi aku tahu aku mencintaimu. Mencintai dengan hati hati dan tidak masuk akal.

Jumat, 23 Agustus 2013

Menyimak Yang Biasa



Ada yang luput dari perhatian kita saat seluruh jagat penikmat musik Indonesia mengunduh Happy Coda milik Frau. Bahwa pada hari itu jauh nun di Surabaya Taman Nada, sebuah band folk minimalis, tengah melepas EP yang berisikan tiga lagu. Barangkali memang riuh yang terlanjur mapan itu lebih legit daripada mencicip satu yang asing. Tapi biarlah demikian, de gustibus non est disputandum, memperpanjang perdebatan hanya akan membuat kita jadi bodoh.

Lantas apa yang membuat band ini patut diperhitungkan? Bagi saya tidak ada. Ia terlalu biasa untuk dapat disejajarkan dengan band sejenis semacam Payung Teduh, Dialog Dini Hari, Banda Neira atau senior mereka di kota yang sama Silam Pukau. Tapi menyoal kesederhanaan yang terlampau biasa itu bisa sangat beracun. Membuat sesuatu yang mudah dipahami dan dinikmati bukan perkara mudah. Pada beberapa aspek, selain kualitas sound yang sedikit kasar, Taman Nada memenuhi elemen itu. Yaitu menjadi biasa dan diterima.

Pada Self-titled EP ini Taman Nada tidak ingin menjadi pretensius dengan membuat musik berat sesuai teori musik klasik. Mereka hanya ingin bermain-main seusai jam olah raga, bergurau di gardu satpam, bercengkrama di hadapan api unggun atau dalam bahasa Ivan Makshara dalam pengantar album ini, “sekedar ode untuk menyambut pagi”. Bagi saya sendiri Taman Nada adalah oase di tengah hiruk pikuk musik yang terlampau serius, tendensius dan obscure. Lagi pula siapa sih yang betah melulu menjadi sendiri dan berbeda?

Tapi apakah itu membuat Taman Nada istimewa? Sekali lagi tidak ada yang istimewa dari Taman Nada. Suara sengau-nyaris-parau sang vokalis Atthur Razaki hampir tenggelam pada beberapa bait lagu, petik gitar Salman Muhiddin dan Zaki Rifian pada lagu kedua seolah berusaha tidak tenggelam dari suara pianika Nandiwardhana. Lantas lirik yang berusaha menyesuaikan rima sehingga melahirkan kosa kata ambigu semacam ‘histori’. Untungnya masih ada suport Dwiki Putra pada Bass dan Aryok Pratyaksha pada drum. Lalu jika band ini lebih banyak mudharatnya, mengapa ia patut didengar? Karena, menurut saya, Taman Nada hanya ingin didengar. Sesederhana itu.

Nomenklatur musik Taman Nada adalah kesederhanaan. Ia sudah bisa dikenali sejak lagu pertama dalam EP ini yang berjudul Fase. Tiras detik pertama lagu ini dimulai dengan suara siulan yang nyaris menyebalkan. Namun ia tak lama, beberapa saat kemudian petik merdu gitar pelan merambat. Ia menghadirkan sebuah nostalgia tentang tanah yang lapang, montase dari fragmen ingatan tentang masa lalu. Ini kesederhanaan yang saya cari, petik gitar malas, lirik naif yang kelelahan-namun optimis. “Gugurlah sang waktu, runtuhkan dinding-dinding belenggu. Dimensi yang baru, jalan hidupku.

Sementara lagu kedua, Marilah Mari, membuat saya ingin sekali menjuluki Taman Nada sebagai sebuah band karang taruna yang lahir sebelum malam 17 Agustusan. Ia rancak, riang, riuh, ramai, rindang dan ramah. Lagu ini berlirik sederhana, mudah diingat dan dinyanyikan, serta membius untuk turut berdendang. “Regangkan lelah kitarilah aku / Rentangkan tangan, rengkuhlah angkasa /Sempatkan puja, sisipkan doa /Langitkan harap lautkanlah cinta”. Ia seperti sebuah lagu cinta yang malu-malu, yang membuat pendengarnya diam-diam tersenyum dan ingin memeluk siapapun yang ada. Ia secara magis membangun mood untuk menjadi hangat dan bersemangat.

Jalan Pulang adalah sebuah kejujuran yang otentik tentang bagaimana sebuah perjalanan kembali ke rumah harus dilakukan. Ia tak bicara tentang pencarian jati diri, tentang pengalaman jauh, tentang penaklukan diri. Bagi Taman Nada, Pulang adalah saat dimana Sepasang mata mengandung rona rumah. Pulang hanyalah perihal mengistirahatkan sepasang mata yang kelelahan dan memanjakan kantuk yang teramat sangat.

Semua lirik dalam album ini dikarang oleh Atthur Razaki. Entah mengapa saya mengalami kebingungan, dalam arti positif, bagaimana di kota seperti Surabaya yang bising, ia bisa mencipta lirik yang subtil. Bagaimana Atthur menerjemahkan narasi susurkota (Suburban) menjadi sebuah keriangan yang meredakan kegelisahan. Hal yang sama juga saya temukan pada lirik-lirik Silampukau dan Greats. Rata-rata mereka bicara tentang optimisme kecil yang ringan. Mereka melampaui apa yang disebut Harold Bloom sebagai Anxiety of Influence.

Tapi mengutip Bloom tidak relevan pada persepsi serta tafsir kita pada musik. Bagi saya Taman Nada melahirkan kerinduan pastoral ketika hidup di metropolis. Bagi anda ia mungkin bisa jadi lain. Ketika saya berpendapat Taman Nada tidak jatuh pada kategori sentimentil namun tidak pula terperosok pada kriteria angkuh. Anda bisa saja mengatakan sebaliknya. Tapi review ini terlampau panjang untuk menjelaskan tiga lagu pendek yang habis didengar dalam rentang tempuh satu stasiun Commuter Line.

Seperti yang saya katakan sebelumnya. Taman Nada hanya sekedar band karang taruna yang musiknya adalah sebuah jarak akan masa silam. Dimana kita bisa bebas bermain sebagai anak kompleks ataupun bocah pematang sawah. Taman Nada adalah suara biasa saja yang rindu kita dengarkan. 

Rabu, 21 Agustus 2013

Bukowski

Ada sebuah puisi getir tentang hidup yang barangkali memang seperti nyala api. Ia lahir membakar, membara, garang, panas dan terik lantas tiba-tiba meredup sebelum akhirnya mati. Puisi itu berjudul "the old anarchist" pengarangnya adalah Heinrich Karl Bukowski, atau yang biasa kita kenal sebagai Charles Bukowski. Puisi itu bicara tentang seseorang yang diberi kepercayaan untuk merawat rumah, ketika tetangganya hendak melancong. Si orang tadi dengan telaten membersihkan rumah tetangganya, mengambil surat lantas menatanya dengan rapi, juga memberi makan kucingnya. Lantas dalam perjalanan pulang ia bertanya:

am I the same man who planned to
blow up the city of Los Angeles
15 years ago?

in the sunset thinking,
there’s still time,
there’s still time for a
comeback.

I have never belonged with
these others.

Bukowski memang piawai membuat aku lirik dengan tema-tema kontemporer. Ia bercerita dengan tema-tema keseharian yang sering ditemui di kota dimana ia tinggal, Los Angeles.  Dalam  "the old anarchist" ada sebuah semangat yang sekarat, sebuah mimpi yang mungkin akhirnya remuk redam. Orang yang kemudian menemukan kembali kepingan hidup di belantara yang ia sendiri tak pamah ada dimana. Penyair kelahiran Jerman, namun berkarya di Amerika ini, barangkali bercerita tentang dirinya sendiri. Tentang bagaimana ia harus menyerah pada kerasnya hidup dan berkompromi.

Berkat internet saya bisa menemukan dan membaca karya tengil dan satir dari Bukowski. Salah satunya adalah Sifting Through the Madness for the Word, the Line, the Way. Sejak membaca Love is The Dog From Hell, saya tak punya lagi buku puisi tentang Bukowski. Ia ibarat seorang penyair mabuk yang berteriak di tengah pasar, mengumpat lantas membaca syair ngawur tentang betapa rindunya seorang kekasih yang cemburu, atau juga bicara perihal sepasang selingkuhan yang ingin berhenti namun tak bisa karena legit birahi terlalu sayang untuk ditinggalkan. Ia bicara tentang keseharian dengan estetika yang mudah dicerna.

Tapi ada satu sajak dalam Sifting Through the Madness for the Word, the Line, the Way yang membuat saya ketagihan. Tentang bagaimana seorang penulis harus menulis. Ia bicara dengan kata yang keji, urakan, malas, nyinyir dan tidak biasa. Ia bicara tentang bagaimana sebuah tulisan harus lahir, tentang bagaimana sebuah karya harus dibuat, tentang bagaimana penulis bersikap. Ini bisa jadi sebuah masukan yang baik, juga cambuk, bahwa menulis barangkali hanya sekedar hobi brengsek yang membuang waktu.

so you want to be a writer?

if it doesn’t come bursting out of you
in spite of everything,
don’t do it.

unless it comes unasked out of your
heart and your mind and your mouth
and your gut,
don’t do it.

if you have to sit for hours
staring at your computer screen
or hunched over your
typewriter
searching for words,

don’t do it.
if you’re doing it for money or
fame,

don’t do it.
if you’re doing it because you want
women in your bed,
don’t do it.

if you have to sit there and
rewrite it again and again,
don’t do it.

if it’s hard work just thinking about doing it,
don’t do it.

if you’re trying to write like somebody
else,
forget about it.

if you have to wait for it to roar out of you,
then wait patiently.
if it never does roar out of you,
do something else.

if you first have to read it to your wife
or your girlfriend or your boyfriend
or your parents or to anybody at all,
you’re not ready.

don’t be like so many writers,
don’t be like so many thousands of
people who call themselves writers,

don’t be dull and boring and
pretentious, don’t be consumed with selflove.
the libraries of the world have
yawned themselves to
sleep
over your kind.
don’t add to that.
don’t do it.

unless it comes out of
your soul like a rocket,
unless being still would
drive you to madness or
suicide or murder,
don’t do it.

unless the sun inside you is
burning your gut,
don’t do it.

when it is truly time,
and if you have been chosen,
it will do it by
itself and it will keep on doing it
until you die or it dies in
you.

there is no other way.
and there never was.


Senin, 19 Agustus 2013

Islam yang memuliakan Perempuan.

Sebenarnya ada yang lebih baik dilakukan daripada sekedar merayakan kebodohan. Salah satunya adalah tidak membiarkan kedunguan seorang misoginis yang merendahkan perempuan. Tapi tentu saja kita terbiasa untuk kemudian mengamati dan cenderung comel dengan negativitas. Alih-alih menjawab dengan argumentasi dan kritik yang berdasar, banyak yang lebih suka mengejek. Itu adalah satu hal yang membuat kita lemah, dalam konteks ini Islam, seringkali menjadi korban olok-olok sebagai agama yang barbar.

Akhir-akhir ini ramai perbincangan tentang orang yang melabeli dirinya ustadz namun merendahkan keberadaan perempuan. Katanya perempuan itu lebih baik begini, harus begitu dan tidak boleh begini. Perempuan yang ideal adalah yang tunduk patuh pada suami lantas diam di rumah dan merawat anak. Perempuan yang benar dan suci harus menggunakan penutup karena yang tidak akan masuk neraka. Saya tidak keberatan ia berkata demikian. Dalam islam perbedaan tafsir dan mazhab sudah biasa, namun merendahkan perempuan, apalagi ibu dengan legitimasi agama, bagi saya adalah kebiadaban.

Perempuan dalam islam mempunyai andil dan penghormatan yang besar. Tentu saja dalam kazanah keilmuan orientalis, agama ini cenderung patriarkhis dan merendahkan posisi perempuan hingga ke ranah yang paling personal. Poligami, pembatasan akses aktualisasi diri dan ayat juga hadits misoginis sering menjadi dalil bahwa islam cenderung tidak ramah pada perempuan. Apakah itu salah? Tidak, hal pertama yang perlu diakui adalah mengakui bahwa pada beberapa derajat, tanpa elaborasi lebih jauh, islam terkesan demikian.

Sejarah juga aparatus agama dalam islam kerap membuat mitos ini hampir menjadi sebuah kepastian yang nyata. Tak terbilang perempuan yang kemudian menjadi korban domestifikasi dan berakhir menjadi sekedar konco wingking pemuas birahi belaka. Padahal dalam sahih hadits juga literatur-literatur islam banyak bukti dan tafsir yang mengkritik praktik semacam ini. Salah satu yang masyur adalah ayat dari QS. Al-Ahzaab : 33 yang mengatakan: “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu”.

Apakah ayat tersebut salah? Tentu saja tidak, tetapi seperti yang kita ketahui. Menafsirkan sebuah ayat juga hadits memerlukan ilmu dan pemahaman yang luas tentang konteks peristiwa yang melingkupinya. Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul-Baariy, berkata: "Firman Allah tentang hendaknya kamu (perempuan) tetap di rumahmu, sebenarnya ditujukan kepada istri-istri Nabi." Pendapat ini didasari oleh 3 ayat sebelumnya yang menekankan kepada peran dan tugas dari para istri-istri nabi, sehingga ia seharusnya ditempatkan kepada masa dimana ia diturunkan.

Yusuf Qardhawi pada pengantarnya untuk kitab Tahrirul-Ma'rah fi 'Ashrir-Risalah karangan Abdul Halim Abu Syuqqah, ada sabda Nabi : 'Jihad yang paling baik dan paling indah bagi kalian adalah menunaikan haji' namun bunda Aisyah harus menahan diri karena terhalang ayat tadi. Lantas Menurut ulama yang juga salah satu tokoh IM Mesir ini, Umar selaku kalifah saat itu bersikap tawaqquf (berdiam diri) sehingga menggantungkan apakah boleh istri-istri nabi melaksanakan ibadah haji. Namun, setelah Aisyah memberikan argumentasi tentang pentingnya beribadah, seperti juga pergi ke masjied, akhirnya Umar mengizinkan mereka (istri-istri Nabi saw) melaksanakan haji pada akhir masa pemerintahannya.

Jadi ketika ada seseorang yang menggunakan ayat ini sebagai dalih untuk merumahkan perempuan, maka isi kepala dan ijasahnya sebagai mubaligh perlu diperiksa. Selain menyesatkan, ia juga tak memberikan pandangan yang jelas perihal bagaimana sebuah ayat mesti ditempatkan. Orang-orang berpengetahuan seadanya memang kerap kali memotong sebuah nukilan ayat tanpa ada penjelasan perihal azbabun nuzul atas turunnya ayat tersebut. Terlebih lagi banyak umat muslim yang terlalu malas dan dogmatis untuk mencari tahu dan membandingkan pengetahuan yang mereka terima.

Lantas adapula mubaligh celaka yang mengatakan bahwa sebagai seorang perempuan, jati diri mereka adalah sebagai ibu. Sebagai ibu perempuan selayaknya hanya tinggal di rumah dan tidak bekerja. Karena mengurus suami dan anak adalah keutamaan seorang perempuan. Hal yang demikian selain dungu juga terdapat sesat logika yang parah. Pertama pernyataan di atas mengesankan bahwa perempuan harus di rumah dan menjadi subordinan terhadap lelaki. Kedua mengesankan bahwa perempuan yang baik tidak bekerja dan hanya diam menanti nafkah suami.

Mari kita perjelas bahwa dalam surat yang saya sebutkan sebelumnya Allah telah jelas menurunkan, bahwa mereka (para istri nabi) yang diberikan kewajiban untuk tinggal di rumah dan menjaga diri. Hal ini dilakukan untuk menjaga kemurnian ahlul baiyt. Namun yang demikian itu tidak membuat peran perempuan menjadi kerdil, karena baik lelaki atau perempuan mempunyai tanggung jawab dan hak yang sama. Seperti yang tertuang dalam banyak surat dimana beberapa di antaranya terdapat dalam an-Nahl ayat 97, an-Nuur ayat 2 dan al-Ma'idah ayat 38.

Dalam salah satu hadits dikatakan bahwa Aisyah pernah ditanya: "Apa yang dilakukan Nabi saw. di rumahnya?" Aisyah menjawab: "Beliau ikut membantu melaksanakan pekerjaan keluarganya." Apabila Nabi yang mulia saja hendak berbagi tanggung jawab dan egaliter. Apa hak umatnya untuk membuat klaim semberono dan ngaco? Apakah kita kan menelan mentah klaim misoginis yang merendahkan perempuan hanya karena seseorang itu menulis buku dan bisa mengutip satu dua ayat tanpa penjelasan konteks sejarah yang jelas?

Lalu pada riwayat yang lain Abu Burdah mengaku bahwa pernah mendengar dari ayahnya, bahwa Rasulullah pernah bersabda: "Barangsiapa yang mempunyai budak perempuan, lalu dia mengajarnya dengan baik dan mendidiknya dengan baik kemudian memerdekakannya dan mengawininya, maka baginya dua ganjaran ." Di sini kita bisa meneladani bahwa tak hanya menganjurkan memerdekakan, Nabi Muhammad juga meminta agar perempuan mendapatkan pendidikan. Apabila Nabi menafikan hak dan keberadaan perempuan, maka hadits semacam ini tidak akan pernah ada.

Apakah sampai disitu? Tidak. Dalam hadits lain terungkap pula bahwa Ummu Athiyyah ikut berperang sebanyak tujuh kali bersama Rasulullah dan enam kali diantaranya ditemani suaminya. Meski ia bertugas membuat makanan untuk mereka, mengobati yang terluka, dan merawat yang sakit. Hal ini membuktikan bahwa peran dan tanggung jawab perempuan tidak melulu hanya beredar di dapur, ranjang dan merawat anak. Nabi membiarkan perempuan ikut membantu di medan perang!

Apakah perempuan harus diam dan menanti nafkah dari suami? Tentu saja tidak dalam satu riwayat dikatakan bahwa Aisyah pernah bertanya kepada Nabi "Siapa di antara kami yang paling cepat menyusulmu?" Beliau menjawab "Orang yang paling panjang tangannya di antara kalian". Panjang tangan di sini bukanlah maling seperti yang kita ketahui. Namun orang yang paling banyak bersedekah. Zainab binti Jahsy adalah orang yang gemar bersedekah dengan uang yang ia terima dari bekerja.

Ah yang benar? Istri nabi bekerja? Bukannya perempuan dilarang bekerja? Tapi demikian adanya. Zainab binti Jahsy adalah seorang penyamak kulit dan ahli tenun yang menghidupi banyak anak yatim dan bersedekah. Lantas apabila Nabi Muhammad yang mulia saja mengijinkan istrinya untuk bekerja, menyamak kulit bukan pekerjaan mudah, dan bersedekah. Apa hak seseorang untuk merekomendasikan perempuan tinggal dan menjadi hamba di rumahnya sendiri? Sungguh celaka dan lemah akal orang yang demikian itu.

Maka dari contoh yang sedikit ini hendaknya menjadi sebuah pembelajaran bahwa Islam tidak merendahkan perempuan. Islam juga tidak semudah mengatakan sudah berpisah saja hanya karena kalian berbeda mazhab perihal sosok ideal suami atau istri. Islam juga bukan sekedar kultwit tapi juga perlu pemahaman yang jelas tentang konteks sejarah, acuan literasi dan perdebatan yang menyertainya. Benar islam tidak rumit tapi, bagi saya, menyederhanakan tafsir hanya untuk dijual murah merupakan kehinaan yang keterlaluan. 

Semoga tulisan singkat tendensius ini bisa memberikan wacana yang lebih luas. Kebenaran milik Allah dan segala yang salah milik saya yang dhaif ini.

Selasa, 13 Agustus 2013

Pada Akhirnya Metallica

Saya bukan fans Metallica, Sad But True. Malah pernah dalam satu waktu saya membenci segala macam musik metal, termasuk band ini tentunya, karena terlampau bising dan cemar suara. Tapi itu dulu, ketika saya SMP, saat masih getol mendengarkan Bragi dan Lingua. Musik bagi saya selayaknya lembut. Bicara tentang estetika dan eklektik, bukan grang greng grong suara yang riuh. Namun kadang hidup itu brengsek, persimpangan hidup saya berubah ketika almarhum kakak minggat dari rumah dan kabur karena tak diijinkan kuliah.

Saya masuk ke kamar kakak yang angker dan menemukan ratusan kaset band Metal. Salah satu yang diingat adalah Morbid Angel, dengan tampilan wajah menyeramkan seperti bola monster yang menyerap ratusan jiwa. Namun bukan itu yang membuat saya takjub, melainkan sebuah kaset dengan warna hitam dengan hologram ular di pojoknya. Kesederhanaan itu menakutkan, ia memberikan impresi yang begitu subtil pada kepala ini. "Ini pasti kaset metal yang memuja setan!" saya lantas berlalu dan ogah mencari tahu lagi.

Ketika almarhum kakak meninggal, saya menerima warisan berupa ratusan kaset tape miliknya. Tak tahu mau diapakan, beberapa akhirnya dihibahkan ke seorang kawan yang memang kolektor, beberapa saya simpan sendiri karena memang menjadi kesukaan kakak. Seperti, Bon Jovi, Gun n Roses, Pantera dan Morbid Angel. Tapi hanya Metallica yang tak pernah diputar dan didengarkan, barangkali terlalu dekat dengan kakak, sehingga saya takut akan semakin larut dalam duka.

Tapi sekali lagi prasangka tanpa bukti itu salah.

Menahun kemudian saya menyesali keputusan untuk tidak mendengarkan musik metal itu. Barangkali hidup tidak akan semelankoli ini, jika cukup mengkonsumsi oktan Metal sesuai kadar yang dianjurkan. Musik metal tidak mengharamkan melankolia, tapi pada batas tertentu, seperti yang dilakukan Metallica ia membangkitkan semangat. Mustahil mendengarkan Nothing Else Matter dengan mendekap teddy bear dan menatap nanar foto mantan kekasih. Ketika saya jatuh terpuruk, lagu ini membikin saya tegak bersalaman pacar baru mantan dengan kepala dingin.

Mustahil melepaskan fase hidup manusia dengan musik. Pada kadar tertentu ia menjadi cerita sendiri. Semua metalhead pasti pernah mengalami fase "memekakkan-telinga-dengan-volume-hampir-tuli-hanya-untuk-membuat-sejenak-lupa-pada-tengiknya-hidup". Saya juga begitu. Tapi Metallica punya mantra sendiri yang membuatnya "Holier than thou", mereka melahirkan montase dari riff yang berat, tidak gegas, menyayat dalam dan yang jelas narasi lirik biblical arkaik. Sederhananya? Musik kepalang bajingan yang baik didengar ketika sedang drama!

Saya harus mengakui menggemari metal baru-baru saja. Itupun karena warisan. Mengingat momen ketika metalhead dan orang tua berjumpa barangkali menarik. Generasi baru dan generasi mapan yang bersengketa. Saya ingat, samar-samar, saat ketika kakak memutuskan gondrong, menggunakan celana belel, memajang poster 'cantik' AXL Rose di kamar, lantas menggeber sampai pekak sound sistem pengajian rumah dengan lagu Seek and Destroy. Ibu saya kala itu, ijinkan saya memparafrasekan, berkata "Musik laknat setan kok diputer wayahe maghrib," lantas mencabut secara arogan kabel yang menghidupkan segala kegilaan tadi. But it was fun, so fucking intense.

Saya tahu itu karena itu adalah momen dimana almarhum kakak saya tersenyum dengan lebar.

Semua metalhead, saya kira, megalami itu. Saat dimana kita memberontak malu-malu kepada orang tua, menggenapkan volume tape hingga batas, lantas bernyanyi berteriak sampai urat leher mengedan, menyanyanyikan kebebasan. Sembunyi-sembunyi mencari arti kata-kata dalam"The Struggle Within" di kamus, untuk menemukan bahwa larik "Home is not a home it becomes a hell, Turning it into your prison cell" adalah slogan atas represi gejolak masa muda yang terikat.

Saya menyesal terlembat mengenal Metallica. Tapi jika kemudian hari ini, dengan segala informasi yang meluber juga akses pengetahuan yang luas, enggan dan masih menghakimi Metallica adalah sesat. Dude, that's Unforgiven.

Jumat, 09 Agustus 2013

Idul Fitri

Selamat hari raya Idul Fitri, saya minta maaf atas segala kata-kata saya yang memang pretensius dan snobs. Mungkin yang perlu kita ingat sebulan terakhir, terlepas dari sahih atau tidaknya ramadhan sebagai proses laundry dosa, kita belajar untuk menyadari bahwa kita bisa salah dan tak sempurna. Sampai kemudian datang 1 Syawal dan kita memakai wajah lain untuk beranjang sana bersama sanak famili yang setahun lalu entah kita lupakan keberadaannya

Kemarin saat lebaran, saya memutuskan untuk menghapus empat SMS terakhir almarhum kakak yang disimpan sejak dua tahun terakhir. Barangkali ini waktu yang tepat untuk melanjutkan hidup dan sejenak menempatkan masa lalu di belakang. Saya paham yang direbut kematian bukan hanya hidup tapi juga ingatan. Pelan-pelan waktu membuat kita melupakan hal-hal penting yang kita simpan dengan hati-hati. Tapi waktu juga bisa membuat kita sadar, bahwa hidup di masa lalu bukan hal yang baik. Ia hanya membuat kita jengah dan linglung dengan kebergegasan masa depan.

Lebaran ini juga membuat saya sadar bahwa saya sudah waktunya saya bertanggung jawab pada hidup. Meminjam istilah seseorang asing di Internet, bukan lagi waktunya mengutip buku tapi melakukan sesuatu yang nyata. Bukan lagi waktunya menunjuk muka dan menyalahkan orang lain, tapi mengambil alih kemudi dan melakukan perubahan nyata. Meski saya juga bingung perubahan nyata itu apa? Melakukan revolusi? Melakukan intervensi sosial? Melakukan gerakan di sosial maya? Kadang kata-kata besar memang lahir dari mulut orang yang kerjanya hanya bisa duduk dan pragmatis memanfaatkan reputasi orang lain.

Tapi itu tak penting. Bagi saya bagaimana bisa membuat hidup ibu dan keluarga di rumah lebih baik itu jadi prioritas. Saya sempat berpikir untuk mendonasikan semua buku saya kepada orang lain. Toh di rumah juga tak ada yang membaca. Sebagian besar koleksi adalah buku sastra, yang kata orang lagi, hanya membuat kita berpikir dan ngawang-ngawang. Meski suka sebal dan protes 'apa salahnya ngawang-ngawang?' toh saya memaklumi. Barangkali orang yang benci hal yang ngawang-ngawang itu adalah orang apatis yang mimpinya dilumat harga susu anak dan realitas beban kerja dari atasan. Sehingga ketika melihat orang lain berkata jujur ia merasa punya kewajiban untuk berkata keji.

Lebaran artinya bertemu dengan kawan-kawan lama. Di SMA saya dekat dengan beberapa orang yang cukup gila mau melakukan hal bodoh bersama. Tapi kini kegilaan itu barangkali sudah jadi relik purba. Ketika kami berjumpa terlalu banyak basa-basi yang tak perlu dipajang. Tapi tentu itu juga tak penting. Kebersamaan dan kebersamaan ketika mengingat masa sekolah, bukan melankolia, adalah penawar segala yang menyebalkan. Bukan hanya sekedar vakansi masa lalu tapi lebih pada sebuah penghargaan proses. Tentang bagaimana seseorang bisa berubah dan jadi lebih baik.

Idul fitri adalah hari lain yang kita rayakan sebagai sebuah kemenangan. Kemenangan yang mungkin tak jelas alasannya apa. Juga sebagai alasan untuk pulang juga memperbaiki sesuatu yang rusak. Menyambung sesuatu yang putus. Mengikat kembali hal yang lepas. Idul fitri memang seperti maknanya menjadi baru juga menjadi bebas. Namun tak semua hal yang rusak perlu diperbaiki. Beberapa harus dibuang jauh dan dikutuk keberadaanya. Seperti juga hari-hari yang lain, idul fitri hanya sekedar label di kalender.

Kamis, 01 Agustus 2013

Lupakan Follower! Menulislah

Ernest Hemingway, pada 10 Desember 1954, pernah menulis dalam naskah pidato penerimaan nobel yang tak bisa ia hadiri. Bahwa proses menulis adalah proses yang sunyi. “Writing, at its best, is a lonely life. Organizations for writers palliate the writer’s loneliness, but I doubt if they improve his writing. He grows in public stature as he sheds his loneliness and often his work deteriorates. For he does his work alone and if he is a good enough writer he must face eternity, or the lack of it, each day."  Menulis adalah kerja kesendirian dan seharusnya tidak diributkan oleh orang lain.

Hemingway bisa jadi merefleksikan laku menulis sebagai jalan hidupnya. Ia yang gagal berumah tangga, gagal bercinta dan akhirnya jadi pemabuk selalu menemukan puncak proses kreatif dari sunyi yang mencekam. The Old Man and The Sea misalnya disusun dengan sangat menarik sebagai usaha manusia yang bergulat dengan alam dalam kesendirian. Karya itu, meski bagi saya membosankan, mengantarkan Hemingway sebagai peraih penghargaan pulitzer dan nobel sastra sesudahnya.

Hari ini saya dikejutkan oleh pernyataan seseorang bahwa untuk menerbitkan sebuah karya, ia diminta memiliki setidaknya 200.000 follower akun sosial media Twitter. Saya pikir ada yang salah dan memalukan di sini. Tolok ukur penciptaan karya agar bisa diterbitkan bukan lagi berasal dari estetika dan kekuatan naskah, tapi berdasarkan jumlah nilai jual yang dihasilkan dari follower, yang bisa saja palsu, di akun sosial media? Penulis dipaksa menyerah oleh pasar dan penerbit menekan penulis untuk menghamba pada follower. Ini gila. Ini jauh lebih gila daripada keputusan toko buku besar membakar buku yang ia cetak sendiri.

Lalu begini pertanyaannya. Apakah Hemingway menulis sebagai upaya memuaskan rasa ego atau hanya menuruti editor? Kita tahu karya The Old Man and The Sea dipersembahkan untuk Maxwell Perkins, editor dan kawan Hemingway, tapi apakah ia menulis untuk Maxwell atau untuk pencapaian estetik karya? Saya kira yang kedua. Tapi mari lupakan Hemingway. Saya dan anda bisa berdebat perihal maksud dan keinginan Hemingway dalam berkarya. Anda bisa saja berkilah, "Kan Hemingway penulis besar. Pantas kalau karyanya laku jadi bisa menekan penerbit," untuk itu saya hendak bercerita tentang James Joyce dan Ulysses.

Ulysses kesulitan dan selalu ditolak untuk diterbitkan karena kompleksitas dan kerumitan bahasanya. Joyce tidak mau menyerah dan berkompromi dalam usaha menerbitkan karya ini. Meski dililit hutang dan hidup dalam kemiskinan ia menolak tawaran penerbit untuk menyederhanakan Ulysses. Toh pada akhirnya ia bertemu dengan Sylvia Beach, penerbit mandiri dan pemilik toko masyur Shakespeare and Co. Apakah karya Joyce laku? Tidak juga. Ia mati dalam keadaan melarat dan hampir dilupakan. Baru setelah kematiannya, dengan jasa Ezra Pound, karya ini bisa diapresiasi sebagai kanon sastra dunia.

Apakah hanya Joyce yang karyanya harus berjibaku dan bertentangan dengan banyak penerbit untuk bisa disebarkan? Tidak juga, ada nama besar lain seperti George Orwell, yang secara komikal, naskah Animal Farm miliknya ditolak karena dianggap bercerita soal Hewan, JK Rowling baru-baru ini ditolak naskahnya karena menggunakan nama pena Robert Galbraith, naskah “The Sound and the Fury” milik William Faulkner, peraih Nobel itu, ditolak oleh 13 penerbit sebelum akhirnya diterbitkan. Sementara Donal Ryan, seorang pamong praja dari Irlandia, harus ditolak 47 kali agar naskahnya bisa dicetak. Lalu apa yang ia peroleh? Penghargaan bergengsi Booker Prize!

Tapi kisah favorit saya soal anomali dunia penerbitan dan karyanya adalah Herman Melville, penulis buku masyur Moby Dick. Karya Melville barangkali adalah bukti dari oxymoron bernama industri literasi. Ketika hidup karya ini hampir tidak laku, dihina sebagai karya picisan dan tak berguna. Baru setelah ia meninggal muncul gerakan Melville Revival yang mengembalikan namanya kembali ke tahta sastra dunia. Salah satu tokoh yang mempopulerkan kembali nama Melville adalah kritikus sastra D. H. Lawrence. Padahal ketika hidup Moby Dick hanya dicetak sebanyak 3.000 eksemplar dan banyak retur karena tak laku. Tapi paska kemunculan Melville Revival karyanya diburu bak harta karun.

Tapi tentu anda bisa berkilah lagi. "Ah itu kan mereka penulis dunia. Mana ada penulis Indonesia yang mau hidup susah?"

Mari saya perkenalkan Almarhum penyair Saut Sitompul. Ia yang hidup dari mengamen puisi dari satu metromini ke metromini lainnya. Dikenal barangkali hanya oleh pedagang asongan disekitaran kawasan TIM dan mati ditabrak taksi. Sebagai penyair dan sastrawan penulis ia mati miskin. Karyanya tak banyak diperbincangkan dan mungkin buku monumentalnya "Konges Kodok" jarang didengar apalagi dikenal secara luas.  Apakah ia menolak hidup mapan dan kaya? Tidak. Dia hanya menolak menjadikan puisi, yang dianggapnya sakral, menjadi barang dagangan dengan menghamba pada selera kebanyakan.

Khrisna Pabichara, penulis buku best seller sepatu dahlan, juga mengalami hal yang sama. Sebelum akhirnya menulis trilogi novel biografi Dahlan Iskan, ia juga sempat merasakan getirnya ditolak penerbit karena karyanya dianggap tak laku dan tak punya nilai jual. Buku 10 Rahasia Pembelajar Kreatif, meski bernada motivasi, dianggap tak punya daya jual karena penulisnya belum terkenal. Tapi toh Khrisna tak menyerah serta mampu membuktikan, tak selamanya insting penerbit benar dan tak selamanya karya non mainstream tak laku dijual.

Tapi sejatinya apa sih tujuan kita menulis? Andrea Hirata dengan jelas memposisikan dirinya menulis untuk mencari uang. Ketika polemik klaim 100 tahun sastra Indonesia ia lantang berkata ""Jangan pernah bilang saya sastrawan. I'm a writer," yang ia lanjutkan dengan "Mana ada buku sastra yang laku? Saya perlu uang untuk bikin museum". Tapi apakah semua penerbit sepaham dengan ini? Atau memang menulis hari ini hanya untuk mengisi perut? Apakah menulis hanya perkara untuk menambah pundi uang lantas berleha-leha menikmati ketenaran?

Kalau ya mereka ini barangkali ada yang salah dengan para penerbit. Mereka telah jatuh pada kriteria pengkhianat kesusastraan. Dalam pidato masyurnya Milan Kundera menyebut golongan semacam ini sebagai kaum agélaste. Agélaste berasal dari kata Yunani yang berarti orang-orang yang tak mengenal humor dan tak pernah tertawa. Kundera merujuk pada kaum-kaum yang menyukai kondisi mapan, terus menerus mencari celah, mencari rente, mencari keuntungan tanpa ampun dan menolak memberikan pencerahan. Manusia yang hanya tahu untung dan rugi karena menganggap kebenaran itu absolut dan tunggal. Kebenaran menurut mereka sendiri.

Namun Kundera masih menyimpan nada harapan dalam keputusasaannya. "The agélastes, the nonthought of received ideas, and kitsch are one and the same, the three-headed enemy of the art born as the echo of God's laughter, the art that created the fascinating imaginative realm where no one owns the truth and everyone has the right to be understood. " Kita harus menyadari keberadaan mereka dan memaklumi bahwa tak semua orang berniat hidup dengan baik. Beberapa hanya ingin hidup dengan nyaman dan bersenang-senang. Dalam hal ini penerbit tentu ogah mengambil atau menerbitkan karya yang tak menghasilkan untung. Mereka punya karyawan dan target penjualan yang harus dikejar untuk bisa bertahan hidup. Ini tidak salah, barangkali hanya menyedihkan secara etis.

Penerbit seharusnya menjadi pabrik yang menghasilkan karya-karya yang tak hanya eklektik tapi juga estetik. Penerbit, seperti juga toko buku, harusnya bisa memberikan para konsumen mereka para pembaca ragam bacaan yang tidak monoton. Jika benar mitos yang mengatakan bahwa penerbit mengendalikan selera pasar, harusnya mereka bisa menerbitkan karya-karya bermutu di pasaran. Tidak hanya berbekal karya penulis yang "berfollower ratusan ribu". Musuh peradaban literasi bukanlah penerbit yang hanya ingin untung, toko buku yang menjual dengan harga mahal atau penulis yang karbitan. Musuh bersama kita adalah pemujaan terhadap karya-karya medioker yang lahir dari budaya instan.

Jika follower adalah sebuah prasyarat untuk menulis buku maka selamanya saya tak sudi menulis buku. Dalam sebuah artikel sinis, keji dan bernas yang disusun oleh Jacob Silverman, kolumnis Slate, terungkap bahwa generasi hari ini adalah generasi yang miskin kritik tenggelam dalam ewuh pakewuh buta. Banyak buku yang lahir dari para pesohor dadakan sosial media. Ada keterikatan rasa dalam relasi antara follower dan akun yang difollow. Sehingga berpengaruh kepada kualitas karya yang dihasilkan seringkali dikomentari dengan rasa sungkan, pujian buta dan tak bisa lagi objektif.

Penerbit jelas paham ini. Lantas mereka menyasar para follower yang "lugu" sebagai potensi keuntungan bebanyak-banyaknya. Tak terbilang buku yang lahir dari pesohor dadakan ini dan akhirnya hanya bertahan beberapa saat. Toh ketika ada bazar buku karya-karya picisan macam ini tak berharga lebih dari limaribu perak. Apakah hanya karya dari penulis social media? Sayangnya tidak. Penerbit akan menjual karya siapapun yang tak laku dengan harga murah. Saya pernah menemukan buku Air Kata-Kata karya Shindunata dan Cadas Tanios karya Amien Maalouf seharga 10ribu saja. Menyedihkan.

Sebagai penutup saya ingin mengutip sebuah sindiran Hemingway yang ia tulis hampir 60 tahun lampau. Tentang betapa membosankannya dunia sastra apabila ragam bacaan yang ada jadi seragam. Penerbit butuh makan dan penulis butuh bukunya laku dijual. Tapi apakah iya hanya untuk mencari uang kita menjejali generasi kita bacaan dengan kualitas seadanya?

"How simple the writing of literature would be if it were only necessary to write in another way what has been well written. It is because we have had such great writers in the past that a writer is driven far out past where he can go, out to where no one can help him."