Rabu, 21 Agustus 2013

Bukowski

Ada sebuah puisi getir tentang hidup yang barangkali memang seperti nyala api. Ia lahir membakar, membara, garang, panas dan terik lantas tiba-tiba meredup sebelum akhirnya mati. Puisi itu berjudul "the old anarchist" pengarangnya adalah Heinrich Karl Bukowski, atau yang biasa kita kenal sebagai Charles Bukowski. Puisi itu bicara tentang seseorang yang diberi kepercayaan untuk merawat rumah, ketika tetangganya hendak melancong. Si orang tadi dengan telaten membersihkan rumah tetangganya, mengambil surat lantas menatanya dengan rapi, juga memberi makan kucingnya. Lantas dalam perjalanan pulang ia bertanya:

am I the same man who planned to
blow up the city of Los Angeles
15 years ago?

in the sunset thinking,
there’s still time,
there’s still time for a
comeback.

I have never belonged with
these others.

Bukowski memang piawai membuat aku lirik dengan tema-tema kontemporer. Ia bercerita dengan tema-tema keseharian yang sering ditemui di kota dimana ia tinggal, Los Angeles.  Dalam  "the old anarchist" ada sebuah semangat yang sekarat, sebuah mimpi yang mungkin akhirnya remuk redam. Orang yang kemudian menemukan kembali kepingan hidup di belantara yang ia sendiri tak pamah ada dimana. Penyair kelahiran Jerman, namun berkarya di Amerika ini, barangkali bercerita tentang dirinya sendiri. Tentang bagaimana ia harus menyerah pada kerasnya hidup dan berkompromi.

Berkat internet saya bisa menemukan dan membaca karya tengil dan satir dari Bukowski. Salah satunya adalah Sifting Through the Madness for the Word, the Line, the Way. Sejak membaca Love is The Dog From Hell, saya tak punya lagi buku puisi tentang Bukowski. Ia ibarat seorang penyair mabuk yang berteriak di tengah pasar, mengumpat lantas membaca syair ngawur tentang betapa rindunya seorang kekasih yang cemburu, atau juga bicara perihal sepasang selingkuhan yang ingin berhenti namun tak bisa karena legit birahi terlalu sayang untuk ditinggalkan. Ia bicara tentang keseharian dengan estetika yang mudah dicerna.

Tapi ada satu sajak dalam Sifting Through the Madness for the Word, the Line, the Way yang membuat saya ketagihan. Tentang bagaimana seorang penulis harus menulis. Ia bicara dengan kata yang keji, urakan, malas, nyinyir dan tidak biasa. Ia bicara tentang bagaimana sebuah tulisan harus lahir, tentang bagaimana sebuah karya harus dibuat, tentang bagaimana penulis bersikap. Ini bisa jadi sebuah masukan yang baik, juga cambuk, bahwa menulis barangkali hanya sekedar hobi brengsek yang membuang waktu.

so you want to be a writer?

if it doesn’t come bursting out of you
in spite of everything,
don’t do it.

unless it comes unasked out of your
heart and your mind and your mouth
and your gut,
don’t do it.

if you have to sit for hours
staring at your computer screen
or hunched over your
typewriter
searching for words,

don’t do it.
if you’re doing it for money or
fame,

don’t do it.
if you’re doing it because you want
women in your bed,
don’t do it.

if you have to sit there and
rewrite it again and again,
don’t do it.

if it’s hard work just thinking about doing it,
don’t do it.

if you’re trying to write like somebody
else,
forget about it.

if you have to wait for it to roar out of you,
then wait patiently.
if it never does roar out of you,
do something else.

if you first have to read it to your wife
or your girlfriend or your boyfriend
or your parents or to anybody at all,
you’re not ready.

don’t be like so many writers,
don’t be like so many thousands of
people who call themselves writers,

don’t be dull and boring and
pretentious, don’t be consumed with selflove.
the libraries of the world have
yawned themselves to
sleep
over your kind.
don’t add to that.
don’t do it.

unless it comes out of
your soul like a rocket,
unless being still would
drive you to madness or
suicide or murder,
don’t do it.

unless the sun inside you is
burning your gut,
don’t do it.

when it is truly time,
and if you have been chosen,
it will do it by
itself and it will keep on doing it
until you die or it dies in
you.

there is no other way.
and there never was.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar