Jumat, 23 Agustus 2013

Menyimak Yang Biasa



Ada yang luput dari perhatian kita saat seluruh jagat penikmat musik Indonesia mengunduh Happy Coda milik Frau. Bahwa pada hari itu jauh nun di Surabaya Taman Nada, sebuah band folk minimalis, tengah melepas EP yang berisikan tiga lagu. Barangkali memang riuh yang terlanjur mapan itu lebih legit daripada mencicip satu yang asing. Tapi biarlah demikian, de gustibus non est disputandum, memperpanjang perdebatan hanya akan membuat kita jadi bodoh.

Lantas apa yang membuat band ini patut diperhitungkan? Bagi saya tidak ada. Ia terlalu biasa untuk dapat disejajarkan dengan band sejenis semacam Payung Teduh, Dialog Dini Hari, Banda Neira atau senior mereka di kota yang sama Silam Pukau. Tapi menyoal kesederhanaan yang terlampau biasa itu bisa sangat beracun. Membuat sesuatu yang mudah dipahami dan dinikmati bukan perkara mudah. Pada beberapa aspek, selain kualitas sound yang sedikit kasar, Taman Nada memenuhi elemen itu. Yaitu menjadi biasa dan diterima.

Pada Self-titled EP ini Taman Nada tidak ingin menjadi pretensius dengan membuat musik berat sesuai teori musik klasik. Mereka hanya ingin bermain-main seusai jam olah raga, bergurau di gardu satpam, bercengkrama di hadapan api unggun atau dalam bahasa Ivan Makshara dalam pengantar album ini, “sekedar ode untuk menyambut pagi”. Bagi saya sendiri Taman Nada adalah oase di tengah hiruk pikuk musik yang terlampau serius, tendensius dan obscure. Lagi pula siapa sih yang betah melulu menjadi sendiri dan berbeda?

Tapi apakah itu membuat Taman Nada istimewa? Sekali lagi tidak ada yang istimewa dari Taman Nada. Suara sengau-nyaris-parau sang vokalis Atthur Razaki hampir tenggelam pada beberapa bait lagu, petik gitar Salman Muhiddin dan Zaki Rifian pada lagu kedua seolah berusaha tidak tenggelam dari suara pianika Nandiwardhana. Lantas lirik yang berusaha menyesuaikan rima sehingga melahirkan kosa kata ambigu semacam ‘histori’. Untungnya masih ada suport Dwiki Putra pada Bass dan Aryok Pratyaksha pada drum. Lalu jika band ini lebih banyak mudharatnya, mengapa ia patut didengar? Karena, menurut saya, Taman Nada hanya ingin didengar. Sesederhana itu.

Nomenklatur musik Taman Nada adalah kesederhanaan. Ia sudah bisa dikenali sejak lagu pertama dalam EP ini yang berjudul Fase. Tiras detik pertama lagu ini dimulai dengan suara siulan yang nyaris menyebalkan. Namun ia tak lama, beberapa saat kemudian petik merdu gitar pelan merambat. Ia menghadirkan sebuah nostalgia tentang tanah yang lapang, montase dari fragmen ingatan tentang masa lalu. Ini kesederhanaan yang saya cari, petik gitar malas, lirik naif yang kelelahan-namun optimis. “Gugurlah sang waktu, runtuhkan dinding-dinding belenggu. Dimensi yang baru, jalan hidupku.

Sementara lagu kedua, Marilah Mari, membuat saya ingin sekali menjuluki Taman Nada sebagai sebuah band karang taruna yang lahir sebelum malam 17 Agustusan. Ia rancak, riang, riuh, ramai, rindang dan ramah. Lagu ini berlirik sederhana, mudah diingat dan dinyanyikan, serta membius untuk turut berdendang. “Regangkan lelah kitarilah aku / Rentangkan tangan, rengkuhlah angkasa /Sempatkan puja, sisipkan doa /Langitkan harap lautkanlah cinta”. Ia seperti sebuah lagu cinta yang malu-malu, yang membuat pendengarnya diam-diam tersenyum dan ingin memeluk siapapun yang ada. Ia secara magis membangun mood untuk menjadi hangat dan bersemangat.

Jalan Pulang adalah sebuah kejujuran yang otentik tentang bagaimana sebuah perjalanan kembali ke rumah harus dilakukan. Ia tak bicara tentang pencarian jati diri, tentang pengalaman jauh, tentang penaklukan diri. Bagi Taman Nada, Pulang adalah saat dimana Sepasang mata mengandung rona rumah. Pulang hanyalah perihal mengistirahatkan sepasang mata yang kelelahan dan memanjakan kantuk yang teramat sangat.

Semua lirik dalam album ini dikarang oleh Atthur Razaki. Entah mengapa saya mengalami kebingungan, dalam arti positif, bagaimana di kota seperti Surabaya yang bising, ia bisa mencipta lirik yang subtil. Bagaimana Atthur menerjemahkan narasi susurkota (Suburban) menjadi sebuah keriangan yang meredakan kegelisahan. Hal yang sama juga saya temukan pada lirik-lirik Silampukau dan Greats. Rata-rata mereka bicara tentang optimisme kecil yang ringan. Mereka melampaui apa yang disebut Harold Bloom sebagai Anxiety of Influence.

Tapi mengutip Bloom tidak relevan pada persepsi serta tafsir kita pada musik. Bagi saya Taman Nada melahirkan kerinduan pastoral ketika hidup di metropolis. Bagi anda ia mungkin bisa jadi lain. Ketika saya berpendapat Taman Nada tidak jatuh pada kategori sentimentil namun tidak pula terperosok pada kriteria angkuh. Anda bisa saja mengatakan sebaliknya. Tapi review ini terlampau panjang untuk menjelaskan tiga lagu pendek yang habis didengar dalam rentang tempuh satu stasiun Commuter Line.

Seperti yang saya katakan sebelumnya. Taman Nada hanya sekedar band karang taruna yang musiknya adalah sebuah jarak akan masa silam. Dimana kita bisa bebas bermain sebagai anak kompleks ataupun bocah pematang sawah. Taman Nada adalah suara biasa saja yang rindu kita dengarkan. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar