Selasa, 13 Agustus 2013

Pada Akhirnya Metallica

Saya bukan fans Metallica, Sad But True. Malah pernah dalam satu waktu saya membenci segala macam musik metal, termasuk band ini tentunya, karena terlampau bising dan cemar suara. Tapi itu dulu, ketika saya SMP, saat masih getol mendengarkan Bragi dan Lingua. Musik bagi saya selayaknya lembut. Bicara tentang estetika dan eklektik, bukan grang greng grong suara yang riuh. Namun kadang hidup itu brengsek, persimpangan hidup saya berubah ketika almarhum kakak minggat dari rumah dan kabur karena tak diijinkan kuliah.

Saya masuk ke kamar kakak yang angker dan menemukan ratusan kaset band Metal. Salah satu yang diingat adalah Morbid Angel, dengan tampilan wajah menyeramkan seperti bola monster yang menyerap ratusan jiwa. Namun bukan itu yang membuat saya takjub, melainkan sebuah kaset dengan warna hitam dengan hologram ular di pojoknya. Kesederhanaan itu menakutkan, ia memberikan impresi yang begitu subtil pada kepala ini. "Ini pasti kaset metal yang memuja setan!" saya lantas berlalu dan ogah mencari tahu lagi.

Ketika almarhum kakak meninggal, saya menerima warisan berupa ratusan kaset tape miliknya. Tak tahu mau diapakan, beberapa akhirnya dihibahkan ke seorang kawan yang memang kolektor, beberapa saya simpan sendiri karena memang menjadi kesukaan kakak. Seperti, Bon Jovi, Gun n Roses, Pantera dan Morbid Angel. Tapi hanya Metallica yang tak pernah diputar dan didengarkan, barangkali terlalu dekat dengan kakak, sehingga saya takut akan semakin larut dalam duka.

Tapi sekali lagi prasangka tanpa bukti itu salah.

Menahun kemudian saya menyesali keputusan untuk tidak mendengarkan musik metal itu. Barangkali hidup tidak akan semelankoli ini, jika cukup mengkonsumsi oktan Metal sesuai kadar yang dianjurkan. Musik metal tidak mengharamkan melankolia, tapi pada batas tertentu, seperti yang dilakukan Metallica ia membangkitkan semangat. Mustahil mendengarkan Nothing Else Matter dengan mendekap teddy bear dan menatap nanar foto mantan kekasih. Ketika saya jatuh terpuruk, lagu ini membikin saya tegak bersalaman pacar baru mantan dengan kepala dingin.

Mustahil melepaskan fase hidup manusia dengan musik. Pada kadar tertentu ia menjadi cerita sendiri. Semua metalhead pasti pernah mengalami fase "memekakkan-telinga-dengan-volume-hampir-tuli-hanya-untuk-membuat-sejenak-lupa-pada-tengiknya-hidup". Saya juga begitu. Tapi Metallica punya mantra sendiri yang membuatnya "Holier than thou", mereka melahirkan montase dari riff yang berat, tidak gegas, menyayat dalam dan yang jelas narasi lirik biblical arkaik. Sederhananya? Musik kepalang bajingan yang baik didengar ketika sedang drama!

Saya harus mengakui menggemari metal baru-baru saja. Itupun karena warisan. Mengingat momen ketika metalhead dan orang tua berjumpa barangkali menarik. Generasi baru dan generasi mapan yang bersengketa. Saya ingat, samar-samar, saat ketika kakak memutuskan gondrong, menggunakan celana belel, memajang poster 'cantik' AXL Rose di kamar, lantas menggeber sampai pekak sound sistem pengajian rumah dengan lagu Seek and Destroy. Ibu saya kala itu, ijinkan saya memparafrasekan, berkata "Musik laknat setan kok diputer wayahe maghrib," lantas mencabut secara arogan kabel yang menghidupkan segala kegilaan tadi. But it was fun, so fucking intense.

Saya tahu itu karena itu adalah momen dimana almarhum kakak saya tersenyum dengan lebar.

Semua metalhead, saya kira, megalami itu. Saat dimana kita memberontak malu-malu kepada orang tua, menggenapkan volume tape hingga batas, lantas bernyanyi berteriak sampai urat leher mengedan, menyanyanyikan kebebasan. Sembunyi-sembunyi mencari arti kata-kata dalam"The Struggle Within" di kamus, untuk menemukan bahwa larik "Home is not a home it becomes a hell, Turning it into your prison cell" adalah slogan atas represi gejolak masa muda yang terikat.

Saya menyesal terlembat mengenal Metallica. Tapi jika kemudian hari ini, dengan segala informasi yang meluber juga akses pengetahuan yang luas, enggan dan masih menghakimi Metallica adalah sesat. Dude, that's Unforgiven.

4 komentar:

  1. Saya pikir, cuma saya yg begitu.....ha ha...kadang saya lebih suka seek and destroy...dari pada syairnya ayu ting ting...ha ha

    BalasHapus