Jumat, 27 September 2013

Narasi Pembungkaman Buku

Pada pembukaan novel Shadows of The Pomegranate Tree, Tariq Ali pemikir muslim progresif itu, ada  adegan tentang pembakaran buku oleh pasukan yang diperintahkan oleh Ximenes de Cisneros. Tariq Ali menuliskan kisah itu seperti sebuah adegan yang lambat dan dingin. Hampir tak ada emosi dalam deskripsi ceritanya hingga ia menampilkan seorang pengemis tua yang membakar diri karena tak sanggup menahan kesedihan melihat gunungan buku itu terbakar habis. “Apalah arti hidupku tanpa buku-buku pengetahuan kita,” kata si pengemis tanpa nama itu.

Minggu, 22 September 2013

Buku Tentang Buku

Beberapa dari kita, termasuk kawan dan keluarga saya, berpendapat bahwa membaca buku adalah sebuah tindakan yang dimaknai terlalu berlebihan. Seringkali orang yang gemar membaca menjadi merasa lebih tahu dan paham daripada orang lain. Pengetahuan tangan kedua yang ia peroleh dari membaca, seolah memberikan legitimasi untuk melakukan penindasan pengetahuan. Bahwa ada strata yang membedakan antara orang yang terpelajar dan tak terpelajar. Bahwa mereka yang tak tahu boleh dan pantas untuk dihina atas ketidak tahuan mereka. Secara perlahan mereka yang memiliki akses pengetahuan seolah menjadi superior atas apa yang mereka ketahui. Pengetahuan, dalam hal ini yang diperoleh dari membaca buku, melahirkan symptom baru fasisme. Fasisme yang lahir dari sebuah kebudayaan literer.

Selasa, 17 September 2013

Dan Selebihnya Dusta

Bersepakat soal perpisahan itu adalah sebuah menerima bahwa pada satu titik kata-kata tidak lagi berguna, tindakan tidak lagi berarti dan kebersamaan tidak lagi penting. Barangkali juga menyoal bahwa kita memang tidak pernah bisa-bisa sadar akan keberadaan yang lain dalam hidup kita. Tapi tentu itu tidak penting sayangku. Tidak ada yang lebih penting daripada oksigen juga air. Aku bisa hidup tanpamu tapi mustahil hidup tanpa oksigen dan air.

Rabu, 11 September 2013

Prasangka dalam Islam

Dalam wawancara yang dilakukan oleh Fox, Reza Aslan seorang akademisi dengan gelar Ph.D dengan pengalaman 20 tahun dalam studi tentang Yesus, berhadapan dengan reporter. Di sana kita bisa melihat bagaimana sebuah prasangka bekerja. Meski telah menjelaskan bahwa sebagai akademisi ia telah memiliki gelar di empat studi namun hal ini tak membuat reporter FOX menihilkan legitimasi akademi Aslan. Sebagai muslim convert, sebelumnya ia kristen, Reza dihakimi dianggap memiliki bias dalam penulisan buku terbarunya “Zealot: The Life and Times of Jesus of Nazareth.”

Tapi apakah salah sebuah penghakiman?

Rabu, 04 September 2013

Apel dan Empat Kepala

Sebisa mungkin kita tidak memperlakukan harapan seperti sebuah karib. Karena kau tahu? Ia adalah pengkhianat yang ulung. Kita dibikin senang, terbang, mungkin sedikit girang. Lalu dor! Begitu saja tanpa persiapan. tanpa aba-aba kita dipaksa jatuh, rubuh dan tersungkur. Barangkali juga soal hidup yang terlampau tengik. Bisa juga ia soal keseharian yang terlampau biasa. Soal nasi goreng atau roti panggang, pilates atau yoga, Madrid atau Barcelona, kubikel atau lapangan...

"Hujan itu cara bumi menulis puisi," kata si perempuan.

Ia sendirian. Duduk di antara bangku kosong di pusat kota. Hanya ada pohon asam jawa dengan daunya yang berguguran. Ini seharusnya akhir musim kemarau, tapi hujan kagetan semalam membuat tanah di alun-alun kota kecil itu berbalut lumpur. Belum lagi sampah dari bungkus gorengan, minuman kemasan, spanduk caleg dan yang paling menggelikan kondom bekas. Lagipula siapa manusia yang terlalu miskin sampai melepas birahi harus dilakukan di alun-alun kota ini?

Tapi tokoh kita, si perempuan, tentu tak peduli itu. Ia hanya peduli pada perasaannya sendiri. Ia baru saja keluar dari kediaman lelaki yang ia cintai. Cinta mungkin kata yang terlampau kuat, mungkin suka, sayang atau obsesi? Tidak jelas betul. Tapi rona mukanya barangkali sudah bisa menjelaskan betapa ia sedang kecewa. Ia bisa melihat negativitas dimana-mana. Ia melihat wacah caleg yang berbinar ceria dengan proyeksi ia akan kalah dan menjadi gila.

"Harusnya maskara diberi label peringatan. Jangan dipakai ketika kasmaran," katanya bergumam.

Cerita ini akan terus bicara soal monolog. Juga sesekali curhat penulis bicara dengan mulut si karakter. Jika jeli, anda bisa menemukan jika narasi prosa ini terlampau cerewet. Barangkali juga menggurui, menyebalkan dan sok tahu, tapi itulah prosa. Kadang-ladang si penulis jujur, kadang kadang ia hanya berdalih sebagai proses kreatif. Menemukan bentuk baru karya sastra katanya. Tapi tentu itu tak penting. Ada hal yang lebih penting untuk dibicarakan di sini.

"Seharusnya ada cara lebih efisien, singkat dan ringkas untuk jatuh cinta. Tanpa harus bertele-tele memelihara perasaan," kata si perempuan. Lantas menyeka ingus dari hidungnya. "Dengan katalog lalu memesan via telpon. Lantas menjalani hidup sebisanya, sekuat cicilan, jika mampu bahagia jika tidak ya lepaskan. Tanpa beban."

Jika adil, hidup akan jadi sangat membosankan. Ketidakadilan itu membuat manusia menjadi pejal, liat dan kuat. Mereka menaklukan ketidakadilan itu lantas membuat fondasi baru bagi peradaban setelahnya. Tapi tentu itu tak begitu penting. Kita harus menunggu mengapa karakter ini, si tokoh ini sendirian di tengah kota pada sore yang gerah dan membosankan ini.

"Sex contains all," kata Walt Whitman "Bodies, Souls, meanings, proofs, purities, delicacies, results, promulgations,"

"Tapi tentu saja. Cinta tidak semudah seks. Tidak sesederhana seks. Cinta itu rumit. Bahkan lebih rumit daripada paradox Zeno," si perempuan menghembuskan ingus yang membuat suaranya sengau. "Kura-kura, Achilles dan kenapa jarak itu brengsek."

Ah tidak brengsek juga sebenarnya. Mungkin hanya susah dipahami. Ah itu di kejauhan ada tukang bakwan, penjual balon dan juga anak-anak kecil yang baru pulang mengaji. Mereka begitu saja melewati si perempuan. Seolah-olah perempuan itu tak ada, seolah-olah dalam keremangan senja tak ada satu orang pun di kursi itu. Kursi di alun-alun kota yang sepi itu.

Perempuan itu manis. Tidak cantik cantik amat. Ia bukan Emma Watson tentu saja, bukan pula Raisa. Tapi ia adalah kemurnian yang lain. Pesona yang kau dapat dari sensasi asing. Seperti pertama kali membaca buku lantas kau tak bisa berhenti. Atau pertama kali mendengar lagu hingga kau putar berulang kali. Ia punya karisma semacam itu. Karisma untuk kemudian disukai tanpa alasan. Tapi tentu saja kalian hanya bisa membayangkan.

"Menjadi perempuan itu susah. Menjadi karakter perempuan dalam sebuah cerita jauh lebih susah. Jika penulisnya perempuan ia akan bikin si perempuan jadi maha hebat, maha kuat, maha angkuh dan mandiri. Padahal tidak semua begitu. Tidak semua Seperti Margaret Thatcher atau Joan d Arc. Beberapa dari kami tidak lebih baik daripada Zaenab atau Rapunzel yang menunggu dibebaskan," kata si perempuan.

"Sedang bila penulisnya lelaki. Ia akan bikin kami jadi binal, jadi nakal dan penuh birahi. Padahal tidak juga demikian. Tidak semua demikian. Lagi pula apa isi otak lelaki selain seks dan sepak bola?" kata si perempuan.

Angin berhembus. Masi pengap dan panas. Di kursi itu, selain perempuan yang duduk, ada sebuah apel yang digigit separuh. Apel warna hijau ranum yang warna dagingnya memutih. Tanda bahwa ia terlalu lama dibiarkan setelah gigitan pertama. Barangkali hidup seperti itu. Seperti gigitan apel pertama. Kesempurnaan buah menjadi tanggal lantas menjadi bopeng sebagian. Lantas dibiarkan kisut, menua, busuk dan dimakan usia. Pada kesempurnaan yang awal itu barangkali kita...

"Kamu ngomong apa sih?" kata si perempuan.

"Saya sedang jatuh cinta, kalian tahu kan?" lanjut si perempuan.

"Iya aku tahu. Tapi kenapa sampau harus demikian memilukan?"

"Bagi saya ini tak memilukan. Ini menyenangkan. Jatuh cinta dan menyesap sampai habis ampas melankolinya,"

"Engkau berlebihan. Kami tak suka. Kami di sini harus berbagi tubuh kalau engkau jatuh cinta pasti engkau malas makan. Kami tak suka," kata si perempuan.

"Tapi ini penting bagi saya. Ini pertama kali saya jatuh cinta dengan terlalu,"

"Alah kemarin elu juga bilang gitu ama si cowok yang dimana? Solo? Elu nya kegatelan kagak bisa ngeliat cowok bening dikit,"

"Benar. Engkau terlalu mudah jatuh cinta,"

"Aku gak masalah. Tapi kebiasaanmu ini menyebalkan. Masa tiap minggu jatuh cinta?"

"Tapi saya yakin ini yang terakhir,"

"Gue laper gue makan apelnya ya,"

"Tunggu. Kita belum selesai bicara,"

"Iya. Engkau jangan makan itu dulu,"

"Silahkan makan saja. Saya sudah kenyang,"

Si perempuan lantas bicara dengan nada-nada berbeda. Semuanya dengan tema yang sama. Harus ataukah tak harus sisa apel yang mulai menguning warna dagingnya itu dimakan. Apel yang warna hijaunya bekilauan diterpa sinar matahari sore.

"Menarik bagaimana cara manusia bertahan hidup." kata si perempuan seraya memandang apel di tangannya.

"Engkau tahu? Kita memangsa mahluk lain untuk bisa bertahan. Memangsa daya hidup dari mahluk yang lebih lemah. Mengkonversinya jadi energi lantas membuat kita terus berkembang biak,'

"Sok iye lu pade,"

"Saya pikir itulah cinta. Tentang bagaimana usaha manusia mencari relasi agar ia memuaskan afeksinya,"

"Afeksi itu overrated. Ia membuat kalian menjadi buta. Endorphin yang dihasilkan perasaan ketika bersama kekasih itu tak jauh beda dengan olah raga maraton."

 "Barangkali begitu. Tapi tidak membuat engkau sadar? Cinta bukan sekedar hormon. Ia adalah soal lain. Soal dibutuhkan dan membutuhkan,"

Monolog itu berlangsung riuh. Masing-masing suara hendak bercerita. Hendak ambil bagian. Hendak didengar dan hendak berpendapat. Tentang birahi, tentang afeksi dan tentang menjadi rasional.

Sementara di pintu masuk taman. Dua orang lelaki berpakaian putih datang membawa kursi roda. Mereka menuju si perempuan. Wajah mereka dingin, tanpa eskpresi dan hampir tanpa emosi.

"Mbak. Sudah ayo pulang. Waktunya minum obat," kata salah satu lelaki itu.

Sementara malam sudah datang.