Minggu, 22 September 2013

Buku Tentang Buku

Beberapa dari kita, termasuk kawan dan keluarga saya, berpendapat bahwa membaca buku adalah sebuah tindakan yang dimaknai terlalu berlebihan. Seringkali orang yang gemar membaca menjadi merasa lebih tahu dan paham daripada orang lain. Pengetahuan tangan kedua yang ia peroleh dari membaca, seolah memberikan legitimasi untuk melakukan penindasan pengetahuan. Bahwa ada strata yang membedakan antara orang yang terpelajar dan tak terpelajar. Bahwa mereka yang tak tahu boleh dan pantas untuk dihina atas ketidak tahuan mereka. Secara perlahan mereka yang memiliki akses pengetahuan seolah menjadi superior atas apa yang mereka ketahui. Pengetahuan, dalam hal ini yang diperoleh dari membaca buku, melahirkan symptom baru fasisme. Fasisme yang lahir dari sebuah kebudayaan literer.


James Warner, seorang kolumnis dari Identity Theory, pernah menuliskan sebuah artikel menarik yang berjudul "Mengapa tak semua orang gemar membaca". Di sana ia berargumen bahwa kemampuan literer seseorang tak sama dengan yang lain. Seseorang bisa saja sangat memuja Tolstoy, sementara yang lain akan dengan keji menghina Flaubert. Seorang Shakesperian akan menemukan bahwa Soneta yang dibikin Dante sungguh membosankan. Atau penggila Gabo akan berseberang secara membabi buta dengan Carlos Fuentes. Membaca bisa jadi sebuah sikap politis yang membuat seseorang melakukan tindakan kekanak-kanakan.

Namun bukan berarti membaca buku adalah sebuah tindakan yang sama sekali tak berguna. Pada sebuah pidato yang sangat elok dari William Lyon Phelps, kritikus dan profesor sastra universitas Yale, membaca buku adalah surga tersendiri. Tentu ia tak memberikan rasa kenyang jika anda lapar, memberikan orgasme jika anda sedang birahi atau menghilangkan lelah jika anda mengantuk. Tapi buku, kata William Phelps, "did their ultimate best to entertain you, to make a favorable impression." Dengan buku kau bisa berbincang dan mempelajari isi kepala para pemikir terbaik dunia, mulai dari Socrates, Homer, Ibnu Sina sampai dengan Stephen Hawking.

Membaca buku bagi saya hanyalah sekedar vakansi, jika tak ingin disebut eskapisme, dari realitas hidup yang kepalang brengsek, Atau perasaan yang kelewat meletup tanpa kejelasan makna. Tapi kemudian yang lahir adalah snobisme karena hasil pengetahuan dari membaca. Orang-orang disekitar saya mulai mencibir, keberatan dan jengah dengan sikap nyinyir atau menggurui. Apakah ini benar? Saya tidak tahu. Barangkali merupakan sikap otomatik dari alam bawah sadar saya yang memang menyebalkan. Jika ini benar saya telah menyalahi fungsi utama pengetahuan yang lahir dari mesin cetak Gutenberg. Yaitu pencerahan untuk semua.

Maka untuk memperbaiki diri saya kembali membaca beberapa buku yang membahas tentang penulis tentang buku yang ia baca. Buku tentang buku? Apa menariknya? Pada sebuah wawancara pendek Borges membayangkan bahwa surga adalah semacam perpustakaan yang besar. Ia mengatakan ini dalam keadaan buta dan masih merindukan proses membaca sebagai sebuah keseharian yang intim dan pribadi. Buku tentang buku akan memberikan kita sedikit gambaran bagaimana seorang pembaca memaknai buku yang ia baca. Sehingga sedikit atau secara keseluruhan kita bisa menyerap atau sedikit belajar bagaimana perspektif orang lain dalam memperlakukan buku.

Tulisan ini tidak disusun berdasarkan kriteria buku terbaik. Hanya disusun berdasarkan buku yang sedang dimiliki saja. Sisanya merupakan pembacaan dan interpertasi saya sendiri terhadap konten buku. Secara umum buku yang saya tulis disini memiliki bahasan tema tentang buku. Kecuali untuk beberapa buku yang fokus pada penulis, pembaca dan kolektor buku.

1. Pelarangan Buku di Indonesia: Sebuah Paradoks Demokrasi dan Kebebasan Berekspresi

Buku ini disusun oleh Tim peneliti PR2 Media bekerjasama dengan Pemantau Regulasi dan Regulator media serta didanai oleh Friedrich Ebert Stiftung pada September 2000. Menariknya penyusunan buku ini merupakan respon langsung dari kebijakan kejaksaan tinggi republik Indonesia, yang melarang penerbitan dan peredaran beberapa buku yang dianggap subversif atau mengganggu "ketertiban umum". Buku ini menjadi menarik karena didalamnya juga disusun berbagai edukasi tentang mengapa sebuah buku tak boleh dilarang. Sebagai kanal ide dan penyebar pengetahuan akses terhadap buku seharusnya dibuka sangat lebar. Karena monopoli pengetahuan dari satu sumber buku hanya melahirkan represi dan sensor pada ragam tafsir pengetahuan yang sangat majemuk.

Kasus pelarangan buku yang paling sering digugat adalah buku-buku dengan tema kiri. Sejauh ini sejarah 1965 dan tafisr bagaimana dugaan coup PKI masih merupakan hal yang tabu untuk dibahas. Karena itu ketika Dalih Pembunuhan Masal karya John Roosa dan Lekra Tak Membakar buku susunan Muhidin M Dahlan diterbitkan. Arus protes "masyarakat" melebar. Pembakaran buku dan aksi sweeping oleh ormas fasis mulai bermunculan. Lantas dengan heroik pihak kejaksaan dibantu polisi melakukan pelarangan karena kedua buku tersebut dianggap "meresahkan warga". Sisanya buku ini menarik untuk dibaca untuk memahami framing mengapa sebuah buku bisa dianggap berbahaya bagi sebuah rezim.

2. How To Read and Why

Harold Bloom, kritikus dan kanon sastra Amerika Serikat paling penting saat ini, menyusun buku ini bukan sebagai sebuah ajang gengsi pengetahuan. Ia hanya sekedar berbagi tentang buku-buku yang ia anggap penting dan mengapa kita wajib membaca karya-karya tersebut. Pada bagia prolog Bloom bicara bahwa pada banyak peradaban membaca buku bukanlah melulu aktivitas yang didasari rasa cinta. Ia bisa jadi sekedar usaha melawan rasa bosan, kewajiban pendidikan atau bahkan keperluan riset. Hal ini tergantung pada masing-masing individu yang melakukan.

Bloom juga tidak secara gamblang menjawab mengapa kita harus membaca. Ia, sepanjang buku ini, yang memberikan petunjuk bahwa buku-buku tersebut merepresentasikan zaman dan bisa membuat kita memahami dunia modern secara lebih baik. Misalnya ketika ia merekomendasikan membaca buku Don Quixote karya Miguel Cervantes. Di sini Bloom berargumen bahwa buku ini tak lagi milik bangsa Spanyol, tapi telah menjadi gambaran bahwa Don Quixote adalah gambaran lain dari Hamlet. Tragedi yang lahir dalam bentuk komedi.

Karya tersebut, menurut Bloom, penting dibahas bukan sebagai sebuah repetisi. Tapi sebuah relevansi zaman. Tentu saja Cervantes tidak sezaman dengan Hamlet. Namun karya tersebut, yang notabene terulang, berpotensi meniru, tetap ada dan bahkan berulang. Masyarakat kita melihat elit-elit menjadi orang bodoh sementara kita hanya bisa tunduk dan diam mengawasi kebodohan-kebodohan itu. Ada banyak karya yang dibahas oleh Bloom dalam buku ini. Untungnya buku ini tak tebal hanya sektar 280an halaman dan dapat dibaca dalam satu kali perjalanan jauh.

3. Dari Buku ke Buku: Sambung Menyambung Menjadi Satu

Polycarpus Swantoro adalah sedikit dari wartawan Indonesia yang biara soal sejarah dengan nada yang tidak membosankan. Seperti juga Ong Hok Ham dan Rosihan Anwar, policarpus membuat sejarah menjadi sebuah tema populer yang tak harus ditakuti dengan kening berkerut. Bukunya Masa Lalu Selalu Aktual merupakan fragmen-fragmen kecil tentang sejarah yang ditulis dengan riang, meski beberapa isinya tidak seriang cara bertutur P Swantoro.

Buku ini ditulis berdasarkan ingatan. Konon, seperti juga mendiang Gus Dur, P Swantoro, memiliki ingatan fotografik yang mampu memberinya gambaran jelas juga detil tentang isi suatu bacaan. Baik judul, halaman dan konten dari buku tersebut. Sebagai produk pendidikan masa kolonial. P Swantoro tentu saja menguasai bahasa Belanda sehingga beberapa buku yang dibahas dalam buku ini merupakan buku bahasa asal negeri itu. Tentu dengan pembacaan personal dan tafsirnya secara pribadi.

Ada sekitar 200 buku yang dibahas oleh beliau. Ia berkisah seolah-olah masing-masing buku berkaitan satu dengan yang lain dan bicara dengan bahasa lugas juga mudah dimengeri. P Swantoro juga bercerita tentang bagaimana ia berinteraksi dengan buku dan bagaimana 3.000 buku koleksi pribadi bisa membentuk ia seperti hari ini. Akhirnya si penulis hanya ingin berbagi, bahwa, salah satu cara untuk bisa hidup dengan baik adalah dengan menyerap pengetahuan sebanyak-banyaknya dan mengamalkannya sebaik baiknya.

4. A Gentle Madness; Bibliophiles, Bibliomanes, and The Eternal Passion for Books

Ini adalah sebuah catatan kegilaan tentang gairah atas benda bernama buku. Ia adalah narasi dari suara-suara yang diam dari ratusan tahun sejarah yang membungkam keinginan manusia untuk menguasai pengetahuan. Tapi ada hal lain yang lebih mengerikan dari itu. Yaitu usaha untuk mendekap erat buku sebagai benda fetish yang memancarkan aura tersendiri. Sebuah cerita dari ratusan arsip, buku dan kisah-kisah yang luput diketahui dari pembaca karena ia tak bicara tentang penulis. Ia bicara tentang para manusia yang gandrung akan buku.

Gentle Madnes merupakan finalis dari perhelatan akbar National Book Critics Circle Award pada 1995. Buku ini, seperti juga The Man Who Loved Book So Much, disusun dari dokumentasi sejarah dengan metode jurnalisme investigasi. Buku ini pula diakui oleh Muhidin M Dahlan, seorang kronikus buku, sebagai sebuah kitab suci bagi mereka yang mencintai buku. Di sini akan tersingkap bagaimana peradaban dibangun oleh para penjual buku, pencuri buku dan buku-buku yang hilang karena dianggap sebagai sebuah warisan yang belum waktunya.

Terma Bibliophili sendiri berarti orang yang memiliki kecintaan sangat besar kepada buku, suka membacanya dan seringkali memiliki koleksi besar buku dengan tema tertentu. Sementara Bibliomanes adalah kecenderungan memiliki buku sebagai benda, rasa kepemilikan dan bukan sebagai objek bacaan. Dalam pengantarnya pada buku Seratus Cacatatan di Balik Buku, Muhidin juga kesulitan memberikan deskripsi yang jelas perihal label ini. Namun yang jelas buku ini ditulis dengan kecintaan yang sama. Kecintaan pada buku sebagai sumber pengetahuan tanpa batas.

5. A Reader on Reading 

Bagi saya hampir mustahil menuliskan buku tentang buku tanpa melibatkan nama Alberto Manguel. Reader on Reading merupakan sebuah usaha apresasi serius dari seorang pecinta terhadap buku yang ia baca. Tapi proses ini tak berhenti pada sebuah resensi atau pembacaan saja. Ia membawanya jauh kepada usaha menyandingkan buku atau bacaan tersebut dengan realitas saat ini. Bagi Alberto Manguel, aktivitas membaca adalah usaha untuk melebarkan lanskap pikiran kita.

Dalam buku ini Manguel mengupas relasi antara buku dan politik, buku dan tubuh serta bagaimana mereka mempengaruhi kehidupan kita. Ia bicara bagaimana sensor oleh rezim memantik rasa penasaran kita. Bagaimana sebuah buku diterjemahkan dan tempat sunyi sumber pengetahuan bernama perpustakaan berdiri. Manguel serasa bicara dengan nada yang lemah namun dengan pilihan kata yang menusuk lagi mengusik rasa penasaran kita.

Ada 39 esai dalam buku ini yang menggali bagaimana relasi menulis dan membaca bisa sinergi. Kita tahu sebagai penulis dan mujahid buku, Manguel, akan selalu dalam bayang bayang sang begawan Jorge Luis Borges. Tapi sebagai individu dan penulis karya ini akan menjelaskan tak hanya Manguel berbeda dari Borges namun ia, dalam usaha menjelaskan rasa cinta pada buku, jauh lebih kalis dan lebih serius daripada sayang penyair itu sendiri.

6. Bukuku Kakiku

Berikut adalah nama-nama para resi yang menulis kisah cinta mereka pada buku: St. Sularto, Pax Benedanto, Wandi S. Brata, Fuad Hassan, Jakob Oetama, Jonathan Parapak, Melani Budianta, Lies Marcoes Natsir , Lin Chen Wei, Minda Perangin-angin, Miriam Budiardjo, Remy Silado, Rosihan Anwar, Sadli, Sindhunata, Sudhamek AWS, Syamsul Anwar Harahap, Taufik Abdullah, Yohanes Surya, Ajip Rosidi, Ariel Heryanto, Azyumardi Azra, Benjamin Mangkoedilaga, Budi Darma, Daoed Joesoef, Franz Magnis-Suseno, dan Mochtar Pabottingi.

Tapi tentu saja menuliskan nama jauh lebih mudah daripana menjelaskan apa konten buku ini. Buku bagi para penulis di atas lebih dari sekedar kaki. Ia membebaskan, memberi pencerahan, menjadi rumah, menjadi sumber kehidupan dan menjadi alat kerja. Tenti ini bisa jadi sangat hiperbolis tapi simak bagaimana penuturan Azyumardi Azra yang memiliki lebih dari 10.000 buku tentang kajian Islam yang baginya, tak cukup menjelaskan apa itu islam.

Atau bagaimana Yohanes Surya, profesor otodidak yang mendidik dan mengajarkan generasi baru Indonesia untuk jadi cemerlang. Buku tak lagi hanya menjadi guru, tetapi telah menjadi sebuah senjata untuk melawan kebodohan dan menyebarkan firus akal budi. Tapi tentu saja buku tak melulu berkisah tentang kata-kata, firman tuhan dan angka. Buku bicara tentang peradaban manusia itu sendiri. Pada tiap-tiap tokoh anda akan menemukan bahwa buku bukan sekedar jendela dunia. Ia adalah dunia lain yang menunggu kita kunjungi.

7. This is Not the End of the Book: A conversation curated by Jean-Philippe de Tonnac

Bagaimana jika dua pemikir terbaik eropa, yang kebetulan penggila buku, berjumpa dan bercakap-cakap soal buku? Ini yang coba dilakukan oleh Jean-Philippe de Tonnac dan Umberto Eco. Mereka berusaha bercerita dan berbagi kesan tentang buku-buku dan bagaimana mereka mempengaruhi proses kreatif dan penciptaan pada masing-masing individu. Tentu bagi banyak orang isi dari buku ini bisa jadi usaha pamer. Betapa tidak? Eco yang penulis sekaligus intelektual budaya massa itu memiliki lebih dari 50.000 buku mulai dari buku-buku abad 17 sampai modern.

Dalam buku ini baik de Tonnac maupun Eco tak berhenti pada sekedari pamer. Mereka bicara perihal peradaban yang dibangun dari buku. Mulai dari lukisan dinding gua sampai neorealisme itali, hieroglif hingga kode komputer dan bagaimana semestinya buku-buku diterjemahkan. Seperti yang kita tahu Eco merupakan salah satu orang yang membenci penerjemah yang ia anggap sebagai pencidera pemikiran dan kesusastraan. de Tonnac tentu bukan sembarangan ia memiliki 2.000 buku kuno dari 40.000 buku pribadi koleksinya.

Buku ini bisa jadi penting untuk melihat bagaimana dua raksasa intelektual modern bicara tentang sejarah literasi. Tentang bagaimana sebuah buku semestinya dimaknai dan diperlakukan, Meski, tentu saja, sikap angkuh dan priyayigung ala Eco yang menolak membaca sebuah teks kecuali dalam aslinya adalah sebuah pengecualian. Dalam buku ini, seperti yang dituturkan de Tonnac, fungsi buku tak lagi hanya sekedar sumber pengetahuan tapi juga adalah apresiasi peradaban. Seperti usaha menerjemahkan Waiting for Godot karya Samuel Becket dalam bahasa Inca kuno. Tapi siapa yang peduli?

8. 100 Buku Sastra yang Patut Dibaca Sebelum Dikuburkan

Buku yang disusun oleh Muhidin M Dahlan, An Ismanto Anton Kurnia, dan Taufik Rahzen merupakan buku yang berisi daftar ambisius soal kanonisasi bacaan sastra Indonesia. Ia bisa jadi sangat politis dan sangat personal. Namun melalui argumentasi mengapa tiap-tiap karya, dari 100 daftar yang diberikan, menjadi penting buku ini memberikan perspektif dan sebuah pemahaman dari kaca mata karya sastra soal sebuah zaman.

Anda bisa setuju dan tidak setuju perihal buku-buku yang tertuang dalam daftar ini. Saya pribadi menolak keberadaan Taufiq Ismail, bukan karena personal, namun sebagai penyair. Pencapaian estetik karyanya tak lebih baik daripad Abdul Hadi WM atau Emha Ainun Najib dalam bidang puisi sufi. Juga keberadaan Cintapucino yang dianggap menjadi tonggak penting kelahiran genre teenlit di Indonesia. Padahal sebelumnya genre itu, bagi saya, sudah masuk dalam kategori sastra populer yang digawangi oleh Marga T atau Mira W pada zamannya.

Buku ini bagi saya penting dibaca dan dimiliki untuk panduan navigasi awal bagi para pembaca yang hendak mengerti perihal sastra di Indonesia. Khususnya untuk menjawab keraguan dari Andrea Hirata yang mengatakan bahwa dalam 100 tahun terakhir tidak ada karya sastra Indonesia yang mendunia. Mungkin kita perlu memberi ia kado buku ini dan membiarkan ia menilai apakah dari sekian banyak penulis, selain dirinya, tak ada karya sastra yang disusun di Indonesia pantas diakui sebagai karya sekelas dunia.

9. The Man Who Loves Book So Much

Obsesi melahirkan kenekatan. Barangkali itu yang melatari mengapa menjadi alasan bagi John Charles Gilkey mencuri buku langka senilai  $100,000. Ia pula dengan bangga mengakui bahwa proses pencurian tersebut sebagai sebuah kesenian. Ia menilai apa yang dilakukannya adalah sebuah usaha pembuktian cinta. Apakah itu saja? Tidak. Gilkey mencuri bukan karena ingin memperoleh uang, lebih dari itu, ia mencuri sebagai usaha pemuasan obsesi diri. Baginya buku memiliki buku adalah sebuah candu.

Dalam buku ini Allison Hoover Bartlett menuliskan kisah seperti seorang detektif yang mencoba mengorek motif dan cerita dibalik pesakitan yang ditangkap dengan cara bertutur piawai. Ia menulis narasi seolah buku ini adalah laporan investigasi yang detil dan bernas. Salah satunya bagaimana Barlett berkisah soal Ken Sanders, seorang anggota asosiasi penjual buku antik yang menangkap Gilkey. Kisah mengalir seperti rodeo yang membuat kita bertemu dengan banyak istilah dan menariknya dunia buku.

Gilkey tentu saja tanpa malu mengakui segala obsesinya sebagai sebuah laku hidup. Sementara di sisi lain Sanders dipaksa lintang pukang berpikir bagaimana mengamankan komoditas literasinya ini dari tangan-tangan tak bertanggung jawab. Jika anda terobsesi pada buku barangkali Barlett bisa menjelaskan perasaan anda dengan menggunakan mulut Gilkey. Tapi tentu ini bukan ajakan untuk melakukan tindakan kriminal.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar