Selasa, 29 Oktober 2013

Mualaf

Bagi saya keimanan tidak datang dari langit. Ia lahir dari usaha mencari, memilah, mempertanyakan, meragukan dan menyimpulkan atas apa sebenarnya konsep Tuhan itu. Keimanan bukanlah hal yang melekat pada kita sejak lahir. Saya terlahir sebagai penganut agama Islam, tapi bukan berarti secara otomatis saya beriman kepada Allah. Saya diajarkan bahwa Allah adalah tuhan yang maha. Seringkali dengan wajah angker ia digambarkan menjadi keji, kejam dan tak berperasaan. Ia menciptakan neraka untuk mengutuk, menyiksa dan menista manusia yang melawannya.

Minggu, 27 Oktober 2013

Kematian Sebagai Piknik Yang Lain

Untuk Intan

Dear kamu. Perempuan hebat yang bisa (pura-pura) tertawa menghadapi kematian. Apa kabar? Saya. Saya mah selalu baik-baik saja. Hidup saya sudah pernah sampai pada titik nadir yang (semoga) tidak mungkin bia lebih blangsak daripada itu. Kita berdua barangkali sudah mengenal rupa kematian dan mau tidak mau harus mengakrabinya sebagai sebuah keseharian. Kamu dengan kematian ibumu aku dengan kematian kakakku. Tentu tak ada derajat pembeda dihadapan duka. Siapapun yang meninggal berhak kita tangisi. Sayang dalam agama yang kuanut aku dilarang meratap, toh kemudian aku berpikir, pekerjaan itu tidak ada gunanya.

Pernahkah kamu membaca buku The Mourning Diary karya Roland Barthes? Kuharap kau punya waktu untuk membacanya (ini agak tricky karena bukunya susah didapat) karena mungkin akan membantu. Buku itu berkisah tentang bagaimana Barthes bisa menghadapi kematian ibunya. Ia bercerita seperti orang yang bergumam, meracau dan mengeluh. Tidak ada struktur yang baku, semua mengalir dan lebih intim karena ia tak harus menjadi Barthes seorang pemikir tapi cukup menjadi Barthes seorang anak manusia. Di sini aku belajar, dihadapan kematian, akal pengetahuan seseorang tidaklah berguna.

Dear Intan. Sampai lupa menyapa. Apa kabar kamu di sana? Semoga baik baik saja. Semoga kamu selalu dalam keadaan yang segar, mudah tidur dan tidak susah buang air besar. Karena kamu tahu? Ada dua hal tertahan yang menyebalkan di jagat raya ini. Bersin dan keinginan pup. Bayangkan jika kau gemuk sepertiku, gemar makan tapi tidak juga buang air besar. Tentu hidup akan semakin sengsara. Kalau gajimu tertahan kau bisa pinjam uang dan seterusnya dan seterusnya. Tapi itu barangkali tidak seberapa sengsara daripada jatuh cinta namun tidak berani menunjukannya.

Intan yang baik, hei aku lupa siapa yang sepuh di antara kita, jadi kukira-kira saja kita sebaya. Apakah kau sedang sibuk hari minggu ini? Setiap hari bagiku adalah minggu. Karena kau tahu? Sebagai pengangguran hidupku tak jauh-jauh amat dari bermalas-malasan. Dan hei kenapa aku melantur soal hidupku? Tentu akan jadi absurd jika surat ini berbeda isinya dengan judul yang kuberikan. Maafkan, kepala penganggur sering berkelebat dengan ingatan dan bayangan lain. Ia tak bisa utuh dan fokus kecuali, ya tentu saja, sedang ditodong senapan atau dalam cumbu kekasih.

Aku percaya kematian bukan akhir. Tentu kau juga demikian. Aku bukan penganut ajaran Hindu (kapan-kapan ajari aku soal kematian dalam perspektif ini) dan bagaimana mereka menghadapi kematian. Tapi yang jelas sebagai umat Islam, terlebih pecinta Imam Ali dan Ahlul Baytnya (beberapa menyebut kami Syiah) kematian adalah pintu menuju kebahagiaan yang lain. Tentu bukan surga. Surga adalah apa yang akan kau raih setelah pengadilan dan hari akhir tiba. Kamu muslim percaya ada jeda antara dunia saat ini (fana) dan dunia yang kekal (akhirat) yaitu alam kubur.

Kematian, bagiku, adalah piknik yang lain. Kau tidak bisa mengukur segala sesuatu dari apa yang nampak. Meski sebagian dari diriku yang agnostik meragukan keberadaan alam sesudah kematian. Carl Gustav Jung (halah pake ngutip) dalam Life After Death hanyalah sebuah ide dari "sekumpulan ingatan, bayangan dan kelebatan kenangan dari waktu yang telah lampau dan terus menerus melekat di kepal kita," katanya. Tentu ini hanya sekedar perspektif saja. Jikapun demikian toh aku akan berusaha mengenang dan mengingat almarhum kakakku dari sudut kebahagiaannya saja.

Kebanyakan orang menganggap kematian adalah sebuah momen menyedihkan. Tapi bagi kaum Syiah, kematian adalah hal yang dirindukan. Ia adalah tiket untuk kemudian bisa bersatu dengan junjungannya. Keimananku belum sampai pada tahap ini. Umat Syiah meyakini bahwa menghadapi kematian (terutama dari para tiran) adalah memenuhi undangan untuk bertemu kekasih yang mereka puja. Dalam hal ini para Imam yang mengajarkan laku hidup prihatin.

Aku sendiri meragukan bahwa kematian (bukan prosesnya lho ya) adalah sesuatu yang seram. Kematian adalah sekedar kepergian yang lain. Bedanya yang ini tidak akan kembali lagi, tidak akan membalas mention kita dan barangkali tidak akan menjadi bodoh bersama lagi di karaoke. Kemudian kau dan aku harus bertanya lagi. Saat kematian siapa yang lebih egois? Mereka yang pergi karena memang itu harus atau kita yang memaksa ingin ditemani padahal juga tak pernah setia untuk ada. Kadangkala kematian adalah jalang paling masuk akal untuk bermufakat perihal kebahagiaan orang yang kita sayangi.

Tentu bohong kalau aku bilang hari ini, bahkan selepas dua tahun kematian kakak, aku sudah ikhlas. Mustahil menjadi ikhlas dalam kehilangan. Kita telah lama diajarkan untuk menyimpan, menerima dan memiliki. Tapi jarang sekali diajari untuk merelakan, memberi dan mengikhlaskan. Hidup tak pernah memiliki panduan lengkap yang efektif menghadapi rasa pedih atas kekosongan akibat ditinggalkan. Toh ini tak membuat kita untuk berhenti hidup bukan? Pada beberapa derajat kematian mengajarkan kita untuk bersiap dan tegar. Dengan cara paling nyeri.

Mempersiapkan hidup setelah kematian juga tidak mudah. Butuh waktu berbulan-bulan, ada yang menahun, untuk bisa sekedar tegak setelah dihajar kematian. Aku begitu, entah kamu. Tapi Intan. Anggap saja begini, kematian adalah plesir. Kau hanya bisa mendoakan (apakah ada konsep doa dalam Hindu?) bagi mereka yang mati agar piknik mereka menyenangkan. Karena kamu tahu? Bahkan dalam piknik terkadang ada kesialan yang terjadi. Kita yang tak bisa ikut pergi piknik tentu hanya bisa berharap semuanya baik-baik saja. Kalau pun ada yang bisa dilakukan ya berdoa, berdoalah dengan panjang, detil, jelas dan sebanyak-banyaknya.

Aku percaya yang pergi juga bisa merasakan ketidakrelaan kita, betapa sebenarnya mereka juga tidak ingin pergi. Tapi keadaan, membuat apa boleh bikin, mereka harus angkat jangkar dan pergi. Maka kurangi kekhawatiran mereka dengan menjalani hidup kita sebaik-baiknya. Toh mereka yang pergi juga bisa melihat kita di kejauhan meski kita tak bisa melihat mereka. Dengan menjalani hidup dengan bahagia, dengan tidak lupa makan dan mandi, kita telah memenuhi keinginan mereka untuk bahagia.

Itu saja mungkin. Semoga berkenan. Anti klimaks ya? Sama aku pikir juga gitu. Nanti akan kutulis lagi surat yang lebih baik. Sekian.

Sabtu, 26 Oktober 2013

Yang Kesepian

Tidak ada satupun yang lebih kesepian dan dongkol daripada Tuhan. Kita pasti kenal, mungkin malah menjadi salah satunya, orang-orang yang merasa tahu keinginan dan kehendak Tuhan. Padahal mengenali Ia yang agung adalah usaha abadi mustahil dilakukan dalam satu rentang waktu kehidupan. Banyak hal yang menjadi alasannya. Pertama kita bukan Tuhan itu sendiri, yang kedua kita bukan nabi atau rasul yang jelas-jelas bisa berkomunikasi (meski tidak langsung) kepada Nya. Sebagai manusia, terlebih sebagai umat, kita hanya bisa mengira-ngira apa kehendak dan kemauan daripada Tuhan.

Tentu menjadi hal yang kepalang rumit hari ini untuk melakukan itu semua. Ada banyak orang, atau kelompok anda pilih saja, yang merasa punya legitimasi dan pewaris tunggal penafsir dan penerjemah keinginan tuhan (dengan t kecil). Legitimasi ini lahir dari pemahaman parsial dan sempit dari teks sebagai satu-satunya cara berkomunikasi dengan tuhan. Sayangnya, seperti yang kita ketahui, komunikasi semacam ini hanya berlaku satu arah. Kita hanya bisa memperkirakan sebuah kebenaran apabila itu dilakukan melalui monolog.

Sebelum ditemukannya teks dalam kitab suci, manusia hanya bisa mendengar tentang Tuhan dari mereka yang diutus Nya. Lantas kita menemukan mesin cetak, peradaban di bumi setelahnya tidak akan pernah sama lagi. Penyebaran pengetahuan menjadi lebih terang. Tanpa ada pengetahuan dan nilai-nilai humanisme  peradaban manusia akan musnah. Ilmu pengetahuan menjadi barang yang tak lagi menjadi hak istimewa kaum agamawan. Siapapun, yang memiliki akses terhadap buku, kertas atau selebaran apapun. Dapat mengeyam pengetahuan, pendidikan dan informasi tentang Tuhan.

Manusia-manusia determinis yang mengira bisa mengerti Tuhan hanya dari sebuah teks adalah mahluk yang sombong. Lebih sombong daripada mereka yang jatuh cinta tapi menjaga diri untuk tidak mengucapkannya. Padahal dari ribuan tahun peradaban agama kita hanya bisa meraba dari apa itu yang disebut kehendak Tuhan. Oligarki suci yang dipegang oleh kaum ulama dan mujtahid memberikan legitimasi bahwa hanya mereka yang terpilih saja yang bisa menerjemahkan kalimat Tuhan. Tapi hal ini pun tidak membuat beberapa manusia menjadi rendah hati, mengingat ketidaktahuan adalah kutukan, untuk sok tahu dan menganggap bahwa dengan menyanding satu tafsir bisa menafikan tafsir yang lain.

Kemudian kita mengenal Liturgi. Bangsa Yunani menyebutnya sebagai leitourgia secara etimologi berasal dari laos (artinya rakyat) dan ergon (artinya pekerjaan). Liturgi adalah peribadatan masal dimana seluruh anggota jemaah ambil bagian dalam usaha menyembah dan memuliakan tuhan. Idealnya liturgi adalah sebuah pertunjukan. Umat menjadi pemainnya, pemimpin agama menjadi konduktor dan Tuhan jadi penontonnya. Dengan demikian Tuhan tak perlu kesepian. Ia bisa tenang menjadi juri sekaligus penentu apakah si pemain berbakat dalam lakonnya, benarkah konduktor dalam memimpin dan bagaimana jalannya pertunjukan berlangsung.

Kiranya jika Ia berkenan, saat kita berpikir kita seolah tahu apa yang Tuhan pikir. Di satu titik di jagat raya ini. Ia tertawa keras.

Jumat, 25 Oktober 2013

Semacam Pesan Untuk Gadis Kesayangan

Jika aku menjadi lelakimu kelak. Aku tak akan membiarkanmu sendirian makan. Tidak jika aku sedang bersamamamu. Mungkin tidak menyuapimu, kau sudah dewasa dan bisa makan sendiri, tapi mungkin akan menikmati melihatmu makan. Lantas menyeka sisa saus di bibirmu, krim yang belepotan di pipimu atau menyelesaikan sisa nasi goreng jumbo istimewa yang kau pesan dengan gegabah. Aku akan menghabiskannya meski aku sendiri sudah kenyang. Karena mungkin, siapa tahu, dalam sisa nasi itu ada berkah tuhan untukmu yang dititipkan padaku.

Kamis, 24 Oktober 2013

Hatimu Bianglala Pasar Malam

Hatimu adalah bianglala. Pada pasar malam pertama bulan paling terang kau biasanya berputar. Cahayanya merah, kuning dan sesekali biru. Tiang tiangnya kurus dari baja pilihan anti karat. Kursinya dari kayu cendana. Setiap aku mengendarainya aku akan lupa cara menangis. Pelan pelan kesedihanku akan gugur seperti buih sabun dibasuh air.

Hatimu bianglala paling cerah. Kanak-kanak riang gembira bermain di teras hatimu. Gulali dan permen menjadi among tamu. Rindu adalah tiketnya gelak tawa adalah jaminannya. Lantas pada setiap putaran kau akan diajari cara tersenyum. Lantas mengabadikan keriuhan jiwamu. Hatimu terlalu ramah untuk mengabadikan amarah. Pada setiap hati yang hancur bianglalamu menawarkan pelukan dan teh hangat.

Aku sekarat menunggumu. Bianglalamu selalu penuh dengan kecemasan-kecemasan orang lain. Sementara kau membiarkan hatimu, bianglala, pelan pelan keropos dari dalam. Apakah kau akan terus pura pura kuat? Pura-pura menjadi karang yang tegar lantas terus menerus membahagiakan orang lain? Hatimu butuh diurus. Petugas bianglala yang cakap dan tegas. Yang paham kapan harus memberi jeda dan kapan harus memperbaiki kerusakan.

Hatimu bianglala. Keriuhan pasar malam tak membuatmu kurang bersinar.

Tiga sajak


di ruang maya

Pada sebuah amsal. Doa para pendosa,
via dolorosa, dan api penyucian. Mazmur suci
adalah rindu. Sementara
amarah
adalah kutuk haru.
apa yang lebih kalut, dari
sudut alismu
yang gugur. ketika malam tiba
guguk mengeong, menirukan suara

adzan di kejauhan.

12.33

Ibu yang baik. ini pesan
bukan soal batuk angin apalagi
meminta pulsa dan atau kiriman uang saku yang
terlambat datang. tapi
soal rindu yang berjelaga
di antaranya ada aku, doa-doamu dan
Tuhan yang kelelahan

Umaamika

Eka itu satu. satunya tunggal. bukan dua
kalau dua itu dwi. Dwi itu tidak tiga
ya jelas
kamu bukan matematika
kamu itu aku
memayu hayuning ati
sesudah ditulis lalu
selesai

Rabu, 23 Oktober 2013

Ketika Isi Kepala Mendidih

"Kamu itu keras kepala. Sudah kubilang jangan, malah menantang. Akhirnya luka bukan," katamu sambil berkacak pinggang.

Sejak kapan orang kasmaran menggunakan otak dalam berpikir? Jadi ceritanya sejak pagi aku sedang bingung. Isi kepalaku berjibaku antara menyelesaikan pekerjaan dan bermalas malasan. Siapa yang tak suka malas? Lagi pula malas itu menyenangkan. Semacam usaha diam dan menuruti nafsu. Memenuhi keinginan nafsu adalah hal yang melenakan. Tapi sedari tadi aku resah. Kenapa bermalasan tak membuatku tenang. Aku malah dalam kebingungan dan kesakitan ini membayangkan prosa. Semacam sadurann dari sajak orang yang kupelintir isinya.

Jika benar cinta adalah mimpi buruk lantas mengapa kau kaukenang masa kanakmu? Saat dimana kau bersitegang dengan mengadu nyali melawan perintah siapapun. Kita pernah bermimpi mengenang kunangkunang yang nasibnya telah binasa pematang. Mengingat bagaimana dahulu kita berusaha menaruhnya dalam toples sampai fajar datang, hingga cahya terakhir mereka redup perlahan.

Itu, itu sajak orang yang kusadur lalu aku akui sebagai karya. Tak apalah. Toh si penyair kawanku sendiri. Kupinjam barang selarik dua larik sebait dua bait tak akan bikin ia miskin. Karena aku butuh drama. Drama yang tengik. Drama yang bisa bikin aku lupa bagian luka itu sendiri. Karena luka itu membuatku ingat pertanyaan brengsek. "Mengapa harus terpaut pada dirimu, jika terus menerus kau melawanku?" Barangkali jawabannya ada pada Google beserta tiap inci neuron yang membuat kita mengerti. "Pernah, sekali waktu akan kukirai juga yang dulu-dulu, dan lacur: dari mana mesti bertolak segala aku?"

"Royal Weding Gusti Kanjeng Raden siapa namanya itu udah mulai. Kamu kapan menikah?" samar samar suara ibu menggema.

Lho bagaimana mau menikah? Bapakku berbini empat mencerai ibuku, kakaku bercerai karena alasan keyakinan. Kok ndadak malah mau nuntut aku nikah? Itu kan sebuah hil yang mustahal. Kita saling lupa memaafkan ketololan, pun tetap membingkai sekerdil apa kenangan. Kemudian adalah hidup, masa lalu dan kini yang melulu kurekam keberadaannya. Bagaimana bapak dan ibu baku hantam dan bagaiman hidup membuatku mendendam.

"Waduh. Serius amat jon omongan lu?" kata seorang kenalan.

"Ye upil biawak. Nyamber aja tulisan orang," jawabku cuek.

Tentang Jatuh Cinta Yang Tak Sakit Sakit Amat

Kita berdua saling mencintai. Iya. Kamu dan aku. Sama-sama sayang. Sama-sama membutuhkan. Sama-sama menginginkan dan sama-sama mengumi. Aku dengan segala kecerobohanku dan kau dengan segala kedisiplinanmu. Tapi ya itu kita, ah mungkin hanya kau saja, berpikir bahwa kita tidak mungkin bisa bersatu. Terlalu banyak hal yang dikorbankan dan terlalu banyak yang disakiti agar kita bisa bersama. Itulah kau, seseorang yang selalu ingin sempurna. Manusia yang ingin menyenangkan siapa saja dan tak ingin menyakiti.

Selasa, 22 Oktober 2013

Terang Dalam Gelap


Dalam sepenggal puisi kelam Bertold Brecht yang berjudul to posterity, tertulis sebuah pesan yang kuat. “Indeed I live in the dark ages! A guileless word is an absurdity. A smooth forehead betoken.” bahwa pada satu masa kita akan menyerah pada rasa takut, sementara negativitas adalah keseharian yang lain.  Tapi benarkah kita akan menyerah pada kegelapan? Saya percaya kita dibekali pemikiran untuk melawan segala yang tak kita ketahui. Seperti Ahmad Wahib, seorang pemikir muda subversif, yang pemikirannya telah melampaui masa ia hidup.

Pada catatannya yang tertanggal 16 Agustus 1970 misalnya. Wahib muda telah mengkritisi agama dan politik sebagai sebuah bangunan utuh. Baginya tak ada yang tak bisa dibongkar dan dipertanyakan lagi nilanya. Tentu saja usaha ini  harus punya nilai dan tujuan yang jelas. Bukan sekedar kritik kosong tanpa ada upaya perbaikan. "Cara bersikap kita terhadap ajaran Islam, Qur’an dan lain-lain sebagaimana terhadap Pancasila harus berubah," katanya "yaitu dari sikap sebagai insan otoriter menjadi sikap insan merdeka, yaitu insan yang produktif, analitis dan kreatif."

Sejalan dengan puisi Brecht, ketakutan Wahib hingga hari ini masih sangat relevan untuk dimaknai sebagai kalatida. Zaman yang tenggelam dalam teror. Zaman dimana menjadi berbeda adalah kesediaan untuk dipancung dan disingkirkan. Tapi kita semua pasti sepakat jika setiap zaman memiliki pembaharunya sendiri. Melalui “Pergolakan Pemikiran Islam” sedang bertanya-tanya tentang zaman yang muram. Ia meletup lebih keras dari petasan, meragu terhadap segala yang pakem dan kesepian karena segala pemikirannya sendiri. Ia manusia yang disingkirkan zaman.

Buku Ahmad Wahib menjadi penting bukan lagi dibaca sebagai sebuah epos upaya pembaharuan nilai-nilai dogmatis Islam. Tapi sebagai memoar tentang bagaimana manusia yang menyadari dirinya dhaif dan naif untuk mau bertanya. Saya tak benar benar memahami mengapa ia harus peduli kepada rupa zaman yang bopeng. Namun jika dengan kita merayakan kebodohan dan kebencian, maka mencari dan bertanya adalah upaya untuk memperbaiki keadaan. Wahib sadar itu dalam catatan hariannya.

Pada 9 Juni 1969 ia menuliskan sebuah refleksi teologis yang sangat dalam. Ia bertanya pada tuhan perihal oemahaman kita terhadap keyakinan. Bagi Wahib, sebelum meyakini, manusia harus terlebih dahulu meragu. Karena keraguan menuntun pada usaha mencari tahu dan usaha itu akan berujung pada keyakinan yang tidak bergoyah. Wahib menulis "Tuhan, bisakah aku menerima hukum-Mu tanpa meragukannya lebih dahulu? Karena itu Tuhan, maklumilah lebih dulu bila aku masih ragu akan kebenaran hukum-hukum-Mu. Jika Engkau tak suka hal itu, berilah aku pengertian-pengertian sehingga keraguan itu hilang.

Pembacaan kita hari ini menganggap pemikiran semacam itru adalah sebuah tindakan radikal. Karena selama ini kita meyakini agama dan keyakinan sebagai berkah dari tuhan yang diterima apa adanya. Lebih jauh usaha untuk bertanya dan berdialektika dibawa Wahib melalui pertanyaan-pertanyaan yang lebih dalam. Pola bertanya lantas menjawab ini adalah ciri khas dari perenungan filsafat. Melalui pertanyaan-pertanyaan manusia didorong untuk berpikir. Melalui pikiran manusia mencari pembenaran dan pembenaran itu membuahkan kebijaksanaan.

"Tuhan, murkakah Engkau bila aku berbicara dengan hati dan otak yang bebas, hati dan otak sendiri yang telah Engkau berikan kepadaku dengan kemampuan bebasnya sekali? Tuhan, aku ingin bertanya pada Engkau dalam suasana bebas. Aku percaya, Engkau tidak hanya benci pada ucapan-ucapan yang munafik, tapi juga benci pada pikiran-pikiran yang munafik, yaitu pikiran-pikiran yang tidak berani memikirkan yang timbul dalam pikirannya, atau pikiran yang pura-pura tidak tahu akan pikirannya sendiri."

Catatan harian yang disusun oleh Ahmad Wahib tidak dibuat untuk melakukan perubahan besar. Ia hanya sebuah goresan pena yang muram, berjarak, ragu dan bertanya-tanya. Ia tak berusaha membuat dunia lebih baik dengan idealisme yang muluk, ia bicara tentang kesederhanaan, tentang apa yang ia rasakan dan alami. Hidup barangkali seperti itu, merasakan keresahan, menuliskannya lantas berusaha untuk tidak menjadi bagian dari skenario brengsek hidup yang monoton. Wahib, seperti juga Soe Hok Gie dan Anne Frank, menuliskan memoar bukan untuk glorifikasi diri. Ia menulis untuk catatan agar dirinya tak menjadi bagian yang brengsek tadi.

"Kita orang Islam belum mampu menerjemahkan kebenaran ajaran Islam dalam suatu program pencapaian. Antara ultimate values dalam ajaran Islam dengan kondisi sekarang memerlukan penerjemahan-penerjemahan." katanya pada 17 Januari 1969. Ini adalah upaya dingin bagi seorang umat beragama. Karena Wahib ingin memisahkan antara islam sebagai sebuah ajaran teologis dan islam sebagai sebuah jalan hidup. Baginya akibat pembacaan yang cenderung tradisional dan tekstual, umat islam menjadi "orang yang selalu ketinggalan dalam usaha pencapaian dan cenderung ekslusif."

Memoar Wahib juga memberikan kita sebuah pandangan pada sebuah zaman. Bahwa pada satu waktu keadaan bisa sangat pelik dan menunut seseorang tetap waras adalah sebuah kemustahilan. Kita mengenali sebuah buku sebagai sebuah representasi pengetahuan. Tapi ia juga bisa menjadi petasan, obor dan pendobrak yang meruntuhkan dogma. Memoar pribadi yang awalnya hanya teronggok menjadi catatan yang sunyi, intim dan personal. Bisa jadi sebuah letupan baru kanal yang menjadikan keraguan-keraguan hilang. Ia adalah mahluk hidup lain yang menulari kita untuk tidak tunduk pada ketakutan-ketakutan.

Pada akhirnya catatan pribadi adalah representasi dari sikap paling sederhana kita terhadap suatu hal. Ia tak harus besar, tak harus rumit dan juga tak mesti serius. Gelap masa yang ditakuti Brecht adalah zaman yang menghamba pada kezaliman fikir. Sementara kezaliman semacam ini hanya bisa ditaklukan dengan menyadari bahwa sebagai manusia kita dhaif dan lemah. Wahib menemukan caranya sendiri untuk tak menyerah pada ketakutan itu. “Dengan membaca aku melepaskan diri dari kenyataan yaitu kepahitan hidup. Tanpa membaca aku tenggelam sedih,” tulisnya pada 20 April 1970.

Hujan Lain Sapardi

Tak ada yang lebih bijak dari Hujan Bulan Juni? Ah kata siapa. Banyak orang barangkali lupa jika Sapardi bicara banyak hal yang lebih bijak dari sekedar hujan, ia pernah berkisah soal November yang penuh perjuangan, ia pernah pula menyapa Selamat Pagi Indonesia, tentang keinginan mencintai yang sederhana, tapi kita tak akan lupa jika Sapardi juga punya mata pisau dan duka yang abadi. Ada banyak yang diceritakan Sapardi dengan liris dan tak melulu hanya gosip.

Tapi mengapa hanya Hujan Bulan Juni yang selalu kita ingat kehadirannya? "tajam hujanmu," kata Sapardi dalam Kumpulan Sajak Perahu Kertas, "...sudah terlanjur mencintaimu:" sehingga "payung terbuka yang bergoyang-goyang di tangan kananku,:" lantas membuat " dua-tiga patah kata yang mengganjal di tenggorokan," karena "deras dinginmu, sembilu hujanmu". Ia menjadikan hujan sebagai seorang karib yang tak habis diceritakan. Barangkali hujan memang selalu bertutur soal kisah yang jamak, namun hanya sedikit yang mau mendengar dan peduli.

Buku kumpulan puisi Hujan Bulan Juni diterbitkan pertama kali oleh Grasindo pada 1994. Namun Sajak-sajak tentang dan bertemakan hujan juga terdapat dalam buku puisi lain yang pernah terbit sebelumnya, seperti: duka-Mu abadi (1969), Mata Pisau (1974), Akuarium (1974), dan Perahu Kertas (1983). Selain karya tersebut Sapardi juga menuliskan beberapa karya apresiasi sastra. Priyayi abangan : dunia novel jawa tahun 1950-an yang disusun berdasarkan tesisnya, juga Sihir Rendra: permainan makna yang ia tulis sebagai apresiasi kepada si burung Merak.

Sapardi tak melulu menulis tentang hujan. Meski dalam puisi hujan yang ia bikin selalu ada sihir yang membuat kita patuh dan takluk. Dalam banyak cerita kita percaya suasana yang dibawa mendung itu melahirkan kehidupan. Namun "Hujan" katanya dalam sajak Sihir Hujan tak hanya "mengenal baik pohon, jalan, dan selokan" Tapi hujan juga punya keahlian lain, punya wajah laih, punya ciri yang membuat kita manusia "kau akan mendengarnya meski sudah kaututup pintu dan jendela."

Hujan, yang tahu benar membeda-bedakan, telah jatuh di pohon, jalan, dan selokan
- - menyihirmu agar sama sekali tak sempat mengaduh waktu menangkap wahyu yang harus kaurahasiakan

Tapi bukan hanya si penyair sepuh ini yang terinspirasi dengan hujan. Setidaknya dengan sajak yang ia bikin, Sapardi membuat orang lain berkarya sebagai sebuah usaha apresiasi. Ananda Sukarlan misalnya pada awal 2008 menggelar konser bertajuk "Ars Amatoria" yang berisi interpretasinya atas puisi-puisinya. Juga seperti yang dilakukan dalam album "Hujan Bulan Juni" (1990) dari duet Reda dan Ari Malibum, album "Hujan Dalam Komposisi" (1996) dari duet Reda dan Ari, album "Gadis Kecil" dari duet Dua Ibu dan album "Becoming Dew" (2007) dari duet Reda dan Ari Malibu.

Ada pula satu lagu dari album "Soundtrack Cinta dalam Sepotong Roti", berjudul 'Aku Ingin', diambil dari sajak Sapardi dengan judul sama, digarap bersama Dwiki Dharmawan dan AGS Arya Dwipayana, dibawakan oleh Ratna Octaviani. Seluruh pencapaian ini memang sangat luarbiasa. Karena tak hanya pada kazanah seni musik, puisi hujan Sapardi telah berkembang hingga pada seni musik dan seni lukis. Seperti yang dibuat oleh Mansjur Daman. komikus silat pencipta serial Mandala.

Pada 11 April 2013, dalam pembukaan Retro Man 50 Tahun Berkarya di Bentara Budaya Jakarta, Mansjur menginterpertasi puisi Sapardi Djoko Damono Hujan di Bulan Juni menjadi sebuah komik. Baginya puisi merupakan penggambaran yang paripurna tentang sebuah kepergian dan perpisahan. Dalam komiknya itu Mansjur menggambarkan hujan sebagai sebuah perpisahan yang subtil dan agung.

A Teeuw, kritikus dan pemerhati sastra Indonesia asal Belanda, menyebut Sapardi telah menciptakan genre baru dalam kesusasteraan Indonesia. Pernyataan ini boleh jadi terlalu tendensius, mengingat sebagai penyair bergaya aku liris. Hampir tak ada kebaruan yang dibawa olehnya selain usaha untuk membuat aku penyair dan lingkungan menjadi lebih akrab. Meski menurut Goenawan Mohammad, puisi Sapardi adalah selayaknya dicemburui dan langsung buat kita bertanya, mengapa saya tidak menulis seperti itu!

Sementara itu Mangasa Sotarduga Hutagalung salah satu pendiri dan dedengkot kritikus sastra mazhab Rawamangun pernah membuat heboh kalangan sastrawan setelah ceramahnya di Fakultas Sastra UI pada 24 November 1973. Baginya penyair Indonesia terkemuka saat itu adalah Subagio Sastrowardoyo, baru menyusul kemudian Goenawan Mohamad, Sapardi Djoko Damono, dan WS Rendra. Meski demikian hal ini tak membuat kepenyairan Sapardi menjadi kecil.

Oleh karena itu sebagai upaya apresiasi. Saya bagikan beberapa puisi hujan yang barangkali kurang terkenal dibandingkan Hujan Bulan Juni yang telah masyur itu. Sebagian berasal dari kumpulan puisi Mata Pisau (1982) dan kumpulan sajak Perahu Kertas (1983). Keduanya diterbitkan oleh Balai Pustaka. Semoga bermanfaat bagi kalian para pembaca.

Hujan Dalam Komposisi I

"Apakah yang kautangkap dari swara hujan, dari daun-daun bugenvil basah yang teratur mengetuk jendela? Apakah yang kautangkap dari bau tanah, dari ricik air yang turun di selokan?"
Ia membayangkan hubungan gaib antara tanah dan hujan,
membanyangkan rahasia daun basah serta ketukan yang berulang.
"Tak ada. Kecuali bayang-bayangmu sendiri yang di balik pintu memimpikan ketukan itu, memimpikan sapa di pinggir hujan, memimpikan bisik yang membersit dari titik air menggelincir dari daun dekat jendela itu. Atau memimpikan semacam suku kata yang akan mengantarmu tidur."
barangkali sudah terlalu sering dia mendegarnya dan tak lagi mengenalnya.

1969

Hujan Dalam Komposisi II

Apakah yang kita harapkan dari hujan? Mula-mula ia di udara tinggi, ringan dan bebas; lalu mengkristal dalam dingin; kemudian melayang jatuh ketika tercium bau bumi; dan menimpa pohon jambu itu; tergelincir dari daun-daun, melenting di atas genting, tumpah di pekarangan rumah dan jatuh ke bumi.

Apakah yang kita harapkan? Hujan juga jatuh di jalan yang panjang, menyusurnya, dan tergelincir masuk selokan kecil, mericik swaranya, menyusur selokan, terus mericik sejak sore, mericik juga di malam gelap ini, bercakap tentang lautan.

Apakah? Mungkin ada juga hujan yang jatuh di lautan. Selamat tidur.

1969

Hujan Dalam Komposisi III

dan tik-tok jam itu kita indera kembali akhirnya
terpisah dari hujan

1969

Percakapan Malam Hujan:

Hujan, yang mengenakan mantel, sepatu panjang, dan
payung, berdiri di samping tiang listrik. Katanya
kepada lampu jalan, "Tutup matamu dan tidurlah. Biar
kujaga malam."

"Kau hujan memang suka serba kelam serba gaib serba
suara desah; asalmu dari laut, langit, dan bumi;
kembalilah, jangan menggodaku tidur. Aku sahabat
manusia. Ia suka terang."


dan kesedihan yang sering terasa saat sendiri... atau apakah kesedihan memang untuk dinikmati sendiri?
entah..


Pada Suatu Pagi Hari:

Maka pada suatu pagi hari ia ingin sekali menangis
sambil berjalan tunduk sepanjang lorong itu. Ia ingin pagi
itu hujan turun rintik-rintik dan lorong sepi agar ia bisa
berjalan sendiri saja sambil menangis dan tak ada orang yang
bertanya kenapa.

Ia tidak ingin menjerit-jerit berteriak-teriak mengamuk
memecahkan cermin membakar tempat tidur. Ia hanya ingin
menangis lirih saja sambil berjalan sendiri dalam hujan
rintik-rintik di lorong sepi pada suatu pagi.

1973

Kuterka Gerimis:

Kuterka gerimis mulai gugur
Kaukah yang melintas di antara korek api dan ujung rokokku
sambil melepaskan isarat yang sudah sejak lama kulupakan kuncinya itu
Seperti nanah yang meleleh dari ujung-ujung jarum jam dinding yang berhimpit ke atas itu
Seperti badai rintik-rintik yang di luar itu

1982.