Minggu, 27 Oktober 2013

Kematian Sebagai Piknik Yang Lain

Untuk Intan

Dear kamu. Perempuan hebat yang bisa (pura-pura) tertawa menghadapi kematian. Apa kabar? Saya. Saya mah selalu baik-baik saja. Hidup saya sudah pernah sampai pada titik nadir yang (semoga) tidak mungkin bia lebih blangsak daripada itu. Kita berdua barangkali sudah mengenal rupa kematian dan mau tidak mau harus mengakrabinya sebagai sebuah keseharian. Kamu dengan kematian ibumu aku dengan kematian kakakku. Tentu tak ada derajat pembeda dihadapan duka. Siapapun yang meninggal berhak kita tangisi. Sayang dalam agama yang kuanut aku dilarang meratap, toh kemudian aku berpikir, pekerjaan itu tidak ada gunanya.

Pernahkah kamu membaca buku The Mourning Diary karya Roland Barthes? Kuharap kau punya waktu untuk membacanya (ini agak tricky karena bukunya susah didapat) karena mungkin akan membantu. Buku itu berkisah tentang bagaimana Barthes bisa menghadapi kematian ibunya. Ia bercerita seperti orang yang bergumam, meracau dan mengeluh. Tidak ada struktur yang baku, semua mengalir dan lebih intim karena ia tak harus menjadi Barthes seorang pemikir tapi cukup menjadi Barthes seorang anak manusia. Di sini aku belajar, dihadapan kematian, akal pengetahuan seseorang tidaklah berguna.

Dear Intan. Sampai lupa menyapa. Apa kabar kamu di sana? Semoga baik baik saja. Semoga kamu selalu dalam keadaan yang segar, mudah tidur dan tidak susah buang air besar. Karena kamu tahu? Ada dua hal tertahan yang menyebalkan di jagat raya ini. Bersin dan keinginan pup. Bayangkan jika kau gemuk sepertiku, gemar makan tapi tidak juga buang air besar. Tentu hidup akan semakin sengsara. Kalau gajimu tertahan kau bisa pinjam uang dan seterusnya dan seterusnya. Tapi itu barangkali tidak seberapa sengsara daripada jatuh cinta namun tidak berani menunjukannya.

Intan yang baik, hei aku lupa siapa yang sepuh di antara kita, jadi kukira-kira saja kita sebaya. Apakah kau sedang sibuk hari minggu ini? Setiap hari bagiku adalah minggu. Karena kau tahu? Sebagai pengangguran hidupku tak jauh-jauh amat dari bermalas-malasan. Dan hei kenapa aku melantur soal hidupku? Tentu akan jadi absurd jika surat ini berbeda isinya dengan judul yang kuberikan. Maafkan, kepala penganggur sering berkelebat dengan ingatan dan bayangan lain. Ia tak bisa utuh dan fokus kecuali, ya tentu saja, sedang ditodong senapan atau dalam cumbu kekasih.

Aku percaya kematian bukan akhir. Tentu kau juga demikian. Aku bukan penganut ajaran Hindu (kapan-kapan ajari aku soal kematian dalam perspektif ini) dan bagaimana mereka menghadapi kematian. Tapi yang jelas sebagai umat Islam, terlebih pecinta Imam Ali dan Ahlul Baytnya (beberapa menyebut kami Syiah) kematian adalah pintu menuju kebahagiaan yang lain. Tentu bukan surga. Surga adalah apa yang akan kau raih setelah pengadilan dan hari akhir tiba. Kamu muslim percaya ada jeda antara dunia saat ini (fana) dan dunia yang kekal (akhirat) yaitu alam kubur.

Kematian, bagiku, adalah piknik yang lain. Kau tidak bisa mengukur segala sesuatu dari apa yang nampak. Meski sebagian dari diriku yang agnostik meragukan keberadaan alam sesudah kematian. Carl Gustav Jung (halah pake ngutip) dalam Life After Death hanyalah sebuah ide dari "sekumpulan ingatan, bayangan dan kelebatan kenangan dari waktu yang telah lampau dan terus menerus melekat di kepal kita," katanya. Tentu ini hanya sekedar perspektif saja. Jikapun demikian toh aku akan berusaha mengenang dan mengingat almarhum kakakku dari sudut kebahagiaannya saja.

Kebanyakan orang menganggap kematian adalah sebuah momen menyedihkan. Tapi bagi kaum Syiah, kematian adalah hal yang dirindukan. Ia adalah tiket untuk kemudian bisa bersatu dengan junjungannya. Keimananku belum sampai pada tahap ini. Umat Syiah meyakini bahwa menghadapi kematian (terutama dari para tiran) adalah memenuhi undangan untuk bertemu kekasih yang mereka puja. Dalam hal ini para Imam yang mengajarkan laku hidup prihatin.

Aku sendiri meragukan bahwa kematian (bukan prosesnya lho ya) adalah sesuatu yang seram. Kematian adalah sekedar kepergian yang lain. Bedanya yang ini tidak akan kembali lagi, tidak akan membalas mention kita dan barangkali tidak akan menjadi bodoh bersama lagi di karaoke. Kemudian kau dan aku harus bertanya lagi. Saat kematian siapa yang lebih egois? Mereka yang pergi karena memang itu harus atau kita yang memaksa ingin ditemani padahal juga tak pernah setia untuk ada. Kadangkala kematian adalah jalang paling masuk akal untuk bermufakat perihal kebahagiaan orang yang kita sayangi.

Tentu bohong kalau aku bilang hari ini, bahkan selepas dua tahun kematian kakak, aku sudah ikhlas. Mustahil menjadi ikhlas dalam kehilangan. Kita telah lama diajarkan untuk menyimpan, menerima dan memiliki. Tapi jarang sekali diajari untuk merelakan, memberi dan mengikhlaskan. Hidup tak pernah memiliki panduan lengkap yang efektif menghadapi rasa pedih atas kekosongan akibat ditinggalkan. Toh ini tak membuat kita untuk berhenti hidup bukan? Pada beberapa derajat kematian mengajarkan kita untuk bersiap dan tegar. Dengan cara paling nyeri.

Mempersiapkan hidup setelah kematian juga tidak mudah. Butuh waktu berbulan-bulan, ada yang menahun, untuk bisa sekedar tegak setelah dihajar kematian. Aku begitu, entah kamu. Tapi Intan. Anggap saja begini, kematian adalah plesir. Kau hanya bisa mendoakan (apakah ada konsep doa dalam Hindu?) bagi mereka yang mati agar piknik mereka menyenangkan. Karena kamu tahu? Bahkan dalam piknik terkadang ada kesialan yang terjadi. Kita yang tak bisa ikut pergi piknik tentu hanya bisa berharap semuanya baik-baik saja. Kalau pun ada yang bisa dilakukan ya berdoa, berdoalah dengan panjang, detil, jelas dan sebanyak-banyaknya.

Aku percaya yang pergi juga bisa merasakan ketidakrelaan kita, betapa sebenarnya mereka juga tidak ingin pergi. Tapi keadaan, membuat apa boleh bikin, mereka harus angkat jangkar dan pergi. Maka kurangi kekhawatiran mereka dengan menjalani hidup kita sebaik-baiknya. Toh mereka yang pergi juga bisa melihat kita di kejauhan meski kita tak bisa melihat mereka. Dengan menjalani hidup dengan bahagia, dengan tidak lupa makan dan mandi, kita telah memenuhi keinginan mereka untuk bahagia.

Itu saja mungkin. Semoga berkenan. Anti klimaks ya? Sama aku pikir juga gitu. Nanti akan kutulis lagi surat yang lebih baik. Sekian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar