Rabu, 23 Oktober 2013

Ketika Isi Kepala Mendidih

"Kamu itu keras kepala. Sudah kubilang jangan, malah menantang. Akhirnya luka bukan," katamu sambil berkacak pinggang.

Sejak kapan orang kasmaran menggunakan otak dalam berpikir? Jadi ceritanya sejak pagi aku sedang bingung. Isi kepalaku berjibaku antara menyelesaikan pekerjaan dan bermalas malasan. Siapa yang tak suka malas? Lagi pula malas itu menyenangkan. Semacam usaha diam dan menuruti nafsu. Memenuhi keinginan nafsu adalah hal yang melenakan. Tapi sedari tadi aku resah. Kenapa bermalasan tak membuatku tenang. Aku malah dalam kebingungan dan kesakitan ini membayangkan prosa. Semacam sadurann dari sajak orang yang kupelintir isinya.

Jika benar cinta adalah mimpi buruk lantas mengapa kau kaukenang masa kanakmu? Saat dimana kau bersitegang dengan mengadu nyali melawan perintah siapapun. Kita pernah bermimpi mengenang kunangkunang yang nasibnya telah binasa pematang. Mengingat bagaimana dahulu kita berusaha menaruhnya dalam toples sampai fajar datang, hingga cahya terakhir mereka redup perlahan.

Itu, itu sajak orang yang kusadur lalu aku akui sebagai karya. Tak apalah. Toh si penyair kawanku sendiri. Kupinjam barang selarik dua larik sebait dua bait tak akan bikin ia miskin. Karena aku butuh drama. Drama yang tengik. Drama yang bisa bikin aku lupa bagian luka itu sendiri. Karena luka itu membuatku ingat pertanyaan brengsek. "Mengapa harus terpaut pada dirimu, jika terus menerus kau melawanku?" Barangkali jawabannya ada pada Google beserta tiap inci neuron yang membuat kita mengerti. "Pernah, sekali waktu akan kukirai juga yang dulu-dulu, dan lacur: dari mana mesti bertolak segala aku?"

"Royal Weding Gusti Kanjeng Raden siapa namanya itu udah mulai. Kamu kapan menikah?" samar samar suara ibu menggema.

Lho bagaimana mau menikah? Bapakku berbini empat mencerai ibuku, kakaku bercerai karena alasan keyakinan. Kok ndadak malah mau nuntut aku nikah? Itu kan sebuah hil yang mustahal. Kita saling lupa memaafkan ketololan, pun tetap membingkai sekerdil apa kenangan. Kemudian adalah hidup, masa lalu dan kini yang melulu kurekam keberadaannya. Bagaimana bapak dan ibu baku hantam dan bagaiman hidup membuatku mendendam.

"Waduh. Serius amat jon omongan lu?" kata seorang kenalan.

"Ye upil biawak. Nyamber aja tulisan orang," jawabku cuek.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar