Selasa, 29 Oktober 2013

Mualaf

Bagi saya keimanan tidak datang dari langit. Ia lahir dari usaha mencari, memilah, mempertanyakan, meragukan dan menyimpulkan atas apa sebenarnya konsep Tuhan itu. Keimanan bukanlah hal yang melekat pada kita sejak lahir. Saya terlahir sebagai penganut agama Islam, tapi bukan berarti secara otomatis saya beriman kepada Allah. Saya diajarkan bahwa Allah adalah tuhan yang maha. Seringkali dengan wajah angker ia digambarkan menjadi keji, kejam dan tak berperasaan. Ia menciptakan neraka untuk mengutuk, menyiksa dan menista manusia yang melawannya.


Tapi apakah ia semacam itu? Tentu tidak. Allah pada sisi lain digambarkan sebagai entitas yang mulia, suci, pemaaf, penuh cinta kasih dan sabar. Ada sebuah pertentangan di sini, paradox jika ia maha mengasih dan penyayang mengapa ada neraka? Jika ia adil dan mulia mengapa ada kejahatan di dunia? Pertanyaan-pertanyaan filsafat semacam ini telah dipertanyakan oleh banyak filsuf dunia seperti Ibnu Arabi, St Agustinus, Benedit Spinoza dan Martin Luther. Mereka adalah pemikir, sekaligus filsuf, yang dengan telaten dan tanpa lelah bertanya tentang apa konsep keimanan itu sendiri.

Tentu hal ini bukan hal yang mudah. Spinoza dan Martin Luther dikutuk oleh kaumnya masing-masing. Karya hasil pemikiran Spinoza tentang Torah mesti diinjak-injak oleh sebuah sinagoge agar melepaskan 'bala dan sial'. Sementara lebih dari 90 fatwa hasil pemikiran dan kontemplasi Luther membuat ia dikutuk jiwanya oleh gereja selamanya. Nasib yang lebih baik dirasakan oleh Ibnu Arabi dan St Agustinus. Ibnu Arabi menjadi seorang tokoh sufi, yang meski dibenci oleh kaum salafi, menjadi rujukan soal konsep penyatuan diri dengan Tuhan. St Agustinus di sisi lain dibaiat oleh Gereja Katolik sebagai kanon dan menjadi orang suci karena melahirkan karya yang menolak asumsi ateisme pada zamannya.

Tapi mungkinkah beriman namun tetap bertanya dan meragu? Saya kira bisa. Dalam islam kita mengenal al-Munqidh min al-Dalal karya masyur Al Ghazali sebagai sebuah kanon dalam mazhab Islam Sunni pencarian iman yang lahir dari keraguan. Adapula Murtadha Mutahari dengan Man and Universe yang berusaha mempertemukan konsepsi diri dengan jagat yang lebih besar. Tentu ini bukan perkara mudah. Mengingat, sedari kecil, kita diajari bahwa keimanan dan akal tidak bisa berjalan seiring. Akal harus tunduk pada dogma tuhan sehingga ia menjadi elemen sekunder dalam mencapai kebenaran.

Allah terlalu agung dan terlalu cerdas untuk bisa kita sepelekan hanya dengan kiasan. Membiarkan otak dan akal milik kita tidak bekerja bagi saya adalah sebuah usaha merendahkan Allah. Ia terlalu besar untuk bisa kita kalahkan, sehingga, menggunakan akal hampir menjadi mutlak untuk memahami ia. Untuk itu, sebagai konsekuensi logis, saya percaya bahwa seseorang dianggap beragama dengan baik ketika ia sudah menemukan sendiri apa keimanan itu dengan usahanya sendiri.


Dalam Islam ada sebuah tahapan keimanan yang membuat para pemeluknya, di mata Allah, menjadi beda. Tahapan ini tentu bukan berdasarkan pada paradigma matrealis yang melekat pada kebendaan (dalam hal ini juga diri si objek) tapi kebijaksanaan dan keimanan. Ada label untuk masing masing orang, yang mungkin, akan terlihat sangat menggelikan. Bahwa jika agama yang mengklaim dirinya egalitarian, tapi memberikan label (beberapa cenderung negatif) kepada para pemeluknya. Tapi dalam argumentasi saya ia bukan sekedar label, tapi jenjang yang diraih, seperti dalam institusi pendidikan.

Tahapan itu seperti Mualaf, Muslim, Mukmin dan Mutaqqin. Masing masing jenjang memiliki kesadaran kelasnya sendiri. Mualaf adalah sebutan bagi orang yang baru saja memeluk agama islam, Muslim adalah mereka yang memeluk agama islam dan menjalani tata cara peribadatannya, Mukmin adalah umat Muslim yang yang menjalani ibadahnya dengan khusyuk dan tekun, Mutaqqin adalah orang Mukmin yang beriman dengan teguh, menjalani syariat agama Islam dengan baik dan menjauhi hal yang tidak berguna (wara'). Hingga pada akhirnya menjalani laku hidup zuhud, yaitu tindakan menyembunyikan ibadah sebagai sebuah aurat dan tidak perlu dipamerkan.

Tapi merujuk pada proses yang saya sebutkan sebelumnya. Apakah semua orang yang memeluk islam sedari lahir pantas disebut muslim? Jika sebelumnya ia menerima agama sebagai sebuah warisan dan bukan proses mencari tapi diberi? Saya pikir perkara definisi dan terminologi bukan hal yang urjen dibahas. Ia hanya sekedar badai dalam segelas kopi. Tapi penting untuk dipahami, bagi saya, Mualaf bukan melulu mereka yang baru masuk dan mengenal ajaran agama islam. Mualaf adalah mereka yang benar-benar mengenali agamanya sebagai sesuatu yang diraih bukan sesuatu yang diberi.

Sayyed Hossein Nasr, seorang pemikir Islam mazhab Syiah, dalam diskusinya bersama Hans Kung teolog asal Jerman berbicara soal agama sebagai sesuatu yang dinamis dan statis sekaligus. Ia berbendapat bahwa tidak ada Islam monolitik, tetapi sebuah ide kepermanenan dalam Islam merembes ke seantero kesadaran Islam tentang dirinya sendiri, meskipun terdapat keanekaan interpretasi. Dengan pemikiran semacam ini diharapkan bahwa ide tentang islam itu tidak ditelan sekaligus secara bulat namun secara berangsur-angsur sebagai sebuah kesadaran historis atau teologis.

Sementara pada pemikir lain seperti Jamaluddin Al-Afghani, pemikir modernis Islam asal Afganistan, mencoba melepaskan dogmatisme dalam islam dengan mengadopsi pemikiran modern barat untuk menelaah ulang ajaran Islam. Perlu ditekankan, mengingat banyak yang alergi pada kata 'ulang', sebagai muslim kita wajib memahami doktrin ketunggalan yang absolut dan wilayah-wilayah lain yang bisa digali dengan metode Ijtihad. Disini Al Afghani tenu saja tidak berusaha mengoyak doktrin absolut tadi tapi lebih upaya menggali lagi, meminjam istilah Akhmad Sahal, "Islam salafi yang memberi peran sentral pada akal dan menempatkan umat sebagai agensi yang aktif dalam mengubah nasibnya sendiri".

Pemikiran ini dilanjutkan oleh Muhammad Abduh, salah satu murid sepemikiran Al Afghani. Abduh lantas dikenal sebagai seorang modernis yang lebih lihai bicara tentang peran akal untuk melawan kejumudan dalam Islam. Usaha melawan kejumudan ini adalah usaha untuk menjadi Muslim. Ia memberikan ruang pada akal untuk bertanya, meragukan dan menjawab. Tentu dengan koridor yang jelas seperti fiqih dan studi perbandingan mazhab. Di sini Agama tidak lagi diletakan sebagai sebuah teks yang diam, tapi sebuah teks dinamis yang menunggu untuk ditelaah dan dipahami dengan bahasa yang lebih segar.

Pemikiran bahwa keimanan itu sesuatu yang dicari dan bukan diterima merupakan salah satu hal yang wajar dalam kazanah pemikiran syiah. Mantiq, atau silogisme akal, menjadi titik pusat. Ali Syariati, seorang pemikir brilian Islam Mazhab Syiah, menjelaskan tentang keimanan dalam lokus yang lebih personal. Di sini Ali Syariati memberi analogi ‘peran Ibrahim’ dalam pertunjukan simbolis bernama Haji. Ibrahim dalam sejarah umat manusia adalah seorang pejuang besar yang menentang penyembahan berhala. Ia adalah pendiri tauhid di dunia yang memberontak dan selalu bertanya. Di sini Ibrahim, seperti yang kita ketahui, menjadi islam bukan karena ia menerima sejak lahir tapi karena bertanya dan tidak ingin diam.

Pada titik ini saya percaya bahwa proses mencari dan bergulat pada pemikiran tentang iman itu adalah hal yang mutlak dilakukan. Lantas pada akhirnya semua orang adalah Mualaf. Mereka baru saja mengenal islam dan sedang berusaha mencari apa itu kebenaran dan apa itu islam. Tentu saja dengan cara masing-masing. Tidak ada yang berhak mendikte dan menentukan bagaimana anda berpikir dan bersikap. Bukan berarti kita boleh saja menerabas kaidah-kaidah keimanan yang telah dicontohkan dan diberikan oleh Nabi. Tapi, bagi saya, menjadi islam adalah terus menerus menjadi mualaf. Orang yang belajar dan terus mencari.

Memperlakukan Islam sebagai sebuah kebenaran final adalah hal yang mutlak dilakukan. Namun pemikiran tentang ide-ide yang berkaitan dengan keislaman itu tidak pernah final. Akibatnya untuk terus menerus belajar, dalam hal ini menjadi mualaf yang tidak tahu agamanya sendiri, adalah niscaya. Islam bagi saya terlalu besar dan terlalu mulia untuk kemudian dibatasi pada kerak kerak bernama ketunggalan 'yang benar menurut Quran dan Hadits'. Islam lebih dari itu. Ia agama yang membahas mulai dari bagaimana detil jembatan bernama sirotul mustaqqin hingga bagaimana tata cara buang air yang benar.

Banyaknya hal yang menarik untuk dipelajari, dipahami dan telaah dalam tubuh bernama Islam ini. Kita bisa memikirkan tentang bagaimana iman disejajarkan sebagai sebuah objek studi. Al-Ghazali sendiri telah melakukan kritik terhadap para pemikir tentang usaha mereka memaknai islam sebagai studi akal. Contohnya adalah usahanya untuk mendefinisikan Ilahiyyun, yaitu kelompok yang membahas tentang ide ketuhanan. Seperti Socrates, Plato, Aristoteles yang kemudian pemikirannya diadopsi oleh Ibnu Sina dan Ibnu Arabi.

Menarik tentu saja Ibnu Sina, atau dunia barat menyebutnya sebagai Avicenna, dikenal sebagai tokoh kedokteran yang pemikirannya masih dipakai sampai abad ke 19. Namun sedikit yang kemudian mengenang ia sebagai seorang filsuf yang mempertanyakan konsep Allah sebagai Tuhan. Dalam Wajib al-Wujud, Ibnu Sina membuat kerangka ontologis tentang Allah itu. Menurutnya Allah adalah entitas tunggal yang suci, sumber kehidupan dan tanpa cela. Sehingga segala yang hidup (mahiyya) dan segala yang mengada (wujud)  ada dan tercipta tidak sama degan Allah. Untuk itu sebagai usaha memahami Allah peribadatan dan usaha berpikir harus sinergis, dengan catatan, keimanan islam bukanlah sesuatu yang berbenturan dengan pemikiran rasional. Ide dari konsep Ini adalah usahanya untuk menyatukan pemikiran Yunani dengan kaidah tauhid dalam islam.

Dalam sebuah artikel menarik dari Muhammad Al-Fayyadl, inteletual NU yang menempuh studi di Prancis, agama mestinya perlu “diawamkan”. Ia percaya ide tentang tauhid semestinya dilihat dari perspektif orang awam. Dari perspektif awam, seorang agamawan mestinya banyak belajar: ia akan belajar bahwa agama bukan sekumpulan perintah yang langsung dapat diterapkan sempurna di muka bumi, melainkan hasil proses yang rumit antara apa yang tertulis dan realitas lapangan yang bergerak maju-mundur dari harapan ideal.

Al Fayyadl percaya agama bukan suatu dinamo yang membuat masyarakat naik secara otomatis dari satu fase ke fase lain, dari suatu fase “jahiliyah” ke fase “kaffah”, tanpa melewati suatu proses kritik, penyempurnaan, dan studi atas realitas sosial yang kompleks dan centang-perenang. Dengan demikian ia lebih kepada sebuah usaha daripada sekedar hasil. Iman yang baik tentu saja lahir dari pergulatan tanpa henti. Bukan sekedar disuapi dan diterima sebagai kondisi yang mutlak dan diam.

Berpuas diri, dalam kaitannya dengan agama, semestinya hanya berhenti pada usaha mencari dunia. Berpuas diri dalam ibadah, apalagi hanya sekedar sholat dan dzikir atau hal-hal elementer, bagi saya egois. AA Navis dalam cerpen Rubuhnya Surau Kami dengan cerdas menuliskan dengan satir egoisme kesalihan profetik. Ide bahwa agama diturunkan bukan untuk (mutlak) mengurusi akhirat, tapi juga sebuah usaha untuk bisa berkembang dan memahami manusia yang lain penting untuk dijabarkan. Di sini agama tidak lagi menjadi kesunyian para pemeluknya, tapi juga keriuhan pada sesama.

Selama proses pencarian tadi seorang Mualaf yang baik akan berbagi. Bahwa ketidaktahuannya itu bukanlah sebuah kutukan melainkan berkah. Seseorang tidak bisa diadili akan ketidaktahuannya, dengan catatan bahwa ketidaktahuannya adalah murni, bukan kemalasan dan keengganan mencari. Dengan demikian Mualaf idealnya bersosialisasi dan terus bergaul. Alasannya, sumber mutlak kebenaran yatitu nabi, telah meninggal. Sehingga kebijaksanaya terserak dibanyak tempat dan banyak orang. Tidak hanya oleh orang islam tapi juga non islam.

Keikhlasan kita untuk menerima dan mencari tahu diluar zona nyaman ini akan memberikan pemahaman yang lebih baik. Tentu bukan semata-mata soal iman, tapi juga perihal bagaimana menjadi manusia di antara manusia, dan menjadi umat di mata tuhan. Agama tidak menghakimi niat seseorang, syariat dan fiqih berpegang untuk mengukur segala hal yang nampak bukan pada yang tak nampak. Di sini, dengan kata lain, elemen utama untuk beriman bukan hanya berdoa siang malam dalam bilik-bilik kapel, tapi juga bersosialisasi dan hidup bersama manusia.

Pada akhirnya memang derajat keimanan seseorang tak bisa diukur oleh matematika. Ia adalah capaian masing-masing individu yang bisa ditiru tapi tak akan pernah bisa mutlak sama. Keimanan selain proses mencari adalah proses mengerti. Bahwa menjadi umat adalah menjadi peduli terhadap sesama, bukan pada tataran intervensi keimanan, tapi bagaimana seseorang bisa berguna dan bermanfaat bagi yang lain. Iman adalah apa yang kita berikan kepada tuhan, sementara menjadi manusia adalah apa yang kita berikan kepada manusia lain. Menjadi Mualaf, bagi saya, adalah usaha terus menerus untuk meyakini hal ini. 

3 komentar:

  1. Riskan sekali jika terus menjadi mualaf. Padahal 'pintu' menjadi mualaf adalah sebuah tekad bulat untuk memilih di antara dua pilihan. Masuk Islam atau keluar menjadi atheis.

    BalasHapus
  2. Seorang Tuhan telah mati
    Tuhan yang dulu turun dari sana, dari tengkorak langit.
    Siapa tahu
    Dalam ketakutan dan kehancuran
    Dalam keputusasaan dan di tandus padang pasir
    Dari kedalamanku muncul seorang Tuhan

    “Ali Ahmad Sa’id Asbar (Adonis), Aghani Mihyar ad-Dimasyqi, 2007. hlm. 5”

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pendapat dari para pendukung evolusi. Mengira bahwa ide Tuhan berawal dari sebuah ketakutan.
      Apa nggak pernah tahu hikayat Nabi Ibrahim? Kalo dianggap sekedar cerita penghantar tidur atau dongeng sih... terserah.

      Hapus