Jumat, 25 Oktober 2013

Semacam Pesan Untuk Gadis Kesayangan

Jika aku menjadi lelakimu kelak. Aku tak akan membiarkanmu sendirian makan. Tidak jika aku sedang bersamamamu. Mungkin tidak menyuapimu, kau sudah dewasa dan bisa makan sendiri, tapi mungkin akan menikmati melihatmu makan. Lantas menyeka sisa saus di bibirmu, krim yang belepotan di pipimu atau menyelesaikan sisa nasi goreng jumbo istimewa yang kau pesan dengan gegabah. Aku akan menghabiskannya meski aku sendiri sudah kenyang. Karena mungkin, siapa tahu, dalam sisa nasi itu ada berkah tuhan untukmu yang dititipkan padaku.

Aku akan menjadi orang pertama yang kau lihat dipagi hari. Mungkin tidak akan tampan. Malah kau akan melihat bercak putih di wajahku sisa air liur semalaman. Rambut yang berantakan dan tubuh yang bau keringat. Tapi kamu tahu. Aku akan selalu bangun lebih pagi. Mencuci muka, menggosok gigi lantas menyiapkan satu poci teh tanpa gula dan ketela rebus untukmu. Lantas membangunkanmu yang dengan keras kepala berulang kali merajuk minta waktu 5 menit lagi.

Kamu merasa lelah dan mengantuk karena malam sebelumnya tidur dini hari. Menyelesaikan laporan yang tidak pernah berhenti. Menunggu email revisi dan mempersiapkan bahan presentasi. Kau begitu larut dalam pekerjaanmu bertahun-tahun. Mengembangkan kebiasaan tidur sebentar hingga tanpa sadar lingkaran matamu sudah lerlalu lebar. Aku lantas menyebutmu mata panda, meski kau lebih suka disebut zombie bride. Kau dengan segala makeup yang kau miliki berusaha keras menyembunyikan kantung mata itu untuk kemudian akhirnya menyerah.

Tapi semua itu berubah. Kini kau enggan bekerja. Semalaman kita begadang hingga dini hari sambil berpelukan. Kau tidak bisa fokus bekerja dan aku malas menulis. Kita berpelukan. Sesekali berciuman dan saling mengendus ketiak masing-masing. Kamu pelan-pelan menyukai aroma kecutku usai seharian bermalas-malasan. Sementara aku telah lama gandrung aroma tengkukmu yang memabukan. Lalu memelukmu selama-lamanya, sehangat-hangatnya dan sedalam-dalamnya. Untuk kemudian sesekali, jika kau mengijinkan, aku akan memagut bibirmu dengan birahi untuk kemudian kutinggalkan ruam merah di pundakmu.

Kita berbagi cerita semalaman. Tentang bagaimana kantormu tiba-tiba menaikan gaji, tentang bagaimana orang-orang lapangan membuatmu susah, tentang bagaimana delay pesawat membuatmu jengah. Tapi kau dan aku akan lebih banyak cerita tentang kita. Tentang bagaimana kamu lebih suka kopi daripada sereal. Tentang bagaimana kau bisa tiba-tiba menangis hanya karena lupa menaruh kunci motor atau girang karena melihat kaktus kesayanganmu berunga.

Kau dan aku akan berebut dapur. Berebut siapa memasak apa dan siapapun yang kalah harus makan dan mencuci segala sisanya. Aku tahu aku akan selalu menang. Karena kau hanya bisa memasak spageti dan mie instan. Sedang aku akan selalu membuatkanmu dadar jagung, tanpa penyedap makanan tentunya, yang sangat kau sukai. Kau akan memaksaku memakan sayur. Karena sebagai vegan kau benci daging. Kau benci aku minum susu dan mengkonsumsi telur. Sementara kau menggilai susu kedelai dan salad buah.

Kamu dan aku akan bergantian membacakan buku. Kadang aku tertidur di pangkuanmu. Kadang kau bersandar di punggungku. Lantas kita akan berdebat tentang mana yang lebih keren antara Lords of The Ring atau Harry Potter. Kita akan saling menggoda tentang siapa yang lebih pantas menyandang pewaris Chairil apakah Subagio Sastrowardoyo atau Sapardi Djoko Damono. Kita akan saling bergunjing tentang siapa yang lebih rumit di antara Derrida atau Wittgenstein. Kita akan bercerita bagian mana dari Dragon Ball yang membuat kita haru menangis sendu.

Seusai sarapan dan menikmati dua gelas teh, yang tiba-tiba kau sukai rasa getirnya itu, kita akan berebut memakai kamar mandi. Kamu beralasan harus segera ke kantor. Sementara aku berkilah harus segera menemui penerbit. Di pintu kamar mandi yang sempit, oh ya ingatkan aku nanti untuk mengganti lampunya yang mati, kita saling dorong mendorong pantat. Lalu akhirnya menyerah untuk kemudian mandi bersama. Aku menggosok punggungmu sementara kamu keramas. Tidak ada seks di kamar mandi, itu peraturan yang kau buat, tapi kita berciuman. "Ciuman dibawah guyuran air gayung," katamu sambil cekikikan.

Kita akan berpisah, untuk sementara tentunya, kau dengan pekerjaanmu dan aku dengan segala kemalasanku. Suatu saat aku akan bekerja, tapi untuk sekarang, mau main-main hingga puas. Sepanjang hari kita diam. Hampir tidak saling menghubungi. Bukan karena tidak sayang. Kau tahu itu dan aku juga. Kita hanya sedang berusaha untuk tidak menjadikan masing-masing pasangan sebagai alasan untuk tidak amanah. Meski ya, sesekali, tetap mengirim pesan. Entah itu soal mengingatkanku agar makan siang atau mengingatkanmu soal mengambil laundry saat pulang.

Aku akan mengajakmu untuk datang ke sebuah galeri sini. Menunjukanmu tentang betapa lukisan Sudjojono itu lebih nasionalis daripada Raden Saleh. Dan Agus Suwage punya nilai komikal daripada Jim Supangkat. Aku akan bercerita soal Banksy dan Popoh sementara kau akan menguap menahan kantuk dan ingin segera pulang untuk berpelukan. Tapi kau perlahan menyukai seni rupa. Seni tak melulu soal lukisan. Kau akan menyukai keramik buah karya FX Widayanto dan patung-patung mitologis karya Nyoman Nuarta. Untuk kemudian mengutuk lukisan jahil Jackson Pollock yang kepalang brengsek mahalnya itu.

Aku akan mengajakmu untuk menikmati jalan-jalan kumuh di Surabaya, Jogja atau Jakarta. Kau akan kuajari melihat dan belajar lebih banyak. Kau akan mengetahui dibalik gedung tinggi, tempat hangout yang hits dan segala pesonanya. Kota-kota menyimpan borok. Gang sempit, selokan mampet dan anak-anak ingusan yang makan jajanan penuh pewarna dan makanan berformalin. Kau akan pulang dengan sedih lantas mencari bantal untuk menangis tersedu-sedu. Sebelum akhirnya kau menggigit tanganku karena mengajakmu melihat wajah lain dunia.

Kamu akan mengetahui bahwa aku pemalas kelas wahid. Lantas berusaha mengajariku cara hidup sehat. Makan sayur, olah raga dan mengurangi jajanan berminyak. Aku akan berusaha keras untuk belajar menikmati alam raya. Belajar naik gunung, jelajah pantai dan susur gua. Karena kau menyukai itu sedang aku tidak. Aku percaya hidup adalah upaya berkompromi dengan orang yang kau cintai. Aku mencintaimu maka aku berusaha untuk melakukan apa yang kau suka. Meski pada akhirnya aku hanya menyusahkanmu di perjalanan.

Aku akan mengajakmu menonton konser Banda Neira. Bercerita soal mengapa skena musik folk hari ini banyak bercerita tentang pulang dan jarang memperbincangkan tentang kepergian. Kamu tentu lebih suka Efek Rumah Kaca. Kau suka Desember sementara aku suka Balerina. Kamu bilang Pandai Besi lebih baik tapi kupikir apapun itu mereka akan keren. Kau ngotot untuk memiliki vinyl padahal sudah kubilang apapun formatnya yang penting bisa dinikmati. Kemudian kita memutuskan untuk membeli kaos saja daripada membuang uang untuk hal yang terlalu mahal.

Kamu akan memaksaku menonton film horor. Sementara kau tahu aku benci kengerian. Aku benci teror dan mahluk halus. Sementara kau menggandrunginya dengan luar biasa. Masing-masing dari kita bicara soal peristiwa seram. Aku memeluk erat lenganmu saat kita menonton The Conjuring di bioskop. Kau tertawa tawa lepas dan menggodaku dengan pop corn. Lalu kita berciuman di gelapnya ruangan. Tepat sebelum aku dikagetkan dengan kemunculan setan bedebah yang terlampau seram.

Aku akan mengajakmu pergi. Pergi jauh untuk sekedar vakansi. Tapi bukan di daerah wisata. Kita akan pergi ke suatu desa, di salah satu bukit Menoreh misalnya, mengontrak rumah. Lantas menikmati sehari-hari sebagai petani dan orang desa. Bangun pagi, bekerja di ladang lantas bercumbu sore harinya. Bercinta di kala malam dan begitu seterusnya hingga jenuh itu hilang dan kita siap untuk kembali bekerja. Kau dengan segala angka dan laporanmu. Aku dengan segala naskah dan tetek bengeknya.

Aku akan membuatmu percaya. Kau akan nyaman didekatku. Cukup nyaman untuk bercerita soal amarah, luka, dan tragedi masa silam. Aku tentu hanya bisa diam mendengar sampai pada akhirnya aku akan berceloteh tentang banyak hal. Membuatmu lupa dan menertawakan apa yang telah lalu. Menjalani sisa hidupmu dengan lebih banyak belajar dan berbagi. Ketimbang mengutuk dan mendiamkan diri sendiri. Kamu akan sedikit lebih tenang dan lebih bijak. Karena bebanmu tak lagi dipikul sendirian.

Jika aku menjadi lelakimu. Kamu dan aku akan bertengkar hampir setiap hari, berpelukan setiap hari, sampai masing-masing dari kita bosan dan ingin pergi. Masing masing dari kita merasa jenuh dan tak bisa lagi bersama. Kau dan aku sama-sama sadar tidak ada yang abadi. Bahkan dalam cinta. Tapi kau dan aku sama-sama percaya jenuh bukan alasan untuk berpisah dan bosan bukan alasan untuk pergi.

Suatu saat. Ketika tiba waktunya. Jika kamu sudah lebih baik. Kau akan kembali kepada orang-orang yang kau cintai. Kau akan menikah dengan orang yang lebih baik. Sementara aku akan tetap di sini. Mengingat perjumpaan kita yang tidak seberapa lama. Percumbuan kita yang hangat dan intens. Segala pelukan yang melenakan. Sendirian. Tapi kau akan bahagia. Lebih bahagia daripada yang sudah-sudah. Karena kau telah berhasil mentas. Melarung segala kesedihanmu dan menjadi manusia baru.

Saat itu tiba. Aku akan bahagia. Sangat bahagia. Mungkin, suatu saat. Aku akan menuliskan surat. Berisi kalimat sederhana. Tentang perasaan yang aku simpan diam-diam. Tapi itu tak penting. Tak pernah jadi lebih penting ketimbang kebahagiaan yang kau rasakan saat itu.

Selamat menikah. Kamu.

5 komentar:

  1. Paragraf kedua mengingatkan aku tentang sikap Mustofa Chamran kepada Ghadeh. Chamran memang selalu bangun pagi lebih dulu, membuatkan kopi untuk ghadeh, menyiapkan roti untuk sarapan mereka dan menata tempat tidur setelah ghadeh pergi ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya. Siapa sangka, seorang panglima perang bisa selembut itu pada istrinya.
    Perasaan ku ikut teriris nih di akhir tulisan...
    Makasih sudah menulis.

    BalasHapus
  2. Andai kamu semanis ini tiap waktu :) sukaaaaaaaaaaaaak! Kepalamu terbuat dari apa yak? Kenapa manis dan sinis akur sekalih, hih!

    BalasHapus
  3. Hehehe, berusaha merealisasikan kehidupan sisi lain menjadi lebih populer dr gaya hidup terbaru dan tercanggih skalipun..
    Selamat berjuang bung, smoga mimpi tidak populer yang indah dan alami ini bisa tetap ada saat matahari datang.. \m/

    BalasHapus
  4. Hehehe, berusaha merealisasikan kehidupan sisi lain menjadi lebih populer dr gaya hidup terbaru dan tercanggih skalipun..
    Selamat berjuang bung, smoga mimpi tidak populer yang indah dan alami ini bisa tetap ada saat matahari datang.. \m/

    BalasHapus