Sabtu, 26 Oktober 2013

Yang Kesepian

Tidak ada satupun yang lebih kesepian dan dongkol daripada Tuhan. Kita pasti kenal, mungkin malah menjadi salah satunya, orang-orang yang merasa tahu keinginan dan kehendak Tuhan. Padahal mengenali Ia yang agung adalah usaha abadi mustahil dilakukan dalam satu rentang waktu kehidupan. Banyak hal yang menjadi alasannya. Pertama kita bukan Tuhan itu sendiri, yang kedua kita bukan nabi atau rasul yang jelas-jelas bisa berkomunikasi (meski tidak langsung) kepada Nya. Sebagai manusia, terlebih sebagai umat, kita hanya bisa mengira-ngira apa kehendak dan kemauan daripada Tuhan.

Tentu menjadi hal yang kepalang rumit hari ini untuk melakukan itu semua. Ada banyak orang, atau kelompok anda pilih saja, yang merasa punya legitimasi dan pewaris tunggal penafsir dan penerjemah keinginan tuhan (dengan t kecil). Legitimasi ini lahir dari pemahaman parsial dan sempit dari teks sebagai satu-satunya cara berkomunikasi dengan tuhan. Sayangnya, seperti yang kita ketahui, komunikasi semacam ini hanya berlaku satu arah. Kita hanya bisa memperkirakan sebuah kebenaran apabila itu dilakukan melalui monolog.

Sebelum ditemukannya teks dalam kitab suci, manusia hanya bisa mendengar tentang Tuhan dari mereka yang diutus Nya. Lantas kita menemukan mesin cetak, peradaban di bumi setelahnya tidak akan pernah sama lagi. Penyebaran pengetahuan menjadi lebih terang. Tanpa ada pengetahuan dan nilai-nilai humanisme  peradaban manusia akan musnah. Ilmu pengetahuan menjadi barang yang tak lagi menjadi hak istimewa kaum agamawan. Siapapun, yang memiliki akses terhadap buku, kertas atau selebaran apapun. Dapat mengeyam pengetahuan, pendidikan dan informasi tentang Tuhan.

Manusia-manusia determinis yang mengira bisa mengerti Tuhan hanya dari sebuah teks adalah mahluk yang sombong. Lebih sombong daripada mereka yang jatuh cinta tapi menjaga diri untuk tidak mengucapkannya. Padahal dari ribuan tahun peradaban agama kita hanya bisa meraba dari apa itu yang disebut kehendak Tuhan. Oligarki suci yang dipegang oleh kaum ulama dan mujtahid memberikan legitimasi bahwa hanya mereka yang terpilih saja yang bisa menerjemahkan kalimat Tuhan. Tapi hal ini pun tidak membuat beberapa manusia menjadi rendah hati, mengingat ketidaktahuan adalah kutukan, untuk sok tahu dan menganggap bahwa dengan menyanding satu tafsir bisa menafikan tafsir yang lain.

Kemudian kita mengenal Liturgi. Bangsa Yunani menyebutnya sebagai leitourgia secara etimologi berasal dari laos (artinya rakyat) dan ergon (artinya pekerjaan). Liturgi adalah peribadatan masal dimana seluruh anggota jemaah ambil bagian dalam usaha menyembah dan memuliakan tuhan. Idealnya liturgi adalah sebuah pertunjukan. Umat menjadi pemainnya, pemimpin agama menjadi konduktor dan Tuhan jadi penontonnya. Dengan demikian Tuhan tak perlu kesepian. Ia bisa tenang menjadi juri sekaligus penentu apakah si pemain berbakat dalam lakonnya, benarkah konduktor dalam memimpin dan bagaimana jalannya pertunjukan berlangsung.

Kiranya jika Ia berkenan, saat kita berpikir kita seolah tahu apa yang Tuhan pikir. Di satu titik di jagat raya ini. Ia tertawa keras.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar