Jumat, 29 November 2013

Lima Tips Caper Untuk Gita Wirjawan

Apakah judul di atas salah ketik dari capres menjadi caper? Oh tidak. Tentu saja tidak. Demi Rara Sekar yang cantiknya absolut judul di atas bukanlah typo. Barangkali ia penegasan, jika anda tak suka fakta, bahwa Bung Besar Gita Wirjawan adalah selebritas (saya bingung dan lupa ia menjabat sebagai mentri apa) yang mumpuni. Ia bisa tampil lebih banyak dan lebih memuakkan daripada Olga Syahputra, meski tentu jika saya tak salah ingat, mereka pernah satu frame dalam sebuah acara musik abal-abal untuk kemudian secara komikal berkaraoke bersama dengan Wali Band.

Barangkali hanya di Indonesia sebuah bangsa bisa dengan lantang tertawa sementara kepalanya masih diinjak. Bung Besar Gita Wirjawan tahu ini. Ia sadar betul bahwa dalam abad media citra adalah segalanya. Ini hal universal yang berlaku jika anda 1. Cantik 2. Ganteng. Nah bagi manusia medioker di luar itu, seperti saya misalnya, menjadi pusat perhatian adalah segalanya. Nah bagaimana jika dua elemen tadi digabung? Anda tampan dan anda suka caper. Maka muncullah Bung Besar Gita Wirjawan sebagai jawaban, Manusia Sejuta Iklan.

Saya kadang suka pusing dengan keberadaan Iklan Bung Besar Gita Wirjawan yang kepalang mengganggu itu. Seolah-olah memajang wajah besar putih tanpa cela dengan bedak berlebihan adalah bagian dari kerja. Atau jangan-jangan itu kerja anda yang sebenarnya Bung Besar Gita Wirjawan? Bersolek dan bersiap diri dihadapan kamera untuk tampil elegan, gagah, manis dan tentu saja mahal. Barangkali merupakan hal yang sangat susah membuat harga jengkol jadi terjangkau. Barangkali pula merupakan hal yang teramat melelahkan untuk mengatur harga daging terjangkau. Sehingga, seperti yang kita bisa lihat, anda lebih suka tampil di depan kamera ketimbang bekerja mengatur kebijakan agar pengangguran semacam saya bisa makan dengan murah.

Saya tahu Bung Besar Gita Wirjawan sibuk sekali. Selain tampil diberbagai konser jazz sebagai bintang berbayar (maksud saya untuk tampil anda dibayar atau membayar) bung juga merupakan bintang iklan yang wajahnya ada dimana-mana. Sayang lho bung kalo situ punya wajah ganteng malah mbayar untuk nampil di pariwara. Daripada Ariel atau Pasha ungu saya lebih sepakat situ yang jadi bintang iklan pembersih muka. Selain anda punya banyak waktu luang sebagai mentri yang tak banyak kerjaan di kabinet ini, anda juga bisa memanfaatkan bakat terpendam anda sebagai model iklan. Lumayan tho? Di masa harga daging ayam, jengkol dan bawang mahal ini kita semua, bahkan mentri macam bung juga butuh uang tambahan.

Ada baiknya Bung Besar Gita Wirjawan berhenti membuang uang. Ini serius lho bung, situ sudah susah susah kerja sambilan sebagai model dan mentri sekaligus. Ketimbang bung habiskan itu uang hanya untuk Iklan yang tak jelas tolok ukurnya,bung bisa kasih itu duit untuk bikin pusat kebugaran, salon kecantikan atau jasa edit fotografi. Atau mungkin Bung Besar Gita Wirjawan tertarik untuk bikin itu usaha penyedia model dan talent? Bung bisa bikin FTV dengan bujet murah yang bayaran pada pekerja seninya tak lebih menghina dari gelar Roy Suryo sebagai pakar IT. Kan siapa tahu, selepas gagal capres ini, Bung Besar Gita Wirjawan bisa tukar guling peran jadi bintang film. Lumayan lho bung, situ bisa lebih terkenal dari mata melototnya mertua mbak Dian Sastro.

Lagipula, begini Bung Besar Gita Wirjawan, apa yang bikin bung yakin pasti menang hanya dengan banyak iklan?Apa bung lupa bagaimana blangsaknya nasib Andi Malarangeng dalam kongres demokrat terdahulu?Itu dia punya muka sudah banyak menjilat anggota partai agar bisa jadi ketua.Toh pada akhirnya ia gagal. Dalam sejarah manusia penjilat pantat adalah penyebab sebagian besar runtuhnya peradaban. Bung boleh belajar itu dari Mohammad Yamin yang, aduh gelinya, membikin citra Gajah Mada seperti ia punya muka. Apa bung juga mau bikin? Misalnya bikin pewajahan Prabu Siliwangi atau Arya Kamandanu serupa milik bung punya wajah? Kalau ingin narsis jangan nanggung bung. Jadilah macam Yamin narsisnya menginspirasi puluhan tahun sejarah model gincu republik ini.

Untuk itu, demi bangsa ini, saya rela berkorban. Kasih ini tips untuk anda punya hidup Bung Besar Gita Wirjawan. Tentu ini tips bukan sembarang tips. Ini tips kualiteit nomor wahid tidak seperti tips KW penulis abal-abal di situs marxis sebelah. Namun ini saran bukan sembarang saran ini penting dan murah. Dalam era sosial media dan jagat maya yang luas ini percuma pencitraan di jalan. Itu tiada bikin anda dikenal bung. Di jalan orang lebih suka main hape dan twitteran daripada lihat muka orang super zoom dengan senyum garing terpaksa di tengah jalan.

Para pembaca budiman dan penggemar Bung Besar Gita Wirjawan juga bisa praktikan ini saran untuk pencitraan di social media sendiri. Situ ndak butuh Iklan bung. Kalo situ bisa jalan ke studio buat syuting dan foto-foto, situ berarti bisa ngetwit sendiri bung. Toh meski tak bisa jadi capres anda bisa bikin kehebohan, lumayan kalau gagal jadi presiden bisa jadi selebtweet. Berikut adalah tipsnya: 

1. Jadilah berbudaya, maksud saya berbudaya, berkumpullah di Salihara jadi anggotanya kalau perlu bikin konser tunggal jazz interraktif cum pagelaran seni dengan judul post modern-haiku-naturalis-moii indie-esque semacam “Kentang: ziarah musik megalitik nasi uduk dalam perspektif Hans Georg Gadamer”.Ini yang penting jangan lupa ajak serta bung Nirwan Dewanto yang maha segala tahu itu untuk jadi kurator apapun performance art yang Bung Besar Gita Wirjawan bikin. Dijamin ciamik dan akan masuk koran. Yah sukur-sukur Kompas. Minimal Tempo lah. Selepas masuk dua koran itu, apalagi laman hari minggu, wuih anda sah menjadi budayawan dengan syarat menutup segala diskusi dengan kata tabik.

2. Be Social. When i mean social it doesn’t mean you have to be a nice guy who works. Jadilah membumi bukan dalam perspektif kebanyakan. Bung salah pikir kalau membumi adalah dengan ke pasar sayur terus selfie depan wartawan seolah-olah bekerja. Itu salah bung. Harusnya anda membumi turun ke bawah dengan.. Yak benar anda harus turun ke bawah dengan twitter. Enjoying twitwar, bikin pantun kaya Tiffie, atau jadi ahli IT macam Roy Suryo atau stand up-comedian macam Bathoegana. Bung tertinggal jauh dalam hype ini!

3. Jadilah sombong. Bung sadar itu bung bisa maen piano? Tunjukin! Bikin soundcloud mosok kalah dengan musisi medioker yang cuma bisa genjrang genjreng udah ngaku musisi. Inget bung punya itu label? Manfaatin. Bung bisa bikin banyak grupis lho. Jangan salah bung, anak gigs itu sangat mudah dipengaruhi. Kasih mereka folk, suka folk, kasih mereka drone metal bakal suka. Manfaatkan jiwa labil mereka bung! Gabung dalam skena dan raih pemilih pemula. Jaminan mutu!

4. Jadilah kebanyakan. Hipster is so yesterday bro! Mainstream is the new cult! Bung harus bisa berpikir semacam orang kebanyakan. Ikuti hype yang ada. Ikut maraton, jadilah filatelis, peduli dengan hiu, bikinlah lisensi menyelam, jadilah backpaker, jadilah aktivis akhir pekan yang berjuang dengan tagar. Sesekali mengeluhlah soal macet dan yang penting bung. Ingat pemilih anda bukanlah kelas buruh atau masyarakat miskin. Tapi kelas menengah. Jilat pantat mereka sepuas puasnya! And voila anda jadi presiden. Oke bukan presiden RI. Mungkin negara imajiner macam Negeri Jancuk? Anda bisa kudeta Agus Sujiwo dari kursinya bung.

5. Terakhir, ini adalah yang paling penting, perbanyak selfie bung. Anda butuh itu! Oxford English Dictionary tak akan memasukan kata itu dalam jajaran Word of the Year jika tak menyadari kecenderungan narsistik masyarakat kita. Belum lagi kegemaran memuja diri sendiri lewat rituitan pujian. Bangsa ini gemar menjadi seseorang ketimbang menjadi inspirasi. Semua orang berlomba jadi nomor satu, jadi pujaan, tapi banyak yang lupa cara untuk bisa berbagi. Jika Bung Besar Gita Wirjawan bisa manfaatkan ini. Banyakin selfie di Instagram atau bolehlah bagi foto keluarga atau makanan seperti ibu negara kita. Bung pasti sukses. Saya kira alasan kenapa bangsa ini masih teguh dan tegar diberakin pemerintah karena keluarga istana senang berbagi kebahagiaan dengan rakyatnya yang sengsara,

Jadi lupakan cara konvensional untuk caper Bung Besar Gita Wirjawan. Negara ini butuh lebih dari sekedar presiden tampan (yang takut istri). Negara ini butuh, tentu saja, presiden yang bisa dekat dengan rakyatnya. Apalagi cara dekat selain dengan social media? Bangsa ini bekerja, berkomentar, peduli dan bergerak cuma berdasar status atawa twit. Lupakan billboard raksasa itu bung. Iklan iklan yang anda pakai, selain menghina nalar dan akal sehat kami, toh akan berakhir menjadi sampah visual yang kelewat mahal, muka anda yang bung pikir ganteng itu tak ada satu persen pesona dari Rara Sekar yang absolut itu. Tabik.

Kamis, 28 November 2013

Manusia Manusia Banyuwangi

Banyuwangi dibangun dari pesona manusianya. Ia adalah refleksi keluhuran budi dan kekayaan kazanah kebudayaan yang begitu pekat, sehingga dalam setiap identitas manusia-manusianya, Banyuwangi bukan lagi sebuah lanskap geografis, tapi ia adalah jati diri yang lain. Di sini keberadaan seni budaya memainkan peran sentral sebagai pembentuk dan transformasi diri dari sebuah individu tunggal menjadi kelompok masyarakat yang plural namun khas. Sulit untuk kemudian melepaskan manusia Banyuwangi dari identitas kebudayaan mereka. 

Bagi manusia-manusia yang lahir di Banyuwangi, kebudayaan bukanlah kebanggan premordial semu. Namun lebih dari itu, bagi setiap manusianya kebudayaan adalah apa yang membuat mereka menjadi manusia seutuhnya. 

Umar Kayam dalam pidato kebudayaan di Universitas Gajah Mada 19 Mei 1989 di Yogyakarta mengatakan bahwa transformasi kebudayaan merupakan elemen penting dalam perubahan masyarakat. Sebuah kebudayaan boleh jadi terlihat statis, namun pada beberapa masyarakat kebudayaan terus dinamis, beradaptasi dan menemukan bentuk bentuknya yang baru.Transformasi kebudayaan dalam masyarakat Banyuwangi dapat dibayangkan sebagai sautu proses yang lama bertahap‐tahap akan tetapi dapat pula dibayangkan sebagai suatu titik balik yang cepat bahkan abrupt. Proses ini menjadi dialektik yang terus‐menerus dengan kondisi‐kondisi transformasi antara untuk kemudian dibayangkan akan tercapainya transformasi akhir, besar dan langgeng.

Kekayaan Seni Budaya Banyuwangi tidak hanya berupa produk produk yang berupa produk kriya. Seni Kebo-keboan misalnya merupakan ritus sekaligus kearifan budaya lokal yang punya nilai filosofis penting bagi masyarakatnya. Kebo-keboan konon berkembang di dua tempat di Banyuwangi. Yaitu di kawasan Aliyan dan Alas Malang. Ritual kebo-keboan lahir sebagai upaya syukur terhadap panen yang besar. Beberapa juga dilakukan sebagai bagian dari ritual bersih desa yang biasanya pada bulan Suro pada kalender Jawa.

Novi Anoegrajekti, Dosen Luar Biasa Program Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta, menyebutkan Kesenian tradisi Banyuwangi bertumpu dan bertahan atas dasar tata nilai lokal yang dikandungnya berhadapan dengan tuntutan-tuntutan baru. Tuntutan baru tadi tak hanya lahir dari masyarakat luar Banyuwangi, tetapi ia lahir dari generasi yang tumbuh dan berkembang dengan bauran teknologi asing. Hal ini bukan saja berpotensi bisa melumpuhkan kebudayaan namun juga bisa melibas keberadaan identitas budaya masyarakat yang ada apabila kebudayaan itu tak mampu berkembang dan mematutkan diri.

Tetapi seperti yang kita lihat, seni budaya dan masyarakat Banyuwangi dapat hidup berdampingan. Seni budaya bisa memastikan rasionalitasnya pada kepatutan modern. Dalam makalahnya Novie Anoegrajeki memastikan bahwa kesenian yang lahir dari masyarakat perlu mempertimbangkan elemen survival dari segi ekonomi. Hal tersebut yang akan menentukan apakah kesenian tersebut berpeluang hidup atau tidak di masa-masa mendatang. Sejarah gandrung yang panjang menyisakan catatan bahwa kesenian milik komunitas Using ini selalu berhadapan dengan kekuatan kekuatan di luar dirinya. 

Kesenian Gandrung yang lahir dari manusia-manusia Banyuwangi adalah seni tari yang  subtil. Ia dipentaskan oleh seorang perempuan dewasa yang menari berpasangan dengan laki-laki yang dikenal sebagai pemaju. Pertunjukan ini dilakukan hanya pada saat-saat tertentu saja. Pada sejarahnya Gandrung melulu dilakukan pada puncak perayaan masyarakat desa seperti petik laut atau bersih desa. Namun pada perkembangannya hari ini Gandrung dilakukan pada banyak perayaan rakyat seperti pernikahan atau hari-hari besar nasional.

Gandrung Banyuwangi konon merupakan satu buah karya seni yang lahir dari perkembangan dari ritual seblang, upacara bersih desa atau selamatan desa yang diselenggarakan setahun sekali dan dianggap sebagai ritus tertua di Banyuwangi. Ritus seblang itu sendiri berkaitan dengan kultus kesuburan atau pemujaan dewi padi yang merupakan peninggalan kebudayaan Pra-Hindu. Butuh stamina besar untuk melakukan pementasan Gandrung. Mereka harus melakukan pertunjukan semalam suntuk. Ada pembabakan dalam tari gandrung yang masing masing memiliki filosofinya sendiri.

Dalam makalahnya Novie Anoegrajeki menjelaskan pembagian itu sebagai sebuah ritus yang berkesinampungan. Pembabakan itu adalah adalah Jejer, Paju, dan Seblang-seblang. Jejer dan Seblang-seblang adalah adegan pembuka dan penutup pertunjukan, berlangsung sekitar 45-60 menit (Jejer) dan 85-120 menit (Seblang-seblang) yang tidak melibatkan seorang pun dari penonton. Sementara Paju, yang memperoleh waktu lebih panjang (antara 4-5 jam), merupakan adegan terbuka bagi penonton untuk menari berpasangan atau membawakan lagu-lagu.

Ada yang menarik dalam pembabakan tari gandrung ini. Ia adalah representasi dari hubungan antara manusia dan alam, manusia dan manusia dan manusia dengan penciptanya. Meski demikian, sebagai bentuk kesenian, babak pertunjukan gandrung yang paling lama dan mendapat perhatian penonton adalah Paju yang berisi tari berpasangan dan ngrepen. Dalam babak ini tampak bahwa pertunjukan gandrung menjadi milik publik, sulit dipisahkan antara pertunjukan dan penontonnya.

Gandrung adalah satu dari sekian banyak karya manusia-manusia Banyuwangi. Karya lain seperti kain batik khas bermotif Gajah Oling yang lahir sebagai upaya akulturasi citarasa unik dan pemaknaan terhadap lingkungannya. Ia, menurut Bupati Abdullah Azwar Anas sebagai local genius yang mampu bercerita tentang banyak hal, mulai dari fashion, tradisi, hingga gaya hidup. Ia tidak hanya merupakan karya unik yang bernilai estetik namun juga memiliki nilai ekonomis yang bisa menjadi penanda langsung dari masyarakatnya.

Lantas apakah sekian banyak kesenian itu hanya merupakan perayaan kosong belaka? Tentu tidak. Anda bisa dating dan melihat sendiri bahwa manusia-manusia Banyuwangi adalah individu dengan kebanggaan tinggi akan identitas kulturalnya. Album-album lagu Using bertebaran, dinyanyikan dan dirayakan sebagai keseharian. Pemandangan yang sangat kontras akan anda lihat di daerah lainnya dimana kaum mud justru lari tunggang langgang menolak jati dirinya. Sementara pemuda-pemudi Banyuwangi justru merengkuh dan mengamininya sebagai hidup.

Para tamu dan pendatang di kota ini akan ditunjukan sebuah teater hidup dari masyarakatnya. Manusia-manusia Banyuwangi tak mengenal basa basi dalam berinteraksi. Mereka adalah apa yang mereka tunjukan. Anda akan mendengar teriakan-teriakan, beberapa umpatan, atau bahkan dialog yang keras. Tapi ia bukan mencirikan manusia-manusia Banyuwangi sebagai mahluk yang barbar dan tak punya kebudayaan. Mereka adalah mahluk ekspresif yang tegak dengan jati dirinya sendiri.

Idiom lare using bukan ditunjukan sebagai upaya pemisahan dan segregasi rasial dengan masyarakat yang lain. Tidak. Lare Using lahir dari pemaknaan bahwa kemana pun manusia-manusia Banyuwangi pergi, jangan pernah lupa akan akar dan rumah dimana kamu dilahirkan. Apakah hal ini kemudian menjadikan Banyuwangi sebagai kota yang ekslusif? Tentu saja tidak. Jika anda mampir ke daerah-daerah dimana kebudayaan berkembang seperti Muncar, Genteng dan lainya anda akan menemukan masyarakat-masyarakat plural yang berasal dari komunitas lain di nusantara.

Ada Suku Madura, Suku Jawa, Suku Bali, Suku Bugis dan Suku Using yang kemudian membentuk wajah Banyuwangi menjadi apa yang ada hari ini. Ia adalah satu mangkuk masyarakat yang tidak tunggal. Ia melahirkan manusia-manusia yang menolak tunduk pada gegas zaman. Di sini anda akan melihat dan menikmati bagaimana seni budaya dirayakan bukan hanya sekedar ritus. Tapi sebagai sebuah pengakuan. Bahwa Banyuwangi bukanlah kota biasa. Ia adalah kota yang lahir dan berkembang dari rahim manusia-manusia unik di dalamnya.

Selasa, 12 November 2013

Mata Hati Cinta Al Rashafāt

2013 adalah tahun yang melelahkan dalam merumuskan dan mencari sosok buku ideal. Betapa tidak? Di antara gempuran berbagai buku sampah macam motibasi, religi dangkal dan sastra presidensial picisan. Buku-buku bermutu susah untuk ditemukan. Toko buku hari ini susah dibedakan dengan toko kelontong yang menjual kebutuhan ATK. Rak best seller dengan sangat menyedihkan memampang aurat tanpa malu-malu buku pseudo sains Garut Kota Iluminati setelah berhari-hari sebelumnya memuja buku komikal Borobudur dibangun oleh Nabi Sulaiman. Saya sudah hampir putus asa dan menyerah untuk percaya buku-buku baik akan ditemukan tahun ini apabila, tentu saja, pada satu hari minggu saya menemukan buku Al Rashafāt: Percikan Cinta para Kekasih.

Kamis, 07 November 2013

Pidato Kebudayaan Albert Camus Saat Menerima Nobel Sastra 1957

Dalam penerimaan atas penghargaan yang telah begitu murah hati diberikan kepada saya oleh akademi anda yang bebas, saya ucapkan terima kasih secara mendalam, terutama ketika saya ingin mempertimbangkan sejauh mana penghargaan ini telah mempengaruhi kemampuan pribadi saya. Setiap manusia, dan untuk alasan yang kuat, setiap seniman, ingin diakui. Saya juga demikian. Tetapi saya belum bisa memahami keputusan Anda tanpa membandingkan dampak (penghargaan ini) kepada siapa diri saya sendiri. Seorang pria yang hampir masih muda, hanya kaya dalam keraguan dan dengan karyanya masih dalam proses, terbiasa hidup dalam kesendirian kerja atau menjauhi persahabatan: bagaimana dia tidak merasa sedikit panik saat mendengar keputusan yang membuat dia tiba-tiba, sendirian dan mereduksi dirinya sendiri, ke dalam pusat cahaya yang benderang? Dan dengan perasaan apa dia bisa menerima kehormatan ini pada saat penulis lain di Eropa, di antaranya yang sangat besar, diminta untuk diam, dan bahkan pada saat yang sama negara kelahirannya sedang melalui penderitaan tak berujung? 

Minggu, 03 November 2013

Kepulangan Kelima Dan Puisi Yang Biasa Saja

Bagaimana cara anda menikmati puisi? Apakah dengan kesunyian dan teh yang hangat menjelang senja tiba? Ataukah dalam hingar bingar ramai pasar yang bertempik sorak perihal harga yang ditawar? Ataukah seperti banyak pegiat kebudayaan, anda datang pada sebuah sarasehan melihat pembacaan puisi dengan segenap ekstase, musikalisasi, dramatisasi dan deklamasi yang dibuat buat? Apapun itu semoga anda tak menikmati puisi dengan cara menangis di depan podium sambil bicara soal moral.

Jumat, 01 November 2013

Surat Terbuka Seorang Buruh Tentang Kelas Menengah Yang Budiman

Kepada yang Budiman Mr dan Mrs Pelari Maraton

Selamat malam Mr dan Mrs Pelari Maraton. Sebelumnya maafken saya karena udah berani-beraninya nulis daripada surat yang begini. Sebagai buruh dan babu yang penghasilannya kecil ini, berani beraninya ganggu panjenengan mas dan mbak karyawan karyawati yang wangi. Tapi ini penting Mr dan Mrs Pelari Maraton yang terhormat sekalian. Saya harus bicara. Saya harus ngomong soalnya hati saya sudah kepalang mangkel. Bukan sama Mr dan Mrs Pelari Maraton sekalian. Sumpah ndak. Saya berani suer. Tapi saya mangkel sama itu loh yang katanya mas mas korlap (saya ndak tau artinya) kelas menengah (nuwun sewu) ngehek. Orang yang selalu marah dan ngejek saya kaum buruh karena demo.