Minggu, 29 Desember 2013

Buku Buku Terbaik 2013

Ada baiknya kita memulai membunuh harapan dipenghujung 2013 ini, bahwa segala yang terlalu baik biasanya akan berujung sangat buruk. 2013 bagi saya merupakan tahun yang sangat baik, bukan, bukan tentang diri saya tapi tentang dunia buku yang meski masih carut marut dan kacau balau, masih memberikan secercah harapan dengan hadirnya buku-buku bagus berkualitas. Saya masih dimanjakan dengan buku, baik fiksi maupun non fiksi, dengan kualitas yang jauh dari ekspektasi saya.

Awalnya setelah kejatuhan Dewi Lestari pada sekuel ke empat supernova saya sudah menyatakan diri untuk tidak lagi membaca buku penulis indonesia. Tapi seperti biasa, saya menjilat ludah saya sendiri, karena godaan beberapa buku yang diresensi/direview terlalu bagus. Entah kebanyakan orang, saya punya tendensi negatif untuk tak percaya apa yang terlanjur mapan. Hal ini juga berlaku pada buku-buku yang syarat pujian. Untungnya negativitas saya kali ini tumpul dan salah. Beberapa buku yang dipuji tadi memang benar-benar bagus dan memang sangat layak direkomendasikan.

Salah satu buku yang saya sukai, tapi tak masuk dalam daftar ini adalah Pulang karya Leila S Chudori. Buku ini barangkali adalah sebuah pembuktian dari Leila untuk mendobrak gelar cerpenis yang ia pegang selama menahun. Ini karya ketiga, jika saya tak salah, setelah kumcer Malam Terakhir dan 9 Dari Nadira yang telah ia lepas sebelumnya. Buku ini meski dengan basi mengambil tema 65 memberikan sebuah perspektif agak berbeda-meski tidak baru-yang sayangnya, oleh para kritikus (kiri) gagal ditangkap. Manusia-manusia eksil yang terbuang karena idiologi, memiliki nasionalismenya sendiri. Mereka yang dilabeli pengkhianat masih punya kerinduan dan cinta pada tanah air.

Saya sangat mengapresiasi positif atas munculnya karya ini, terlepas juga polemik tentang kemenangannya pada Katulistiwa Literary Award, karya ini adalah pembuktian bahwa Leila bisa menulis novel. Menariknya saya membaca sebuah kritik dari Dea Anugrah yang ditulis di jurnal kebudayaan Indoprogress. Sebagian besar saya setuju kritik Dea atas Pulang, meski saya kira ia tak adil jika membandingan Pulang dengan Tetralogi Pulau Buru karya Pramoedya Ananta Toer.

Dalam kritik itu ia juga mengaku tak adil, tapi entah sengaja atau tidak, perbandingan yang dipilih Dea bagi saya janggal. Ia tak apple to apple. Idealnya jika ingin membandingkan karya Novel pertama dari seorang cerpenis, maka ia harus bandingkan pula novel pertama Pram setelah sebelumnya ia dituduh berak oleh Idrus. Meski Pulang, bagi saya, terlalu biasa saja untuk bisa disebut prosa. Namun usaha dan kekuatan bertutur (yang dianggap keminther oleh kritikus karena banyak sebut nama besar) Leila tejaga apik dan bisa dibedakan dengan jelas dari cerpen-cerpennya.

Tapi cukup soal Pulang. Tahun ini saya merasa beruntung bisa bertemu beberapa penulis hebat yang saya kagumi. AS Laksana, Damhuri Muhammad, Yusi Avianto Pareanom, Agustinus Wibowo dan Rony Agustinus. Orang-orang ini adalah para kanon yang menjalani laku hidup bushido. Barangkali agak berlebihan menyebut demikian, tapi mereka adalah orang-orang yang total dalam pengembangan sastra Indonesia. Dari mereka saya belajar tentang integritas, dunia penerbitan, kepenulisan, apresiasi karya dan yang paling penting kedewasaan berpolemik.

Dalam menyusun karya ini saya tak menggunakan urutan dalam menentukan buku mana yang terbaik. Semua buku dalam daftar ini saya anggap terbaik untuk tahun ini. Jika sebelumnya saya dikritik karena tak membikin kriteria dalam penyusunan daftar, untuk kali ini saya susun sedikit syarat mengapa sebuah buku bisa dianggap terbaik. Ini bukan sesuatu yang orisinil, bahkan cenderung snobs, tapi kriteria ini bisa diaplikasikan kepada masing-masing individu pembaca terhadap karya yang mereka anggap terbaik.

Kriteria Pertama buku tersebut menjadi pembeda dengan karya sejenis, tema boleh seragam dan mirip tapi kemampuan seseorang bisa diukur baik atau tidaknya dari bagaimana ia membuat tema pop menjadi berkualitas dari bagaimana ia menuturkan sebuah narasi. Kedua buku itu memantik perdebatan sehat yang berujung pada mendidik pembaca perihal karya yang berkualitas. Ketiga buku tersebut tidak disusun untuk mengikuti sebuah trend yang tengah berlangsung dan laris di pasaran. Terakhir Keempat buku tersebut bukanlah karya instan yang lahir dari pesohor dadakan, melainkan dari penulis yang berkapasitas. Untuk yang terakhir ini adalah upaya (sangat tendensius) saya untuk membedakan buku yang lahir dari kultur sosial media dan mereka penulis (beneran) yang lahir karena dialektika karya.

1. Titik Nol – Agustinus Wibowo

Saya meresensi buku ini pada paruh awal 2013 sebagai satu-satunya travelogue terbaik yang bisa disusun dengan gaya gonzo. Pendapat itu tidak berubah. Buku ini menujukan bahwa buku perjalanan bukan sekedar tentang jumlah stempel negara di paspor, bukan pula tentang pernah ke Machu Pichu atau ke Great Wall. Barangkali ada manusia yang krisis identitas pos kolonial yang pelu memamerkan destinasi, tapi tidak Agustinus. Dalam buku ini ia biara tentang memoar perjalanan hidup. Juga tentang renungan-renungan yang dihasilkan dari sebuah kepergian.

Berbeda dengan buku sejenis yang terlampau terjebak pada destinasi dan keindahan, Agus bicara tentang dirinya sendiri juga bagaimana hidup bisa mengajarkan ironi, berjalan ke negeri-negeri jauh toh tak akan membuatmu jadi hebat. Ia hanya mengajarkanmu kerendahan hati dan menghargai perbedaan. Di sini Agus juga bicara tentang bagaimana seorang anak mengenang ibunya.  Ia bicara tentang keluarga, tentang kematian, tentang kepedihan dan tentang makna hidup.

Di sini manusia-manusia yang memiliki otak, diajarkan untuk belajar. Bahwa perjalanan bukan sekedar gaya hidup, bukan sekedar pamer, bukan sekedar membikin buku berseri-seri lantas menasbihkan diri sebagai pengelana hebat atau bahkan bukan sekedar merendahkan negara lain karena ketololan sendiri visa kita ditolak sebuah negara. Tapi bagaimana menulis dengan baik, menulis dengan estetik, menulis dengan hati tentang sebuah perjalanan tanpa terjebak gimmick murahan ala agen perjalanan.

2. Murjangkung – AS Laksana

Beberapa orang yang saya kenal mengatakan bahwa Murjangkung adalah kumpulan cerpen terbaik tahun ini. Saya tidak setuju, setidaknya selama satu dekade terakhir, dengan segala kelemahannya Murjangkung melampaui apa yang telah ada dalam kebanyakan koran kita hari ini. Cerpen-cerpen yang berusaha menyesuaikan selera dari masing-masing redaktur koran minggu alih alih mencari gaya bertutur dan berkaya sebagusnya, sebaiknya, dan sebebas bebasnya. Menyadari bahwa sastra seharusnya mencari bentuk baru dan hanya menghamba pada kreatifitas bukan kepada pasar.

Saya jarang membaca pengantar buku, selain itu tindakan sia-sia, seringkali isinya hanya “glorifikasi diri lewat ucapan terima kasih pada kolega yang punya nama,” tapi tentu saja bukan Sulak namanya kalau tak bisa bikin pembaca menjadi terkecoh. Saya mau tak mau harus ditampar dengan kalimat “Urusan pembaca adalah mengekalkan ingatan pada apa yang mereka sukai. Sebaliknya, urusan penulis adalah menghapus apa-apa yang sudah pernah ia bikin”. Ini adalah upaya menyindir, atau mengejek, dalam artian seorang penulis bisa diukur dari bagaimana karyanya diingat, juga bagaimana ia tak ambil pusing dengan nasib karangannya sendiri.

Tapi apa itu sebenarnya karya sastra yang berkualitas? Dalam buku ini anda akan menemukan sebuah ramalan dari Franz Kafka, bahwa karya yang baik adalah sebuah kapak yang akan memecahkan es dalam kepalamu. Sejak cerpen pertama Bagaimana Murjangkung Mendirikan Kota dan Mati Sakit Perut sampai dengan Peristiwa Kedua, Seperti Komedi Putar kita diajak kembali menemukan karya sastra sesungguhnya. Karya yang tidak lagi puitis hanya karena metafora picisan dari senja atau hujan. Tapi kisah sehari-hari yang dituturkan ulang dengan kesederhanaan yang subtil.

3. Kekerasan Budaya Paska 1965 – Wijaya Herlambang

Buku Kekerasan Budaya Pasca 1965 adalah upaya untuk menjelaskan secara ilmiah bagaimana kuasa dominasi hegemoni kultural, bisa masuk melalu elemen-elemen paling tak terduga dalam hidup Bahwa pada akhirnya upaya mengendalikan masyarakat tidak lagi efektif dilakukan dengan cara-cara kekerasan, tapi dengan kekuatan halus tak kasat mata seperti karya sastra dan film. Di sini represi dan tirani pemerintah merupakan elemen kecil dari sebuah narasi besar untuk melegalkan dan membenarkan kekerasan terhadap mereka yang tertuduh terlibat pada coup 65.

Wijaya lantas melakukan sebuah penelitian ala detektif untuk meneliti agen-agen yang dibayar dan dibiayai untuk melanggengkan kekerasan secara kultural terhadap komunisme. Banyak nama-nama besar dalam kebudayaan modern Indonesia yang disasar. Seperti Goenawan Mohamad, Mochtar Lubis, Taufiq Ismail dan kaitanannya dengan agen CIA Ivan Kats. Wijaya secara dingin berusaha membuktikan apa yang selama ini hanya sekedar gunjing pasar, menjadi sebuah penelitian empiris yang dapat dipertanggungjawabkan isinya.

Saya mengklaim bahwa buku ini wajib dibaca bagi mereka yang ingin paham sejarah polemik kebudayaan di Indonesia. Ia menjelaskan bagaimana sosok budayawan yang dianggap suci dan seolah berpihak pada humanisme universal, ternyata bagian dari satu sistem besar jagal yang menyudutkan korban 65. Barangkali beberapa nama yang disebutkan dalam buku ini telah cuci tangan dengan membuka dukungan terhadap upaya rekonsiliasi, tapi bukan berarti mereka bisa lepas dari pertanggungjawaban atas kejahatan yang dilanggengkan.

4. Al Rashafat – Ismail Fajrie Alatas

Al Rashafāt: Percikan Cinta para Kekasih karangan Ismail Fajri Alatas adalah oase di tengah kecamuk kejumudan dan kesempitan pemikiran islam hari ini, ia boleh jadi satu di antara sedikit nama yang membuat Islam menjadi segar dan lapang. Tentu ini hiperbolis dan romantik. Toh, dengan peradaban yang kiat gegas dan dinamis, apa yang dilakukan Fajrie bukan hal baru. Tapi menawarkan kerumitan dan keagungan narasi cinta dalam kazanah sufistik di zaman seperti inilah, ia saya pikir, sudah membuat kita sadar ada yang lebih baik dan mulia daripada sekedar merengkuh hedonisme hidup.

Ada empat bagian dalam yang dibedah dalam Al Rashafāt hal ini dilakukan agar bisa menjadi lebih
fokus untuk memahami sajak-sajak Imam Abd al-Rahman Bilfaqih. Pembagian itu adalah Minuman Cinta para Kekasih, Keadaan para Wali, Kehadiran para wali pada Setiap Masa dan Urgensi Keberadaan Mereka, Kemuliaan Manusia (insan) dan Hakikatnya sebagai Khalifah Yang Maha Pengasih (al Rahman). Pembabakan ini memudahkan kita untuk memahai jenjang-jenjang (keimanan?) usaha mencintai dalam perspektif sufisme dan relasinya dalam ibadah.

Bagaimana menyakinkan anda untuk membaca buku ini? Tidak perlu. Jika anda menganggap buku pseudo religi medioker berjudul Udah Putusin Aja seabagi buku berkualitas, anda tak akan bia memahami buku ini. Buku ini akan mengajarkan anda bahwa cinta, seperti juga agama, merupakan kesunyian masing-masing pemeluknya. Ia memberikan kebijaksanaan bagi yang mengerti, kedewasaan bagi mereka yang berpikir dan iba hati bagi mereka yang merasa. Al Rashafāt adalah ekstase kerinduan seorang hamba akan tuhannya.

5. Surat Panjang Tentang Jarak Kita Yang Jutaan Tahun Cahaya – Dewi Kharisma Michellia

Saya iri pada Michel. Ia adalah penulis cerpen terbaik dalam generasi saya, generasi K Pop yang memuja sosial media dan generasi yang gagap membaca sejarah. Michel adalah seorang kenalan yang memberikan saya garis jelas antara penulis beneran dan penulis jadi-jadian. Ia adalah apa yang mustahil saya capai. Seorang penulis muda dengan selera baca yang keren. Lebih dari itu novel epistolari yang disusun Michel tentang tuan dan nona Alien, tentang harapan, tentang cinta yang pada akhirnya harus selesai.

Saya penggemar berat karya penulisan epistolari. Bahkan teknik bercerita menggunakan sejumlah dokumen yang berurutan seperti catatan harian, artikel atau jurnal ini merupakan cara menulis paling saya gemari. Dan Michel dengan piawai menuliskan kisahnya tanpa terjebak menjadi tendensius ataupun snobs. Gaya ini banyak diadopsi sebagai gaya menulis cerpen karena relatif lebih efisien dan mudah ditulis. Namun menyusunnya sebagai sebuah novel dengan kontinyuitas perlu kemampuan lebih. Ia harus punya jahitan kuat antar satu surat dan yang lainnya. Ini yang membuat novel Michel jadi pembeda dengan generasi penulis seumurannya.

Surat-surat yang ditulis Nona Alien adalah sebuah rekam jejak. Sebuah dokumentasi akan hidup yang pernah terjadi. Sebuah salam untuk kemudian merelakan seseorang yang pernah sangat berarti bagimu untuk pergi. Novel ini ditulis dengan plot yang tidak linier, tidak terduga dan penuh kejutan. Meski kemudian pada beberapa hal, surat-surat tadi hanya sekedar remeh temeh belaka, tapi ia adalah upaya akhir seseorang untuk mengingat sebelum akhirnya menyerah lantas merelakan. Apakah karya ini indah? Tentu saja. Ia akan memberimu perspektif lain, bahwa menulis bukan sekedar cuitan 140 karakter tentang kegalauan yang itu-itu saja.

Selain lima buku tadi ada beberapa buku lain yang menarik perhatian saya. Seperti riset yang dilakukan oleh Ruang Rupa dan Yayasan Tifa berjudul Publik dan Reklame di Ruang Kota Jakarta, Based on A True Story Pure Saturday susunan Idhar Resmadi, Penghancuran Buku dari Masa ke Masa susunan Fernando Baez merupakan salah satu buku yang keren tahun ini. Sayang saya tak banyak membaca buku puisi. Kecuali Plesir Mimpi karya Adimas Imanuel, Doa Untuk Anak Cucu karya WS Rendra, Kepulangan Kelima karya Irwan Bajang dan Gandari karya Goenawan Mohammad saya tak banyak membaca buku puisi lain.

Tahun depan konon akan menjadi momen dimana buku buku puisi akan banyak diterbitkan. Saya berharap buku yang hadir adalah buku yang benar benar digarap sebaiknya bukan buku yang asal muncul hanya untuk memenuhi target produksi dari penerbit.

Jumat, 27 Desember 2013

Anak Kosan Yang Merasa Akrab

Kemarin saya membaca sebuah tulisan yang bernas dan kritis dari Ardi Wilda. Seorang kenalan di sosial media yang baru saya temui sekali di konser Melancholic Bitch. Ia adalah penulis yang saya kagumi. Bukan sekedar menjilat atau puja-puji belaka, Awe, begitu saya dengar ia biasa disapa, menulis dengan kerendahan hati. Menulis dengan bahasa sederhana tentang masalah pelik yang tidak dibuat rumit. Menulis dengan ide-ide kecil tentang hal yang besar. Ia adalah apa yang segala saya inginkan tapi tidak pernah bisa saya lakukan.

Pada tulisan itu Awe menuduh, ah tidak mengingatkan lebih tepatnya, jika saya sebagai seorang penulis terlalu cari perhatian, sehingga lupa akan subtansi. Saya lebih sering berpolemik tanpa berupaya memberikan jalan atau mengajak orang lain berpikir lebih baik. Awe tepat, saya selalu mengejar kanon satu dan kanon lainnya, mencari kesalahan mereka, seperti orang suci mengumbar bobrok, mengkritik keras lantas saya semua selesai saya pergi tanpa memberikan jawaban tentang apa maksud semua itu.

Tapi ia salah memilih parabel. Saya bukan orang ganteng yang bisa ganti-ganti pasangan, saya tak punya banyak pacar, jika pun ada barangkali ia tak mengakui saya sebagai pacar.

Tapi marilah kita sepakati parabel yang digunakan oleh Awe. Saya barangkali sering membawa pasangan ke kosan. Hari ini pasangan itu bernama Goenawan Mohamad, mungkin minggu depan pasangan itu bernama Trinity, atau minggu lalu pasangan saya bernama Dewi Lestari, dan bukan tak mungkin pasangan yang saya bawa beberapa hari lagi adalah Anies Baswedan. Awe berhak berpikir bahwa saya sedang pamer, bahwa saya bisa pacaran dengan menghantam keras nama-nama besar itu, ia boleh saja curiga dan berpendapat bahwa saya sedang cari muka kepada mereka.

Sekarang saya perjelas lagi sesuatu yang sebenarnya telah jelas. Iya, saya sedang cari muka, tapi tidak kepada mereka. Tapi kepada orang-orang yang terlanjur taklid buta dan menganggap para kanon tadi adalah manusia yang maksum. Manusia yang tanpa dosa dan mustahil salah.

Sebagai sesama anak kos, meski baru kenal, Awe tahu ia bertanya mengapa, bisa menggugat, dan ia lakukan itu dalam suratnya yang ditulis dengan jernih itu. Saya pun berhak menjawab atas gugatan dan hal yang ia permasalahkan itu. Awe punya pandangan agak buruk tentang apa yang saya lakukan dan itu hal yang wajar. Saya dan dia hidup dalam lingkungan yang berbeda, kami memiliki pola perilaku dan lingkar kawan yang barangkali berbeda cara berpikirnya.

Berbeda dengan Awe yang berfalsafah hidup taktis dan jelas. Saya mustahil untuk berpikir sederhana dan bertindak sederhana seperti yang ia lakukan. Awe tak tahu bahwa ada hal-hal sederhana yang tak bisa diselesaikan dengan cara sederhana. Saya menolak untuk menjadi inspirasi seperti yang ia lakukan dalam tulisannya. Saya ingin jadi peluru, saya ingin jadi dinamit, saya ingin jadi petasan yang membuat orang kaget dan marah. Orang butuh disadarkan bahwa ada yang salah dengan kita, ada yang salah dengan orang-orang yang kita puja, ada yang salah dengan segala yang tampaknya baik-baik saja itu.

Saya menolak diam, seperti Awe dengan keputusannya menjadi guru dan bertindak sederhana tapi nyata, saya memilih untuk jadi selilit, jadi benalu, jadi kotoran kuping, jadi upil dan jadi bisul yang membuat orang lain tak nyaman. Sesuatu yang abstrak, sesuatu yang hasilnya tak bisa dirasakan hari itu juga, tak bisa dirasakan oleh banyak orang, atau bahkan bisa terlihat seperti orang yang onani, merasa puas dan bahagia sendiri. Tapi Awe tidak tahu, saya tidak bahagia, saya merasa sedih, sedih tahu bahwa ia menganggap semuanya sedang baik-baik saja.

Awe yang terlalu rajin pergi saat ada jadwal kuliah, lalu pulang ketika kuliah usai, di akhir minggu sesekali pergi bermain futsal, tidak pernah tahu, bahwa anak-anak kosan tempat ia tinggal, lebih suka membolos daripada kuliah, lebih suka dugem daripada bermain futsal, dan lebih suka nongkrong di mall daripada aktif berorganisasi. Awe, seperti anak-anak yang suka menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan lupa, bahwa fungsi lilin adalah memberikan cahaya agar bisa melihat lebih jelas, bukan menjadi satu-satunya pemilik otoritas cahaya yang seenaknya bisa menerangi daerah daerah gelap yang ia sukai.

Awe juga lupa, bahwa saya lebih memilih mengutuk gelap dan tak menyalakan lilin seperti yang ia lakukan. Awe tak tahu, untuk bisa menyalakan lilin, seseorang harus punya lilin terlebih dahulu, sayang tak semua orang punya lilin. Bagi saya, juga ratusan juta manusia yang dibikin gelap hidupnya oleh bapak kosan yang brengsek, hanya mampu mengutuk, menggerutu, marah dan memaki. Awe yang rajin kuliah, aktif diorganisasi, sesekali main futsal, dan rajin membaca itu tak tahu. Ia tak pernah tahu bahwa anak kosan yang lain tidak sedang baik-baik saja. Setidaknya menurut saya mereka tidak baik-baik saja.

Saya tak bisa menjadi baik, orang baik seringkali diinjak. Saya memilih untuk jadi bedebah yang membuat orang lain jengah. Toh banyak dari kita yang lebih menyukai negativitas daripada menjadi baik. Orang baik seperi Awe, yang lebih memilih bekerja sendirian seperti ronin, merasa lebih baik dari yang lain. Orang yang berpikir "Saya sudah bekerja nyata, di pelosok, tak ribut ribut ngomong doang seperti kalian," adalah bagian dari masalah. The good Samaritan syndrome, sindrom merasa cukup karena telah berbuat baik sesekali, lantas berhak menghakimi orang lain.

Itulah wisdom of the crowd saat ini, merasa lebih baik daripada orang lain. Bedanya saya mengakui itu, saya lebih baik daripada kebanyakan orang, saya tak malu mengakui jika fasis sejak dalam pikiran, saya menolak jadi kerumunan yang cuma bisa ikut ikutan dan tunduk, saya menolak cuma sekedar mendidik setahun lantas merasa cukup, saya menolak menunjukan kepedulian cuma dari sosial media saja, saya tahu saya punya cara lebih efektif dari itu, menunjuk muka orang-orang yang sudah terlalu mapan untuk bertanggung jawab atas kebodohan yang ia langgengkan.

Saya tak ingin jadi inspirasi dengan menunjukan kerja-kerja nyata saya. Ada orang yang lebih tampan dan lebih bergincu untuk peran itu. Saya ingin jadi orang jahat saja, orang jahat pacarnya banyak, bisa nikung temen sendiri lagi. Begitu.

Kamis, 19 Desember 2013

Untuk Bapa Fransis

Dear Bapa Paus Fransiskus Jorge Mario Bergoglio di Vatikan.

Apa kabar pak? Sehat? Alhamdulillah. Saya selalu mendoakan kepada Allah agar orang-orang baik seperti anda selalu diberikan kesehatan. Selalu diberikan kemujuran juga kekuatan untuk terus memberikan yang terbaik bagi umat manusia. Teladan, dengan aksi nyata, barangkali adalah hal yang paling dibutuhkan peradaban dunia modern. Ketimbang kutipan-kutipan ayat, seruan perihal ibadah atau bahkan jaminan sorga. Manusia butuh kebaikan hari ini bukan janji, yang bisa jadi salah, di hari akhir nanti.

Bapa Frans, bolehkah saya memanggil anda demikian? Saya ingin lebih akrab dengan anda. Barangkali anda suka kopi? Saya pribadi lebih suka susu stroberi dingin. Apalagi dengan Pocky coklat pisang. Apakah anda pernah coba itu Bapa Frans? Pocky Coklat dan Susu Stroberi Dingin bisa jadi kudapan segar untuk anda nikmati di hari-hari musim panas Vatikan. Anda tentu bisa saja memesan gellato dingin, tapi cobalah makan Pocky Coklat, atau kue cucur mungkin? Kue dari Indonesia yang terkenal legit dan nikmat.  Well, kita semua butuh piknik sesekali bukan? Merasakan hidup dan menikmati sedikit berkah Tuhan.

Tapi bukan untuk itu saya menulis ini Bapa Frans. Barangkali seperti yang anda sudah ketahui. Indonesia, negeri dimana saya tinggal, merupakan negeri dengan populasi penganut ajaran Islam terbesar di dunia. Sayangnya tidak semua orang yang mengaku Islam tadi adalah orang muslim. Kebanyakan mereka hanya berhenti pada tataran mualaf. Orang yang baru masuk dan belajar menjadi muslim. Mengapa saya sebut demikian? Ya karena banyak dari orang-orang ber KTP Islam tadi hanya berhenti menjadi manusia yang beribadah lima kali sehari, naik haji jika punya uang, puasa jika ramadhan, sholat berjamaah seminggu sekali di masjid, tapi gagal menjadi manusia yang bermanfaat bagi manusia lain.

Agak keras? Tidak juga Bapa Frans yang baik. Jika orang orang yang mengaku muslim tadi sadar akan sejarah agamanya sendiri, paham akan makna ajaran agamanya sendiri dan mengerti konsep utama dari agamanya sendiri barangkali ia akan menjadi anda Bapa Frans yang baik. Menyadari bahwa kesalihan sosial lebih penting daripada liturgi. Bahwa ritus adalah perkara keyakinan masing-masing. Ia tak perlu ditunjukan, tak perlu disombongkan dan yang jelas tak perlu dipaksakan kepada orang lain. Barangkali mereka yang merasa perlu menunjukan keyakinan mereka adalah orang yang sebenarnya dipenuhi kelemahan atas imannya sendiri.

Seperti anda, saya juga tak percaya konversi keyakinan. Colek saya jika salah, bukankah anda dalam wawancara bersama la Reppublica mengatakan jika proselytism adalah omong kosong? Bagi saya usaha konversi keyakinan adalah usaha untuk merebut keyakinan seseorang. Tak penting siapa utusan yang dipilih oleh Tuhan untuk membawa pesan Nya. Entah itu Musa, Isa (atau Yesus) dan Muhammad. Yang penting apakah kau menerima pesan yang ia sampaikan? Sayang banyak manusia yang mengaku beragama, termasuk muslim, gagal paham pernyataan anda. Melulu, mereka pikir status dan label agama lebih penting daripada kesalihan sosial.

Barangkali, di antara kesibukan Bapa Frans yang baik, sudilah kiranya datang ke Indonesia. Mengajari kami umat Islam di Indonesia bagaimana caranya menjadi muslim yang baik. Karena saya menemukan lagi apa arti muslim dalam laku hidup dan sikap yang Bapa Frans lakukan. Menjadi muslim adalah menjadi rendah hati, toleran, saling menolong, terbuka dan tulus juga iklas. Anda, pada beberapa derajat, lebih muslim daripada orang islam sendiri. Mungkin dengan kehadiran Bapa Frans yang mulia mereka, manusia-manusia yang mengaku islam tapi jumud berpikir sempit, bisa belajar perihal menjadi manusia di antara manusia terlepas apapun keyakinannya.

Saya gemar sekali mendengarkan kidung Mazmur. Bukankah keindahan tak mengenal label agama Bapa Frans yang baik? Saya sendiri awalnya ada dalam barisan yang membenci nasrani. Membenci Yesus dan membenci mereka yang berbeda dengan saya. Seumur hidup saya merasa bahwa kalian, umat katolik dan kristen, adalah wabah, hantu, wewegombel atau semacam jerangkong yang mengajak umat Islam berpindah agama. Berpindah keyakinan. Seperti yang diajarkan dalam surat Al Baqarah ayat 120. Tapi sebagai manusia yang berpikir dan berotak saya menolak hanya menerima sebuah perintah tanpa paham dulu konteks sebuah ayat atau perintah diturunkan.

Melulu kita bisa saja diam, bersandar pada satu tafsir yang tunggal. Saya menolak itu Bapa Frans yang bijak. Pada Ali ‘Imran ayat 118 misalnya Allah berfirman

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya."

Dalam Asbabun Nuzul nya tercatat dari Ibnu Jarir dan Ibnu Ishak mengetengahkan dari Ibnu Abbas, katanya, "Beberapa orang laki-laki Islam masih juga berhubungan dengan laki-laki Yahudi disebabkan mereka bertetangga dan terikat dalam perjanjian jahiliah yang mengikat. Allah menurunkan ayat ini supaya umat muslim terhindar dari fitnah dan kewajiban memerangi sesama muslim karena perjanjian itu. Konteks ayat itu jelas, bahwa kaum muslimin masih lemah dan dalam peperangan. Tapi apakah kita saat ini berperang? Apakah kaum muslimin, di Indonesia, sedang berperang dengan umat anda Bapa Frans? Tentu saja tidak.

Jika semata kita membaca teks ini tanpa memahami Asbabun Nuzul-nya tentu akan ada syiar kebencian. Bahwa umat Islam diajarkan untuk ekslusif. Diajarkan untuk menjaga jarak, diajarkan untuk curiga, takut dan memusuhi. Tapi yang demikian bukanlah ajaran Islam Bapa Frans yang baik. Islam yang baik menunut para pemeluknya untuk terus berpikir. Terus mencari tahu dan bukan diam sekedar menerima suapan ajaran. Bahwa Islam adalah agama yang mengajarkan berpikir, Iqra, bunyi surat pertama yang turun dalam ajaran kami bukan melulu perintah membaca Qur'an belaka. Namun ilmu pengetahuan lain yang membuat kami sebagai muslim bisa menjadi terbuka dan bijak.

Bapa Frans yang baik. Apakah anda tahu Imam Ali bin Abi Thalib? Ia yang dijuluki bulul 'ilmi, pintu dari kota ilmu pengetahuan bernama Nabi Muhammad. Ia yang dijuluki pula oleh kanjeng Nabi kami sebagai Abu Thurab si manusia yang diselimuti abu. Tahukah anda mengapa ia menerima julukan ini Bapa Frans yang baik? Karena ia, Imam Ali yang sederhana, saudara terdekat kanjeng Nabi, menantunya yang mulia, pria berjuluk Al Faruq al Azham, tertidur di masjid tertutup debu padang pasir. Lantas Kanjeng Nabi Muhammad yang agung membangunkannya seraya berkata "Bangunlah Abu Thurab," ia, Imam Ali kami, sungguh menyukai panggilan ini.

Tapi mungkin Bapa Frans yang baik bertanya. Mengapa jika benar Imam Ali adalah orang yang mulia, menerima bahkan senang ketika ia dijuluki Abu Thurab alias si manusia debu? Karena ia menjadi manusia, menjadi fana, menjadi sederhana dan tidak menyalahi fitrah sebagai umat. Tahukah anda Bapa Frans yang baik? Sebagai Imam dan Kalifah ke IV dalam Islam ia bisa saja memilih hidup bermewah-mewahan seperti Abu Sufyan, muawiyah dan yazid keturunannya, tapi si Abu Thurab ini memilih hidup sederhana, miskin dan tak punya apa-apa. Karena apa yang dimiliki baitul mal, seperti juga bank Vatikan yang anda tegur karena terlalu matrealis, adalah milik umat. Bukan milik pribadi pemimpin.

Memang agak kurang tepat membandingkan anda Bapa Frans dengan Imam Ali. Bukan, bukan karena kalian berasal dari dua label agama yang berbeda. Tapi karena Bapa Frans dan Imam Ali berada pada dua zaman dengan dua permasalahan berbeda. Saat itu, seperti yang juga terjadi hari ini, umat muslim tengah pecah oleh manusia yang gemar mengkafirkan dan menyesatkan. Manusia-manusia dungu yang gagal melihat perbedaan sebagai fitrah. Hari ini pekerjaan Bapa Frans mungkin sedikit lebih mudah. Dengan segala kesederhanaan dan kebijakan membumi yang bapa bikin umat Katolik, saya pikir, mencapai puncak peradaban sosialnya yang paripurna.

Sebagai pemimin anda tak ragu mencuci kaki anak anak nakal yang terkena masalah. Dua di antaranya adalah muslim. Toleransi ini, boleh jadi adalah gincu, sekedar usaha menaikan rating dan citra gereja yang terpuruk sebelumnya. Barangkali pula ini sekedar pura-pura. Tapi kita tahu, saya tahu, anda tahu. Sikap baik selalu berpotensi dianggap pencitraan. Tapi Bapa Frans yang baik. Saya percaya anda adalah orang yang jujur. Mungkin saya bisa salah. Tapi di zaman dimana keras hati dan teror adalah raja, cinta kasih yang anda tunjukan adalah rahmat lil alamin yang saya rindukan. Anda mungkin bukan orang islam tapi bagi saya anda lebih muslim daripada muslim itu sendiri.

Sulit bagi saya untuk tak turut haru mengingat bagaimana pada awal-awal sejarah lahirnya Islam kaum Nasrani turut membantu dan memberikan perlindungan. Sulit bagi saya untuk tak membandingkan kebaikan mereka yang berbeda keyakinan perihal kekudusan Yesus, atau Isa, namun tak membuat nasrani saat itu bersitegang ataupun memusuhi kaum muslimin. Pada sebuah kisah di tahun 628 M, beberapa utusan dari Biara St. Catherine, sebuah gerejadi kaki Gunung Sinai mengunjungi Nabi Muhammad untuk meminta perlindungan. Lantas melalui sebuah dokumen Nabi Muhammad menjamin keselamatan para biarawan nasrani tadi.

Beberapa intelektual muslim mendebat keabsahan dokumen ini. Tentu saja, seperti yang saya bilang di awal, niat baik selalu dicurigai sebagai kepalsuan. Barangkali terlalu sering kita dikhianati sehingga apa yang sebenarnya baik dan tulus dicurigai sebagai kejahatan yang dipalsukan. Kepada biarawan St. Catherine nabi Muhammad berjanji bahwa

“Ini adalah pesan dari Muhammad bin Abdullah, yang berfungsi sebagai perjanjian dengan mereka yang memeluk agama Kristen, di sini dan di mana pun mereka berada, kami bersama mereka. Bahwasanya aku, para pembantuku, dan para pengikutku sungguh membela mereka, karena orang Kristen juga rakyatku; dan demi Allah, aku akan menentang apa pun yang tidak menyenangkan mereka. Tidak boleh ada paksaan atas mereka. Tidak boleh ada hakim Kristen yang dicopot dari jabatannya demikian juga pendeta dari biaranya. Tak boleh ada seorang pun yang menghancurkan rumah ibadah mereka, merusaknya, atau memindahkan apa pun darinya ke rumah kaum Muslim. Bila ada yang melakukan hal-hal tersebut, maka ia melanggar perintah Allah dan Rasul-Nya. Bahwasanya mereka sesungguhnya adalah sekutuku dan mereka aku jamin untuk tidak mengalami yang tidak mereka sukai. Tidak boleh ada yang memaksa mereka pergi atau mewajibkan mereka berperang. Muslimlah yang harus berperang untuk mereka. Bila seorang perempuan Kristen menikahi lelaki Muslim, pernikahan itu harus dilakukan atas persetujuannya. Ia tak boleh dilarang untuk mengunjungi gereja untuk berdoa. Gereja mereka harus dihormati. Mereka tidak boleh dilarang untuk memperbaiki gereja mereka dan tidak boleh pula ditolak haknya atas perjanjian ini. Tak boleh ada umat Muslim yang melanggar perjanjian ini hingga hari penghabisan (kiamat).”

Dokumen di atas boleh jadi palsu, boleh jadi asli, boleh jadi bikinan dan boleh jadi sebuah konspirasi. Tapi apakah kepalsuan itu? Apakah yang asli? Apakah asli jika sesama manusia kau sekedar tunduk pada nafsu jahiliah akan kegemilangan masa lalu? Bahwa ada manusia-manusia yang merasa punya kuasa untuk menekan kelompok lainnya atas perintah surga? Bapa Frans yang baik. Anda selama ini, selama kepemimpinan anda sebagai seorang paus Katolik yang agung, mengajarkan saya untuk menjadi muslim yang benar. Muslim yang menyadari bahwa beragama tidak lantas melupakan tugasnya sebagai manusia. Yaitu menjadi manusia di antara manusia.

Bapa Frans yang baik. Semoga anda selalu sehat. Semoga akal sehat selalu menjadikan anda kawan karib. Semoga anda tetap mencontohkan bahwa keimanan bukan sekedar pertunjukan, tapi ia adalah tanggung jawab bersama. Bahwa mencintai surga tak lantas menjadikan orang lain di sekitar kita jadi terlantar. Atau lebih buruk lagi menjadikan orang yang ada di sekitar kita jadi ketakutan. Lantas apa gunanya beragama? Berkeyakinan jika hanya meneror dan memusuhi yang lain? Bukankah itu hanyalah kesia-siaan?

Mungkin kaum muslimin lupa bahwa paska penaklukan Mekah Kanjeng Nabi tidak memaksa, mengancam atau membunuh kaum non muslim. Ia memberikan kebebasan bagi kaum Nasrani dan kaum Yahudi untuk menjalankan keyakinannya. Bahkan pada sebuah narasi yang dituturkan oleh Karen Amstrong, mengisahkan bahwa seusai penghancuran berhala-berhala. Di dalam Ka'bah, rumah suci bagi kaum muslimin, terdapat satu lukisan Bunda Maria dan bayi Isa. Jika ini benar, terbukti dan bisa dipertanggung jawabkan, betapa absurdnya permusuhan yang dilakukan atas nama agama beratus tahun seusainya.

Ah Bapa Frans yang baik. Maafkan saya telah meracau dan membuang waktu anda yang berharga. Barangkali kita perlu berjumpa. Seperti yang anda katakan, manusia butuh lebih banyak bersama, berjumpa dan bicara dari hati ke hati. Ketimbang mengumbar teror, kebencian dan sekedar buruk sangka. Ah andai saja, ya, andai saja banyak umat muslim yang berpikir lebih bijak dan lebih panjang. Barangkali mereka akan menyukai anda Bapa Frans.

Jumat, 06 Desember 2013

Nyala Kebaikan Yang Kau Padamkan Sendiri

Imam Ali yang mulia, pintu kota ilmu pengetahuan suci Kanjeng Nabi Muhammad, pernah berkata "Mereka yang bukan saudaramu dalam agama, adalah saudaramu dalam kemanusiaan". Ucapan ini ia termaktub dalam Nahj ul Balagha volume III. Perkataan ini, bagi saya, adalah tanda bahwa kepedulian tidak terbatas hanya pada keyakinan. Tapi juga pada masalah kemanusiaan, namun sayangnya, seringkali, kemanusiaan hanya masalah gombal yang ditawarkan ketika keharuan dan tragedi terjadi.

Menjadi sufi bukan berarti menjadi benar. Sufi adalah jalan hidup. Sebagian memilih kesunyian, sedikit memilih panggung dan perhatian. Beberapa sufi menolak disebut sufi. Menjadikan laku hidup hanya untuk bersatu, mabuk, dan bercinta dengan tuhannya. Sedikit di antaranya bernyanyi di depan televisi, menumpang kawan-kawan pesohornya, menjadi selebritis, menjadi penulis, memuji diri sendiri dan numpang tenar membonceng gelar suci kaum bijaksana untuk menghamba pada dunia.

Kebijaksanaan peradaban kaum suci yang menolak terkenal, menolak dibajak. Tapi tak apa, barangkali seperti sebagian dari kita, ada orang orang yang merasa perlu melabeli diri sendiri agar bisa dikenal.

Islam adalah kedamaian. As salam bukan sekedar padan kata, atau sekedar turunan makna. Ia adalah pedoman hidup. Perdamaian tak melulu harus diam. Seperti Imam Ali yang kemudian memerangi kaum Khawarij. Ia percaya bahwa sebuah kebenaran mesti ditegakan meski harus berhadapan dengan kawan sendiri. Sebuah tawaran damai, persekutuan, dan usaha rekonsiliasi diberikan. Tapi sejarah mencatat, penolakan dan sikap TIDAK MERASA SALAH, harus diperangi. Tentu tidak dengan kekerasan. Imam Ali yang lembut hati itu coba menawarkan jalan. Meski akhirnya ditolak oleh manusia manusia yang ditutup nyala nurani hatinya.

Kita tahu. Bahwa kelak, dalam persimpangan hidup yang rumit, kita akan dipaksa memilih. Seringkali pilihan itu sangat berat. Seperti apakah harus selalu membela kawan. Atau seperti yang kita ketahui saat dimana dalam sejarah, ada murid-murid menentang gurunya, rekan dekat mengkritik, dan seorang kawan paling baik harus bersikap. Bahwa ketika kelaliman terjadi, entah saudara entah karib, harus membuka mata dan tahu menempatkan pembelaannya. Tidak dengan buta tunduk pada ewuh pakewuh semu bernama solidaritas sesama seniman

Adalah benar jihad tertinggi adalah jihad melawan nafsu diri sendiri. Tentunya melawan akibat buruk nafsu teman sendiri adalah bagian jihad. Itupun jika kita konsisten. Sulit untuk bisa bersikap jelas, apabila dalam hidup kita yang pendek ini, kita berkawan pada penjahat. Lebih buruk lagi, penjahat yang berbuat baik kepada kita. Tapi tentu saja, seringkali kata-kata manis, slogan keren dan pamflet-pamflet adalah kalimat bergincu belaka. Ia kosong. Tak lebih kosong daripada kolom yangditulis dengan nada-nada moral tapi miskin sikap karena harus berpijak pada konco-isme.

Mungkin bisa jadi demikian. Kata-kata indah ditulis, dijahit, makna dieram sehingga tampak manis, tapi kemudian ada yang disembunyikan. Fastabiqu 'l-khairat terlalu sempit jika kemudian dimaknai mendiamkan dan mendoakan penjahat agar bertaubat. Taubat haruslah lahir dari diri sendiri, bukan karena tertangkap basah, lantas mengaku khilaf, setelah berulangkali melakukan kejahatan dengan modus operandi yang sama. Maka saat ini anekdot menyedihkan al-islamu mahjubun bil-muslimin, kemuliaan Islam dituupi toleh perilaku oknum orang Islam itu sendiri tak terbantahkan.

Seharusnya, saat merasa diri ini dhaif, salah, berdosa dan tidak sempurna. Kita harus bersikap untuk mencari tahu dan belajar berpikir. Membela pendosa adalah sikap mulia. Tapi jika kemudian dengan membela itu kita lantas menutup mata dan melupakan keberadaan korban dari kelaliman. Maka apa gunanya kita beragama? Jika kau hanya mampu merasa peduli, simpati dan haru hanya kepada kawan? Lantas apakah harus menunggu keluargamu menjadi korban untuk peduli? Kita peduli karena kita merasa saudara dalam kemanusiaan dan itu lebih suci daripada sekedar perkawanan.

Barangkali benar hidup adalah tragedi bagi mereka yang merasa, komedi bagi mereka yang berpikir, parodi bagi mereka yang ingin numpang tenar.

Maka belajarlah dari Abu Turab, Si Pintu Ilmu Pengetahuan. Bahwa pengetahuan yang luhur lahir dari ucapan dan tindak tanduknya. Saat Ia coba dibunuh, menjelang kematian, dengan kepala penuh darah, Imam Ali yang mulia memang degan santun dan tulus meminta agar si pembunuh diperlakukan adil. Tapi tentu ia, yang dalam hidupnya teguh menjaga damai itu, meminta agar hukum tetap tegak. "Hukumlah ia seusai ajaran agama kita. Berikan satu pukulan yang akan membunuhnya," itu kata Imam Ali dihadapan dua penghulu surga Imam Hasan dan Imam Hussain.

Ia yang mengaku sufi tentu paham. Cinta memang adalah ajaran tertinggi dalam agama. Beberapa memproklamirkan bahwa cinta adalah agama itu sendiri. Jadi saat ada sufi yang kemudian membenarkan, atau bahkan bersikap acuh, saat cinta dinodai dengan paksaan, tipu daya dan kejahatan. Saya tak tahu sufi macam apa itu. Boleh jadi ia hanyalah pencatut yang menumpang nama sufi itu sendiri. Cinta adalah nyala hidup. Ia selayaknya suci dan tak tercemar. Sayang beberapa dari kita lebih memilih memadamkan nyala cahaya itu, hanya demi membela keburukan yang terlembaga.

Rabu, 04 Desember 2013

The Death of Conscience

Mahasiswi ini kehilangan kehormatannyanya, pada sebuah malam, di sebuah kamar kosan di Jakarta. Seorang penyair besar, yang menolak poligami dan selalu tampil membela moralitas, menyetubuhi mahasiswi dengan paksa setelah sebelumnya si penyair merayu dengan puisi yang jadi kelihaiannya itu.
“Ah itu kan belum pasti,” kata sebagian orang. “Kita buktikan saja di pengadilan,” kata sebagian yang lain. “Tapi kok si perempuannya baru melapor,” kata para pemberi petuah (dan iklan tabib). “Saya percaya mas penyair ia tak mungkin demikian,” kata seorang kolega. “Barangkali ini pengalihan isu,” kata rekan sejawat.
RW, nama inisial korban yang terlanjur diketahui publik, mungkin tidak tahu alasan siapa yang mengalihkan isu, siapa mas penyair, siapa yang perlu dibuktikan. Ia telah mencoba berebut mempertahankan kehormatannya dari mulut manis dan paksaan si penyair. Ia telah dikunci, ditarik masuk ke kamar. Ia telah menendang. Ia berusaha berontak lagi dan dicekoki minuman keras. Ia telah berontak tapi tentu nafsu yang ditambah kekuatan binatang tak akan mampu dikalahkan oleh seorang perempuan yang lemah.
Tapi ia melihat tubuhnya sedang dinodai, ia melihat kehormatannya terbang, maka ia kembali meloncat mencoba melawan si penyair yang tengah asyik mencumbu. Ia meronta dan coba berteriak-teriak, “Tolong jangan... tolong jangan....”
Dan benar: RW kemudian kehilangan kehormatannya, di sebuah kamar yang barangkali disewa melulu hanya untuk persetubuhan liar.
“Kasihan,” kata sebagian orang. “Kok sampai begitu,” kata sebagian yang lain. “Tapi kok mau diajak ke kamar kosannya,” kata rekan sejawat si penyair. “Dan pers jangan membesar-besarkan perkara ini,” kata seorang mantan pemimpin redaksi.
Apa yang besar sebenarnya? Apa yang kecil? Satu dari ribuan mahasiswi di Jakarta adalah soal kecil. Seorang dari sekian ratus ribu orang yang kehilangan kehormatannya di Indonesia kini adalah soal kecil. Lagi pula, pada saat satu mahasiswi diperkosa, di sebuah sudut, satu genius yang sama bejat dengan si penyair mungkin sedang ngencuk (kali ini dengan tidak paksaan) dengan yang lain. Penderitaan manusia adalah ombak yang tak bisa dielakkan dari sejarah sebuah bangsa….
Penderitaan manusia?
Beberapa kali RW mencoba bunuh diri, Ia malu kepada keluarganya. Ia seolah bicara kepada keluarganya yang taat beragama itu: "Ibu aku salah. Ayah aku salah. Aku sudah tidak sanggup hidup. Tapi ia menolak tunduk. Bersama rekan. Bersama kawan ia memutuskan untuk melawan. Melaporkan tindak pelecehan seksual, bagi seorang perempuan yang bukan siapa-siapa, bukan perkara kecil.
Apa yang kecil sebenarnya? Apa yang besar?
Seorang mahasiswi yang selama ini jatuh cinta pada sajak, menyukai puisi, mencintai kata kata, percaya bahwa sastra adalah sesuatu yang besar. Tapi ia lantas dikhianati oleh apa yang ia cintai, oleh apa yang ia puja, ia ditipu, diperdaya, sampai hancur segala yang dimiliki. Padahal ia punya cita-cita, barangkali yang mulia, menjadi seseorang yang mampu berguna bagi sesama. Lantas setelah belajar keras ia dapat diterima di sebuah kampus negeri mentereng di republik ini adalah sebuah kebanggaan, juga mungkin, kehormatan yang lain.
Satu kota sebelah dari tempat RW diperkosa, ada pusat kebudayaan. Di sana tertulis sebuah visi yang mulia "...memelihara kebebasan berpikir dan berekspresi, menghormati perbedaan dan keragaman, serta menumbuhkan dan menyebarkan kekayaan artistik dan intelektual."
Kehormatan RW bukanlah sekedar barang. Ada kebanggaan memiliki. Ada rasa marah karena sebuah hak direbut. Ada makian: huruf-huruf itu memprotes dan sekaligus putus asa terhadap perilaku anggotanya sendiri. Dengan kata lain, sebuah perkara besar, karena ia justru terbit pada seorang yang begitu kecil.
Orang yang kecil adalah orang yang memprotes dengan keyakinan tipis bahwa protes itu akan didengar, dan karena itu teriaknya sampai ke liang lahad.
Seperti sebuah sajak Zagreb, ditulis oleh seorang budayawan besar Goenawan Mohammad, dalam buku Misalkan Kita di Sarajevo, ketika bangsa ini masih dalam kekuasaan diktaktor, Ketika kebudayaan adalah usaha melawan rezim. Setelah akhirnya sebuah simbol tiran, Soeharto pada Mei 1998 akhirnya kalah dan terkubur:
Hanya seakan ada yang meneriakan tuhan, lewat lubang angindi tembok kiri, ke dalam deru hujan, menyerukan ajal,memekikan jajal, dan desaunya seperti sebuah sembahyang tak jelas,nyeri, sebuah doa dalam bekas.
RW juga sebenarnya mencoba menjerit tinggi-tinggi. “Kalau betul-betul negara hukum, SS harus ditangkap,” kata mahasiswi itu, pada sebuah tembok yang diam. Dia bilang, kalau betul-betul. Dia tidak bilang, karena ini negara hukum….
RW meminta, dengan kondisi tubuh berbadan dua, dengan bayi dalam kandungan, berharap mungkin dan itu berarti dengan keras — karena ia sesungguhnya tidak begitu yakin.
Bagaimana ia bisa yakin? Ia pasti tahu ia bukan termasuk mereka yang bisa menang. Ia bahkan mungkin tak termasuk mereka yang pernah menang. Orang kecil adalah orang yang, pada akhirnya, terlalu sering kalah. RW hanya mahasiswi yang sendiri: sudah teramat rapuh untuk dikeroyok para lingkar kekuasaan budaya dan media, terlampau lemah untuk berontak. Tapi ia, yang masih punya nyala hidup, toh masih punya dosen yang peduli, rekan yang tak tinggal diam, khalayak ramai tak dikenal yang peduli. Ia harus berdiri dengan dukungan dan perlindungan. Ia boleh coba dibungkam, diteror, tapi ia tidak membisu. Dan hidup kita, kata seorang arif bijaksana, terbuat dari kematian orang-orang lain yang tidak membisu.


tulisan ini ditulis dengan menyadur tanpa ijin dari sini.