Jumat, 27 Desember 2013

Anak Kosan Yang Merasa Akrab

Kemarin saya membaca sebuah tulisan yang bernas dan kritis dari Ardi Wilda. Seorang kenalan di sosial media yang baru saya temui sekali di konser Melancholic Bitch. Ia adalah penulis yang saya kagumi. Bukan sekedar menjilat atau puja-puji belaka, Awe, begitu saya dengar ia biasa disapa, menulis dengan kerendahan hati. Menulis dengan bahasa sederhana tentang masalah pelik yang tidak dibuat rumit. Menulis dengan ide-ide kecil tentang hal yang besar. Ia adalah apa yang segala saya inginkan tapi tidak pernah bisa saya lakukan.

Pada tulisan itu Awe menuduh, ah tidak mengingatkan lebih tepatnya, jika saya sebagai seorang penulis terlalu cari perhatian, sehingga lupa akan subtansi. Saya lebih sering berpolemik tanpa berupaya memberikan jalan atau mengajak orang lain berpikir lebih baik. Awe tepat, saya selalu mengejar kanon satu dan kanon lainnya, mencari kesalahan mereka, seperti orang suci mengumbar bobrok, mengkritik keras lantas saya semua selesai saya pergi tanpa memberikan jawaban tentang apa maksud semua itu.

Tapi ia salah memilih parabel. Saya bukan orang ganteng yang bisa ganti-ganti pasangan, saya tak punya banyak pacar, jika pun ada barangkali ia tak mengakui saya sebagai pacar.

Tapi marilah kita sepakati parabel yang digunakan oleh Awe. Saya barangkali sering membawa pasangan ke kosan. Hari ini pasangan itu bernama Goenawan Mohamad, mungkin minggu depan pasangan itu bernama Trinity, atau minggu lalu pasangan saya bernama Dewi Lestari, dan bukan tak mungkin pasangan yang saya bawa beberapa hari lagi adalah Anies Baswedan. Awe berhak berpikir bahwa saya sedang pamer, bahwa saya bisa pacaran dengan menghantam keras nama-nama besar itu, ia boleh saja curiga dan berpendapat bahwa saya sedang cari muka kepada mereka.

Sekarang saya perjelas lagi sesuatu yang sebenarnya telah jelas. Iya, saya sedang cari muka, tapi tidak kepada mereka. Tapi kepada orang-orang yang terlanjur taklid buta dan menganggap para kanon tadi adalah manusia yang maksum. Manusia yang tanpa dosa dan mustahil salah.

Sebagai sesama anak kos, meski baru kenal, Awe tahu ia bertanya mengapa, bisa menggugat, dan ia lakukan itu dalam suratnya yang ditulis dengan jernih itu. Saya pun berhak menjawab atas gugatan dan hal yang ia permasalahkan itu. Awe punya pandangan agak buruk tentang apa yang saya lakukan dan itu hal yang wajar. Saya dan dia hidup dalam lingkungan yang berbeda, kami memiliki pola perilaku dan lingkar kawan yang barangkali berbeda cara berpikirnya.

Berbeda dengan Awe yang berfalsafah hidup taktis dan jelas. Saya mustahil untuk berpikir sederhana dan bertindak sederhana seperti yang ia lakukan. Awe tak tahu bahwa ada hal-hal sederhana yang tak bisa diselesaikan dengan cara sederhana. Saya menolak untuk menjadi inspirasi seperti yang ia lakukan dalam tulisannya. Saya ingin jadi peluru, saya ingin jadi dinamit, saya ingin jadi petasan yang membuat orang kaget dan marah. Orang butuh disadarkan bahwa ada yang salah dengan kita, ada yang salah dengan orang-orang yang kita puja, ada yang salah dengan segala yang tampaknya baik-baik saja itu.

Saya menolak diam, seperti Awe dengan keputusannya menjadi guru dan bertindak sederhana tapi nyata, saya memilih untuk jadi selilit, jadi benalu, jadi kotoran kuping, jadi upil dan jadi bisul yang membuat orang lain tak nyaman. Sesuatu yang abstrak, sesuatu yang hasilnya tak bisa dirasakan hari itu juga, tak bisa dirasakan oleh banyak orang, atau bahkan bisa terlihat seperti orang yang onani, merasa puas dan bahagia sendiri. Tapi Awe tidak tahu, saya tidak bahagia, saya merasa sedih, sedih tahu bahwa ia menganggap semuanya sedang baik-baik saja.

Awe yang terlalu rajin pergi saat ada jadwal kuliah, lalu pulang ketika kuliah usai, di akhir minggu sesekali pergi bermain futsal, tidak pernah tahu, bahwa anak-anak kosan tempat ia tinggal, lebih suka membolos daripada kuliah, lebih suka dugem daripada bermain futsal, dan lebih suka nongkrong di mall daripada aktif berorganisasi. Awe, seperti anak-anak yang suka menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan lupa, bahwa fungsi lilin adalah memberikan cahaya agar bisa melihat lebih jelas, bukan menjadi satu-satunya pemilik otoritas cahaya yang seenaknya bisa menerangi daerah daerah gelap yang ia sukai.

Awe juga lupa, bahwa saya lebih memilih mengutuk gelap dan tak menyalakan lilin seperti yang ia lakukan. Awe tak tahu, untuk bisa menyalakan lilin, seseorang harus punya lilin terlebih dahulu, sayang tak semua orang punya lilin. Bagi saya, juga ratusan juta manusia yang dibikin gelap hidupnya oleh bapak kosan yang brengsek, hanya mampu mengutuk, menggerutu, marah dan memaki. Awe yang rajin kuliah, aktif diorganisasi, sesekali main futsal, dan rajin membaca itu tak tahu. Ia tak pernah tahu bahwa anak kosan yang lain tidak sedang baik-baik saja. Setidaknya menurut saya mereka tidak baik-baik saja.

Saya tak bisa menjadi baik, orang baik seringkali diinjak. Saya memilih untuk jadi bedebah yang membuat orang lain jengah. Toh banyak dari kita yang lebih menyukai negativitas daripada menjadi baik. Orang baik seperi Awe, yang lebih memilih bekerja sendirian seperti ronin, merasa lebih baik dari yang lain. Orang yang berpikir "Saya sudah bekerja nyata, di pelosok, tak ribut ribut ngomong doang seperti kalian," adalah bagian dari masalah. The good Samaritan syndrome, sindrom merasa cukup karena telah berbuat baik sesekali, lantas berhak menghakimi orang lain.

Itulah wisdom of the crowd saat ini, merasa lebih baik daripada orang lain. Bedanya saya mengakui itu, saya lebih baik daripada kebanyakan orang, saya tak malu mengakui jika fasis sejak dalam pikiran, saya menolak jadi kerumunan yang cuma bisa ikut ikutan dan tunduk, saya menolak cuma sekedar mendidik setahun lantas merasa cukup, saya menolak menunjukan kepedulian cuma dari sosial media saja, saya tahu saya punya cara lebih efektif dari itu, menunjuk muka orang-orang yang sudah terlalu mapan untuk bertanggung jawab atas kebodohan yang ia langgengkan.

Saya tak ingin jadi inspirasi dengan menunjukan kerja-kerja nyata saya. Ada orang yang lebih tampan dan lebih bergincu untuk peran itu. Saya ingin jadi orang jahat saja, orang jahat pacarnya banyak, bisa nikung temen sendiri lagi. Begitu.

2 komentar:

  1. Eeeeaaaaaa eeeeaaaa
    ucing gelut,cing....ucing gelut
    :p

    BalasHapus
  2. Ga setuju aku Dhan, upil itu ada justru bikin enak. Bukan bikin nggak enak. Tanpa upil kita nggak akan tahu nikmatnya ngupil. -kisahnyatapengupilharian-

    BalasHapus