Rabu, 04 Desember 2013

The Death of Conscience

Mahasiswi ini kehilangan kehormatannyanya, pada sebuah malam, di sebuah kamar kosan di Jakarta. Seorang penyair besar, yang menolak poligami dan selalu tampil membela moralitas, menyetubuhi mahasiswi dengan paksa setelah sebelumnya si penyair merayu dengan puisi yang jadi kelihaiannya itu.
“Ah itu kan belum pasti,” kata sebagian orang. “Kita buktikan saja di pengadilan,” kata sebagian yang lain. “Tapi kok si perempuannya baru melapor,” kata para pemberi petuah (dan iklan tabib). “Saya percaya mas penyair ia tak mungkin demikian,” kata seorang kolega. “Barangkali ini pengalihan isu,” kata rekan sejawat.
RW, nama inisial korban yang terlanjur diketahui publik, mungkin tidak tahu alasan siapa yang mengalihkan isu, siapa mas penyair, siapa yang perlu dibuktikan. Ia telah mencoba berebut mempertahankan kehormatannya dari mulut manis dan paksaan si penyair. Ia telah dikunci, ditarik masuk ke kamar. Ia telah menendang. Ia berusaha berontak lagi dan dicekoki minuman keras. Ia telah berontak tapi tentu nafsu yang ditambah kekuatan binatang tak akan mampu dikalahkan oleh seorang perempuan yang lemah.
Tapi ia melihat tubuhnya sedang dinodai, ia melihat kehormatannya terbang, maka ia kembali meloncat mencoba melawan si penyair yang tengah asyik mencumbu. Ia meronta dan coba berteriak-teriak, “Tolong jangan... tolong jangan....”
Dan benar: RW kemudian kehilangan kehormatannya, di sebuah kamar yang barangkali disewa melulu hanya untuk persetubuhan liar.
“Kasihan,” kata sebagian orang. “Kok sampai begitu,” kata sebagian yang lain. “Tapi kok mau diajak ke kamar kosannya,” kata rekan sejawat si penyair. “Dan pers jangan membesar-besarkan perkara ini,” kata seorang mantan pemimpin redaksi.
Apa yang besar sebenarnya? Apa yang kecil? Satu dari ribuan mahasiswi di Jakarta adalah soal kecil. Seorang dari sekian ratus ribu orang yang kehilangan kehormatannya di Indonesia kini adalah soal kecil. Lagi pula, pada saat satu mahasiswi diperkosa, di sebuah sudut, satu genius yang sama bejat dengan si penyair mungkin sedang ngencuk (kali ini dengan tidak paksaan) dengan yang lain. Penderitaan manusia adalah ombak yang tak bisa dielakkan dari sejarah sebuah bangsa….
Penderitaan manusia?
Beberapa kali RW mencoba bunuh diri, Ia malu kepada keluarganya. Ia seolah bicara kepada keluarganya yang taat beragama itu: "Ibu aku salah. Ayah aku salah. Aku sudah tidak sanggup hidup. Tapi ia menolak tunduk. Bersama rekan. Bersama kawan ia memutuskan untuk melawan. Melaporkan tindak pelecehan seksual, bagi seorang perempuan yang bukan siapa-siapa, bukan perkara kecil.
Apa yang kecil sebenarnya? Apa yang besar?
Seorang mahasiswi yang selama ini jatuh cinta pada sajak, menyukai puisi, mencintai kata kata, percaya bahwa sastra adalah sesuatu yang besar. Tapi ia lantas dikhianati oleh apa yang ia cintai, oleh apa yang ia puja, ia ditipu, diperdaya, sampai hancur segala yang dimiliki. Padahal ia punya cita-cita, barangkali yang mulia, menjadi seseorang yang mampu berguna bagi sesama. Lantas setelah belajar keras ia dapat diterima di sebuah kampus negeri mentereng di republik ini adalah sebuah kebanggaan, juga mungkin, kehormatan yang lain.
Satu kota sebelah dari tempat RW diperkosa, ada pusat kebudayaan. Di sana tertulis sebuah visi yang mulia "...memelihara kebebasan berpikir dan berekspresi, menghormati perbedaan dan keragaman, serta menumbuhkan dan menyebarkan kekayaan artistik dan intelektual."
Kehormatan RW bukanlah sekedar barang. Ada kebanggaan memiliki. Ada rasa marah karena sebuah hak direbut. Ada makian: huruf-huruf itu memprotes dan sekaligus putus asa terhadap perilaku anggotanya sendiri. Dengan kata lain, sebuah perkara besar, karena ia justru terbit pada seorang yang begitu kecil.
Orang yang kecil adalah orang yang memprotes dengan keyakinan tipis bahwa protes itu akan didengar, dan karena itu teriaknya sampai ke liang lahad.
Seperti sebuah sajak Zagreb, ditulis oleh seorang budayawan besar Goenawan Mohammad, dalam buku Misalkan Kita di Sarajevo, ketika bangsa ini masih dalam kekuasaan diktaktor, Ketika kebudayaan adalah usaha melawan rezim. Setelah akhirnya sebuah simbol tiran, Soeharto pada Mei 1998 akhirnya kalah dan terkubur:
Hanya seakan ada yang meneriakan tuhan, lewat lubang angindi tembok kiri, ke dalam deru hujan, menyerukan ajal,memekikan jajal, dan desaunya seperti sebuah sembahyang tak jelas,nyeri, sebuah doa dalam bekas.
RW juga sebenarnya mencoba menjerit tinggi-tinggi. “Kalau betul-betul negara hukum, SS harus ditangkap,” kata mahasiswi itu, pada sebuah tembok yang diam. Dia bilang, kalau betul-betul. Dia tidak bilang, karena ini negara hukum….
RW meminta, dengan kondisi tubuh berbadan dua, dengan bayi dalam kandungan, berharap mungkin dan itu berarti dengan keras — karena ia sesungguhnya tidak begitu yakin.
Bagaimana ia bisa yakin? Ia pasti tahu ia bukan termasuk mereka yang bisa menang. Ia bahkan mungkin tak termasuk mereka yang pernah menang. Orang kecil adalah orang yang, pada akhirnya, terlalu sering kalah. RW hanya mahasiswi yang sendiri: sudah teramat rapuh untuk dikeroyok para lingkar kekuasaan budaya dan media, terlampau lemah untuk berontak. Tapi ia, yang masih punya nyala hidup, toh masih punya dosen yang peduli, rekan yang tak tinggal diam, khalayak ramai tak dikenal yang peduli. Ia harus berdiri dengan dukungan dan perlindungan. Ia boleh coba dibungkam, diteror, tapi ia tidak membisu. Dan hidup kita, kata seorang arif bijaksana, terbuat dari kematian orang-orang lain yang tidak membisu.


tulisan ini ditulis dengan menyadur tanpa ijin dari sini.

4 komentar:

  1. NB #tambahan: Makanya jangan lupa pake kondom atau vasektomi aja deh kalo udh malas atau lalai pake pengaman (Sebut saja 'N')

    BalasHapus
  2. Bubarkan Sai Baba kader Salaharah Arman Dhani Bustomi..!!!!!!!!!

    BalasHapus
  3. buka mata, telinga, mulut, bertindak jika melihat gejala. hal ini mudah terjadi karena keterbukaan dan kepedulian yang kurang. Sebagai perempuan yg hendak bertemu orang yang di luar lingkar keluarga atau teman, hendaknya memberitahu sahabat atau mengajak orang yang dipercaya menemani. Apabila ada gejala orang tersebut mencurigakan,kabari keluarga atau teman (bisa sms atau apapun). Sebagai tetangga, siapapun dimanapun, mohon lebih peduli..(jangan2 kos pak sitok tempat maksiat?). Sebagai orangtua, budayakan komunikasi yang baik dengan anak.Sebagai pelaku, butuh efek jera -- hukum setimpal.

    BalasHapus