Rabu, 27 Agustus 2014

Membincang Hap!

Tentang puisi sederhana dari penyair sosial media.

Bertahun lampau Chairil pernah berseloroh, bahwa yang bukan penyair tak boleh ambil bagian. Puisi, baginya, adalah sebuah peristiwa suci dimana tidak semua orang boleh mencipta dan membuat puisi. Puisi adalah karya adiluhung, suci, kalis dan kerapkali merupakan hal yang kudus. Seloroh ini menjadi sebuah tantangan, pernyataan sikap, sehingga banyak yang kemudian menantang dan berusaha untuk melawan.

Saat kemunculan Puisi Mbeling, puisi yang bukan puisi atau puisi yang melawan segala otoritas puisi. Remy Silado menjadi salah satu punggawanya, mengatakan bahwa puisi terlalu agung untuk dinikmati dan diciptakan oleh satu kelompok orang. Puisi tidak melulu soal rima, soal bentuk atau soal pesan. Puisi boleh jadi tak berarti apapun, puisi boleh jadi tidak punya keindahan kata tapi punya keindahan bunyi. Puisi dalam hal ini sengaja diciptakan untuk melawan otoritas penyair.

Kemunculan Internet dan Media sosial lantas melahirkan pesohor-pesohor baru. Mereka yang mampu mengolah kata menjadi satu kalimat estetik, menahbiskan diri sebagai penyair. Apakah ini salah? Tidak, setiap zaman punya rohnya masing masing. Mereka yang mencecap pesan sebuah zaman menafsirkan sendiri citraan dan semangatnya sendiri. Di sini, media sosial menjadi tuhan yang melahirkan mesiah-mesiah dengan kata-kata Indah.

Tentu Media sosial melahirkan onggokan tragedi. Mereka yang mampu menjahit keindahan kata, lantas abai kepada semangat pengembangan sastra. Seolah sastra adalah apa yang ada hari ini dan gagap dan menapaktilasi sejarah sastra Indonesia di awal pertumbuhannya. Memang akan sangat basi dan membosankan, bahwa bersastra atawa berkesenian seseorang dituntut untuk paham sejarahnya. Namun rupa puisi, sebagai satu karya sastra, punya satu linikala pertikaiannya sendiri.

Melalui pemahaman yang baik perihal sastra akan ada apresiasi yang serius terhadap sastra sebagai peristiwa kebudayaan. Meski jikalau harus mengurai seluruh peristiwa sejarah sastra tentu merupakan hal yang sangat membosankan. Puisi adalah peristiwa yang personal, dekat dan intim. Ia tak bisa diinstitusionalisasi serupa badan arsip sejarah. Di sini Puisi sebagai peristiwa aktualisasi diri adalah sebuah hal yang mutlak mesti diberikan kebebasan.

Radhar Panca Dahana dalam sebuah kesempatan, mengatakan bahwa puisi muncul dari keterusikan batiniah seorang penyair. Muncul dari semacam polemik intelektual diri yang bermula dari pandangan, pikiran, rasa, hingga mencapai tahap penghadiran “teks” sebagai perwujudan dari wacana yang ingin dihadirkan. Ini mungkin terlalu rumit untuk dimaknai oleh masyarakat kebanyakan, sehingga diktum Chairil perihal yang bukan penyair menjadi tepat.

Namun menikmati dan mencipta puisi bukanlah monopoli seorang penyair. Yang bukan penyair pun berhak menikmati dan mencipta puisi, mereka yang jatuh cinta, mereka yang berduka dan mereka yang bahagia. Di sini Andi Gunawan, seorang penulis dan juga penyair, menghadirkan Hap! Sebuah kumpulan. Ia melawan eksklusifitas penyair penyair kontemporer yang berusaha keras menjadi elitis. Dengan kredo puisi untuk semua, Andi Gunawan berusaha menjadikan puisi sebagai kegiatan yang menyenangkan dan dekat.

Saya membenci produk kebudayaan yang dilahirkan oleh media sosial. Mereka, bagi saya adalah sekumpulan sampah buatan bacin yang dicitrakan hebat. Namun membaca Andi Gunawan, dan segelintir penulis dari jagat media sosial, membuat saya menafsir ulang kebencian saya. Apa beda buku puisi dengan laman twitter? Atau apa beda majalah sastra dengan kolom notes facebook? Jika ia memiliki unsur estetik puitik, mengapa tak diapresiasi positif?

Maka, saya pun mulai melirik Hap! Sebagai sebuah kecurigaan. Dan saya tak malu mesti menjilat ludah dan kebencian saya sendiri. Sajak-sajak sepi yang dihasilkan Andi memiliki pesonanya sendiri. Sajak-sajaknya yang menggoda, sederhana dan centil memberikan saya perspektif berbeda tentang proses kreatifitas sastra. Barangkali teks puisi tidak lagi dipikirkan secara berat melalui kertas dan pena dengan berkali kali improvisasi dan koreksi. Puisi bisa saja celotehan bosan di parkiran, atau mungkin ditulis kala bising pening di pesta-pesta.

Sapardi pernah menulis sajak berjudul Tuan yang terangkum dalam Perahu Kertas pada 1982. Sajak itu tertulis Tuan Tuhan, bukan? Tunggu sebentar, saya sedang ke luar. Sajak ini ditulis pendek, serupa haiku, tentu tanpa ketentuan perihal jumlah kata. Hal serupa juga pernah ditulis Joko Pinurbo dalam sajak Kepada Puisi pada 2003. Andi Gunawan tentu tidak membawa kebaruan, tapi bukan soal kebaruan atau perbedaan yang membuat sajak atau puisi menjadi berbeda dari satu penyair dan lainnya, melainkan bagaimana ia bicara perihal kegelisahaan si penyairnya.

Ada sekitar 69 puisi dalam buku ini yang dibagi menjadi tiga bagian. Dikurasi dan dipilih secara ketat oleh Aan Mansyur, penulis dan sastrawan asal Makasar. Pembabakan yang  terdiri dari Hap!, Air Susu Ibu dan Ia Tak Pernah Bepergian. Masing-masing babak memberikan nuansa, rasa dan tafsir yang berbeda-beda. Namun pada tiap puisi ada satu benang merah yang membuatnya menjadi satu ikatan yang sama. Kesederhanaan diksi dan juga aku liris yang mudah dipahami.

Membaca Hap! Adalah usaha memahami puisi sebagai parodi. Puisi Andi bekerja seperti usaha nakal menyindir. Ia mendekonstruksi pemahaman mapan puisi sebagai sesuatu yang sakral dan serius. Andi membongkar tabu puisi dengan menempatkan diri sendiri sebagai duta besar kegelisahan. Semisal pada sajak pakansi, Andi menulis Pada setiap hari minggu / aku membayangkan hangat dadamu / tempat berlibur dingin nadiku. Aku tidak lagi mengambil jarak dengan menjadikan sosok metaforis, tapi dengan keberanian ditunjukan sebagai satu sosok utama yang mencoba bangkit keluar.

Parodi adalah usaha untuk menjaga diri tetap waras. Jika dipadukan dengan puisi, maka parodi adalah sebuah diplomasi. Misalnya pada sajak Aku, Andi menulis peristiwa penciptaan yang sakral, menjadi sebuah usaha pencarian. Aku adalah anak / terlahir memecah katup / membaru di antara kutub-kutub / mencari jalan. Kita bisa melihat bahwa peristiwa kelahiran adalah hal yang haru namun juga muram. Andi seolah masih bertanya tentang mengapa ia dilahirkan, bertahun kemudian setelah ia dewasa.

Andi Gunawan memang sangat piawai menjahit kata-kata sederhana untuk dikemas menjadi megah dan penuh arti. Aan Mansur menyebut Andi sebagai penyair yang gelisah. Ia berisik namun menjadi begitu pendiam dihadapan sajak-sajaknya. Selain itu sebagai penulis karyanya tersebar dalam banyak kumpulan puisi seperti Merentang Pelukan, Elegi Anjing dan Antalogi Puisi Festival Bulan Purnama Majapahit Trowulan 2012. Selain itu karyanya yang berbentuk cerpen juga tertuang dalam kumpulan cerita Pindah.

Lantas apa yang membuat buku puisi ini begitu penting untuk dibaca? Andi menjawab tantangan banyak sastrawan mapan hari ini, yang menduga sosial media dan internet membunuh estetika sastra. Andi yang seorang komik (pelaku stand up comedy) juga seorang pesohor media sosial. Ia kerap kali menjadikan twitter sebagai satu medan sastranya. Andi kerap membuat puisi-puisi yang indah, subtil dan sederhana dalam batasan 140 karakter.

Heru Kurniawan , Eksistensialisme Makna Karya Sastra, menuliskan bahwa pengertian makna konotasi-implisit pada bahasa emotif dalam karya sastra, dalam hal ini puisi, tidaklah sesederhana hanya bergerak pada wilayah semantik (internal teks) saja. Karena persoalan sastra bukan hanya mengacu pada dunia yang dikonstruksi oleh struktur puisi seperti diwacanakan oleh kaum strukturalisme atau persoalan intern bahasa, namun juga satu realitas yang lain.

Kebencian saya kepada sastrawan-sastrawan karbitan media sosial adalah kegagalan saya pribadi untuk membaca bahwa terkadang praktik sastra adalah "realitas imajiner" yang dikonstruksi sebagai refleksi "realitas masyarakat".  Sehingga penciptaan karya sastra tidak wajib dan harus lahir dari satu lembaga sastra adiluhung serupa Utan Kayu atau Salihra, namun juga bisa lahir dari media sosial yang entah dari mana asalnya. Andi Gunawan adalah satu dari sedikit sekali penyair yang saya kenal dari media sosial, namun punya kualitas dan cita rasa estetik sastra yang otentik.

Pada puisi Epitaf misalnya, ia menuliskan peristiwa kenangan sebagai kegiatan yang lekat dan mesra. “Aku berhenti jadi pelupa, sejak kepalaku jadi batu. Di atasnya: namamu”. Sementara pada puisi berjudul Hap!, Andi menggali peristiwa sedih sebagai satu keberanian hidup. “Kau patahkan hatiku berkali-kali dan aku tak mengapa. Hatiku ekor cicak.” Ada yang nakal dan main main, ia memainkan elegi sebagai komedi yang indah.

Tapi itulah yang membuat puisi menjadi menarik. Setiap bait dan kata yang ada harus dicurigai memiliki makna ganda. Maman S Mahayana dalam Menikmati Puisi, Menafsiri Tempuling menyebutkan perlu ada ketelitian dalam pilihan kata para penyair. Kita harus curiga dan skeptik perihal pilihan kata Andi Gunawan. Apakah kata-kata tersebut menegaskan satu peristiwa estetik, bebas makna hanya pada keindahan bunyi, atau sebagai peristiwa puitik, sebuah usaha untuk membalut peirstiwa dengan metafora.

Pada sajak Ode buat Pak Guru, sekali lagi parodi nakal ditunjukan sebagai sebuah peristiwa puitik yang komikal. Andi dengan cerdas bermain-main dengan kata untuk menciptakan imaji adegan. Sulit untuk tidak tersenyum pada sajak ini. Kemejamu basah celanaku gerah / berjalan kau ke almari dalam kamarmu / mengganti kemeja dengan pelukanku / yang tiba-tiba. Sajak ini sensual dalam kazanahnya sendiri, ia tidak cabul, namun memberikan sensasi genit yang sehat dan segar.

Puisi ini juga menjadi satu kanal bagi Andi Gunawan untuk membebaskan dirinya sendiri. Ia yang mengagumi sosok Subagio Sastrowardoyo, mengaku sulit untuk bisa berbaur dengan banyak orang. Ia hidup di mana norma dan kepatutan sosial menjadi penjara. Puisi adalah salah satu cara baginya untuk mengekspresikan diri dan berupaya menunjukan eksistensi diri. Dalam sajak Nasib ia berusaha untuk bercerita mengenai penjara yang ia tinggali, “Lampu kota dan aku adalah sepasang senasib, kedinginan dalam nyala yang harus.”

Puisi-puisi Andi yang pendek, dengan tendensi aku lirik, memang menjadi perhatian utama saya. Ia tidak memberi jarak antara perannya sebagai penyair dan perannya sebagai objek sajak. Andi tentu tidak sembarang mencipta puisi, ada yang berbeda dari gayanya menulis sajak. Seolah kegelisahaan dan kecemasan yang ia tulis lahir dari hidup yang getir. Dan memang sebagian inspirasi Andi lahir dari upaya menghadapi lingkungan yang terlalu bising. Andi menggali kegiatan keseharian sebagai tema utama puisi. Baginya hal yang dekat dan tak berjarak adalah puisi yang sangat indah untuk dimaknai.

Pada akhirnya saya harus mengakui, barang kali saya tidak adil menghakimi karya-karya sastra yang lahir dari sosial media. Andi toh terbukti mengobati kerinduan saya akan sajak yang intens membahas kesunyian, keterasingan, keramaian tanpa berteriak dan sederhana. Andi menulis sajak yang jauh dari dari narasi-narasi besar seperti tuhan, negara dan moralitas. Sajak sajak Andi adalah karib lama yang datang membawa pisang goreng dan bakso. Ia mungkin tidak baru, tidak haibat dan berbeda. Namun kita bisa menikmatinya dengan teh hangat, juga pelukan.


Minggu, 06 Juli 2014

Mengajak Untuk Tidak Golput


Salah satu guru jurnalistik saya, Farid Gaban, memutuskan untuk menulis sebuah esai pendek mengapa ia memutuskan tidak mencoblos. Kami berdua telah berbulan-bulan berdiskusi dan berdebat perihal apa dan mengapa demokrasi kita tidak sekedar pemilu. Pada satu titik kami berdua sepaham, bahwa praktik kerja politik tidak melulu soal pemilihan umum, tapi juga menyoal kebijakan publik, akuntabilitas anggaran negara dan juga sistem birokrasi yang baik. Tapi ada beberapa hal yang ingin saya tolak dari apa yang ia sampaikan dalam artikelnya itu.

Mas Farid menyebut bahwa sistem kepartaian dan pemilu di era reformasi pada dasarnya adalah kelanjutan, bukan perubahan dari sistem Orde Baru. Sistem yang menindas kesadaran politik warga negara dan memberi peluang pada oligarki. Saya sepakat bahwa sistem kepartaian yang ada saat ini adalah sistem yang menindas, tapi Jokowi adalah pengecualian. Jika pada tradisi Orde Baru calon presiden adalah mereka para pemimpin partai, kali ini Megawati (terpaksa) mendobrak hal ini dengan mencalonkan kader yang sama sekali tak punya ikatan trah Sukarno, kekuatan yang selama ini menjadi barang dagangan PDIP.

Mas Farid selaku jurnalis pasti mengetahui informasi yang berkembang selama beberapa minggu terakhir. Bahwa meski dicalonkan oleh PDIP, Jokowi hampir minim dukungan partai. PDIP kehabisan tenaga dan dana saat pemilu caleg. Inisiatif kreatif dan kerja dukungan selama kampanye Pilpres, jika saya boleh sesumbar, hampir 80% merupakan kerja-kerja inisiatif relawan. Sesuatu yang belum pernah ada dalam tiga dekade penguasan rezim Orde Baru. Generasi muda seumuran saya, para seniman, pekerja kreatif bahkan pelaku Golput kelas berat memutuskan untuk turun dan ambil bagian.

Bagi saya ini adalah harapan. Bahwa kita boleh tidak percaya pada partai, tapi ada sosok yang kinerjanya telah ada dan terbukti. Bahwa ada orang-orang yang bukan kader partai ambil bagian dalam proses politik menghadang kebangkitan rezim yang pernah ditumbangkan reformasi. Bagi saya ini satu dari sekian alasan mengapa kita jangan golput dan memaksimalkan satu hak kita (bukan satu satunya hak) dalam berpolitik untuk mendukung calon yang bersih dan berintegritas.

Sebagai penulis isu hak asasi manusia, khususnya kebebasan berkeyakinan bagi kaum minoritas, telah menjadi kepedulian saya sejak lama. Trend kekerasan terhadap keyakinan semakin meningkat selama lima tahun terakhir. Hal ini diperkuat oleh temuan dari Setara Institute dan Wahid Institut. Mereka menilai ada trend berbeda dalam kekerasan berdasarkan agama.  Laporan Pemantauan SETARA Institute tentang kondisi diskriminasi terhadap kaum minoritas keyakinan di Indonesia menunjukan bahwa kondisi kebebasan beragama masih belum terjamin.

Terdapat banyak pelanggaran dari negara dan praktik intoleransi, diskriminasi, dan kekerasan terhadap kaum minoritas. Padahal secara normatif negara telah meneguhkan komitmennya melalui Pasal 28E Ayat (1 & 2), dan Pasal 29 Ayat (2) UUD Negara RI 1945. Jaminan yang sama juga tertuang dalam UU No. 39/1999 tentang Hak Asasi Manusia, dan UU No. 12/2005 tentang Pengesahan Konvensi Internasional Hak Sipil dan Politik. Namun demikian, politik pembatasan terhadap hak ini masih terus terjadi, baik menggunakan Pasal 28J (2) UUD Negara RI 1945 maupun melalui peraturan perundang-undangan lainnya yang diskriminatif.

Laporan pemantauan terdahulu sejak tahun 2007 menunjukkan bahwa kondisi kaum minoritas beragama di Indonesia semakin memburuk. Absennya negara dalam hampir seluruh peristiwa pelanggaran, impunitas atas pelaku pelanggaran, pembiaran tindakan-tindakan pelanggaran, dan penelantaran para korban pelanggaran adalah alasannya. Pew Forum, lembaga riset yang berbasis di Washington DC, menaruh Indonesia dalam kategori "sangat tinggi" perihal social hostilities index (indeks mara bahaya sosial) yang melibatkan agama. Berdasarkan hasil riset 2010 Indonesia berada di peringkat ke-15 dari 197 negara.

Human Rights Watch melakukan riset di 10 provinsi di Jawa, Madura, Sumatra, dan Timor, serta mewawancarai lebih dari 115 orang dari berbagai kepercayaan. Mereka termasuk 71 korban kekerasan dan pelanggaran, maupun ulama, polisi, jaksa, milisi, pengacara dan aktivis masyarakat sipil. Hasilnya sungguh mengejutkan, beberapa pejabat daerah sering menyikapi pembakaran atau kekerasan dengan justru menyalahkan korban minoritas.

Saya pun membandingkan bagaimana kedua calon presiden tersebut dalam perlindungan dan komitmen terhadap kaum minoritas. Prabowo dalam manifesto partainya menyebut Pengadilan HAM adalah sesuatu yang berlebihan, mereka bahkan mengatakan akan memberlakukan pemurnian agama. Sesuatu yang mirip dengan ide-ide partai nazi tentang kemurnian ras. Belum lagi pernyataan dari sekjend PKS, selaku sekutu Prabowo, mengatakan akan menertibkan Ahmadiyah dan Syiah karena dianggap mengganggu ketertiban umum.

Dua alasan tadi sudah lebih dari cukup bagi saya untuk menolak calon nomor 1 sebagai presiden. Lantas bagaimana dengan nomor 2? Jokowi dalam berbagai kesempatan telah menunjukan dan konsisten berkomitmen untuk memberlakukan toleransi pada umat beragama. Ia merangkul segala golongan, baik islam mazhab sunni, islam mazhab syiah, kristen, katolik, dan sebagainya untuk bekerja sama dalam perbaikan. Lurah Susan dan Ahok (Ya beliau kader Gerindra namun tak mengubah fakta bahwa Prabowo didukung kaum intoleran) sebagai dua bukti konsistensi itu.

Mas Farid seperti juga kawan saya yang lain, masih mempersoalkan orang-orang yang sedang mencalonkan diri sebagai presiden saat ini. Mas Farid berkata bahwa, pemilihan presiden ini juga bukan persaingan "yang baik melawan yang jahat" atau "Orde Reformasi versus Orde Baru". Lihatlah: hampir semua partai, ormas dan kelompok penekan (pengusaha, pengaruh asing) bermain di kedua kubu, baik Prabowo maupun Jokowi.

Mas Farid menyebut bahwa saat ini adalah era politik yang pragmatis. Kehilangan gairah ideologi, minim kesadaran demokrasi yang substansial, dan karenanya melempem dalam mendorong perubahan signifikan di era Reformasi. Tapi saya kira Mas Farid abai tentang fakta bahwa Jokowi telah melahirkan satu generasi baru yang kreatif dan peduli politik. Mereka mungkin tidak idiologis dan tidak paham dengan substansi demokrasi, tapi Jokowi melahirkan ribuan anak muda yang mau bekerja dengan kreatifitas mereka tanpa dibayar.

Apa yang terjadi di GBK beberapa waktu lalu bukan People Power. Saya lebih percaya itu adalah power of Hope. Ribuan orang datang tanpa dibayar, sebagaian besar dari mereka non partisan partai. Tentu banyak dari di antara mereka yang datang untuk menonton konser. Tapi jika anda datang dan melihat kerumunan orang tanpa bendera partai, hanya bendera Slank, wajah Jokowi, dan bermacam rupa kaus kreatifitas relawan. Anda akan bergetar dengan harapan perubahan.

Jokowi bukan mesiah yang akan mengatasi semua masalah. Lebih dari itu ia cuma pedagang mebel yang pernah dipercaya sebagai walikota dan gubernur. Dua jabatan yang membuat ia memperoleh banyak penghargaan. Apakah ini kerjanya sendiri? Saya kira seluruh prestasi tadi adalah kerja keras dari staf dan para rekan kerja Jokowi. Jokowi hanya membantu memperbaiki keadaan yang tak baik menjadi baik, yang tak efektif menjadi efektif dan tepat guna mengatasi problem setelah membaca masalah.

Jokowi tidak sempurna, seperti yang mas Farid katakan. Saya setuju bahwa dibalik Jokowi ada juga pelaku kejahatan kemanusiaan, bahwa dibalik Jokowi kemungkinan ada cukong pengusaha dan kepentingan asing yang bermain. Bahwa pada barisan Jokowi tidak sempurna, ada taipan media yang menggunakan frekuensi publik semaunya. Adapula pemimpin partai yang tak becus mengurus TKW. Tapi pada barisan Jokowi mereka yang menjadi tertuduh penjahat kemanusiaan, yang menjadi cukong MP3Ei bukanlah Capres atau Cawapres. Mereka sekedar menjadi pendukung saja.

Saya ingat membaca pada satu buku kecil, jika satu kaki terinfeksi tetanus dan membusuk. Maka cukup kaki saja yang diamputasi untuk menyelamatkan nyawa seluruh badan. Tapi jika yang infeksi dan menjadi sumber masalah adalah kepala. Maka apa boleh bikin, kita tak bisa berbuat apa-apa selain mengkonsumsi obat berat dengan efek samping yang brutal dan berbahaya.

Apakah Jokowi pasti akan menuntaskan kasus Pelanggaran HAM yang ada di Indonesia? Saya tidak bisa memberikan jaminan itu. Yang jelas ia telah berkomitmen, sejauh ini komitmennya banyak yang terbukti dan berbuah baik. Bayangkan jika anda meminta penuntasan kasus Pelanggaran HAM kepada calon yang menganggap bahwa pengadilan HAM itu tak perlu dan berlebihan? Ibarat meminta Pakar Teori Loop Quantum Gravity mempercayai Strings Theory. Mustahil.

Jika Jokowi terpilih, tugas pertama para relawan dan pendukung Jokowi adalah menjadi oposisi yang mengawasi segala kebijakan yang ia janjikan. Kita bisa membidik dan menuntut agar kasus pelanggaran HAM diusut tuntas, meminta agar para pelakunya diadili. Apakah bisa selesai dalam satu dua hari? Saya kira tidak, Julia Gillard adalah perdana mentri Australia yang meminta maaf kepada kelompok Aborigin setelah empat dekade. Proses demokrasi adalah proses menjadi dewasa dengan tertatih tatih. Ini lebih baik daripada tidak sama sekali ada pengadilan HAM.

Kita tidak sedang memilih lesser of two evils. Apakah dengan memilih Jokowi sama dengan mendukung AM Hendropriyono dan Wiranto? Bagi saya tidak. Ini adalah perihal memilih Prabowo atau Jokowi. Saya belajar dari proses kemajuan Surabaya yang dipimpin Walikota Risma saat ini. Ketika pencalonannya Risma kerap dianggap sebagai perpanjangan dari rezim sebelumnya. Tapi toh kota bisa melihat, ia melawan rezim buruk yang mendukungnya dan mampu mengubah Surabaya menjadi satu kota terbaik di Indonesia.

Saya percaya golput adalah hak individu. Ada banyak orang yang saya kenal golput bukan semata karena mereka muak dengan parpol. Mereka Golput karena kesadaran politik yang lahir dari pengalaman berdialektika selama bertahun tahun. Mereka mengorganisir rakyat, memberikan kesadaran kelas dan memberikan keterampilan kemandirian hidup tanpa bantuan negara. Hingga kemudian menyadari bahwa toh dengan usaha sendiri ia bisa memberbaiki keadaan tanpa bergantung pada negara.

Saya tidak akan memaksa Mas Farid atau siapapun yang memutuskan Golput untuk memilih. Itu adalah hak politik anda sekalian. Saya tak menjalani hidup anda dan tak alasan mengapa anda memutuskan golput. Bahwa dengan memilih bisa otomatis mengubah keadaan memang adalah kenaifan, tapi dengan memilih dan berpartisipasi mendukung jokowi. Anda turut ambil bagian dalam kerja memperbaiki keadaan.


Jika ia mbalelo? Singsingkan lengan baju, kita turun ke jalan, sekali lagi.

Jumat, 18 April 2014

Gabo


“Ia selalu bermimpi tentang pepohonan,” kata Placida Lenaro, tentang anaknya Santiago Nasar. Mereka adalah nama nama dari tokoh rekaan Gabriel García Márquez dalam The Cronicle of a Death Foretold. Ada yang haru di situ. Tentang bagaimana seseorang yang meninggal diingat. Pagi ini, 18 April 2014, sehari setelah Yasunari Kawabata bunuh diri puluhan tahun lalu. Gabo, begitu ia diingat, meninggal dunia. Hati saya kosong, tidak ada duka atau kesedihan. Seolah olah semua ini hanya guyonan. Gabo? Gabriel García Márquez meninggal? Oh ayolah Tuhan, setelah Mandela kini kau jemput juga Gabo?

Saya tak ingin percaya. Tapi juga tidak mungkin mengabaikan fakta bahwa sejak dini hari tadi puluhan situs berita mengutip kabar kematiannya. Cristobal Pera, mantan editor Gabo di Random House membenarkan kabar ini. Apalagi yang bisa saya lakukan selain meratap? Tapi tidak ada tangis hari ini. Barangkali juga seterusnya, saya butuh tidur lebih dari lima jam, untuk benar benar mencerna. Gabo sudah benar benar meninggal. Ia sudah pergi dengan meninggalkan seluruh warisan kebudayaan kepada generasi setelahnya.

Saya pertama kali membaca buku Gabo saat duduk di bangku Kuliah. Saya membaca Seratus Tahun Kesunyian, terbitan bentang yang berwarna biru. Realisme Magis, gaya menulis yang konon dilekatkan padanya, sebenarnya bukan selera saya. Ia rumit, bertele-tele, membosankan dan terlalu banyak simbol. Tapi Gabo meramu sebuah novel dengan bahan bahan butut menjadi sebuah cerita yang renyah, gurih dan nikmat dimamah. Ibarat makanan Gabo memberikan anda masakan eksperimental, tidak baru memang, karena ada generasi sebelumnya yang mencoba menawarkan hal serupa, tapi kali ini ia memasaknya dengan takaran yang tepat dan sedap.

Gabo menulis dengan stamina tinggi. Saya selalu percaya Gabo menulis bukan untuk menciptakan genre atau mengejar capaian estetis. Ia sedang menggenapi sebuah buku yang berjudul “La bendita manía de contar,” atau kegilaan kudus untuk bercerita. La bendita manía de contar adalah kumpulan diskusi dan petuah tentang lokakarya menulis naskah film yang pernah ia lakukan. Namun entah mengapa, saya seolah menemukan jawaban dari ragam tema tulisan yang ida kerjakan.

Menjadi penulis bukan pekerjaan mudah. Ia membutuhkan ketelatenan dan nafsu membaca yang luar biasa. Belum lagi jika anda menulis untuk media. Secara tidak sadar pilihan saya untuk menjadi jurnalis barangkali terpengaruh oleh Soe Hok Gie, Ahmad Wahib dan Gabo.  García Márquez menyebut jurnalisme sebagai pekerjaan terbaik sedunia. Ia menyatakan bahwa kemampuannya menulis fiksi sekarang diperoleh dari pengalamannya mencermati fakta-fakta saat masih menjadi jurnalis.

Saya beruntung menemukan sastra alibi, blog yang diasuh oleh begawan dan pakar sastra latin, Ronny Agustinus. Di dalamnya saya berselancar dan berulang kali membaca naskah esai, cerita satir dan kabar perihal Gabo. Dari blog kang Ronny pula, saya membaca “Usos y abusos del paraguas”. Sebuah satir pendek dari kolom Gabriel García Márquez muda saat menjadi jurnalis El Espectador. Naskah ini menyindir perilaku sosial kelas menengah atas di Kolombia yang memintingkan gaya daripada fungsi.

Kang Ronny menjelaskan apabila gaya García Márquez di sini mengingatkan akan vinyet-vinyet Julio Cortázar di Historia de cronopios y famas (1962). Tapi ia memberi penekanan bahwa kolom ini terbit bertahun-tahun sebelum García Márquez mengenal Cortázar. Saya menduga Gabo adalah seseorang yang visioner dan juga seorang eksperimentalis. Ia mencari, menjelajah dan mencoba berbagai gaya penulisan sebelum akhirnya menemukan dan mencipta gayanya sendiri.

Pada pidato kebudayaan saat meraih Nobel sastra dunia pada 8 Desember 1982, Gabo bercerita tentang “The Solitude of Latin America” kesunyian Amerika Latin. Gabo, tak seperti kebanyakan penulis hari ini, punya nyali untuk memilih dan memihak haluan politiknya. Ia membuka pidatonya tentang sosok Antonio Pigafetta, seorang navigator asal Florentine navigator yang pergi menjelajah bersama Magellan. Ia bercerita tentang “…y que aquel gigante enardecido perdió el uso de la razón por el pavor de su propia imagen,” seseosok raksasa yang kehilangan citra akan dirinya sendiri karena rasa takut.

Tapi tentang apakah pidato itu sebenarnya? Saya dan anda tahu, Gabo yang berkebangsaan Kolombia ini memiliki kedekatan dengan Fidel Castro. Hal ini membuatnya sedikit taklid buta dan menganggap kebenaran kiri adalah hal yang mutlak. Ia percaya bahwa sosialisme memiliki kebenarannya sendiri. Karya-karya Gabo bercerita tentang kondisi masyarakat latin yang tertindas, yang dijajah dan tanpa sadar sedang ditundukan oleh musuh di luar dirinya sendiri. Pada pidato itu Gabo ingin kembali mengingatkan bahwa kesadaran akan kedaulatan diri adalah hal yang paling penting agar tak lagi jadi korban.

Pilihan Gabo untuk menjadi seorang kiri memang bukan hal yang baru. Agak mengejutkan jika melihat Gabo muda diasuh oleh kakeknya yang berasal dari dinas militer. Pilihan politiknya memang sangat keras dan fanatik. Hal ini melahirkan perseteruan dengan Mario Vargas Llosa, mantan sahabatnya yang juga sesama peraih nobel sastra. Bagi Llosa, Castro tak lebih baik daripada diktaktor lain karena telah memberangus para penyair di zamannya. Perseteruannya berlangsung lebih dari 30 tahun dan menjadi pertikaian paling lama dalam sejarah sastra dunia.

Kritikus sastra dunia, Harold Bloom, menulis dengan getir bahwa Gabo berhutang kepada William Faulkner dan Franz Kafka. Bloom menuduh bahwa segala capaian estetik Gabo adalah usaha menuliskan kembali “keriangan masa lalu dan kemuraman hari akhir,” dari peradaban manusia. Bloom tidak menuduh Gabo menjiplak, lebih dari itu, Gabo menyempurnakan apa yang gagal dicapai oleh Faulkner dan Kafka. Pembacaan yang lebih ringan dari sisi gelap sejarah manusia.

Di sisi lain sosok sosok perempuan dalam cerita Gabo adalah tulang punggung cerita. Mereka adalah sebenar benarnya tokoh kunci yang memberi kekuatan pada sekitar. Tak mungkin Florentino Ariza bisa bertahan hidup tanpa harapan dan cinta pada Fermina Daza dalam Love in the Time of Cholera. Mustahil keluarga Buendia di Kota Mocondo bertahan tanpa ketegaran dari Úrsula Iguarán. Perempuan bukan sosok subaltern di sini, mereka adalah tokoh kunci yang menjadikan para prianya hidup dan berharap.

Namun memang jika dibaca secara kasat mata, cerita cerita dalam Novel Gabo adalah lanskap muram tentang Amerika Latin yang tengah ditindas. Tapi ia tidak menuliskannya dengan gaya meledak-ledak mendorong sebuah insureksi. Gabo, bagi saya, menulis dengan sebuah tawaran. Diskusi tenang di antara kepul asap cerutu dan kopi panas. Sebuah humor gelap dengan nada satir yang pekat. Seperti dalam One Hundred Years of Solitude (1967), Chronicle of a Death Foretold (1981) dan The General in His Labyrinth (1989).

Namun ia juga punya sisi romantis yang melenakan, seperti dalam kisah Love in the Time of Cholera (1985) dan Memories of My Melancholy Whores (2004). Pada sebuah wawancara Marlise Simons, di New York Times 30 Juli 2008, Gabo mengaku bahwa dalam setiap karyanya ia mencoba menggali sesuatu yang baru, tema yang baru dan kepenulisan yang baru. Bahwa menulis adalah tentang perasaan, mood dan bagaimana kau ingin menyampaikan sebuah cerita. Ia menyebut tulisanya dengan cita rasa “Karibia, sesuatu yang tak bisa dipahami kritikus,” katanya.

Mustahil bagi saya untuk tidak emosional. Barangkali ini serupa perasaan kanak-kanak yang kehilangan seorang kakek. Kakek yang gemar memberimu mainan, permen dan mahir mendongeng. Kau akan merasa bahwa si kakek ini adalah satu satunya orang yang mengertimu. Bahwa dengan segala dongeng yang ia ceritakan, kakek tak ingin mengguruimu, ia hanya menunjukkan. Menceritakan bagaimana sebuah hidup seharusnya dilalui, tentu saja, sebagai kakek ia akan memberimu kotbah, memarahimu dan sesekali memukulmu dengan geras. Gabo adalah sosok Kakek yang tidak pernah saya miliki.

Pada penutup pidato Nobelnya, Gabo mengutip kata kata dari William Faulkner, yang ia sebut sebagai gurunya. "I decline to accept the end of man". Saya menolak menerima bahwa kematian Gabo adalah sebuah akhir. Ini adalah satu titik baru, sebuah momen untuk kembali membaca. Bahwa sosoknya yang dikanonkan sebagai seorang sastrawan tinggi semestinya ditempatkan pada posisi yang tepat. Pendongeng tentang sebuah negeri yang dijajah, ditekan tiran dan diteror rasa takut. Realisme magis adalah bumbu, tapi semangat dari cerita Gabo, bagi saya, adalah tentang menjadi manusia yang merdeka.



Selamat Jalan Gabo.

Sabtu, 01 Februari 2014

Selamat Datang Hei Kemenakan Kesayangan

Halo kamu. Iya. Kamu kemenakan kesayanganku yang baru saja lahir.

Kamu bocah perempuan yang aku belum ketahui namanya. Selamat datang di dunia sayangku. Perkenalkan aku pamanmu. Namaku Arman Dhani. Kau boleh memanggilku paman endut. Suatu saat, jika ibumu mengijinkan, aku akan menggendongmu dipundak. Aku akan menggendongmu berkeliling taman, sekitar rumah dan kita akan mencipta bahasa-bahsa rahasia bersama. Tapi itu nanti, sekarang sebagai bayi mungil, tugasmu adalah tidur yang nyenyak dan menangis yang keras.

Kamu kemenakanku sayang, adalah gadis dengan beban sebesar dunia, lahir dari ibu perkasa yang menyintas. Tapi beban itu tak akan kamu panggul sendirian sayangku. Paman menjamin itu. Kamu kemenakanku yang baik, kamu akan belajar bahwa dunia memang keji, dunia memang culas, dunia dan para manusianya tak pantas dipercaya. Tapi tentang saja. Aku satu dari ribuan paman asuhmu, ayah asuhmu, juga satu di antara puluhan ribu ibu asuh, kakak asuh, dan bibi asuhmu akan berada bersamamu. Menjagamu dan melindungimu dari borok bernama kepalsuan dan moral tengik.

Keponakanku yang baik. Jangan pernah sekalipun kelak kamu membuat ibumu sedih. Ibumu, seorang pedusi setegar karang. Ia mampu menghadapi tragedi dengan kepala tegak. Ia tidak menyerahkanmu pada meja aborsi. Ibumu bisa saja melakukan itu. Ia sah dan bisa dilakukan, tapi ibumu perempuan mulia. Perempuan yang percaya bahwa seburuk dan sesalah apapun tindakan orang tuanya, seorang anak berhak untuk dilahirkan, dirawat dan dicintai dengan penuh kasih sayang yang tulus. Aku pamanmu tahu itu. Kami orang orang yang berebut untuk mencintai dan melindungimu tahu itu.

Saat ibumu sedih ia menahan diri. Ia menahan diri untuk tidak menyerah pada nasib dan membiarkan kamu hilang. Ia bisa saja memilih untuk membuangmu, melanjutkan hidupnya lantas hidup biasa-biasa saja. Tapi tidak sayangku. Kamu anak yang baik harus paham ini. Ibumu adalah jelmaan kasih sayang tuhan. Ia mencintaimu begitu rupa hingga ia memilih untuk melawan dunia daripada harus menyerah. Ia pernah melawan segala raksasa dan tiran sendirian. Tapi kini ibumu tak sendiri. Kalian tak sendiri.

Pamanmu yang payah ini tak bisa apapun membantu ibumu nak. Bahkan untuk datang menemui ibumu, menemaninya, memberi semangat padanya pun paman tak mampu. Paman seorang pengecut. Ya pengecut. Paman hanya bisa bicara di media sosial. Berteriak-teriak seolah peduli, seolah mengerti dan seolah paham. Tapi sebenarnya paman tak tahu apa-apa. Yang paman tahu, ibumu, seorang perempuan ah bukan, seorang manusia direbut paksa kedaulatan tubuhnya oleh sejenis binatang berbentuk manusia. Kemanusiaan paman terganggu. Karena itu cara menjadi manusia kemenakanku sayang, kamu harus percaya manusia memiliki rasa kemanusiaan, ia akan terganggu saat manusia lain dinistakan kedaulatan tubuh dan pikirannya oleh orang lain.

Namun ada yang lebih penting dari itu sayangku. Sekarang paman berharap kamu dan ibumu sehat. Bisa tersenyum. Saling menjaga dan menguatkan. Biar kuceritakan sesuatu yang lucu, paman adalah produk gagal dari sebuah program Keluarga Berencana. Harusnya paman digugurkan, tapi gagal. Lalu paman terpaksa dikandung, sampai akhirnya pada tengah malam bulan ramadhan, ibu paman ingin buang air, lalu keluarlah paman di kakus dengan kepala dalam jamban. Lantas ayah paman memotong tali pusar paman dengan pisau dapur yang tumpul. Lucu kan?

Tapi kau berbeda kemenakanku sayang. Kau lahir dengan begitu banyak cinta, begitu banyak kasih sayang, begitu banyak kepedulian dan empati sehingga tubuhmu memancarkan itu semua. Bayangkan ada banyak ratusan atau bahkan ribuan paman bibi yang belum pernah menemuimu. Tapi turut mendoakan kelahiranmu, mendoakan keselamatanmu dan mendoakan kesehatanmu. Dan saat kau dilahirkan di dunia ini kami bergembira selayaknya seorang kanak-kanak yang diberi saudara baru. Saudara untuk dijaga, disayangi, dicintai dan tentu saja dijahili sesekali.

Kelak paman akan mengenalkanmu dengan Hayao Miyazaki dan Studio Ghibli. Kita berdua akan belajar kemanusiaan dari anime. Belajar bagaimana cara manusia menggunakan hati dan kecerdasan mereka untuk peduli, bukan untuk mengibuli. Paman akan menujukan bagaimana cara manusia untuk bisa berempati dan merasakan sayang. Karena nanti sayang, kamu akan belajar, bahwa ada banyak orang-orang pintar berpendidikan tinggi yang doyan memanipulasi. Menggunakan kata-kata tinggi, bermakna ganda dan rumit diucapkan hanya agar mereka selamat dari skandal dan kesalahan.

Kemenakanku sayang. Jangan takut membuat salah. Takutlah saat salah kamu tak berani bersikap tulus berani dan meminta maaf. Lebih dari itu bertanggung jawablah. Ibumu, gigir hangat yang kamu sebut rumah itu, adalah contoh paripurna dari keberanian bertanggung jawab. Ia yang saat mengandungmu masih lemah, trauma dan mungkin diteror. Berani melaporkan tindakan kekejian dan sikap pengecut dari hewan yang bersembunyi di balik ketek istri dan anaknya. Ibumu memiliki sejuta lapis nyali lebih tebal daripada pecundang yang menetek pada perlindungan kawan-kawannya itu sayang.

Tapi ah sudahlah ada apa dengan kesedihan ini. Kelahiranmu harusnya dirayakan dengan cinta kasih. Nanti paman akan bacakan padamu dongeng-dongeng dari tanah yang jauh.The Little Prince oleh Antoine de Saint-Exupéry, The Conference of the Birds oleh Farid al-Din Attar atau mungkin kamu akan suka cerita karangan bundamu sendiri? Apapun itu paman akan memberimu banyak buku untuk dibaca, tapi ingat, tugas utama seorang kemenakan yang masih lucu adalah bermain sampai kelelahan. Tapi kalau kamu suka membaca boleh, tapi harus tetap bermain, pecahkan beberapa hal, tapi jangan semua. Nanti paman repot.

Kemenakanku sayang. Pamanmu hanya bisa bicara dan menulis. Pamanmu terlalu pengecut untuk pasang badan di depan jalan dan melakukan aksi menuntut keadilan untuk ibumu. Ibumu, perempuan muda yang saat tengah mengandungmu, mesti berkali-kali diperiksa, dipanggil dan ditanyai polisi. Sementara si predator dengan santainya, berleha-leha, dilindungi dan dimuliakan. Kelak sayangku, kemenakanku yang baik, kamu mesti belajar untuk tidak pernah percaya sedikitpun dengan perangkat hukum di negeri ini. Jika kau mau keadilan sayang, kerjakan sendiri. Nanti paman ajarkan caranya.

Sudah waktunya kamu tidur sayang. Bayi harus banyak tidur. Banyak menangis dan banyak makan. Supaya lekas besar dan selalu sehat. Semoga kau dan ibumu selalu bahagia. Kalian adalah sepasang manusia yang saling menguatkan. Tidak ada satu kuasa apapun yang akan membuat kalian menjadi lemah dan menjadi terpisah. Kalian adalah akal sehat dan suara kemanusiaan yang enggan didengar oleh kaum pintar dan petinggi yang merasa pejuang kemanusiaan itu. Mau tau satu doa keren? Tapi jangan bilang siapapun. Doa Kumayl namanya. Doa maha dahsyat itu akan memberimu ketenangan dan kekuatan kemenakanku sayang.

Sampai di sini dulu tulisan ini sayangku. Peluk cium untukmu.


Kamis, 23 Januari 2014

Akhirnya

Ini bukanlah fiksi. Ini kisah tentang seorang lelaki yang tak bisa bersetia dan seorang perempuan yang menunggu. Si lelaki akhirnya menyerah pada kelemahannya dan si perempuan lelah menunggu si lelaki berubah. Si perempuan adalah matahari yang memberi dengan kerelaan, sementara si lelaki adalah malam gelap yang dingin dan muram. Keduanya telah berusaha untuk tidak menyerah pada harapan. Namun lagi-lagi si lelaki tak bisa bersetia. Pada dirinya sendiri ia telah berkhianat lantas si perempuan memilih untuk tidak lagi hidup bersia-sia.

Kami berpisah. Semoga dengan baik-baik. Semoga ini tidak membawa luka. Juga pada siapapun.

Demikian.

Selasa, 21 Januari 2014

Inilah Indonesia, Paham?


Agak janggal jika hari ini anda mengeluh. Bahwa pemberitaan media hari ini melulu fokus tentang bencana banjir di Jakarta. Bahwa media-media hari ini alpa dan seolah melupakan keberadaan bencana lain yang lebih serius, lebih penting dan lebih berbahaya daripada acara basah tahunan Ibukota. Jika anda masuk dalam pihak-pihak yang merasakan bahwa media hari ini tidak berpihak pada rakyat. Anda ada dalam barisan dungu atau luar biasa naif.

Sejak dulu, jauh sebelum retorika dialog fiktif Aidit dalam film G 30 S PKI, yang berkata Jawa adalah Koentji. Jakarta adalah pusat segalanya. Jakarta adalah makro dan mikro kosmos Indonesia. Otak segala obsesi mahaburuk ini adalah Soekarno. Pada sebuah fragment di Lapangan IKADA ia berkata, kira kira semacam ini,  “Harus Jakarta! Soviet punya Moskwa, Jepang punya Tokyo, Itali punya Roma. Indonesia harus punya Jakarta.” Maka mimpi buruk ibukota manja yang ditopang oleh kota-kota, provinsi-provinsi, dan pulau-pulau dimulai.

Jakarta adalah segala yang menjadi wajah Indonesia modern. Ia berencana memiliki gedung bertingkat tertinggi di asia tenggara, berencana memiliki transportasi masal monorail pertama di nusantara, dan ia memiliki lapangan pekerjaan yang tidak pernah habis. Seluruh kepentingan nasional diketok palu dari kota ini. Segala tipu daya intrik politik dan kelindan hasrat dimulai dari kota ini. Pencaplokan kayu melalui HPH, pengerukan batubara di hutan adat, sampai dengan vonis keputusan sengketa pemilihan umum daerah ditentukan oleh Jakarta. Ini yang membuat kota manja ini begitu penting, tak peduli kota lainnya sekarat beradu nyawa karena bencana.

Anda sekalian pasti paham. Media hari ini menetek pada kepentingan pemodal. Ini bukan telaah ala Marxis yang kepalang usang itu. Ini sekedar logika hitungan matematika sederhana. Pemodal ingin tahu kondisi Jakarta, akses jalannya, arus pembangunannya dan segala kebijakan di dalamnya. Ini masalah angka yang ditulis di jalan. Tidak ada yang istimewa. Bahwa jika Jakarta lumpuh, bisnis macet maka pundi uang akan berhenti. Jika pundi uang berhenti pemodal akan mundur, industri mati gaya, pengusaha garuk biji, cukong negara akan kehabisan uang, dan media yang menetek dari mereka semua tak punya pemasukan. Jakarta harus diberitakan! Meski tak ada yang baru di dalamnya!

Anda semestinya bisa belajar bahwa dalam media, segalanya adalah tentang kapital juga kepentingan. Bahwa pada bencana lain itu tak ada hubungan dengan hati nurani apalagi kemanusiaan. Bayangkan saja erupsi dari Gunung Sinabung telah terjadi sejak 15 September 2013 dan masih terjadi sampai hari ini. Telah empat bulan dan hampir nihil kepedulian negara apalagi pemerintah daerah. Pada data yang dilansir oleh kolektif relawan setempat tercatat ada 25.810 jiwa pengungsi yang tersebar di 38 titik. Lantas jika anda masih bertanya pemerintah kemana? Anda masuk dalam kriteria telmi.

Tentu saja pemerintah, yang diwakili oleh Bapak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, peraih penghargaan  World Statesman Award 2013 dari Appeal of Conscience Foundation, sedang sibuk menuliskan pengalamannya bertemu mahluk halus. Sebagai musisi dan selebtweet tentu beliau sedang sibuk berkoordinasi dengan para cendikia di Bali untuk memperbincangkan karya kanon terbarunya Selalu Ada Pilihan. Sebuah buku masyur yang telah menjadi klasik bahkan sebelum dibaca. Karya luarbiasa yang hanya patut disandingan dengan buku sejenis berjudul Anak-Anak Revolusi karya anda-tahu-siapa.

Tak tahukah anda jika Appeal of Conscience Foundation adalah lembaga terpercaya yang haibat dalam memberikan penghargaan negarawan bersih dan berempati. Dengan kredo yang sungguh suci nan indah semacam “peace, security and shared prosperity.” Lembaga yang sama pernah memberikan panggung kepada jagoan jagal otak diraja kebijakan perang USA yang bijak bestari Dr Henry Kissinger untuk bicara. Maka pantaslah apabila Bapak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, yang hendak memberikan gelar pahlawan kepada sang ayah mertua, Sarwo Edhie Wibowo perwira penjagal 3 juta perusak negara bernama PKI, menerima penghargaan adiluhung tersebut. Sungguh pantas tiada tercela.

Sebagai pemimpin demokratis yang menjamin kebebasan berpendapat, demikian kata Direktur Pemberitaan LKBN Antara Akhmad Kusaeni, Bapak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tentu sangat peduli dengan penderitaan masyarakat Gunung Sinabung. Presiden dengan penuh perjuangan menuliskan buku agar dapat dibaca oleh seluruh pengungsi, dan hey, buku tebal itu dapat pula menjadi bahan bakar penghangat badan atau sekedar pengganti bantal. Bagaimana tidak? Ia memberikan logistik yang tepat sasaran. Ia memberikan bantuan setelah empat bulan bencana berlalu, tentu sebuah kepedulian yang taktis bukan.

Bapak Presiden Susilo Bambang Yudoyono yang juga meraih Antara Achievement Award 2013 tentu sangat prihatin dengan kondisi bangsa ini. Coba saja anda lihat, saat Bu Ani Yudhoyono sibuk main instagram dan mencari bu Jokowi serta bu Ahok, ia dengan tanggap membuat kata-kata mutiara penggugah semangat di twiiter. Dengan selera yang sangat estetik Bapak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberikan dorongan semangat melalui ucapan, bukan dengan tindakan nyata. Karena sebagai pemimpin beliau tahu, rakyat butuh janji bukan bukti.

Pun saat media sibuk meributkan banjir Jakarta yang rutin hadir setiap tahun. Kota Manado diterbang bencana yang serupa. Tentu saja dengan ekskalasi yang lebih tinggi, lebih menakutkan dan lebih mencekam. Lagi-lagi media, seperti juga Bapak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, dengan sasmita mengurus hal yang lebih penting. Pemberitaan mengenai penggeledahan Bapak Sutan Bathoegana yang terhormat. Berita ini tentu lebih penting bagi khalayak luas masyarakat Indonesia, mengingat sebagai stand up comedian, beliau adalah publik figur yang kehadirannya ditunggu dan dinanti masyarakat luas.

Saat Manado diterjang banjir, belasan orang meninggal dunia, sebagai seniman Ibu Ani Yudhoyono tentu tergugah hatinya. Coba saja anda simak bagaimana media kita yang begitu luar biasa merespon kegelisahan hati beliau. Dilaporkan dalam berita prime time, alih alih melaporkan kondisi terkini bencana yang merengut korban nyawa. Media kita dengan bijak bestari mengabarkan curahan hati Ibu Ani Yudhoyono yang maha penting itu. Bukankah di sana, dalam berita itu, pun kita bisa belajar. Saat frasa banjir membuat rakyat sengsara, Ibu Ani langsung berpikir tentang Jakarta dengan menyebutkan Ibu Jokowi dan Ibu Ahok. Ketimbang ibu kepala daerah Manado. Yakinlah anda semua, Ibu Ani yang telah lama memiliki tustel itu sangat peduli dengan banjir Jakarta daripada banjir Manado.

Sebagai Pemimpin Negara Kesatuan Republik Indonesia, merupakan hal yang sangat jamak, apabila Bapak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono punya prioritas penanganan. Jangan lupa bertahun - tahun yang lalu Bapak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah berjanji pada korban kekerasan HAM, juga mbak Suciwati Munir, untuk menyelesaikan kasus mereka. “The test of our history,” ungkap beliau. Maka saksikanlah, saking sibuknya beliau berusaha mengungkap kasus itu, Bapak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sampai tak sempat sekalipun menemui ibu-ibu kamisan yang menyambangi istananya. Pasti berat bagi pemimpin besar yang mudah iba hati seperti Bapak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menahan diri untuk tak datang mencium kaki ibu-ibu itu. Beliau sedang konsisten menunaikan janji untuk menyelesaikan kasus HAM tersebut. Bukankah ini adalah sebuah sikap maha ksatria?

Jadi tolonglah. Percayalah bahwa Bapak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sedang berusaha sekuat tenaga untuk membantu anda semua Rakyat Indonesia untuk bahagia. Sudahkah anda lihat peran Bapak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam menurunkan harga Tabung Gas LPG itu? Beliau dengan tanggap langsung memerintahkan Pertamina yang merugi, namun bisa membangun gedung tertinggi di dunia dengan dana triliunan, untuk menurunkan harga Gas LPG. Ini adalah sebuah langkah kecil dari pria yang pernah dipromosikan untuk meraih nobel perdamaian itu.


Jadi, wahai Rakyat Negara Kesatuan Republik Indonesia, sebagai Presiden tentunya Bapak Susilo Bambang Yudhoyono ingin mewujudken daripada cita-cita Proklamator kita Soekarno tentang social rechtvaardigheid. Kita memang dalam keadaan tergencet, terinjak dan hina dina dalam bencana ini. Tapi anda diharap sabar dahulu, tenanglah diri anda, jangan melawan dan protes. Karena semua sedang dalam instruksi bapak presiden. Apakah anda sekalian tidak paham beliau di Jakarta sedang berusaha melakukan itu semua? 

Sabtu, 18 Januari 2014

Ngomong Terus Dhan, Naskahnya Kapan?

Jika kamu ingin menulis di Jakartabeat, maka kamu harus menulis sesuatu yang berat. Kaya sanggul Bu Ani. #Hhe, gak ding. Konon kamu harus menulis dengan teori yang tinggi, mengutip filsuf dan sesekali harus ngomong Inggris. Tapi ya itu dia, itu bohong. Orang yang menulis di Jakartabeat itu kalau gak lagi putus cinta, ditolak ya kadang ditikung temen sendiri. Menulis di Jakartabeat adalah menulis tentang diri sendiri, merasakan apa sebenarnya kehendak kerumunan. Ide tentang Wisdom of The Crowd yang dimanifestasikan dalam kata-kata orang yang gagal bercinta.

Tulisan pertama saya untuk Jakartabeat adalah tulisan tentang Gus Dur, yang puji tuhan Alhamdulillah, ditolak redaksi karena terlalu buruk. Saat itu saya pikir ah media pretensius. Menulis soal Gus Dur saja ditolak. Tapi kita tahu Jakartabeat sebenarnya adalah situs mantan playboy dan pecinta gagal. Entah benar atau hanya mitos. Semua penulis Jakartabeat pernah mengalami tuna asmara. Saat itu saya masih belum gagal bercinta, ya tulisannya masih dangkal, masih jelek. Hanya mereka yang gagal bercinta yang bisa menulis bagus. Itu dibuktikan saat tulisan saya, Insureksi Dalam Melodi, yang sedianya naskah lomba penulisan musik Jakartabeat diunggah di situs itu.

Saya curiga tulisan saya dimuat karena kedekatan personal yang intim-berbagi-sempak bersama Nuran Wibisono. Rekan yang lebih dahulu karyanya dimuat di Jakartabeat. Seperti juga Ardi Wilda dan Nuran, suatu hari bung Philips Vermonte yang mantan playboy dan intelejen Opsus itu mengirim pesan singkat di chat Facebook. Beliau bertanya tentang skripsi. Saya tahu itu hanya sekedar basa basi. Tapi perhatian dan pesannya tentang sekolah itu membuat saya terharu, meski sampai kini apa isi pesan itu masih samar terlupakan.

Bersama Taufiq Rahman, Philips memulai blog berburu vinyl. Mereka berdua paham benar caranya memantik anak muda ingusan sok pinter untuk berani menulis dan berani berpendapat. Barangkali itu yang membuat Jakartabeat menjadi berbeda. Memberi ruang pada generasi baru untuk memberikan perspektif yang lebih segar. Meski pada awalnya situs Jakartabeat diampu oleh orang orang tua yang cenderung sudah matang menulis macam Ulil Absar Abdhala, Ari Perdana dan Akhmad Sahal. Toh mereka juga memberi kesempatan pada anak-anak muda untuk ambil bagian.

Tapi ada yang lebih penting daripada patah hati lalu menulis di Jakartabeat. Tentang bagaimana sesungguhnya budaya literasi dibangun daripada sekedar gunjing warung kopi. Jakartabeat harus diakui melahirkan tradisi kritis untuk mengapresiasi karya, baik musik, film, buku dan isu-isu humaniora dalam tulisan yang berkualitas. Kita bisa berdebat panjang perihal bagaimana kriteria tulisan yang berkualitas. Tapi harus diakui paska kemunculan media sosial Jakartabeat konsisten melahirkan tulisan-tulisan dengan pemahaman mendalam tentang sebuah tema. Ini yang barangkali susah dimengerti oleh manusia yang terlalu malas berpikir atau telah merasa tahu segalanya.

Internet troll, hipsterdom dan segala kebudayaan snobs sesudahnya adalah apa yang membuat Jakartabeat terus dan harus ada. Kita harus mengajari para pemalas dan orang yang sudah merasa mahfum dan paham soal musik itu cara berpikir yang baik. Jakartabeat memberikan ruang polemik dengan bebas. Memberikan tempat untuk beradu pemikiran secara sehat dan adil. Tidak sekedar gibah-tanpa-taut di ruang media sosial. Ia juga bukan sekedar ejekan tertawaan dari sisa renik peradaban skena yang telah bubar. Orang-orang skena musik yang dulu pernah berjaya, kini sudah tidak ada, dan merasa takut saat eksistensi picisan mereka mulai digerus oleh Jakartabeat.

Orang-orang ini hanya bisa melakukan kelakar kelas dua. Hasut gosip yang diserukan via anonimitas dan kata-kata canda yang menyamarkan kebencian. Jakartabeat memberikan apa yang mereka inginkan, tapi terlalu takut untuk mereka layani melalui tulisan. Barangkali juga perkara nyali dan karakter, bahwa guyonan bisa jadi alasan paling mudah untuk menyembunyikan kekerdilan. Tapipak internet kok diseriusin. Tinggal nulis aja kok susah. #hhe

Sayang hari ini Jakartabeat seperti kehabisan nafas. Naskah-naskah jarang turun gelanggang mencerahkan khalayak. Mereka sudah habis digulung segala kampanye banal dari gerakan sosial berbasis tagar. Jakartabeat hari ini sudah tidak lagi sekritis dahulu. Para penulisnya menjadi malas. Para pendirinya sibuk menjadi kelas menengah mapan yang berburu vinyl. Saya sendiri? Tentu saja sibuk menjadi selebtweet. Sampai-sampai Mas Pry, palang pintu penjaga kuncek web sering nagih. "Janji nulis ini itu dhan, kapan mau ditulis?" katanya.

Barangkali regenerasi adalah jawabannya. Meracuni generasi baru yang lebih berani, lebih segar dan lebih pintar untuk turun tangan (tapi yang bukan kampanye Anies Baswedan) menulis kembali tentang musik, buku, film dan isu humaniora. Menulis untuk meruntuhkan berhala-berhala sebelumnya. Saya kira generasi hari ini macam Raka Ibrahim dan Dik Debby Utomo perlu dicari padan rekannya lagi. Mereka yang tak punya tempat, tapi punya kemampuan menulis, perlu diberi kesempatan untuk muncul dan berpendapat. Hingga pada suatu saat Jakartabeat sendiri harus berhenti, saat ia sudah menjadi kanon dan kebenaran mutlak.

Selamat ulang tahun Jakartabeat. Sehingga bahasa lu keberatan deh Dhan. Kek mo kuliah filsafat. #hhe #karenahheAdalahBecanda. Hipster paan ga pernah sholat. Tamat.

Kamis, 16 Januari 2014

Cagar Alam, Sempu Dan Ketololan-Ketololan Itu

Menjelang tegah malam Rabu 15 Januari 2014 lalu, akun @indtravel mengumumkan pemenang kompetisi video perjalanan bertajuk #IndonesiaKayaRasa. Salah satu pemenang kategorinya adalah video kampanye #SaveSempu tentang kondisi cagar alam pulau Sempu yang ada di Malang, Jawa Timur. Sampai di sini saya tak ada masalah kecuali dengan sangat disayangkan pada akhirnya sebuah lembaga pariwisata, bukan konservasi alam, memenangkan video yang berpotensi mengajak orang-orang dungu tidak berotak untuk datang berwisata ke sebuah pulau yang jelas berstatus hutan lindung.

Sampai pukul 12 malam video karya Suhindarto itu masih bisa dilihat. Meski berkonsep kampanye gerakan penyelamatan cagar alam. Video itu dengan detil menjelaskan lokasi, cara mengakses tempat dan lebih jauh Suhindarto menawarkan bantuan kepada siapapun yang hendak ke Sempu berikut akomodasinya. Saya melihat ada kejanggalan di sini. Apabila video itu dibuat untuk kampanye penyelamatan sebuah cagar alam, lantas bagaimana bisa ia masuk dalam sebuah daerah konservasi yang membutuhkan izin khusus? Lebih dari itu apabila video itu dimenangkan melulu hanya karena alasan most viewed seperti yang dijelaskan oleh salah satu staf #IndonesiaKayaRasa, apakah tidak ada pertimbangan pemenangan karena masalah etik dan hukum?

Tapi ada baiknya kita pahami dulu apa dan bagaimana sebenarnya Cagar Alam Pulau Sempu itu dan kaitannya dengan masalah konservasi alam. Lebih khusus mengapa kita perlu perlu melestarikan alam di atas kepentingan ekonomis pariwisata. Ini barangkali memuakan, semacam kotbah, tapi jika anda mau sedikit saja berpikir menggunakan otak yang jarang anda manfaatkan itu. Barangkali anda bisa paham, mengapa Cagar Alam Pulau Sempu wajib dan harus dilindungi dengan menghentikan total seluruh kegiatan travel dan pariwisata yang ada di dalamnya.

Cagar alam adalah suatu kawasan suaka alam karena keadaan alamnya mempunyai kekhasan tumbuhan, satwa, dan ekosistemnya atau ekosistem tertentu yang perlu dilindungi dan perkembangannya berlangsung secara alami. Menurut wikipedia demikian. Tapi secara khusus Cagar Alam adalah jaminan lindung dari sebuah ekosistem yang berjalan alami. Di dalamnya alam berkembang tanpa campur tangan manusia yang juga bisa menjadi penyedia plasma nutfah. Sebuah medium yang dilahirkan alami oleh alam untuk kebutuhan-kebutuhan manusia.

Klisenya Cagar Alam adalah penyedia oksigen, kebutuhan plasma nutfah untuk rekayasa genetika dan juga pelestarian flora juga fauna. Jika pengetahuan dasar ini saja tidak bisa anda kuasai maka saya tak tahu harus menjelaskan bagaimana lagi. Cagar Alam menjadi penting untuk kelangsungan hidup hewan dan tumbuhan yang ada di dalamnya. Segala pikiran "Ah cuma dikit aja, cuma bentar aja, cuma saya saja" apa bila dilakukan oleh 1.000 orang maka juga berpotensi merusak. Cagar alam harus benar-benar steril agar ekosistem mahluk hidup di dalamnya menjadi terjaga benar.

Cagar Alam Pulau Sempu masuk dalam kewenangan dan pengawasan Bidang Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Wilayah III Jember. Diperkirakan luas kawasan cagar alam ini sekitar 877 hektar. Orang tak banyak paham dan mencari tahu jika status cagar alam itu tidak hanya meliputi kawasan daratnya tetapi juga perairan darat dan perairan lautnya. Sejak ditetapkan menjadi Cagar alam berdasarkan SK Gubernur Jenderal .No. 46 STBL 1928 No. 69  pada 15 Maret 1928, status pulau ini menjadi ilegal dan melanggar hukum apabila dimasuki tanpa ijin. Tapi tentu kita tahu, manusia manusia dungu selalu punya cara untuk memuaskan keinginan penaklukan mereka.

Dari data yang dimiliki BKSDA Wilayah III Jember potensi ekosistem yang ada dalam pulau ini beragam melintang dari flora dan fauna baik darat maupun laut. Struktur hutannya hanya memilki satu alpisan tajuk pohon dan jenisnya relatif sedikit, yang dengan tololnya sering dibabat oleh pelintas ilegal untuk masuk pulau ini.  Banyaknya manusia yang masuk akan mengganggu ekosistem karena adanya sampah. Beberapa kali ditemukan juga adanya pengunjung yang mengambil tanaman/benda dari kawasan hutan lindung tersebut. Dampaknya ekosistem yang ada menjadi terganggu dan rusak sama sekali.

Tumpukan sampah yang ditinggalkan oleh orang orang yang datang berkunjung di pulau tersebut. Dalam Cagar Alam Pulau Sempu ditemukan beberapa titik pembakaran sampah dan sisa sampah yang tak terangkut pulang. Beberapa di antaranya dikhawatirkan merusak dan meracuni ekosistem murni yang ada di dalamnya. Belum lagi manusia yang masuk dalam lingkungan danau yang seharusnya dijaga kemurniannya. Seperti Danau Telaga Lele dan Danau Segara Anakan. Kedua danau itu berperan sebagai sumber air dan kantong-kantong penyimpanan air tawar bagi hewan asli Pulau Sempu.

Sejarah Membosankan Konservasi Alam

Di Asia Timur, konservasi sumber daya alam telah dimulai saat Raja Asoka (252 SM) memerintah, dimana pada saat itu diumumkan bahwa perlu dilakukan perlindungan terhadap binatang liar, ikan dan hutan. Di sini anda bisa belaja bahwa konservasi telah ada dan diperkenalkan kepada manusia meskipun konsep konservasi tersebut masih bersifat kuno. Dalam cataan yang diberikan oleh Dheny Mardiono, staff BKSDA Wilayah III Jember, Cagar Alam Pulau Sempu memiliki sejarah yang lumayan panjang dan dalam perihal perlindungan keanekaragaman hayati yang ada di dalamnya.

Dheny Mardiono, dalam artikel Sejarah Konservasi Hindia Belanda, mengungkapkan bahwa upaya untuk mengelola sumber daya hutan oleh pemerintahan kolonial Belanda telah dimulai pada pertengahan abad ke-19. Sebelumnya lebih dari 200 tahun lamanya hutan alam jati dieksploitasi secara besar-besaran oleh pemerintah Hindia Belanda untuk memasok bahan baku industri-industri kapal kayu milik pengusaha Cina dan Belanda, yang tersebar di sepanjang pantai Utara Jawa mulai dari Tegal, Jepara, Juwana, Rembang, Tuban, Gresik, sampai Pasuruan

Sampai akhir abad ke-18 kondisi hutan jati di Jawa mengalami degradasi yang sangat serius. Karena itu, ketika pemerintah kolonial Belanda kemudian mengangkat Herman Willem Daendels sebagai Gubernur Jenderal, salah satu tugas yang dibebankan kepada Daendels adalah merehabilitasi kawasaan hutan melalui kegiatan reforestasi pada lahan-lahan hutan yang mengalami degradasi serius. Untuk itu Daendels membentuk Dienst van het Boschwezen (Jawatan Kehutanan), lantas membuat perencanaan reforestasi untuk kawasan hutan yang mengalami degradasi, mengeluarkan peraturan mengenai kehutanan, yang membatasi pemberian ijin penebangan kayu jati, dan memberi sanksi pidana bagi penebang kayu-kayu jati tanpa seijin Jawatan Kehutanan.

Sebentar lalu apa kaitannya dengan Sempu? Dalam sejarah konservasi tanaman Indonesia dan Hindia Belanda terdapat nama dr. S.H. Koorders pendiri dan ketua pertama Nederlands Indische Vereeniging tot Natuurbescherming (Perkumpulan Perlindungan Alam Hindia Belanda). Bekerjasama dengan ahli Botani Th.Valeton, lahirlah kemudian karya besar “Bijdragen tot de kennis der boomsoorten van java” (Sumbangan pengetahuan tentang jenis-jenis pohon dari Jawa) 1893-1914 yang terdiri dari 13 jilid. Koorders menginginkan adanya perlindungan terhadap tumbuhan dan tempat hidupnya untuk masa depan, tetapi perhatiannya diarahkan kepada cagar yang lebih luas  dan mempunyai arti lebih umum.

Kooders adalah salah satu orang yang memohon pada pemerintah Kolonial Belanda Saat itu untuk membentuk Cagar Alam agar tetap lestari. Perlu diketahui bahwa mendirikan suatu Cagar alam, saat itu sangat sulit, maka Pemerintah Hindia Belanda pada bulan Maret  1916 menerbitkan Staatblad nomor 278 yang memuat tentang ketentuan Perlindungan Alam Hindia Belanda, sehingga dimungkinkan menujuk daerah tertentu sebagai Cagar Alam. Apabila Cagar Alam terletak di hutan negara, maka pengawasannya dilakukan oleh pegawai kehutanan yang memangku distrik hutan atau memangku KPH. Cagar Alam lainnya berada dibawah pengawasan Pemerintah Daerah. Lalu apa hubungannya dengan Sempu? Sabar. Anda akan tahu nanti.

Melalui Dheny Mardiono saya juga mengetahui peristiwa penting lainnya dalam sejarah perlindungan alam di Indonesia. Yaitu pada tahun 1925, Belanda mendirikan Komisi Belanda untuk Perlindungan Alam Internasional (Nederlands comissie voor Internationale  Natuurbescherming), yang dipimpin oleh Mr. P.G. Tienhoven (ketua dari organisasi Perkumpulan Perlindungan Alam di Nederland (Vereeniging tot behound van Natuurmonumenten). Walaupun Komisi yang baru dibentuk untuk kepentingan internasional, tetapi memiliki perhatian yan besar terhadap Hindia Belanda.

Selain mendesak memperbaiki ketentuan dan menegakkan aturan tetapi juga mengusulkan untuk membentuk cagar alam yang lebih luas untuk perlindungan satwa liar yang lebih besar. Lalu masuklah kita kepada keputusan 15 Maret 1928 dimana Cagar Alam Pulau Sempu masuk menjadi lokasi konservasi alam yang dilindungi. Pada tahun 1932 setelahnya diundangkan  ”Natuurmonumenten en Wildreservaten ordonantie” (Ordonansi Cagar Alam dan Suaka Margasatwa).

Pada tahun 1941 diselesaikan ordonansi perlindungan alam yang baru yaitu Staatsblad 1941 No. 167 untuk mengganti Ordonansi tahun 1932. Beberapa istilah diganti, diantaranya adala Natuur monumenten (Cagar Alam) dan Wild reservat (Suaka Margasatwa) diganti menjadi Natuur reservat (Cagar Alam) dan Natuur park (Taman Alam). Dalam ordonansi ini dimungkinkan dibentuknya cagar alam diluar tanah negara (daratan), tetapi dimungkinkan juga tempat lain setelah mendapat persetujan dari pengguna hak, seperti contoh adalah perlindungan terhadap terumbu karang dapat dilakukan setelah mendapat persetujuan dari masyarakat/nelayan yang biasa mencari ikan didaerah tersebut.

Kawasan Suaka Alam hanya dapat dimasuki setelah mendapat ijin tertulis dari pengelola tetapi taman alam lebih terbuka untuk umum. Tugas dan kewenangan berada di bawah Dinas Boschwezen tetapi untuk beberapa urusan tertentu dapat dialihkan/diserahkan  kepada  instansi lain. Dibanding dengan Ordonansi yang lama, pada era ini juga dimungkinkan kegiatan di cagar alam dan kegiatan perburuan di taman alam. Namun perburuan itu terbatas dan hanya boleh dilakukan oleh orang orang tertentu yang memiliki izin. Cagar Alam Sempu adalah salah satu kawasan yang mutlak dilarang untuk menjadi kawasan perburuan atas peraturan baru tersebut. Itu adalah sedikit dari sejarah panjang nan rumit bagaimana cagar alam dibentuk dan dilindungi di Indonesia.

Kementrian Tolol dan Masyarakat Dungu

Sejujurnya saya sudah patah arang dan ogah mau peduli dengan status Cagar Alam Pulau Sempu. Bahkan saat Pradikta Dwi Anthony, seorang traveler dan buzzer jomblo, membuat petisi online untuk melindungi pulau itu saya tak ambil bagian. Buat apa? Toh pada akhirnya orang orang tolol dan dungu itu akan tetap datang. Orang yang jarang memakai otaknya itu akan tetap pamer dan terobsesi untuk masuk dalam pulau yang dilindungi itu. Toh kawan-kawan saya, yang juga traveler, angkat tangan dan menganggap bahwa memperdebatkan etis tak etis masuk ke kawasan cagar alam sebagai zona pariwisata hanya masalah kuno dan klise.

Tapi saya luar biasa kaget malam tadi. Saat lembaga negara melalui salah satu akun media sosialnya, mendorong dan memuji video catatan perjalanan ke Pulau Sempu bertajuk #IndonesiaKayaRasa. Apakah kebodohan ini sudah demikian luar biasanya? Bahkan institusi negara memfasilitasi masyarakatnya untuk masuk secara ilegal ke kawasan hutan lindung. Kita tahu kawasan itu tentu bisa diakses dengan ijin khusus yang dikeluarkan atas nama penelitian ilmu pengetahuan. Saya tahu. Anda tahu. Orang-orang yang asyik berfoto dan instagram ria di Sempu tadi bukanlah peneliti.

Disini saya akan mulai mempertanyakan keputusan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Indonesia yang mencantumkan Cagar Alam Pulau Sembu sebagai salah satu destinasi wisata. Sebagai lembaga negara yang punya akses informasi yang lebih baik daripada khalayak, semestinya kementrian ini tidak dengan gegabah mencantumkan sebuah daerah konservasi sebagai produk jualannnya. Tentu sebagai lembaga negara Kemenparekraf bisa lebih cerdas dan memakai otaknya ketimbang individu-individu dungu yang tak paham aturan negara. Kita tahu ada banyak akun travel di media sosial menyadarkan hidupnya yang menyedihkan pada Pulau Sempu dan masa bodoh dengan status cagar alanya. Apakah Kemenparekraf juga demikian menyedihkan?

Kepada Suhindarto selaku pembuat video yang lantas dimenangkan dalam kompetisi #IndonesiaKayaRasa saya juga ingin bertanya. Apakah bung sudah mendapatkan ijin untuk masuk dalam kawasan Cagar Alam itu? Jika memang video itu bung bikin untuk kampanye #SaveSempu mengapa bung tawarkan akomodasi dan bantuan untuk sampai kesana? Sadarkah bung Suhindarto yang dengan detil menjelaskan lokasi perlokasi, kendaraan dan panorama Cagar Alam Pulau Sempu mampu menarik pelancong yang ahistoris perihal status pulau itu? Jika ada seseorang yang justru malah tertarik untuk datang ke sana apa tanggung jawab anda jika kemudian ia membuang sampah sembarangan?

Kepada siapapun manusia manusia dengan perkembangan daya pikir rendah yang bangga telah datang ke Cagar Alam Pulau Sempu. Apa yang anda tinggalkan selain sampah di pulau itu? Sadarkah anda telah melibas dan masuk teritori terlarang daerah yang dilindungi? Lalu apa anda pikir atas nama ketidaktahuan anda boleh serta merta terbebas dari kesalahan itu? Berapa orang yang telah anda ajak dan rekomendasikan ke pulau itu? Mengapa anda tidak sedikit cerdas sebelumnya dan mencari tahu soal sejarah dan kondisi pulau itu? Pada akhirnya apa yang bisa anda sisakan selain foto-foto dan jejak merusak pada daerah perlindungan itu?

Kepada para travel agen yang menawarkan paket wisata ke Cagar Alam Pulau Sempu. Saya tentu bisa menulis dengan kata-kata yang lebih santun daripada ini. Tapi saya sudah lelah. Barangkali anda akan berkata "Ah orang sirik, orang cari rejeki kok diganggu!" Tentu saya tak akan ganggu anda. Orang yang hidup mencari makan dari tindakan ilegal dalah hak orang itu. Barangkali karena lapar dan kemiskinan anda sekalian berhenti menggunakan daya pikir anda. Barangkali karena keterdesakan kebutuhan uang anda memilih untuk tak mau tahu dan terus merusak alam. Itu hak anda. Saya tak bisa memaksa orang untuk jadi cerdas, seperti saya tak bisa melarang orang untuk jadi (maaf) idiot.

Kepada khalayak sisanya yang hendak dan akan menuju Cagar Alam Pulau Sembu. Ini sekedar himbauan, yang tentu saja bisa dilupakan dan dibuang jauh-jauh. Anda punya pilihan untuk memihak akal sehat dan nurani anda. Anda bisa dengan cerdas memilih untuk tidak datang. Tapi pun jika anda datang pastikan anda membawa kembali ratusan sampah yang anda bawa, jangan menginjak taman apapun dalam perjalanan anda, jangan mengganggu hewan apapun yang anda temui, dan jangan masuk ke dalam ekosistem yang bisa hancur hanya karena hawa tubuh anda.

Kepada BKSDA Wilayah III yang sebelumnya telah berusaha berdialog dengan pihak warga, pemerintah daerah dan pengusaha pariwisata. Namun akhirnya terpaksa kalah karena warga yang protes pelarangan paket wisata karena memutus mata pencahariannya. Barangkali ini waktu yang tepat untuk menurunkan status cagar alam itu menjadi daerah kawasan wisata terbatas. Hal ini halal, lagipula jika ini dilakukan anda bisa mendapatkan pemasukan tambahan, memotong mata rantai calo yang keparat dan juga mengedukasi turis-turis yang berpotensi bodoh yang membuang sampah sembarangan. Kita selalu punya pilihan untuk meghadapi masalah bukan?

Pada akhirnya ini akan jadi debat kusir. Pilihannya menjadi terbatas pada dua hal. Jika anda mendiamkan ini, maka anda masuk dalam masalah. Jika anda bersuara anda dianggap sebagai orang caper yang cari-cari masalah. Saya tahu itu. Toh saya akui saya cuma caper, semua ini dilakukan agar follower twitter nambah. Tabique.


Selasa, 07 Januari 2014

Bahasa, Sosial Media, dan Kita

Perdebatan keras antara Sanusi Pane dan Sutan Takdir Alisyahbana dimulai dari postulat sederhana. Bahwa untuk menjadi modern, kata Sutan Takdir, Indonesia harus melepaskan identitas kulturalnya yang ketinggalan zaman dan udik. Kita harus mengekor barat dengan segala kemajuan yang mereka punya. Cara berpikir, tata bahasa dan laku hidup premordial yang dipilih oleh masyarakat Indonesia harus dibuang. Hal ini karena “masyarakat kepulauan Nusantara yang berabad-abad statisch mati ini“ kata Sutan Takdir bisa “menjadi dynamisch, menjadi hidup” dengan mengadopsi cara hidup barat. Tapi benarkah demikian?

Sanusi Pane, salah seorang pemikir Indonesia terbaik dizamannya, menolak ini. Ia mengatakan bahwa apa yang disebut sebagai modernitas, nilai nilai kemajuan dan sejenisnya hanyalah perkara perspektif. Saat peradaban masyarakat barat masih garuk biji, bapuk dan dikuasai tahayul lantas membakar perempuan atas tuduhan praktik sihir. Peradaban Nusantara telah mencapai puncaknya. Borobudur, ekspedisi dagang Sriwijaya, dan syair-syair sufistik Hamzah Fansuri telah memukau peradaban dunia. Hanya orang orang ahistoris dungu yang memuja secara buta peradaban barat sebagai sesuatu yang hebat.

Kita tahu semua perdebatan ini karena artikel Sutan Takdir yang berjudul Menuju Masyarakat dan Kebudayaan Baru: Indonesia-Pra-Indonesia yang dimuat dalam Pujangga baru edisi 2 Agustus 1935. Dengan gagah dan garang Ia mendefinisikan sebuah era baru peradaban kebudayaan Indonesia. Peradaban yang berbeda dengan generasi yang sebelumnya, terlepas dari peradaban kerajaan kerajaan "Zaman pra-Indonesia" yang dianggapnya menghambat kemajuan.

Kita pun tahu bahwa Sutan Takdir adalah juru bicara barat pada zamannya, ia sering menulis, berbicara dan bergaya barat. Barat, terutama tentang Eropa dan Amerika, dalam mata Sutan Takdir adalah segala yang berarti kehebatan, peradaban tinggi dan kelas yang adiluhung. Sementara nusantara adalah nama lain dari kebuntuan, cupet, jumud dan ketinggalan zaman. Apakah ia salah? Saya pikir tidak. Ia hanya bicara tentang sebuah usaha mimikri seorang inlander terhadap kebudayaan agung tuannya yang dinilai lebih menyilaukan.

Mimikri, subaltern, hibridasi dan sejenisnya dalam studi pos kolonial telah banyak bicara. Bagaimana seorang manusia yang dijajah berusaha meniru penjajahnya. Sebagai upaya untuk jadi setara, menjadi sederajat dan menjadi sejajar. Manusia-manusia yang identitasnya diremukan lantas mengemis mencari jejak kebudayaannya sendiri. Dalam kisah Minke, melalui epos panjang Tetralogi Pulau Buru Pramoedya Ananta Toer, fenomena malu identitas sendiri sudah lunas digambarkan. Ia adalah manusia yang tercerabut. Bukan jawa, bukan londo dan bukan pula pribumi. Ia adalah manusia yang terasing.

Bagaimana wajah kita hari ini? Sosial media hari ini telah mewarisi semangat Sutan Takdir dalam upayanya memuja barat. Para manusia-manusia nusantara yang lebih fasih berbahasa Inggris daripada bahasa tanah airnya sendiri. Lebih metropolutan daripada manusia-manusia urban sendiri. Lebih modern dari apa yang bisa dibayangkan oleh Sutan Takdir pada zamannya. Mengejar identitas dunia karena segala yang tradisional adalah nama lain kampungan dan norak.

Tentu anda bertanya-bertanya, apakah bahasa tanah air itu? Apakah manusia-manusia urban itu? Apa itu identitas dunia? Dalam sebuah esai tajam dari Bandung Mawardi berjudul Amnesia Bahasa Indonesia dan Kritik Diri yang dimuat di Lampung Post pada 9 Mei 2010, tercatat beberapa jawaban dari pertanyaan di atas. Perihal bahasa dan manusia urban yang menarik dari identitas linguistiknya dan menggunakan bahasa lain sebagai usaha membentuk citra diri yang baru. Citra yang cerdas, terdidik, kota, modern dan canggih.

Bandung dengan nada lirih menuduh bangsa ini tak terbiasa dengan imajinasi, metafora, permainan bahasa, atau nalar bahasa. Pelbagai polemik dalam ranah politik, ekonomi, pendidikan, sosial, agama, dan kultural kerap disebabkan dari kenihilan pengetahuan atas bahasa. Beberapa dari kita lebih suka menggunakan leksikon asing daripada kata-kata dalam bahasa ibu sendiri. Beberapa dari kita lebih gemar berkicau dalam bahasa Inggris ketimbang menggali diksi dan lema baru yang ada dalam kazanah bahasa sendiri. Bandung Mawardi memvonis masyarakat Indonesia tengah berada dalam kondisi Amnesia Bahasa.

Tapi apa pentingnya sebuah bahasa. Memangnya seberapa? Dude, how come you saying this shit nigga? Misbahus Surur, mahasiswa S-2 UIN Maliki Malang pada 3 April 2011 menulis artikel menarik tentang bagaimana perjalanan bahasa melayu pasar menjadi bahasa nasional seperti saat ini. Menurutnya pemanfaatan bahasa pada awalnya hanya untuk kepentingan pragmatis. Sebagai alat tukar dan komunikasi parsial. Baru saat muncul ide-ide nation state dan kesatuan. Beberapa orang seperti Muhammad Yamin melihat bahasa sebagai sebuah alat pemersatu (lingua franca).

Hari ini di sosial media khususnya di Indonesia bahasa merupakan citra. Ia adalah alat lain untuk mengembangkan identitas kultural. Sebut saya naif dan tendensius. Tapi mari kita telaah dari riset Semiocast, Twitter setidaknya digunakan oleh 22 persen pengguna Internet. Secara global setidaknya ada 232 juta pengguna aktif twitter yang ramai bergunjing. Dalam riset itu Semiocast pada Juni lalu diketahui jika Indonesia menempati peringkat ketiga negara paling cerewet di twitter dengan 1 miliar tweet.

Menariknya meski Indonesia berada di peringkat ke tiga dalam daftar negara paling bawel berkicau. Hal ini tidak lantas membuat bahasa Indonesia menjadi bahasa yang dominan di dunia. Coba lihat saja rilisan Semiocast tentang lima bahasa yang paling banyak digunakan. Bahasa yang digunakan itu antara lain: Inggris 34 persen, Jepang 16 persen, Spanyol 12 persen, Malaysia 8 persen, dan Portugis 6 persen. Lalu memangnya kenapa? Apa hubungan antara penggunaan bahasa dengan pencitraan tadi?

Pengguna aktif twitter di Indonesia lebih suka menggunakan bahasa Inggris daripada bahasanya sendiri. Tak ada yang salah di sini. Fungsi bahasa toh tak pernah bergeser dari alat komunikasi. Sayangnya di Indonesia, pada twitter khususnya, praktik berbahasa Inggris sudah jatuh pada kategori cultural snobbery dan patronase asing sehingga berkicau dalam bahasa Indonesia, apalagi bahasa daerah, menjadi sebuah aib yang terlampau jijik untuk dilakukan.

Saya menuduh mereka, akun twitter milik warga Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang melulu berkicau dalam bahasa asing adalah orang orang yang memiliki krisis identitas. Manusia yang gagap dalam berbahasa dan susah mengembangkan cara berkomunikasi yang membumi. Tapi tuduhan toh tetap hanya akan berakhir tuduhan. Meski sedekat apapun fenomena kebahasaan ini mirip dengan apa yang diramalkan James Wolcott dalam What’s a Culture Snob to Do? saya hanya bisa nyinyir belaka.

What’s a Culture Snob to Do? ditulis James Wolcott di Vanity Vair. Dengan lahirnya internet dan sosial media apa yang dahulu hanya sekedar milih beberapa, kini berpotensi dan pasti akan dimiliki oleh orang kebanyakan. Konsep relasi budak tuan dalam kaca mata Marxian hanyalah mimpi buruk masa lalu. Internet menciptakan hubungan egalitarian antara manusia. Dalam hal ini pemanfaatan teknologi, pengetahuan dan tentu saja bahasa. Tetapi Wolcott menyiratkan pula dengan munculnya teknologi ini, apa yang dahulu sekedar impian negara dunia ketiga tentang negara superpower akan mendapat jawabannya sendiri. Dalam internet, selama kau fasih berbahasa asing, kau adalah bagian dari warga negara dunia.

Sayangnya kemajuan itu berhenti hanya kepada pemanfaatan pembentukan citra diri belaka. Dengan adanya internet, sekali lagi dalam twitter khususnya, peanfaatan bahasa Inggris melulu hanya untuk usaha membentuk citra diri. Anda boleh jadi sangat sinis dan boleh curiga bahwa pernyataan ini hanya sekedar asumsi tanpa bukti. Namun melihat dan membaca bagaimana linikala berjalan dan berkembang, kita dibanjiri kutipan, lelucon dan leksikon asing. Sementara kebahasaan kita terkapar jatuh hanya digunakan oleh segelintir munsyi yang berusaha menjaga jati diri bahasanya sendiri.

Saut Situmorang dalam esai sinis berjudul Indonesia – Inggris menanggap gejala genit berbahasa kita sebagai usaha untuk menjadi liyan. Ia menuliskan dua adegan manusia-manusia kota yang berbahasa Inggris dengan pemanfaatan yang tepat. Seperti kata “get lost” yang dimaknai ‘tak paham’ daripada ‘tersesat’ dan penggunaan kata ‘as soon as posibble’ yang dimaknai ‘bergegaslah’ daripada ‘sesegera mungkin’. Kesalahkaprahan idiomatik ini menurut Saut adalah hal yang sah. Meski ia bisa jadi sebuah fenomena euforia di kalangan orang-orang kota besar di Indonesia.

Meski sebenarnya dalam artikel itu Saut sedang menghantam Remy Sylado yang ia tuduh alergi terhadap bahasa Inggris. Ia juga menyampaikan sebuah pesan tersembunyi. Bahwa dalam kehidupan sehari-hari pemanfaatan bahasa Indonesia yang baik dan benar mesti diikuti oleh kesadaran fungsi bahasa yaitu komunikasi. Melulu berkicau dalam bahasa Inggris agar dikira berbudaya, keren, barat dan terdidik adalah sebuah kedunguan.

Pun kebencian terhadap bahasa asing seharusnya tak membuat pembacanya menjadi anti asing. Saut menyampaikan bahwa dalam konteks bahasa Indonesia-Inggris yang salah kaprah seperti pada twitter, bukan peristiwa nginggris-nya yang mesti diejek-ejek dengan sikap patronising tapi bagaimana kesalahkaprahan itu bisa dikoreksi, terutama lewat media massa yang memang paling potensial untuk merealisasikannya. Mereka, orang-orang Indonesia yang berkicau melulu dalam bahasa Inggris, berhak terus melakukan yang mereka suka, seperti juga pada akhirnya, kita berhak percaya, mereka akan terus pura-pura menjadi apa yang mustahil mereka raih. Menjadi barat. Tapi tentu saja, jika anda tak setuju, semua ini hanya sekedar oxymoron belaka.


Sabtu, 04 Januari 2014

7 Tokoh Yang Harusnya Punya Pengaruh Besar Dalam Sastra Indonesia

Saat peluncuran buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh saya sudah menduga bahwa buku itu akan melahirkan polemik. Bukan, bukan karena saya seorang peramal, tapi saya tahu dalam iklim sasta yang masih fasis, manja dan egois di Indonesia. Membikin daftar pretensius dengan label berpengaruh itu sama saja mengatakan bahwa Allah itu tak ada di depan segerombolan FPI. Kita hanya akan jadi bulan-bulanan ejek dan hantaman dari kelompok sastra tanah air yang merasa punya kanonnya masing-masing.

Dalam buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh terdapat beberapa tokoh sastra yang memang berpengaruh. Dalam pengantar bukunya Tim 8 yang menjadi konseptor dan penyusun buku ini menyebutkan bahwa "Yang dimaksud dengan tokoh sastra Indonesia yang paling berpengaruh adalah orang yang melalui karya sastra, gagasan, pemikiran, dan tindakannya memberikan pengaruh dan dampak cukup luas khususnya pada dinamika kehidupan sastra, dan umumnya pada dinamika kehidupan intelektual sosial, politik dan kebudayaan Indonesia yang lebih luas."

Melihat definisi itu jelas kita bisa mendebat siapa-siapa saja tokoh dalam daftar itu yang sangat berpengaruh, dan tak punya pengaruh apa-apa. Tapi tentu sebagai penulisan yang konon saintifik dan berdasarkan debat intelektual yang keras 33 nama itu memang punya prestasinya sendiri. Seperti Taufiq Ismail penyair yang jago berpolemik soal moral sambil menangis, Ayu Utami penulis feminis yang galak tentang isu perempuan tapi bukan isu perkosaan, atau juga Helvy Tiana Rosa yang membikin forum lengkar pena tapi tak jauh beda dengan lembaga dakwah pengajian.

Setiap orang punya pembaca dan punya standarnya masing-masing terhadap karya berkualitas. Meski buruk dan sumbing, kita harus hargai selera itu sebagai bagian dari demokrasi yang sehat. Pada pengantar buku tersebut juga dituliskan 4 kriteria pamungkas untuk menentukan masuk sebagai tokoh sastra berpengaruh. Antaralain. 1. Pengaruhnya berskala nasional, 2. Pengaruhnya relatif berkesinambungan, 3. Menepati posisi kunci, penting dan menentukan, 4. Dia menempati posisi sebagai pencetus atau perintis gerakan baru yang melahirkan pengikut, penentang dan melahirkan paradigma baru dalam kesusastraan Indonesia.

Namun pertanyaannya adalah apakah 33 tokoh tadi masuk memiliki ke empat kriteria di atas? Ataukah hanya salah satu saja? Kriteria itu meski tampak sangat mentereng sangat mudah untuk dibantah. Seperti Ayu Utami berpengaruh Skala Nasional? Nasional apakah maksudnya Jawa? Mochtar Lubis berpengaruh secara berkesinambungan? Bahkan generasi twitter hari ini, saya yakin, ada yang tak tahu siapa dia. Lantas bagaimana cara mengukur kriteria tadi sehingga bisa diterima oleh para pembacanya? Saya kira itu perlu studi yang mendalam yang serius, dan tentu saja, disokong dana yang besar.

Tapi cukuplah itu. Meminjam kriteria tadi saya akan menyusun 7 tokoh lain yang harusnya punya pengaruh besar dalam sastra Indonesia. Tokoh tokoh ini mungkin tidak masuk dalam keempat kriteria di atas. Barangkali hanya ada 3 dari 4 kriteria atau bahkan hanya 1 dari 4 kriteria. Tapi meminjam pleidoi dari Tim 8, daftar ini saya susun melalui perdebatan yang sangat panjang, intens dan mendalam dengan diri saya sendiri. Semoga anda sebagai pembaca berkenan membaca.

1. Umbu Landu Paranggi

Umbu bukan penyair yang hebat, bukan penulis yang ulung, bukan pula esais yang konsisten menulis kolom yang sama bertahun-tahun. Umbu juga kritikus yang keras dan gemar melakukan dokumentasi sastra yang ketat. Ia tak punya pengaruh besar kecuali pada jagat kecilnya sendiri di Malioboro. Namun menuliskan nama Emha Ainun Najib tanpa menuliskan nama Umbu, bagi saya adalah sebuah pengkhianatan besar. Seharusnya penulis penulis yang Umbu besarkan namanya, didik kepenyairannya dan didorong kepenulisannya ambil suara. Bagaimana mungkin pria teduh hati yang memberikan nafas sastra pada Malioboro ini dilupakan begitu saja perannya?

1970 an Umbu bersama penyair-penyair di Jogja membikin Persada Studi Klub yang melahirkan forum puisi Malioboro. Putra mahkota kerajaan di Sumba yang baik hati itu hidup seperti gelandangan. Berjalan kian kemari membawa tas kresek yang berisi naskah puisi. Ia mendorong orang orang untuk mengenal keberaksaraan. Umbu tak ingin membangun gedung mewah pertunjukan sastra yang mahal, atau menciptakan jurnal sastra yang berisi makian. Ia hanya ingin orang menulis dan membikin karya. Sesederhana itu dan selalu konsisten selama bertahun-tahun.

Bahkan dalam indeks nama 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh nama Umbu tak masuk sebagai basa-basi. Saya juga tak temukan namanya dalam kolom nama yang mempengaruhi Emha Ainun Najib. Sedemikian tak pentingkah namanya sehingga orang yang dihormati oleh Korie Layun Rampan, Linus Suryadi AG, dan Yudistira Adi Nugraha ini tak masuk bahkan dalam sekadar ewuh pakewuh terima kasih? Tapi saya tahu, anda tahu, dan orang orang yang memiliki akal sehat tahu. Umbu tak butuh itu semua, Bahkan jikalau ada 1.000.000 tokoh sastra paling penting di Nusantara, namanya tak masuk. Ia tak akan marah. Ia lebih daripada itu.

2. Kho Ping Hoo

Sukawati Asmaraman menuliskan narasi besar jagat persilatan China dengan detil. Ia bicara tentang pertentangan aliran hitam dan putih, gelap dan terang, serta segala romansa manusia yang hidup dalam dunia yang dihuni oleh para pendekar. Namun tak banyak orang yang mengetahui jika penulis yang menggunakan nama pena Kho Ping Hoo ini sebenarnya tak pernah sekalipun pergi ke tanah Tiongkok. Meski demikian siapapun yang membaca karyanya akan sepakat bahwa segala cerita yang ia tulis dalam karya-karyanya tampak sangat detil.

Lantas apa sebenarnya yang membuat karya Kho Ping Hoo menjadi istimewa? Cara bertutur, kisah yang menarik, drama yang memikat dan deskripsi jurus serta konflik yang dibangun memiliki daya magis tersendiri. Karya-karyanya melibas batas identitas rasial dan kultural sehingga, meski karyanya banyak berlatar di China, Kho Ping Hoo mampu menarik pembaca Indonesia. Bahkan tak jarang penggemarnya merasakan bahwa karya-karya ini lahir dari kekayaan budaya nusantara yang dikemas dalam cerita bernuansa tiongkok.

Sayang meski telah menulis banyak karya dan melahirkan generasi pembaca genre silat yang fanatik. Nama Kho Ping Hoo tidak mendapatkan tempat selayaknya dalam kazanah sastra Indonesia. Ia masih dianggap sebagai penulis medioker karena menerbitkan karya-karya populer yang dianggap picisan. Padahal pada zamannya ia adalah penulis yang tak dilahirkan dan dipromosikan oleh Balai Pustaka, penerbit warisan kolonial. Tak ada penulis silat yang tak berhutang jasa padanya, ia memperkenalkan genre baru yang sangat istimewa tapi malu diakui sebagai sebuah karya sastra estetik.

3. Seno Gumira Ajidarma

Tak terbilang generasi penulis muda Indonesia yang berusaha meniru, menyadur, menjiplak dan menuliskan cerpen Sepotong Senja Untuk Pacarku bagi gebetan mereka. Para penulis itu begitu terpukau dengan kemampuan eksplorasi kesederhanaan diksi Seno dalam tema senja. Generasi penulis muda Indonesia kontemporer dalam buku Perkara Menulis Senja sebagai penghormatan terhadap karyanya itu. Tak terhitung sajak dan prosa yang dituliskan pengarang setelahnya untuk menjadi Seno berikutnya lantas gagal dan sekedar jadi epigon menyedihkan.

Namanya memang disebutkan dalam daftar itu, bersama juga Umar Kayam, Danarto YB Mangunwijaya, Utuy Tatang Sontani dan Sitor Situmorang. Pembuktian pengaruh besar bisa kita lihat dari gunjing rasan yang terjadi ketika cerpennya Aku, Pembunuh Munir dimuat banyak penulis yang mencibir. Ia masih punya pengaruh dan masih punya pesona. Meski sempat juga dituduh plagiator oleh Akmal Nasery Basral, penulis novel Aburizal Bakrie, karena menulis cerpen Dodolit Dodolit Dodolibret tak membuat namanya di blacklist di kompas dan bisa lebih baik nasibnya daripada Dadang Ari Murtono yang juga plagiat itu.

Tapi tentu saja kita perlu bertanya apa warisan besar Seni selain cerpen yang banya dikutip orang pacaran itu? Kisah-kisah dalam Saksi Mata dan kredo Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara saya kira lebih dari cukup untuk memasukan namanya dalam daftar itu. Kecuali tentu saja ia tak lebih hebat dan lebih penting daripada pencetus Puisi Esai yang langgam penulisannya telah digagas oleh Goenawan Mohammad sejak lama. Tapi apalah arti Seno yang bukan penulis hebat itu dibandingkan dengan yang mulia Taufiq Ismail, penyelamat moral bangsa ini dari gerakan mazhab selangkangan.

4. Saut Situmorang

Tahi kucing jika sebuah daftar sastra tak menyertakan nama Saut di dalamnya jika salah satu tolok ukur yang digunakan adalah berpengaruh dan menghasilkan polemik. Saut Situmorang yang sejak dulu konsisten menghantam Utan Kayu, dan kini Salihara, harus masuk daftar itu. Buku Politik Sastra miliknya dengan bernas dan teliti menuliskan bagaimana bahwa kondisi sastra Indonesia mutakhir itu tak lebih dari sekedar dagelan. Tuduhannya tentang sastrawan yang dibayar untuk jadi jongos ide-ide liberalisme juga terbukti dalam buku Kekerasan Budaya Paska 1965 milik Wijaya Herlambang. Apa yang sebelumnya cuma sekedar "coretan kakus" kini kebenarannya tak bisa dielak lagi dan itu adalah fakta tak terbantahkan.

Ia turut membidani lahirnya manifesto Boemipoetra, menolak masuk karyanya dalam Katulistiwa Literary Award, puisi cyber sampai dengan kritiknya pada Goenawan Mohammad. Ia melahirkan banyak penggemar yang berusaha meniru perangainya. Tapi tentu saja tak ada Saut kecil, Saut adalah Saut sendiri tanpa perlu dijilat oleh pemuda tanggung yang sedang krisis identitas, menghantam sana sini biar terlihat kiri dan seksi. Saut tahu betul apa yang ia kerjakan, Saut sedang menghantam otoritas dari kelompok sastra yang terlalu ekslusif sehingga menganggap diri sendiri besar dan keren.

Dalam Cyber Graffiti: Polemik Sastra Cyberpunk kita bisa membaca bahwa otoritas tadi dilawan dengan kemunculan internet. Dalam internet tidak ada kanon semua orang bisa menjadi penulis dan sastrawan. Inilah yang melahirkan generasi baru penulis penulis internet yang bebas Sehingga mereka tidak perlu lagi menggantungkan nasib karyanya pada sebuah lembaga otoritas. Kita boleh tertipu, mereka yang menganggap bahwa Saut hanya bisa membacot dan mengumpat perlu membaca karyanya. Banyak jurnal dan puisi yang ia terbitkan dalam bahasa asing tanpa perlu mematut diri dan narsis karenanya. Jika ia tak masuk daftar sebagai penulis yang berpengaruh, meski saya ragu ia akan mau, lantas apalah daftar itu berguna?

5. Icha Rahmanti

Cintapuccino adalah karya teenlit paling fenomenal yang pernah ada di Indonesia. Itu jika anda menganggap teenlit sebagai sebuah genre sastra. Teenlit punya estetika, pembaca dan pengaruhnya sendiri. Genre ini melahirkan penulis-penulis yang tak terjebak pada penokohan sastra mapan. Malah ia membangun iklimnya sendiri dengan sehat. Icha Rahmanti bagi saya perlu masuk dalam daftar itu karena ia membuka pintu kesempatan bagi penulis-penulis remaja setelahnya. Seperti Raditya Dika dan.. Raditya Dika. Hanya Raditya Dika? Tentu tidak ada banyak nama lain, tapi hanya dua nama ini yang saya baca dari booming sastra remaja saat zamannya.

Icha Rahmanti memberikan nafas baru dari bacaan yang cenderung pretensius dari penulis yang ada saat itu. Kita dipaksa memilih sastra snobs ala Dewi Lestari dan Supernova I atau sastra feminis ala Djenar Maesa dan sejenisnya. Sebagai pembaca saya menikmati karya-karya teenlit, meski lupa nama penulisnya, seperti Dea Lova, Eiffel I'm In Love, dan Gege Mengejar Cinta. Ia adalah semangat zaman, bahwa toko buku sampai hari ini, masih dikooptasi oleh genre penulis remaja yang menawarkan bahasa yang segar dan populer.

Indonesia Buku dan Muhidin M Dahlan memasukan Cintapuccino sebagai 100 Buku Sastra Yang Patut Dibaca Sebelum Dikuburkan. Gus Muh menilai karya Icha Rahmanti ini memantik generasi baru penulis muda yang tak ingin masuk dalam dikotomi sastra kanon. Mereka adalah penulis-penulis yang hanya ingin bercerita tentang dirinya sendiri, tentang cinta ala remaja, konfliknya dengan bahasa mereka sendiri. Sesuatu yang susah ditemui oleh banyak sastrawan yang terjebak pada bentuk dan berusaha memitoskan diri. Icha disisi lain, malah menjadi kanon dalam genre yang ia bidani tanpa sadar.

6. Enny Arrow

Mereka yang lahir pada era 80an mustahil tak mengenal Enny Arrow. Penulis spesialis birahi ini jauh lebih vulgar, estetik dan berani daripada penulis selangkangan kelas dua semacam Djenar Maesa atau Ayu Utami. Karya-karya dikenal sangat luas dan menembus seluruh kalangan baik tukang becak, mentri kabinet pembangunan, kepala sekolah, guru TK, santri sampai dengan kyai. Tapi mengapa sedikit polemik dan kepengaruhan yang dibahas atas namanya? Ah kalian ini bagaimana? Jika membahas Enny Arrow maka dengan otomatis akan membuka selaput diri bahw kalian pun, pada zaman itu, membaca karya sastra yang dianggap murahan, picisan dan kampungan

Enny Arrow menuliskan adegan persenggamaan dengan estetika yang indah. Tentu ada birahi di sana, ada pergumulan manusia dan juga skandal. Tapi Enny tak sedang bicara tentang feminisme. Ia bicara tentang kebutuhan manusia, yang seperti makan juga berak, sebenarnya adalah hal yang wajar. Enny menuliskan fiksi dengan logika yang masuk akal. Bukan menuliskan tentang gadis terbelakang yang masturbasi dengan seonggok kayu hanya untuk menciptakan metafora. Ia adalah penulis yang menginspirasi generasi setelahnya untuk bicara bahwa seks adalah hal yang indah dan tak perlu malu menuliskan tentang itu.

Enny Arrow bukan saja penulis mampu mendobrak tabu dan melibas norma-norma kesusilaan yang ada. Ia bicara tentang kejujuran yang oleh para kaum sastrawan pada zamannya susah diceritakan. Ia bicara tentang kondisi ranjang yang panas alih-alih negara yang ruwet, ia bicara tentang kenikmatan kelamin alih-alih gaya puisi yang baru,  Enny Arrow adalah fantasi yang tak berani diraih dan dicapai oleh kalangan yang sok suci dan ingin tampil budiman. Seperti Taufiq Ismail, harusnya masuk dalam tokoh sastra Indonesia paling berpengaruh. Karena ia menulis karya dengan apa adanya dan menginspirasi generasi setelahnya untuk menuliskan selangkangan atas nama pseudo feminisme semacam "biarkan perempuan menuliskan tentang tubuhnya sendiri".

7. Arman Dhani Bustomi

Kenapa ada nama saya di sini? Oh tentu saja karena sebagai pemilik dan sponsor dari blog ini. Tentu saja saya berhak untuk masuk dalam daftar ini. Selain, jika anda masih ingat, sebagai orang yang dituduh kritikus saya pernah bikin polemik besar di akhir 2012 saat meluncurkan artikel lima buku tak layak terbit. Dalam buku itu saya menghantam nama-nama besar sastra Indonesia. Mereka yang saya kritik toh masih ada beberapa yang ingat, meski kini barangkali sudah lupa atas kritik saya. Sebagai budayawan yang rendah hati dan baik budi saya merasa harus masuk dalam daftar ini karena saya telah mendidik masyarakat luas dengan kejujuran.

Daftar itu lantas menjadi polemik yang berkepanjangan sehingga saya dengan berat hati harus menerima gelar kritikus sastra dan budayawan. Sebagai manusia yang beriman dan bertakwa pada tuhan tentu saja saya tak bisa menolak permintaan khalayak. Karya saya yang bagus, keren dan estetik juga membuka mata banyak penikmat sastra Indonesia. Dengan demikian kiranya penting bagi saya untuk memasukan nama saya dalam daftar tokoh yang harusnya punya pengaruh besar dalam sastra Indonesia. Betapa tidak? Dalam zaman sosial media yang begitu gegas ini saya punya 3.871 follower. Lebih banyak dari Acep Zamzam Noor yang cuma 60 orang. Dari perbandingan itu saja saya sudah berhak kan?

Saya tak tahu siapa sponsor dan penyandang dana 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh tapi sebagai pemilik dan penulis situs kandhani.net saya berkewajiban memasukan nama saya sendiri. Apakah ini fair? Tentu saja fair. Saya merujuk pada hadits sahih yang pernah dilakukan oleh komite nobel sastra pada 1974. Saat itu Vladimir Nabokov, pengarang novel masyur Lolita, masuk dalam nominasi peraih Nobel sastra. Namun kalah kepada Eyvind Johnson dan Harry Martinson. Karya Nabokov dianggap tak punya estetika dan pengaruh apa apa, sementara karya Johnson dan Martinson mencirikan semangat eropa. Oh ya sudahkah saya sebutkan jika Eyvind Johnson dan Harry Martinson adalah juri Nobel saat itu dan memenangkan karya mereka sendiri?

Demikianlah saya susun daftar ini dengan ilmiah dan tempo yang sesingkat-singkatnya. Semua argumen yang ada di sini valid karena sebagai penulis dan pemilik blog ini saya berhak untuk memuaskan orang yang telah membayar saya. Siapa? Diri saya sendri. Jika anda tak puas, silahkan bikin daftar sendiri. Tabik.