Kamis, 17 September 2015

Menjadi Manusia


Sri Paus bertitah, agar setiap gereja dan umat katolik di manapun membantu dan memberikan perlindungan kepada pengungsi Syiria. Kita terkejut, bukan karena kebaikan Sri Paus, tapi kesadaran bahwa di manakah kita di tengah bencana kemanusiaan akbar ini?

Sri Paus, ah Paus Fransiskus maksud saya, mengambil peran yang telah lama dilupakan, menjadi nalar dan akal sehat ketika sebuah bencana terjadi. Ia memerintahkan, dengan otoritas keagamaan yang ia miliki, untuk membantu korban perang Syiria, Iraq dan Afganistan. Apapun keyakinannya, demikian mungkin perintah Sri Paus, setiap manusia berhak mendapatkan rasa aman dan jaminan keselamatan.

Di sosial media beredar berbagai foto tentang korban perang timur tengah, banjir pengungsi berbulan lamanya terjadi dan mulai menjadi perhatian ketika foto bayi Aylan muncul dan beredar. Sebelumnya di mana posisi kita? Ah tapi itu tidak penting, siapapun yang waras dan memiliki hati nurani semestinya bisa bersikap, apa yang penting saat ini, saling menyalahkan atau menawarkan bantuan serta solusi.

Sri Paus sudah bersikap dan tiap-tiap gereja di seluruh dunia mematuhi ini, umat umat terbaik katolik telah bergerak, mereka memberi bantuan, membuka hati, membuka gereja untuk menjadi rumah sementara. Negara negara kini mulai membuka pintunya Jerman, Australia, bahkan juga Amerika. Mereka meneladani Lebanon, Jordania, Turki, Iraq dan Mesir.

Turki telah menjadi tuan rumah yang cukup baik, mereka menampung lebih dari 1,8 juta pengungsi perang. Sementara Lebanon, Iraq dan Mesir mesti dipuji, mereka bukan negara yang kaya juga sedang stabil secara politik, ada gejolak, tapi kemanusiaan warganya masih membuka pintu bagi pengungsi yang hendak mencari keselamatan, lantas posisi kita di mana?

Tidak semua orang memiliki hati untuk peduli kepada bencana. Petra Laszlo misalnya, seorang jurnalis perempuan yang bekerja untuk stasiun televisi Nemzeti Televízió, tidak menunjukan kepeduliannya. Pada sebuah rekaman ia tampak sedang menjegal seorang pengungsi yang membawa anak dalam gendongannya. Tidak hanya itu ia juga menendang gadis kecil yang lari dari aparat Hungaria.

Selalu ada pihak yang berkomentar miring, memaki, membenci, dan mencari ruang untuk kebencian. Ketika pengungsi dari Afganistan yang bermazhab syiah terdampar di Indonesia, muncul isu kebencian yang menuduh mereka menyebarkan syiah. Para pengungsi perang inipun demikian, mereka dituduh hendak mencari hidup nyaman dari sistem sosial negara negara eropa, tanpa mengindahkan fakta bahwa mereka terpaksa pergi dari tanah kelahiran karena perang. Tapi apakah benar tidak ada kebaikan di dunia ini?

Di Macedonia, seorang perempuan bernama Gabriela Andreevska menjadi orang yang berada di garis depan dalam membantu para pengungsi. Ia memberi makanan, minuman, buah, coklat dan informasi kepada para pengungsi agar bisa mencari suaka. Ia membekali para pengungsi dengan pengetahuan yang akan menyelamatkan mereka dari bencana perang. Gabriela merasa, setiap orang berhak mencari suaka dan melakukan perjalanan untuk menyelamatkan nyawanya. Apapun keyakinannya, apapun agamanya, mereka berhak mendapatkan rasa aman. Lantas di manakah kita?

Di Serbia bapak polisi Rexhep Arifi menemukan seorang pengungsi yang kelelahan, ia tak sanggup lagi berdiri. Di sampingnya seorang anak menangis, Rexhep memeluk anak itu, ia menggendongnya dan bermain bersamanya. Si bocah kemudian tertawa dan dunia mengabadikan itu. “Dia adalah polisi pertama yang tidak memperlakukan kami seperti binatang,” kata seorang pengungsi. Rexhep berkata “Apapun negaranya, apapun agamanya, seorang anak-anak bukanlah pihak yang mesti disalahkan.”

Para pengungsi ini menuju negara-negara barat. Mereka mencari suaka dan rasa aman justru di negara negara yang dikuasai oleh orang kafir. Tentu tidak semua pengungsi perang ini muslim, tapi sebagian besar dari mereka tentu adalah penganut ajaran islam. Sebenarnya kita perlu bertanya, mengapa mereka lebih memilih mencari perlindungan kepada orang-orang yang jelas kafir ketimbang mereka yang muslim?

UNHCR merilis hampir tidak ada pengungsi korban perang Syiria, Afganistan dan Iraq yang tinggal di Kuwait, Qatar, Uni Arab Emirat dan Arab Saudi. Tapi bisakah kita memverifikasi ini? Belakangan beredar kabar bahwa negara negara islam dan kaya itu telah memberikan donasi yang besar untuk membantu para pengungsi. Tapi bisakah kita memverifikasi ini? Yang jelas, banjir pengungsi tidak sedang terjadi hari ini saja, ia telah terjadi berbulan lalu ketika kita sedang berdebat apakah ISIS itu islam atau bukan.

Pengungsi-pengungsi dari Syiria, Afganistan dan Iraq ini sempat tinggal di Turki. Dari Turki mereka lantas melanjutkan perjalanan menggunakan perahu menuju eropa. Kenapa tidak tinggal di Turki? Bukankah Erdogan dipuji sebagai seorang kalifah yang memuliakan islam? 1.8 Juta pengungsi yang tinggal tentu bukan angka yang sedikit, ia besar, dan pemerintahan manapun saya kira akan kesulitan jika mesti memberi makan setiap pengungsi yang ada. Ini bukan soal kilafah, ini sesederhana pilihan masuk akal.

Apakah Turki hebat karena menampung 1.8 juta pengungsi? Mari kita buat perbandingan Ilmfeed merilis data bahwa pengungsi perang yang ada di Turki sebesar 1.8 juta jiwa, sementara Lebanon sebesar 1.2 Juta Jiwa dan Jordan 628 ribuan orang. Luas negara Lebanon barangkali tidak sampai sepersepuluh luas Turki, Lebanon itu juga  bukanlah negara kaya tidak seperti Turki yang belakangan banyak dipuja puji pendukung Erdogan di Indonesia. Sedang Jordan? Mereka adalah veteran penampung pengungsian, jumlah warga Palestina di Negara ini jauh lebih banyak daripada warga Palestina di negara asalnya. Tapi tentu ini tidak penting, yang penting adalah bagaimana menyelamatkan mereka yang sedang menderita bukan?

Sri Paus bertitah. Bahwa setiap gereja, setiap biara dan setiap umat katolik yang mampu, untuk mengambil dan membantu satu keluarga pengungsi. Ia juga membuka pintu vatikan kepada para pengungsi. Sri Paus tidak bertitah bahwa mereka hanya akan membantu keluarga katolik saja, siapapun, jika ia pengungsi mesti dibantu. Kebaikan ini seharusnya menampar akal sehat kita.

Lantas posisi kita di mana? Oh barangkali posisi kita di sini, berdiri dan menghembuskan kabar, terjadi kristenisasi. Karena, bukankah hanya itu yang bisa kita lakukan? 

Senin, 14 September 2015

Perempuan Bikini dan Femen.


Semalam saya berdebat agak panjang dengan seseorang perihal tulisan saya yang mengkritik lingkar studi ciputat. Dalam perdebatan itu, si pria mengatakan ada standar ganda dalam tulisan saya. Jika kelompok perempuan Femen bebas telanjang dada memprotes sesuatu, kok mahasiswa ciputat tadi tak boleh menggunakan beha untuk melakukan protes.

Perdebatan itu menemui jalan buntu, karena frekuensi berpikir kami berbeda. Saya mengatakan bahwa gerakan Femen punya konteks politik, sosial historis yang sama sekali berbeda dengan apa yang dilakukan lingkar studi ciputat. Femen juga memiliki garis idiologi yang sangat radikal tapi punya akar intelektual, yang anda boleh tak setuju, dalam perihal perjuangan perempuan.

Sebelum menghakimi Femen, saya menawarkan orang itu untuk melakukan riset, tentang akar historis politis dan sosial dari gerakan Femen. Karena jika hanya menilai gerakan ini berdasarkan foto dan teks teks yang mereka bawa tentu akan ada bias atribusi, bias pemahaman dan juga bias tafsir. Mengapa femen itu ada? Apa yang mereka perjuangkan? Dan bagaimana cara mereka berjuang? Tiga pertanyaan ini sebenarnya bisa memberikan kita pemahaman awal tentang Femen dan yang paling penting anda tidak harus setuju.

Saya mengkritisi tendensi misoginis yang dilakukan oleh Lingkar Studi Ciputat terhadap perempuan. Konteksnya adalah penggunaan atiribut beha untuk menunjukan bahwa pemerintah hari ini lemah dan penakut. Misoginisme secara sederhana adalah tindakan yang secara sadar merendahkan posisi perempuan. Menggunakan atribut pakaian dalam untuk menyebut pemerintah hari ini seperti perempuan lemah, saya kira, adalah bentuk misoginisme.

Dalam perdebatan semalam juga muncul persoalan perihal bikini yang membuat saya sadar, bahwa, masih ada orang orang yang masih menggunakan sentimen moral-agama utuk melakukan penghakiman. Bahwa perempuan yang memakai bikini adalah perempuan nakal, yang mengumbar auratnya dan tidak tahu malu. Logika inilah yang kemudian melahirkan rape culture semacam "Ya gimana ga diperkosa wong teteknya kemana mana," atau "Ya pantes diperkosa wong pakai celana gemes," seolah secara naluriah tiap lelaki adalah mahluk lemah yang tunduk pada naluri libidonya.

Logika kusut yang senafas sebangun dengan logika pemerkosa ini yang saya kira mengerikan. Perempuan masih dianggap sub manusia, ia tidak punya ruang ekspresi berpendapat dan dianggap subordinat. Nilai nilai dan norma yang ada disusun oleh lelaki untuk kemudian dipaksakan dipakai serta diatribusikan kepada perempuan. Seperti perempuan itu harus lemah lembut, menutup diri, pintar masak, gak usah tinggi sekolah, suaranya gak boleh keras dan sebagainya dan sebagainya.

Perempuan semestinya memiliki kebebasan untuk memakai apa yang ia mau, berpikir apa yang ia anggap benar, dan melakukan apapun yang ia sanggup capai. Semua boleh dilakukan dengan bebas dengan batasan yang bisa kita sepakati bersama, seperti consent dan hak asasi manusia. Memakai bikini atau tidak, memakai jilbab atau tidak adalah hak individu, pilihan yang memiliki resikonya masing masing.

Seorang perempuan tak boleh dipaksa memakai jilbab jika ia tidak ingin, sama juga dengan seorang perempuan tak boleh dipaksa melepas jilbab yang ia kenakan. Moralitas memiliki keterbatasan, tapi kemanusiaan saya kira tidak. Hak asasi manusia menjamin bahwa setiap orang berhak menjalani keyakinan agamanya. Melarang perempuan berjilbab tak bisa dibenarkan, bahkan jika ia menggunakan argumen penindasan keyakinan, kalau ia pilihan sadar mengapa dilarang?

Beberapa waktu lalu saya berjumpa dengan kyai Husein Muhammad dari Pondok Pesantren Dar al-Tauhid Cirebon. Dalam perbincangan bersamanya saya belajar tentang bagaimana seorang muslim berpihak dan berpikir dalam kerangka gender. Kyai Husein berkata bahwa sebuah kota, juga negara, baru bisa dianggap sejahtera dan maju apabila perempuannya bisa keluar rumah pada malam hari tanpa rasa takut akan diperkosa.

Kyai Husein juga bicara tentang gender mainstreaming, yaitu pemikiran yang menempatkan pemahaman gender dalam tiap pengambilan keputusan baik kebijakan publik maupun ruang lingkup personal seperti dalam keluarga. Ia bilang bahwa negara akan maju dan menjadi baik apabila dalam pengambilan keputusan dan penyusunan kebijakan publik, perempuan diajak serta berpikir alih alih menjadi objek kebijakan.

Perempuan semestinya tidak ditempatkan sebagai warga negara kelas dua, atau kelompok subordinat atau menjadi objek kekang norma. Mereka selayaknya menjadi rekan setara dalam berpikir, bertindak dan bekerja. Selama hidup mereka masih didikte melalui peraturan dan standar kepatutat lelaki, mereka akan tetap jadi kelompok yang rentan dilecehkan dan ditindas.

Pada satu titik saya percaya perempuan tidak harus selalu dibela, mereka bisa membela dirinya sendiri. Namun ada beberapa hal yang terus menerus dilakukan untuk mencapai pemahaman bersama tentang kesadaraan gender. Beberapa orang yang saya temui enggan belajar tentang kesetaraan gender atau feminisme karena stigma negatif yang melekat. Misalnya feminis pasti perempuan, feminis benci laki-laiki, lelaki yang belajar feminis cenderung mencari-cari kesalahan, anti agama, anti pernikahan dan yang paling buruk menjadi feminis artinya menolak agama.

Kesalahpahaman ini muncul karena bias media terhadap pemberitaan perjuangan perempuan. Pada pemberitaan protes kelompok Femen yang terjadi di Prancis kemarin misalnya. Media lebih menekankan pembahasan “Telanjang di acara keagamaan,” ketimbang membahas “Mengapa Femen melakukan protes di acara yang dibuat oleh kelompok islam,”. Bias media yang diperparah dengan tendensi misoginis membuat perjuangan perempuan mengalami reduksi dan yang lebih buruk sentimen negatif.

Tidak semua mereka yang mengadvokasi kesetaraan gender pasti feminis, jika dimaknai membela kelompok perempuan saja. Kesetaraan gender berusaha mengakomodasi kebutuhan dan juga memperjuangkan hak setiap gender yang ada. Tanggung jawab untuk memberikan jaminan sosial, hak asasi manusia dan kebutuhan bersama semestinya bukan tanggung jawab satu jenis kelamin. Ia merupakan masalah bersama yang semestinya dihadapi dan ditangani bersama.

Dalam satu studi yang dilakukan di Swedia menunjukan bahwa dengan melakukan perumusan kebijakan berdasarkan kesadaran Gender, pemerintah bisa membuat kebijakan dengan prioritas yang memenuhi tiga kategori seperti hak, efisiensi dan pelayanan prima. Melalui metode yang disebut dengan gender mainstreaming, pemerintah Swedia menjamin bahwa kebijakan yang diambil oleh pemerintah akan memberikan tiap warga negara akan layanan sesuai dengan kebutuhan individual, tanpa mengalami distorsi oleh prasangka, kebebalan dan stigma.

Kesetaraan gender semestinya juga berusaha mengadvokasi kelompok dengan pilihan ekspresi gender yang ada namun dipinggirkan keberadaannya di masyarakat. Kesetaraan gender dalam konteks ini mewujudkan ide kemanusiaan yang universal dalam menjamin hak setiap manusia apapun pilihan ekspresi gendernya, seperti kelompok transgender, androgyn, genderqueer, atau bahkan yang genderneutral. Sederhananya kesetaraan gender mestinya dipahami sebagai perjuangan hak asasi manusia yang utuh ketimbang memperjuangan hak satu jenis kelamin saja.

Rabu, 09 September 2015

Manusia, Tanah, dan Tembakau di Lombok


Padamulanya adalah azan, di tiap tiap kampung di Pulau Lombok surau menjadi satu jagat kecil yang bicara tentang kehidupan. Di sana berbagai aktivitas berpusat, surau atau langgar atau mushola, kerap menjadi sebuah pelarian. Semacam tempat persembunyian bagi hiruk pikuk keramaian yang terlalu. Di Lombok kau lebih mudah menemukan surau daripada wajah masam manusia yang kelelahan. Tidak heran jika Lombok dijuluki sebagai pulau seribu surau.

Lombok terletak di Nusa Tenggara Barat, jika kau sudah mengetahui ini baiknya kau  juga perlu tahu tentang provinsi ini. Misalnya fakta bahwa NTB merupakan salah satu daerah penyangga kebutuhan daging sapi nasional. Pemerintah memberikan kuota sapi bagi NTB sebesar 34 ribu ekor sapi. Sebagian besar sapi dikirim ke Banten, Jawa Barat, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur.

Itu baru soal sapi, belum soal yang lainnya. Misalnya kau perlu tahu juga bahwa NTB merupakan daerah dengan konsumsi sayuran tertinggi di Indonesia. Rata-rata konsumsi sayuran di NTB sebesar 68 kg/kapita/tahun jauh di atas rata-rata konsumsi sayuran nasional sebesar 40,8 kg/kapita/tahun. Itulah mengapa kau akan menemukan sayuran dari berbagai santapan warga Lombok. Mulai dari plecing kangkung sampai dengan beberuk yang berbahan dasar terong muda.

Tapi kita perlu tahu di Lombok beberapa hal tidak bisa diukur dari angka. Meski angka bisa bicara tentang banyak hal. Di Pulau yang kau kira tandus ini, pulau yang sekilas tampak kekeringan ini, ada banyak hal yang tersembunyi. Tanah ini menyimpan harapan bagi banyak petani, karena kau tahu? Tanah adalah kehidupan, ia adalah surga yang lain, memberimu makan dan juga penghasilan.

Tidak banyak yang tahu jika NTB merupakan salah satu sentra produk bawang merah dan cabai merah nasional. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) NTB mencatat produksi bawang merah di provinsi ini pada 2013, sebanyak 101.628 ton dengan total luas panen mencapai 9.277 hektare (ha). Benar, seperti juga kau, aku membenci angka. Tapi angka angka ini penting, ia bicara perihal kehidupan juga penghasilan.

Misal jika kuceritakan padamu bahwa sentra produksi bawang merah nasional terbesar berada di Kabupaten Bima dengan volume produksi pada 2013 mencapai 80.218 ton, disusul Kabupaten Sumbawa 11.885 ton, Lombok Timur7.823 ton, Dompu 1.583 ton, Lombok Utara 55 ton dan Kota Bima 35 ton. Itu artinya tanah di provinsi ini memiliki potensi, ia bisa menghidupi banyak mulut, perihal pilihan tanaman kita bisa memperbincangkannya, tapi kau perlu tahu di provinsi ini tanah adalah sumber kehidupan.

Di mana-mana tanah adalah sumber kehidupan. Ah iya, ini bisa jadi benar, tapi kau perlu tahu bagi beberapa orang tanah adalah medan pertempuran dan menanam adalah bentuk perlawanan. Pernah aku ceritakan padamu tentang menanam dosa? Mereka yang menanam tanaman yang dianggap berbahaya bagi kesehatan dan direndahkan derajatnya hingga demikian getir.

Aku bercerita tentang petani Tembakau. Mungkin kau tidak tahu bahwa Lombok adalah penghasil Tembakau Virginia Flue Cured yang berkualitas baik. Kenapa kubilang menanam dosa? Karena bagi beberapa orang, tembakau betapapun ia sebuah tanaman yang menghidupi, dianggap berbahaya karena produk turunannya. Rokok. Maka duduklah sebentar, kamu perlu membaca dan berpikir dengan jeda, memang apa istimewanya Tembakau Lombok

Begini tembakau Virginia Flue Cured asal Lombok memiliki kualitas sangat baik sehingga mampu bersaing dengan Tembakau Virginia FC impor. Mungkin, jika kau pernah bersinggungan dengan kelompok anti rokok, mereka pernah bercerita perihal produksi Tembakau asal Cina, Brazil dan Afrika yang tinggi itu. Mereka separuh benar, karena kebutuhan tembakau Virginia FC  banyak diminati dan digunakan oleh sebagian besar Industri Rokok (kretek/Putih). Tapi bisakah kita membandingkan antara kualitas dan kuantitas?

Tembakau Lombok tidak serta merta bisa disaingkan dengan hasil impor. Setidaknya kamu perlu memahami dulu sejarah mereka. Penanaman dan pengembangan tembakau Virginia FC DI Lombok dimulai akhir tahun 60-an oleh PT Faroka SA secara berturut-turut diikuti oleh PT BAT Indonesia, PTP XXVII, PT GIEB, UD Tani Praya. Sebelum tahun tahun itu sebenarnya sudah ada tembakau yang ditanam di Lombok sejak jaman Belanda dan dikenal dengan nama Tembakau Rajangan Ampenan.

Jika kita bicara konteks sejarah maka kalian bisa tahu, tanaman tembakau di Lombok punya nilai sejarah. Lantas bagaimana nilai ekonominya? Begini, ah kau jangan begitu sibuk dengan angka, sejak 1980an PT Djarum telah mengembangkan pola kerja bersama petani sebagai mitra. Tentu kepentingannya pragmatis pelaku usaha tani adalah stakeholder Industri Rokok yang sangat potensial, dan berperan menjaga kesinambungan pasok tembakau bermutu dengan jumlah memadai.

Jika kau tak percaya kau bisa bicara dengan Pak Iskandar, seorang begawan yang mengabdikan hidupnya untuk tembakau. Ia bilang bahwa luas perkebunan tembakau di Lombok kurang lebih 20.000 HA, luas ini berarti beberapa hal, ada petani yang bekerja, ada tumbuhan yang ditanam dan tentu saja ada hidup yang berlanjut. Tentu kerja sama bisnis industri rokok dan tembakau bisa jadi saling menginjak, tapi tidak di Lombok.

Setiap petani Tembakau akan mengetahui seberapa banyak ia perlu menanam, dibantu dan diawasi dengan pola kemitraan. Tujuannya agar setiap yang ditanam bisa menghasilkan tembakau terbaik dan secara efektif. Petani tidak harus merugi karena menanam terlalu banyak, karena pola kemitraan bisa menjamin tersedianya pasar, baik pembeli maupun penyuplai kebutuhan tembakau. Oh iya, sudahkah kuceritakan padamu bahwa tembakau Virginia dari lombok merupakan salah satu penyuplai terbesar kebutuhan produksi tembakau Virginia nasional?

Kau bisa saja meragukanku atau Pak Iskandar. Jika kau tak percaya bahwa Tembakau di Lombok memuliakan manusia manusianya kau bisa bertemu dengan Pak Sabarudin di Desa Lekor. Kau akan menemukan bahwa daun emas Tembakau, yang dituduh sebagai sumber nikotin pembunuh manusia ini, bisa jadi membuat seseorang sejahtera dan terlepas dari kesengsaraan. Pak Sabarudin merupakan gambaran sempurna dari itu, seorang penduduk desa yang berjuang dari bawah sampai menjadi manusia yang bermartabat.

Pak Sabarudin tinggal di Lekor, ia ketua kelompok tani Beriuk Nambah (yang artinya mencangkul bersama) dan sukses menjadi manusia berdaya. Ia tidak sendiri, ia ikut memuliakan rekan-rekannya yang lain. Jauh sebelum tembakau hadir di Lekor desa itu dianggap sebagai sarang Begal, seorang kawan Pak Sabarudin pernah dikalungi belati besar dalam sebuah usaha perampokan.

Belakangan sejak Tembakau masuk ke desa Lekor, pekerjaan bertambah, mereka yang dahulu mesti menjadi rampok untuk hidup barangkali memutuskan untuk menggantung belati dan menanam tembakau. Untuk tahu seseorang mapan atau tidak di Lombok kau cukup bertanya apakah orang itu sudah naik haji atau belum. Sabarudin seperti beberapa rekannya yang telah menjadi petani tembakau sejak 1980an telah naik haji, tahun ini pria murah senyum itu berencana naik haji bersama istrinya.


Sudah kubilang bukan? Di Lombok surau menjadi satu jagat kecil yang bicara tentang kehidupan. Ketika kau mampir di desa Lekor dan mendengar azan maka segeralah menuju surau, jika kau beruntung kau akan bertemu dengan Pak Sabarudin. Barangkali ia akan menghadiahimu air kelapa segar sembari bercerita tentang masa lalu. Masa ketika tembakau belum ada di desa itu dan setiap kejahatan selalu dituduhkan pada manusia manusia yang tinggal di desanya.

Rabu, 12 Agustus 2015

Menulis Manusia


Anda bisa memulai menulis tentang isu-isu kemanusiaan setelah mampu menjawab satu pertanyaan ini. Mengapa hak asasi manusia itu penting? Jawaban yang anda berikan harus dapat memuaskan semua orang, baik mereka yang tidak terdidik, mereka yang terdidik, mereka yang bebal, mereka yang peduli atau bahkan mereka yang melakukan pelanggaran hak asasi manusia itu sendiri.

Jika tidak bisa menjawab pertanyaan ini, tuliskan alasannya.

Alasan-alasan itu bisa menjadi satu tulisan lain mengapa kemanusiaan itu penting. Setidaknya anda bisa mengajak orang yang pada mulanya tak peduli, menjadi peduli walau hanya sebentar saja. Setelah mendapatkan perhatian orang lain, meski sedikit, anda harus bisa meyakinkan ia mengapa tulisan anda penting, atau pada satu titik perlu dibaca.

Ada jutaan tulisan yang lahir tiap harinya, baik di internet maupun di media cetak. Informasi berlebih, sementara kapasitas manusia untuk peduli (apalagi paham) sangat-sangat terbatas. Kecuali anda bisa meyakinkan pembaca untuk melanjutkan membaca tulisan anda, maka sekeren atau sebagus apapun tulisan anda menjadi tidak relevan.

Tiap-tiap pembaca memiliki jenis bacaan yang ia anggap penting dan menarik. Menuliskan masalah kemanusiaan bisa jadi perkara memilih jenis tulisan yang sesuai dengan pembacanya. Jika anda pernah membaca buku Seno Gumira Ajidarma, ketika Jurnalisme dibungkam Sastra harus Bicara, maka anda sadar. Melalui fiksi kebenaran atau masalah kemanusiaan bisa disebarkan. Permasalahannya adalah, berbeda dengan artikel non fiksi, anda tidak harus memiliki tanggung jawab untuk menyajikan fakta. Sementara fakta dalam usaha menyebarkan kepedulian tentang masalah kemanusiaan adalah satu hal yang sangat penting.

Bisakah menuliskan fakta namun tidak membosankan?

Tentu, namun sejauh mana anda akan bernegosiasi dengan karakter tulisan yang hendak disampaikan? Tulisan non fiksi memiliki ragam jenis yang berbeda. Anda bisa menuliskan opini, menuliskan satire atau bahkan menuliskan kolom komedi.  Tiap-tiap jenis tulisan memiliki karakteristiknya sendiri, kekurangannya sendiri dan memiliki pembacanya sendiri. Tidak semua orang gemar membaca opini, tidak semua orang dapat memahami satire dan tidak semua komedi akan dipercaya.

Saya mendorong anda untuk menulis dengan pendekatan gaya penulisan feature, yang menggunakan kata ganti orang pertama dalam melihat fenomena. Ini akan membuat tulisan menjadi lebih ramah, dekat dan personal. Seringkali feature akan menujukan sisi lain yang jarang bisa dituliskan dengan esai atau opini. Meski saya tidak menafikan bahwa esai atau opini lebih mudah ditulis karena menggambarkan realitas berdasarkan pandangan pribadi.

Feature akan sangat hidup karena anda mesti dekat dengan objek tulisan, pembaca juga akan menjadi lebih dekat dengan fenomena yang sedang dikisahkan dalam teks. Feature akan menguji baik mentalitas maupun kepekaan anda. Sejauh mana anda akan berani menulis dan sejauh mana anda akan berani melakukan investigasi. Feature akan membawa anda ke garis depan sebuah peristiwa, ia bisa jadi menyenangkan bisa jadi sangat berbahaya.

Saya teringat sebuah situs menarik yang bernama lentera timur. Panduan penulisan mereka begitu sederhana namun begitu taktis. Beberapa poin mereka seperti

  • ·         Otentik. Jangan pernah melakukan plagiasi
  • ·         Jangan menulis sesuatu yang tidak Anda ketahui atau tempat yang belum pernah Anda kunjungi
  • ·         Tidak melakukan vonis atau streotip atas budaya atau kelompok etnis tertentu
  • ·         Jujur, jelas, dan detail (jika hendak melakukan abstraksi atas sebuah fenomena, jangan menjadikannya sebagai perspektif utama)
  • ·         Informatif
  • ·         Sebisa mungkin hindari menggunakan kata sifat, dan eksplorasilah dengan kata kerja
  • ·         Tidak perlu menjelaskan semua hal secara detail selain apa yang menjadi perspektif utama Anda
  • ·         Hindari akronim
  • ·         Apa pun yang Anda tulis, gunakanlah perspektif kesetaraan dan pluralisme, lalu berjejaklah selalu pada sejarah.


Jika anda merasa terlalu berbahaya untuk melakukan reportase dan menulis feature, esai atau opini bisa menjadi salah satu jalan tengah. Esai, kata Isnadi seorang senior saya di kampus dulu, merupakan tulisan yang memfokuskan diri pada pengungkapan akal sehat dan refleksi penulisnya terhadap suatu persoalan/fenomena dengan cara tidak langsung. Tulisan ini tidak terikat waktu dan tidak memiliki kaitan langsung dengan berita. Essay dilahirkan sebagai pencerah kesadaran ditengah gebalau peristiwa dan pertarungan kepentingan beserta rasionalisasi dan sistem operasionalnya dengan menyodorkan motif dan lobang-lobang di dalamnya.

Esai seharusnya tidak bermain dengan argumentasi muluk-muluk. Ia juga tidak berpretensi memberikan pembahasan dan penjelasan panjang lebar. Ia cukup memberikan gambaran dari bahan-bahan sepele dari peristiwa faktual maupun imajinatif untuk menyentil, menyindir maupun menarik pelatuk  kesadaran pembaca.  Ia bergulat dengan pencarian inti persoalan. Layaknya pergulatan pencari mutiara yang tertimbun lumpur. Ia tidak tergoda untuk melayani kegelisahan yang dilekatkan oleh lumpur itu.

Anda bisa menggunakan Esai sebagai jeda untuk melihat kembali apa yang telah terjadi. Sebuah jeda dari kacamata rutin yang terus digunakan untuk menentukan jalannya peristiwa. Jeda untuk melepaskan diri dari kacamata rutin, umum, klise, dan stereotif. Kacamata yang telah menjadi mesin pembaca dan berhala.

Maka tulisan apa yang akan anda gunakan untuk mengkampanyekan hak asasi manusia? Jika anda menggemari fiksi dan percaya bahwa fiksi adalah salah satu jalan terbaik menerangkan tentang kemanusiaan, ada baiknya anda menulis cerpen. Beberapa cerpen lebih mudah disebar, ia relatif lulus sensor (jika rezimnya otoritarian), dan memiliki ruang kreatif yang lebih luas ketimbang esai. Cerpen seperti Haji Syiah karya Ben Sohib, Clara karya Seno Gumira dan Drama itu Berkisah Terlalu Jauh karya Puthut EA memiliki latar masalah hak asasi manusia yang kental.



*ditulis untuk Sekolah HAM Mahasiswa di Kontras 12 Agustus 2015


Jumat, 03 Juli 2015

Masa Muda Dan Hal Hal yang Tak Selesai

Bagaimana merayakan masa muda? Chairil dalam puisinya bercerita tentang egoisme, perayaan akan hidup, tentang Aku yang kumpulan terbuang dan ingin hidup 1000 tahun lagi. Tapi sebenarnya apa yang membuat masa muda layak dijalani? Keterasingan, pemberontakan, rasa kantuk di sekolah, tekanan kawan juga keinginan untuk menunjukan eksitensi diri. Pada satu titik, ia direpresentasikan dengan kata angst. Ketercerabutan identitas diri yang mencoba keluar dari norma dan kepantasan mapan

Bedchamber, sebuah band asal Jakarta, merayakan eskapisme itu dengan sempurna. 2014 lalu mereka merilis Extended Play (EP) perdana mereka yang bertajuk Perennial yang dirilis oleh Kolibri Rekords. Band yang beranggotakan Ratta Bill Abaggi (vokal dan gitar), Abi Chalabi (gitar), Smita Kirana (bas), dan Ariel Kaspar (drum) memainkan lagu-lagu yang bukan hanya jujur namun tulis merayakan perasaan. Anda tidak harus berusia belasan tahun untuk merasakan kegelisahan dalam lagu lagu mereka.

Bedchamber baik didengar oleh mereka para remaja. Label remaja sebenarnya mereduksi banyak hal, namun mendengarkan Perennial akan membuat anda merasakan ekstase sebuah periode waktu. Saat-saat ketika anda abai, apolitis, merengut, mudah bosan dan meledak-ledak. Bedchamber secara estetik menggambarkan proses tumbuh dewasa dengan bernas. Melalui permainan gitar yang sederhana, vokal yang malas, dentuman bass yang repetitif dan tabuhan drum yang efektif, band ini purwarupa dari malaise anak muda Jakarta.

Perennial adalah musim panas yang tidak pernah kita rasakan di Jakarta, namun sering kita akrabi di film-film niche holywood. Segala suara, ketuk nada juga peluh keringat yang dirasakan dalam album ini adalah tentang musim panas. Saat dimana gelora perasaan memuncak, kegelisahan berganda dan pemberontakan sedang galak-galaknya. Meski demikian ia menyimpan perasaan-perasaan paling jujur, tentang jatuh cinta lantas berpisah, atau tentang berharap lantas kecewa.

EP ini dibuka dengan lagu Derpature. Sebuah perayaan nisbi akan kata-kata, instrumen merayakan kebebasannya, untuk kemudian vokal malas Ratta perlahan masuk. Suara Ratta tidak dominan, ia redup, memberikan ruang pada suara drum dan gitar untuk mengisi lorong-lorong sepi dalam lagu ini. Serupa gapura gang sempit di kampung-kampung Jakarta, Departure menyediakan ruang untuk beradaptasi. Ia mengingatkan anda pada peristiwa kedatangan yang secara ironis membawa melankolianya sendiri.

Lagu kedua sekaligus single yang menjadi andalan mereka, Youth merupakan anthem dari liburan panjang setelah kuliah yang membosankan. Single ini radio friendly, punya potensi untuk membuat siapapun yang mendengarnya jatuh cinta, terutama jika anda menyukai kesendirian. Lagu ini mengingatkan saya pada mereka yang bosan, di sepanjang perjalanan kereta atau transjakarta yang penuh sesak dengan manusia.

Petals akan mengingatkan anda pada ending muram dari kisah 1.000 kunang-kunang di Manhatan milik Umar Kayam. Ia, barangkali, adalah lagu tentang identitas. Proses mencari jati diri yang kerap kali melelahkan dan membuang waktu. Seperti dalam kisah Umar Kayam, seseorang mesti pergi jauh ke negeri yang lain, untuk menyadari bahwa dirinya adalah satu individu yang terikat oleh rumah. Petals menguliti perasaan anda dengan perlahan dan bengis.

Bedchamber secara komikal merepresentasikan secara negatif lagu masyur Oma Irama, Darah Muda. Mereka bersenang-senang dengan cara mereka sendiri, tidak ada pretensi menjadi snobs dalam Perennial, sejauh ini hingga lagu ketiga yang bertajuk Myth. Myth menjadi sebuah lagu yang membawa anda pada tahap muram kesadaran masa silam. Bahwa menganggap masalah selesai dengan kepura-puraan adalah bentuk lain kedunguan.

Bedchamber praktis hanya menjadi juru bicara kegelisahan anak muda dengan segala masalahnya sendiri. Sentimentil namun banal, klise namun serius dan segala paradoks yang menyertainya. Kita bisa melabeli band ini dengan banyak hal. Indie-pop, surf pop, post punk dan segala hal yang membuat mereka mesti diletakkan dalam kotak genre yang menyusahkan. Namun satu hal yang jelas, band ini layak menjadi bintang.

Perennial menjadi penutup yang indah. Ia tidak berlebihan, cukup, sederhana dan manis. Seperti dua potong puding coklat setelah makan malam yang riuh. Perennial hangat, lirik yang kuat, musik yang cukup asik untuk membuat sepasang anak muda kasmaran untuk berdansa seolah mereka tidak akan pernah putus. Bedchamber bagi saya adalah segala hal bernama bersenang-senang, ia bicara tentang banyak masalah, namun tidak pernah menuntaskannya. Sesederhana karena mereka mudah bosan dan menjadi dewasa adalah pilihan untuk masuk dalam dekade muram tanggung jawab.

Maka jika anda sedang dalam masa pertumbuhan, menjadi remaja, atau masuk dalam fase deasa yang kepalang membosankan, Perennial boleh jadi adalah mercusuar baru untuk mengarahkan anda pada sebuah jalan lain yang lebih segar.

Rabu, 01 Juli 2015

Berusaha Memahami Hobgoblin

Bagaimana melepaskan Sajama Cut, sebuah band dengan eksperesi artistik megah, dari Marcel Thee vokalis sekaligus musisi dengan banyak capaian dalam komunitas musik independen Indonesia? Barangkali jawabannya adalah tidak perlu, tidak perlu disibukan dengan hal-hal rumit semacam itu. Beberapa musik memang asik ditelaah sebagai kajian kebudayaan populer, namun Sajama Cut band asal Jakarta ini, hanya perlu didengar untuk membuat kita jatuh cinta pada musik mereka.

Lima tahun lalu Sajama Cut merilis album Manimal, kali ini mereka kembali menghadirkan album keempat mereka dengan tajuk Hobgoblin yang berisi 11 lagu. Album ini menjadi istimewa karena sempat menggandeng beberapa seniman muda kontemporer untuk membuat ilustrasi huruf dari album Hobgoblin. Tidak hanya itu mereka juga menggandeng Dwi Putripertiwi, seorang penyair muda, untuk menyumbangkan puisi. Hasilnya adalah sebuah promosi brilian yang menurut saya, sukses secara artistik dan juga secara pemasaran.

Band ini beranggotakan Marcel Thee (vokalis yang juga menguasai berbagai alat musik), Dion Panlima Reza (gitar), Randy Apriza Akbar (bas), dan Hans Citra Patria (synthetizer). Saya sendiri pertama kali mendengarkan album Sajama Cut melalui Osaka Journal yang dirilis dalam bentuk Vinyl oleh Elevation Records. Susah untuk mendefinisikan genre musik mereka, namun satu hal yang pasti Sajama Cut memiliki karakteristik yang segar dan sama sekali berbeda dengan band-band kebanyakan di Indonesia.

Pada wawancara bersama Kompas, Marcel mengatakan bahwa Album ini telah direkam sejak lama. "Dari album yang terakhir pada 2010, Manimal, kami langsung rekam draft-draft awal. Prosesnya lama karena banyak penggubahannya sih. Mulai 2011 aku sudah kerjain sendiri aransemen-aransemen awalnya. Mulai 2013 anak-anak masuk dan mulai mengisi," katanya. Hasilnya memang membuat bulu kuduk berdiri, Single pertama yang diluncurkan Bloodsport langsung membuat saya jatuh cinta.

Hobgoblin menyapa anda dengan sebuah avant propos berjudul History of Witches. Dengung synthesizer dan piano yang malas dan suara Marcel yang kelelahan membuka album ini seperti epos panjang rasa bosan yang menemukan akhirnya. Dibanding album sebelumnya Manimal dan The Osaka Journal, Sajama Cut pada album ini terdengar lebih progresif, matang dan penuh kejutan daripada album sebelumnya.

Lagu berikutnya adalah Bloodsport yang sangat catchy dan melenakan. Ia bisa diputar berkali-kali, berjam-jam, tanpa takut berubah menjadi membosankan. Aransemen yang subtil dengan lirik yang entah apa artinya. Jangan salah, lirik-lirik yang ditulis oleh Marcel butuh dibaca berulang untuk kemudian bisa dimaknai. Meski demikian seperti setiap puisi, barangkali musik dan lirik Sajama Cut tidak harus dipahami dengan kening berkerut, namun dinikmati dengan mata terpejam.

Proses kreatif selama lima tahun tentu bukan waktu yang sebentar. Setiap personil Sajama Cut membawa bagasinya masing masing, sehingga musik yang dilahirkan benar benar membuat anda mengumpat. The German Abstract adalah lagu yang secara personal memiliki pesona untuk jadi yang terbaik dalam keseluruhan album ini. Dosis masing masing instrumen tertata, bahkan petik bass dan keyboard menjadi begitu harmonis. Sebuah anthem yang mesti didengar oleh mereka yang kelelahan setelah pulang bekerja.

Curtains for Euro dibuka dengan dentum drum yang megah. Seolah menjadi lagu pengukuhan seorang raja muda dari kerajaan yang berada di ujung perang saudara. Pada beberapa bagian lagu ini efek synthesizer menghadirkan imaji tentang paduan suara dari barisan ksatria yang muram. Sementara Beheadings adalah satu dari tiga lagu instrumental dalam album ini. Lagu ini mengingatkan saya pada fragmen Ulysses ketika Buck Mulligan mengucapkan Introibo ad altare Dei. Sakral namun profan dalam saktu waktu.

Dinner Companion sebaiknya tidak didengar oleh sarjana sastra yang tengah risau menyelesaikan skripsi mereka. Entah mengapa lirik pada lagu ini membuat saya membayangkan sebuah kamar kosan seorang sarjana semester akhir yang tengah berkutat dengan skripsi. Di tengah kesuntukan ia memutuskan keluar dari kamar dan melakukan perjalanan yang membawanya pada sebuah pertanyaan. Buat apa kuliah? Serta berbagai pertanyaan hidup yang bekelebat seperti video rusak.

Fatamorgana memberikan anda sebuah puisi tentang sisa hari yang membosankan. “Songs that you sing, we can hope it causes a sound, We can gather the right around, it can be a victory ground," tulis Marcell. Mendengarkan lagu ini di angkot, metromini dan belakang alphard akan menghadirkan sihir yang sama. Sebuah kesadaran akan hidup yang melambat dan sia-sia, namun patut diperjuangkan.

House of Pale Actresses adalah lanskap biru dari Jakarta pada minggu sore. Manusiawi, kalis dan menghadirkan kecintaan pada hal-hal yang selama ini hanya mampu melukai. Nomor instrumental ini lantas dilanjutkan dengan Recollecting Instances sebuah kemegahan yang percuma diterjemahkan dalam kata-kata, ia hanya bisa didengar lantas diumpat karena mampu menggali tiap-tiap elemen emosi kita dengan lirik yang kuat dan musikalitas yang prima.

Compassion adalah lagu insturmental terakhir sekaligus ketiga dalam album Hobgoblin. Ia seperti jeda untuk sebuah badai yang akan datang menerjang dan memang tepat. Rest Your Head on the Day adalah lagu pamungkas yang membuat anda akan berhenti melakukan apapun. Duduk terdiam, menyeringai untuk kemudian dipaksa ambruk oleh suara lembut Marcel yang membaca puisi tentang betapa hidup anda sebenarnya berantakan. Ia tidak sedang berkotbah, ia sedang menunjukan, bahwa barangkali anda butuh waktu untuk merenung serta kembali menyadari betapa nisbi hidup yang penuh kepalsuan.

Sulit untuk menempatkan pada genre apa Sajama Cut mesti diletakkan. Karena label akan mereduksi segala kerja-kerja estetik mereka dalam membuat musik. Marcel mengatakan bahwa Sajama Cut bukanlah band yang pernah dapat dirangkum dengan satu kalimat, baik indie-rock, alternative, punk, shoegaze, lo-fi, atau apapun yang ingin disebut orang. “Di album ini hal itu jadi bukti. Elemen-elemennya begitu banyak, dari rock berbagai era, pop berbagai era, ambient dan punk berbagai era. Kami mengambil semuanya tanpa terdengar sebagai band fusion yang membosankan dan tidak organik," tutur Marcel.

Selasa, 30 Juni 2015

Agar Anda Sedikit Pintar

Charles Dickens memulai dengan muram novel masyurnya yang berjudul A Tale of Two Cities. “It was the best of times, it was the worst of times, it was the age of wisdom, it was the age of foolishness, it was the epoch of belief, it was the epoch of incredulity,” kata Dickens. Ia barangkali bisa menggambarkan bagaimana sebenarnya zaman kita saat ini, waktu di mana akal sehat dan kedunguan kerap begitu abu-abu hingga sulit dibedakan. Dua kutub berseberangan yang saling menegasikan. Sehingga kerap kali kata-kata banal menjadi terlihat agung hanya karena keterbatasan pemahaman.

Kemarin Mojok menurunkan sebuah naskah berjudul Oh betapa-humanisnya-para-pendukung-pernikahan-sejenis, sebuah artikel dengan tendensi misantropis yang penuh kelindan kata-kata rumit. Mengutip secara parsial sebuah penelitian, lantas menafsirkan sesukanya tanpa memahami konteks. Si penulis tentu saja adalah bung Edward Kennedy, seseorang yang kerap berlagak sok nihilis dan sok jago, padahal jika naik biang lala ia akan pucat seketika.

Bung kita yang satu ini berkata bahwa kelompok humanis tengah bermain peran, munafik secara lebih tepatnya, ketika mereka bicara soal #LoveWins dan advokasi kelompok LGBT. Tentu dia tidak secara spesifik menunjuk muka siapa yang dimaksud, ia seperti koboi yang baru belajar memegang pistol, asal menembak tak tentu sasaran. Akibatnya, ia tidak hanya menjadi konyol, namun lebih daripada itu ia terlihat serupa badut dengan lelucon yang tak lucu.

Moral, bung Edward Kennedy yang baik, tidak pernah layak menjadi argumentasi atas dialektika apapun. Maka ketika anda yang sok jagoan itu menulis tentang humanis, sebenarnya anda tidak menjelaskan apapun dari kaum humanis itu, anda hanya menjelaskan betapa sebenarnya anda cetek dalam melihat permasalahan kaum LGBT ini. Saya menuduh anda hanya sekedar memandang dari jauh permasalahan ini tanpa ada upaya untuk memahami realitas lapangan, tipikal intelektual salon yang gemar berpendapat melulu dari teks yang ia baca sekilas.

Bung menolak mengakui bahwa Gay terlahir Gay, bung mengatakan bahwa ia adalah nurture sekedar konstruksi. Maka mari kita periksa, jika Gay adalah nurture, maka seharusnya disepakati pula bahwa menjadi hetero adalah konstruksi pula. Ekspresi gender dalam masyarakat mengatakan bahwa laki laki harus menikahi perempuan, laki laki harus jadi kuat, perempuan harus cantik dan sebagainya dan sebagainya harus disepakati sebagai konstruksi gender.

Dengan mengakui hal ini, maka menuruti pemahaman anda, semestinya menjadi hetero ataupun homo adalah hak yang tidak perlu diperdebatkan. Lho, konstruksi sosial kok dan setiap konstruksi sosial boleh dan berhak dirombak selama ia tidak menyakiti hak dasar orang lain. Tapi nyatanya tidak bukan? Bung mengatakan bahwa moralitas kerap dijadikan argumen pembelaan terhadap kelompok LGBT, salah besar, moral adalah senjata pamungkas yang kerap digunakan untuk membabat habis ekspresi gender kelompok LGBT.

Bung yang ditahbiskan sebagai filsuf sepak bola, dan konon sejajar Zen RS, pasti banyak baca dong. Apakah anda tahu dalam tradisi Bugis terdapat lima ekspresi Gender? Mereka adalah: Oroane, Makkunrai, Calalai, Calabai, dan Bissu. Tiap tiap eskpresi gender ini memiliki tanggung jawab dan fungsinya dalam struktur masyarakat adat Bugis. Mereka ada jauh sebelum perdebatan LGBT ini ada dan punya peran penting dari masyarakat.

Oh sebentar, anda tahu kan jika seks dan gender adalah dua hal yang berbeda? Anda bisa melihatnya di sini jika terlalu malas, tenang ini bukan buku, ada gambarnya anda pasti bisa memahami.

Masyarakat Bugis memiliki kekayaan budaya yang demikian hebat sehingga akan membuat otak anda yang kecil itu pusing. Maaf, jika anda sekalian masih berpikir bahwa LGBT melulu perkara menikah sesama jenis, maka anda salah besar dan lebih baik mengulang mata kuliah filsafat pendidikan. Dalam tradisi masyarakat Bugis peran sosial Bissu memiliki fungsi penting terkait aspek spiritual daripada sisi seksualitasnya. Keberadaan kaum Bissu yang berada diluar gender membuat konstruksi gender dalam masyarakat modern berantakan. Sesuatu yang bung tak mungkin pahami karena mentok melulu berpikir gerakan LGBT semata perkara selangkangan.

Mengapa #LoveWins penting? Pada satu titik ia akan memberikan porsi lebih untuk menggugat omnirelevant dan doing gender  pada kelompok rentan. Yaitu kelompok transgender dan interseksual yang kerap mengalami diskriminasi serius. Peradaban patriarkhis menihilkan bahkan menindas kelompok ini sedemikian hebat sehingga kerap kali mereka diperlakukan tidak manusiawi. Banci misalnya kerap diperlakukan seperti pariya, dihina, disakiti bahkan menjadi objek bullying dan penghinaan.

Meski demikian bukan tidak ada kritik yang bisa disampaikan pada legalisasi pernikahan sejenis ini. Pada masyarakat modern LGBT masih mengalami diskriminasi dalam banyak aspek. Pendidikan, akses pekerjaan, status dalam masyarakat yang berujung pada banyak hal. Seperti kesehatan dan juga kemakmuran hidup mereka. Premisnya senderhana, untuk apa bisa menikah sesama jenis jika hak dasar seperti pendidikan dan jaminan kesehatan masih belum bisa diakses.

Malah jika Bung Edward mau menggunakan otak anda dengan sedikit saja lebih baik, sebenarnya masih banyak argumentasi yang bisa digunakan untuk melawan gerakan ini. Fakta bahwa di Amerika Serikat gerakan sipil masih terpentok pada wacana-wacana banal seperti pernikahan sejenis ketimbang perlindungan terhadap imigran, rasialisme kulit hitam, reformasi kepolisian sampai dengan pelarangan senjata api. Mungkin, tidak ada yang akan mati karena dilarang menikah, tapi banyak yang mati karena penggunaan senjata api ilegal di Amerika.

Anda tentu saja berhak berpendapat, bahkan, berhak pula curiga. Bahwa intelektual dan humanis di Indonesia barangkali mendukung pernikahan sejenis berdasarkan kehendak moral. Atau malah menuduh mereka ini adalah kelompok caper yang hanya bisa sok sokan merespon hastag. Itu sah dan bisa saja terjadi. Bung juga boleh mencibir curiga bahwa orang orang ini yang sok mendukung #LoveWins kecewa jika ada keturunan mereka yang jadi homoseksual.

Tapi bung alpa memahami gerakan ini dari kaca mata yang lebih luas. Ini bukan soal sekedar menikah, di Amerika ini adalah gerakan sipil. Serupa gerakan kulit hitam untuk diakui sebagai manusia dan serupa gerakan perempuan untuk memiliki suara dalam politik. Memandang legalisasi pernikahan di Amerika menggunakan konstruksi sosial di Indonesia, maaf, bagi saya status sarjana anda perlu dipertanyakan.

Oh ya, menyerukan toleransi adalah satu hal dan menurunkan pajak adalah satu hal lainnya. Saya ragu orang orang ahmadiyah dan kelompok minoritas lainnya peduli dengan pajak, ketika untuk berkeyakinan saja mereka mesti bertaruh dengan nyawa. Lagipula para “humanis liberal” inilah yang membuat anda bisa berpendapat begitu misantropik dan nihilis, coba jika anda hidup di korea utara atau saudi arabia. Barangkali nasib anda seperti Raif Badawi, siapa dia? Oh sekedar figuran dibanding tokoh pesudo intelektual Subcomandante Marcos yang anda elu elukan itu.

Pembukaan A Tale of Two Cities yang saya kutip di awal masih punya lanjutan. Dickens berkata "...it was the season of Light, it was the season of Darkness, it was the spring of hope, it was the winter of despair, we had everything before us, we had nothing before us, we were all going direct to Heaven, we were all going direct the other way." Barangkali ia benar. Barangkali kita sedang menuju ke sebuah zaman yang tidak ada satu setan pun tahu ke mana. Tapi setidaknya bung, saya meyakini bahwa anda sebaiknya membaca dan berpikir lebih banyak lagi.

Senin, 15 Juni 2015

Lampu Kuning Ekonomi Kita


Lesunya perekonomian Indonesia menjadi perhatian khusus Enny Sri Hartati, Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance Jakarta. Menurut Enny, bukan tidak mungkin krisis ekonomi seperti pada 1998 atau 2008 kembali terulang di Indonesia. Memang ada perbedaan antara krisis ekonomi 1998 dan saat ini.

“Saat 1998 kepercayaan publik kepada pemerintah sangat lemah. Secara fundamental ekonomi kita saat itu juga sangat lemah, utang luar negeri besar, defisit neraca pembayaran memicu harga-harga naik,” katanya.

Adapun hari ini kenaikan harga-harga lebih akibat salah urus atau pengelolaan kebijakan yang tidak tepat. Kebijakan ekonomi jangka pendek Indonesia tidak pruden. Jika ini diteruskan, bukan mustahil krisis ekonomi kembali terjadi.

Selain salah kelola kebijakan ekonomi, menurut Enny, yang menyebabkan perekonomian kita lesu adalah kredibilitas kebijakan ekonomi pemerintah yang tidak direspons dengan baik oleh para pelaku usaha. Inilah yang menyebabkan kebijakan yang dikeluarkan tidak efektif.

Kebijakan yang tidak jelas dan tumpang tindah melahirkan kebingungan para pelaku usaha. Tak ada panduan mengakibatkan mereka lebih memilih tak melakukan apa pun.

Kebijakan yang dikeluarkan pemerintah justru menimbulkan distorsi. Contohnya kebijakan menaikkan harga bahan bakar minyak, yang awalnya untuk memperbesar ruang fiskal. Ruang fiskal ini untuk stimulus dan memang ada jeda, tapi jeda tersebut tidak dikalkulasi dengan tepat.

Distorsi yang terjadi kemudian menaikkan banyak harga komoditas, sementara stimulus fiskal tak jalan. Inilah yang kemudian mengakibatkan ekonomi kita di zona lampu kuning.

Nilai tukar rupiah yang terus menurun akibat rezim devisa bebas juga memperparah kondisi ini. Uang yang keluar dan masuk tak bisa dikontrol dan ditentukan. Dengan adanya rezim devisa bebas, nilai rupiah tergantung pada berapa yang masuk dan yang keluar. Berapa permintaan terhadap dolar dan berapa dolar yang keluar. Inilah yang menentukan nilai tukar.

Jika mau, Indonesia bisa belajar dari Thailand. Hal semacam itu bisa dikontrol, karena permintaan terhadap dolar terbatas dan utang luar negeri Thailand kecil. Masalahnya, utang luar negeri kita besar. Tak ayal, ketergantungan pada impor sangat besar. Otomatis nilai dolar tak bisa dikontrol.

Menurut Enny, jika Bank Indonesia menilai penyebab krisis nilai tukar rupiah lebih pada sentimen, bukan pada fundamental, maka intervensi akan terbatas. Namun, jika sumber daya BI habis untuk intervensi terus-menerus, akan berbahaya.

Rezim keuangan yang liberal dan fluktuasi harga BBM –karena mengikuti harga pasar– juga bisa memantik ketidakstabilan harga-harga kebutuhan pokok. Energi dan pangan merupakan penyumbang terbesar stabilitas harga. “Jadi, pemerintah sendiri yang menciptakan triger untuk ketidakpastian,” ujarnya.

Menstabilkan harga-harga kebutuhan pokok tidak akan efektif jika hanya melalui imbauan, peraturan presiden, atau operasi pasar. Kita butuh langkah konkret. Masalahnya, selama ini kendalinya ada pada swasta. Akibatnya ada monopoli.

Adakah solusi? Enny menunjuk investasi pada sektor riil. Sebenarnya investasi asing akan positif ketika berdampak pada nilai tambah yang signifikan. Namun, itu bergantung pada bentuk investasi. Jika dalam bentuk penanaman modal, investasi asing punya nilai tambah. Apalagi jika masuk ke sektor yang punya unsur daya saing, seperti industri manufaktur.

Jauh lebih baik jika investasi semacam itu juga masuk ke sektor hulu, industri dasar, dan pertanian. Investasi itu jelas akan meningkatkan produktivitas. Pendek kata, jika investasi masuk sektor riil, dampaknya sangat besar untuk menumbuhkan perekonomian.

Dalam konteks ini, kata Enny Sri Hartati, kelak dalam neraca kita akan punya kewajiban dalam bentuk deviden dan repatriasi devisa. Modal yang keluar kembali dibayarkan pada pemilik modal. Jika investasi itu bisa diekspor, hal ini tidak akan berisiko pada perekonomian kita.

Sebaliknya, jika investasi asing masuk dalam bentuk padat modal dan industri yang bahan bakunya dari impor, Indonesia yang akan tekor. “Kewajiban valuta asing yang kita bayarkan akan lebih tinggi daripada valuta asing yang diterima.”

Sabtu, 13 Juni 2015

Tionghoa dan Media Kita


Ketika Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) melakukan protes terhadap kelompok Asing dan Aseng, saya sadar ada yang salah dari pertanyaan ini. KAMMI menggugat kelompok yang dianggap membuat pribumi tertindas. Asing merujuk kepada negara/pemerintahan asing yang melakukan intervensi ekonomi di Indonesia, sementara Aseng merujuk kepada kelompok minoritas Tionghoa yang dianggap memiliki kekuasaan besar dalam bidang ekonomi di Indonesia.

Bahwa orang-orang terkaya di Indonesia sebagaian berasal dari kalangan etnis Tionghoa tidak linier dengan mengatakan bahwa seluruh etnis ini punya kekuasaan dalam bidang ekonomi. Ada lubang besar logika dan keacuhan dari gagasan yang coba ditawarkan KAMMI. Saya curiga mereka kurang membaca, kurang riset, atau pada satu titik bebal untuk tidak mau peuli bahwa etnis Tionghoa di Indonesia merupakan salah satu kelompok paling rentan dalam sejarah nusantara.

Apa sebenarnya yang menjadi akar dari sentimen rasial terhadap etnis tionghoa di Indonesia? Beberapa mengatakan bahwa etnis Tionghoa menguasai akses terkait sumber ekonomi di Indonesia, kekayaan mereka disejajarkan dengan jutaan orang miskin di Indonesia, juga wacana pribumi lawan pendatang merupakan sedikit dari beberapa alasan yang menjadikan mereka seolah benar untuk ditindas. Padahal dari catatan sejarah yang ada, kelompok etnis Tionghoa telah ada di nusantara sejak lama dan telah mengalami berbagai kekerasan selama ratusan tahun.

Dalam Jakarta: Sejarah 400 tahun karya Susan Blackburn menulis bahwa masyarakat tionghoa sudah ada sejak 1700an. Apakah saat itu mereka sudah makmur? Tentu tidak, sebagai warga kelas dua, orang tionghoa dipajak sangat tinggi oleh orang Belanda, dibenci pribumi karena dianggap membantu orang asing. Salah satu tragedi paling awal yang pernah tercatat dan berkaitan dengan etnis Tionghoa di Indonesia adalah peristiwa 10 Oktober 1740. Saat itu gubernur jenderal Adrian Volckanier mengeluarkan surat perintah: bunuh dan bantai orang-orang Cina. Tercatat sekitar 10.000 orang Tionghoa mati dan konon membuat Sungai Angke jadi merah.

Dalam konteks yang lebih modern ada dua peristiwa diskriminasi dan kekerasan yang sangat keji terjadi terhadap tenis Tiongoa. Pertama adalah pembantaian terhadap 30.000 orang etnis Tionghoa di Provinsi Kalimantan Barat pada 1967 atas nama PGRS/PARAKU. Elsam menyebut terjadi pembersihan etnis dalam peristiwa ini, sementara dalam buku Tandjoengpoera Berdjoeng, 1977, disebutkan setidaknya ada 27.000 orang mati dibunuh, 101.700 warga mengungsi di Pontianak dan 43.425 orang di antaranya direlokasi di Kabupaten Pontianak.

Selanjutnya tentu saja peristiwa kerusuhan 1998. Saat itu etnis Tionghoa menjadi korban kekerasan, penjarahan dan diskriminasi hebat. Gejala Sinofobia ini merupakan buntut dari kesenjangan ekonomi dan kebencian berdasar prasangka kepada etnis Tionghoa. Saat peristiwa ini terjadi banyak perempuan-perempuan Tionghoa yang diperkosa, tokonya dibakar dan usaha milik mereka dirusak. Kasus ini tak pernah selesai sampai hari ini dan pelakunya tak pernah diusut. Namun sebenarnya apa yang mendasari kebencian ini?

Media adalah salah satu alat yang paling efektif untuk menyebarkan idiologi dan pandangan kelompok. Pemerintah dalam hal ini kemudian melakukan usaha konstruksi terhadap kelompok etnis Tionghoa melalui Surat Edaran Presidium Kabinet Ampera Nomor 06 Tahun 1967. Surat itu adalah upaya penyeragaman penyebutkan kelompok etnis “Tionghoa” yang dianggap mengandung nilai-nilai yang memberi assosiasi-psykopolitis yang negatif bagi rakyat Indonesia, menjadi “Cina” yang dianggap lebih “dikehendaki untuk dipergunakan oleh umumnya Rakyat Indonesia.”

Setelah peristiwa G30S PKI, etnis Tionghoa juga mengalami banyak diskriminasi. Hal ini karena mereka dianggap memiliki paham serupa dengan negeri asal mereka Republik Rakyat Cina yang berhaluan komunis. Sampai saat ini, masih ada orang yang mengkaitkan etnis Tionghoa Indonesia dengan pemerintah Cina.

Salah satunya dari pribuminews. Media ini menulis bahwa “Mengingat jumlah 10 juta jiwa itu bukanlah suatu jumlah yang sedikit, dihawatirkan menjadi strategi Cina untuk menguasai Indonesia. Secara pelan memasukkan warga negara Cina ke Indonesia, kemudian mendesak keluar warga pribumi Indonesia pada perannya di sektor-sektor strategis di Indonesia digantikan warga Cina.” Tanpa menyertakan sumber valid bagaimana dan kapan 10 juta orang itu akan datang ke Indonesia.

Relasi pribumi dan pendatang ini semakin absurd ketika ia membawa etnis Tionghoa di Indonesia yang telah ada sejak 1700an. Masih dari pribuminews, media ini melakukan usaha framing terhadap etnis Tiongoa Indonesia dengan mengatakan adanya Cinaisasi. Alasannya? Pembangunan Patung Dewa Guan Shen Di Jun, di Bintan, salah satu Kabupaten di Provinsi Kepulauan Riau, Indonesia. Antara judul berita, konten dan penutup yang dibuat jelas berusaha membentuk satu usaha framing terhadap kelompok etnis Tionghoa.

Indarwati Aminuddin, seorang penulis, pernah menyusun laporan menarik tentang Prasangka Media Terhadap Etnik Tionghoa pada 2002. Laporan itu dengan bernas mengupas dan mempersoalkan sejauh mana pencantuman identitas rasial seseorang relevan dalam laporan/karya jurnalistik? Profiling atau penyosokan menjadi relevan untuk menjelaskan konteks identitas seseorang dalam pemberitaan. Maka Indarwati mengatakan bahwa atribusi yang relevan membantu publik memahami persoalan dengan lengkap. Namun atribusi yang tak relevan justru menciptakan kesan bahwa kesalahan seseorang terkait dengan identitasnya, entah itu suku, agama, ras atau bahasa.

Indarwati lantas memberikan sebuah contoh dari berbagai media di Indonesia yang melakukan profiling terhadap etnis Tionghoa dalam framing berita. Frasa seperti “warga keturunan”dan “pribumi” kerap disandingkan untuk menjelaskan posisi korban dan pelaku. Dalam tulisannya itu Indarwati mengatakan bahwa media sekelas Tempo pernah melakukan profiling dengan tendensi rasis.

Berita yang berjudul “Bye, Bye, Bank Cina Asli. Bye?” edisi 25 Februari-03 Maret 2002, Tempo menuliskan tentang Bank Central Asia yang memiliki akronim BCA. BCA dimiliki oleh Liem Sioe Liong, orang Cina, asli kelahiran Fujian. Atribusi ini dianggap bermasalah karena melalui pemberitaannya itu Tempo menggiring pembacanya untuk berpikir “bahwa BCA adalah bank yang menghidupi orang-orang Cina”. Indarwati menuduh bahwa Tempo melakukan framing karena istilah “Bank Cina Asli” itu bukan sebuah istilah yang bisa didengar di mana-mana hingga Tempo membaptisnya jadi plesetan umum.

Jika Tempo saja pernah melakukan atribusi yang tidak perlu, bayangkan media-media yang lainnya? Tak perlu susah untuk melacak berita-berita dengan tendensi negatif di media online. Cukup ketik kata cina dan pribumi di mesin pencari, akan ada banyak berita-berita yang melakukan framing negatif terhadap Etnis Tionghoa di Indonesia. Anda bisa membaca kata cina akan memiliki atribusi tambahan seperti kafir, maling, dan kristen. Mengapa kristen? Karena agama ini adalah agama mayoritas yang dianut oleh etnis Tionghoa di Indonesia.

Pada saat pemilu 2014 media media yang berlabelkan “islam” kerap melakukan penyerangan terhadap etnis Tiongoa. Media seperti VOA-Islam, Nahimungkar, dan Suara Islam dengan keras melakukan pemberitaan dengan tendensi negatif. VoA-Islam pernah menuliskan “Kebobrokan dan kehancuran moral  dan sosialpun selalu di mulai oleh orang-orang Cina,” namun tidak menyertakan bukti kongkrit terhadap tuduhannya itu.

Saat pemilihan Gubenur Jakarta, Suara Islam menurunkan wawancara bersama Roma Irama dengan judul yang tendensius dan rasialis. Wawancara tersebut berjudul “Cina Kristen Pimpin Ibu Kota, Aib Besar Bagi Bangsa,” di sini wacana pertarungan pribumi vs non pribumi kembali diperkenalkan. Tidak hanya itu wacana tersbut juga ditambah dengan pertarungan antara muslim vs non muslim. Sentimen rasial yang dikemukakan seolah mendapatkan pembenaran melalui label agama dan ayat-ayat dalam kitab suci.

Kebencian rasialis yang akhir-akhir ini coba dikobarkan sebenarnya bermula dari politik pemisahan identitas. Bahwa orang Tionghoa di Indonesia selamanya adalah pendatang, mereka kerap menjadi kambing hitam dari banyak kekerasan dan masalah sosial. Media dalam hal ini semakin memupuk prasangka itu tanpa ada upaya rekonsiliasi. Semestinya harus ada upaya pendidikan bahwa etnis Tionghoa adalah bagian dari warga negara Indonesia, terlepas dari ras yang ia sandang.


Media yang Beretika dan Berpihak Pada Korban


Bagaimana semestinya jurnalis meliput tragedi? Kim Tong-hyung, di Korean Times menulis, bahwa ada tujuh hal yang mesti dipegang teguh oleh jurnalis ketika melakukan peliputan tragedi. 1. Jangan sampai reportase anda mengganggu usaha penyelamatan, 2. jangan menuliskan/mengabarkan sesuatu yang dapat membuat ketakutan yang tidak perlu, 3. selalu melakukan verifikasi dan evaluasi terhadap klaim yang ada agar tidak misinformasi, 4. Jangan memaksa korban/keluarga korban untuk melakukan interview, 5. Bagi jurnalis televisi kurangi pengambilan gambar dari jarak dekat, 6. Jangan menggunakan gambar atau video yang berisi gambar brutal atau provokatif, 7. Menahan diri untuk tidak mengumbar data pribadi dari korban dan penyintas juga keluarga mereka.

Kode Etik Aliansi Jurnalis Independen juga mengatakan bahwa ketika melakukan reportase, Jurnalis harus menggunakan cara yang etis dan profesional untuk memperoleh berita, gambar, dan dokumen. Hal serupa juga dituliskan oleh PWI dengan penjelasan khusus “menghormati pengalaman traumatik narasumber dalam penyajian gambar, foto, suara”. Namun ketika ini dilanggar tidak pernah ada sangsi dari Dewan Pers.

Ketika seorang reporter diturunkan ke lapangan, dalam hal ini peliputan kasus kekerasan seksual, bencana atau kecelakaan transportasi, hal yang perlu dilakukan adalah melakukan riset dengan cepat dan efektif. Hal ini akan membantu dalam penyusunan pertanyaan yang diajukan kepada otoritas setempat. Dengan pengetahuan pengantar, seorang reporter akan dapat membuat fokus yang jelas tentang hal substansial yang mesti dikabarkan kepada Publik. Sehingga reporter juga akan terhindar dari kewajiban klise bertanya tentang ‘perasaan keluarga korban’.

Jelas publik berhak marah ketika hilangnya AirAsia QZ8501 lagi lagi mereka mesti melihat jurnalis yang tidak cakap bekerja. Alih-alih mencari berita yang substantif dan penting, mereka sibuk mewawancarai keluarga penumpang seolah duka mereka adalah berita. Padahal jika mereka bersetia kepada lingkaran informasi dalam pemberitaan, keluarga korban bukanlah prioritas. Pihak otoritas penerbangan, maskapai penerbangan dan pemerintah dalam hal ini dirjen perhubungan adalah narasumber utama.

Jika kemudian pesawat dinyatakan hilang dan dilakukan pencarian, maka pihak Basarnas adalah narasumber utama, dengan catatan jurnalis tidak boleh mengganggu proses pencarian atau evakuasi. Namun tanpa dibekali pemahaman yang cukup atau bahkan pengetahuan sederhana tentang etika jurnalistik susah bagi reporter pemula untuk bisa bekerja dengan baik. Seringkali seorang reporter terjebak dalam kondisi di mana mereka tidak bisa lagi mencari berita lain kecuali bertanya pada keluarga korban.

Kita memang tidak bisa selalu menyalahkan reporter ketika ia sibuk bertanya perasaan keluarga korban. Barangkali ia memang tidak pernah diajari bagaimana menjadi jurnalis yang benar oleh redaktur mereka. Pun, kita tidak bisa menyalahkan redaktur mereka karena tidak bisa bekerja dengan benar, karena mungkin ia ditekan untuk mencari berita yang dapat menaikan rating. Makin tinggi rating, makin banyak iklan datang, makin banyak iklan, makin banyak pemasikan. Relasi keji rating dan konstruksi berita pesanan ini memang keji.

Farid Gaban, jurnalis senior, menyebut bahwa hal ini terjadi karena rezim media yang memperlakukan reporter mereka sebagai robot. Nyaris minim sekali media yang memperlakukan reproternya sebagai manusia. Gaji yang kecil, kecakapan yang tidak memadai dan keterampilan jurnalistik yang nyaris seadanya. Pada satu titik jurnalis semestinya diperlakukan sebagai profesi profesional yang hanya bisa dikerjakan oleh seorang pakar.

Kesalahan lain yang kerap terulang dan terulang melanggar etika jurnalistik adalah saat peliputan kasus kejahatan seksul. Pada pemberitaan media online atas kasus pembunuhan Deudeuh Alfisahrin misalnya, media-media online kerap lebih mengarah pada eksploitasi korban ketimbang upaya memberikan informasi yang proporsional bagi publik. Demikian salah satu penilaian Remotivi, salah satu pusat studi media dan komunikasi di Indonesia, baru-baru ini.

Atas dasar itu, Remotivi berinisiatif menulis surat terbuka atas pemberitaan media online yang dianggap terlalu mengeksploitasi Dedeuh alias Tata Chubby sebagai korban kejahatan seksual.
Hal yang sama juga diutarakan Stanley Adi Prasetyo, anggota Dewan Pers, yang mengimbau semua liputan tentang kasus pembunuhan Deudeuh Alfisahrin mengacu pada etika. Ia menilai pemberitaan beberapa media saat kasus itu mengemuka melanggar batas etika. Indikasinya adalah ketika foto korban diambil dari media sosial dan diumbar di media. Wartawan juga menuliskan profesi dan aib korban.

Tak hanya itu, keluarga korban juga diekspos dengan pemuatan wajah mereka. Bahkan mereka ditanyai tentang profesi korban. Stanley mengingatkan agar semua media menahan diri. Peringatan itu juga disertai ancaman Dewan Pers akan memanggil media yang tidak patuh. Baik Stanley maupun Remotivi sepakat bahwa pemberitaan kebanyakan media atas kasus Deudeuh telah mengorbankan etika dan mengorbankan substansi. Remotivi secara keras menudu media-media saat ini hanya mengedepankan sensasi pada pemberitaan kasus pembunuhan Dedeuh.

Kasus eksploitasi pemberitaan terhadap korban kejahatan seksual bukan hanya terjadi di Indonesia. Pada November 2014 majalah Rolling Stone menurunkan laporan reportase yang menggegerkan Amerika Serikat. Laporan itu tentang mahasiswi Universitas Virginia yang diperkosa secara bergiliran oleh tujuh laki-laki di asrama fraternitas Phi Kappa Psi pada 28 September 2012.
Laporan bertajuk “A Rape on Campus: A Brutal Assault and Struggle for Justice at UVA” itu lantas menggemparkan. Masalahnya, dalam reportase itu muncul keraguan ketika Sabrina Rubin Erdely, wartawan Rolling Stone yang menulis liputan tersebut, diwawancarai situs online Slate.com.

Tulisan itu dinilai bermasalah karena abai dalam hal verifikasi. Beberapa kejanggalan yang muncul memaksa Rolling Stone mengambil langkah lebih jauh. Majalah ini meminta Steve Coll, peraih penghargaan Pulitzer serta Dekan Columbia School of Journalism, untuk menyelidiki kesalahan-kesalahan yang terjadi selama peliputan.

Steve Coll menilai terdapat kesalahan di semua level dalam peliputan tersebut. Ia menyebut Rolling Stone telah “mengabaikan atau menganggap praktik-praktik esensial dalam jurnalisme tidak lagi diperlukan”. Padahal, salah satu area yang harus diperhatikan jurnalis adalah “menyeimbangkan kepekaan terhadap korban dan tuntutan verifikasi”. Karena korban pelecehan seksual kerap mengalami trauma, maka jurnalis mesti menghargai otonomi korban.

Di Indonesia, dalam kasus Deudeuh, banyak hal yang dilanggar. Dalam surat terbuka Remotivi menyebutkan beberapa poin yang dianggap bermasalah, antara lain pelanggaran privasi. Pemberitaan media online yang mengangkat kasus pembunuhan Dedeuh dinilai melencang dari substansi kasus dan mengekspos hal-hal yang bersifat privat.

Berita situs tribunnews.com, misalnya, dengan jelas menyebutkan alamat anak korban secara lengkap. Informasi itu jelas tidak relevan dengan kasus pembunuhan ini dan melanggar privasi keluarga korban. Dalam kasus Dedeuh, hal lain yang gagal dilakukan media Indonesia adalah kemalasan melakukan verifikasi. Pasal 3 Kode Etik Jurnalistik menyebutkan “wartawan Indonesia selalu menguji informasi, memberitakan secara berimbang, tidak mencampurkan fakta dan opini yang menghakimi, serta menerapkan asas praduga tak bersalah”. Pasal 3a menjelaskan bahwa yang dimaksud menguji informasi adalah “melakukan check and recheck tentang kebenaran informasi itu”.

Wisnu Prasetya Utomo dari Remotivi menilai pemberitaan kasus pembunuhan Deudeuh Alfisahrin sudah sampai pada tahap eksploitasi korban dan atau keluarga korban. Itu sudah melanggar hak privasi dengan menampilkan informasi-informasi yang tak relevan dengan kasus. Dan yang memprihatinkan, banyak media menampilkan berita minus verifikasi alias rumor.

Berita tanpa verifikasi ini, misalnya, bisa dilihat dalam berita-berita mengenai kesaksian orang-orang yang pernah menggunakan “jasa” Deudeuh atau Tata Chubby. Jika mengacu pada Kode Etik Jurnalistik, media-media tersebut telah melakukan pelanggaran secara terang-terangan. Dalam konteks ini, Dewan Pers sudah sepatutnya bertindak agar kasus ini bisa menjadi pelajaran bersama.
Wisnu juga mengingatkan media perlu sensitif karena berita-berita semacam ini dibaca orang dan bisa mempengaruhi opini publik. Mengabaikan sensitivitas (gender, agama, dan semacamnya) sama artinya dengan menyampaikan pesan yang tidak tepat ke khalayak. Hal ini juga berpotensi menjauhkan pembahasan sebuah berita atau isu dari akar persoalan.

Apalagi dalam kultur media online sekarang: sebuah berita bisa menjadi cepat viral dan mendapatkan tanggapan para pembaca yang tak bisa diduga.


Selasa, 09 Juni 2015

Amarah Steinbeck

Pada 2 Juni 1969 tujuh tahun setelah menerima penghargaan Nobel Sastra dunia, John Steinbeck menulis bahwa tugas seorang penulis adalah meyakini apapun yang ia tulis. Sekalipun itu adalah khayalan, kebohongan ataupun dusta, seorang penulis mesti yakin bahwa apa yang ia susun bisa memberikan sesuatu. Barangkali Steinbeck ingin mengingatkan penulis kala itu yang sibuk merajut ketenaran, ketimbang berbicara tentang hati nuraninya sendiri.

Kata-kata itu tertulis di New York Times sebagai upaya mengingat kembali apa dan siapa sosok John Steinbeck. Tentu generasi saat itu mengenal ia sebagai seorang kanon sastra, raksasa yang menulis karya klasik seperti In Dubious Battle (1936) Of Mice and Man (1937), Tortila Flat (1935) dan Cup of Gold (1929). Tetapi sosok Steinbeck mendunia, juga di Indonesia, karena satu novelnya yang menyoroti perihal getirnya hidup. Tentang penderitaan dan semangat berjuang ‘ala’ Amerika yang berjudul The Grapes of Warth.  

Di Indonesia The Grapes of Warth diterjemahkan menjadi dua seri novel berjudul Amarah. Karya ini oleh New York Times dicatat sebagai buku paling laku terjual pada 1939. Lantas pada 1940 lebih dari 430.000 kopi buku telah terjual. Pada bulan penerbitan pertama penerbitan buku itu National Book Award mengganjar Grapes of Warth sebagai karya terbaik. Setahun setelahnya Steinbeck meraih Pulitzer Prize for Fiction.

Pramoedya Ananta Toer sendiri dikenal sebagai penggemar Steinbeck. Of Mice and Man adalah satu karya yang ia terjemahkan untuk memperkenalkan pembaca Indonesia dengan sosok penulis Amerika ini. Tapi apa yang membuat novel ini jadi istimewa? The Grapes of Warth bukanlah sekedar novel. Ia adalah gambaran rekam jejak jatuh bangunnya negara. Di Amerika Serikat, novel karya John Steinbeck menjadi bacaan wajib untuk mengetahui suasana dan kondisi negara itu saat great depresion terjadi.

Selama awal 1930-an, kekeringan yang parah menyebabkan kegagalan besar besaran pertanian di Oklahoma Barat dan Texas. Daerah ini telah banyak mengalami penanaman berlebihan oleh petani gandum di tahun-tahun setelah Perang Dunia pertama. Keluarga tercerai berai, bisnis bangkrut, pemerintahan kacau dan bank banyak menyita aset aset keluarga karena tak mampu membayar hutang. Dunia seakan telah berakhir dan runtuh saat itu.

Beberapa daerah pertanian di Amerika mengalami kondisi kerusakan berat akibat penanaman berlebihan satu jenis tanaman. Jutaan hektar tanah kosong dan tak mampu lagi ditanami ditambah dengan musim kemarau yang panjang, banyak tanaman layu dan mati. Daerah yang menderita ini menjadi dikenal sebagai "Dust Bowl ". Dua novel terdahulu Grapes of Warth, In Dubious Battle dan Of Mice and Man merupakan narasi penyambung yang menjadi trilogi Dust Bowl. Ketiganya bercerita tentang tanah tandus dan upaya masyarakat Amerika bangkit dari Depresi Besar.

Plot The Grapes of Warth sederhana saja ia bercerita tentang Tom Joad yang baru saja keluar dari penjara karena membunuh. Pada saat perjalanan pulang ia bertemu dengan Jim Casy, seorang kawan semasa kecilnya. Berdua mereka mendapati rumah tempat dimana mereka tumbuh telah ditinggalkan, usang dan tandus. Dari tetangga mereka yang masih tersisa dikabarkan bahwa seluruh keluarga Joad telah pergi karena tak mampu membayar hutang pada bank.

Lantas cerita berubah menjadi perjalanan Tom dan Casy menuju California, tempat baru untuk mencari pekerjaan dan berjuang mempertahankan hidup. Di sini keduanya menemukan fakta bahwa negara itu telah penuh sesak dengan pekerja migran. Lowongan kerja dan makanan makin langka, tumbuhnya prasangka dan permusuhan antara pendatang dan orang lokal membuat kehidupan tokoh-tokoh dalam The Grapes of Warth menjadi kaya.

Robert DeMott kritikus sastra pada masa itu menyebut novel ini sebagai karya paripurna. “Ia masuk dengan baik ke dalam kesadaran Amerika dan hati nurani warganya," kata Ia. Sayangnya karya ini juga menjadi akhir dan penanda batas karir gemilang Steinbeck sebagai penulis. Dia meninggal pada tahun 1968 sebagai legenda. Hari ini, The Grapes of Wrath masih menjadi sebuah refleksi kritis terhadap pemerintah yang gagal mensejahterakan rakyatnya.

Hari ini Amarah menemukan konteksnya sendiri di Indonesia. Jika latar cerita kisah itu di Amerika adalah depresi besar, maka di Indonesia depresi itu adalah intoleransi. Kebengisan kita terhadap orang orang yang berbeda, minoritas dan keluar dari pakem umum menjadi keseharain. Kita lupa bahwa dalam hidup barangkali orang orang tadi adalah serupa Tom dan Casy, orang yang terpinggirkan oleh sistem, menjadi berbeda bukan karena keinginan sendiri tapi karena mereka dipaksa kalah oleh keadaan.

Steinbeck adalah salah seorang penulis yang menjadikan muramnya zaman sebagai inspirasi. Penggalian ide yang dilakukan oleh seorang penulis akan sia-sia jika ia tak bisa menuturkan kisahnya dengan baik. Ernest Hemingway menulis kisah dengan pendek dan sedikit dialog. Sementara Vladimir Nabokov selalu berusaha menciptakan momen magis dengan deskripsinya tentang latar. Dalam kisah ini Steinbeck sukses menghasilkan penokohan karakter yang berkembang seiring dengan berjalannya kisah.

Tapi apa yang membuat Steinbeck menjadi istimewa saat ini? Terlebih keberadaan konteks karyanya di masa lalu terlampau jauh dari keseharian zaman modern. Steinbeck akan selalu relevan. Barangkali ia adalah salah seorang dari sedikit sekali penulis di zamannya yang menulis karya abadi. Bahwa semangat, kekalahan, keputusasaan dan juga keterhimpitan adalah repetisi. Mengutip Steinbeck dalam The Grapes of Wrath: “How can we live without our lives? How will we know it's us without our past?

Bangkit Melawan Kekerasan Seksual

Bagaimana menyikapi kasus kejahatan seksual di Indonesia? Untuk pengantar baiknya kita memahami kondisi kasus kekerasan terhadap perempuan, yang berupakan bagian dari kejahatan seksual. Secara global satu dari tiga perempuan di dunia pernah mengalami kekerasan seksual. Data ini dirilis oleh PBB dan secara kasar itu setara dengan 35% jumlah perempuan di seluruh dunia. Menjadi sangat menakutkan karena pelaku kekerasan didominasi oleh orang terdekat. Beberapa studi juga menyatakan bahwa 73% hingga 78% perempuan mengalami kekerasan oleh pasangan mereka sendiri.

Ironisnya, banyak kasus kekerasan yang tidak pernah diberitakan. Lebih banyak lagi yang tidak dilaporkan. Menjadi semakin menyedihkan karena berdasar catatan tahunan Komnas Perempuan yang dirilis pada Maret 2014, terdapat 269.760 kasus kekerasan terhadap perempuan yang dilaporkan dan ditangani sepanjang tahun 2013.  65% kasus kekerasan dialami oleh istri, 21% kekerasan dalam pacaran, 7% kekerasan terjadi terhadap anak perempuan dan 6% kekerasan terjadi dalam relasi lain. Kekerasan fisik masih menempati urutan pertama, disusul kekerasan psikis dan kekerasan seksual di peringkat kedua dan ketiga.

Angka kasus kekerasan seksual menjadi paling rendah disebabkan karena kekerasan seksual dalam rumah tangga tidak dianggap sebagai kekerasan  dan merupakan yang paling sedikit dilaporkan. Namun dari tahun ke tahun, kasus kekerasan seksual terus mengalami peningkatan. Tapi apakah hal tersebut akan terus didiamkan? Kasus kekerasan seksual, meskipun secara statistik mayoritas terjadi di dalam rumah, juga terjadi di ranah publik dan mengalami peningkatan yang mengkhawatirkan, terutama di transportasi publik.

Banyak yang kemudian berpendapat bahwa kekerasan seksual ini terjadi karena kurangnya pemahaman publik tentang kepedulian sosial. Dalam hal ini usaha untuk memperlakukan perempuan sebagai individu yang merdeka dan berdaulat. Untuk itu muncul One Billion Rising (OBR), sebuah gerakan global menolak kekerasan terhadap perempuan. Gerakan ini secara serentak dilakukan di seluruh dunia, tiap hari Valentine tanggal 14 Februari, dengan menari bersama.

Di Indonesia gerakan ini telah dilakukan sejak 2013 dengan mengangkat isu berbeda. Pada 2013 OBR Indonesia bertajuk Strike, Rise, Dance. Sementara pada 2014 bertajuk Rise for Justice. Tahun ini OBR bertajuk Drum! Rise! Dance! Dan diselenggarakan di Taman Ismai Marzuki, Jakarta. Selain di Jakarta, One Billion Rising juga digelar di Bandung, Jogja dan Makasar. One Billion Rising Indonesia, tahun ini masih mengangkat tema penghentian kekerasan terhadap perempuan dengan fokus pada transportasi publik yang aman bagi perempuan.

Dalam situs resminya OBR mengungkapkan bahwa sistem masyarakat yang meletakkan perempuan di nomor dua setelah laki-laki merupakan penyebab utamanya. Nilai-nilai sosial yang diajarkan sejak kecil menjadikan perempuan tidak diberikan pilihan dan pemegang otoritas atas hidup dan tubuhnya sendiri. Hal ini berimbas pada kehidupan dan tubuh perempuan menjadi komoditi politik, sosial, ekonomi dan budaya yang dibangun di atas fondasi dengan menempatkan laki-laki sebagai pemegang otoritas tertinggi.

Hal itu menyebabkan relasi kuasa yang timpang lantas menjadi paradigma kolektif masyarakat. Paradigma kolektif yang sangat tidak setara ini kemudian diturunkan ke dalam hukum sehingga aturan-aturan lain yang ada tidak memiliki perspektif yang berpihak pada perempuan. Kartika Jahya, musisi dan aktivis perempuan, menyebutkan bahwa sejak bergabung dengan gerakan dan mendukung kampanye OBR, ia beberapa kali menemukan korban kejahatan seksual mengadu padanya.

Gerakan ini sedikit banyak telah membantu Kartika untuk memahami konteks sosial dan hukum masalah seksual di Indonesia. Sistem sosial dan hukum di Indonesia yang masih jauh dari prinsip parsialitas, perempuan seperti tidak memiliki harapan untuk memperoleh keadilan. Dari aspek hukum, alih-alih membela dan melindungi korban, penanganan kasus-kasus kekerasan terutama kekerasan seksual seringkali justru sangat menyudutkan korban.

Selain tentang kejahatan seksual, OBR juga mengkampanyekan tentang gerakan untuk mendukung perlindungan terhadap kaum rentan seperti anak-anak dan LGBT. Karena seringkali kelompok ini yang paling sering mengalami kekerasan di antara masyarakat. Malah bayak yang kemudian mengafirmasi atau memaklumi bahwa kaum LGBT boleh diperlakukan kasar karena mereka menentang kodrat alami.

Selain itu masyarakat juga kerap mendapatkan paparan buruk dari pernyataan-pernyataan para pejabat publik mengenai kasus kekerasan seksual. Di sini tak jarang mereka menyalahkan korban. Bahwa ini perkara pakaian yang dikenakan korban, sikap dan perilaku korban atau soal jam malam. Korban dilemahkan, korban disalahkan. Hal inilah yang kemudian membuat korban kerap enggan untuk melapor dan memperjuangkan hak dan keadilan mereka. Sebab sistem yang berlaku sangat tidak adil terhadap perempuan korban kekerasan.


OBR Tidak hanya dilakukan di Indonesia melainkan juga di seluruh dunia. Tujuannya jelas untuk melawan kekerasan seksual terhadap perempuan dan kaum rentan. Kesadaran ini disebarkan dan ditularkan melalui gerakan populer seperti menari bersama. Di sela-sela gerakan itu para aktivis OBR juga mengedukasi masyarakat tentang pentingnya perlindungan dan kesetaraan terhadap kaum perempuan. 

100 tahun Orson Welles

Citizen Kane dibuka dengan salah satu adegan paling ikonik dalam sejarah film dunia, sebuah snow globes terjatuh sementara seorang sekarat mengucap “Rosebud,” berulang kali. Dengan teknologi yang terbatas saat itu, Orson Welles, seorang jenius dalam dunia pertunjukan membuat penontonnya terbius. Francois Truffaut seorang kritikus film asal Prancis, menyebut bahwa film yang dibuat oleh Welles membuat kita menjadi bijak. Karena film film Welles dibuat dengan cara berbeda, film yang membuat para penontonnya berpikir dari mana kegilaan, kecepatan dan racun ini?

Pada 1967, Truffaut menulis sebuah esai tentang sang sutradara dan debutnya yang revolusioner. Truffaut memuji Welles dengan sangat tinggi. Ia menyebutnya sebagai anak muda dan romantis, Welles adalah seseorang jenius. Tidak hanya jenius tapi sangat jenius dan berbeda, lantas menjebut filmnya Citizen Cane sebagai sebuah film yang kuat, dramatis dan puitis. “Usaha mengejek keinginan untuk berkuasa,” katanya.

George Orson Welles lahir 100 tahun yang lalu pada 6 Mei 1915, di Kenosha, Wisconsin. Patrick Z. McGavin, seorang kritikus film menggambarkan dengan baik relasi kehidupan pribadi Welles dan kerja kerja kreatifnya. Ibunya Beatrice meninggal saat Welles berusia 9 tahun yang disusul ayahnya Dick, pada saat ia berusia 15 tahun. Baru saat bersama Dr. Maurice Bernstein, seorang dokter dan penikmat opera, Welles menemukan harapan baru. Ia mengatakan kehidupan Welles di Chicago inilah yang jadi ruang kreatif untuk melarikan diri dari kesedihan kesedihan itu. 

Dari  mana sebaiknya seorang pemula memahami film film Orson Welles? Apakah Citizen Kane? The Lady from Shanghai? Atau The Third Man? Jika anda penikmat buku, anda bisa memulai dengan buku biografinya Citizen Welles: A Biography of Orson Welles yang disusun oleh Frank Brady. Mengapa buku? Karena sebagai universalis Orson Welles adalah sebuah teka-teki, ia tidak akan bisa dipahami hanya dari film-filmnya saja. Anda mesti membaca kehidupan pribadinya, bagaimana ia menjadi seorang pekerja teater, penyiar radio, penulis naskah, aktor dan juga sutradara.

Welles adalah pria gemuk dengan suara yang keras, ia sering dilihat dalam acara talk shows dan iklan-iklan. Frank Brady, dalam bukunya, menyebutkan bahwa meski dalam kehidupan yang relatif keras dan tragis, Welles adalah seseorang yang humoris. Frank menjelaskan sosok Welles melalui film film yang ia bikin. Mulai dari Citizen Kane yang memenangkan Oscar pada 1941 sampai dengan F for Fake 1974.

Film film berikutnya seperti, The Magnificent Ambersons (1942), The Stranger (1946), The Lady from Shanghai (1947), Macbeth (1948),  Othello (1952),  Mr. Arkadin, (1955), Touch of Evil (1958), The Trial (1962), Chimes at Midnight  (1965), dan The Immortal Story (1968) adalah film yang menjadkan sosok Welles menjadi legenda, dan pada satu titik, melahirkan kecurigaan bahwa ia adalah seorang sutradara yang dipuji berlebihan.

Kecurigaan ini memang beralasan, beberapa menganggap Orson Welles sebagai seorang sutradara yang diuntungkan zaman. Pemujaan berlebihan menjadikannya seorang idola, namun anda tidak seharusnya percaya pada kritikus. Percayalah pada apa yang anda lihat sendiri. Tak Percaya? Coba saja tonton Chimes at Midnight yang konon sedang dicetak ulang dalam format Blu-ray oleh Janus Films dan Criterion. Film ini akan menunjukan bagaimana Orson Welles adalah aktor yang hebat dan seorang Shakesperian yang taat.

Chimes at Midnight bukan satu-satunya film Welles yang direstorasi ulang dalam bentuk Blu-ray. Pengalaman menonton dengan kualitas gambar tinggi juga bisa dinikmati dalam film The Lady from Shanghai" dan "Touch of Evil" yang dilengkapi dengan komentar dari pakar Orson Welles eperti Jonathan Rosenbaum dan James Naremore. Tapi bukan hanya itu Criterion dikabarkan baru saja akan merilis film kualitas baik dari "F for Fake," dan "The Complete Mr. Arkadin"  dalam seri karya lengkap Welles.

Paul Byrnes, kritikus film Sidney Morning Herald, pernah menulis esai pendek yang berjudul Why Orson Welles continues to cast a long and enigmatic shadow over cinema. Ia menyebut Welles sebagai orang yang berbakat namun memiliki banyak kekurangan. Dengan satir Byrnes menyebut segala hal tentang Welles adalah hal yang besar, termasuk berat badannya yang disebabkan makan, minuman keras dan rokok. 30 tahun setelah kematiannya, Welles masih bisa melahirkan debat, apakah ia sosok yang besar atau hanya sekedar orang yang overrated.

Byrnes mengajukan pertanyaan sederhana, bagaimana seseorang yang membuat film kanonik seperti Citizen Kane, sebuah film yang berani dan inovatif, percaya diri dan modern, lantas kehilangan sentuhannya? Byrnes lantas mengajukan beberapa argumen, seperti pengaruh editing dan curgia bahwa proses editing inilah yang sebenarnya menjadikan beberapa filmnya seperti, The Lady from Shanghai dan Mr Arkadin adalah film yang buruk. Sementara film Touch of Evil terselamatkan melulu karena akting Welles sebagai orang yang korup.


Beberapa film lainnya seperti The Other Side of the Wind, The Dominici Affair, The Merchant of Venice  dan Don Quixote juga tak terselesaikan. Ada banyak alasan mengapa Orson Welles memutuskan menghentikan proses pembuatan film. Satu di antara yang paling dikenal adalah karena kebangkrutan. Pada akhirnya, setelah menonton filmnya, anda bisa menilai apakah peraih penghargaan-penghargaan seperti Palme d'Or dan Oscar layak dikenang atau tidak.