Selasa, 30 Juni 2015

Agar Anda Sedikit Pintar

Charles Dickens memulai dengan muram novel masyurnya yang berjudul A Tale of Two Cities. “It was the best of times, it was the worst of times, it was the age of wisdom, it was the age of foolishness, it was the epoch of belief, it was the epoch of incredulity,” kata Dickens. Ia barangkali bisa menggambarkan bagaimana sebenarnya zaman kita saat ini, waktu di mana akal sehat dan kedunguan kerap begitu abu-abu hingga sulit dibedakan. Dua kutub berseberangan yang saling menegasikan. Sehingga kerap kali kata-kata banal menjadi terlihat agung hanya karena keterbatasan pemahaman.

Kemarin Mojok menurunkan sebuah naskah berjudul Oh betapa-humanisnya-para-pendukung-pernikahan-sejenis, sebuah artikel dengan tendensi misantropis yang penuh kelindan kata-kata rumit. Mengutip secara parsial sebuah penelitian, lantas menafsirkan sesukanya tanpa memahami konteks. Si penulis tentu saja adalah bung Edward Kennedy, seseorang yang kerap berlagak sok nihilis dan sok jago, padahal jika naik biang lala ia akan pucat seketika.

Bung kita yang satu ini berkata bahwa kelompok humanis tengah bermain peran, munafik secara lebih tepatnya, ketika mereka bicara soal #LoveWins dan advokasi kelompok LGBT. Tentu dia tidak secara spesifik menunjuk muka siapa yang dimaksud, ia seperti koboi yang baru belajar memegang pistol, asal menembak tak tentu sasaran. Akibatnya, ia tidak hanya menjadi konyol, namun lebih daripada itu ia terlihat serupa badut dengan lelucon yang tak lucu.

Moral, bung Edward Kennedy yang baik, tidak pernah layak menjadi argumentasi atas dialektika apapun. Maka ketika anda yang sok jagoan itu menulis tentang humanis, sebenarnya anda tidak menjelaskan apapun dari kaum humanis itu, anda hanya menjelaskan betapa sebenarnya anda cetek dalam melihat permasalahan kaum LGBT ini. Saya menuduh anda hanya sekedar memandang dari jauh permasalahan ini tanpa ada upaya untuk memahami realitas lapangan, tipikal intelektual salon yang gemar berpendapat melulu dari teks yang ia baca sekilas.

Bung menolak mengakui bahwa Gay terlahir Gay, bung mengatakan bahwa ia adalah nurture sekedar konstruksi. Maka mari kita periksa, jika Gay adalah nurture, maka seharusnya disepakati pula bahwa menjadi hetero adalah konstruksi pula. Ekspresi gender dalam masyarakat mengatakan bahwa laki laki harus menikahi perempuan, laki laki harus jadi kuat, perempuan harus cantik dan sebagainya dan sebagainya harus disepakati sebagai konstruksi gender.

Dengan mengakui hal ini, maka menuruti pemahaman anda, semestinya menjadi hetero ataupun homo adalah hak yang tidak perlu diperdebatkan. Lho, konstruksi sosial kok dan setiap konstruksi sosial boleh dan berhak dirombak selama ia tidak menyakiti hak dasar orang lain. Tapi nyatanya tidak bukan? Bung mengatakan bahwa moralitas kerap dijadikan argumen pembelaan terhadap kelompok LGBT, salah besar, moral adalah senjata pamungkas yang kerap digunakan untuk membabat habis ekspresi gender kelompok LGBT.

Bung yang ditahbiskan sebagai filsuf sepak bola, dan konon sejajar Zen RS, pasti banyak baca dong. Apakah anda tahu dalam tradisi Bugis terdapat lima ekspresi Gender? Mereka adalah: Oroane, Makkunrai, Calalai, Calabai, dan Bissu. Tiap tiap eskpresi gender ini memiliki tanggung jawab dan fungsinya dalam struktur masyarakat adat Bugis. Mereka ada jauh sebelum perdebatan LGBT ini ada dan punya peran penting dari masyarakat.

Oh sebentar, anda tahu kan jika seks dan gender adalah dua hal yang berbeda? Anda bisa melihatnya di sini jika terlalu malas, tenang ini bukan buku, ada gambarnya anda pasti bisa memahami.

Masyarakat Bugis memiliki kekayaan budaya yang demikian hebat sehingga akan membuat otak anda yang kecil itu pusing. Maaf, jika anda sekalian masih berpikir bahwa LGBT melulu perkara menikah sesama jenis, maka anda salah besar dan lebih baik mengulang mata kuliah filsafat pendidikan. Dalam tradisi masyarakat Bugis peran sosial Bissu memiliki fungsi penting terkait aspek spiritual daripada sisi seksualitasnya. Keberadaan kaum Bissu yang berada diluar gender membuat konstruksi gender dalam masyarakat modern berantakan. Sesuatu yang bung tak mungkin pahami karena mentok melulu berpikir gerakan LGBT semata perkara selangkangan.

Mengapa #LoveWins penting? Pada satu titik ia akan memberikan porsi lebih untuk menggugat omnirelevant dan doing gender  pada kelompok rentan. Yaitu kelompok transgender dan interseksual yang kerap mengalami diskriminasi serius. Peradaban patriarkhis menihilkan bahkan menindas kelompok ini sedemikian hebat sehingga kerap kali mereka diperlakukan tidak manusiawi. Banci misalnya kerap diperlakukan seperti pariya, dihina, disakiti bahkan menjadi objek bullying dan penghinaan.

Meski demikian bukan tidak ada kritik yang bisa disampaikan pada legalisasi pernikahan sejenis ini. Pada masyarakat modern LGBT masih mengalami diskriminasi dalam banyak aspek. Pendidikan, akses pekerjaan, status dalam masyarakat yang berujung pada banyak hal. Seperti kesehatan dan juga kemakmuran hidup mereka. Premisnya senderhana, untuk apa bisa menikah sesama jenis jika hak dasar seperti pendidikan dan jaminan kesehatan masih belum bisa diakses.

Malah jika Bung Edward mau menggunakan otak anda dengan sedikit saja lebih baik, sebenarnya masih banyak argumentasi yang bisa digunakan untuk melawan gerakan ini. Fakta bahwa di Amerika Serikat gerakan sipil masih terpentok pada wacana-wacana banal seperti pernikahan sejenis ketimbang perlindungan terhadap imigran, rasialisme kulit hitam, reformasi kepolisian sampai dengan pelarangan senjata api. Mungkin, tidak ada yang akan mati karena dilarang menikah, tapi banyak yang mati karena penggunaan senjata api ilegal di Amerika.

Anda tentu saja berhak berpendapat, bahkan, berhak pula curiga. Bahwa intelektual dan humanis di Indonesia barangkali mendukung pernikahan sejenis berdasarkan kehendak moral. Atau malah menuduh mereka ini adalah kelompok caper yang hanya bisa sok sokan merespon hastag. Itu sah dan bisa saja terjadi. Bung juga boleh mencibir curiga bahwa orang orang ini yang sok mendukung #LoveWins kecewa jika ada keturunan mereka yang jadi homoseksual.

Tapi bung alpa memahami gerakan ini dari kaca mata yang lebih luas. Ini bukan soal sekedar menikah, di Amerika ini adalah gerakan sipil. Serupa gerakan kulit hitam untuk diakui sebagai manusia dan serupa gerakan perempuan untuk memiliki suara dalam politik. Memandang legalisasi pernikahan di Amerika menggunakan konstruksi sosial di Indonesia, maaf, bagi saya status sarjana anda perlu dipertanyakan.

Oh ya, menyerukan toleransi adalah satu hal dan menurunkan pajak adalah satu hal lainnya. Saya ragu orang orang ahmadiyah dan kelompok minoritas lainnya peduli dengan pajak, ketika untuk berkeyakinan saja mereka mesti bertaruh dengan nyawa. Lagipula para “humanis liberal” inilah yang membuat anda bisa berpendapat begitu misantropik dan nihilis, coba jika anda hidup di korea utara atau saudi arabia. Barangkali nasib anda seperti Raif Badawi, siapa dia? Oh sekedar figuran dibanding tokoh pesudo intelektual Subcomandante Marcos yang anda elu elukan itu.

Pembukaan A Tale of Two Cities yang saya kutip di awal masih punya lanjutan. Dickens berkata "...it was the season of Light, it was the season of Darkness, it was the spring of hope, it was the winter of despair, we had everything before us, we had nothing before us, we were all going direct to Heaven, we were all going direct the other way." Barangkali ia benar. Barangkali kita sedang menuju ke sebuah zaman yang tidak ada satu setan pun tahu ke mana. Tapi setidaknya bung, saya meyakini bahwa anda sebaiknya membaca dan berpikir lebih banyak lagi.

Senin, 15 Juni 2015

Lampu Kuning Ekonomi Kita


Lesunya perekonomian Indonesia menjadi perhatian khusus Enny Sri Hartati, Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance Jakarta. Menurut Enny, bukan tidak mungkin krisis ekonomi seperti pada 1998 atau 2008 kembali terulang di Indonesia. Memang ada perbedaan antara krisis ekonomi 1998 dan saat ini.

“Saat 1998 kepercayaan publik kepada pemerintah sangat lemah. Secara fundamental ekonomi kita saat itu juga sangat lemah, utang luar negeri besar, defisit neraca pembayaran memicu harga-harga naik,” katanya.

Adapun hari ini kenaikan harga-harga lebih akibat salah urus atau pengelolaan kebijakan yang tidak tepat. Kebijakan ekonomi jangka pendek Indonesia tidak pruden. Jika ini diteruskan, bukan mustahil krisis ekonomi kembali terjadi.

Selain salah kelola kebijakan ekonomi, menurut Enny, yang menyebabkan perekonomian kita lesu adalah kredibilitas kebijakan ekonomi pemerintah yang tidak direspons dengan baik oleh para pelaku usaha. Inilah yang menyebabkan kebijakan yang dikeluarkan tidak efektif.

Kebijakan yang tidak jelas dan tumpang tindah melahirkan kebingungan para pelaku usaha. Tak ada panduan mengakibatkan mereka lebih memilih tak melakukan apa pun.

Kebijakan yang dikeluarkan pemerintah justru menimbulkan distorsi. Contohnya kebijakan menaikkan harga bahan bakar minyak, yang awalnya untuk memperbesar ruang fiskal. Ruang fiskal ini untuk stimulus dan memang ada jeda, tapi jeda tersebut tidak dikalkulasi dengan tepat.

Distorsi yang terjadi kemudian menaikkan banyak harga komoditas, sementara stimulus fiskal tak jalan. Inilah yang kemudian mengakibatkan ekonomi kita di zona lampu kuning.

Nilai tukar rupiah yang terus menurun akibat rezim devisa bebas juga memperparah kondisi ini. Uang yang keluar dan masuk tak bisa dikontrol dan ditentukan. Dengan adanya rezim devisa bebas, nilai rupiah tergantung pada berapa yang masuk dan yang keluar. Berapa permintaan terhadap dolar dan berapa dolar yang keluar. Inilah yang menentukan nilai tukar.

Jika mau, Indonesia bisa belajar dari Thailand. Hal semacam itu bisa dikontrol, karena permintaan terhadap dolar terbatas dan utang luar negeri Thailand kecil. Masalahnya, utang luar negeri kita besar. Tak ayal, ketergantungan pada impor sangat besar. Otomatis nilai dolar tak bisa dikontrol.

Menurut Enny, jika Bank Indonesia menilai penyebab krisis nilai tukar rupiah lebih pada sentimen, bukan pada fundamental, maka intervensi akan terbatas. Namun, jika sumber daya BI habis untuk intervensi terus-menerus, akan berbahaya.

Rezim keuangan yang liberal dan fluktuasi harga BBM –karena mengikuti harga pasar– juga bisa memantik ketidakstabilan harga-harga kebutuhan pokok. Energi dan pangan merupakan penyumbang terbesar stabilitas harga. “Jadi, pemerintah sendiri yang menciptakan triger untuk ketidakpastian,” ujarnya.

Menstabilkan harga-harga kebutuhan pokok tidak akan efektif jika hanya melalui imbauan, peraturan presiden, atau operasi pasar. Kita butuh langkah konkret. Masalahnya, selama ini kendalinya ada pada swasta. Akibatnya ada monopoli.

Adakah solusi? Enny menunjuk investasi pada sektor riil. Sebenarnya investasi asing akan positif ketika berdampak pada nilai tambah yang signifikan. Namun, itu bergantung pada bentuk investasi. Jika dalam bentuk penanaman modal, investasi asing punya nilai tambah. Apalagi jika masuk ke sektor yang punya unsur daya saing, seperti industri manufaktur.

Jauh lebih baik jika investasi semacam itu juga masuk ke sektor hulu, industri dasar, dan pertanian. Investasi itu jelas akan meningkatkan produktivitas. Pendek kata, jika investasi masuk sektor riil, dampaknya sangat besar untuk menumbuhkan perekonomian.

Dalam konteks ini, kata Enny Sri Hartati, kelak dalam neraca kita akan punya kewajiban dalam bentuk deviden dan repatriasi devisa. Modal yang keluar kembali dibayarkan pada pemilik modal. Jika investasi itu bisa diekspor, hal ini tidak akan berisiko pada perekonomian kita.

Sebaliknya, jika investasi asing masuk dalam bentuk padat modal dan industri yang bahan bakunya dari impor, Indonesia yang akan tekor. “Kewajiban valuta asing yang kita bayarkan akan lebih tinggi daripada valuta asing yang diterima.”

Sabtu, 13 Juni 2015

Tionghoa dan Media Kita


Ketika Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) melakukan protes terhadap kelompok Asing dan Aseng, saya sadar ada yang salah dari pertanyaan ini. KAMMI menggugat kelompok yang dianggap membuat pribumi tertindas. Asing merujuk kepada negara/pemerintahan asing yang melakukan intervensi ekonomi di Indonesia, sementara Aseng merujuk kepada kelompok minoritas Tionghoa yang dianggap memiliki kekuasaan besar dalam bidang ekonomi di Indonesia.

Bahwa orang-orang terkaya di Indonesia sebagaian berasal dari kalangan etnis Tionghoa tidak linier dengan mengatakan bahwa seluruh etnis ini punya kekuasaan dalam bidang ekonomi. Ada lubang besar logika dan keacuhan dari gagasan yang coba ditawarkan KAMMI. Saya curiga mereka kurang membaca, kurang riset, atau pada satu titik bebal untuk tidak mau peuli bahwa etnis Tionghoa di Indonesia merupakan salah satu kelompok paling rentan dalam sejarah nusantara.

Apa sebenarnya yang menjadi akar dari sentimen rasial terhadap etnis tionghoa di Indonesia? Beberapa mengatakan bahwa etnis Tionghoa menguasai akses terkait sumber ekonomi di Indonesia, kekayaan mereka disejajarkan dengan jutaan orang miskin di Indonesia, juga wacana pribumi lawan pendatang merupakan sedikit dari beberapa alasan yang menjadikan mereka seolah benar untuk ditindas. Padahal dari catatan sejarah yang ada, kelompok etnis Tionghoa telah ada di nusantara sejak lama dan telah mengalami berbagai kekerasan selama ratusan tahun.

Dalam Jakarta: Sejarah 400 tahun karya Susan Blackburn menulis bahwa masyarakat tionghoa sudah ada sejak 1700an. Apakah saat itu mereka sudah makmur? Tentu tidak, sebagai warga kelas dua, orang tionghoa dipajak sangat tinggi oleh orang Belanda, dibenci pribumi karena dianggap membantu orang asing. Salah satu tragedi paling awal yang pernah tercatat dan berkaitan dengan etnis Tionghoa di Indonesia adalah peristiwa 10 Oktober 1740. Saat itu gubernur jenderal Adrian Volckanier mengeluarkan surat perintah: bunuh dan bantai orang-orang Cina. Tercatat sekitar 10.000 orang Tionghoa mati dan konon membuat Sungai Angke jadi merah.

Dalam konteks yang lebih modern ada dua peristiwa diskriminasi dan kekerasan yang sangat keji terjadi terhadap tenis Tiongoa. Pertama adalah pembantaian terhadap 30.000 orang etnis Tionghoa di Provinsi Kalimantan Barat pada 1967 atas nama PGRS/PARAKU. Elsam menyebut terjadi pembersihan etnis dalam peristiwa ini, sementara dalam buku Tandjoengpoera Berdjoeng, 1977, disebutkan setidaknya ada 27.000 orang mati dibunuh, 101.700 warga mengungsi di Pontianak dan 43.425 orang di antaranya direlokasi di Kabupaten Pontianak.

Selanjutnya tentu saja peristiwa kerusuhan 1998. Saat itu etnis Tionghoa menjadi korban kekerasan, penjarahan dan diskriminasi hebat. Gejala Sinofobia ini merupakan buntut dari kesenjangan ekonomi dan kebencian berdasar prasangka kepada etnis Tionghoa. Saat peristiwa ini terjadi banyak perempuan-perempuan Tionghoa yang diperkosa, tokonya dibakar dan usaha milik mereka dirusak. Kasus ini tak pernah selesai sampai hari ini dan pelakunya tak pernah diusut. Namun sebenarnya apa yang mendasari kebencian ini?

Media adalah salah satu alat yang paling efektif untuk menyebarkan idiologi dan pandangan kelompok. Pemerintah dalam hal ini kemudian melakukan usaha konstruksi terhadap kelompok etnis Tionghoa melalui Surat Edaran Presidium Kabinet Ampera Nomor 06 Tahun 1967. Surat itu adalah upaya penyeragaman penyebutkan kelompok etnis “Tionghoa” yang dianggap mengandung nilai-nilai yang memberi assosiasi-psykopolitis yang negatif bagi rakyat Indonesia, menjadi “Cina” yang dianggap lebih “dikehendaki untuk dipergunakan oleh umumnya Rakyat Indonesia.”

Setelah peristiwa G30S PKI, etnis Tionghoa juga mengalami banyak diskriminasi. Hal ini karena mereka dianggap memiliki paham serupa dengan negeri asal mereka Republik Rakyat Cina yang berhaluan komunis. Sampai saat ini, masih ada orang yang mengkaitkan etnis Tionghoa Indonesia dengan pemerintah Cina.

Salah satunya dari pribuminews. Media ini menulis bahwa “Mengingat jumlah 10 juta jiwa itu bukanlah suatu jumlah yang sedikit, dihawatirkan menjadi strategi Cina untuk menguasai Indonesia. Secara pelan memasukkan warga negara Cina ke Indonesia, kemudian mendesak keluar warga pribumi Indonesia pada perannya di sektor-sektor strategis di Indonesia digantikan warga Cina.” Tanpa menyertakan sumber valid bagaimana dan kapan 10 juta orang itu akan datang ke Indonesia.

Relasi pribumi dan pendatang ini semakin absurd ketika ia membawa etnis Tionghoa di Indonesia yang telah ada sejak 1700an. Masih dari pribuminews, media ini melakukan usaha framing terhadap etnis Tiongoa Indonesia dengan mengatakan adanya Cinaisasi. Alasannya? Pembangunan Patung Dewa Guan Shen Di Jun, di Bintan, salah satu Kabupaten di Provinsi Kepulauan Riau, Indonesia. Antara judul berita, konten dan penutup yang dibuat jelas berusaha membentuk satu usaha framing terhadap kelompok etnis Tionghoa.

Indarwati Aminuddin, seorang penulis, pernah menyusun laporan menarik tentang Prasangka Media Terhadap Etnik Tionghoa pada 2002. Laporan itu dengan bernas mengupas dan mempersoalkan sejauh mana pencantuman identitas rasial seseorang relevan dalam laporan/karya jurnalistik? Profiling atau penyosokan menjadi relevan untuk menjelaskan konteks identitas seseorang dalam pemberitaan. Maka Indarwati mengatakan bahwa atribusi yang relevan membantu publik memahami persoalan dengan lengkap. Namun atribusi yang tak relevan justru menciptakan kesan bahwa kesalahan seseorang terkait dengan identitasnya, entah itu suku, agama, ras atau bahasa.

Indarwati lantas memberikan sebuah contoh dari berbagai media di Indonesia yang melakukan profiling terhadap etnis Tionghoa dalam framing berita. Frasa seperti “warga keturunan”dan “pribumi” kerap disandingkan untuk menjelaskan posisi korban dan pelaku. Dalam tulisannya itu Indarwati mengatakan bahwa media sekelas Tempo pernah melakukan profiling dengan tendensi rasis.

Berita yang berjudul “Bye, Bye, Bank Cina Asli. Bye?” edisi 25 Februari-03 Maret 2002, Tempo menuliskan tentang Bank Central Asia yang memiliki akronim BCA. BCA dimiliki oleh Liem Sioe Liong, orang Cina, asli kelahiran Fujian. Atribusi ini dianggap bermasalah karena melalui pemberitaannya itu Tempo menggiring pembacanya untuk berpikir “bahwa BCA adalah bank yang menghidupi orang-orang Cina”. Indarwati menuduh bahwa Tempo melakukan framing karena istilah “Bank Cina Asli” itu bukan sebuah istilah yang bisa didengar di mana-mana hingga Tempo membaptisnya jadi plesetan umum.

Jika Tempo saja pernah melakukan atribusi yang tidak perlu, bayangkan media-media yang lainnya? Tak perlu susah untuk melacak berita-berita dengan tendensi negatif di media online. Cukup ketik kata cina dan pribumi di mesin pencari, akan ada banyak berita-berita yang melakukan framing negatif terhadap Etnis Tionghoa di Indonesia. Anda bisa membaca kata cina akan memiliki atribusi tambahan seperti kafir, maling, dan kristen. Mengapa kristen? Karena agama ini adalah agama mayoritas yang dianut oleh etnis Tionghoa di Indonesia.

Pada saat pemilu 2014 media media yang berlabelkan “islam” kerap melakukan penyerangan terhadap etnis Tiongoa. Media seperti VOA-Islam, Nahimungkar, dan Suara Islam dengan keras melakukan pemberitaan dengan tendensi negatif. VoA-Islam pernah menuliskan “Kebobrokan dan kehancuran moral  dan sosialpun selalu di mulai oleh orang-orang Cina,” namun tidak menyertakan bukti kongkrit terhadap tuduhannya itu.

Saat pemilihan Gubenur Jakarta, Suara Islam menurunkan wawancara bersama Roma Irama dengan judul yang tendensius dan rasialis. Wawancara tersebut berjudul “Cina Kristen Pimpin Ibu Kota, Aib Besar Bagi Bangsa,” di sini wacana pertarungan pribumi vs non pribumi kembali diperkenalkan. Tidak hanya itu wacana tersbut juga ditambah dengan pertarungan antara muslim vs non muslim. Sentimen rasial yang dikemukakan seolah mendapatkan pembenaran melalui label agama dan ayat-ayat dalam kitab suci.

Kebencian rasialis yang akhir-akhir ini coba dikobarkan sebenarnya bermula dari politik pemisahan identitas. Bahwa orang Tionghoa di Indonesia selamanya adalah pendatang, mereka kerap menjadi kambing hitam dari banyak kekerasan dan masalah sosial. Media dalam hal ini semakin memupuk prasangka itu tanpa ada upaya rekonsiliasi. Semestinya harus ada upaya pendidikan bahwa etnis Tionghoa adalah bagian dari warga negara Indonesia, terlepas dari ras yang ia sandang.


Media yang Beretika dan Berpihak Pada Korban


Bagaimana semestinya jurnalis meliput tragedi? Kim Tong-hyung, di Korean Times menulis, bahwa ada tujuh hal yang mesti dipegang teguh oleh jurnalis ketika melakukan peliputan tragedi. 1. Jangan sampai reportase anda mengganggu usaha penyelamatan, 2. jangan menuliskan/mengabarkan sesuatu yang dapat membuat ketakutan yang tidak perlu, 3. selalu melakukan verifikasi dan evaluasi terhadap klaim yang ada agar tidak misinformasi, 4. Jangan memaksa korban/keluarga korban untuk melakukan interview, 5. Bagi jurnalis televisi kurangi pengambilan gambar dari jarak dekat, 6. Jangan menggunakan gambar atau video yang berisi gambar brutal atau provokatif, 7. Menahan diri untuk tidak mengumbar data pribadi dari korban dan penyintas juga keluarga mereka.

Kode Etik Aliansi Jurnalis Independen juga mengatakan bahwa ketika melakukan reportase, Jurnalis harus menggunakan cara yang etis dan profesional untuk memperoleh berita, gambar, dan dokumen. Hal serupa juga dituliskan oleh PWI dengan penjelasan khusus “menghormati pengalaman traumatik narasumber dalam penyajian gambar, foto, suara”. Namun ketika ini dilanggar tidak pernah ada sangsi dari Dewan Pers.

Ketika seorang reporter diturunkan ke lapangan, dalam hal ini peliputan kasus kekerasan seksual, bencana atau kecelakaan transportasi, hal yang perlu dilakukan adalah melakukan riset dengan cepat dan efektif. Hal ini akan membantu dalam penyusunan pertanyaan yang diajukan kepada otoritas setempat. Dengan pengetahuan pengantar, seorang reporter akan dapat membuat fokus yang jelas tentang hal substansial yang mesti dikabarkan kepada Publik. Sehingga reporter juga akan terhindar dari kewajiban klise bertanya tentang ‘perasaan keluarga korban’.

Jelas publik berhak marah ketika hilangnya AirAsia QZ8501 lagi lagi mereka mesti melihat jurnalis yang tidak cakap bekerja. Alih-alih mencari berita yang substantif dan penting, mereka sibuk mewawancarai keluarga penumpang seolah duka mereka adalah berita. Padahal jika mereka bersetia kepada lingkaran informasi dalam pemberitaan, keluarga korban bukanlah prioritas. Pihak otoritas penerbangan, maskapai penerbangan dan pemerintah dalam hal ini dirjen perhubungan adalah narasumber utama.

Jika kemudian pesawat dinyatakan hilang dan dilakukan pencarian, maka pihak Basarnas adalah narasumber utama, dengan catatan jurnalis tidak boleh mengganggu proses pencarian atau evakuasi. Namun tanpa dibekali pemahaman yang cukup atau bahkan pengetahuan sederhana tentang etika jurnalistik susah bagi reporter pemula untuk bisa bekerja dengan baik. Seringkali seorang reporter terjebak dalam kondisi di mana mereka tidak bisa lagi mencari berita lain kecuali bertanya pada keluarga korban.

Kita memang tidak bisa selalu menyalahkan reporter ketika ia sibuk bertanya perasaan keluarga korban. Barangkali ia memang tidak pernah diajari bagaimana menjadi jurnalis yang benar oleh redaktur mereka. Pun, kita tidak bisa menyalahkan redaktur mereka karena tidak bisa bekerja dengan benar, karena mungkin ia ditekan untuk mencari berita yang dapat menaikan rating. Makin tinggi rating, makin banyak iklan datang, makin banyak iklan, makin banyak pemasikan. Relasi keji rating dan konstruksi berita pesanan ini memang keji.

Farid Gaban, jurnalis senior, menyebut bahwa hal ini terjadi karena rezim media yang memperlakukan reporter mereka sebagai robot. Nyaris minim sekali media yang memperlakukan reproternya sebagai manusia. Gaji yang kecil, kecakapan yang tidak memadai dan keterampilan jurnalistik yang nyaris seadanya. Pada satu titik jurnalis semestinya diperlakukan sebagai profesi profesional yang hanya bisa dikerjakan oleh seorang pakar.

Kesalahan lain yang kerap terulang dan terulang melanggar etika jurnalistik adalah saat peliputan kasus kejahatan seksul. Pada pemberitaan media online atas kasus pembunuhan Deudeuh Alfisahrin misalnya, media-media online kerap lebih mengarah pada eksploitasi korban ketimbang upaya memberikan informasi yang proporsional bagi publik. Demikian salah satu penilaian Remotivi, salah satu pusat studi media dan komunikasi di Indonesia, baru-baru ini.

Atas dasar itu, Remotivi berinisiatif menulis surat terbuka atas pemberitaan media online yang dianggap terlalu mengeksploitasi Dedeuh alias Tata Chubby sebagai korban kejahatan seksual.
Hal yang sama juga diutarakan Stanley Adi Prasetyo, anggota Dewan Pers, yang mengimbau semua liputan tentang kasus pembunuhan Deudeuh Alfisahrin mengacu pada etika. Ia menilai pemberitaan beberapa media saat kasus itu mengemuka melanggar batas etika. Indikasinya adalah ketika foto korban diambil dari media sosial dan diumbar di media. Wartawan juga menuliskan profesi dan aib korban.

Tak hanya itu, keluarga korban juga diekspos dengan pemuatan wajah mereka. Bahkan mereka ditanyai tentang profesi korban. Stanley mengingatkan agar semua media menahan diri. Peringatan itu juga disertai ancaman Dewan Pers akan memanggil media yang tidak patuh. Baik Stanley maupun Remotivi sepakat bahwa pemberitaan kebanyakan media atas kasus Deudeuh telah mengorbankan etika dan mengorbankan substansi. Remotivi secara keras menudu media-media saat ini hanya mengedepankan sensasi pada pemberitaan kasus pembunuhan Dedeuh.

Kasus eksploitasi pemberitaan terhadap korban kejahatan seksual bukan hanya terjadi di Indonesia. Pada November 2014 majalah Rolling Stone menurunkan laporan reportase yang menggegerkan Amerika Serikat. Laporan itu tentang mahasiswi Universitas Virginia yang diperkosa secara bergiliran oleh tujuh laki-laki di asrama fraternitas Phi Kappa Psi pada 28 September 2012.
Laporan bertajuk “A Rape on Campus: A Brutal Assault and Struggle for Justice at UVA” itu lantas menggemparkan. Masalahnya, dalam reportase itu muncul keraguan ketika Sabrina Rubin Erdely, wartawan Rolling Stone yang menulis liputan tersebut, diwawancarai situs online Slate.com.

Tulisan itu dinilai bermasalah karena abai dalam hal verifikasi. Beberapa kejanggalan yang muncul memaksa Rolling Stone mengambil langkah lebih jauh. Majalah ini meminta Steve Coll, peraih penghargaan Pulitzer serta Dekan Columbia School of Journalism, untuk menyelidiki kesalahan-kesalahan yang terjadi selama peliputan.

Steve Coll menilai terdapat kesalahan di semua level dalam peliputan tersebut. Ia menyebut Rolling Stone telah “mengabaikan atau menganggap praktik-praktik esensial dalam jurnalisme tidak lagi diperlukan”. Padahal, salah satu area yang harus diperhatikan jurnalis adalah “menyeimbangkan kepekaan terhadap korban dan tuntutan verifikasi”. Karena korban pelecehan seksual kerap mengalami trauma, maka jurnalis mesti menghargai otonomi korban.

Di Indonesia, dalam kasus Deudeuh, banyak hal yang dilanggar. Dalam surat terbuka Remotivi menyebutkan beberapa poin yang dianggap bermasalah, antara lain pelanggaran privasi. Pemberitaan media online yang mengangkat kasus pembunuhan Dedeuh dinilai melencang dari substansi kasus dan mengekspos hal-hal yang bersifat privat.

Berita situs tribunnews.com, misalnya, dengan jelas menyebutkan alamat anak korban secara lengkap. Informasi itu jelas tidak relevan dengan kasus pembunuhan ini dan melanggar privasi keluarga korban. Dalam kasus Dedeuh, hal lain yang gagal dilakukan media Indonesia adalah kemalasan melakukan verifikasi. Pasal 3 Kode Etik Jurnalistik menyebutkan “wartawan Indonesia selalu menguji informasi, memberitakan secara berimbang, tidak mencampurkan fakta dan opini yang menghakimi, serta menerapkan asas praduga tak bersalah”. Pasal 3a menjelaskan bahwa yang dimaksud menguji informasi adalah “melakukan check and recheck tentang kebenaran informasi itu”.

Wisnu Prasetya Utomo dari Remotivi menilai pemberitaan kasus pembunuhan Deudeuh Alfisahrin sudah sampai pada tahap eksploitasi korban dan atau keluarga korban. Itu sudah melanggar hak privasi dengan menampilkan informasi-informasi yang tak relevan dengan kasus. Dan yang memprihatinkan, banyak media menampilkan berita minus verifikasi alias rumor.

Berita tanpa verifikasi ini, misalnya, bisa dilihat dalam berita-berita mengenai kesaksian orang-orang yang pernah menggunakan “jasa” Deudeuh atau Tata Chubby. Jika mengacu pada Kode Etik Jurnalistik, media-media tersebut telah melakukan pelanggaran secara terang-terangan. Dalam konteks ini, Dewan Pers sudah sepatutnya bertindak agar kasus ini bisa menjadi pelajaran bersama.
Wisnu juga mengingatkan media perlu sensitif karena berita-berita semacam ini dibaca orang dan bisa mempengaruhi opini publik. Mengabaikan sensitivitas (gender, agama, dan semacamnya) sama artinya dengan menyampaikan pesan yang tidak tepat ke khalayak. Hal ini juga berpotensi menjauhkan pembahasan sebuah berita atau isu dari akar persoalan.

Apalagi dalam kultur media online sekarang: sebuah berita bisa menjadi cepat viral dan mendapatkan tanggapan para pembaca yang tak bisa diduga.


Selasa, 09 Juni 2015

Amarah Steinbeck

Pada 2 Juni 1969 tujuh tahun setelah menerima penghargaan Nobel Sastra dunia, John Steinbeck menulis bahwa tugas seorang penulis adalah meyakini apapun yang ia tulis. Sekalipun itu adalah khayalan, kebohongan ataupun dusta, seorang penulis mesti yakin bahwa apa yang ia susun bisa memberikan sesuatu. Barangkali Steinbeck ingin mengingatkan penulis kala itu yang sibuk merajut ketenaran, ketimbang berbicara tentang hati nuraninya sendiri.

Kata-kata itu tertulis di New York Times sebagai upaya mengingat kembali apa dan siapa sosok John Steinbeck. Tentu generasi saat itu mengenal ia sebagai seorang kanon sastra, raksasa yang menulis karya klasik seperti In Dubious Battle (1936) Of Mice and Man (1937), Tortila Flat (1935) dan Cup of Gold (1929). Tetapi sosok Steinbeck mendunia, juga di Indonesia, karena satu novelnya yang menyoroti perihal getirnya hidup. Tentang penderitaan dan semangat berjuang ‘ala’ Amerika yang berjudul The Grapes of Warth.  

Di Indonesia The Grapes of Warth diterjemahkan menjadi dua seri novel berjudul Amarah. Karya ini oleh New York Times dicatat sebagai buku paling laku terjual pada 1939. Lantas pada 1940 lebih dari 430.000 kopi buku telah terjual. Pada bulan penerbitan pertama penerbitan buku itu National Book Award mengganjar Grapes of Warth sebagai karya terbaik. Setahun setelahnya Steinbeck meraih Pulitzer Prize for Fiction.

Pramoedya Ananta Toer sendiri dikenal sebagai penggemar Steinbeck. Of Mice and Man adalah satu karya yang ia terjemahkan untuk memperkenalkan pembaca Indonesia dengan sosok penulis Amerika ini. Tapi apa yang membuat novel ini jadi istimewa? The Grapes of Warth bukanlah sekedar novel. Ia adalah gambaran rekam jejak jatuh bangunnya negara. Di Amerika Serikat, novel karya John Steinbeck menjadi bacaan wajib untuk mengetahui suasana dan kondisi negara itu saat great depresion terjadi.

Selama awal 1930-an, kekeringan yang parah menyebabkan kegagalan besar besaran pertanian di Oklahoma Barat dan Texas. Daerah ini telah banyak mengalami penanaman berlebihan oleh petani gandum di tahun-tahun setelah Perang Dunia pertama. Keluarga tercerai berai, bisnis bangkrut, pemerintahan kacau dan bank banyak menyita aset aset keluarga karena tak mampu membayar hutang. Dunia seakan telah berakhir dan runtuh saat itu.

Beberapa daerah pertanian di Amerika mengalami kondisi kerusakan berat akibat penanaman berlebihan satu jenis tanaman. Jutaan hektar tanah kosong dan tak mampu lagi ditanami ditambah dengan musim kemarau yang panjang, banyak tanaman layu dan mati. Daerah yang menderita ini menjadi dikenal sebagai "Dust Bowl ". Dua novel terdahulu Grapes of Warth, In Dubious Battle dan Of Mice and Man merupakan narasi penyambung yang menjadi trilogi Dust Bowl. Ketiganya bercerita tentang tanah tandus dan upaya masyarakat Amerika bangkit dari Depresi Besar.

Plot The Grapes of Warth sederhana saja ia bercerita tentang Tom Joad yang baru saja keluar dari penjara karena membunuh. Pada saat perjalanan pulang ia bertemu dengan Jim Casy, seorang kawan semasa kecilnya. Berdua mereka mendapati rumah tempat dimana mereka tumbuh telah ditinggalkan, usang dan tandus. Dari tetangga mereka yang masih tersisa dikabarkan bahwa seluruh keluarga Joad telah pergi karena tak mampu membayar hutang pada bank.

Lantas cerita berubah menjadi perjalanan Tom dan Casy menuju California, tempat baru untuk mencari pekerjaan dan berjuang mempertahankan hidup. Di sini keduanya menemukan fakta bahwa negara itu telah penuh sesak dengan pekerja migran. Lowongan kerja dan makanan makin langka, tumbuhnya prasangka dan permusuhan antara pendatang dan orang lokal membuat kehidupan tokoh-tokoh dalam The Grapes of Warth menjadi kaya.

Robert DeMott kritikus sastra pada masa itu menyebut novel ini sebagai karya paripurna. “Ia masuk dengan baik ke dalam kesadaran Amerika dan hati nurani warganya," kata Ia. Sayangnya karya ini juga menjadi akhir dan penanda batas karir gemilang Steinbeck sebagai penulis. Dia meninggal pada tahun 1968 sebagai legenda. Hari ini, The Grapes of Wrath masih menjadi sebuah refleksi kritis terhadap pemerintah yang gagal mensejahterakan rakyatnya.

Hari ini Amarah menemukan konteksnya sendiri di Indonesia. Jika latar cerita kisah itu di Amerika adalah depresi besar, maka di Indonesia depresi itu adalah intoleransi. Kebengisan kita terhadap orang orang yang berbeda, minoritas dan keluar dari pakem umum menjadi keseharain. Kita lupa bahwa dalam hidup barangkali orang orang tadi adalah serupa Tom dan Casy, orang yang terpinggirkan oleh sistem, menjadi berbeda bukan karena keinginan sendiri tapi karena mereka dipaksa kalah oleh keadaan.

Steinbeck adalah salah seorang penulis yang menjadikan muramnya zaman sebagai inspirasi. Penggalian ide yang dilakukan oleh seorang penulis akan sia-sia jika ia tak bisa menuturkan kisahnya dengan baik. Ernest Hemingway menulis kisah dengan pendek dan sedikit dialog. Sementara Vladimir Nabokov selalu berusaha menciptakan momen magis dengan deskripsinya tentang latar. Dalam kisah ini Steinbeck sukses menghasilkan penokohan karakter yang berkembang seiring dengan berjalannya kisah.

Tapi apa yang membuat Steinbeck menjadi istimewa saat ini? Terlebih keberadaan konteks karyanya di masa lalu terlampau jauh dari keseharian zaman modern. Steinbeck akan selalu relevan. Barangkali ia adalah salah seorang dari sedikit sekali penulis di zamannya yang menulis karya abadi. Bahwa semangat, kekalahan, keputusasaan dan juga keterhimpitan adalah repetisi. Mengutip Steinbeck dalam The Grapes of Wrath: “How can we live without our lives? How will we know it's us without our past?

Bangkit Melawan Kekerasan Seksual

Bagaimana menyikapi kasus kejahatan seksual di Indonesia? Untuk pengantar baiknya kita memahami kondisi kasus kekerasan terhadap perempuan, yang berupakan bagian dari kejahatan seksual. Secara global satu dari tiga perempuan di dunia pernah mengalami kekerasan seksual. Data ini dirilis oleh PBB dan secara kasar itu setara dengan 35% jumlah perempuan di seluruh dunia. Menjadi sangat menakutkan karena pelaku kekerasan didominasi oleh orang terdekat. Beberapa studi juga menyatakan bahwa 73% hingga 78% perempuan mengalami kekerasan oleh pasangan mereka sendiri.

Ironisnya, banyak kasus kekerasan yang tidak pernah diberitakan. Lebih banyak lagi yang tidak dilaporkan. Menjadi semakin menyedihkan karena berdasar catatan tahunan Komnas Perempuan yang dirilis pada Maret 2014, terdapat 269.760 kasus kekerasan terhadap perempuan yang dilaporkan dan ditangani sepanjang tahun 2013.  65% kasus kekerasan dialami oleh istri, 21% kekerasan dalam pacaran, 7% kekerasan terjadi terhadap anak perempuan dan 6% kekerasan terjadi dalam relasi lain. Kekerasan fisik masih menempati urutan pertama, disusul kekerasan psikis dan kekerasan seksual di peringkat kedua dan ketiga.

Angka kasus kekerasan seksual menjadi paling rendah disebabkan karena kekerasan seksual dalam rumah tangga tidak dianggap sebagai kekerasan  dan merupakan yang paling sedikit dilaporkan. Namun dari tahun ke tahun, kasus kekerasan seksual terus mengalami peningkatan. Tapi apakah hal tersebut akan terus didiamkan? Kasus kekerasan seksual, meskipun secara statistik mayoritas terjadi di dalam rumah, juga terjadi di ranah publik dan mengalami peningkatan yang mengkhawatirkan, terutama di transportasi publik.

Banyak yang kemudian berpendapat bahwa kekerasan seksual ini terjadi karena kurangnya pemahaman publik tentang kepedulian sosial. Dalam hal ini usaha untuk memperlakukan perempuan sebagai individu yang merdeka dan berdaulat. Untuk itu muncul One Billion Rising (OBR), sebuah gerakan global menolak kekerasan terhadap perempuan. Gerakan ini secara serentak dilakukan di seluruh dunia, tiap hari Valentine tanggal 14 Februari, dengan menari bersama.

Di Indonesia gerakan ini telah dilakukan sejak 2013 dengan mengangkat isu berbeda. Pada 2013 OBR Indonesia bertajuk Strike, Rise, Dance. Sementara pada 2014 bertajuk Rise for Justice. Tahun ini OBR bertajuk Drum! Rise! Dance! Dan diselenggarakan di Taman Ismai Marzuki, Jakarta. Selain di Jakarta, One Billion Rising juga digelar di Bandung, Jogja dan Makasar. One Billion Rising Indonesia, tahun ini masih mengangkat tema penghentian kekerasan terhadap perempuan dengan fokus pada transportasi publik yang aman bagi perempuan.

Dalam situs resminya OBR mengungkapkan bahwa sistem masyarakat yang meletakkan perempuan di nomor dua setelah laki-laki merupakan penyebab utamanya. Nilai-nilai sosial yang diajarkan sejak kecil menjadikan perempuan tidak diberikan pilihan dan pemegang otoritas atas hidup dan tubuhnya sendiri. Hal ini berimbas pada kehidupan dan tubuh perempuan menjadi komoditi politik, sosial, ekonomi dan budaya yang dibangun di atas fondasi dengan menempatkan laki-laki sebagai pemegang otoritas tertinggi.

Hal itu menyebabkan relasi kuasa yang timpang lantas menjadi paradigma kolektif masyarakat. Paradigma kolektif yang sangat tidak setara ini kemudian diturunkan ke dalam hukum sehingga aturan-aturan lain yang ada tidak memiliki perspektif yang berpihak pada perempuan. Kartika Jahya, musisi dan aktivis perempuan, menyebutkan bahwa sejak bergabung dengan gerakan dan mendukung kampanye OBR, ia beberapa kali menemukan korban kejahatan seksual mengadu padanya.

Gerakan ini sedikit banyak telah membantu Kartika untuk memahami konteks sosial dan hukum masalah seksual di Indonesia. Sistem sosial dan hukum di Indonesia yang masih jauh dari prinsip parsialitas, perempuan seperti tidak memiliki harapan untuk memperoleh keadilan. Dari aspek hukum, alih-alih membela dan melindungi korban, penanganan kasus-kasus kekerasan terutama kekerasan seksual seringkali justru sangat menyudutkan korban.

Selain tentang kejahatan seksual, OBR juga mengkampanyekan tentang gerakan untuk mendukung perlindungan terhadap kaum rentan seperti anak-anak dan LGBT. Karena seringkali kelompok ini yang paling sering mengalami kekerasan di antara masyarakat. Malah bayak yang kemudian mengafirmasi atau memaklumi bahwa kaum LGBT boleh diperlakukan kasar karena mereka menentang kodrat alami.

Selain itu masyarakat juga kerap mendapatkan paparan buruk dari pernyataan-pernyataan para pejabat publik mengenai kasus kekerasan seksual. Di sini tak jarang mereka menyalahkan korban. Bahwa ini perkara pakaian yang dikenakan korban, sikap dan perilaku korban atau soal jam malam. Korban dilemahkan, korban disalahkan. Hal inilah yang kemudian membuat korban kerap enggan untuk melapor dan memperjuangkan hak dan keadilan mereka. Sebab sistem yang berlaku sangat tidak adil terhadap perempuan korban kekerasan.


OBR Tidak hanya dilakukan di Indonesia melainkan juga di seluruh dunia. Tujuannya jelas untuk melawan kekerasan seksual terhadap perempuan dan kaum rentan. Kesadaran ini disebarkan dan ditularkan melalui gerakan populer seperti menari bersama. Di sela-sela gerakan itu para aktivis OBR juga mengedukasi masyarakat tentang pentingnya perlindungan dan kesetaraan terhadap kaum perempuan. 

100 tahun Orson Welles

Citizen Kane dibuka dengan salah satu adegan paling ikonik dalam sejarah film dunia, sebuah snow globes terjatuh sementara seorang sekarat mengucap “Rosebud,” berulang kali. Dengan teknologi yang terbatas saat itu, Orson Welles, seorang jenius dalam dunia pertunjukan membuat penontonnya terbius. Francois Truffaut seorang kritikus film asal Prancis, menyebut bahwa film yang dibuat oleh Welles membuat kita menjadi bijak. Karena film film Welles dibuat dengan cara berbeda, film yang membuat para penontonnya berpikir dari mana kegilaan, kecepatan dan racun ini?

Pada 1967, Truffaut menulis sebuah esai tentang sang sutradara dan debutnya yang revolusioner. Truffaut memuji Welles dengan sangat tinggi. Ia menyebutnya sebagai anak muda dan romantis, Welles adalah seseorang jenius. Tidak hanya jenius tapi sangat jenius dan berbeda, lantas menjebut filmnya Citizen Cane sebagai sebuah film yang kuat, dramatis dan puitis. “Usaha mengejek keinginan untuk berkuasa,” katanya.

George Orson Welles lahir 100 tahun yang lalu pada 6 Mei 1915, di Kenosha, Wisconsin. Patrick Z. McGavin, seorang kritikus film menggambarkan dengan baik relasi kehidupan pribadi Welles dan kerja kerja kreatifnya. Ibunya Beatrice meninggal saat Welles berusia 9 tahun yang disusul ayahnya Dick, pada saat ia berusia 15 tahun. Baru saat bersama Dr. Maurice Bernstein, seorang dokter dan penikmat opera, Welles menemukan harapan baru. Ia mengatakan kehidupan Welles di Chicago inilah yang jadi ruang kreatif untuk melarikan diri dari kesedihan kesedihan itu. 

Dari  mana sebaiknya seorang pemula memahami film film Orson Welles? Apakah Citizen Kane? The Lady from Shanghai? Atau The Third Man? Jika anda penikmat buku, anda bisa memulai dengan buku biografinya Citizen Welles: A Biography of Orson Welles yang disusun oleh Frank Brady. Mengapa buku? Karena sebagai universalis Orson Welles adalah sebuah teka-teki, ia tidak akan bisa dipahami hanya dari film-filmnya saja. Anda mesti membaca kehidupan pribadinya, bagaimana ia menjadi seorang pekerja teater, penyiar radio, penulis naskah, aktor dan juga sutradara.

Welles adalah pria gemuk dengan suara yang keras, ia sering dilihat dalam acara talk shows dan iklan-iklan. Frank Brady, dalam bukunya, menyebutkan bahwa meski dalam kehidupan yang relatif keras dan tragis, Welles adalah seseorang yang humoris. Frank menjelaskan sosok Welles melalui film film yang ia bikin. Mulai dari Citizen Kane yang memenangkan Oscar pada 1941 sampai dengan F for Fake 1974.

Film film berikutnya seperti, The Magnificent Ambersons (1942), The Stranger (1946), The Lady from Shanghai (1947), Macbeth (1948),  Othello (1952),  Mr. Arkadin, (1955), Touch of Evil (1958), The Trial (1962), Chimes at Midnight  (1965), dan The Immortal Story (1968) adalah film yang menjadkan sosok Welles menjadi legenda, dan pada satu titik, melahirkan kecurigaan bahwa ia adalah seorang sutradara yang dipuji berlebihan.

Kecurigaan ini memang beralasan, beberapa menganggap Orson Welles sebagai seorang sutradara yang diuntungkan zaman. Pemujaan berlebihan menjadikannya seorang idola, namun anda tidak seharusnya percaya pada kritikus. Percayalah pada apa yang anda lihat sendiri. Tak Percaya? Coba saja tonton Chimes at Midnight yang konon sedang dicetak ulang dalam format Blu-ray oleh Janus Films dan Criterion. Film ini akan menunjukan bagaimana Orson Welles adalah aktor yang hebat dan seorang Shakesperian yang taat.

Chimes at Midnight bukan satu-satunya film Welles yang direstorasi ulang dalam bentuk Blu-ray. Pengalaman menonton dengan kualitas gambar tinggi juga bisa dinikmati dalam film The Lady from Shanghai" dan "Touch of Evil" yang dilengkapi dengan komentar dari pakar Orson Welles eperti Jonathan Rosenbaum dan James Naremore. Tapi bukan hanya itu Criterion dikabarkan baru saja akan merilis film kualitas baik dari "F for Fake," dan "The Complete Mr. Arkadin"  dalam seri karya lengkap Welles.

Paul Byrnes, kritikus film Sidney Morning Herald, pernah menulis esai pendek yang berjudul Why Orson Welles continues to cast a long and enigmatic shadow over cinema. Ia menyebut Welles sebagai orang yang berbakat namun memiliki banyak kekurangan. Dengan satir Byrnes menyebut segala hal tentang Welles adalah hal yang besar, termasuk berat badannya yang disebabkan makan, minuman keras dan rokok. 30 tahun setelah kematiannya, Welles masih bisa melahirkan debat, apakah ia sosok yang besar atau hanya sekedar orang yang overrated.

Byrnes mengajukan pertanyaan sederhana, bagaimana seseorang yang membuat film kanonik seperti Citizen Kane, sebuah film yang berani dan inovatif, percaya diri dan modern, lantas kehilangan sentuhannya? Byrnes lantas mengajukan beberapa argumen, seperti pengaruh editing dan curgia bahwa proses editing inilah yang sebenarnya menjadikan beberapa filmnya seperti, The Lady from Shanghai dan Mr Arkadin adalah film yang buruk. Sementara film Touch of Evil terselamatkan melulu karena akting Welles sebagai orang yang korup.


Beberapa film lainnya seperti The Other Side of the Wind, The Dominici Affair, The Merchant of Venice  dan Don Quixote juga tak terselesaikan. Ada banyak alasan mengapa Orson Welles memutuskan menghentikan proses pembuatan film. Satu di antara yang paling dikenal adalah karena kebangkrutan. Pada akhirnya, setelah menonton filmnya, anda bisa menilai apakah peraih penghargaan-penghargaan seperti Palme d'Or dan Oscar layak dikenang atau tidak.

105 Tahun Akira Kurosawa

Mengapa Akira Kurosawa menjadi sosok raksasa film paling penting yang dikenal dunia dari Jepang? Ia menjadi guru bagi banyak sutradara generasi berikutnya seperti Roman Polanski, Nicholas Roeg dan Quentin Tarantino. Bagi banyak orang Kurosawa adalah manusia jenius yang bisa menghadirkan nuansa cerita film dengan gambar-gambar yang indah dan ikonik. Selain itu Kurosawa juga mampu menghadirkan narasi kisah tersendiri pada tiap tiap gambarnya.

Namun tidak banyak generasi hari ini yang mengenal sosok Kurosawa sebagai maestro jenius yang mampu menghadirkan kisah-kisah sentimentil dan manusiawi. Padahal karya-karyanya bisa dilihat dan dirasakan pada film-film modern yang digarap oleh sutradara-sutradara raksasa Hollywood seperti Francis Ford Coppola, Martin Scorsese, Steven Spielberg dan George Lucas.

Ia adalah sutradara yang menolak pakem linier dalam penceritaan. Baginya struktur adalah satu elemen dalam film yang tidak harus dipatuhi. Ia bisa membuat narasi cerita dengan susunan akhir, awal dan tengah. Atau tengah, awal dan akhir tanpa harus membuat penontonnya menjadi bingung. Sesuatu yang kemudian merevolusi film modern.

Banyak yang menganggap bahwa filmnya yang berjudul Seven Samurai sebagai karya utamanya. Film yang dibuat pada 1954 memang salah satu yang mengangkat namanya ke dunia, namun banyak karya-karya lain dari Kurosawa yang mesti dilihat dan ditonton. Ia juga punya kekuatan untuk menghadirkan elemen gerak, suara, dialog, narasi cerita dan gambar menjadi satu kesatuan yang harmonis.

Untuk merayakan ulang tahun ke 105 Akira Kurosawa tahun ini, baiknya kita kembali menonton film-film klasik Kurosawa yang kurang dikenal. Tentu ada banyak judul selain Seven Samurai yang dibuat dengan sangat indah dan monumental oleh Kurosawa. Geo Times akan memilihkan empat film Kurosawa yang penting untuk ditonton, tentu saja selain Seven Samurai.

Ikiru adalah film yang mampu menghadirkan perasaan bersalah, rasa haru, dan keinginan untuk berubah menjadi lebih baik. Film ini, bagi saya, adalah film terbaik dan paling monumental yang dibuat oleh Kurosawa. Ia menghadirkan sosok yang dekat, tentang manusia yang dikuntut kematian. Sesosok pegawai negeri yang divonis memiliki penyakit mematikan. Dimainkan dengan sangat sempurna oleh Takashi Shimura, sang pegawai negeri itu ingin, sekali saja dalam hidupnya, menjadi sosok yang berarti.

Ikiru menghadirkan keharuan bukan karena si tokoh utama sekarat, namun ketika kematian menyambutnya ia malah ingin memberi lebih banyak. Dalam film ini kita akan melihat gambaran betapa rumitnya birokrasi yang kemudian mengingatkan kita pada negeri ini. Film ini mampu mengawinkan kritik sosial, lanskap muram tema kematian dan semangat hidup dalam satu tema yang aktual.

Film berikutnya adalah Yojimbo. Tema klasik tentang seorang ronin, samurai tanpa tuan, yang terjebak di antara perang dua gangster yang menguasai kota kecil. Tema ini kemudian sering diadopsi oleh film seperti Zatoichi dan film film barat ala cowboy. Salah satunya adalah film “A Fistful Of Dollars” karya Sergio Leone. Namun sebenarnya apa yang membuat Yojimbo menjadi sebuah film yang istimewa?

Film ini menginspirasi terlalu banyak remake. Seperti yang dibuat oleh Walter Hill dengan film ‘Last Man Standing”  atau apa yang dibuat oleh Joel dan Ethan Cohen dalam “Miller’s Crossing”. Jika anda menyukai segala film ala wild wild west, di mana seorang asing datang ke kota lalu menjadi heorik, maka anda mesti mencari di mana ide itu bermuara. Siapa lagi kalau bukan Kurosawa yang pertama memulainya?

Rashomon adalah karya monumental yang menggetarkan. Tunggu, segala label hiperbolik ini bukan tanpa alasan. Bayangkan, seorang pria mati, seorang perempuan diperkosa, ada empat saksi mata namun ada lima cerita yang saling berbeda, berganti dan kemudian berkelindan. Siapa yang patut dipercaya? Siapa yang berdusta? Bagaimana jika semua cerita itu benar, siapa yang akan ada pilih untuk percayai?

Film yang diangkat dari cerita pendek karya Ryƫnosuke Akutagawa, Rashomon adalah film yang menjadikan sosok Kurosawa sebagai sutradara jenius dan menjadikan film film jepang dalam peta film dunia. Film ini mendapatkan penghargaan di Venice Film Festival. Rashomon menjadi satu tonggak penting bagaimana sejarah, dan persepsi kebenaran, kembali dipertanyakan melalui film.

Red Beard merupakan gambaran bagaimana kemanusiaan mesti bersikap di tengah krisis. Ia mesti ditonton sebelum anda menonton Ikiru. Film ini merupakan pintu masuk untuk memahami kemanusiaan dalam film-film Kurosawa. Bagaimana ia memandang kemanusiaan, empati dan kepedulian terhadap sesama. Film ini adalah film terakhir yang digarap Kurosawa bersama Toshiro Mifune.

Red Beard adalah film tentang seorang dokter dan muridnya. Film ini terinspirasi dari fragmen novel Fyodor Dostoevsky. Bagaimana ceritanya? Anda mesti melihatnya sendiri, film ini akan kurang menarik ditonton jika dibocorkan di sini. Film ini juga dipuji sebagai salah satu gambaran bagaimana Kurosawa sangat mencintai sastra. Selain menggarap film-film adaptasi dari Shakespeare, Kurosawa juga menggarap film dari Dostoevsky.


Senin, 08 Juni 2015

Ngerinya Anti Kretek

Pada Minggu 7 Juni kemarin, saya menghadiri sebuah diskusi terbuka tentang usaha meratifikasi FCTC. FCTC adalah Framework Convention on Tobacco Control. Sebagai orang yang tidak merokok, saya kurang nyaman di antara para perokok dan tidak suka rokok. Oleh karena itu acara ini bagi saya menarik. Karena ia bicara tentang bagaimana produk tembakau semestinya dikendalikan. Mungkin mereka akan bisa sedikit membahas bagaimana sebuah regulasi bisa dibangun untuk memberi jalan tengah antara perokok dan non perokok.

Tapi ada yang janggal, tidak, lebih tepatnya menjadi sebuah monolog pengadilan yang buat saya agak memuakan. Apalagi ketika moderator acara itu Tulus Abadi, dari YLKI, membuka diskusi dengan penghakiman terhadap para perokok. Tulus mengatakan bahwa para perokok mesti dibedakan dalam penerima Jaminan Sosial Kesehatan. Lebih daripada itu ia menyebut orang miskin yang merokok, semestinya tidak boleh disebut miskin, karena mampu membeli rokok.

Saya terkejut, bukan hanya karena cara berpikirnya yang demikian menggelikan, tapi bagaimana ia melakukan rasionalisasi terhadap apa yang ia ucapkan. Tulus mengatakan bahwa kalo orang miskin terus-terusan dijamin kesehatannya oleh pemerintah, maka dana kesehatan bisa jebol. Lebih daripada itu, dalam forum itu, Tulus meminta kepada para dokter untuk mejadi garda depan untuk mengendalikan hal ini.

Forum itu lebih mirip penghakiman kepada para perokok ketimbang melakukan rasionalisasi terhadap ratifikasi FCTC. Tulus dalam hal ini, membuat saya bergidik ngeri, bagaimana ia meminta pemerintah melakukan pengecualian jaminan sosial kesehatan hanya karena seseorang merokok dan tidak. Lebih daripada itu, ia menyebut seseorang miskin dan tidak miskin hanya berdasar kemampuan membeli rokok.

Jika logika serupa diterapkan, semestinya tidak hanya orang miskin perokok saja yang harus dibedakan dalam penerima santunan BPJS. Jika rokok dianggap tidak sehat, maka bagaimana dengan mi instan? Bukankah selama ini mi instan dianggap berbahaya dan memiliki kandungan kurang baik jika dikonsumsi terus menerus, maka Tulus juga harus mendukung agar orang miskin yang makan mi instan harus dibedakan pelayanannya dari BPJS.

Dalam forum itu dihadirkan beberapa panelis, seperti Dr Hakim Sorimuda Pohan penasihat Komnas Pengendalian tembakau, Dr. Theresia Sandra Diah Ratih dari Kasubdit Pengendalian Penyakit Kronis dan Degeneratif Kementerian kesehatan, dan Jalal yang disebut sebagai aktivis pengendalian tembakau. Forum itu lebih layak disebut pengadilan bagi para perokok dan petani tembakau, ketimbang usaha meratifikasi FCTC.

Dalam forum itu Dr Hakim Sorimuda Pohan menyebut kebiasaan buruk merokok sebagai sebuah budaya yang buruk. Ia lantas memberikan analogi budaya Matador di Spanyol, yang menurutnya barbar dan telah dihentikan. Dr Hakim Sorimuda Pohan secara tersirat menyampaikan bahwa kretek, yang merupakan produk budaya asli Indonesia, sebaiknya dihilangkan saja. “Pancasila kan menyebut Kemanusiaan yang adil dan beradab, bukan keadilan yang berbudaya,” katanya.

Apakah tolak ukur keberadaban itu? Apakah dengan meniadakan matador Spanyol menjadi sebuah bangsa beradab? Lantas bagaimana Dr Hakim Sorimuda Pohan mengukur sikap Spanyol pada bangsa Catalan dan Basques? Atau mungkin bagi beliau Matador itu lebih penting dihilangkan sebagai simbol perdaban ketimbang memberikan keadilan bagi bangsa Catalan dan Basques.

Terlalu banyak fallacy yang diberikan Dr Hakim Sorimuda Pohan, bagaimana ia mengatakan bahwa keselamatan bangsa ini terancam kecanduan atas nikotin. Bagaimana mengukur klaim ini? Ia mengatakan bahwa kematian akibat rokok lebih banyak dibandingkan korban perang dunia I dan II. Saya jadi ingat sosok Taufiq Ismail, yang pernah mengatakan bahaya ”nikotinisme” yang melampaui gabungan Naziisme dan komunisme. ”Saat ini rata-rata kematian akibat nikotin di dunia mencapai empat juta jiwa per tahun, sementara Naziisme tahun 1933-1945 dan komunisme dunia hanya 3,7 juta jiwa per tahun.”

Bagaimana mengukur kematian itu? Apakah baik Dr Hakim Sorimuda Pohan dan Taufiq Ismail pernah menghitung kematian yang terjadi atas nama agama? Atau bagaimana dengan kematian akibat kecelakaan lalu lintas jalan? Bagaimana dengan kematian akibat penyalah gunaan senjata? Juga kematian akibat penyakit degeneratif dari pola makan yang tidak sehat dan berasal dari makanan cepat saji juga minuman bersoda? Sudahkah mereka melakukan penghitungan?

Dalam forum itu Dr Hakim Sorimuda Pohan dan Jalal memberikan sebuah analisis menarik tentang produksi tembakau Indonesia. Intinya mereka mengatakan bahwa FCTC tidak akan mempengaruhi produksi tembakau di Indonesia. Keduanya mencontohkan Cina, Brazil dan India sebagai negara yang telah meratifikasi FCTC namun produksi tembakaunya tetap tinggi. Tapi keduanya gagal menjelaskan, apakah produksi tembakau hasil dari Cina, Brazil dan India merupakan hasil dari pertanian tradisional ataukah produksi masal industri tembakau?

Saya ingat ketika saya datang ke Legoksari, Desa Lamuk, Kecamatan Tlogomulya, Temanggung, tempat Tembakau terbaik di dunia dihasilkan. Nama tembakau itu adalah Tembakau Srinthil, satu jenis tembakau khusus dihasilkan dari daun paling atas pada tanaman tembakau. Biasanya dipetik paling akhir. Sewaktu masih di pohon, tak ada yang bisa mengetahui lembaran daun itu akan menjadi Srinthil. Menurut Subakir,  Kepala Desa Legoksari, tak ada yang bisa memastikan kapan dan bagaimana tembakau Srinthil dihasilkan. “Bahkan peneliti dari Amerika dan Cina sudah mencoba, tapi tak bisa. Hanya bisa di Temanggung,” katanya.

Tembakau Srinthil memiliki aroma khas, harumnya mirip aroma buah salak yang matang. Daunnya berbentuk melengkung hampir keriting dan susah dirajang. Agak lembap, tetapi tidak basah. Warnanya hitam pekat seperti disiram madu. Kadar nikotinnya tinggi, berkisar 3% – 15%, persentase cukup tinggi untuk tembakau. Inilah yang menjadikan Srinthil incaran pemburu tembakau berkelas.
Srinthil bukanlah jenis tembakau, melainkan variasi khusus dari tembakau biasa yang tumbuh secara abnormal. Secara kualitas Srinthil merupakan tembakau grade F, G, H, dan I, dengan kadar nikotin paling tinggi. Riset Balai Penelitian Tanaman Tembakau dan Serat di Malang, Jawa Timur, menyimpulkan kondisi alam, cuaca, dan struktur tanah di Temanggung memang memberikan panen tembakau dengan kualitas terbagus di dunia.

Mau tidak mau saya dibuat khawatir oleh para Anti Kretek. Mereka tidak hanya abai terhadap fakta-fakta unik lapangan yang tidak bisa dipukul rata. Mereka juga ngotot bahwa FCTC tidak akan merugikan petani tembakau, tapi pada sisi lain juga melakukan usaha penggiringan opini bahwa industri rokok demikian berkuasa. Dari sebuah portal media online saya membaca bahwa Sekjen Gabungan Perserikatan Perusahaan Rokok Indonesia (GAPPRI), Hasan Aoni Aziz, seyogyanya diundang untuk jadi pembanding, namun dia kemudian tidak diberikan kesempatan bicara. Malah memberikan kesempatan seorang wartawan kompas untuk bicara soal bahaya rokok. Ada apa in?

Baik Dr Hakim Sorimuda Pohan, Tulus Abadi dan juga Jalal berulang kali mengatakan bahwa ratifikasi FCTC tidak akan membuat petani tembakau tersisih. Jalal sekali lagi dengan datanya mengatakan bahwa produksi tembakau di Indonesia menurun, tapi di sisi lain ia mengatakan bahwa lahan tembakau semakin luas bahkan melakukan deforestasi. Saya jadi ingin bertanya, seberapa luas deforestasi yang dilakukan pertanian tembakau dibanding dengan industri sawit. Atau bagaimana perjuangan Tulus terhadap penyakit yang disebabkan oleh minyak goreng.