Selasa, 09 Juni 2015

100 tahun Orson Welles

Citizen Kane dibuka dengan salah satu adegan paling ikonik dalam sejarah film dunia, sebuah snow globes terjatuh sementara seorang sekarat mengucap “Rosebud,” berulang kali. Dengan teknologi yang terbatas saat itu, Orson Welles, seorang jenius dalam dunia pertunjukan membuat penontonnya terbius. Francois Truffaut seorang kritikus film asal Prancis, menyebut bahwa film yang dibuat oleh Welles membuat kita menjadi bijak. Karena film film Welles dibuat dengan cara berbeda, film yang membuat para penontonnya berpikir dari mana kegilaan, kecepatan dan racun ini?

Pada 1967, Truffaut menulis sebuah esai tentang sang sutradara dan debutnya yang revolusioner. Truffaut memuji Welles dengan sangat tinggi. Ia menyebutnya sebagai anak muda dan romantis, Welles adalah seseorang jenius. Tidak hanya jenius tapi sangat jenius dan berbeda, lantas menjebut filmnya Citizen Cane sebagai sebuah film yang kuat, dramatis dan puitis. “Usaha mengejek keinginan untuk berkuasa,” katanya.

George Orson Welles lahir 100 tahun yang lalu pada 6 Mei 1915, di Kenosha, Wisconsin. Patrick Z. McGavin, seorang kritikus film menggambarkan dengan baik relasi kehidupan pribadi Welles dan kerja kerja kreatifnya. Ibunya Beatrice meninggal saat Welles berusia 9 tahun yang disusul ayahnya Dick, pada saat ia berusia 15 tahun. Baru saat bersama Dr. Maurice Bernstein, seorang dokter dan penikmat opera, Welles menemukan harapan baru. Ia mengatakan kehidupan Welles di Chicago inilah yang jadi ruang kreatif untuk melarikan diri dari kesedihan kesedihan itu. 

Dari  mana sebaiknya seorang pemula memahami film film Orson Welles? Apakah Citizen Kane? The Lady from Shanghai? Atau The Third Man? Jika anda penikmat buku, anda bisa memulai dengan buku biografinya Citizen Welles: A Biography of Orson Welles yang disusun oleh Frank Brady. Mengapa buku? Karena sebagai universalis Orson Welles adalah sebuah teka-teki, ia tidak akan bisa dipahami hanya dari film-filmnya saja. Anda mesti membaca kehidupan pribadinya, bagaimana ia menjadi seorang pekerja teater, penyiar radio, penulis naskah, aktor dan juga sutradara.

Welles adalah pria gemuk dengan suara yang keras, ia sering dilihat dalam acara talk shows dan iklan-iklan. Frank Brady, dalam bukunya, menyebutkan bahwa meski dalam kehidupan yang relatif keras dan tragis, Welles adalah seseorang yang humoris. Frank menjelaskan sosok Welles melalui film film yang ia bikin. Mulai dari Citizen Kane yang memenangkan Oscar pada 1941 sampai dengan F for Fake 1974.

Film film berikutnya seperti, The Magnificent Ambersons (1942), The Stranger (1946), The Lady from Shanghai (1947), Macbeth (1948),  Othello (1952),  Mr. Arkadin, (1955), Touch of Evil (1958), The Trial (1962), Chimes at Midnight  (1965), dan The Immortal Story (1968) adalah film yang menjadkan sosok Welles menjadi legenda, dan pada satu titik, melahirkan kecurigaan bahwa ia adalah seorang sutradara yang dipuji berlebihan.

Kecurigaan ini memang beralasan, beberapa menganggap Orson Welles sebagai seorang sutradara yang diuntungkan zaman. Pemujaan berlebihan menjadikannya seorang idola, namun anda tidak seharusnya percaya pada kritikus. Percayalah pada apa yang anda lihat sendiri. Tak Percaya? Coba saja tonton Chimes at Midnight yang konon sedang dicetak ulang dalam format Blu-ray oleh Janus Films dan Criterion. Film ini akan menunjukan bagaimana Orson Welles adalah aktor yang hebat dan seorang Shakesperian yang taat.

Chimes at Midnight bukan satu-satunya film Welles yang direstorasi ulang dalam bentuk Blu-ray. Pengalaman menonton dengan kualitas gambar tinggi juga bisa dinikmati dalam film The Lady from Shanghai" dan "Touch of Evil" yang dilengkapi dengan komentar dari pakar Orson Welles eperti Jonathan Rosenbaum dan James Naremore. Tapi bukan hanya itu Criterion dikabarkan baru saja akan merilis film kualitas baik dari "F for Fake," dan "The Complete Mr. Arkadin"  dalam seri karya lengkap Welles.

Paul Byrnes, kritikus film Sidney Morning Herald, pernah menulis esai pendek yang berjudul Why Orson Welles continues to cast a long and enigmatic shadow over cinema. Ia menyebut Welles sebagai orang yang berbakat namun memiliki banyak kekurangan. Dengan satir Byrnes menyebut segala hal tentang Welles adalah hal yang besar, termasuk berat badannya yang disebabkan makan, minuman keras dan rokok. 30 tahun setelah kematiannya, Welles masih bisa melahirkan debat, apakah ia sosok yang besar atau hanya sekedar orang yang overrated.

Byrnes mengajukan pertanyaan sederhana, bagaimana seseorang yang membuat film kanonik seperti Citizen Kane, sebuah film yang berani dan inovatif, percaya diri dan modern, lantas kehilangan sentuhannya? Byrnes lantas mengajukan beberapa argumen, seperti pengaruh editing dan curgia bahwa proses editing inilah yang sebenarnya menjadikan beberapa filmnya seperti, The Lady from Shanghai dan Mr Arkadin adalah film yang buruk. Sementara film Touch of Evil terselamatkan melulu karena akting Welles sebagai orang yang korup.


Beberapa film lainnya seperti The Other Side of the Wind, The Dominici Affair, The Merchant of Venice  dan Don Quixote juga tak terselesaikan. Ada banyak alasan mengapa Orson Welles memutuskan menghentikan proses pembuatan film. Satu di antara yang paling dikenal adalah karena kebangkrutan. Pada akhirnya, setelah menonton filmnya, anda bisa menilai apakah peraih penghargaan-penghargaan seperti Palme d'Or dan Oscar layak dikenang atau tidak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar