Selasa, 09 Juni 2015

Bangkit Melawan Kekerasan Seksual

Bagaimana menyikapi kasus kejahatan seksual di Indonesia? Untuk pengantar baiknya kita memahami kondisi kasus kekerasan terhadap perempuan, yang berupakan bagian dari kejahatan seksual. Secara global satu dari tiga perempuan di dunia pernah mengalami kekerasan seksual. Data ini dirilis oleh PBB dan secara kasar itu setara dengan 35% jumlah perempuan di seluruh dunia. Menjadi sangat menakutkan karena pelaku kekerasan didominasi oleh orang terdekat. Beberapa studi juga menyatakan bahwa 73% hingga 78% perempuan mengalami kekerasan oleh pasangan mereka sendiri.

Ironisnya, banyak kasus kekerasan yang tidak pernah diberitakan. Lebih banyak lagi yang tidak dilaporkan. Menjadi semakin menyedihkan karena berdasar catatan tahunan Komnas Perempuan yang dirilis pada Maret 2014, terdapat 269.760 kasus kekerasan terhadap perempuan yang dilaporkan dan ditangani sepanjang tahun 2013.  65% kasus kekerasan dialami oleh istri, 21% kekerasan dalam pacaran, 7% kekerasan terjadi terhadap anak perempuan dan 6% kekerasan terjadi dalam relasi lain. Kekerasan fisik masih menempati urutan pertama, disusul kekerasan psikis dan kekerasan seksual di peringkat kedua dan ketiga.

Angka kasus kekerasan seksual menjadi paling rendah disebabkan karena kekerasan seksual dalam rumah tangga tidak dianggap sebagai kekerasan  dan merupakan yang paling sedikit dilaporkan. Namun dari tahun ke tahun, kasus kekerasan seksual terus mengalami peningkatan. Tapi apakah hal tersebut akan terus didiamkan? Kasus kekerasan seksual, meskipun secara statistik mayoritas terjadi di dalam rumah, juga terjadi di ranah publik dan mengalami peningkatan yang mengkhawatirkan, terutama di transportasi publik.

Banyak yang kemudian berpendapat bahwa kekerasan seksual ini terjadi karena kurangnya pemahaman publik tentang kepedulian sosial. Dalam hal ini usaha untuk memperlakukan perempuan sebagai individu yang merdeka dan berdaulat. Untuk itu muncul One Billion Rising (OBR), sebuah gerakan global menolak kekerasan terhadap perempuan. Gerakan ini secara serentak dilakukan di seluruh dunia, tiap hari Valentine tanggal 14 Februari, dengan menari bersama.

Di Indonesia gerakan ini telah dilakukan sejak 2013 dengan mengangkat isu berbeda. Pada 2013 OBR Indonesia bertajuk Strike, Rise, Dance. Sementara pada 2014 bertajuk Rise for Justice. Tahun ini OBR bertajuk Drum! Rise! Dance! Dan diselenggarakan di Taman Ismai Marzuki, Jakarta. Selain di Jakarta, One Billion Rising juga digelar di Bandung, Jogja dan Makasar. One Billion Rising Indonesia, tahun ini masih mengangkat tema penghentian kekerasan terhadap perempuan dengan fokus pada transportasi publik yang aman bagi perempuan.

Dalam situs resminya OBR mengungkapkan bahwa sistem masyarakat yang meletakkan perempuan di nomor dua setelah laki-laki merupakan penyebab utamanya. Nilai-nilai sosial yang diajarkan sejak kecil menjadikan perempuan tidak diberikan pilihan dan pemegang otoritas atas hidup dan tubuhnya sendiri. Hal ini berimbas pada kehidupan dan tubuh perempuan menjadi komoditi politik, sosial, ekonomi dan budaya yang dibangun di atas fondasi dengan menempatkan laki-laki sebagai pemegang otoritas tertinggi.

Hal itu menyebabkan relasi kuasa yang timpang lantas menjadi paradigma kolektif masyarakat. Paradigma kolektif yang sangat tidak setara ini kemudian diturunkan ke dalam hukum sehingga aturan-aturan lain yang ada tidak memiliki perspektif yang berpihak pada perempuan. Kartika Jahya, musisi dan aktivis perempuan, menyebutkan bahwa sejak bergabung dengan gerakan dan mendukung kampanye OBR, ia beberapa kali menemukan korban kejahatan seksual mengadu padanya.

Gerakan ini sedikit banyak telah membantu Kartika untuk memahami konteks sosial dan hukum masalah seksual di Indonesia. Sistem sosial dan hukum di Indonesia yang masih jauh dari prinsip parsialitas, perempuan seperti tidak memiliki harapan untuk memperoleh keadilan. Dari aspek hukum, alih-alih membela dan melindungi korban, penanganan kasus-kasus kekerasan terutama kekerasan seksual seringkali justru sangat menyudutkan korban.

Selain tentang kejahatan seksual, OBR juga mengkampanyekan tentang gerakan untuk mendukung perlindungan terhadap kaum rentan seperti anak-anak dan LGBT. Karena seringkali kelompok ini yang paling sering mengalami kekerasan di antara masyarakat. Malah bayak yang kemudian mengafirmasi atau memaklumi bahwa kaum LGBT boleh diperlakukan kasar karena mereka menentang kodrat alami.

Selain itu masyarakat juga kerap mendapatkan paparan buruk dari pernyataan-pernyataan para pejabat publik mengenai kasus kekerasan seksual. Di sini tak jarang mereka menyalahkan korban. Bahwa ini perkara pakaian yang dikenakan korban, sikap dan perilaku korban atau soal jam malam. Korban dilemahkan, korban disalahkan. Hal inilah yang kemudian membuat korban kerap enggan untuk melapor dan memperjuangkan hak dan keadilan mereka. Sebab sistem yang berlaku sangat tidak adil terhadap perempuan korban kekerasan.


OBR Tidak hanya dilakukan di Indonesia melainkan juga di seluruh dunia. Tujuannya jelas untuk melawan kekerasan seksual terhadap perempuan dan kaum rentan. Kesadaran ini disebarkan dan ditularkan melalui gerakan populer seperti menari bersama. Di sela-sela gerakan itu para aktivis OBR juga mengedukasi masyarakat tentang pentingnya perlindungan dan kesetaraan terhadap kaum perempuan. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar