Senin, 08 Juni 2015

Ngerinya Anti Kretek

Pada Minggu 7 Juni kemarin, saya menghadiri sebuah diskusi terbuka tentang usaha meratifikasi FCTC. FCTC adalah Framework Convention on Tobacco Control. Sebagai orang yang tidak merokok, saya kurang nyaman di antara para perokok dan tidak suka rokok. Oleh karena itu acara ini bagi saya menarik. Karena ia bicara tentang bagaimana produk tembakau semestinya dikendalikan. Mungkin mereka akan bisa sedikit membahas bagaimana sebuah regulasi bisa dibangun untuk memberi jalan tengah antara perokok dan non perokok.

Tapi ada yang janggal, tidak, lebih tepatnya menjadi sebuah monolog pengadilan yang buat saya agak memuakan. Apalagi ketika moderator acara itu Tulus Abadi, dari YLKI, membuka diskusi dengan penghakiman terhadap para perokok. Tulus mengatakan bahwa para perokok mesti dibedakan dalam penerima Jaminan Sosial Kesehatan. Lebih daripada itu ia menyebut orang miskin yang merokok, semestinya tidak boleh disebut miskin, karena mampu membeli rokok.

Saya terkejut, bukan hanya karena cara berpikirnya yang demikian menggelikan, tapi bagaimana ia melakukan rasionalisasi terhadap apa yang ia ucapkan. Tulus mengatakan bahwa kalo orang miskin terus-terusan dijamin kesehatannya oleh pemerintah, maka dana kesehatan bisa jebol. Lebih daripada itu, dalam forum itu, Tulus meminta kepada para dokter untuk mejadi garda depan untuk mengendalikan hal ini.

Forum itu lebih mirip penghakiman kepada para perokok ketimbang melakukan rasionalisasi terhadap ratifikasi FCTC. Tulus dalam hal ini, membuat saya bergidik ngeri, bagaimana ia meminta pemerintah melakukan pengecualian jaminan sosial kesehatan hanya karena seseorang merokok dan tidak. Lebih daripada itu, ia menyebut seseorang miskin dan tidak miskin hanya berdasar kemampuan membeli rokok.

Jika logika serupa diterapkan, semestinya tidak hanya orang miskin perokok saja yang harus dibedakan dalam penerima santunan BPJS. Jika rokok dianggap tidak sehat, maka bagaimana dengan mi instan? Bukankah selama ini mi instan dianggap berbahaya dan memiliki kandungan kurang baik jika dikonsumsi terus menerus, maka Tulus juga harus mendukung agar orang miskin yang makan mi instan harus dibedakan pelayanannya dari BPJS.

Dalam forum itu dihadirkan beberapa panelis, seperti Dr Hakim Sorimuda Pohan penasihat Komnas Pengendalian tembakau, Dr. Theresia Sandra Diah Ratih dari Kasubdit Pengendalian Penyakit Kronis dan Degeneratif Kementerian kesehatan, dan Jalal yang disebut sebagai aktivis pengendalian tembakau. Forum itu lebih layak disebut pengadilan bagi para perokok dan petani tembakau, ketimbang usaha meratifikasi FCTC.

Dalam forum itu Dr Hakim Sorimuda Pohan menyebut kebiasaan buruk merokok sebagai sebuah budaya yang buruk. Ia lantas memberikan analogi budaya Matador di Spanyol, yang menurutnya barbar dan telah dihentikan. Dr Hakim Sorimuda Pohan secara tersirat menyampaikan bahwa kretek, yang merupakan produk budaya asli Indonesia, sebaiknya dihilangkan saja. “Pancasila kan menyebut Kemanusiaan yang adil dan beradab, bukan keadilan yang berbudaya,” katanya.

Apakah tolak ukur keberadaban itu? Apakah dengan meniadakan matador Spanyol menjadi sebuah bangsa beradab? Lantas bagaimana Dr Hakim Sorimuda Pohan mengukur sikap Spanyol pada bangsa Catalan dan Basques? Atau mungkin bagi beliau Matador itu lebih penting dihilangkan sebagai simbol perdaban ketimbang memberikan keadilan bagi bangsa Catalan dan Basques.

Terlalu banyak fallacy yang diberikan Dr Hakim Sorimuda Pohan, bagaimana ia mengatakan bahwa keselamatan bangsa ini terancam kecanduan atas nikotin. Bagaimana mengukur klaim ini? Ia mengatakan bahwa kematian akibat rokok lebih banyak dibandingkan korban perang dunia I dan II. Saya jadi ingat sosok Taufiq Ismail, yang pernah mengatakan bahaya ”nikotinisme” yang melampaui gabungan Naziisme dan komunisme. ”Saat ini rata-rata kematian akibat nikotin di dunia mencapai empat juta jiwa per tahun, sementara Naziisme tahun 1933-1945 dan komunisme dunia hanya 3,7 juta jiwa per tahun.”

Bagaimana mengukur kematian itu? Apakah baik Dr Hakim Sorimuda Pohan dan Taufiq Ismail pernah menghitung kematian yang terjadi atas nama agama? Atau bagaimana dengan kematian akibat kecelakaan lalu lintas jalan? Bagaimana dengan kematian akibat penyalah gunaan senjata? Juga kematian akibat penyakit degeneratif dari pola makan yang tidak sehat dan berasal dari makanan cepat saji juga minuman bersoda? Sudahkah mereka melakukan penghitungan?

Dalam forum itu Dr Hakim Sorimuda Pohan dan Jalal memberikan sebuah analisis menarik tentang produksi tembakau Indonesia. Intinya mereka mengatakan bahwa FCTC tidak akan mempengaruhi produksi tembakau di Indonesia. Keduanya mencontohkan Cina, Brazil dan India sebagai negara yang telah meratifikasi FCTC namun produksi tembakaunya tetap tinggi. Tapi keduanya gagal menjelaskan, apakah produksi tembakau hasil dari Cina, Brazil dan India merupakan hasil dari pertanian tradisional ataukah produksi masal industri tembakau?

Saya ingat ketika saya datang ke Legoksari, Desa Lamuk, Kecamatan Tlogomulya, Temanggung, tempat Tembakau terbaik di dunia dihasilkan. Nama tembakau itu adalah Tembakau Srinthil, satu jenis tembakau khusus dihasilkan dari daun paling atas pada tanaman tembakau. Biasanya dipetik paling akhir. Sewaktu masih di pohon, tak ada yang bisa mengetahui lembaran daun itu akan menjadi Srinthil. Menurut Subakir,  Kepala Desa Legoksari, tak ada yang bisa memastikan kapan dan bagaimana tembakau Srinthil dihasilkan. “Bahkan peneliti dari Amerika dan Cina sudah mencoba, tapi tak bisa. Hanya bisa di Temanggung,” katanya.

Tembakau Srinthil memiliki aroma khas, harumnya mirip aroma buah salak yang matang. Daunnya berbentuk melengkung hampir keriting dan susah dirajang. Agak lembap, tetapi tidak basah. Warnanya hitam pekat seperti disiram madu. Kadar nikotinnya tinggi, berkisar 3% – 15%, persentase cukup tinggi untuk tembakau. Inilah yang menjadikan Srinthil incaran pemburu tembakau berkelas.
Srinthil bukanlah jenis tembakau, melainkan variasi khusus dari tembakau biasa yang tumbuh secara abnormal. Secara kualitas Srinthil merupakan tembakau grade F, G, H, dan I, dengan kadar nikotin paling tinggi. Riset Balai Penelitian Tanaman Tembakau dan Serat di Malang, Jawa Timur, menyimpulkan kondisi alam, cuaca, dan struktur tanah di Temanggung memang memberikan panen tembakau dengan kualitas terbagus di dunia.

Mau tidak mau saya dibuat khawatir oleh para Anti Kretek. Mereka tidak hanya abai terhadap fakta-fakta unik lapangan yang tidak bisa dipukul rata. Mereka juga ngotot bahwa FCTC tidak akan merugikan petani tembakau, tapi pada sisi lain juga melakukan usaha penggiringan opini bahwa industri rokok demikian berkuasa. Dari sebuah portal media online saya membaca bahwa Sekjen Gabungan Perserikatan Perusahaan Rokok Indonesia (GAPPRI), Hasan Aoni Aziz, seyogyanya diundang untuk jadi pembanding, namun dia kemudian tidak diberikan kesempatan bicara. Malah memberikan kesempatan seorang wartawan kompas untuk bicara soal bahaya rokok. Ada apa in?

Baik Dr Hakim Sorimuda Pohan, Tulus Abadi dan juga Jalal berulang kali mengatakan bahwa ratifikasi FCTC tidak akan membuat petani tembakau tersisih. Jalal sekali lagi dengan datanya mengatakan bahwa produksi tembakau di Indonesia menurun, tapi di sisi lain ia mengatakan bahwa lahan tembakau semakin luas bahkan melakukan deforestasi. Saya jadi ingin bertanya, seberapa luas deforestasi yang dilakukan pertanian tembakau dibanding dengan industri sawit. Atau bagaimana perjuangan Tulus terhadap penyakit yang disebabkan oleh minyak goreng.


2 komentar:

  1. tulus tulus ora tau lulus bee tom

    BalasHapus
  2. Senang membaca tulisan anda.. salam kenal..
    Wid..

    BalasHapus