<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-983291090388480151</id><updated>2012-02-13T17:23:27.556+07:00</updated><category term='emak'/><category term='pers mahasiswa'/><category term='youth culture'/><category term='iseng'/><category term='Gymnastiar'/><category term='fotografi'/><category term='buruh migran'/><category term='Charles Baudelaire'/><category term='sajak'/><category term='Mamadd'/><category term='refleksi'/><category term='lagu-lagu'/><category term='soliloqi'/><category term='karya'/><category term='prosa'/><category term='teman'/><category term='liberalisme'/><category term='hari ibu'/><category term='biografi'/><category term='wanita'/><category term='Kartosuwiryo'/><category term='Disabilitas dan Pandangan Masyarakat'/><category term='ucapan'/><category term='purba'/><category term='fasis'/><category term='musik'/><category term='profil'/><category term='surat'/><category term='memoar'/><category term='sub culture'/><category term='wiji thukul'/><category term='pengantar majalah'/><category term='hari aksara'/><category term='victor hugo'/><category term='V for Vendetta'/><category term='ulang tahun'/><category term='makanan'/><category term='BHP'/><category term='sejarah'/><category term='skateboard'/><category term='Seno Gumira Ajidarma'/><category term='perkenalan'/><category term='pemikiran'/><category term='bincang bincang'/><category term='pikiran'/><category term='jurnalisme'/><category term='kemih'/><category term='tuhan'/><category term='disabilitas'/><category term='puisi'/><category term='Jakarta'/><category term='kematian'/><category term='kalah'/><category term='alay'/><category term='kritik'/><category term='kamera'/><category term='idul fitri'/><category term='Pramoedya Ananta Toer'/><category term='kutipan'/><category term='teater'/><category term='gumam'/><category term='konspirasi malam'/><category term='esai'/><category term='kata-kata'/><category term='lebaran'/><category term='tegalboto'/><category term='buku'/><category term='PKI'/><category term='kredo'/><category term='cerpen'/><category term='mudik'/><category term='tokoh'/><category term='sahabat baik'/><category term='sarkasme'/><category term='pelanggaran ham'/><category term='Jim Morrison'/><category term='resensi'/><category term='kartunet'/><category term='junk food'/><category term='awal'/><category term='Umbu Landu Paranggi'/><category term='film'/><category term='gerakan'/><category term='obituari'/><category term='anak muda'/><category term='laporan'/><category term='obsesi'/><category term='R'/><category term='rasisme'/><category term='sastra'/><title type='text'>Terumbu Karya</title><subtitle type='html'>Hidup adalah keberanian menjadi kita</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://terumbukarya.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/983291090388480151/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://terumbukarya.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/983291090388480151/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>Arman Dhani Bustomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09710999134909778313</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-x0-TY8scle4/TsIUelg00YI/AAAAAAAAAXY/BatguPLze9Q/s220/309682_2423314513268_1563636231_2548318_1025409700_n.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>197</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-983291090388480151.post-8218147560121745389</id><published>2012-02-13T17:22:00.002+07:00</published><updated>2012-02-13T17:23:27.571+07:00</updated><title type='text'>Cerita Dari Desa Saya</title><content type='html'>&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Bayangkan sebuah negara tanpa anak-anak. Para warganya hanyalah orang tua yang keras kepala, anak muda yang egois dan sekumpulan manusia dewasa yang munafik. Meminjam definisi Herbert Marcuse, masyarakat paska industri yang terlalu satu dimensi. Negara yang melupakan cara bersenang-senang dengan jujur dan apa adanya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Buat saya negara semacam itu adalah negara yang terlalu tengik untuk ditinggali. Terlampau menakutkan bagi saya yang mencintai fantasi, mimpi dan kekonyolan. Saya selalu percaya sebuah negara yang baik dapat dilihat dari cara anak-anak mereka bermain. Kesegaran dan keberagaman permainan tradisionil nir teknologi, membuat anak-anak menjadi tolak ukur kemajuan sebuah bangsa.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Saat saya kecil momen bermain adalah momen yang jauh membuat saya kreatif daripada membaca, yang meski merupakan kegemaran saya, cenderung membuat saya asosial. Tek ketekan (bahasa madura untuk petak umpet) merupakan permaianan yang tak pernah bosan saya mainkan. Dalam permainan itu saya harus menggabungkan strategi, stamina dan diplomasi dengan baik.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Tek ketekan sepertihalnya petak umpet membuat saya harus cepat mencari tempat persembunyian dalam waktu 10 detik. Tak jarang saya harus berlari, berkelit memperebutkan tempat, dan membagi lokasi pada rekan yang terlalu mudah ditemukan. Saya selalu tak tega melihat teman yang mudah ditemukan, meski saya juga tak jago-jago amat bersembunyi. Singkatnya dalam permainan itu saya dilatih untuk bersinergi antara tubuh, pikiran dan perasaan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Itu hanya sebuah fragmen kenangan saat saya kecil. Kini mencari anak-anak bermain tek ketekan seperti mencari Godot. Keberadaan mereka sudah hilang dalam keramaian dunia digital. Playstation dan personal computer sudah merebut ruang eksistensi anak-anak di desa saya. Ya, desa dimana saya kini tinggal dan lahir telah berubah menjadi kebanyakan daerah sub urban di Indonesia. Di jejali teknologi prematur yang belum tuntas dipahami pemanfaatannya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Semua permainan tradisional yang saya ketahui diperkenalkan di desa. Kebanyakan diajarkan oleh teman-teman yang sedikit lebih tua. Saat saya masih TK yang mengajari adalah teman-teman usia SD. Dan seterusnya. Relasi semacam ini menimbulkan rasa hormat dan sungkan. Karena mereka yang mengajari permainan tradisional itu selalu tampak keren dan luarbiasa.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Namun saat saya pulang ke desa Kademangan, Bondowoso, Jawa Timur. Semua relasi itu seperti hilang. Tidak ada lagi anak-anak yang bermain tek ketekan sambil menunggu waktu mengaji. Tidak ada lagi anak-anak yang berkejaran bermain benteng sambil basah berpeluh seusai sekolah. Semua lekuk kegiatan yang akrab saya temui kala kecil sudah hilang. Jalanan kampung saya sepi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Anak-anak kehilangan kemampuan mereka berinteraksi dengan sesama. dengan duduk manis seperti patung dihadapan televisi yang memutar Naruto. Atau hilang kontak dengan dunia nyata dan asyik bermain PC.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Saya dipaksa menelan kenyataan bahwa desa saya telah berubah menjadi dunia asing. Merasa kalah saya pun mengamini bahwa perubahan tak bisa dilawan. Globalisasi media dan teknologi sudah merampok kenangan masa kecil saya. Permainan tradisional sudah didesak dan memunah karena kalah. Diam diam saya menyerah kalah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Hingga pada satu waktu seorang kawan mengajak saya ke sebuah daerah di Jember. Desa Ledokombo, Kecamatan Ledokombo, Kabupaten Jember, Jawa Timur. Sebuah kecamatan dengan penduduk sekitar 56.000 jiwa. Belakangan saya ketahui bahwa sebagian besar penduduknya bekerja sebagai buruh tani. Sebagian lagi berjibaku di sector informal seperti pedagang dan buruh perusahaan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Awalnya saya enggan untuk datang ke Ledokombo. Selain karena lokasinya yang cukup terpencil, desa itu dikenal sebagai gudang masalah. Kemiskinan menjadikan desa itu seperti dikutuk. Mulai dari tingkat buta huruf yang tinggi, tingkat pengangguran kaum muda yang tinggi, dan sarang preman. Dalam banyak hal desa itu seperti gudang gali yang seharusnya dihapus dari peradaban Jember yang beranjak maju.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Belum lagi stigma yang melekat pada penduduk Ledokombo yang sebagian besar Madura. Bahwa mereka malas, egois, susah diajak maju, sok tau, emosional dan sebagainya. Kerap kali suratkabar di Jember memberitakan kasus kekerasan yang diawali oleh salah paham. Buat saya saat itu mendatangi Ledokombo adalah mendatangi kesialan itu sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Namun di desa itu saya dibuat terkejut. Disana saya seperti menemukan kembali desa saya yang hilang. Perasaan dejavu menghampiri. Saya melihat anak-anak bisa bermain bebas, mengejar layangan, beradu gundu, dan memainkan egrang. Semua dilakukan sambil tertawa lepas. Sesaat saya terpaku dalam diam. Desa saya yang hilang telah kembali.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tanoker, bahasa Madura untuk kepompong, adalah kelompok yang bertanggung jawab atas kegiatan itu. Mereka dengan semangat kebersamaan, membangun lagi identitas desa Ledokombo yang selama ini dikenal sebagai dusun tertinggal, kampung buruh, dan dukuh miskin. Menjadi sebuah desa yang memiliki kebanggan kolektif.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pusat kegiatan Tanoker dibangun disebuah tanah lapang, ada perigi yang mengalirkan air jernih di dua sisinya. Sebuah danau buatan menganga ditengah tanah lapang itu. Beberapa pepohonan melindungi tanah itu dengan rindang bayangannya. Sebuah lokasi sempurna untuk memejalkan diri dan bermain sepuasnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tanah itu adalah milik Suporahardjo dan Farha Ciciek. Duo pasangan brilian yang telah mengangkat derajat desa Ledokombo dimata dunia. Ya, dimata dunia. Sudah puluhan kali peneliti dan mahasiswa asing datang ke Ledokombo untuk mengagumi semangat perubahan yang mereka bawa. Desa gali yang dikucilkan peradaban ini sudah bangkit meraih kehormatannya sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lewat permainan tradisional Tanoker Ledokombo sedikit demi sedikit mengajarkan semangat kebersamaan. Atau dalam bahasa pendirinya, “Sebuah &amp;nbsp;tempat dimana pertemuan berbagai kalangan dari berbagai latar belakang,” bukan lagi individu. ”yang dikelola &amp;nbsp;untuk saling menguatkan demi menciptakan perdamaian, keadilan &amp;nbsp;dan kesejahteraan,” utopis? Tapi nyatanya Ledokombo tegak dan menunjukan eksistensinya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Cita-cita Suporahardjo dan Farha Ciciek sederhana. Mereka ingin membangun kebanggaan para warga desa Ledokombo atas desa dimana mereka tinggal. Khususnya untuk anak-anak, yang dalam bahasa mereka “generasi penerus bangsa, harapan &amp;nbsp;dunia dimanapun mereka berada.” Anak-anak bertanggung jawab pada masa depan negara. Dan kita, para orang dewasa, berhutang pengetahuan untuk dibagi pada mereka.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lewat Tanoker Ledokomo masyarakat diajak untuk berproses dengan kesungguhan untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik. Melalui berbagai kegiatan kreatif yang dimotori anak-anak. Di kawasan berbukit ini sangat terasa bahwa masyarakat memiliki potensi dan hasrat untuk berubah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dengan semboyan “bersahabat, bergembira, belajar, berkarya”. Tanoker menginvasi pikiran putra-putri buruh migran (TKW/TKI), buruh tani, tukang ojek, supir, pedagang kecil, guru, pekerja rumahtangga dan pegawai negeri/swasta. Untuk berani bermimpi. Berani berkarya. Dan berani untuk melakukan perubahan sederhana dengan cara bermain.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Siapa bilang sebuah perubahan harus dimulai dari pusat kota? Berbekal kemandirian dan keinginan untuk berdaulat. Sebuah negara melakukan gerilya dan peperangan dipelosok desa, puncak gunung atau kelam hutan. Ledokombo juga demikian.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Berbekal pemahaman potensi desa yang membiliki banyak tumbuhan menjulang seperti kayu sengon dan bambu. Tanoker Ledokombo lantas memanfaatkan sumber daya yang ada untuk bermain. Anak-anal diajarkan memainkan egrang. Sebuah permainan yang mustahil ditemui dikota-kota besar tanpa sebuah rekayasa sebelumnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ledokombo didera demam egrang karena Tanoker. Awalnya desa itu menolak, takut, asing dan ragu pada cita-cita aneh ini. “Memulai perubahan dari permainan egrang? Ide gila apa ini,” kata sebagian besar warga Ledokombo. Namun para pendiri dan pegiat Tanoker tak mau jatuh pada sebuah pikiran picik. Mereka tetap mengajarkan dan menyerbar luaskan permainan egrang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebuah kayu yang menjadi alat utama permainan egrang tak bisa dikuasai dalam sesaat. Butuh mentor untuk kemudian mengajarkan, memandu dan mengarahkan gerak diri. Egrang membuat pemainnya untuk selalu hati-hati dan bersikap awas. Anak-anak di Tanoker melakukan itu semua. Interaksi personal yang dilakukan atas rasa cinta terhadap sesama.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Namun tak berhenti disana. Anak-anak mengembangkan permainan egrang ke batas jauh pemikiran mereka. Sebuah alur kreatif yang lahir dari kerja sosial nyata. Bukan ciptaan artificial intelligence komputer manapun. Anak-anak desa jauh lebih kreatif sebagai manusia karena belajar dari alam. Bukan kecerdasan buatan yang ditanamkan tenologi buatan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Anak-anak itu belajar sendiri mengenai arti penting kerjasama. Sikap patriot saat mengakui kekalahan. Kebesaran hati untuk mau belajar dari orang lain. Serta penghargaan terhadap alam. Nilai-nilai yang mungkin kini sudah usang, hilang dan punah. Dari permainan sederhana semacam egrang. Anak-anak desa Ledokombo melakukan bildungsprozesse sebagai sebuah keseharian.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Melalui egrang tadi anak-anak ini meredam ego diri untuk tak kehilangan kendali. Tertatih tatih memantapkan diri diujung kayu dan mulai melangkah diatas kayu egrang. Belajar untuk dapat berdiri dan fokus pada apa yang mereka lakukan. Semua dilakukan hati-hati. Karena saat mereka kehilangan kendali diri. Saat itulah mereka akan jatuh dari egrang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tanoker lantas mengadakan “Egrang City Tour” yaitu pentas/lomba/pelatihan egrang dan penjualan produk-produk Ledokombo di Jember. Sinergi kebersamaan antara anak-anak dan orang tua, masyarakat dan pemerintah, serta segala entitas yang menginginkan Ledokombo untuk maju. Tanoker seolah menggenapi pepatah jepang “Sora ha tsunagatteiru node (kimochi ha ) tsunagaru to omoimasu (Langit itu bersambungan/tidak terpisah, maka perasaan juga bisa tersambung).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sedikit demi sedikit muncul kebanggaan atas desa Ledokombo. Anak-anak tidak lagi berkeliaran dijalanan berkegiatan tak jelas. Orang tua yang merutuki nasib miskin terpacu untuk melakukan perubahan positif. Berbagai unit kerja lahir dari semangat Tanoker. Kepompong yang lahir dari ulat buruk rupa menjadi kupu-kupu indah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Meski saya tak lahir dan besar di Ledokombo, tetapi ada rasa kagum yang bergetar dihati saya. Meyakini bahwa perubahan besar tak harus dari hal hal yang besar. Namun tindakan sederhana yang dilakukan konsisten. Seperti membiarkan anak-anak untuk bermain dan melahirkan kreatifitas tanpa batas. Berani bermimpi dan bertanggung jawab atas keinginannya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Saya selalu percaya, sebuah bangsa yang hebat, dibangun dari anak-anak yang memiliki mimpi liar. Dan mereka diajarkan untuk berani mengejar dan mengejawantahkan mimpi itu dalam bentuk nyata. Indonesia butuh lebih banyak anak-anak yang berlari bebas di alam. Bukan duduk diam dikamar dan tenggelam dalam dunia semu digital. Itulah kabar dari desa dimana saya kini tinggal. Apa cerita desa anda?&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: 12pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/983291090388480151-8218147560121745389?l=terumbukarya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://terumbukarya.blogspot.com/feeds/8218147560121745389/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://terumbukarya.blogspot.com/2012/02/cerita-dari-desa-saya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/983291090388480151/posts/default/8218147560121745389'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/983291090388480151/posts/default/8218147560121745389'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://terumbukarya.blogspot.com/2012/02/cerita-dari-desa-saya.html' title='Cerita Dari Desa Saya'/><author><name>Arman Dhani Bustomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09710999134909778313</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-x0-TY8scle4/TsIUelg00YI/AAAAAAAAAXY/BatguPLze9Q/s220/309682_2423314513268_1563636231_2548318_1025409700_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-983291090388480151.post-5603652122794172347</id><published>2012-02-13T15:07:00.002+07:00</published><updated>2012-02-13T15:08:01.098+07:00</updated><title type='text'>Beau Geste</title><content type='html'>&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Aku&lt;/span&gt;t&lt;span lang="IN"&gt;ak tahu apayang menarik dibahas pada malam ini. Sebuah renungan pendek? Mungkin, tapi saatini aku hanya ingin menulis. Menulis apa saja, karena hanya itu yang kubisa, takmahir pula. Namun tetap saja, aku menyukai kegiatan menulis. Bukan menulissecara harfiah, &lt;/span&gt;tapi&lt;span lang="IN"&gt; menuliskan kata-kata ini menggunakan komputer. Mungkin hanya sekedarsenang mendengar tuts keyboard komputer diketik&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Suaranya tuts yang baradu itu seperti simfoni yang melankolis sekaligustegas. Tentang bunyi-bunyian yang tak mau tunduk dengan sekitarnya. Sepertisebuah kegelisahan atas apa yang sudah mapan. Sesuatu yang telah menjadikesepakatan bersama. Bahwa setiap malam keheningan adalah postulat yang akanikut serta.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Tetapi bukankah segalayang disepakati itu cenderung membosankan? Sesuatu yang menunggu untuk dirubah,dihancurkan dan ditata ulang. Seperti negara yang terlampau korup, pemimpinyang dungu lagi tengik dan masyarakat yang terlalu bebal. Malam seperti kaliini seringkali melahirkan keinginan-keinginan revolusioner, yang akan menguapseperti kentut di keesokan paginya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Suara tuts yang beadudengan jari-jari itu seperti melenakan. Sebuah &lt;i&gt;beau geste&lt;/i&gt; yangsebenarnya hanya sebuah kehampaan dari ketiadaan pekerjaan. Tapi bukankah itutak penting? Saat aku menulis ini, ada sebuah perasaan yang mengatakan bahwatulisan ini akan menjadi penting. Atau setidaknya memiliki manfaat. Namunsampai saat ini aku masih belum tau apa yang akan kutulis.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sementara jari-jarikuterus menulis kata-kata yang nir makna. Ingatan masa lalu berkelebatan serupa &lt;i&gt;blietzkrieg&lt;/i&gt;.Menghantarkan fragmen-fragmen kenangan yang mau tak mau datang. Seperti candatawa di sebuah warung kopi, perjalanan dalam sebuah kereta api, kutipan darisebuah buku yang tak seberapa terkenal dan perdebatan panjang yang disertaikemarahan. Semua datang silih berganti tanpa bisa dikendalikan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Betapa terkutuknyasebuah kenangan bisa jadi tergantung perasaan yang dibawanya. Seperti sepotongsajak cinta tentang senja yang turun perlahan. Atau kemarahan atas sebuahpengkhianatan yang disertai pemakluman. Dan kenangan itu datang tanpa sebuahnarasi yang runut. Menghasilkan badai perasaan dalam diriku. Seperti sengaumarah yang tertahan di ujung hidung saat bersin. Ketersiksaan atas dirisendiri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Hujan diluar takmembuatku berhenti menulis. Padahal rinai hujan sedang memukul-mukul jendela dikegelapan. Membawa imaji tentang jari-jari mungil peri yang sedang penunggupenyelesaian harapan. Tapi aku memilih acuh dengan semua itu. Karenamempercayai peri-peri adalah keniscayaan pada subjek transenden selain tuhan.Itu merupakan langkah awal penyekutuan terhadap tuhan. Bukankah kau dan aku takmau berakhir dalam jilatan api neraka yang kekal?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Bunyi tik tok tik tektrot itu semakin merdu, mengandaikan diri sebagai Mozart yang tuli dalam prosespenciptaan mahakaryanya. Bahwa dalam segala anomali ada sebuah keindahan jikakita cukup sabar untuk menikmatinya pelan-pelan. Aku semakin resah. Karenabelum ada kesadaran untuk apa aku menulis ini. Untuk apa aku menyusun kata-kataini. Sementara keresahan semakin kalut. Ingatan terus berkuasa dan menarik akuke masa lalu. Masa dimana semua kata-kata ini belum tercipta.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Petir menyambar dikegelapan malam saat aku mengingat tahun 2007 disebuah pondok kecil di kampus.Saat pertama aku belajar mengenai kegairahan menulis dan kenikmatan membaca.Dimana segala ribut pencarian eksistensi diri dilebur menjadi sebuah semangatkolektif kebersamaan. Manusia-manusia liyan yang bergerombol mencari maknahidup dari budaya literasi. Kami yang merayakan perbedaan sebagai sebuahkeharusan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Umpatan, makian,kritik, dan semangat silih berganti bergaung dalam proses pembentukan watak.Bahwa solidaritas dibangun dari tempat tidurmu dan kesadaran dunia di luar sanaadalah dunia yang kejam. Dunia yang gagal memberikan keharmonisan dankemanusiaan. Luruh sebagai kenyataan yang disebut kedewasaan dan realitashidup. manusia memangsa manusia sebagai upaya mempertahankan eksistensi. Sebuahdunia yang menakutkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Lalu ingatan denganpongahnya meloncat kesebuah kewaktuan yang lain. Di saat merapi berontak danmengeluarkan segala dendamnya kepada manusia. Debu putih dan aliran lava dinginmenelan aliran sungai yang membelah kota luar biasa itu. Tapi semua itu tentusaja tak penting. Karena apalah arti sebuah Alengkadipura yang gegap gempitatanpa adanya Dewi Sinta?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Ingatan membawamukepada sebuah kenangan pada sebuah pakaian warna coklat dengan bordir kata-katayang sudah luruh. Tentang senyum paling manis di pulau jawa yang merebus segalakata-kata jadi ingatan laten. Mengenai perjumpaan pembuka. Mengenaiperbincangan yang pendek. Mengenai jeruk hangat dengan sedikit gula. Mengenaimata yang kau kira jujur. Lalu kau merasakan seribuan jarum-jarum pendekmenikam pelan. Sangat pelan. Hingga kau lupa caranya menjerit.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Astaga betapa perihnyaluka itu hingga tak sadar kopi di samping keyboardmu tumpah dan membawa lukananar panas. Namun kau masih belum sadar. Karena perih yang kau rasakan bukanditangan yang sedang melepuh. Tapi dalam hatimu yang dipenuhi kebohongan dankebencian. Sehingga butuh waktu lama sampai kata-kata ini membentuk paragrafuntuk membuatmu sadar bahwa masa depan masih belum terbentuk pasti.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Aku lantas bertanyakepada ingatan mengenai dirinya. Bagaimana ia bisa bertahan dengan membawabanyak kenangan. Bagaimana ia masih bisa menjadi dirinya sementara berbagaiperistiwa bekelindan serupa jalinan benalu. “Manusia cenderung hidup di masa lalu.Sedang aku adalah apa yang terjadi saat ini. Kenangan hanya sebuah benda yangkubawa. Sementara manusia menganggap kenangan sebagai realitas yang masih ada.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Lalu ingatan duduk disampingku. Membawakanku kopi lain yang masih hangat dengan sepiring pisanggoreng yang mengepul. Menemaniku menuliskan kata-kata lain yang lebih pentingdari sebuah naskah tanpa tujuan yang sedari tadi kususun. “Ada baiknya kaumenyusun masa depan,” kata ingatan. “Bagaimana jika kita mengingat masa lalu?”kataku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Ingatan menghembuskannafas panjang. “Manusia,” katanya. “Tak pernah bisa belajar dari sejarah.” Tapiaku masih tetap menunggu. Menunggu ingatan untuk kembali bercerita lebihbanyak. Ia masih diam dan membalut tanganku yang melepuh karena kopi yangtumpah. Sementara hatiku masih berarah dengan ribuan jarum kecil yang semakinmenusuk.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Ingatan tetap diam.Akhirnya aku memutuskan untuk terus menulis. Merangkai sendiri barisankata-kata yang masih kuharapkan kelak memiliki manfaat. Tapi tetap saja bahwakata-kata itu terjalin seperti perbincangan basa basi. Sebuah perkenalan yangcanggung dan puisi yang gagal. Ingatan masih tetap diam. Ia lantas mengambilsepotong pisang goreng dan mengunyah pelan-pelan dalam mulutnya yang tanpagigi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/983291090388480151-5603652122794172347?l=terumbukarya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://terumbukarya.blogspot.com/feeds/5603652122794172347/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://terumbukarya.blogspot.com/2012/02/beau-geste.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/983291090388480151/posts/default/5603652122794172347'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/983291090388480151/posts/default/5603652122794172347'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://terumbukarya.blogspot.com/2012/02/beau-geste.html' title='Beau Geste'/><author><name>Arman Dhani Bustomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09710999134909778313</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-x0-TY8scle4/TsIUelg00YI/AAAAAAAAAXY/BatguPLze9Q/s220/309682_2423314513268_1563636231_2548318_1025409700_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-983291090388480151.post-7764971645125990444</id><published>2012-02-09T14:13:00.000+07:00</published><updated>2012-02-09T14:13:04.764+07:00</updated><title type='text'>Jarak</title><content type='html'>&lt;br /&gt;ada ragu yang gegas&lt;br /&gt;yang menunggu jawab&lt;br /&gt;atas terik matahari sore di atas aspal&lt;br /&gt;di balik deru asap bus kota&lt;br /&gt;jalan macet pukul tiga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;perihal jarak yang jauh&lt;br /&gt;pesan yang lambat&lt;br /&gt;kabar yang hilang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kukira rindu hanya perihal waktu&lt;br /&gt;yang menunggu dibayar lunas&lt;br /&gt;beserta bunga dan pokoknya&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/983291090388480151-7764971645125990444?l=terumbukarya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://terumbukarya.blogspot.com/feeds/7764971645125990444/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://terumbukarya.blogspot.com/2012/02/jarak.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/983291090388480151/posts/default/7764971645125990444'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/983291090388480151/posts/default/7764971645125990444'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://terumbukarya.blogspot.com/2012/02/jarak.html' title='Jarak'/><author><name>Arman Dhani Bustomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09710999134909778313</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-x0-TY8scle4/TsIUelg00YI/AAAAAAAAAXY/BatguPLze9Q/s220/309682_2423314513268_1563636231_2548318_1025409700_n.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-983291090388480151.post-5825913010762381077</id><published>2012-02-09T13:35:00.001+07:00</published><updated>2012-02-09T13:35:46.823+07:00</updated><title type='text'>Monumen Kebodohan</title><content type='html'>&lt;i&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;~ Saat hati sedang sakit. Ada baiknya diam. Karena bergegas adalah kebodohan&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Pada dasarnya kita, manusia, adalah mahluk a sosial, arogan, egois, tamak, keras kepala dan penakut. Kita membutuhkan orang lain untuk sekedar rasa aman. Seseorang yang bisa menggenapkan kita. Alegori Robinson Cruise yang disusun oleh Daniel Defoe adalah sebuah guyonan komikal yang bohong belaka. Tak pernah ada manusia yang benar-benar sendiri. Bahkan dalam kesendiriannya ia sebenarnya sedang bersama sesuatu. Geist yang tersembunyi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Homo Sapiens tak diciptakan untuk menjadi &lt;i&gt;lone hunter&lt;/i&gt;. Mereka adalah mahluk komunal yang butuh orang lain untuk bekerja sama. Bahkan dalam mitologi agama, Adam, tak puas menikmati surga sendirian dan meminta diciptakan mahluk lain. Kosmos tak lagi sama. Ketunggalan yang dahulu didominasi Adam, berubah dengan kemunculan Hawa. Jagat raya tak lagi utuh dalam keganjilan. Genap adalah definisi sempurna.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Tapi sekali lagi jagat pramuditha membuktikan. Bahwa dua kepala jarang bisa di damaikan. Merusak adalah sifat lahiriah manusia yang paling hakiki. Bahwa menyakiti adalah sebuah keharusan yang sulit untuk dihindari. Meski telah dilengkapi nalar, manusia kerap kali jatuh pada sebuah pilihan-pilihan bodoh. Menyakiti atas dorongan perasaan. Dengan alibi sederhana "kita tak bisa mengontrol perasaan".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat kemarahan menguasai diri maka sifat paling purba manusia akan muncul. Sifat destruktif yang tak akan puas sampai rasa bencinya selesai. Maka manusia menciptakan eskapisme. Pelarian untuk rasa sakit yang teramat sangat. Di sini sekali lagi manusia tidak belajar mengenai hidup. Bahwa lari tak pernah jadi penyelesaian. Hidup adalah keberanian menghadapi yang tanda tanya, kata Soe Hok Gie. Lalu apa yang ditakutkan? Bukankah nasib adalah narasi yang kita tulis sendiri?&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/983291090388480151-5825913010762381077?l=terumbukarya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://terumbukarya.blogspot.com/feeds/5825913010762381077/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://terumbukarya.blogspot.com/2012/02/monumen-kebodohan.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/983291090388480151/posts/default/5825913010762381077'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/983291090388480151/posts/default/5825913010762381077'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://terumbukarya.blogspot.com/2012/02/monumen-kebodohan.html' title='Monumen Kebodohan'/><author><name>Arman Dhani Bustomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09710999134909778313</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-x0-TY8scle4/TsIUelg00YI/AAAAAAAAAXY/BatguPLze9Q/s220/309682_2423314513268_1563636231_2548318_1025409700_n.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-983291090388480151.post-113492889510117724</id><published>2012-02-09T12:48:00.001+07:00</published><updated>2012-02-11T10:30:21.512+07:00</updated><title type='text'>Vihara Vihara di Jember Meretas Jejak Masa Lalu (III)</title><content type='html'>&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Klenteng Fung San Sie terletak di kawasan pertokoan Jompo yang padat. Anda harus blusukan masuk ke sebuah gang kecil dan menempuh jalan yang lumayan berliku untuk sampai kesana. Tak banyak orang yang tahu bahwa Klenteng ini merupakan yang tertua di Jember. Dibangun setahun sebelum Indonesia merdeka oleh ekspatriat asli China daratan yang mengadu nasib di Jember.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Setiap perayaan Imlek, sejakpukul empat pagi para pengunjung klenteng sudah mengantri untuk melakukansembahyang. Bagi umat yang percaya, kelenteng tertua ini dapat membawa berkah tersendiri. “Padahal &lt;i&gt;nyelekit&lt;/i&gt; ke dalam gang. Tapi sejak subuh sudah banyak pengunjung yang sembahyang,” kataSugiono Putra, pengurus klenteng Fung San Sie ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; A Kiem, begitu SugionoPutra biasa disapa, merupakan generasi ketiga pengurus klenteng ini. Salah satupendiri klenteng Fung San Sie adalah nenek langsung dari A Kiem. Dan memangsejak awal didirikan keluarga A Kiem lah yang mengurusi klenteng tersebut.“Ngurusi ini (klenteng) bukan seperti dagang. Tidak ada keuntungan materi. Iniperkara ikhlas dan berbagi,” katanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-NrYoSPTNqDs/TzNYtxvbRyI/AAAAAAAAAhM/dbAFNjkxGxk/s1600/DSC_1525.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="428" src="http://4.bp.blogspot.com/-NrYoSPTNqDs/TzNYtxvbRyI/AAAAAAAAAhM/dbAFNjkxGxk/s640/DSC_1525.JPG" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Meski berdiri lebih dari61 tahun tapi klenteng ini masih terlihat terawat. Bahkan masih ada salahsatu bilik ruangan yang masih berupa bangunan asli dari tahun 46. Cerobong asap yangberdiri di salah satu sudut klenteng juga masih tegak beridiri. Beberapa patung danlukisan juga masih terawat meski sudah berumur lebih dari beberapa dekade.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Pada masa jayanya klenteng ini memiliki halaman yang luas. Dibangun di tepi sungai Bedadung yang mengalir jernih. A Kiem mengingat masa kecilnya dahulu pada tahun 1950 sebelum pergolakan PKI, sungai Bedadung dipenuhi ikan mujair. Aliran sungai yang tenang dan rindang pepohonan membuat klenteng ini sangat damai. Seperti sebuah sajak dari penyair China daratan Li Bai. "&lt;/span&gt;&lt;i&gt;I do not dare to speak in a loud voice,&amp;nbsp;I fear to disturb the people in heaven.&lt;/i&gt;"&lt;br /&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sayang seiring dengan kemajuan kota Jember Klenteng ini semakin tersingkir. A Kiem bukan seorang pedagang sehingga sedikit demi sedikit tanah kosong di kanan kirinya dibangun rumah. Kondisi klenteng Fung San Sie meski tak buruk tapi terjepit diantara pembangunan rumah dan kos-kosan yang semakin sesak. Selain itu sungai Bedadung kini sudah tak lagi bersih. Bau menyengat limbah pasar membuat sungai ini tak mungkin lagi bisa di buat mandi. "Padahal baru seperti kemarin saya mandi di sana dan mengail mujair."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="IN"&gt;A Kiem mewarisi perawatan klenteng ini sejaktahun 70an dari sang Ibu. Sebagai generasi ketiga ia telah melakukan pemugaran sedikit demi sedikit. “Dulu lantainya daritanah, lalu diganti tehel dan ada rejeki ya di ganti keramik,” katanya. Kondisi Klenteng Fung San Sie bisa dikatakan lumayan megah. Meski harus &amp;nbsp;di desak rumah rumah petak kawasan pertokoan Jompo.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp; Pada perayaan Imlek 2563kemarin ia tetap berusaha menjaga dan membantu persiapan hari raya. Meskitubuhnya terserang sakit stroke dan harus duduk sepanjang hari di kursi. Namunia tetap ramah menyapa ratusan tamu yang hadir sejak pagi. “Biasanya ramai pasImlek dan ulang tahun Dewi Kwan Im. Di sini banyak juga yang mencari berkahkeselamatan dan kesehatan,” lanjut A Kiem.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Walau disebut klenteng,namun Fung San Sie merupakan rumah ibadat bagi umat Tridharma. Artinya di rumahibadat ini terdapat sesembahan untuk umat Kong Hu Cu, Budha dan Hindu. Pada1968 klenteng ini mendapatkan sertifikat dari direktorat urusan agama HinduBali dan Budha. “Intinya bagaimana menyikapi keragaman. Pancasila sudahmenjawab itu. Bahwa kita harus toleran dengan perbedaan,” katanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Bagi mereka yang hadir dansembahyang di klenteng ini para pengurus telah menyediakan makanan dan minuman.Mereka ingin berbagi rejeki pada hari raya Imlek ini dengan sesama. Bahkan takcukup sampai disitu bagi mereka para pengunjung yang hadir diberikan angpauberupa beras dan buah tangan kue keranjang. “Kue keranjang itu kan liat.Sebagai simbol rejeki yang tak habis-habis. Sedangkan angpau beras itu agarpangan kita selama setaun bisa dicukupi,” kata seorang pengunjung yang hadir.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-T8hNMuqHam8/TzNZookvyQI/AAAAAAAAAiA/rV1pfRMeZE0/s1600/DSC_1519.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="640" src="http://2.bp.blogspot.com/-T8hNMuqHam8/TzNZookvyQI/AAAAAAAAAiA/rV1pfRMeZE0/s640/DSC_1519.JPG" width="428" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Tak ada larangan bagi umat lain untuk memasuki klenteng ini. Walau dikatakan&lt;/span&gt;&amp;nbsp;rumah ibadat bagi umat tridharma. Tapi A Kiem mempersilahkan siapapun yang ingin masuk, tanpa memandang suku agama dan ras. Ini merupakan bentukpenghormatan para pengurus terhadap Gus Dur yang dianggap sangat pluralis.“Saya kira tak ada orang tionghoa yang tak kenal dan ingat jasa Gus Dur. Bahkanputrinya saya dengar sangat menghargai perbedaan.”&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Para pengunjung klentengFung San Sie juga tak berasal dari Jember saja. Bahkan ada mereka yang datangdari Sulawesi, Jakarta, Medan dan Surabaya. Beberapa waktu lalu bahkan adaorang dari Amerika yang datang ke klenteng ini untuk melihat-lihat. “Saya gaktat mereka tau darimana klenteng ini. Tapi saya sih senang saja artinya FungSan Sie dikenal sampai ke luar.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Pada tahun Naga Air ini para pengurus KlentengFung San Sie berharap agar kedamaian tetap terjaga di Indonesia. Selain itupara pengurus juga berharap keberagaman dan perbedaan yang ada di Jember bisatetap ada. Jember bisa dikatakan satu-satunya daerah yang mampu menjagaperbedaan tanpa terjadi kekerasan. “Semoga bangsa Indonesia bisa lebih aman.Lebih rukun dan sejahtera.” Sementara langit bergemuruh seperti naga yang sedang mengamuk.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/983291090388480151-113492889510117724?l=terumbukarya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://terumbukarya.blogspot.com/feeds/113492889510117724/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://terumbukarya.blogspot.com/2012/02/vihara-vihara-di-jember-meretas-jejak.html#comment-form' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/983291090388480151/posts/default/113492889510117724'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/983291090388480151/posts/default/113492889510117724'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://terumbukarya.blogspot.com/2012/02/vihara-vihara-di-jember-meretas-jejak.html' title='Vihara Vihara di Jember Meretas Jejak Masa Lalu (III)'/><author><name>Arman Dhani Bustomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09710999134909778313</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-x0-TY8scle4/TsIUelg00YI/AAAAAAAAAXY/BatguPLze9Q/s220/309682_2423314513268_1563636231_2548318_1025409700_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-NrYoSPTNqDs/TzNYtxvbRyI/AAAAAAAAAhM/dbAFNjkxGxk/s72-c/DSC_1525.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-983291090388480151.post-5976297577961341953</id><published>2012-02-02T18:52:00.000+07:00</published><updated>2012-02-02T18:52:04.116+07:00</updated><title type='text'>Syiah dan Sejarah panjang kekerasan</title><content type='html'>&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; color: #222222; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; color: #222222; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Saya kira wajah Islam di Indonesia hari ini telah gagal menunjukan sisi humanismenya. Penjagalan atas nama tuhan masih terjadi. Dan penindasan yang dilakukan sekelompok manusia fasis masih saja ada. Parahnya adalah negara mendiamkan atau dalam beberapa kasus mendukung penindasan ini. Mungkin benar apa kata penyair Jerman Bertold Brecht dalam salah satu syairnya. Bahwa dunia sedang berrada di gelap masa.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; color: #222222; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; color: #222222; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;Jika almarhum Abdurahman Wahid masih hidup. Mungkin ia akan sangat kecewa, marah dan kesal atas apa yang telah terjadi di Sampang, Madura. Muslim yang mayoritas berasal dari golongan cendekia Nahdatul Ulama yang sejak lama dikenal dengan keramahannya terhadap perbedaan. Saya melihat ini bukan tanda-tanda dekadensi NU, melainkan kegagalam kita sama dalam memaknai perubahan zaman dengan sikap welas asih.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; color: #222222; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; color: #222222; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="text-indent: 36pt;"&gt;Permasalahan di Sampang memang jauh dari kesederhanaan. Perihal klaim salah satu kelompok yang mengklaim pewaris tunggal kebenaran ilahi. Perihal sekelompok manusia yang mengklaim lebih benar daripada yang lain. Berdalih berdasarkan egosentrisme dan melegitimasi kekerasaan terhadap yang lain. Anda bisa melihat buktinya di salah satu rekaman video pengusiran di youtube dimana Halim Toha, perwakilan Kementrian Agama Sampang, mengusir jemaah syiah dengan arogansi melebihi kuasa Allah. "Saya kementrian agama. Saya yang mengatur agama di sampang."&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; color: #222222; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; color: #222222; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;Bermula dari usaha jemaah Syiah di Nankrenang untuk memperoleh hak berkeyakinan. Namun yang terjadi adalah teror dan penindasan oleh mereka yang mengaku jemaah Ahlus Sunnah. Dalam artikel berjudul Api Kebencian dalam Sekam yang ditulis oleh &lt;a href="http://www.blogger.com/(http://www.facebook.com/notes/har-wib/api-kebencian-dalam-sekam-oleh-muhammad-iqbal/10150531853472328)"&gt;Muhammad Iqbal&lt;/a&gt; &lt;span lang="IN"&gt;tampak jelas ada usaha sistematis oleh ulama-ulama dan aparatus lokal untuk mengengkang hak Jemaah Syiah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; color: #222222; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; color: #222222; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Perlahan lahan sejak 2006&amp;nbsp;&lt;/span&gt;berbagai fitnah dihembuskan yang menganggap Syiah sebagai aliran terlarang. Padahal jauh sebelumnya Jemaah Syiah di Sampang, lebih khusus di Nangkrenang hidup berdampingan dengan warga sekitar. Sedikit demi sedikit warga sekitar diajak untuk memendam kebencian. Memelihara api dalam sekam. Sehingga semua amarah membuat perilaku jemaah Syiah tampak salah. Semua ini di dilakukan oleh mereka yang mengaku ulama Ahlus Sunnah.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; color: #222222; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; color: #222222; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;Alasannya jemaah Syiah dianggap sesat karena menistakan para sahabat nabi,. Seperti Abu Bakar As Shidiq, Umar Bin Khatab, dan Usman Bin Affan. Tudingan ini belum dapat dibuktikan kebenarannya. Jikalaupun benar. Apakah menjadi hak seseorang mengkafirkan tanpa ada usaha mendamaikan?&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; color: #222222; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; color: #222222; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;Konon pada 2009 diselenggarakan pertemuan antara perwakilan Ahlus Sunnah dan Jemaah Syiah bertemu. Dalam kesempatan itu mereka beradu argumen. Jemaah syiah dituduh tak melakukan sholat lima waktu, memiliki al quran lain selain yang disebut al quran Fatimah. Semua dibantah oleh Jemaah Syiah Sampang. Namun secara sepihak, seperti yang diungkapkan Iqbal, Syiah dinyatakan sesat.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; color: #222222; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; color: #222222; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;Tiap hari adalah Asyura dan tiap tempat adalah Karbala kata intelektual muslim Syiah, Ali Syariati. Saya kira kata-kata itu, sampai hari ini, belum lagi selesai menemukan bantahannya. Sejak kematian Imam Hussain hingga hari ini, kekerasan darah selalu menjadi karib kaum Syiah. Apa yang terjadi pada umat Syiah di Sampang hanya sebagian kecil dari sejarah panjang penindasan pada kaum ini.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; color: #222222; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; color: #222222; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;Baru dalam hitungan bulan yang lalu saya sebagai umat muslim merayakan Asyura. Sebuah hari spesial yang dalam sejarah islam terjadi berbagai kejadian magis, historis dan epik. Seperti hari saat Allah, tuhan umat muslim, menciptakan jagat raya pada hari kesepuluh, hari diciptakannya Adam, diciptakannya Jibril, hari kelahiran Nabi Ibrahim, kesembuhan Nabi Ayub, dan hari dimana Yazid bin Muawiyah, putra Muawiyah bin Abu Sofyan (orang yang pernah sangat membenci Rasulullah), secara biadab membunuh Imam Hussain pada 680 masehi.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; color: #222222; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; color: #222222; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Karen Armstrong dalam bukunya&amp;nbsp;&lt;i&gt;Short History of Islam&lt;/i&gt;, mengatakan ini salah satu dari sekian banyak fitna (pertentangan) yang terjadi dalam islam. Kematian Imam Hussain melahirkan Syiah. Ini bukan tanpa sebab, karena pada sebelas tahun sebelumnya dinasti Ummayyah juga membunuh imam Hussain. Pelakunya jelas kerabat Yazid, yang meracuni cucu tertua Rasullullah Muhammad.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; color: #222222; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; color: #222222; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Dua alasan ini cukup bagi para pecinta Ali untuk kemudian meradang. Menganggap bahwa rezim Ummayyah adalah rezim yang tiran, despotik lagi lalim. Seperti kaum Khawarij yang dulu memisahkan diri dari kalifah Ali, karena menganggap Ali gagal menindak pembunuh kalifah Ustman. Sejak kematiah Hussain kaum Syiah pun mundur ke jazirah Persia (Iran-Iraq) demi menjaga kehormatan dan menghindari rezim Yazid.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; color: #222222; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; color: #222222; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Jalalludin Rakhmat, intelektual muslim Syiah Indonesia, menulis dalam sebuah pengantar yang menggambarkan bahwa kaum Syiah adalah kaum yang dekat dengan kematian dan darah. “…suatu kesadaran sejarah dalam hati orang-orang Syi’ah yang menyaksikan 10 Muharam sebagai benang sejarah yang menghubungkan mereka dengan warisan nurani masa lalu.”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; color: #222222; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; color: #222222; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;Sepanjang sejarah kaum Syiah selalu merasa memiliki keterkaitan emosional dengan peristiwa Karbala. Hal inilah yang membuat Syiah menjadi eksklusif. Keterikatan emosional yang begitu kuat membuat mereka merindukan Imam Mahdi. Keturunan nabi yang kelak akan membawa islam (dan dunia) ke arah yang jauh lebih baik.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; color: #222222; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; color: #222222; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;Linda Cristanty seorang wartawan cum sastrawan pernah menuliskan. " Saat Cucu Nabi dibantai dan disakiti. Syiahlah kaum pertama yang angkat senjata dan berkorban untuk menyelamatkan mereka.” Apa pun kata dunia tentang orang-orang Syiah, kita harus ingat bahwa mereka yang membantu kakek moyang kita. Bahkan orang-orang Sunni yang menyatakan diri mewarisi ajaran Muhammad, semuanya melarikan diri saat Imam Hussain dipenggal dengan keji.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; color: #222222; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; color: #222222; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kekerasan terhadap umat beragama di Indonesia bukanlah hal yang baru. Sejak sebelum kemerdekaan di Sumatera Barat yang dilakukan oleh kaum padri. Salah satu tokok padri yang terkemuka adalah tuanku Imam Bonjol, yang telah melakukan pembasmian mashab non hambali. Semua yang bertentangan dengannya dimusnahkan atas nama perjuangan melawan penjajah.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; color: #222222; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; color: #222222; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Di era modern seperti saat ini organisasi fasis yang berkedok agama kerap melakukan penindasan. Kekerasan dalam beribadah di Indonesia tiap tahun kian meningkat. Wahid Intitute baru baru ini merilis data bahwa di tanah air terjadi peningkatan tindakan fasisme yang cukup signifikan. Jika pada 2010 lalu terjadi 64 kasus kekerasan terhadap umat beragama. Maka tahun ini meningkat menjadi 92 kasus pelanggaran yang terjadi selama 2011.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; color: #222222; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; color: #222222; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;Dengan rincian kekerasan kepada &lt;a href="http://www.blogger.com/(http://www.wahidinstitute.org/Berita/Detail/?id=431/hl=id/%20Evaluasi_Sosbud_Tahun_Bencana_Berdalih_Agama)"&gt;Jemaat Ahmadiyah&lt;/a&gt; adalah korban terbanyak dengan 46 kasus (50%). Kemudian Jemaat GKI Taman Yasmin Bogor 13 kasus (14%), jemaat gereja lainnya 12 kasus (13%), kelompok terduga sesat 8 kasus (9%), Millah Abraham (4 kasus), kelompok Syiah dan aliran AKI (2 kasus), aliran Nurul Amal, aliran Bedatuan, aliran Islam Suci, Padepokan Padange Ati dan jemaah Masjid di NTT, masing-masing 1 kasus.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; color: #222222; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; color: #222222; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Apa yang terjadi pada jemaat Syiah di Sampang Madura adalah bukti ketakutan atas iman yang lemah. Seperti juga kaum Padri yang takut nagari-nagari tenggelam dalam permusuhan mazhab. Beberapa kelompok dominan yang mengaku beragama &amp;nbsp;kemudian memaksaakan kehendak. Seolah-olah kebenaran adalah perihal jumlah.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; color: #222222; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; color: #222222; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;Saya membayangkan bagaimana perasaan Imam Hussain saat memutuskan hijrah dari Medinah menuju Khufah. Bersama 30 orang penunggang kuda, 40 pejalan kaki dan banyak anak-anak. Sementara di Karbala, dekat Najaf, Irak Selatan, 30 ribu pasukan Yazid menghadangnya. Apakah Imam Hussain tak menyadari bahwa maut sedang mengintai nyawanya?&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; color: #222222; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; color: #222222; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Muhammad Ali Hanafiah, saudara tiri Imam Hussain ternyata masih hidup sat itu untuk berkisah. Bahwa pada detik detik sebelum keberangatnya menuju Kuffah Imam Hussain masih tegak sebagai muslim yang berdaulat. Dengan tegas Imam Hussain berkata. "Sungguh aku lebih memilih kematian dengan cara kesyahidan ketimbang harus hidup dengan seorang penindas penuh aib dan kehinaan."&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; color: #222222; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; color: #222222; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: #222222; font-family: arial, sans-serif;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Mungkin benar apa yang dikatakan oleh Bertolt Brecht dalam puisinya To Posterity. Sebuah nubuat mengenai zaman yang gelap. Zaman yang tunduk pada dominasi teror mayoritas yang menolak kritik. “&lt;/span&gt;&lt;i&gt;Ah, what an age it is, When to speak of trees is almost a crime,&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;span style="background-color: transparent;"&gt;&lt;span style="color: #222222; font-family: arial, sans-serif;"&gt;&lt;i&gt;For it is a kind of silence about injustice!&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #222222; font-family: arial, sans-serif;"&gt;”&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/983291090388480151-5976297577961341953?l=terumbukarya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://terumbukarya.blogspot.com/feeds/5976297577961341953/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://terumbukarya.blogspot.com/2012/02/syiah-dan-sejarah-panjang-kekerasan.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/983291090388480151/posts/default/5976297577961341953'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/983291090388480151/posts/default/5976297577961341953'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://terumbukarya.blogspot.com/2012/02/syiah-dan-sejarah-panjang-kekerasan.html' title='Syiah dan Sejarah panjang kekerasan'/><author><name>Arman Dhani Bustomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09710999134909778313</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-x0-TY8scle4/TsIUelg00YI/AAAAAAAAAXY/BatguPLze9Q/s220/309682_2423314513268_1563636231_2548318_1025409700_n.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-983291090388480151.post-5464400634849212581</id><published>2012-02-02T17:20:00.001+07:00</published><updated>2012-02-02T17:20:46.263+07:00</updated><title type='text'>Kerdil lagi Hina</title><content type='html'>&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language: IN;"&gt;Sesungguhnya manusia yang paling hina adalah mereka yang tak bisa menerimakekurangan diri dan mencari kelemahan orang lain. Dalam hidup manusia semacam ini pasti selalu dan akan kita temui.Mereka yang selalu jengah dengan keberhasilan dan kelebihan orang lain. Orangyang dengki dengan kemampuan orang lain. Orang yang tersiksa karena dirinya takcukup baik untuk bisa hidup dengan rasa ikhlas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language: IN;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language: IN;"&gt;&lt;span style="mso-tab-count: 1;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Saya tahu orang semacamini. Karena saya pernah menjadi orang semacam ini. Orang yang kerdil jiwanyasehingga tak bisa melihat kebahagiaan orang lain. Selalu berusaha mencari celahsalah untuk kemudian memanfaatkan cela itu sebagai senjata. Manusia yang selaludikecam rasa sesak didada karena tak mampu meraih hidup yang lebih baik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language: IN;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: .5in;"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language: IN;"&gt;Mereka bukan kerdil seperti Hobbit dalam mitologiJRR Tolkien. Tapi lebih pada kekerdilan sikap seperti yang dialami Habil anaktertua Adam yang lemah. Peradaban Katolik menyebut anak adam yang ini sebagaiCain. Mereka yang tergoda iblis untuk dikuasai rasa iri dan kelemahan mental.Lalu menjatuhkan/menyakiti orang lain agar bisa menutupi kekurangan dirinya.Orang-orang yang terlalu menyedihkan untuk bisa disebut sebagai manusia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/983291090388480151-5464400634849212581?l=terumbukarya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://terumbukarya.blogspot.com/feeds/5464400634849212581/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://terumbukarya.blogspot.com/2012/02/kerdil-lagi-hina.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/983291090388480151/posts/default/5464400634849212581'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/983291090388480151/posts/default/5464400634849212581'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://terumbukarya.blogspot.com/2012/02/kerdil-lagi-hina.html' title='Kerdil lagi Hina'/><author><name>Arman Dhani Bustomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09710999134909778313</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-x0-TY8scle4/TsIUelg00YI/AAAAAAAAAXY/BatguPLze9Q/s220/309682_2423314513268_1563636231_2548318_1025409700_n.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-983291090388480151.post-8559492049949749999</id><published>2012-01-30T09:48:00.000+07:00</published><updated>2012-01-30T09:50:01.264+07:00</updated><title type='text'>Dadidudedo</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-RojCo80bqzk.Ttif5D1kjYI/AAAAAAAAAZo/YOBVDPwi_Mk/s1600/314608_2509539228832_1563636231_2616043_276079913_n.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-RojCo80bqzk/Ttif5D1kjYI/AAAAAAAAAZo/YOBVDPwi_Mk/s1600/314608_2509539228832_1563636231_2616043_276079913_n.jpg"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/-RojCo80bqzk/Ttif5D1kjYI/AAAAAAAAAZo/YOBVDPwi_Mk/s400/314608_2509539228832_1563636231_2616043_276079913_n.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;~ hidup hanya tentang menghadapi rasa takut dan menyikapi kehilangan&lt;/blockquote&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kamu bilang hidup itu seperti roda yang berputar. Tapi aku selalu percaya hidup itu seperti membaca buku yang tebal. Kadang kita marah, sedih, benci, senang, cemburu, dendam, jatuh cinta dan sebagainya saat membaca sebaris kalimat. Dalam banyak hal membaca buku mengajarkan kita untuk menyikapi hal-hal yang belum terjadi. Tapi bukankah segala yang sudah diprediksi itu menyebalkan. Ya, kamu dan aku tahu itu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku sedang malas bercerita tentang kehilangan, karena ku pikir untuk apa? Toh sudah ada kamu yang selalu bawel dan gegas memarahiku saat lalai. Kukira manusia itu mahluk paling dhoif dan rakus diantara mahluk tuhan yang lain. Iblis sombong, tapi ia tak rakus. Ia hanya menggoda manusia untuk kemudian ditinggalkan dalam tindakan dosa. Tapi bukan untuk itu kan aku menulis ini? Mungkin ini hanya sekedar fase keresahan yang teramat labil. Seperti hujan yang datang saat hari masih terang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pagi ini melankolis sekali. Entahlah, mungkin fakta bahwa kita sama-sama lahir dan bertemu untuk kemudian jatuh cinta itu sepertinya komikal sekali. Kamu adalah apa yang terbalik dariku. Kamu adalah orang yang disiplin. Gegas. Patuh dan selalu taktis dalam bersikap. Sedang aku. Bahkan dalam dua menit kedepan aku masih bingung hendak melakukan apa. Sudah kubilang, hidup yang terencana, hanya akan berujung kepada kekecewaan. Itu yang tak aku mau.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tapi biarlah toh aku mau menjadi melankolis. Seperti sajak lagu Desember dari efek rumah kaca yang sangat kamu sukai itu. Kukira lagu itu bukan lagu riang. Sedih malahan. Tapi bukankah kebahagiaan bukan hanya tentang gelak tawa? Tapi juga tentang dengan siapa kamu berbagi kesedihan. Dus kamu selalu ada saat aku sedih dan terhantam hebat. Dan yang lebih monumental kamu masih ada disana meski kesedihan dan kejumudan diriku kamu ketahui. Boleh aku tanya, hatimu terbuat dari apa?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ya sudah, mungkin cukup sekian dulu. Aku harus pergi. Ya ya ya menemui dosen, untuk kemudian mempersiapkan sidang. Itu kan yang kamu mau? Kamu bahkan lebih bawel dari ibuku sendiri perihal kelulusan ini. Tapi semua itu tak penting. Fakta bahwa kamu ingin memberikan aku yang terbaik itu lebih dari cukup. Lebih dari sajak paling bagus yang pernah dibuat Neruda. Dan pagi ini, rindu berkecambah seperti jamur di musim hujan.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/983291090388480151-8559492049949749999?l=terumbukarya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://terumbukarya.blogspot.com/feeds/8559492049949749999/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://terumbukarya.blogspot.com/2012/01/dadidudedo.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/983291090388480151/posts/default/8559492049949749999'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/983291090388480151/posts/default/8559492049949749999'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://terumbukarya.blogspot.com/2012/01/dadidudedo.html' title='Dadidudedo'/><author><name>Arman Dhani Bustomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09710999134909778313</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-x0-TY8scle4/TsIUelg00YI/AAAAAAAAAXY/BatguPLze9Q/s220/309682_2423314513268_1563636231_2548318_1025409700_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-RojCo80bqzk/Ttif5D1kjYI/AAAAAAAAAZo/YOBVDPwi_Mk/s72-c/314608_2509539228832_1563636231_2616043_276079913_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-983291090388480151.post-7329488135140806920</id><published>2012-01-30T09:33:00.004+07:00</published><updated>2012-01-30T09:34:24.466+07:00</updated><title type='text'>Vihara Vihara di Jember Meretas Jejak Masa Lalu (II)</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Dalam suatu perbincaangan, Imam Al Gozhali, pernah bertanya. Sebenarnya apa yang paling jauh dari dunia? Beberapa muridnya menjawab bintang, negeri Cina dan langit. Imam Al Gozhali membenarkan semua jawaban itu. Namun ia kemudian menjelaskan bahwa yang paling jauh dari dunia adalah masa lalu. Sekeras apapun manusia berusaha ia tak akan pernah bisa mencapai masa lalu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Saya kira Al Gozhali benar. Perihal ingatan, manusia selalu ingin membuat monumen. Sebuah tapal batas bahwa ada tanda-tanda keberadaan dirinya di masa silam.Hal inilah yang saya temukan beberapa waktu lalu. Saat saya memutuskan untuk melacak kebudayaan masyarakat Tionghoa di Jember. Di satu sudut perumahan mewah dh Jember. Saya menemukan kisah masa lalu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-7VU-Drd2Mh8/TyYA5Gp1e3I/AAAAAAAAAgo/t0Lb7x7O4sc/s1600/DSC_1473.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="428" src="http://3.bp.blogspot.com/-7VU-Drd2Mh8/TyYA5Gp1e3I/AAAAAAAAAgo/t0Lb7x7O4sc/s640/DSC_1473.JPG" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Di suatu tempat tak begitu jauh dari pusat kota Jember yang gegas. Angin yang berhembus keras menerbangkanbeberapa daun dan sampah plastik ke udara. Jalanan di kawasan perumahan mewah yang bernama Villa Sempusari inimasih sepi. Hanya beberapa motor yang lalu-lalang. Selebihnya hanya barisanrumah besar dengan nuansa dingin kesepian.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sebuah mobil mewah warna putih berlaludengan santai. Sementara di salah satu jalan paling ujung kawasan perumahan itu,kehidupan seperti gegas berdetak. Rumah dengan tembok tinggi menjulang warnamerah. Sementara beberapa tiang penyangga berwarna senada menaungi gedung itu.Di salah satu kisi gedung sebuah papan nama menjulang “Vihara Sempusari.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Hiruk pikuk itu berasal dari gelaktawa beberapa orang di dalam vihara itu. Sebagian dari mereka sudah tak bisa dikatakanmuda. Orang-orang itu sebagian besar rambutnya telah memutih. Raut wajah merekapenuh dengan riak yang dipahat zaman. Namun, semangat mereka untuk membersihkanpatung-patung dan klenteng itu, tak bisa dikatakan lambat. Ada sebuahkegairahan yang seolah-olah meluber keluar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Senin &lt;i&gt;kan&lt;/i&gt; &lt;i&gt;mau&lt;/i&gt; imlek.Kami mau siap-siap biar klenteng sama viharanya kelihatan cantik,” kata seorangsepuh. Ia menolak memberikan nama. “Saya di sini niat bantu klenteng. Bantu-bantuteman, tak usahlah ditanya nama,” katanya. Sembari bercerita tangannya cekatanmelap debu dan sesekali mencari sarang serangga yang kerap menempel di atap.Sebuah patung Jendral Gun San Chiang Chin, dia angkat dengan satu tangan. Lalu,dibersihkan dengan sangat hati-hati.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="SV" style="color: #333333; font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="SV" style="color: #333333; font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt;"&gt;Sebagian besar dari mereka yang bekerja di sana adalah orang-orangTionghoa. “Tionghoa” atau “&lt;i&gt;Zhonghoa&lt;/i&gt;” artinya “orang (kerajaan)Tengah.” &lt;i&gt;Zhongguo&lt;/i&gt; adalah nama Republik Rakyat Tiongkok dalam bahasaMandarin. ”Dulu kita pernah dipanggil dengan nama Cina atau &lt;i&gt;Yuk&lt;/i&gt; (sebutankasar pada era Soeharto),” kata seorang yang sibuk membuang air bekas mengepellantai.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="SV" style="color: #333333; font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-BvFpa3J93xk/TyYAyQ-XrnI/AAAAAAAAAgc/zrf-V7Z491Y/s1600/DSC_0916.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="427" src="http://4.bp.blogspot.com/-BvFpa3J93xk/TyYAyQ-XrnI/AAAAAAAAAgc/zrf-V7Z491Y/s640/DSC_0916.JPG" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="color: #333333; font-family: 'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="SV" style="color: #333333; font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt;"&gt;Sejak 1965 mantan Presiden Soeharto memang pernah mengeluarkan kebijakanyang menghapus segala bentuk kebudayaan China. Saat itu, dunia sedang dipecahantara sisi komunis dan liberalis. China yang saat itu berhaluan komunisdianggap sangat berbahaya. Sehingga muncul kebijakan rasialis yang berakhirsaat Abdurahman Wahid naik menjadi presiden. ”&lt;i&gt;Nggak&lt;/i&gt; ada orang TionghoaIndonesia yang &lt;i&gt;nggak&lt;/i&gt; kenal Gus Dur. Dia orang hebat,” kata Sudinto, sekretarisVihara Sempusari.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt;"&gt;Vihara Sempusari dibangun pada tahun2000, dua tahun selepas rezim Soeharto jatuh. Saat itu, kran kebebasan seakanterbuka sangat lebar. Umat Tridharma berbondong-bondong mencari lahan untukmembangun tempat ibadah. Aladin, begitu Sudinto biasa disapa, awalnya penjagadi sebuah vihara tua di Ambulu. “Saat itu euforia kebebasan. Kita sepertidiberi kebebasan menjadi diri sendiri.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt;"&gt;Atas prakarsa beberapa rekan,dibangunlah Vihara Sempusari yang juga memiliki sebuah patung Budha. Di kawasankomplek perumahan Sempusari itu sebenarnya ada juga komplek vihara lain. Bahkan,beberapa dari mereka ada yang mendedikasikan pembangunan vihara sebagai bentukpenghormatan terhadap Gus Dur. Kebebasan yang diberikan oleh Gus Dur begitumelekat bagi Aladin, sampai-sampai ia selalu mendoakan beliau meski berbedaagama. “Saya tiga kali lewat Jombang. Tiga kali pula saya selalu doakanbeliau.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt;"&gt;Aladin menolak saat ditawari minum padahalpakaiannya basah dengan keringat dan suasana siang hari itu memang terasasangat panas. “Saya memang niat puasa &lt;i&gt;mutih&lt;/i&gt; untuk membersihkan hariini,” katanya. Ia hanya makan nasi putih dengan sayuran rebus dan sedikitgaram. Menolak makanan yang berminyak, berdaging dan berbumbu. “Ini semacamtirakat untuk membersihkan diri.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-rNblcdmPAqE/TyYA48IWkjI/AAAAAAAAAg4/bGEf8A16Hig/s1600/DSC_1455.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="640" src="http://4.bp.blogspot.com/-rNblcdmPAqE/TyYA48IWkjI/AAAAAAAAAg4/bGEf8A16Hig/s640/DSC_1455.JPG" width="428" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt;"&gt;Hampir semua orang yang membersihkanVihara Sempusari melakukan hal serupa. Kebersihan mental selalu lahir darikebersihan lahir dan batin. Aladin sendiri percaya bahwa inti dari perayaan Imlekbukan tentang &lt;i&gt;angpau&lt;/i&gt; atau kembang api pesta. Tapi, upaya merefleksikandiri dan mencari makna hidup. “Apa yang telah kita lakukan selama setahun danapa yang akan kita lakukan tahun berikutnya. Itu yang penting,” ujarnya mantap.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt;"&gt;Dalam prosesi pembersihan vihara sendiri,Aladin tak main-main. Ia sendiri sudah berpuasa sejak seminggu sebelumnya. Iaberniat menyucikan diri dari niat buruk dan pamer untuk mencari rasa ikhlas.Aladin bukannya tak mau meminta tolong kepada rekan-rekannya yang masih muda.Namun, anak muda zaman sekarang memang susah digerakkan untuk hal hal yang takpraktis. “Susah sekali mencari bantuan dari anak muda. Maunya mereka main aja,jadinya tak ada yang bantu. Tapi biarlah.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Tahun ini seluruh masyarakat Tionghoayang mer&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;ayakanimlek akan memasuki tahun 2563. Tahun Naga Air, jika dirunut pada fengsui yangada. Kepercayaan penganut Tridharma percaya bahwa tahun ini cocok untuk bisnis.Namun, Aladin melihat keseimbangan alam sedang rusak. Akhirnya hanya akanmembawa kesengsaraan bagi manusia. “Bisnis apapun yang tak sinergis dengan alamhanya akan membawa keuntungan sesaat. Bisa bawa sial,” katanya sambil lalu.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/983291090388480151-7329488135140806920?l=terumbukarya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://terumbukarya.blogspot.com/feeds/7329488135140806920/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://terumbukarya.blogspot.com/2012/01/vihara-vihara-di-jember-meretas-jejak_30.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/983291090388480151/posts/default/7329488135140806920'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/983291090388480151/posts/default/7329488135140806920'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://terumbukarya.blogspot.com/2012/01/vihara-vihara-di-jember-meretas-jejak_30.html' title='Vihara Vihara di Jember Meretas Jejak Masa Lalu (II)'/><author><name>Arman Dhani Bustomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09710999134909778313</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-x0-TY8scle4/TsIUelg00YI/AAAAAAAAAXY/BatguPLze9Q/s220/309682_2423314513268_1563636231_2548318_1025409700_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-7VU-Drd2Mh8/TyYA5Gp1e3I/AAAAAAAAAgo/t0Lb7x7O4sc/s72-c/DSC_1473.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-983291090388480151.post-2320564002141727494</id><published>2012-01-29T22:08:00.001+07:00</published><updated>2012-01-29T22:08:53.670+07:00</updated><title type='text'>Gumam-gumam</title><content type='html'>&lt;br /&gt;&lt;div style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Ada banyak hal yang membuat kitasepertinya tersesat dalam keinginan, semisal mengenai cinta yang yang takberbalas, bir yang pahit atau doa yang panjang. Kukira kita perlu membuatkesepakatan bahwa apapun keinginan kita ada baiknya tak lagi berharap terlalubanyak. Harapan seringkali berulah seperti pisau tajam yang menusukmupelan-pelan lalu ditarik secara tiba-tiba. Harapan adalah memupuk mesiu danmeledakannya dengan tersembunyi.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; "Karenalaku menyempurnakan kata," kaubilang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Kau berbakat jadi seorang Narator.Segala hal jadi sangat dramatis bagimu,”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kau dan aku sedang duduk memandangisenja yang perlahan turun. Di pertemuan terakhir kita. di atap sebuahperpustakaan. Memandangi alun-alun yang dipenuhi kegembiraan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; "Dan mencintai tak pernahbegitu sederhana."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Tak pdrnah ada cinta yang sederhana.Seperti juga tak pernah ada kehilangan yang sederhana. Ya meskipun aku takpernah mempermasalahkan perihal cinta daripada kehilangan, soal cinta lebihbaik aku biarkan mengalir. Seperti perigi di pematang sawah yang terus turunturun dan turun sampai mencapai titik kedatarannya. Dan kita tak pernah akantahu kapan titik itu akan dicapai.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Lalu kenapa aku disana? Bersamakamu? Ah iya, aku ingat. Kita membahas mengenai keinginan-keinginan. Mengenaihujan, mengenai masa depan, dan mengenai kelulusan. Tapi aku belajar untuktidak terlalu banyak berharap. Seperti kubilang. Harapan adalah pisau tajam.Dan aku hanya diam. Memandangi senja yang rubuh pelan-pelan. Membuat menarapemancar gelombang radio di ujung sana seperti tusuk gigi yang rapuh. Perlahanmenghitam serupa arang dan hanyut dalam kegelapan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Lalu apa musti kutafsirkan daripercakapan-percakapan kita? Ah seperti biasa. Mungkin aku hanya sedikitparanoid. Aku cenderung acuh pada hal-hal sentimentil. Aku selalu diajarkanuntuk menyukai ketakutan-ketakutan. Bahwa manusia pada sejatinya adalahpengecut. Pengecut yang selalu bersembunyi dan waspada untuk bisa bertahanhidup. Perihal cinta? Sudah kubilang padamu bahwa itu adalah perkara harapan.Dan karena itu aku belajar untuk tidak terlalu banyak percaya pada cinta.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Sebelum lidahku ngilu dan yanglewat tak mungkin kaucatat?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Ya ya ya. Kita sepertinya terlalubanyak melupakan. Di republik ini gegar sejarah dan amnesia adalah penyakitkebanyakan. Kukira bukan obesitas atau hipertensi yang menjadi penyebab kematiantertinggi. Tapi kealpaan. Kita cenderung untuk melupakan banyak perkara yangmembuat luka. Seperti pembantaian, segelas teh hangat, laut dan perahu pinisi.Kita selalu melupakan itu semua. Tapi tak pernah lupa kapan tanggal gajian danwaktu liburan bukan?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kesenangan dan hingar bingar hiburanmembuatku beradaptasi kepada rasa tidak nyaman. Bahwa sebenarnya kita adalahlaron-laron yang menghinggapi pelita. Kita menyenangi cahaya, meski padaakhirnya kita bisa terbakar karena panasnya. Kesenangan dan keinginan itu jugahal yang sama. Pembunuh yang meraba pelan-pelan kewaspadaan kita. lalu menikampada saat yang paling tepat.&amp;nbsp;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Adakah batas dari perasaan, ketika melulukulayarkan segenap gelisahku.” katamu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Seperti apa?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Ketika, ah, kusiksa diri untuk takbilang sayang dan rindu kepadamu,” jawabmu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “ah tidak, manusia dilahirkan dengankesombongan. Itu sesuatu yang telah ada dalam diri kita. suatu yang sudah adaseumur peradaban manusia itu sendiri,” jawabku panjang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Ada baiknya kita bersikap sombong.Bersikap tak mau peduli dan membiarkan perjalanan nasib menemui narasinyasendiri. Kukira kita berhak sombong, berhak untuk menjadi anak-anak, berhakuntuk kemudian berbuat bodoh. Tak selalu dan tak seharusnya manusia bersikapsempurna. Itu adalah penyimpangan. Jika manusia sempurna lebih baik ia jadimalaikat. Ketidaksempurnaan dan penyimpangan itu yang membuat manusia sempurna.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Hawa semakin dingin dan gelappelan-pelan menyergap. Lampu mulai bermunculan dan dengung tartil Quranmenyambut maghrib berkumandang. Tidak seperti kau, aku benci pengajian yangmekanis. Para lebai masjid memutar kaset-kaset untuk menunggu waktu adzan tiba.Seperti tugas dan kemampuan suara manusia terlalu remeh untuk kemudian membacakitab suci. Kadang aku berharap semua kaset tartil dihancurkan. Sehingga setiaphari ramai suara corong masjid dengan manusia yang membaca sabda.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sial. Aku selalu lupa. Rambutmu yangkehitaman memanjang. Dahimu yang lebar dan lesung pipi paling manis sejagatraya itu akan tampak indah saat matahari tergelincir. Menciptakan imajisurealis yang meleburkan syaraf-syaraf optis mataku. Sial! Sial dua kali.Matahari senja yang ungu keemasan membuat sorot matamu jadi berkaca-kaca. Bodohkenapa aku membawamu ke atas sini? Bodoh! Bodoh! &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Sementara jarak&amp;nbsp;menjejal dukamelukai waktu?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Jarak selalu menciptakan luka, jugarindu, juga kecemburuan. Ada banyak hal yang diciptakan jarak. Jadi kukira adabaiknya kau belajar untuk bersabahat dengan jarak,”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kenapa jadi menyalahkan jarak? Akukira saat jatuh cinta kita bukan hanya bersiap untuk menghadapi pengkhianatan.Tapi juga harus bersiap untuk bersekutu dengan jarak. Mengenai perubahan bentukdari kedekatan menjadi sebuah perjuangan melawan ketiadaan. Dekat dan jauhkukira hanya masalah perasaan. Dan cinta adalah segala sumber dari masalahperasaan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Kamu pernah jatuh cinta?” katamu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Tentu saja bodoh! Saat ini denganmu.Dengan keberadaanmu. Dengan ide tentang kamu. Dan segala hal tentang kamu! Ahiya, aku tak pernah bilang kalau aku suka padamu. Jadi itu kau punya hak untukkemudian tidak peduli. Dan, kenapa masih berdebat mengenai jarak? Kalau taktahan kenapa tak kau datangi? Kenapa tak kau tebas? Ah jarak sekali lagi hanyamasalah perasaan. Perasaan malas dan perasaan ragu. Jarak selalu menciptakankeraguan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Maka kukira ada baiknya cinta terperangkapdalam penjara kata-kata. Tapi seorang kasmaran tak butuh cinta. Ia butuhbelaian hangat. Ciuman panas. Dan dekapan hangat. Kukira semua tentang nafsubadaniah. Kita bertemu, berpelukan, berciuman, saling memandang dan kemudianbercinta. Ya tentu saja disela-sela itu kita berbincang, berdebat danberdiskusi. Kata-kata tak punya tempat dalam persetubuhan. Kecuali ekspresi uhah no yes. Dan itupun kukira menjijikan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sebentar kenapa kemudian akuberpikir sejauh itu? kau bahkan tak pernah tau (atau jangan-jangan tak peduli)kalau aku mencintaimu. Sialan. Ini pasti gara-gara sate kambing yang kumakansemalam. Sialan. Dan senja ini juga kenapa pelan sekali berlalu. Seolah-olahwaktu dan senja bersepakat untuk membuatku jatuh cinta lagi padamu. Sudah cukupaku dihajar keinginan-keinginan. Harapan-harapan. Aku belajar untuk tidak lagipercaya pada mataku. Tapi sial! Kau manis sekali saat senja datang!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Sebab pada jarak atauwaktu,&amp;nbsp;akan kalis pada ketiadaan” katamu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;“Jika mencintai adalah perkarabentuk dan kehadiran. Maka sudah pasti mereka yang jatuh cinta adalah atheis,”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Kenapa bisa?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Lha. Seumur-umur aku tak pernahlihat bentuk cinta, bentuk waktu, bentuk kentut dan bentuk pedas,”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Lalu kau tersenyum. Untungnya segerakubuang mukaku menghadap alun-alun. Aku tak mau dikerjai cahaya lagi. Dikerjainwaktu lagi. Dan dikerjai pesonamu. Cukup aku jatuh cinta padamu berkali-kalisehingga lecet dan bernanah perasaanku. Sudah cukup. Sedikit senyum lagi darimukukira aku akan tunduk turun pada ego. Dan mengajakmu menikah. Ah menikah.Mengurus kemaluanku saja tak becus ingin mengajakmu menikah? Sial! Sial!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Dari bebaris sajak kutuliskan. Rindutak pernah lunas dibayar,” katamu tiba-tiba.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Hmmm....”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “ Kok hmm?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Aku tak pernah paham puisi. Tak pernahmenyenangi sajak. Mereka berbelit seperti rimbunan jerami,”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Nah kau sedang berpuisi,”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Ini bukan puisi. Ini argumen,”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Maka argumenmu adalah puisi yangindah,”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kita berdua lalu diam. Seperti bersepakatbahwa petang ini sudah benar-benar punah. Membiarkan hawa turun sedikit sejuk.Setelah seharian panas menghajar Solo. Lalu ponselmu berbunyi nyaring.Coldplay. Seperti biasanya kau membiarkan sebait sajak dinyanyikan, sebelumkemudian memutuskan membuka pesannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Wajahmu lalu berangsur riang.Sekerat senyum, meski samar, kamu sembunyikan. Siapa pengirim pesan itu? Siapa yangbisa membuatmu tersenyum? Aku seperti marah. Seperti cemburu. Seperti diikatdengan tali dan dipaksa menelan biji kedondong. Lalu kau membalas pesan itu. Pelandan tak tergesa karena kau yakin masih ada waktu di dunia ini hanya untuksekedar membalas pesan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Usai. Lalu kamu memandangku, dahimuberkerut, lalu tersenyum. Seperti membaca pikiranku kamu lalu menjelaskan bahwapesan itu dari pembimbingmu. Mengubah jadwal pertemuan karena harus pergimelakukan penelitian lanjutan. Hatiku plong tapi wajahku datar. “Kabar baiknya.Besok kita bisa ke Balekambang, ke keraton lalu lanjut ke Gladak. Mencari bukuyang kamu mau.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Sepertinya aku mencintaimu,” katakutiba-tiba. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Tapisayangnya aku tidak,”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dan gelapmakin menelan malam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/983291090388480151-2320564002141727494?l=terumbukarya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://terumbukarya.blogspot.com/feeds/2320564002141727494/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://terumbukarya.blogspot.com/2012/01/gumam-gumam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/983291090388480151/posts/default/2320564002141727494'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/983291090388480151/posts/default/2320564002141727494'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://terumbukarya.blogspot.com/2012/01/gumam-gumam.html' title='Gumam-gumam'/><author><name>Arman Dhani Bustomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09710999134909778313</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-x0-TY8scle4/TsIUelg00YI/AAAAAAAAAXY/BatguPLze9Q/s220/309682_2423314513268_1563636231_2548318_1025409700_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-983291090388480151.post-6705658385530714922</id><published>2012-01-29T17:14:00.000+07:00</published><updated>2012-01-29T17:14:13.390+07:00</updated><title type='text'>Kota Kenangan</title><content type='html'>&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt; &lt;w:WordDocument&gt;  &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;  &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;  &lt;w:PunctuationKerning/&gt;  &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;  &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;  &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;  &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;  &lt;w:Compatibility&gt;   &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;   &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;   &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;   &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;   &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;  &lt;/w:Compatibility&gt;  &lt;w:BrowserLevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt; &lt;/w:WordDocument&gt;&lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt; &lt;w:LatentStyles DefLockedState="false" LatentStyleCount="156"&gt; &lt;/w:LatentStyles&gt;&lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !mso]&gt;&lt;img src="http://img2.blogblog.com/img/video_object.png" style="background-color: #b2b2b2; " class="BLOGGER-object-element tr_noresize tr_placeholder" id="ieooui" data-original-id="ieooui" /&gt;&lt;style&gt;st1\:*{behavior:url(#ieooui) }&lt;/style&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt;&lt;style&gt; /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; mso-para-margin:0cm; mso-para-margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:10.0pt; font-family:"Times New Roman"; mso-ansi-language:#0400; mso-fareast-language:#0400; mso-bidi-language:#0400;}&lt;/style&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Langitterlampau gelap untuk kemudian bisa dipahami sebagai atap bumi. Mendung yangberarak, sore itu, membuat semua warna luluh dalam satu warna. Monokrom. Segalahiruk pikuk keramaian yang sebelumnya masih ada dihentikan begitu saja. Sepertiseseorang dikejauhan menekan tombol stop dalam remot mahakuasa. Mendung memangselalu membuat kesal siapapun yang sedang bersenang-senang di luar ruangan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Sementarakeramaian berangsur angsur hilang hujan tak juga datang. Hanya sekedar beberapapetir menyambar dan lampu-lampu yang mulai menyala. Dan sisanya masih sunyi.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Kekosonganyang mencabik merubah taman ria itu seperti kuburan. Tidak ada siapapun disana.Tidak juga pengelola yang rakus memberikan tiket mahal untuk pertunjukan kelasteri. Tetapi penduduk kotakenangan semuanya sudah terlalu bosan dengan ingatan, sehingga saatsegerombolan sirkus datang, menawarkan hal-hal baru membuat mereka datang tanpapeduli dengan secarik harga dalam tiket.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Kota kenangan adalahtempat dimana semua ingatan masa lampau tinggal. Tentang ingatan masa kecil,masa lalu, masa yang sudah usai dan baru saja selesai. Tempat dimana segalayang telah terjadi berkumpul. Kotakenangan selalu ramai dengan ingatan-ingatan yang usang. Yang telahditinggalkan para pemiliknya. Tak ada yang baru di kota kenangan, karena semuanya sudah selesaidan terjadi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Entahbagaimana awalnya segerombolan sirkus itu tiba. Kapan dan dimana mereka bermuladatang tak seorang pun penduduk di kotakenangan tahu.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;“Seingatku mereka muncul saat senja paling merahmengarak awan warna keemasan,” kata penduduk di Kota kenangan.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;“Ahh tidak. Kau salah. Mereka datang saat hujan sangatderas dan melarutkan semua yang kering,” kata seorang penduduk lain.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;“Sompral! Kalian berdua sok tau. Sirkus itu datangsaat malam paling cemerlang memperlihatkan rasi bintang utara,” sanggah pendudukyang lain.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Semuaperdebatan terjadi di sudut-sudut kotakenangan. Omongan warung kopi. Perbincangan di kafe. Gosip saat pertemuan PKK.Bahkan saat rapat anggaran dana karang taruna. Semua orang di kota kenangan memperbincangkan sirkus yangtiba-tiba muncul itu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Tapiyang jelas, sirkus itu hanya buka pada saat hari beranjak sore. Ia tak bukalebih dari waktu tergelincirnya matahari sehingga memperlihatkan senja yanggelap. Semua seolah terjadwal. Terpatenkan dan tak pernah berubah. Penduduk kota kenangan pun takpernah protes. Karena seingat mereka tak pernah ada kejadian selepas sore.Ingatan-ingatan yang menjadi penduduk kotakenangan selalu hadir saat malam.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Sirkusitu memasang tarif yang terlalu tinggi bagi para penduduk kota kenangan. Setiap penduduk yang inginmenonton pertunjukan itu harus memberikan sebuah ingatannya yang palingberharga. Entah kenangan mengenai ciuman pertama. Kenangan saat bersama orangtua yang telah meninggal. Apapun yang menjadi ingatan paling berharga bagiwarga kenangan menjadi harga mati tiket itu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Tapisudah menjadi rahasia umum bagi penduduk kotakenangan. Siapapun yang kehilangan ingatan paling berharga. Maka orang itu akanmati dan musnah dalam rimbunnya dunia alpa. Lupa adalah sebuah kematian bagisetiap penduduk kotakenangan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Tetapirasa penasaran penduduk kotakenangan memang sudah tak tertahankan lagi. Sudah bertahun-tahun sejak duniaterbentuk. Penduduk kotakenangan tak pernah melihat hal yang baru. Semuanya sudah usang. Semuanya sudahdilihat. Bagi mereka ingatan adalah sebuah perputaran atas kejadian yang telahselesai. Tak pernah ada yang berbeda dalam hidup mereka yang sangat membosankanitu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;“Datanglah datanglah. Kami sirkus bayang bayang.Menampilkan sebuah pertunjukan tentang masa depan. Sesuatu yang belum terjadi.Datanglah datanglah. Cukup dengan ingatan paling berharga maka anda akandipuaskan akan masa depan. Datanglah datanglah,” kata para pekerja sirkus itu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Sebenarnyaapa itu masa depan? Bukankah ia masih belum terjadi. Sesuatu yang rahasia. Kebanyakanmasa depan berkisah tentang hal-hal yang tak perlu diketahui. Seperti jugamalam hari yang ujungnya belum pasti. Meski setiap malam pasti berujung pagi.Lalu untuk apa meributkan sesuatu yang sudah pasti. Masa depan selalu jadi halyang ranum untuk dibicarakan. Tapi selalu jadi hal yang ogah untuk di taklukan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Kukirasemua penduduk kotakenanangan sudah teramat bosan dengan segala ingatan. Mereka sudah terlalujengah dengan segala hiruk pikuk yang itu itu saja. Tentang ciuman pertama,pesta pernikahan, kelahiran anak, masa masa sekolah, dan hal sontoloyo lainnya.Manusia kotakengangan adalah manusia yang muak dengan ingatannya. Mereka gagap dengan suatuhal yang berlum terjadi. Manusia yang hidup di masa lalu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Lalukenapa kemudian mereka menginginkan masa depan? Ingatan adalah barang usangyang bisa diganti dengan yang lain. Setiap penduduk kota kenangan punya deposito kenangan. Kotakistimewa yang menyimpan ingatan-ingatan istimewa. Tapi tentu selalu ada yangpaling istimewa dari yang istimewa. Yaitu ingatan purna. Nyawa dari setiappenduduk kotakenangan. Hal yang paling diinginkan sirkus bayangan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Tapitak pernah ada yang tahu bagaimana seseorang bisa hadir dan tinggal di kota kenangan. Tentangbagaimana mereka bisa hidup dan kemudian beranak pinak di kota kenangan. Tentang siapa orang pertamayang tiba di kotakenangan. Dan bagaimana ingatan purna bisa menjadi nyawa bagi setiap penduduk kota kenangan. Tak pernahtahu dan memang mereka tak pernah ingat.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;“Kotakenangan tercipta sesaat Adam dan Hawa memakan buah durian,” kata seorang.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;“Durian gundulmu! Kota kenangan tercipta saat Nuh plesirandengan kapal pesiar,” ujar yang lain.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;“Ealah dalah wong kok ya pada sok tau! Kota kenangan diciptakansaat tiga raja bertemu Yesus di kandang domba!” sergah seorang wanita tua.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;“Bah kalian semua itu sok tau! Kota kenangan ini cadangan tanah yangdijanjikan Raja Daud untuk kita lah!,” kata seorang sengit.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Begitulahperdebatan mengenai kotakenangan yang tak pernah habis-habis. Mereka bertengkar mengenai asal mula.Seperti berusaha bersepekat mengenai anak ayam dan telurnya. Mengenai hal inipenduduk kotacahaya selalu ingin unjuk suara. Maklum mereka hanya punya sepotong-sepotongingatan. Separuh-separuh pengetahuan. Tak pernah ada yang utuh dalam sebuahingatan. Ia akan selalu hadir seperti kentut yang apak.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Sementarahari pertunjukan sirkus semakin ramai, semakin penuh, semakin dekat dan semakinmembuat penduduk kotakenangan terdesak. Sedikit demi sedikit penduduk kota kenangan berkurang. Kematian karenahilangnya ingatan purna menjadi berjelaga. Menjadi kabar dimana-mana. Seorangibu berpisah dengan anaknya. Seorang kekasih dengan cintanya. Dan seoranglelaki dengan istrinya. Sirkus itu seperti kabar buruk yang enggan pergimenghilang.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Namuntak satupun penduduk kotakenangan yang berusaha untuk mencegah datangnya sirkus itu. Atawa mencegahkepergian orang-orang untuk menyongsong sirkus itu. Mereka terikat sebuah normakehendak bebas. Siapapun yang datang ke kotakenangan adalah orang-orang merdeka. Dan mereka akan pergi dengan cara merdeka.Tak satupun manusia berhak atas manusia lain. Meskipun ia seorang pecintasekalipun.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Danmalam semakin menelan gelap. Bulan habis separuh dan rasi bintang utara munculperlahan-lahan. Di suatu tempat yang tersembunyi namun tak jauh-jauh amat dari kota kenangan. Sepasangpemuda pemudi yang dimabuk ingatan berbagi mengenai kehidupan. Si lelaki inginpergi melihat sirkus sedang si wanita enggan pergi. Ah, dalam cinta masalahsendok bisa sangat rumit. Apalagi masalah hidup.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;“R, kukira aku harus pergi. Kita tak bisa hidup terusdi masa lalu,”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;“Mamadd, jangan. Hidup kita sudah cukup bahagia. Untukapa diperdebatkan lagi?”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;“Kau wanita tak mengerti tantangan,”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;“Kau lelaki tak mengerti perasaan,”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;“Kalau begitu kita pergi sama-sama,”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;“Kenapa bukan kau yang tinggal sahaja?”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;“Aih kenapa begini rumit?”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;“Kau yang membuat sulit,”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Danperdebatan itu terjadi sepanjang malam. Hingga datang pagi dan mataharikemerahan yang ramah menyapa kotakenangan. Rambut hitam si gadis berliuk keemasan diterpa matahari. Si lelakigamang melihat itu. Ia tahu, rambut dan lesung pipit senyum itulah yangmembuatnya jatuh hati. Sebuah senyuman sederhana yang bahkan tak akan mampuditiru oleh Cina. Bukankah jatuh cinta adalah perkara sederhana?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Akhirnyasi lelaki melumpuhkan diri pada ego. “Nasib setiap lelaki,” katanya. “Harus dilempar seperti dadu. Biar ia pejal dengan karang atau pecah dengan rasasayang,” ia berlalu pergi. Setelah mengucapkan aku sayang padamu untuk terakhirkalinya pada si wanita. “Aih kukira jatuh cinta tak begini rumit,” kata wanitaitu diam. Airmatanya tamat sudah semalaman membujuk si lelaki untuk pergi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Malamberlalu pilu. Keheningan yang merambat di kotaKenangan kian hari kian mencekat. Semakin hari warga kota Kenangan semakin menyusut. Merekaberbaris mendatangi sirkus bayangan untuk menatap masa depan. Menggadaikanhidup untuk sesuatu yang tak pernah mereka ketahui. “Hari semakin gelap dansegala kawanku telah pergi. Untuk apa aku di sini?” kata seorang pria renta.Penduduk terakhir kotakenangan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Hampirsewindu sirkus bayang bayang berada di kotakenangan. Sudah tak terhitung jiwa-jiwa yang hilang karena melihat masa depan.Mereka yang melampaui takdir diri sendiri untuk berbuat curang. Melihat masadepan tanpa akhirnya berdiri dan meraih masa depan itu sendiri. Lelaki danperempuan. Terjebak keinginan dan rasa penasaran. Akhirnya harus musnah ditelan ingatan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;“Datanglahdatanglah. Kami sirkus bayang bayang. Menampilkan sebuah pertunjukan tentangmasa depan. Sesuatu yang belum terjadi. Datanglah datanglah. Cukup denganingatan paling berharga maka anda akan dipuaskan akan masa depan. Datanglahdatanglah,” kata seorang pekerja sirkus itu. Kali ini tak ada yang datang.Penduduk kotakenangan sudah berada di masa depan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/983291090388480151-6705658385530714922?l=terumbukarya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://terumbukarya.blogspot.com/feeds/6705658385530714922/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://terumbukarya.blogspot.com/2012/01/kota-kenangan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/983291090388480151/posts/default/6705658385530714922'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/983291090388480151/posts/default/6705658385530714922'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://terumbukarya.blogspot.com/2012/01/kota-kenangan.html' title='Kota Kenangan'/><author><name>Arman Dhani Bustomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09710999134909778313</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-x0-TY8scle4/TsIUelg00YI/AAAAAAAAAXY/BatguPLze9Q/s220/309682_2423314513268_1563636231_2548318_1025409700_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-983291090388480151.post-8781362742810987776</id><published>2012-01-26T14:42:00.000+07:00</published><updated>2012-01-26T14:53:35.762+07:00</updated><title type='text'>Vihara Vihara di Jember Meretas Jejak Masa Lalu (I)</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-x5z7vk3-XDc/TyEFUjJV3bI/AAAAAAAAAeI/92mUTJdiMWA/s1600/DSC_1079.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="428" src="http://4.bp.blogspot.com/-x5z7vk3-XDc/TyEFUjJV3bI/AAAAAAAAAeI/92mUTJdiMWA/s640/DSC_1079.JPG" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span id="goog_1778701539"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span id="goog_1778701540"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Langit biru dan debur ombak yang berkejaran.Sementara ratusan orang memadati Pantai Putih Malikan (Papuma) Minggu (12/12)lalu. Keriuhan itu sempat menjadi mencekam saat wangi dupa dan kemenyanmenyeruak. ditambah sepotong kepala kambing diletakan diatas sebuah miniaturkapal. Papuma sedang tenggelam mengikuti alur prosesi upacara adat LarungSesaji.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sisa kebudayaan pagan Hindu Jawa ini memang masihmelekat di banyak tradisi. Kebudayaan yang lahir dari silang budaya agama asliJawa yang percaya dengan roh nenek moyang, berfusi dengan kebudayaan hindu yangmengagungkan banyak dewa. Setelah islam datang dan mendominasi Jawa, kebudayaanini tak serta merta punah. Ia lantas beralih rupa. Beradaptasi menjadi sebuahkebudayaan campuran yang masih menyisakan identitas lama.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Tak jauh dari lokasi upacara adat sebuah gedungberwarna merah berdiri megah. Sebuah menara bundar dengan kisi-kisi emasmenjulang tinggi. Di tengah gedung ada sebuah ceruk dengan batu besar. Batu itumerupakan batu asli, keberadaanya sedikit janggal karena batu sungai itu takjamak ditemui di tepi pantai. Di atasnya seekor patung singa dan burung bangauberdiri angkuh. Gedung itu adalah Vihara Dewi Sri Wulan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sepi pecah saat rombongan Larung Sesaji yangsedari tadi diam mulai berjalan. Mereka kemudian berajalan berarak mengelilingilokasi resor wisata pantai Papuma. Dengan memakai kostum adat jawa dan diringinriuh tetabuhan kelompok seni Reog Singo Budoyo. Rombongan itu lantas memasukipekarangan Vihara dan berhenti di salah satu ceruk, tempat sesaji diletakanlantas seorang juru kunci memasang dupa. Hening.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Suparto adalah pria denganrambut gondrong dan kumis tebal. Sorot matanya tajam dan sesekali berkacakpinggang. Badannya gempal meski sedikit pendek. Di buku-buku jarinya beberapabatu akik berwarna cerah dipasang rapi. Jika tak kenal betul, banyak orang yangberpikir jika ia seorang &lt;i&gt;gali&lt;/i&gt; (preman) atau seorang dukun. “Hayo jangannaik naik. Nanti jatuh,” kata Parto pada seorang anak sambil tersenyum lepas.Si anak lantas turun pelan pelan sambil tertawa.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Selesai didoakan di ceruk itu, sesaji lantasdibawa ke pinggir pantai. Rombongan yang mengarak semakin banyak dan membuatgaris pantai itu dipenuhi jejak kaki. Tepat di tengah pantai Papuma beberapasesepuh dan pemimpin Vihara mendorong sesaji itu ketengah laut. “Itu buah kerjakeras dari masyarakat sekitar Papuma. Ya Ambulu ya Wuluhan. Semuanya,” kataSuparto.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Hari itu ia sedang menjadimitra panitia upacara larung sesaji. Sebuah upacara yang dilakukan sebagaiwujud rasa syukur masyarakat sekitar Papuma untuk penolak bala. Berbagai elemenmasyarakat turut serta dalam perayaan kali ini. seperti seniman, jagawana,polisi, tokoh adat, tokoh agama dan penjaga vihara. “Tiga tahun yang lalu acaraini diramaikan dengan Barongsai. Tahun ini kami coba dengan reog,” lanjutnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-PPEUU0R0wto/TyEDiAIA08I/AAAAAAAAAdw/VhTKvMdcbnc/s1600/DSC_1071.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="428" src="http://4.bp.blogspot.com/-PPEUU0R0wto/TyEDiAIA08I/AAAAAAAAAdw/VhTKvMdcbnc/s640/DSC_1071.JPG" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sesaji yang dilarungkelaut sudah menjauh. Namun beberapa warga masih diam ditempat dan melihatperahu itu berlayar dan perlahan hilang. Ini bukan satu satunya prosesi larungsesaji yang diadakan oleh masyarakat Papuma. Malam sebelumnya pengelola wanawisata bersama beberapa tokoh masyarakat menyelenggarakan hiburan wayang kulit.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Seorang pria tua denganwajah tirus kurus dan peci hitam datang mendekati Suparto. Suparto lantas menciumtangan pria tua itu. “Saya Nyoto. Dulu kepala Wana Wisata Papuma tapi sekarangsudah pensiun,” katanya sambil tersenyum. Ia lantas berjalan bersama Supartomenuju Vihara Dewi Sri Wulan. Sepanjang perjalanan ia banyak disapa olehpanitia yang kebetulan melintas.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Selepas sampai di halaman Vihara keduanya dudukistirahat. Larung sesaji yang dilakukan masyarakat Papuma sangat berbeda. “Adaelemen islam, kejawen dan kong hu cu. Ini menunjukan kerukunan antar umatberagama,” katanya. Sesuatu yang tak akan ditemui dimanapun di Indonesia. “Takbanyak upacara yang melibatkan banyak agama. Ini contoh yang baik untuk melawanfanatisme.” &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Larung sesaji ini sudahlima kali digelar selama lima tahun terakhir. Dalam perkembangannya semakinbanyak masyarakat dan wisatawan yang tertarik pada upacara ini. Nyoto yakin halini bisa menjadi suatu aset yang sangat berharga bagi wisata Jember. “Acara inibisa menarik perhatian karena keunikannya. Dan bisa jadi agenda wisata yangsangat penting." &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pensiunan yang telahbertugas lebih dari 12 tahun di Papuma ini tahu betul, Larung Sesaji bisamenyatukan banyak elemen masyarakat. Mereka bekerja sama menyiapkan sesaji,acara hiburan dan pengumpulan dana. Mengingat banyak kota lain yang berseteruperihal keyakinan antar umat beragama. “Ini bisa jadi promosi dan identitasyang baik bagi Jember,” pungkasnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Ia lantas bercerita perihal pembangunan Vihara SriWulan. Dulunya vihara ini hanya sebuah klenteng kecil yang terbuat dari kayu. Dibangun oleh seorangTionghoa totok asal Lumajang yang mengaku mendapat wangsit. Dikisahkan orangTionghoa ini membabat hutan bukit Papuma sendirian. Lalu membuat jalan denganmelintasi tebing setinggi tujuh meter dengan ombak besar laut selatan mengancamdibawahnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Kira-kira itu tahun 60an. Saat ramai PKI, nah orangTionghoa ini jalan kaki dari Lumajang ke Papuma, karena wangsitnya bilangbegitu.” Tutur Nyoto. Nyoto menyebut orang Tionghoa itu dengan nama Dharmo,atau Dharma, yang berarti kebajikan. Dharmo sendiri dikisahkan kemudianmembangun klenteng sederhana dengan kayu sehingga membentuk gubug. “Saat itu iamenyembah Dewi Kwan Im, karena menurut wangsit suaranya perempuan,” tuturNyoto.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kondisi klenteng sempat sangat tak terawat karenaterjadi peristiwa PKI pada 1966, yang berbuntut pada pembekuan kebudayaanTionghoa diseluruh Indonesia. Paska itu banyak orang Tionghoa yang beribadahsecara sembunyi-sembunyi disini. Beberapa orang yang tak senang dengankeberadaan klenteng ini sempat melakukan pengrusakan pada tahun 1970an. Hinggaakhirnya dibiarkan tak terawat.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sampai akhirnya pada 2009 seorang dermawanmelakukan pemugaran. Ia menolak disebutkan namanya. Karena merasa memilikikisah personal dengan klenteng di pinggir pantai Papuma ini. “Usaha saya bisabesar karena sembahyang disini,” katanya. Atas kepercayaan itulah pada 2009tangal 9 bulan 9 dan pukul 9 klenteng ini diresmikan ulang menjadi Vihara Sri Wulan bagi umat Tri Dharma. &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-vuIsXvekJJQ/TyEGVuCjJ9I/AAAAAAAAAew/upwOKZpKRm8/s1600/ok.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="428" src="http://3.bp.blogspot.com/-vuIsXvekJJQ/TyEGVuCjJ9I/AAAAAAAAAew/upwOKZpKRm8/s640/ok.JPG" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Pembangunan Vihara itu sendiri tak pelak menjadisuatu sensasi pada masanya. Karena disebut sebagai Klenteng Dewi Kwan Imterbesar dan satu-satunya yang menghadap laut selatan. Tak ada vihara lainyang memiliki keunikan ini. “Bahkan satu-satunya di Asia Tenggara,” lanjutNyoto.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Suparto ingat sekali pembangunan vihara ini banyakmembantu ia saat itu yang hanya seorang pengangguran. Bersama lebih dari 30orang lain ia bahu membahu membangun tempat ibadah ini. Banyak warga sekitarAmbulu dan Wuluhan Jember yang merasa terbantu akan keberadaan proyek ini.“Proyek ini kan hampir setahun. Jadi hampir tiap hari saya dibayar.Alhamdulillah sekali,” katanya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Keberadaan Vihara ini menjadi sebuah kebanggaantersendiri bagi masyarakat sekitar Papuma. Karena banyak orang yang datang danberibadah di sini dan memberikan pemasukan yang besar. Bahkan ada pula turismanca negara seperti Jerman, Iran, Israel dan Cina yang datang ke sini. “Merekayang bisa menghargai agama orang lain. Akan dihargai,” kata Nyoto. Dan deburombak Papuma masih riuh.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="IN"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="IN"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="IN"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="IN"&gt; &lt;br /&gt;*Semua foto oleh Heru Putranto&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/983291090388480151-8781362742810987776?l=terumbukarya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://terumbukarya.blogspot.com/feeds/8781362742810987776/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://terumbukarya.blogspot.com/2012/01/vihara-vihara-di-jember-meretas-jejak.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/983291090388480151/posts/default/8781362742810987776'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/983291090388480151/posts/default/8781362742810987776'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://terumbukarya.blogspot.com/2012/01/vihara-vihara-di-jember-meretas-jejak.html' title='Vihara Vihara di Jember Meretas Jejak Masa Lalu (I)'/><author><name>Arman Dhani Bustomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09710999134909778313</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-x0-TY8scle4/TsIUelg00YI/AAAAAAAAAXY/BatguPLze9Q/s220/309682_2423314513268_1563636231_2548318_1025409700_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-x5z7vk3-XDc/TyEFUjJV3bI/AAAAAAAAAeI/92mUTJdiMWA/s72-c/DSC_1079.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-983291090388480151.post-8201257637311797483</id><published>2012-01-11T13:11:00.001+07:00</published><updated>2012-01-11T13:12:10.975+07:00</updated><title type='text'>Tiga Gunung Tiga Kota Tiga Cerita</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-kNEZoI4-79U/Tw0mA809psI/AAAAAAAAAdY/hloSETSSvCs/s1600/pegunungan+argopuro.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="411" src="http://3.bp.blogspot.com/-kNEZoI4-79U/Tw0mA809psI/AAAAAAAAAdY/hloSETSSvCs/s640/pegunungan+argopuro.JPG" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dalam banyak peradaban gunung selalu memiliki kisah dan tempatnya sendiri. Sebagai sebuah representasi yang agung lagi besar. Agama-agama animisme dunia banyak menjadikan Gunung sebagai sesembahan. Kedigdayaan dan bentuk fisik yang besar dan menjulang memang membuat Gunung tampak megah. Ia menembus imaji terliar manusia dan jawaban atas diri yang "lain".&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;Indonesia pun tak lepas dari selaput kepercayaan bahwa Gunung menjadi representasi yang suci lagi 'maha'. Seperti mitologi gunung Semeru yang dianggap Swargaloka tempatdimana dewa-dewa Hindu Jawa tinggal. &amp;nbsp;Atau bagi beberapa warga Bondowoso yang percaya jika Kaldera gunung Api Ijen konon merupakan &amp;nbsp;hasil kentut Semar.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Di Jawa Timur tak hanya ada gunung Semeru dan Gunung Ijen. Namun adapula Pegunungan Argopuroyang merupakan pegunungan terpanjang di Jawa. Pegunungan ini pada 1991 pernah digunakan latihan olehWanadri dan Brimob sebagai simulasi gunung Leuser. Saat itu Indonesia masih tercerabut konflik dengan Gerakan Aceh Merdeka yang banyak bersembunyi di Pegunungan Leuser, rangkaian Pegunungan terpanjang di Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Menjadi menarik karena di sepanjang jalur pendakian gunung Argopuro tersimpan berbagai pesona alam yang sangat indah.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Argopuro juga tercatat sebagai &lt;i&gt;Important Bird Area&lt;/i&gt;. Karena memiliki ratusanjenis satwa unggas yang masih langka dan terancam. Beberapa bahkan masih sangat mudah ditemui. Jenis seperti Merak, Elang Jawa dan beberapa jenis Murai. Di Universitas Jember ada sebuah kelompok pegiat pengamatan burung yang bernaung dalam Mahapensa Fakultas Pertanian.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Bobby Saputra adalah pria dengan mata sipit dan rambut gondrong. Jika tak awas kita bisa salah memperkirakan etnisnya. "Tak penting apa saya cina atau bukan. Saya orang Indonesia," katanya saat kami pertama kali berkenalan. Ia bercerita bahwa&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="text-indent: 36pt;"&gt;Pegunungan Argopuro sebenarnya telah dikenal sejak era kekuasaan Mahapahit.Di salah satu puncaknya yang terkenal, Puncak Rengganis, terdapat bekas-bekaspetilasan yang konon menurut penduduk setempat merupakan kediaman DewiRengganis.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;Dalam catatan yang dibuat&amp;nbsp;&lt;span style="font-size: 12pt; text-indent: 36pt;"&gt;A.J.M Ledeboer dan B Ledeboer dua bersaudara Belanda yang membuat kantung kediaman di salah satu dataran di Argopuro. Praktik pemujaan terhadap Dewi Rengganis telah lama dilakukan sejak akhir abad ke XIX. Perlakuan ini merupakan bentuk penghormatan terhadap selir raja Majapahit yang konon hilang secara misterius bersama enam orang dayangnya. Tak banyak memang yang melakukan pemujaan sesaji ini. Karena islam datang dan merubah praktik yang dianggap sesat ini sebagai sebuah adat istiadat saja.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-u4R5esNqfb0/Tw0mT63OBlI/AAAAAAAAAdg/mz_n-U8VaVA/s1600/DSC_0508.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="428" src="http://3.bp.blogspot.com/-u4R5esNqfb0/Tw0mT63OBlI/AAAAAAAAAdg/mz_n-U8VaVA/s640/DSC_0508.JPG" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Berbeda dengan Pegunungan Argopuro,gunung berapi Ijen memiliki kesotisme kaldera yang berbalur belerang. Halinilah yang membuat banyak fotografer dan videografer tingkat dunia mendatangitempat ini. Seperti James Nachtwey dan &lt;/span&gt;Michael Glawogger yang mengabadikannya dalam dua karya mendunia &lt;i&gt;warphotographer&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;the workingman’s death&lt;/i&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Bambang Santoso,pendaki gunung dan atlet Paramotor Indonesia, pernah melakukan pendakianpanjang bersama turis mancanegara di Ijen. Mereka sangat terpesona denganpemandangan dan lokasi ijen yang spektakuler. Kebanyakan karena kondisi parapenambang yang dianggap sangat nekat. “Mereka kebanyakan terkejut karena parapenambang tak memakai peralatan khusus,” katanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;br /&gt;&amp;nbsp; George Kourounis,geolog asal Amerika, pada 2008 lalu melakukan penelitian khusus di Ijen. Danmenemukan bahwa Ijen merupakan satu-satunya kaldera gunung yang paling luas danmemiliki keunikan danau di atasnya. Lebih dari itu ia menganggap bahwapemandangan di Ijen sangat surealis dan fantastik. “Saya tak akan pernah bisamelupakan keindahannya yang magis,” tulisnya dalam jurnal &lt;i&gt;the stormchaser&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Beberapa komunitas fotografer menganggap bahwa Ijen merupakan spottersulit dalam melakukan pengambilan gambar. Bukan hanya karena kondisi alamyang sangat labil dan berbahaya. Namun karena Ijen telah disinggahi banyakfotografer dunia yang membuat legenda disana. “Salah satunya adalah OlivierGrunewald, yang datang Desember lalu, fotonya itu gila sekali!” kata RomdhiFakhturozi dari Jember Poto Graphy Jember.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-w5z9nbvmexg/Tw0ltXwn7gI/AAAAAAAAAdQ/A5CRxdmJhQw/s1600/semeru.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="428" src="http://4.bp.blogspot.com/-w5z9nbvmexg/Tw0ltXwn7gI/AAAAAAAAAdQ/A5CRxdmJhQw/s640/semeru.jpg" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;br /&gt;Namun jika bolehberpendapat Semeru merupakan raja gunung di Jawa. Beberapa orang menyebut Semerusebagai atap jawa karena merupakan gunung tertinggi yang ada di pulau ini. “Belumlagi karena kisah Pandawa Seda yang dituturkan RA Kosasih. Yang menyebutkanPandawa memutuskan Moksha (menghilang jagat) di Gunung ini,” kata Halim Bahris.Pegiat kesenian dan budaya di komunitas Tikungan Jember.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Halim yang asliLumajang banyak memahami bagaimana gunung ini dimitoskan. Berbagai kisah wayangmengambil latar gunung ini sebagai bagian ceritanya. Seperti kisah kawahCandradimuka yang maha panas, lokasi dimana Gatut Kaca ditempa hingga menjadidewasa. “Bagi orang jawa bisa jadi Semeru itu adalah bagian dari mitoskeseharian. Sebagai bagian identitas juga,” tuturnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Gunung ini memilikibanyak mitos dan cerita unik. Seperti keberadaan arcopodo atau arca kembar yangkonon merupakan petilasan Majapahit. Juga mitos tanjakan cinta, hampir semuapendaki gunung di Indonesia mengenali cerita ini. Dikatakan bahwa siapapun yangmenaiki tanjakan ini sambil membayangkan kasihnya tanpa menoleh, ia akanmendapatkan cinta sejati. “Tapi ini sih biasanya kerjaan pecinta alam yang lagigombal,” kata Halim bercanda.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Puncak Gunung Semeruyang bernama Mahameru merupakan obsesi dari semua pendaki gunung. Konon merekamerasa bisa sejajar dan berada di awang-awang memandang seluruh pulau jawa.Lebih dari itu beberapa pendaki melakukan ziarah bagi Soe Hok Gie, pendaki dancendikiawan muda Indonesia, yang meninggal di puncak ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/983291090388480151-8201257637311797483?l=terumbukarya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://terumbukarya.blogspot.com/feeds/8201257637311797483/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://terumbukarya.blogspot.com/2012/01/tiga-gunung-tiga-kota-tiga-cerita.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/983291090388480151/posts/default/8201257637311797483'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/983291090388480151/posts/default/8201257637311797483'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://terumbukarya.blogspot.com/2012/01/tiga-gunung-tiga-kota-tiga-cerita.html' title='Tiga Gunung Tiga Kota Tiga Cerita'/><author><name>Arman Dhani Bustomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09710999134909778313</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-x0-TY8scle4/TsIUelg00YI/AAAAAAAAAXY/BatguPLze9Q/s220/309682_2423314513268_1563636231_2548318_1025409700_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-kNEZoI4-79U/Tw0mA809psI/AAAAAAAAAdY/hloSETSSvCs/s72-c/pegunungan+argopuro.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-983291090388480151.post-2554996440261402235</id><published>2012-01-06T18:20:00.003+07:00</published><updated>2012-01-06T18:21:44.562+07:00</updated><title type='text'>Tiga Sajak Pendek untuk Fransisca</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-9EDIpr204gQ/TwbZP3lY29I/AAAAAAAAAc4/RA2Byf05CHI/s1600/314608_2509539228832_1563636231_2616043_276079913_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://4.bp.blogspot.com/-9EDIpr204gQ/TwbZP3lY29I/AAAAAAAAAc4/RA2Byf05CHI/s320/314608_2509539228832_1563636231_2616043_276079913_n.jpg" width="225" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;~ Kurusetra&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;bahwa dalam peradaban&lt;br /&gt;selalu berkabar dua pihak&lt;br /&gt;seorang pemenang&lt;br /&gt;lain pecundang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tapi di tiap mata kanak-kanak&lt;br /&gt;perang adalah perihal mainan&lt;br /&gt;yang bergelayut sepanjang siang&lt;br /&gt;dan bubar seusai petang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;~ Bulu Kaki Anak Singa&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;cambuk dilecut&lt;br /&gt;: &lt;i&gt;Auuuum&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;bunyi mengaduh&lt;br /&gt;bubar barisan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;~ Sutradara&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;lubang di dada sudah penuh&lt;br /&gt;dengan dengki&lt;br /&gt;huru hara&lt;br /&gt;dan amarah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lalu pesan datang&lt;br /&gt;bertanya kabar&lt;br /&gt;: “sudah makan?&lt;br /&gt;Jangan lupa skripsi”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan amarah&lt;br /&gt;tamat selepas episot perdana&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/983291090388480151-2554996440261402235?l=terumbukarya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://terumbukarya.blogspot.com/feeds/2554996440261402235/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://terumbukarya.blogspot.com/2012/01/tiga-sajak-pendek-untuk-fransisca.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/983291090388480151/posts/default/2554996440261402235'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/983291090388480151/posts/default/2554996440261402235'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://terumbukarya.blogspot.com/2012/01/tiga-sajak-pendek-untuk-fransisca.html' title='Tiga Sajak Pendek untuk Fransisca'/><author><name>Arman Dhani Bustomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09710999134909778313</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-x0-TY8scle4/TsIUelg00YI/AAAAAAAAAXY/BatguPLze9Q/s220/309682_2423314513268_1563636231_2548318_1025409700_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-9EDIpr204gQ/TwbZP3lY29I/AAAAAAAAAc4/RA2Byf05CHI/s72-c/314608_2509539228832_1563636231_2616043_276079913_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-983291090388480151.post-3049080688965879845</id><published>2012-01-03T19:47:00.001+07:00</published><updated>2012-01-03T19:47:53.780+07:00</updated><title type='text'>di atap Patehan memandang petang yang rubuh</title><content type='html'>&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-sKB3ykdeA_0/TwL35Amnx9I/AAAAAAAAAcw/xMrX4WL0jag/s1600/316491_2438642616461_1563636231_2562099_1781868379_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/-sKB3ykdeA_0/TwL35Amnx9I/AAAAAAAAAcw/xMrX4WL0jag/s1600/316491_2438642616461_1563636231_2562099_1781868379_n.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;: untuk Aufa&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;di atap Patehan memandang petang yang rubuh&lt;br /&gt;kita berbincang tengang masa depan&lt;br /&gt;perihal keinginan dan cita-cita&lt;br /&gt;menggigir harapan&lt;br /&gt;seusai meraih toga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tentang sepuluh anak lelaki&lt;br /&gt;lima anak perempuan&lt;br /&gt;dan guyonan klub sepak bola pribadi&lt;br /&gt;dari darah daging sendiri&lt;br /&gt;kita tertawa lepas&lt;br /&gt;dan sudut lesung pipi&lt;br /&gt;paling indah di jawa itu&lt;br /&gt;menubrukku diam diam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;sebelum lebai memanggil maghrib,&lt;br /&gt;dan sepeda warna-warni melacur&lt;br /&gt;kau berkata :&lt;br /&gt;: “aku senang&lt;br /&gt;Akhirnya kita bisa bicara&lt;br /&gt;layaknya karib lama yang&lt;br /&gt;tak pernah jumpa,”&lt;br /&gt;lalu seruan panggilan tunduk&lt;br /&gt;menyeruak diantara tebal dinding&lt;br /&gt;plengkung gading dan dua&lt;br /&gt;pohon beringin kembar&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;kelak seusai pertemuan itu&lt;br /&gt;kau akan bercerita&lt;br /&gt;pada keturunanmu&lt;br /&gt;: “kemarahan menemukan bentuknya&lt;br /&gt;sedang amarah mencari wajah&lt;br /&gt;Dasamuka seorang pecinta&lt;br /&gt;yang dipecundangi rama&lt;br /&gt;dengan muslihat&lt;br /&gt;dan seekor kera,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;matahari sudah tergelincir sepi&lt;br /&gt;sementara aku merindu Seno&lt;br /&gt;untuk menulis lagi&lt;br /&gt;sepotong senja&lt;br /&gt;untuk sahabatku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*sembari mendengar The Camerawalls&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/983291090388480151-3049080688965879845?l=terumbukarya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://terumbukarya.blogspot.com/feeds/3049080688965879845/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://terumbukarya.blogspot.com/2012/01/di-atap-patehan-memandang-petang-yang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/983291090388480151/posts/default/3049080688965879845'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/983291090388480151/posts/default/3049080688965879845'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://terumbukarya.blogspot.com/2012/01/di-atap-patehan-memandang-petang-yang.html' title='di atap Patehan memandang petang yang rubuh'/><author><name>Arman Dhani Bustomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09710999134909778313</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-x0-TY8scle4/TsIUelg00YI/AAAAAAAAAXY/BatguPLze9Q/s220/309682_2423314513268_1563636231_2548318_1025409700_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-sKB3ykdeA_0/TwL35Amnx9I/AAAAAAAAAcw/xMrX4WL0jag/s72-c/316491_2438642616461_1563636231_2562099_1781868379_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-983291090388480151.post-3444157934959882780</id><published>2012-01-03T18:57:00.000+07:00</published><updated>2012-01-03T19:09:31.060+07:00</updated><title type='text'>Puisi Dari Aufa</title><content type='html'>&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-ORlkEq2YNFw/TwLsKxCZoVI/AAAAAAAAAck/eIv6cKvq27I/s1600/34295_405922874164_594379164_4196677_192230_n+%25281%2529.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="215" src="http://1.bp.blogspot.com/-ORlkEq2YNFw/TwLsKxCZoVI/AAAAAAAAAck/eIv6cKvq27I/s320/34295_405922874164_594379164_4196677_192230_n+%25281%2529.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Berapa bulan lalu saat saya sedang sangat terguncang dan labil, seorang kawan datang dan berdiskusi. Saya tak curhat padanya, hanya bilang bahwa tanpa sadar saya berhenti percaya pada sikap welas asih. Karena kenangan, seperti juga bersin, adalah hal yang tak mungkin bisa kita lawan dan kita tundukan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kawan saya itu adalah Aufanuha Insani. Seorang penyair muda asal Semarang, yang pada masa SMA dahulu pernah beberapa bulan tinggal di Amerika. Dia seorang esais yang menurut pendapat saya, punya kemahiran untuk menjewer kita keras tapi kemudian tertawa setelahnya. Aufa punya kekuatan dalam menulis untuk menyusun narasi yang tegas, renyah dan berwibawa. Namun bisa tetap bersikap selayaknya seorang remaja. Usil.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Potret Aufa sebagai seorang penyair adalah potret seorang pemuda flamboyan yang terlalu banyak buku. Bagi mereka yang jarang mengunyah aksara dan mencerna kata-kata, puisi Aufa bisa jadi sangat biasa. Namun ke -biasa - annya itu membuat ia seorang penyair yang bernas. Selalu memiliki pilih padan kata yang riuh dan jarang dipakai.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Lalu petang ini ia menyapa saya dan berkata telah membuatkan sebuah sajak untuk saya. Saya terkejut dan senang. Karena tak banyak hal yang saya bagi bersama Aufa. Namun sajak yang ia buat, entah mengapa, begitu teduh dan memberikan pencerahan. Ini sajaknya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;kepada dhani&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;&lt;i&gt;penyair memahat kata-kata, kau mengekalkan duka&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;&lt;i&gt;dan bencimu ruah pada ingatan yang dahaga.&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;&lt;i&gt;berhamburan di sela diskusi filsafat,&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;&lt;i&gt;cerita-cerita porno stensilan, juga hujat menghujat&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;&lt;i&gt;riuh padat kotaku&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;&lt;i&gt;yang menyeretmu, akut menyembilu.&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;&lt;i&gt;&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;pada ampas kopi, dari kafe-kafe bonafid hingga&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;&lt;i&gt;angkringan-angkringan kumuh stasiun tugu&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;&lt;i&gt;bukankah kita membikin kenangan baru&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;&lt;i&gt;yang kautebus dalam hitungan windu,&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;&lt;i&gt;dalam kisah yang kau&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;permanis, ditulis&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;&lt;i&gt;anak-anakmu sebagai gerimis&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;&lt;i&gt;atau rindu masa lalu.&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;&lt;i&gt;atau barangkali kita mencatatnya sendiri,&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;&lt;i&gt;membacanya diam-diam&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;&lt;i&gt;sambil membisikkan nama-nama sufi&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;&lt;i&gt;yang mati dalam pengembaraan.&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;&lt;i&gt;aku tak tahu. tiap kota merekam ngilu&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;&lt;i&gt;meretas kenangan dan dendam.&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;//2011-2012&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Well, some will say this is fags thing. But i like this poem. Thanks Aufa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/983291090388480151-3444157934959882780?l=terumbukarya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://terumbukarya.blogspot.com/feeds/3444157934959882780/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://terumbukarya.blogspot.com/2012/01/puisi-dari-aufa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/983291090388480151/posts/default/3444157934959882780'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/983291090388480151/posts/default/3444157934959882780'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://terumbukarya.blogspot.com/2012/01/puisi-dari-aufa.html' title='Puisi Dari Aufa'/><author><name>Arman Dhani Bustomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09710999134909778313</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-x0-TY8scle4/TsIUelg00YI/AAAAAAAAAXY/BatguPLze9Q/s220/309682_2423314513268_1563636231_2548318_1025409700_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-ORlkEq2YNFw/TwLsKxCZoVI/AAAAAAAAAck/eIv6cKvq27I/s72-c/34295_405922874164_594379164_4196677_192230_n+%25281%2529.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-983291090388480151.post-1163159424945308725</id><published>2011-12-30T16:08:00.002+07:00</published><updated>2011-12-30T16:08:20.355+07:00</updated><title type='text'>Gambar Huanjing</title><content type='html'>&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-PqMHqGDXqEM/Tv1-LEiSpiI/AAAAAAAAAcM/QQF2E-6xzXI/s1600/407561_10150476422854799_806944798_8294003_358653198_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="155" src="http://3.bp.blogspot.com/-PqMHqGDXqEM/Tv1-LEiSpiI/AAAAAAAAAcM/QQF2E-6xzXI/s320/407561_10150476422854799_806944798_8294003_358653198_n.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Saya menemukan gambar modifikasi &lt;i&gt;the last supper&lt;/i&gt; karya Leonardo Da Vinci di laman Facebook seorang kawan hari ini. Gambarnya lucu, karena yesus dan 12 rasul diganti dengan tokoh-tokoh populer dunia. Seperti Ernesto Guevara, Tintin, Groucho Marx (atau Charlie Caplin ), Spiderman, John Lennon, Nelson Mandela, Bart Simpson, Mickey Mouse &amp;nbsp;dan lainnya saya tak kenal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini seperti memandang ulang kreasi post moi indie yang dibikin oleh Pidi Baiq. Mungkin ada yang tau siapa artist pembuat gambar lukisan ini? Saya penasaran sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/983291090388480151-1163159424945308725?l=terumbukarya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://terumbukarya.blogspot.com/feeds/1163159424945308725/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://terumbukarya.blogspot.com/2011/12/gambar-huanjing.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/983291090388480151/posts/default/1163159424945308725'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/983291090388480151/posts/default/1163159424945308725'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://terumbukarya.blogspot.com/2011/12/gambar-huanjing.html' title='Gambar Huanjing'/><author><name>Arman Dhani Bustomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09710999134909778313</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-x0-TY8scle4/TsIUelg00YI/AAAAAAAAAXY/BatguPLze9Q/s220/309682_2423314513268_1563636231_2548318_1025409700_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-PqMHqGDXqEM/Tv1-LEiSpiI/AAAAAAAAAcM/QQF2E-6xzXI/s72-c/407561_10150476422854799_806944798_8294003_358653198_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-983291090388480151.post-2554681855065005524</id><published>2011-12-30T14:29:00.001+07:00</published><updated>2011-12-30T14:29:31.956+07:00</updated><title type='text'>Natal dan Islam yang penuh Kasih</title><content type='html'>&lt;br /&gt;&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;Danselamat sejahteralah atasnya dihari dilahirkan, dihari dia meninggal dan diharidia akan dibangkitkan hidup kembali.&amp;nbsp;(QS.Maryam : 15)&lt;/blockquote&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;sebuah pertanyaan yang sering membuat saya bangun dari tidur dengan keringatyang deras mengalir. Apa jadinya jika saya dilahirkan bukan sebagai orang islam.Atau bagaimana jika islam itu bukan sebuah kebenaran. &lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;sebuah celah dimana sebagai umat saya dituntut untuk bertauhid tanpa tanya. Tentudemikan karena ide mengenai keimanan yang &lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;lima&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;berawal dari rasa pasrah total terhadap sesuatu yang transenden. Sebuah gagasanmengenai ketundukan total.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;Tapidalam hidup saya yang tak seberapa panjang ini. Saya menemukan bahwa nikmatislam bukan sesuatu yang given. Ia membutuhkan sebuah pergulatan dan perjuanganuntuk mendapatkannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;Islam,seperti juga seluruh agama lain, mengajarkan kebajikan, sikap welas asih dan terkadangjuga kekerasan. Tergantung darimana perspektif anda melihatnya. Namun satu halyang jelas islam tak pernah mengajarkan kesompralan untuk mengatur klaimkebenaran terhadap firman agama lain. Well, anda bisa membaca &lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;surat&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;Al Kafirun. Seorang dengan IQ paling tiarap dapat memahami makna &lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;surat&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;itu sebagai kartu kuning terhadap liturgi umat lain. Semacam kredo New Yorkeruntuk berkata &lt;i&gt;mind your own religion&lt;/i&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;Selangsemalam sebelum natal tiba. Puluhan akun twitter dan blog beramai ramaimempersoalkan keabsahan natal umat Kristiani. Bahwa 25 Desember adalah perayaankaum pagan (beberapa menuliskan kafir) terhadap pemujaan dewa matahari Apollo. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;Beberapanegara di Eropa Timur seperti &lt;st1:place&gt;&lt;st1:city&gt;Ukraina&lt;/st1:city&gt;, &lt;st1:country-region&gt;Russia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;dan &lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;Macedonia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;melaksanakan natal di antara 7 dan 19 Januari. So? Sama juga berbedanya umatislam yang berebut kuasa perihal penentuan satu Syawal. Sekali lagi perbedaanadalah fitrah. Karena jika Allah berkehendak fasis dengan menyatukan seluruhumat. Maka hal itu adalah pekerjaan maha mudah bagi Nya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;Perdebatanmengenai keabsahan natal. merupakan perdebatan yang menurut saya terlalu tololuntuk dimasuki. Karena jauh daripada itu substansi natal bukan pada kapan ituberlangsung. Karena Natal bagi umat kristiani (dalam hal ini Khatolik) takmelulu tentang perayaan dan hadiah. Namun juga tentang masa advent, sebuahpenantian, persiapan untuk menyambut kelahiran sang putera Tuhan. Merujukdiskusi saya dengan Romo Yudhi, pastor Paroko Gerjea Katolik Santo Yusup, masaadvent adalah masa pertaubatan. Dengan kata lain sebuah sikap (lagi-lagi) pasrahuntuk mengakui kejumudan diri. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;Nataljuga sebagai momen retrospeksi. Bahwa pada saat kelahiran - Nya. Yusuf danMaria yang hamil tua sedang berjalan di tengah malam di &lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;Bethlehem&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;. Dimalam dimana seluruhbintang bersinar sangat terang. Setelah berjalan di seluruh penjuru &lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;,dengan perut melilit, Maria tetap tabah meski ditolak menginap dimana mana. Sepertijuga dalam islam, sebelum terjadinya hijrah, muslim diasingkan oleh kaumQuraish Mekah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;Mariadan Yusuf terus berjalan. Tentu tak mudah dengan perut membesar dan sebuahtanggung jawab iman, Maria merasa menanggung beban seluruh umat manusia. Merekaberjalan sampai menemukan sebuah kandang untuk tempat berteduh dan melahirkanbayi Yesus. Hingga orang-orang majusi yang menyembah api merasa berbahagiakarena bintang terang telah lahir di Betlehem.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;ApakahYesus lahir 25 Desember? Itu bukan perkara penting. Sama dengan perdebatanmengenai Nabi terakhir Ahmad atau Muhammad. Karena semua ini adalah perkaraTauhid dan Tauhid adalah masalah keyakinan. Apa yang menjadi keputusan bahwa 25Desember, terlepas itu perayaan kaum pagan romawi terhadap Apolo, adalah hak danmilik umat katolik. Dan jika umat islam, atau siapapun mereka yang mengklaimmenjadi pewaris kebernaran Islam tak punya hak apapun untuk ambil bagian.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;ImamSyamsuidin As Sarakhsy al Mabsuth dalam Darul Ma'rifah mengatakan &lt;i&gt;natrukuhumwamaa yadiinun&lt;/i&gt; (biarkan saja masing-masing mereka menenukan pilihan aqidahmereka). Umat non islam atau kalangan ulama menyebut &lt;i&gt;ahludz dzimmah&lt;/i&gt; (artinyatanggung jawab merujuk kepada nasib mereka merupakan tanggung jawab Allah). Berhakdilindungi dan diberikan kebebasan untuk melakukan segala liturgi dan akidahyang mereka yakini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;Mengenaitafsir umat kristiani (dalam banyak &lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;surat&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;Allah menyebut mereka nasoro atawa ahlul kitab) bahwa 25 Desember adalah harikelahiran kristus putra Allah. Itu sepenuhnya adalah tauhid dan aqidah milikmereka. Sebagai umat islam kita bahkan dituntut untuk menjamin kemerdekaan danhak mereka untuk beribadah sesuai dengan ajarannya. Termasuk juga saat merekaahludz dzimmah melakukan da'wah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;Logikanyasederhana. Jika kita sebagai muslim punya kewajiban untuk berdakwah danmenyebarkan agama dengan imbalan surga firdaus yang kekal. Maka mereka dengantauhid dan aqidah yang mereka yakini juga pasti memiliki pemahaman serupa. Adalahsebuah oxymoron jika kemudian kita mengaku beriman dan bertakwa tetapi takutsaat ada umat lain berdakwah. Apakah selemah itu iman kita sehingga perlumengekang dan menindas umat lain dalam beribadah?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;DalamIslamologi karangan Maulana Muhammad Ali, ulama Ahmadiyah Lahore, mengatakanbahwa jika iman kita kuat. Tidak perlu takut terhadap perubahan yangbagaimanapun. Karena ajaran awal yang diberikan kepada Nabi adalah kesabarandan ketaatan yang tulus. Ia juga membedah dua tahapan dakwah awal islam. Sebagaifase Mekah dan fase Madinah. Dimana pada fase Mekkah belum ada syariat danseluruh umat diminta untuk bersabar. Karena kesabaran itulah kunci dari sebenarbenarnya iman.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;Dalamsejarah dan kesepakatan konsili Nicea, Gereja Katolik berusaha untuk berkembangdan beradaptasi dengan masyarakat yang ada. Seperti juga umat islam bersepakatmengenai hal-hal yang tak tertulis dalam Al Quran dan Hadist. Ini merupakanijtihad versi gereja Katolik, yang menurut pendapat saya pribadi, patutdihormati dan dihargai. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;Gerejakatolik dan seluruh sekte dalam kristen bersepakat melalui konsili Nicea. Sepertijuga islam bersepakat dalam sidang isbat penentuan idul fitri (yang konyolnyatak pernah ada perdebatan mengenai idul adha). Semua agama memilikiperdebatannya sendiri. Bagaimana Calvinis, Opus Dei, Katolik dan Orthodoxmemiliki akidah dan tauhidnya sendiri. Kita sebagai umat islam hendaknyabertoleransi saja.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;Islamadalah agama kedamaian. Seperti etimologi awal As Salaam yang berartiperdamaian. Islam merupakan rahmatan lil alamin. Tak hanya bagi umat muslimsendiri tapi juga untuk seluruh umat manusia dan mahluk hidup di antaranya. Kitabahkan dilarang dan dilaknat Allah untuk tak menghina tuhan umat lain. Sepertidalam Al An'aam ayat 108. "dan janganlah kamu memaki sesembahan-sesembahanmereka selain Allah. Karena mereka akan memaki Allah dengan melampaui batastanpa pengetahuan,"&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;Islamjuga melakukan adaptasi, infiltrasi dan modifikasi. Seperti saat permulaanmasuknya islam ke &lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;melalui pesisir utara. Tentu kita kenal tembang lir ilir gubahan Sunan Kalijagadan bagaimana ia memanfaatkan kebudayaan tersebut sebagai infilitrasi islam ketanah jawa. Gereja Katolik juga sama. Pada saat kekaisaran Konstatinus agung,mereka menyadari bahwa tak mungkin memaksakan ajaran kasih yang luas tanpa adakesepakatan melngenai kanon-kanon keimanan. Tanpa ini mustahil ajaran kasihbisa masuk kedalam relung warga romawi dengan kerelaan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;Adaptasiadalah kunci keberlangsungan sebuah ajaran. Islam, saya kira juga demikian. Bukankahislam hanya ada satu di masa Rasulullah Muhammad? Namun kini ada ratusan sektedan aliran yang mengklaim kebenaran tunggal. Belum lagi perdebatan Fiqih,Tauhid dan Syar'i antara Sunni dan Syiah. Gereja katolik juga demikian sampaidimana mereka terpaksa harus berpisah dengan saudara-saudara protestan. Bahwatafsir adalah sebuah efek apa boleh buat dari sebuah agama.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;Takperlu memaksakan logika agama sendiri terhadap agama lain. Anda yang muslim takakan dapat menemukan satupun alasan rasional mengenai trinitas. Seperti jugaumat katolik tak dapat menemukan rasionalitas terhadap ajaran hindu mengenaitertidurnya Wisnu untuk menciptakan dunia pararel lain. Karena memang agama takmasuk akal. Dan melogikakan agama adalah pekerjaan paling tolol setelah menjadidubing sinetron mak lampir di Indosiar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;Sayalahir dari keluarga dengan latar belakang islam yang sangat beragam. Kakek sayaadalah seorang Kyai di Banyuwangi, ayah saya adalah pengurus cabangMuhammadiyah Bondowoso, Kakak saya yang pertama adalah simpatisan hizbut tahrirdan yang lain adalah &lt;i&gt;self proclaimed eslam protestan&lt;/i&gt;. Ini bukan upayagagah-gagahan. Ini adalah curhat karena lahir dalam keluarga semacam ini bisajadi semacam neraka atau surga tergantung perspektif anda melihat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;Darisekian banyak pendapat mengenai tafsir saya diajarkan untuk memiliki kehendakbebas. Semacam keberanian mencari tahu tentang apa sebenarnya agama islam itu. Bukanhanya diam saja dan duduk menerima bahwa islam adalah A B C dan seterusnya. Kritisbukan berarti nyinyir dan liberal. &lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;beberapa batas yang tak perlu lagi dipertanyakan. Seperti keesaan Allah dankenabian Muhammad. Tetapi dari kebebasan itu saya malah mendapatkan banyakpemahaman. Meminjam istilah Romo Yudhi, dalam setiap kebudayaan/literatur adabibit-bibit keimanan tuhan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;Terakhirada baiknya kita melaksanakan wasiat Umar Ibn Khatab perilhal &lt;i&gt;ahludz dzimmah&lt;/i&gt;seperti yang diriwayatkan Imam Bukhori. &lt;i&gt;Uushiikum bidzimmatillahi fainnahuudzimmatu nabiyikum&lt;/i&gt;. (Aku berwasiat kepada kalian agar menjaga DzimmahAllah, karena sesungguhnya ia juga merupakan Dzimmah kalian)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/983291090388480151-2554681855065005524?l=terumbukarya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://terumbukarya.blogspot.com/feeds/2554681855065005524/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://terumbukarya.blogspot.com/2011/12/natal-dan-islam-yang-penuh-kasih.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/983291090388480151/posts/default/2554681855065005524'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/983291090388480151/posts/default/2554681855065005524'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://terumbukarya.blogspot.com/2011/12/natal-dan-islam-yang-penuh-kasih.html' title='Natal dan Islam yang penuh Kasih'/><author><name>Arman Dhani Bustomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09710999134909778313</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-x0-TY8scle4/TsIUelg00YI/AAAAAAAAAXY/BatguPLze9Q/s220/309682_2423314513268_1563636231_2548318_1025409700_n.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-983291090388480151.post-8772200801135898133</id><published>2011-12-29T11:37:00.002+07:00</published><updated>2011-12-29T11:53:26.910+07:00</updated><title type='text'>Sayembara Kecil Menulis Resensi Retrospektif Album HOMICIDE; "Godzkilla Necronometry"</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-EBup30nuyhM/Tvvwfu3mICI/AAAAAAAAAcA/YYGtn6i_J2I/s1600/375425_10150444144625700_207274960699_10678395_14858380_a.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/-EBup30nuyhM/Tvvwfu3mICI/AAAAAAAAAcA/YYGtn6i_J2I/s1600/375425_10150444144625700_207274960699_10678395_14858380_a.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2012 sudah hampir datang dan jika nubuat suku Maya benar, maka ini tahun terakhir hidup kita di Bumi. Namun bukan tentang itu anda membaca posting ini. Yak benar, sepuluh tahun lalu album Homicide pertama, "Godzkilla Necronometry" dirilis dalam dua bentuk; sebagai album dan sebagai bagian split dengan Balcony, grup hardcore dari Bandung Juga. Album ini cukup penting bukan karena sebagai album HOMICIDE pertama, tapi karena merubah tak hanya wajah hiphop lokal namun juga wajah musik Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Untuk sekedar merayakannya kecil-kecilan, pengelola FB &lt;a href="http://www.facebook.com/pages/HOMICIDE-Bandung-Unofficial-Page/207274960699"&gt;Unofficial Homicide&lt;/a&gt; berniat membuat sebuah lomba menulis essay retrospektif tentang album tersebut. Mereka membuat ini sebagai bentuk tribute. Penghargaan sadar atas kerja keras dan karya kanon Homicide. Hadiahnya pun sederhana. Hanya sebuah T-Shirt HOMICIDE dan 2 buah poster HOMICIDE ukuran A3 yang belum keluar dari plastiknya sejak dibeli dulu, akan diberikan kepada seorang pemenang dengan tulisan terbaik. Penilaian tidak akan dilakukan sendirian. Rencananya mereka akan meminta bantuan beberapa penulis/jurnalis musik yang sudah kenal. Beberapa waktu lalu Taufiq Rahman, co founder dan editor Jakartabeat, tertarik untuk menjadi juri dan menaruh review terbaik di situs kolektif itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Karya penulisan tidak dibatasi secara teknis, tapi mungkin 2000 kata udah cukup panjang. Silahkan kirim tulisannya ke pusakakalam@gmail.com, dan batas pengirimannya sampai dengan akhir Januari 2012. Ingat sebelum kiamat!&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Untuk lebih jelas mengenai apa dan bagaimana Godzkilla Necronometry" bisa main ke &lt;a href="http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150319824126110"&gt;SINI&lt;/a&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/983291090388480151-8772200801135898133?l=terumbukarya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://terumbukarya.blogspot.com/feeds/8772200801135898133/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://terumbukarya.blogspot.com/2011/12/sayembara-kecil-menulis-resensi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/983291090388480151/posts/default/8772200801135898133'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/983291090388480151/posts/default/8772200801135898133'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://terumbukarya.blogspot.com/2011/12/sayembara-kecil-menulis-resensi.html' title='Sayembara Kecil Menulis Resensi Retrospektif Album HOMICIDE; &quot;Godzkilla Necronometry&quot;'/><author><name>Arman Dhani Bustomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09710999134909778313</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-x0-TY8scle4/TsIUelg00YI/AAAAAAAAAXY/BatguPLze9Q/s220/309682_2423314513268_1563636231_2548318_1025409700_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-EBup30nuyhM/Tvvwfu3mICI/AAAAAAAAAcA/YYGtn6i_J2I/s72-c/375425_10150444144625700_207274960699_10678395_14858380_a.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-983291090388480151.post-7303279789692831136</id><published>2011-12-22T13:31:00.001+07:00</published><updated>2011-12-22T14:01:17.151+07:00</updated><title type='text'>Anak Mama</title><content type='html'>&lt;br /&gt;&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;"Dhani nggak apa2? jng lp mkn. jg kesehatan y mama syg dhani"&lt;/blockquote&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ibu saya itu reinkarnasi Nostradamus. Mungkin juga Jayabaya. Atau Ronggowarsito. Atau Merlin. Entahlah. Tapi yang jelas dia tahu kapan saya sedang jatuh, sedih dan membutuhkan dukungan. Padahal saya bukan orang yang suka bicara. Dalam banyak hal saya menyimpan masalah sendiri. Meski sering labil untuk kemudian mempostingkan perasaan ke dalam social media. Well, mungkin ini penyakit masyarakat digital paska industri. Scizhocybernia. Kecemasan digital.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ibu saya gagap teknologi. Gagap informasi. Tapi tak membuat ibu saya buta terhadap masalah yang ada. Saya dulu ingat saat SD ibu saya berujar "Pak Harto mari ngene mudun, wes wayahe mandeg," itu sekitar tahun 96. Jauh sebelum gejolak ekonomi dan politik 98 terjadi. Dan entah karena kebetulan atau karena ibu saya 'mandhi' pak Harto benar-benar mundur. Dalam setiap ibu selalu ada kekuatan tersembunyi yang akan membuat anaknya merasa bangga telah dilahirkan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ibu saya tak tahu facebook atau twitter atau blog. Dia hanya tahu Al Quran, Dapur dan Masjid. Tapi dia tahu jika saya ada masalah, sakit atau sedih. Pernah saat kuliah semester 3 saya sakit tipes di kosan. Saya tak memberi tahu Ibu dan ia datang pada hari kedua dengan air mata. Ibu saya mimpi kakinya di injek gajah. Entahlah analogi gajah dan ukuran tubuh saya mungkin memiliki kemiripan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;Ibu saya marah karena tak diberitahu sedang sakit. Dan ia menjemput paksa saya untuk pulang beristirahat di rumah.&amp;nbsp;&lt;/blockquote&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sampai hari ini saya tak tahu apa yang mendorong ibu saya untuk datang kala itu. Ibu sepertinya punya indra keenam untuk bisa meramalkan kondisi anaknya. Semacam radar untuk mendeteksi kebohongan, keadaan atau bahkan perasaan paling tersembunyi dari diri anaknya. Semua ibu memiliki indra ini. Tak hanya ibu saya tapi seluruh ibu yang melahirkan anak-anak paling hebat di dunia.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hari ini ibu saya tiba-tiba menegur keadaan saya. Meminta anaknya yang badung ini untuk menjaga diri, jangan telat makan dan jaga kesehatan. Entahlah apa yang mendorong dia untuk melakukan itu. Mungkin ibu tahu kalau saya sedang sedih. Atau tahu saya sedang sangat labil. Apapun itu saya percaya tak ada satupun anak di dunia yang sanggup sembunyi dari perhatian ibunya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tak banyak yang mengetahui jika hari ini terjadi Kongres Perempuan Indonesia (1) pada 22-25 Desember 1928 (beberapa bulan seusai sumpah pemuda pemudi). Muhidin M Dahlan, seorang kronik sejarah Indonesia merekam ini dari majalah Isteri yang mencatat dengan detil kongres itu. Kongres itu diikuti 30 pergerakan semasa. Di situ ada Nyi Hajar Dewantara. Ny Ali Sastroamidjojo dll. Perdebatan paling mencuat saat itu adalah Poligami (Organ Sedar dan Aisjijah bertarung keras dalam forum).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk memperingati Hari Kongres Perempuan Indonesia yang jatuh hari ini 84 tahun lalu itu di Yogyakarta. Saya ingin menulis ulang kisah ini. Tentang bagaimana kepedulian sederhana dari seroang perempuan bisa jadi mood booster paling ampuh. Ini juga tulisan untuk segala ibu, tak melulu bagi mereka perempuan yang melahirkan tapi dengan asih dan asuh merawat anak-anak, yang dengan rock and roll telah tulus mencintai kita.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-kHrD7RN8ls8/TvLRhK-WVUI/AAAAAAAAAbc/18Fpr7Rdtlk/s1600/478006924.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://4.bp.blogspot.com/-kHrD7RN8ls8/TvLRhK-WVUI/AAAAAAAAAbc/18Fpr7Rdtlk/s320/478006924.jpg" width="240" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;Terimakasih mamah. Dhani juga sayang mamah.&lt;/blockquote&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/983291090388480151-7303279789692831136?l=terumbukarya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://terumbukarya.blogspot.com/feeds/7303279789692831136/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://terumbukarya.blogspot.com/2011/12/anak-mama.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/983291090388480151/posts/default/7303279789692831136'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/983291090388480151/posts/default/7303279789692831136'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://terumbukarya.blogspot.com/2011/12/anak-mama.html' title='Anak Mama'/><author><name>Arman Dhani Bustomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09710999134909778313</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-x0-TY8scle4/TsIUelg00YI/AAAAAAAAAXY/BatguPLze9Q/s220/309682_2423314513268_1563636231_2548318_1025409700_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-kHrD7RN8ls8/TvLRhK-WVUI/AAAAAAAAAbc/18Fpr7Rdtlk/s72-c/478006924.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-983291090388480151.post-3123268190564568450</id><published>2011-12-15T18:10:00.004+07:00</published><updated>2011-12-15T18:11:37.583+07:00</updated><title type='text'>Catatan kecil yang panjang</title><content type='html'>&lt;br /&gt;&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;&lt;i&gt;~ Boleh lapar tapi tak boleh berhenti tulis membaca.&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Apa yang lebih indah daripada sore hari, dengan sebuah senja keemasan yang pecah di horison, sambil menulis sebuah catatan dan ditemani secangkir kopi hitam pahit yang pekat? Kopi yang memiliki rasa pahit getir dimana saat kau rasakan di ujung lidahmu akan tersisa getir yang teramat sangat. Seperti film tengah malam yang mengantarkanmu tidur namun berhasil merebut perhatianmu hingga ia usai.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Catatan kecil yang muncul dari rasa heboh dan meletup-letup seusai kau membaca sebuah buku yang sangat menarik. Catatan yang awalnya hendak kau buat pendek, namun berubah menjadi epos panjang, sehingga kau butuh semua keberanianmu untuk menghentikan catatan panjang ini. Seperti semua anak mami yang mesti lepas dari sapihan ibunya untuk pertamakalinya bermain di pantai.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Awalnya kau hanya sedang ingin menghabiskan waktu senggangmu akibat hujan deras, yang bulir bulirnya riuh berjatuhan di halaman rumah, yang wanginya mengirimkan sepasukan aroma tanah basah. Dan kau pun terdiam lalu teringat sebuah buku baru yang tak sempat kau baca. Lalu diam-diam mencari-cari diantara ratusan tumpukan buku. Seperti kerinduan di sebuah terminal yang menunggu kedatangan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jari-jarimu terus menulis dan menulis dan menulis. Sampai sebuah aroma pisang goreng melayang dan menghentikan konsentrasimu dalam menulis catatn kecil yang panjang. Lalu kau sesap lagi hangat kopi pahit itu dan menunggu manis getirnya hilang. Lalu kau mengambil sepotong pisang goreng dan mengunyahnya perlahan lahan. Seperti kesabaran seorang suami yang menunggu istrinya berdandan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kukira menulis itu soal menuangkan apa yang ada dalam pikiranmu dan membiarkanya melantur seperti anak-anak yang bermain perang. Lalu merapikannya pelan-pelan dan memberikan sebuah batasan yang jelas perihal apa saja yang hendak disampaikan dan apa yang tidak. Tapi rupanya menulis itu semacam membuka keran air dengan tangki sebesar lautan. Seperti banjir air bah yang kemudian menghanyutkan hal-hal remeh yang terlalu susah untuk ingat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lalu kau melihat senja yang pudar itu pelan-pelan menjadi gelap yang terlalu pekat. Saat kau sedang asik menulis pada bagian klimaks catatn kecilmu yang panjang, sebuah riuh bebunyian terdengar. Tapi kau terlalu acuh untuk kemudian berhenti dan peduli. Bebunyian itu terus nyalang berteriak dari sebuah benda yang berpendar-pendar. Seperti lonceng peringatan bagi umat untuk kemudian larut dalam komuni putra maria.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kau masih terus dan terus menulis sebuah catatan kecil yang kini sudah menginjak usia halaman kelima. Kau yang awalnya hanya menulis tentang sebuah fragment buku, kini berkembang menulis perihal kebencian, kemarahan, dendam dan sebuah rasa nyeri yang tertahan. Kau terus menulis tanpa menyadari air hangat asin berderai-derai mengalir dari kedua matamu yang kosong menatap nanar monitor. Seperti sebuah aliran perigi pada musim hujan paling deras.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Malam akhirnya benar-benar tiba dan serangkaian cahaya serupa barisan kunang-kunang mulai bermunculan. Menciptakan bias warna merah, biru, kuning, hijau, dan putih polos. Tembok tembok yang kemudian temaram menjadi angkuh dengan lunturan warna. Kau masih tak peduli dan terus menulis catatan kecil yang menjadi panjang. Seperti sebuah janji &amp;nbsp;tak akan ada istirahat sebelum usai penaklukan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;"Kriiuiuiuiuiuiuiuik" dan bunyi keparat itu benar-benar memecah konsentrasimu yang sedari pagi kau bangun dengan keangkuhan. Kau terpaksa harus tunduk kali ini. Pisang goreng hangat tadi sudah tandas tak bersisa, sementara cangkir kopi pahitmu sudah selesai dan tinggal ampas. Dengan malas kau berdiri menjerang air dan mulai menyedu kopi pahit lain. Seperti kebeblan yang tak pernah mengakui kekalahan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sedikit lagi selesai. Begitu saja dalam pikiranmu terus menerus berulang-ulang dan terus menerus. Menyelesaikan catatan kecil yang panjang dan telah tamat berumur 20halaman. Kau membacanya pelan-pelan. Dengan kerendahan hati seorang pendosa. Di tengah keheningan malam yang bahkan tak satupun setan yang sudi gentayangan.&amp;nbsp;Lantas kau berkata lirih "Meh kok jadinya puisi galau?"&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Terdengar ketukan panjang pada keyboard.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Ctrl A Del."&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/983291090388480151-3123268190564568450?l=terumbukarya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://terumbukarya.blogspot.com/feeds/3123268190564568450/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://terumbukarya.blogspot.com/2011/12/catatan-kecil-yang-panjang.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/983291090388480151/posts/default/3123268190564568450'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/983291090388480151/posts/default/3123268190564568450'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://terumbukarya.blogspot.com/2011/12/catatan-kecil-yang-panjang.html' title='Catatan kecil yang panjang'/><author><name>Arman Dhani Bustomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09710999134909778313</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-x0-TY8scle4/TsIUelg00YI/AAAAAAAAAXY/BatguPLze9Q/s220/309682_2423314513268_1563636231_2548318_1025409700_n.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-983291090388480151.post-2973298403127712772</id><published>2011-12-15T12:48:00.004+07:00</published><updated>2011-12-15T12:48:53.151+07:00</updated><title type='text'>Tampilan Baru Dapur Blogspot</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-5YnmskMQKto/TumJ_Ld3MgI/AAAAAAAAAbQ/KGkqu5WWXl8/s1600/asasasasasasasasasa.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em; text-align: center;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://4.bp.blogspot.com/-5YnmskMQKto/TumJ_Ld3MgI/AAAAAAAAAbQ/KGkqu5WWXl8/s320/asasasasasasasasasa.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Almarhun Harry Roesli pernah berkata. Perubahan sebuah zaman tak bisa ditentang atau dilawan. Tapi ada baiknya dikendalikan dan diarahkan. Saya setuju dengan diktum musisi kanon asal Bandung itu. Seperti juga arus sungai, ia bisa dibelokan, dibendung, ditahan tapi tak akan bisa dibalik arusnya. Sebuah kodrat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saya kira ini juga yang terjadi pada Blogspot (blogger) hosting di mana saya menulis selama dua tahun ini. Tampilan dapur (dashboard?) kini semakin cantik, semakin rapi dan ibarat seorang gadis. Sudah menemukan pesonanya sendiri tanpa perlu banyak menggunakan gincu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Well, saya suka blog saya.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/983291090388480151-2973298403127712772?l=terumbukarya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://terumbukarya.blogspot.com/feeds/2973298403127712772/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://terumbukarya.blogspot.com/2011/12/tampilan-baru-dapur-blogspot.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/983291090388480151/posts/default/2973298403127712772'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/983291090388480151/posts/default/2973298403127712772'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://terumbukarya.blogspot.com/2011/12/tampilan-baru-dapur-blogspot.html' title='Tampilan Baru Dapur Blogspot'/><author><name>Arman Dhani Bustomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09710999134909778313</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-x0-TY8scle4/TsIUelg00YI/AAAAAAAAAXY/BatguPLze9Q/s220/309682_2423314513268_1563636231_2548318_1025409700_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-5YnmskMQKto/TumJ_Ld3MgI/AAAAAAAAAbQ/KGkqu5WWXl8/s72-c/asasasasasasasasasa.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-983291090388480151.post-3275742410523039377</id><published>2011-12-14T16:11:00.003+07:00</published><updated>2011-12-15T12:36:02.802+07:00</updated><title type='text'>Majalah Combine Edisi September 2011</title><content type='html'>&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-Jq38rxu5s9o/TuhoVUldbVI/AAAAAAAAAaw/LOO2Bro9v7s/s1600/Kombinasi-September-20111.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5685909245067619666" src="http://1.bp.blogspot.com/-Jq38rxu5s9o/TuhoVUldbVI/AAAAAAAAAaw/LOO2Bro9v7s/s400/Kombinasi-September-20111.jpg" style="cursor: pointer; display: block; height: 400px; margin-bottom: 10px; margin-left: auto; margin-right: auto; margin-top: 0px; text-align: justify; width: 290px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Beberapa bulan lalu seorang kawan meminta saya untuk menulis di Majalah Combine. Produk berbasis oline dari Resource Institution. Sebuah lembaga yang mendukung pengembangan jaringan informasi berbasis komunitas. Komunitas yang menggali, mengolah, dan mengkomunikasikan informasi demi penguatan masyarakat sipil di Indonesia.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Beberpa pegiat majalah ini adalah kawan saya saat masih aktif dalam gerakan Pers Mahasiswa. Anam, kawan saya yang bekerja di Combine, mengatakan proyek ini untuk mereka pegiat persma yang sudah purna jabatan. Dalam banyak hal ini membantu saya untuk terus berkarya diluar media di mana saya biasa menulis. Selain itu ia menjamin bahwa Combine akan tetap netral dan berusaha sejauh mungkin untuk tidak dikooptasi oleh korporasi manapun.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Anda bisa mendapatkan majalah Combine edisi September 2011 dengan gratis &lt;a href="http://combine.or.id/wp-content/uploads/file/Kombinasi-September-20111.pdf"&gt;di sini.&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Panjang umur perlawanan. Panjang umur perjuangan. Jabat erat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-w041OtImqcE/TuiFnOa5LVI/AAAAAAAAAbI/d5ZaJQH74as/s1600/untitled.JPG"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5685941438487539026" src="http://4.bp.blogspot.com/-w041OtImqcE/TuiFnOa5LVI/AAAAAAAAAbI/d5ZaJQH74as/s400/untitled.JPG" style="cursor: pointer; display: block; height: 280px; margin-bottom: 10px; margin-left: auto; margin-right: auto; margin-top: 0px; text-align: justify; width: 400px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/983291090388480151-3275742410523039377?l=terumbukarya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://terumbukarya.blogspot.com/feeds/3275742410523039377/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://terumbukarya.blogspot.com/2011/12/majalah-combine-edisi-september-2011.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/983291090388480151/posts/default/3275742410523039377'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/983291090388480151/posts/default/3275742410523039377'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://terumbukarya.blogspot.com/2011/12/majalah-combine-edisi-september-2011.html' title='Majalah Combine Edisi September 2011'/><author><name>Arman Dhani Bustomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09710999134909778313</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-x0-TY8scle4/TsIUelg00YI/AAAAAAAAAXY/BatguPLze9Q/s220/309682_2423314513268_1563636231_2548318_1025409700_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-Jq38rxu5s9o/TuhoVUldbVI/AAAAAAAAAaw/LOO2Bro9v7s/s72-c/Kombinasi-September-20111.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-983291090388480151.post-8644110193647934613</id><published>2011-12-10T21:30:00.002+07:00</published><updated>2011-12-10T21:46:36.670+07:00</updated><title type='text'>Sondang Hutagalung</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-7fLgn1xJbz4/TuNwAhjNAxI/AAAAAAAAAak/Hn7sNte8o8k/s1600/135482_sondang--mahasiswa-ubk-yang-diduga-bakar-diri_300_225.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 225px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-7fLgn1xJbz4/TuNwAhjNAxI/AAAAAAAAAak/Hn7sNte8o8k/s400/135482_sondang--mahasiswa-ubk-yang-diduga-bakar-diri_300_225.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5684510308980032274" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;/p&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;~ Revolusi memangsa anak-anaknya sendiri&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;Kukira saat itu Sondang dengan gigil yang teramat sangat bolak balik berjalan di antara kerumuman orang. Berlalu diantara palang besi garis batas pengamanan istana negara. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; rasa kesal, takut marah, kalut dan muak tercampur jadi satu. Semua berkelindan dan merasuki nalarnya. Mungkin sedari pagi ia tak makan. Ia mual. Amuk amarah telah merebut kebenarannya sendiri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;Kukira Sondang, seperti juga kebanyakan dari kita, adalah orang biasa. Mengangumi senja yang berlarian di permukan kaca-kaca gedung dingin &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;. Megutuk kemacetan di sudirman kala sore tiba. Menikmati sejuk dingin es degan di Taman Ismail Marzuki. Diam berfikir saat rekan sebayanya riuh berdebat dalam diskus. Dan tentu saja sesekali ia memaki kerbau saat demonstrasi terjadi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;Kukira Sondang mengenal Munir, mengenal Wiji Thukul, mengingat Kudatuli, mengingat Talang Sari, mengingat Tanjung Priuk, mendengar Ahmadiyah dan tentu saja mendengar Lapindo. Tentu ia mengenal semua itu. Gaul berintim dengan lembaga seperti Kontras akan terus mengigir nuraninya untuk terus mengingat. Menolak melupakan penindasan dan merawat ingatan mereka yang bertanggung jawab.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;Kukira Sondang juga sama seperti mahasiswa lain di republik ini. Kuliah dengan teratur. Membaca buku. Mengerjakan tugas. Merayakan kesenian dengan teater dan puisi. Sesekali membolos untuk koordinasi aksi. Sibuk bercumbu dengan pacar di kafe-kafe sekitar kampus. Semua sama. Ngopi hingga tengah malam memperbincangkan hal hal remeh. Ia melakukan itu dengan sebuah kebahagiaan. Menjadi salah seorang dari sedikit yang memikul tanggung jawab sebagai agent of change.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;Kukira Sondang menyadari bahwa dalam sebuah perjuangan akan selalu ada tumbal. Ia juga menyadari, bahwa hanya sedikit perbedaan antara menjadi idealis atau melakukan kebodohan. Bahwa perihal kurban itu adalah permasalahan sudut pandang. Tak ada satupun manusia di bawah kolong langit yang berhak memberikan nilai atau kuasa hukum dalam sebuah perjuangan. Perjuangan adalah perkara keyakinan diri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;Kukira Sondang pernah membaca fragmen kisah Ramayana. Saat dimana Dewi Sinta membakar diri, sebuah laku mestia, untuk membuktikan kesetian dan kesucian dirinya. Lantas ia tiba tiba mengingat Mohamed Bouazizi. Si tukang sayur asal Tunisia yang membakar diri dan menyulut revolusi Jasmine (melati?). Menumbangkan kediktaktoran degil Ben Ali yang korup lagi bebal. Apalah arti luka demi sebuah perubahan?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;Kukira Sondang juga terkejut menengenai sikap bebal dan tolol anggota-anggota DPR RI yang cabul lagi rakus. Juga keputusan pemerintah yang tak juga menuntaskan kasus Munir. Atau perihal ganti rugi Lapindo yang urung tuntas. Semua permasalahan ini menyulut kesadarannya. Ada pertarungan dalam dirinya. Satu sisi menolak peduli dan ingin tetap acuh seperti kebanyakan masyarakat kita. Sisi lain berontak menuntut keadilan dan pertanggung jawaban rezim. Ia terjebak dalam keinginannya sendiri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;Kukira Sondang akhirnya muntab. Mengambil satu jerigen penuh bensin dan mengguyur basah tubuhnya. Bau apak keringat, tengik bensin dan kecut air mata menyaru dalam hidungnya. Dengan gagap Sondang berjalan ketengah jalan. Tak seorangpun peduli. Di Jakarta siapa yang peduli dengan orang lain? Apalagi orang asing aneh di jalanan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Kukira Sondang saat itu mengingat mama. Mengingat bagaimana dengan mesra dan patuh ia memeluknya di gereja. Mendengar kidung puji. Doa tuhan bapa kami dengan khusyuk. Mengingat betapa natal dan keriuhan bersama keluarga adalah kenangan yang sangat indah. Dan perlahan merapal doa-doa minta maaf. Kalut ia bertanya. "apakah aku akan diampuni bapa?"&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;Kukira Sondang gemetaran saat menyakalan korek api miliknya. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; ragu. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; takut. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; marah. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; malu. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; amuk. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; dendam. Perlahan api itu lantas melentik lata pada tubuhnya. Membakar dengan giras bulir-bulir bensin yang merekat dalam tubuhnya. Api membakar hangus amarah. Seperti juga dendam membakar habis akal sehat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;Kukira Sondang saat itu hendak berteriak. "Dengarlah wahai Indonesia yang tengik! Pemimpin goblok! Dan rakyat yang Pelupa! Ingat ini! Ingat Pengorbananku! Dan terbakarlah kalian semua dalam kepura-puraan!" tapi teriakan itu tak selesai terucap. Otaknya melecutkan rasa sakit yang teramat sangat dan membuatnya terkapar tak berdaya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;Kukira Sondang terbakar amarah. Tapi ia tak sendirian. Karena aku kini juga terbakar amarah. Atas kebodohanku. Kelemahanku. Dan ketakpedulianku pada masalah bangsa ini. Sondang menyulut api kebencian, yang pelan-pelan menyebar di udara. Menunggu para maling dan pencoleng republik ini gosong di dalamnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;Kukira Sondang akan selalu diingat. Olehku. Tidak oleh sebagian besar masyarakat republik ini. Dan kematiannya hanya akan berakhir jadi bisik dan perbincangan warung kopi. Seperti biasanya. Karena kebebalan lupa pada republik sudah terlalu akut untuk bisa disembuhkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;Selamat jalan Sondang. Kau bodoh untuk terbakar sendirian.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/983291090388480151-8644110193647934613?l=terumbukarya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://terumbukarya.blogspot.com/feeds/8644110193647934613/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://terumbukarya.blogspot.com/2011/12/sondang-hutagalung.html#comment-form' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/983291090388480151/posts/default/8644110193647934613'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/983291090388480151/posts/default/8644110193647934613'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://terumbukarya.blogspot.com/2011/12/sondang-hutagalung.html' title='Sondang Hutagalung'/><author><name>Arman Dhani Bustomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09710999134909778313</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-x0-TY8scle4/TsIUelg00YI/AAAAAAAAAXY/BatguPLze9Q/s220/309682_2423314513268_1563636231_2548318_1025409700_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-7fLgn1xJbz4/TuNwAhjNAxI/AAAAAAAAAak/Hn7sNte8o8k/s72-c/135482_sondang--mahasiswa-ubk-yang-diduga-bakar-diri_300_225.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-983291090388480151.post-5244976338620551892</id><published>2011-12-10T13:45:00.001+07:00</published><updated>2011-12-10T13:47:24.499+07:00</updated><title type='text'>Bakar Hak Asasimu!</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-5wiOo4G3DIg/TuMARMq4F-I/AAAAAAAAAaY/adnNwXxdLSA/s1600/375196_231102726959810_119953184741432_517180_2035028583_n.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 283px; height: 400px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-5wiOo4G3DIg/TuMARMq4F-I/AAAAAAAAAaY/adnNwXxdLSA/s400/375196_231102726959810_119953184741432_517180_2035028583_n.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5684387450130536418" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;&lt;i&gt;Nobodycorps Courtesy&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Dedy Hamdun HILANG Mei 1997&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ismail HILANG Mei 1997&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Hermawan Hendrawan HILANG Maret 1998&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Hendra Hambali HILANG Mei 1998&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;M Yusuf HILANG Mei 1997&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Nova Al Katiri HILANG Mei 1997&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Petrus Bima Anugrah HILANG Maret 1998&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Sony HILANG April 1997&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Suyat HILANG Februari 1998&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ucok Munandar Siahaan HILANG Mei 1998&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Yadin Muhidin HILANG Mei 1998&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Yani Afri HILANG April 1997&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Wiji Tukul HILANG Mei 1998&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;blockquote&gt;Sondang Hutagalung TERBAKAR Desember 2011&lt;/blockquote&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/983291090388480151-5244976338620551892?l=terumbukarya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://terumbukarya.blogspot.com/feeds/5244976338620551892/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://terumbukarya.blogspot.com/2011/12/bakar-hak-asasimu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/983291090388480151/posts/default/5244976338620551892'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/983291090388480151/posts/default/5244976338620551892'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://terumbukarya.blogspot.com/2011/12/bakar-hak-asasimu.html' title='Bakar Hak Asasimu!'/><author><name>Arman Dhani Bustomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09710999134909778313</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-x0-TY8scle4/TsIUelg00YI/AAAAAAAAAXY/BatguPLze9Q/s220/309682_2423314513268_1563636231_2548318_1025409700_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-5wiOo4G3DIg/TuMARMq4F-I/AAAAAAAAAaY/adnNwXxdLSA/s72-c/375196_231102726959810_119953184741432_517180_2035028583_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-983291090388480151.post-6489225194104078855</id><published>2011-12-08T20:32:00.005+07:00</published><updated>2011-12-09T10:49:54.210+07:00</updated><title type='text'>Purgatori</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-r7_3dRki_GA/TuC9bIIz8_I/AAAAAAAAAaM/IMBuLM5taAA/s1600/self-immolation.png" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="text-align: justify;display: block; margin-top: 0px; margin-right: auto; margin-bottom: 10px; margin-left: auto; cursor: pointer; width: 400px; height: 301px; " src="http://2.bp.blogspot.com/-r7_3dRki_GA/TuC9bIIz8_I/AAAAAAAAAaM/IMBuLM5taAA/s400/self-immolation.png" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5683751003480126450" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 16px;"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;oleh Malcolm Browne&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;There it seemed we both burned; ..... Fix your eyes here, reader, firmly on the truth&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dante Alighieri dalam Divine Comedy&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Musim gugur di Praha. Jan Palach pemuda tanggung dengan wajah murung menatap nanar bendera-bendera komunis. Dalam hatinya ia merasa perih, marah dan tersakiti. Negeri yang semula baik-baik saja menjadi tiran dalam sekejab mata. Dan dekadensi masyarakat membuih seperti air laut. Ia dikepung keinginan keinginan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Komunisme telah membawa demoralisasi di Cekoslovakia. Seperti narasi-narasi muram dalam kisah Kafka, Jan Palach, merasa terasing dengan kondisi itu. Sebagai pemuda dengan pendidikan yang cukup baik. Ia tahu kata-kata tak lagi berguna dihadapan kebebalan dan moncong senjata. Hal ini membutuhkan tindakan nekat. Sebuah aksi revolusioner yang membiak mata lebar.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ia tahu dalam kondisi masyarakat yang ditindas dan ditekan. Segala perlawanan adalah tabu. Pemerintah tiran punya kendali represif yang sadis. Panoptikon. Kendali aparat dan prasangka. Merasa dikeroyok Jan Pallach mengamini satu tindakan drastis. Pembakaran diri.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tindakan ini 20 tahun kemudian memicu apa yang disebut sebagai Velvet Revolution. Revolusi damai yang berujung pada tergulingnya tiran komunis di Ceko. Pengorbanan Jan Pallach (dan tiga orang temannya) membawa pemahaman baru. Bahwa tiran tak mesti dilawan dengan kekerasan. Namun dengan kesadaran dan patronasi terhadap martir. Tapi apakah selalu butuh kurban dalam perubahan?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Meminjam istilah Abu Hanifah. "Revolusi (selalu) memangsa anak kandungnya sendiri:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Enam tahun sebelum kematian Jan Pallach ada Thich Quang Duc seorang biksu budha mahayana. Pada suatu siang 10 Juni 1963. Biksu Thich menuliskan surat untuk presiden Vietnam saat itu, Ngo Dinh Diem. Intinya berisi permohonan tentang rasa tenggang rasa dan kesungguhan untuk memberikan kesetaraan dalam beragama.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ia merasa sangat sedih dan kesal karena Gereja Katolik mendapatkan privilage dan wewenang berlebih dalam konversi keyakinan. Ia merasa takut keyakinan budha akan hilang karena upaya ini. Berbulan sebelumnya ia mengirimkan surat dan mengajukan protes pada Ngo Dinh Diem. Namun tak ada balasan. Terdesak akan kondisi dan rasa cinta pada budhisme. Ia mengajukan diri melakukan jalan pengorbanan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pembakaran diri demi menyentuh hati penguasa.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Momen ini lantas diabadikan oleh Malcolm Browne, yang kelak memperoleh pulitzer, mengejutkan dunia. Sebuah pengurbanan untuk kepedulian. Sebuah usaha nekat drastis yang menjadikan masyarakatnya sendiri sebagai tumbal. Rage Againts The Machine lantas menggunakan foto Browne ini dalam sampul albumnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hari ini 8 Desember 2011. Hari dimana Munir Said Thalib dilahirkan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jika ia masih hidup, hari ini Munir akan berumur 46 tahun. Usia yang cukup matang untuk menjadi jugador dalam pemberantasan pelanggaran HAM. Ia tak mati dengan membakar diri. Tapi diracun dalam pesawat yang hendak membawanya ke Amsterdam Belanda.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sampai hari ini tak pernah ada kelanjutan perkara ini. Seolah-olah kasus ini terhenti. Terlupakan. Dan berusaha dihilangkan. Dalam masyarakat yang gemar gegar sejarah ini, apalah arti seorang Munir? Entah. Bagi saya ia adalah imam mahdi. Setara dengan seluruh intifada Palestina yang membela tanah airnya. Dan milyaran kali lebih baik dari seluruh moral anggota DPR digabungkan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hari ini entah saya sangat emosional sekali. Mungkin karena kemarin, pada akhirnya ada orang yang nekat membakar diri. Melakukan tindakan nekat untuk membuka mata pemimpin negeri ini. Tapi demi segala jembut di kolong langit. Pengorbanan pria malang ini tak lebih berharga dari melodrama ayu ting ting dan rafi ahmad.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sepertinya saya hendak membakar republik ini. Dengan amarah dan dendam.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;span style="font-size:11.0pt; mso-ansi-language:EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/983291090388480151-6489225194104078855?l=terumbukarya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://terumbukarya.blogspot.com/feeds/6489225194104078855/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://terumbukarya.blogspot.com/2011/12/purgatori.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/983291090388480151/posts/default/6489225194104078855'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/983291090388480151/posts/default/6489225194104078855'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://terumbukarya.blogspot.com/2011/12/purgatori.html' title='Purgatori'/><author><name>Arman Dhani Bustomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09710999134909778313</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-x0-TY8scle4/TsIUelg00YI/AAAAAAAAAXY/BatguPLze9Q/s220/309682_2423314513268_1563636231_2548318_1025409700_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-r7_3dRki_GA/TuC9bIIz8_I/AAAAAAAAAaM/IMBuLM5taAA/s72-c/self-immolation.png' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-983291090388480151.post-992250740710903174</id><published>2011-12-06T19:49:00.004+07:00</published><updated>2011-12-06T20:12:37.488+07:00</updated><title type='text'>Karbala Asyura</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;blockquote&gt;Ali Syari'ati pernah menulis."Tiap hari adalah Asyura dan tiap tempat adalah Karbala."&lt;/blockquote&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ia sedang merujuk kepada salah satu hari besar dalam perayaan muslim Syiah. Tapi ada baiknya jika kita memulai tulisan ini dengan kesepakatan. Bahwa Syiah dan Sunni adalah saudara. Dan mereka sedang menuju satu tempat yang sama dengan jalan yang, katakan saja, berdampingan tapi tak seragam.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Peringatan Asyura dilakukan dimana saja. Ibu saya dirumah merayakan Asyura dengan berpuasa dan membuat kue. Ini bukan langkah ibadah. Sekedar keinginan pribadi dan perasaan berbagai. Beliau sempat kaget dan tak habis pikir, saat saya bercerita kalau di di Irak dan berbagai negara Islam yang bermazhab Syiah Asyura kerap dilakukan dengan melakukan kegiatan menyakiti diri sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di Irak misalnya, banyak orang yang berkerumun dijalanan dan memukul-mukul tubuh mereka sampai berdarah. Ini upaya masokis sebagai bentuk rasa kehilangan dan duka cita mendalam. Kaum Syiah di seluruh dunia meratapi kematian Imam Hussain bin Ali. Imam Hasan dipercaya meninggal di padang Karbala karena kepicikan Bani Umayyah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Linda Christany menulis bahwa pada masa itu Yazid bin Muawiyah, putra Muawiyah bin Abu Sofyan (orang yang pernah sangat membenci Rasulullah), memaksa siapa pun untuk mengakuinya sebagai khalifah. Tentu hal ini ditentang para ulama dan tokoh agama karena alasan yang saat itu sudah banyak diketahui.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Yazid dikenal sebagai seorang yang destruktif, despotik, perampok, dan penista kaum perempuan.Ia kerap memaksakan kehendaknya dengan kekerasan dan ancaman. Dan saat itu hanya Imam Hussain, satu-satunya yang menolak tunduk pada tirani Yazid.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setiap perlawanan akan menimbulkan tumbal dan martir. Setelah sebelumnya Imam Hasan dibunuh akibat diracun istrinya, yang juga kerabat Muawiyah bin Abu Sofyan. Imam Hussain merasa tak ada kemungkinan berkompromi pada tiran yang kejam.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Imam Hussain lantas memutuskan hijrah dari Medinah menuju Khufah. Bersama 30 orang penunggang kuda, 40 pejalan kaki dan banyak anak-anak. Di Karbala, dekat Najaf, Irak Selatan, 30 ribu pasukan Yazid menghadangnya. Mereka membantai Hussain dan keluarga serta pendukungnya itu. Dan kejadian ini kelak akan selalu dikenang para kaum syiah sebagai Peristiwa Karbala.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Apakah Imam Hussain tak menyadari bahwa maut sedang mengintai nyawanya?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tidak. Bahkan sejarah mencatatkan keberanian Imam Hussain lewat  Muhammad Ali Hanafiah, saudara tirinya. Saat itu Imam Hussain berada di Madinah dan sedang bersiap melakukan hijrah. Saudara tirinya telah berupaya segala cara agar Imam Hussain tak pergi dan tetap di Madinah. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Namun dengan tegas Imam Hussain berkata. "Sungguh aku lebih memilih kematian dengan cara kesyahidan ketimbang harus hidup dengan seorang penindas penuh aib dan kehinaan," &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Imam Hussain yang merupakan putra Ali Bin Abi Thalib, yang juga merupakan cucu Rasulullah. Dibantai secara keji oleh Azid bin Muawiyah, Ubaidillah bin Ziyad, Syimir bin Dzil Jaushan dan para pendukung bani Ummayyah di padang Karbala. Ia dibunuh secara berkeroyok, lalu kepalanya dipancung dan dipamerkan agar seluruh pendukung Imam Hussain kecut nyali.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Namun hal ini justru melahirkan &lt;i&gt;clash&lt;/i&gt;. Dalam &lt;i&gt;A short&lt;/i&gt; &lt;i&gt;History of Moslem&lt;/i&gt; yang ditulis Karen Armstrong ini merupakan Fitna ke dua yang memecah umat islam menjadi dua faksi. Sunni dan Syiah. Kelak Fitna-fitna baru semakin memecah umat islam dan menggenapi sabda Rasulullah bahwa Islam akan terpecah menjadi banyak golongan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Linda Cristanty juga menuliskan "Apa pun kata dunia tentang orang-orang Syiah, kita harus ingat bahwa mereka yang membantu kakek moyang kita. Bahkan orang-orang Sunni yang menyatakan diri mewarisi ajaran Muhammad, semuanya melarikan diri." Sepertinya saya percaya. Klaim bahwa Sunni sebagai &lt;i&gt;ahlus sunnah wal jamaah&lt;/i&gt;, atawa pewaris ajaran nabi perlu ditinjau ulang. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Namun saya sendiri percaya bahwa Asyura berasal dari bahasa Arab asyara yang berarti sepuluh. Bapak saya dulu pernah cerita bahwa Asyura sangat istimewa karena beberapa alasan. Pertama Allah menciptakan jagat raya pada hari kesepuluh, menciptakan Adam, Menciptakan Jibril, Kelahiran Nabi Ibrahim, kesembuhan Nabi Ayub, diselamatkannya Musa dari Firaun dan sisanya saya lupa. Dalam banyak hal, Asyura adalah kompilasi hari dimana banyak rahmat diberikan kepada manusia.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Karbala. Asyura. Serangkaian darah dan kesadaran pengorbanan. Apa yang lebih tengik dari itu?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;*naskah sebagain merupakan rekonstruksi dari tulisan Linda Christanty yang berjudul sama.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/983291090388480151-992250740710903174?l=terumbukarya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://terumbukarya.blogspot.com/feeds/992250740710903174/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://terumbukarya.blogspot.com/2011/12/linda-cristanty-pernah-menulis.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/983291090388480151/posts/default/992250740710903174'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/983291090388480151/posts/default/992250740710903174'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://terumbukarya.blogspot.com/2011/12/linda-cristanty-pernah-menulis.html' title='Karbala Asyura'/><author><name>Arman Dhani Bustomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09710999134909778313</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-x0-TY8scle4/TsIUelg00YI/AAAAAAAAAXY/BatguPLze9Q/s220/309682_2423314513268_1563636231_2548318_1025409700_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-983291090388480151.post-5191912544994947307</id><published>2011-12-05T20:23:00.003+07:00</published><updated>2011-12-06T11:09:30.270+07:00</updated><title type='text'>Dear Irine</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-9jpvJtXu9CY/TtzGOMigsvI/AAAAAAAAAZ0/8ZQdyn7Nqd4/s1600/12314_1332031790209_1513461117_858750_2687183_n.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 267px; height: 400px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-9jpvJtXu9CY/TtzGOMigsvI/AAAAAAAAAZ0/8ZQdyn7Nqd4/s400/12314_1332031790209_1513461117_858750_2687183_n.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5682634777021166322" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;i&gt;foto oleh : Monica Anggraeni Dewi&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;Mari kita mulai tulisan ini tentang revolusi Kuba. Sebuah fragmen sederhana saat Ernesto Guevara De La Serna berdebat dengan Fidel Castro. Saat itu 1959 dan diktaktor Kuba, Fulgencio Batista, kabur ke amerika. Di satu ruangan di pinggir Havana, Ernesto dan Fidel bersitegang mengenai apa yang akan dilakukan seusai revolusi.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;Ernesto bertanya kepada Fidel. "Apa yang hendak kau lakukan kepada sisa pendukung Batista?" Dengan tegas Fidel menjawab. "&lt;i&gt;Paredon&lt;/i&gt;!" &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;Wajah si tampan Ernesto langsung menjadi mendung. Sementara suasana diluar lapangan Havana masih sangat meriah. &lt;i&gt;Paredon&lt;/i&gt; secara harfiah adalah bahasa Spanyol untuk menghadap Tembok. Namun sejarah kemudian menjadikan kata ini sebagai sebuah bentuk lain teror.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;i&gt;Paredon &lt;/i&gt;adalah istilah paska revolusi Kuba untuk ekskusi mati. Pada masa peralihan kekuasaan politik Kuba. Seluruh tawanan politik dikumpulkan dalam gedung yang luas. Seperti stadion dan gedung olahraga. Disana mereka diadili secara jamaah oleh masyarakat. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; perwakilan pemerintah yang kemudian akan memutuskan hukuman.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;Namun kamu tahu Irene? Sebagian besar pendukung Batista yang ditangkap dan diadili oleh rakyat itu berakhir tragis. Karena saat itu hanya ada satu vonis bagi mereka yang dianggap pengkhianat. "Paredon!"&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;Ernesto menolak ini. Menurutnya sebuah rezim otoriter yang tumbang tak harus dihabisi dengan kekerasan. Jika dengan cinta bisa memperbaiki keadaan. Maka kekerasan tak perlu ada. Tapi Ernesto bukan Fidel. Dan Fidel adalah orang yang saat itu mendapat mandat sebagai pemimpin besar Kuba. Perdebatan ini berakhir dalam kesunyian.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;Ku kira kamu perlu tahu ini Irene. Apa yang akan aku ceritakan nantinya adalah tentang perasaan sakit dan dendam akibat pengkhianatan dan ketidak jujuran. Perhal rasa sakit yang kemudian tertinggal dan mengenai bagaimana kamu bertahan dari perasaan kamu sendiri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;Dalam perjalanan hidupnya kemudian Ernesto menyesali ketidakmampuannya membiarkan kebencian mengambil alih Kuba. Kebencian tak pernah menyelesaikan apapun. Ia hanya akan melumat pelan perasaan manusia dan menjadikan mereka patung. Hingga akhirnya tidak ada yang tersisa kecuali penyesalan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;Ernesto tidak sendirian Irine. Muhammad Ali Jinnah, pendiri &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Pakistan&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;, adalah contoh orang yang berkhianat dan berakhir pada penyesalan. Orang yang menyerah kepada kebencian dan obsesi hingga akhirnya mengorbankan persahabatannya. Kukira kamu tahu kisah ini Irene.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;Bersama Mohandas Karamchand Gandhi, Ali Jinnah memimpikan negara &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;India&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; yang berdaulat. Negara yang terbebas dari penindasan Inggris. Mereka berdua kemudian menjadi sahabat dalam perjuangan. Melawan tirani Inggris. Mohandas Ghandi dengan satyagraha sedangkan Ali Jinnah dengan perjuangan hukum dan politik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;Namun pada tahun 1947 Ghandi dan Jinnah harus berpisah. Terkadang dalam persahabatan ada hal-hal perih yang mesti dilakukan untuk jadi dewasa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;Jinnah mendirikan &lt;st1:country-region st="on"&gt;Pakistan&lt;/st1:country-region&gt; dan meninggalkan Ghandi beserta &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;India&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;. Sebelum berdirinya &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Pakistan&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;, kedua sahabat ini bertemu untuk terakhir kalinya. Saat itu Ghandi menangis dan sakit. Ia berkata "Tolong jangan tinggalkan &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;India&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; sahabatku. Ambillah posisiku. Jadilah perdana Mentri &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;India&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;. Tapi kau jangan pergi," namun permintaan ini ditolak Jinnah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;Kelak Jinnah menyesali keputusannya ini. Di ambang nafas menuju kematiannya Jinnah berkata. "Duh yang maha agung. Jika saja aku mendengar sahabatku," katanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;Kukira kamu perlu tahu ini Irene. Seperti yang ku bilang. Jangan pernah mengambil keputusan saat kamu sedang emosi. Kesedihan hanya akan membutakan nalar dan kemarahan hanya akan membuat kita malu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;Semua ini diawali satu pada satu alasan. Sejak awal Fidel dan Ernesto tak pernah jujur tentang ending dari perjuangan mereka yang melahirkan Paredon. Sementara Ghandi dan Jinnah sama-sama sungkan berbicara perihal perbedaan keyakinan konsepsi negara ideal.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;Segala yang berawal dari ketidakjujuran hanya akan membawa luka. Mungkin ada kebahagiaan. Seperti yang sesaat dialami Jinnah. Namun pada akhirnya penyesalan itu selamanya melekat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;Irine. Kamu gadis baik. Kamu dan aku mungkin sama. Orang yang disandera kenangan dan kerap kali menyerah pada keadaan daripada kemudian melawan. Kita sama-sama terlalu takut untuk berdiri dan berhenti berharap. Rasa nyaman akan masa lalu kerap kali berjelaga. Dan itu Irene harus kamu lawan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Kamu punya kesempatan untuk berdiri dan berkuasa atas keinginan kamu sendiri. Tidak hanya diam meratapi nasib yang terlanjur tengik. Kamu gadis baik dengan banyak pesona. Kamu bisa nari. Bisa nulis. Bisa digoblok goblokin. Namun diatas itu semua kamu bisa membuat orang yang ada disekitar kamu nyaman. Aku tahu itu. Karena kamu bikin aku nyaman. Apalagi pas bayarin makan nasigoreng sapi.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Kukira kamu harus berhenti menangis. Berhenti menunggu penyelesaian dari orang lain. Kamu harus tahu, tak ada satupun orang di kolong langit yang berhak menentukan nasib kita.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;WS Rendra dalam sajak bersatulah pelacur pelacur kota Jakarta menulis. &lt;/p&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;"Sesalkan mana yang mesti kausesalkan&lt;br /&gt;Tapi jangan kau lewat putus asa&lt;br /&gt;Dan kaurelakan dirimu dibikin korban"&lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Sesalkan apa yang mesti kamu sesali Irine. Itu manusiawi. Karena kamu bukan Dahlan Iskan yang hatinya sudah diganti. Kamu gadis biasa yang bisa putus asa dan sedih. Tapi jangan pernah kamu relakan diri sendiri untuk jadi kurban. Menjadi tumbal yang entah kapan bisa kamu sudahi. Jadi bangunlah Irene. Dan sudahi tangisan kamu. Cuci muka lalu tidurlah. Kutuk semua nama yang melukaimu. Lalu bangkit berdiri.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Jangan cengeng. Karena tangisan tak akan menyelesaikan masalah.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;/p&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;Sincerely.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;Orang Jember Paling Kece di Selokan Mataram&lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/983291090388480151-5191912544994947307?l=terumbukarya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://terumbukarya.blogspot.com/feeds/5191912544994947307/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://terumbukarya.blogspot.com/2011/12/dear-irine.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/983291090388480151/posts/default/5191912544994947307'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/983291090388480151/posts/default/5191912544994947307'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://terumbukarya.blogspot.com/2011/12/dear-irine.html' title='Dear Irine'/><author><name>Arman Dhani Bustomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09710999134909778313</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-x0-TY8scle4/TsIUelg00YI/AAAAAAAAAXY/BatguPLze9Q/s220/309682_2423314513268_1563636231_2548318_1025409700_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-9jpvJtXu9CY/TtzGOMigsvI/AAAAAAAAAZ0/8ZQdyn7Nqd4/s72-c/12314_1332031790209_1513461117_858750_2687183_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-983291090388480151.post-5240488469402424376</id><published>2011-12-03T22:44:00.000+07:00</published><updated>2011-12-03T22:44:18.443+07:00</updated><title type='text'>Hai There December</title><content type='html'>&lt;iframe width="480" height="270" src="http://www.youtube.com/embed/x0fwvLXQdUc?fs=1" frameborder="0" allowfullscreen=""&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;blockquote style="font-size: 14px; line-height: 18px; "&gt;&lt;div style="text-align: justify; "&gt;Hari ini adalah hari ketika dendam mulai membatu….&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; "&gt;Dendam yang disimpan, lalu turun ke hati, mengeras sebagai batu (Soe Hok Gie)&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div style="font-size: 14px; line-height: 18px; "&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-size: 14px; line-height: 18px; "&gt;Entah kenapa saya ingin memulai Desember dengan kebencian. Dengan dendam. Dengan amuk marah. Dengan kegetiran dan melankolia. Saya suka jadi berlebihan. Menjadikan diri saya lebih produktif. Mungkin ini perasaan yang pernah dialami Hitler saat menulis Mein Kampf atau perasaan Heinrich Kramer saat menyusun Malleus Maleficarum. Kebencian yang menggebu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-size: 14px; line-height: 18px; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-size: 14px; line-height: 18px; "&gt;Bulan ini seharusnya kita bisa menikmati rintihan Cholil efek rumah kaca dalam lagunya Desember. Tapi entah kenapa untuk bulan ini saya hanya ingin mendengarkan History - nya Funeral for A friend. Nama band ini semiotis. Dan lirik dalam lagu ini juga. Seperti ratapan. Kegetiran dan kemarahan. Namun di atas segalanya ketidakberdayaan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-size: 14px; line-height: 18px; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; "&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 14px; line-height: 18px; "&gt;&lt;i&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 14px; line-height: 18px; "&gt;&lt;i&gt;Archers in your arches,&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 14px; line-height: 18px; "&gt;&lt;i&gt;Raise your fingers for one last salute..&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 14px; line-height: 18px; "&gt;&lt;i&gt;And bleed this skyline dry&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 14px; line-height: 18px; "&gt;&lt;i&gt;Your history is mine.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 14px; line-height: 18px; "&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 14px; line-height: 18px; "&gt;&lt;i&gt;So you want to hold me up and bring me down?&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 14px; line-height: 18px; "&gt;&lt;i&gt;Yes, you want to hold me up and break me down&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 14px; line-height: 18px; "&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-size: 14px; line-height: 18px; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-size: 14px; line-height: 18px; "&gt;Selamat datang Desember. Mari kita lihat seberapa jauh kebencian membawa kita berproses.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/983291090388480151-5240488469402424376?l=terumbukarya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://terumbukarya.blogspot.com/feeds/5240488469402424376/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://terumbukarya.blogspot.com/2011/12/hai-there-december.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/983291090388480151/posts/default/5240488469402424376'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/983291090388480151/posts/default/5240488469402424376'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://terumbukarya.blogspot.com/2011/12/hai-there-december.html' title='Hai There December'/><author><name>Arman Dhani Bustomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09710999134909778313</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-x0-TY8scle4/TsIUelg00YI/AAAAAAAAAXY/BatguPLze9Q/s220/309682_2423314513268_1563636231_2548318_1025409700_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://img.youtube.com/vi/x0fwvLXQdUc/default.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-983291090388480151.post-3047834851426652085</id><published>2011-12-02T17:11:00.000+07:00</published><updated>2011-12-02T17:12:31.029+07:00</updated><title type='text'>Semisal kita tak perlu rindu</title><content type='html'>&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; background-color: rgb(255, 255, 255); "&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  &gt;Jika saja apa yang dibawa khalifah gelap itu benarbenar datang&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  &gt;membawa gigil malam, kalut hitam dan rupa pekat&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  &gt;kita sepertinya akan tersesat&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  &gt;menjalani waktu &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; "&gt;&lt;/p&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  &gt;: lalu meringkuk ditikam sendu di uluhati&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  &gt;kau berziarah memanggul zaman&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  &gt;aku diam meratapi kehidupan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  &gt;sudahi saja piutang ini&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  &gt;pada satu titik yang telah kita sepakati bersama&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  &gt;kematian&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/983291090388480151-3047834851426652085?l=terumbukarya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://terumbukarya.blogspot.com/feeds/3047834851426652085/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://terumbukarya.blogspot.com/2011/12/semisal-kita-tak-perlu-rindu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/983291090388480151/posts/default/3047834851426652085'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/983291090388480151/posts/default/3047834851426652085'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://terumbukarya.blogspot.com/2011/12/semisal-kita-tak-perlu-rindu.html' title='Semisal kita tak perlu rindu'/><author><name>Arman Dhani Bustomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09710999134909778313</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-x0-TY8scle4/TsIUelg00YI/AAAAAAAAAXY/BatguPLze9Q/s220/309682_2423314513268_1563636231_2548318_1025409700_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-983291090388480151.post-4509262727035019263</id><published>2011-11-30T18:40:00.002+07:00</published><updated>2011-11-30T18:51:44.364+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sastra'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sajak'/><title type='text'>Gigil</title><content type='html'>&lt;div&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;: 8:03 dan waktu berjalan pelan&lt;/blockquote&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;kukira sudah habis lukaku &lt;/div&gt;&lt;div&gt;di taburkan pada ingatan&lt;/div&gt;&lt;div&gt;tetapi dalam sekerat kisah yang belum tamat&lt;/div&gt;&lt;div&gt;sekali lagi tanda tanya itu hadir&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;adalah jeda&lt;/div&gt;&lt;div&gt;perih pedih pekik dan peluh itu nyata&lt;/div&gt;&lt;div&gt;seperti langit yang &lt;/div&gt;&lt;div&gt;tak hendak terang seusai senja&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;kukira sudah tamat sakit&lt;/div&gt;&lt;div&gt;kusebarkan pada kenangan&lt;/div&gt;&lt;div&gt;tetapi dalam potongan &lt;/div&gt;&lt;div&gt;masa yang tak jua akhir&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;koma dan titik berencana&lt;/div&gt;&lt;div&gt;bersepakat untuk khianat&lt;/div&gt;&lt;div&gt;semacam peringatan akan laku lupa&lt;/div&gt;&lt;div&gt;berkelindan menakik rasa pedih sedalam dalamnya&lt;/div&gt;&lt;div&gt;sekuat&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt;  &lt;/span&gt;kuatnya&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt; &lt;/span&gt;sakit &lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt; &lt;/span&gt;sakit&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt;  &lt;/span&gt;sakit&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt; &lt;/span&gt;sakit&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt; &lt;/span&gt;sakit&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt; &lt;/span&gt;sakit&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt; &lt;/span&gt;sakit&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt;  &lt;/span&gt;perih&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt; &lt;/span&gt;perih&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt; &lt;/span&gt;perih&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;menggigilah&lt;/div&gt;&lt;div&gt;hingga pudar semua hutang&lt;/div&gt;&lt;div&gt;sampai lunas semua rencana&lt;/div&gt;&lt;div&gt;lalu meratap sampai degil&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;haru&lt;/div&gt;&lt;div&gt;menyisakan ruang pekat hati&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;berkata : sepertinya aku merindu&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/983291090388480151-4509262727035019263?l=terumbukarya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://terumbukarya.blogspot.com/feeds/4509262727035019263/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://terumbukarya.blogspot.com/2011/11/gigil.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/983291090388480151/posts/default/4509262727035019263'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/983291090388480151/posts/default/4509262727035019263'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://terumbukarya.blogspot.com/2011/11/gigil.html' title='Gigil'/><author><name>Arman Dhani Bustomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09710999134909778313</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-x0-TY8scle4/TsIUelg00YI/AAAAAAAAAXY/BatguPLze9Q/s220/309682_2423314513268_1563636231_2548318_1025409700_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-983291090388480151.post-8227988773203362957</id><published>2011-11-25T18:12:00.003+07:00</published><updated>2011-11-26T09:20:16.227+07:00</updated><title type='text'>Label</title><content type='html'>&lt;i&gt;&lt;/i&gt;&lt;blockquote style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;~ gelar itu mereduksi segala tanduk yang melekat pada penindak&lt;/i&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt; &lt;/span&gt;Saya kadang geli saat membaca opini dalam surat kabar. Bukan perihal isi tulisan opini, yang meski saya tak paham, sangat berkesan dan intelektuil. Tapi mengenai label yang dilekatkan kepada si empu penulis opini tersebut. Seseorang bisa melekatkan kata pakar tape dan seni orek telur. Atau pengamat kambing. Atau yang lebih monumental kurator atwa kritikus air seni. Saya kira melekatkan label adalah masalah pelik.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt; &lt;/span&gt;Belum lagi jika opini tersebut berisi pendapat dan kutipan ilmiah nir peminat. Sepertinya para penulis opini tersebut punya pemahaman bahwa mereka membaca opini si penulis bisa lunas paham dalam sekali baca. Saya kira di masa depan, koran-koran harus berupaya lebih sederhana dalam menerima opini. Kalau tidak maka Kamus Besar Bahasa Indonesia dan Google akan jadi alat pandu utama dalam memahami sebuah opini.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt; &lt;/span&gt;Perilhal label pun bisa jadi perdebatan yang seru. Karena kerapkali seorang penulis baru berkualitas bingung hendak melabeli dirinya apa. Menjadi pengamat? Bah bisa jadi salah kaprah karena pengamat adalah orang yang hanya pengamat. Ahli? Apapulak itu perlu sertifikasi dan pembuktian ilmiah terhadap label semacam ini. Pendek kata pemberian label bisa jadi masalah jika anda belum menjadi siapa-siapa atau tak berasal dari satu lembaga tertentu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt; &lt;/span&gt;Beberapa waktu lalu seorang rekan menulis opini di Kompas. Ulasan menarik mengenai kondisi hubungan diplomatik Indonesia dan Asean. Sebenarnya secara kualitas tulisan, kawan saya itu tak usah diragukan. Dia bisa menganalisa konsep hubungan &lt;i&gt;million friends zero enemies&lt;/i&gt; dengan sangat lugas, cerdas dan nyinyir. Tapi kemudian ia bermasalah mengenai pelabelan. Andai ia seorang cleaning service di CSIS ia bisa saja mengaku sebagai peneliti. Masalahnya ia hanya seorang guru di sebuah lembaga bimbingan belajar.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt; &lt;/span&gt;Ada masalah keotentikan kuasa akan kemampuan dan analisis dalam penulisannya. Seolah olah ada klaim ilahiah bahwa mereka yang menulis opini dalam koran besar harus berasal dari orang besar. Tak ayal tulisan kawan saya yang mengkritik keras gaya diplomasi negara ini kemudian dijawab oleh orang kementrian luar negeri. Secara sarkastik orang dari kementrian itu menyerang legitimasi dan kemampuan dari kawan saya itu. Sebagai amatur dan medioker yang sok tahu. Hanya karena kawan saya itu melabeli dirinya sebagai pengamat...&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt; &lt;/span&gt;Label adalah reduksi. Karena seluruh pengalaman manusia dan kemampuannya harus dijejalkan dalam satu pemaknaan kata. Dalam banyak hal ini adalah sebuah tindakan fasisme. Karena manusia sesungguhnya unik. Ia akan selalu berbeda dengan yang lainnya meski kemiripan selalu ada. Tapi menafikan kedirian sebagai usaha diterima dalam masyarakat yang luas saya pikir adalah sebuah penindasan jati diri. Dalam hal ini label kerap kali menyakiti identitas seseorang. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lalu bagaimanakah cara kita akan melakukan definisi diri? Mengenai identitas kedirian seseoang yang belum tentu orang itu menyukainya. Saya selalu ingat bagaimana Eddie Vedder, frontman Pearl Jam, selalu menolak label grunge yang kerap dilekatkan kepada band dimana ia tergabung. Atau bagaimana merumuskan seorang Leonardo Da Vinci. Apakah ia seorang avontour, ilmuan, seniman atau seorang filsuf? Kelak saya menemui orang seperti Da Vinci alih-alih dibebaskan dari label, mereka justru dilekatkan sebuah label menakutkan. Universalis!&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Universalis adalah mereka yang dianggap tahu banyak dari banyak hal dan juga aktif sebagai praktisi di dalamnya. Indonesia mengenal Soedjatmoko, mantan rektor Universitas PBB di Jepang dan intelektual, sebagai salah satu universalis asal Indonesia. Ia disebut demikian karena luasnya cakupan pemikiran dan karya tulis yang Soedjatmoko susun. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hal yang sama juga melekat kepada Romo Mangun Wijaya, sastrawan arsitek dan juga tokoh teologi. Romo Mangun banyak menulis mengenai kondisi sosial dalam esai-esai yang ia buat. Belum lagi berbagai cerpen dan novel yang secara satir menyigi identitas jawa (sebagai representasi fasisme) Indonesia. Meski demikian pemahaman sejarah yang luar biasa juga menjadi kekuatan seorang Romo Mangun. Lihat saja karyanya dalm Ikan-ikan Hiu, Ido Homa.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Romo Mangun dan Soedjatmoko tak berhenti pada tataran wacana pemikiran saja. Namun keduanya juga turut andil dalam pembangunan sosial masyarakat secara nyata. Contoh kanon sumbangsih Romo Mangun masih bisa kita lihat dalam perkembangan masyarakat Kali Code di Jogja. Sedangkan alur karya Soedjatmoko bisa dilihat dalam konsepsi perdamaian yang ia canangkan saat menjadi rektor Universitas PBB di Jepang. Soedjatmoko, meski kerap dikritik pro barat, merupakan salah satu peraih penghargaan Ramon Magsaysay terbaik. Karena keotentikan pemikiran dan sikapnya sebagai Indonesianis yang mendunia.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Perkara label merupakan perkara klaim yang dilekatkan. Seorang kawan yang aktif di komunitas seni Utan Kayu Jakarta bernah bercanda. "Kukira semua penyair yang punya julukan itu mabuk dulu untuk bikin gelar," katanya. "Saat minum dengan tuak mereka bersepakat. Hei kau jadi penyair burung camar, kau jadi penyair kolor dan aku jadi presiden penyair," lanjutntya. Saat itu kami berdua hanya bisa tertawa terbahak-bahak. Karena secara naif menganggap gelar dan label adalah perkara pencapaian.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tapi saya dan kawan saya itu tak sepenuhnya salah. Bagaimana jika sebenarnya label dan gelar itu hanya perkara sepakat atau tidak dari sekumpulan orang yang berkuasa. Coba tengok perihal pemberian gelar pahlawan. Masing-masing kelompok membawa nama-nama dari golongannya untuk kemudian dikarbit jadi pahlawan. Tak jelas apakah ia seorang diktaktor, pelawak atau sebenarnya seorang fasis. Pahlawan itu diciptakan, seperti juga gelar, itu masalah kesepakatan segelintir orang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Label bisa jadi sebuah identitas. Itu jelas. Antara seorang S.Sos dan Ph.D bisa jadi perdebatan mengenai kuasa dan kemampuan akademis. Meski tak jelas apakah gelar itu hasil fotokopi atau sekedar jual beli skripsi. Yang jelas gelar bisa jadi pembeda masalah kedudukan dan penghasilan. Untuk itu label bisa menjadi perkara hidup mati dan penghasilan seseorang. Saya kira ada baiknya segala label itu dihilangkan. Diganti dengan sebuah capaian nyata.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Biar seorang maling jadi raja maling karena hasil curiannya banyak. Biarlah seorang profesor jadi profesor karena temuan yang luar biasa. Tak perlu legitimasi segelintir untuk kemudian melahirkan label-label baru. Saya kira masalah label adalah masalah pengakuan. Tentang bagaimana seseorang ingin dikenali dan diperlakukan. Dalam banyak hal itu hipokrit. &lt;i&gt;Well&lt;/i&gt;, bukankah kita semua demikian?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/983291090388480151-8227988773203362957?l=terumbukarya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://terumbukarya.blogspot.com/feeds/8227988773203362957/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://terumbukarya.blogspot.com/2011/11/label.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/983291090388480151/posts/default/8227988773203362957'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/983291090388480151/posts/default/8227988773203362957'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://terumbukarya.blogspot.com/2011/11/label.html' title='Label'/><author><name>Arman Dhani Bustomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09710999134909778313</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-x0-TY8scle4/TsIUelg00YI/AAAAAAAAAXY/BatguPLze9Q/s220/309682_2423314513268_1563636231_2548318_1025409700_n.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-983291090388480151.post-9009025534005706623</id><published>2011-11-25T15:30:00.002+07:00</published><updated>2011-11-25T15:49:48.950+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Disabilitas dan Pandangan Masyarakat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kartunet'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='disabilitas'/><title type='text'>Tiga cerita, Satu Narasi. Disabilitas</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-Bgb6bQBIy24/Ts9WjiX8UXI/AAAAAAAAAZc/fYrhULNuPRY/s1600/DSC_0112.JPG" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 268px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-Bgb6bQBIy24/Ts9WjiX8UXI/AAAAAAAAAZc/fYrhULNuPRY/s400/DSC_0112.JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5678852823660122482" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-eoUquuLXx2I/Ts9Vtm4kdnI/AAAAAAAAAZE/NIpRifwzF6E/s1600/DSC_0384.JPG" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;/a&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-PkwUpQopYOU/Ts9VtnIZhII/AAAAAAAAAZQ/RzcyGLJ6Kyo/s1600/DSC_0393%2B%25281%2529.JPG" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;/a&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;/p&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;i&gt;Anugerah Tuhan dan Luka&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;      Seorang pria paruh baya duduk termenung sendirian. Matanya menerawang jauh entah kemana. Kerutan-kerutan di dahinya serupa perigi yang mengalir. Entah sudah berapa banyak cerita yang orang itu lalui. Asap rokok merambati mulut dan hidungnya. Sesekali ia hembuskan dengan perlahan. Ada sebuah rasa haru yang lindap dalam hati pria itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;      Pria itu adalah Modhar, warga Suko Jember, Dusun Leces. Ia sedang menunggui putrinya Siti Nurfadilah di sebuah sekolah yang terletak di kawasan patrang. Sesaat kemudian gadis cilik berusia sekitar 13 tahun datang menghampiri. Seketika itu juga wajah Modhar berubah ceria. Senyum tulus terkembang lebar dan tak jua berhenti ia lantas memeluk gadis itu. Tapi ada yang aneh, si gadis tak berkata satu kalimatpun. Ia hanya mengerjapkan bibir dan menggerakan tangannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;      “Putri saya itu tuna rungu wicara, ia tak bisa bicara dan mendengar,” jawabnya serta merta. Siti fadilah tetap bergelayut manja dibahu ayahnya. Modhar lalu mematikan rokoknya dan menuntun Siti masuk ke dalam kelas. “Saya mau ambil rapor siti dulu,” katanya tersenyum. Siti berjalan bersampingan dengan ayahnya, sesekali gadis itu tersenyum nakal dan mencuri tengok pada orang di belakangnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;      Modhar adalah salah satu orang tua wali murid yang hari itu khusus datang untung mengambil rapor di SDNLB Patrang. Sekolah itu sedikit tersembunyi dari jalan raya utama jalan patrang. Terletak tepat di Jalan. Dr Soebandi, gang Kenitu no 56 Jember. “Saya dulunya juga tak tahu kalau di sini ada SLB,” kata Modhar sambil keluar ruangan kelas. Siti sudah tak nampak di sampingnya, gadis cilik itu sedang seru bermain dengan sebayanya di lapangan sekolah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;      Tak banyak orang tua yang berkenan menyekolahkan anak istimewa mereka di SDNLB. “Banyak orang tua yang malu sama anak mereka yang cacat, saya ndak gitu, saya justru makin sayang dengan Siti,” ujar Modhar tiba-tiba. Ia menyulut sebatang rokok lagi, lalu membetulkan topinya. Ada binar mata kebahagiaan saat ia melihat Siti bermain bersama temannya. “Saya gak habis pikir sama orang yang jahat sama anak cacat. Mereka itu kan titipannya Gusti Pangeran,” serunya lesu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;      Siti awalnya diasuh Modhar secara pribadi. Ia tak tahu jika di Jember ada Sekolah Inklusi yang bisa merawat anak-anak berkebutuhan khusus. Sebelum sekolah di SDNLB Patrang, Siti selalu rewel dan menangis jika ada anak yang sekolah. Ia seringkali tak mampu berkomunkasi dengan baik. Siti hanya bisa menangis dan memberontak jika tak dapat dipenuhi kemauannya. “Tapi sekarang sudah bisa nulis, kadang saya diajari bahasa isarat juga sama bu gurunya,” ungkap Modhar bangga.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;      Tiap hari selama tiga tahun terakhir Modhar bolak balik tiap pagi mengantarkan Siti ke sekolah. Jarak yang lumayan jauh tak menjadi kendala bagi pria yang berusia 50an tahun ini. “Saya tak mau anak saya tertinggal, pokoknya harus sekolah sampek saya gak mampu lagi (biayai),” katanya tegas. Ia ingin menebus janji pada ibu Siti yang sebulan lalu meninggal. “Ibunya siti sudah meninggal sakit stroke, sebelum mati ia bilang Siti itu anugrah, jangan disia sia,” ujar Modhar. Ada rasa haru yang lindap saat Modhar mengucap kata anugrah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;      Riva Akmalia Amanda, atau yang biasa disapa Icha, adalah seorang gadis berkerudung yang enerjik di usia pertengahan dua puluh. Ia tengah bermain dengan anak-anak di tengah lapangan. Ada Siti diantara mereka, dengan senyum lebar mereka bermain dan bekejaran. “Kadang orang suka menggunakan kata cacat, itu kurang tepat, lebih baik gunakan kata berkebutuhan khusus atau disabilitas,” ungkap gadis yang juga berstatus pengajar di sekolah itu. Disabilitas sendiri berasal dari kataDifferent Abled People atau orang yang memiliki kemampuan berbeda.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;      Icha menyebutkan bahwa penggunaan kata cacat kadang sudah berkonotasi negatif. Lebih dari itu dapat mengurangi nilai kemanusiaan dari seseorang. “Kesannya jelek,” tandasnya pendek. Lelah bermain, Icha lantas duduk di depan kelas bersama Modhar. “Anak-anak di sini itu semua istimewa, semua spesial, Allah memberi mereka semua kelebihan,” kata Icha. Modhar tak menjawab, ia hanya mengangguk perlahan-lahan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;      Di kejauhan seorang anak berlari-lari riang sambil tertawa lepas. Ada seorang ibu yang mengejar anak itu seraya berteriak-teriak. Anak itu adalah Desy Mintriani, seorang penderita down syndrome, yang berkejaran dengan ibunya Mimin. Dengan telaten Mimin akhirnya bisa menangkap dan mendekap erat Desy. “Sini ibu betulkan dulu bajunya, jangan gerak-gerak,” ujar Mimin lembut. Desy seketika terdiam, ia masih saja menatap kosong pada langit langit saat ibunya mengikat erat tali di belakang bajunya. “Nah sekarang anak ibu sudah cantik,” katanya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;      Ibu dan anak itu lantas berpelukan mesra dan memasuki ruang kelas untuk mengambil rapor. Di dalam anak-anak yang lain sedang asik bersenda gurau dengan rekan sebayanya. Ada orang tua pula yang duduk menenangkan mereka yang mulai rusuh itu. “Sebentar lagi rapor dibagikan,” kata seorang guru. Selepas menerima rapor Mimin dan Desy keluar ruangan dan berencana pulang. “Dulu anak saya 10 bulan di sekolah biasa, tapi tak mampu. Di sini saya senang dia bisa baca tulis,” kata Mimin sambil tersenyum.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;      Beberapa orang tua yang anaknya memiliki kebutuhan khusus sering kali menafikan kondisi anak mereka. Orang tua semacam itu kadang memaksakan anak mereka untuk sekolah di sekolah biasa, akhirnya anak-anak tadi tertinggal dan semakin tertekan. “Desy sudah lima tahun disini, salah satu yang pertama, sekarang ia bisa juga menggambar dan mewarnai,” kata Mimin.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;      Hal-hal sederhana dari anak terkadang mampu membuat kebahagiaan bagi seorang ibu. “Saya terima Desy apa adanya, ia bisa nulis nama saya saja itu sudah luar biasa, bikin saya nangis,” ungkap Mimin. Dukungan keluarga dan merupakan faktor utama dalam perkembangan anak-anak disabilitas. “Bapaknya Desy jauh lebih sayang dari saya, kita sebagai orang tua kan bisa mendorong dan merawat,” katanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;      Seperti Mimin dan keluarganya, Modhar juga tak ingin Siti Nurfadilah hanya berhenti pada SDNLB. “Kalau nanti mau kuliah saya kuliahkan, pokoknya jadi orang,” kata Modhar. Kini Modhar yang hanya seorang petani berharap adanya fasilitas dan perhatian yang lebih banyak terhadap kaum disabilitas. “Buat sekolah saja jauh, memang sekarang sulit. Semoga saja nanti SLB nya makin banyak,” katanya penuh harap.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;img src="http://1.bp.blogspot.com/-PkwUpQopYOU/Ts9VtnIZhII/AAAAAAAAAZQ/RzcyGLJ6Kyo/s400/DSC_0393%2B%25281%2529.JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5678851897224168578" style="color: rgb(0, 0, 238); text-decoration: underline; display: block; margin-top: 0px; margin-right: auto; margin-bottom: 10px; margin-left: auto; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 268px; " /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;/p&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;i&gt;Pengabdian dan empati&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;      Seorang gadis duduk di pelataran Pusat Rehabilitasi Anak YPAC Jember yang terang karena pantulan cahaya pagi itu. Angin datang semilir menerpa rambutnya yang ikal. Gadis itu berwajah oval, berhidung bangir, kulitnya kuning langsat dan tatapan matanya tegas. Ia punya pesona kasat mata serupa dengan bintang iklan di televisi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;      “Panggil saja saya Lutfi,” ujarnya singkat. Ia sendiri adalah seorang disabilitas yang memiliki keterbatasan dalam kelengkapan anggota tubuh. Meski demikian gadis dengan senyum manis ini tak sedikitpun tampak sedih atau malu. “Ini titipan yang diberi Allah sama saya, kenapa harus malu?” katanya singkat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;      Gadis asal Bondowoso itu baru saja bersiap membaca koran pagi. Radar Jember yang tergeletak di atas meja ia baca sepintas lalu. “Saya suka membaca, setidaknya memberikan pengetahuan. Kebiasaan ini sudah ada sejak saya kuliah dulu,” katanya. Ya, Lutfi adalah seorang sarjana ekonomi dari Fakultas Ekonomi Universitas Jember. Meski memiliki keterbatasan Lutfi tak hendak bergantung pada orang lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;      Awalnya Lutfi diterima di fakultas MIPA dengan jurusan Biologi. Tetapi akibat keterbatasan fisik ia ditolak untuk kuliah di sana. “Saya terima saja, meski demikian saya bertekad untuk tetap kuliah,” imbuhnya. Dengan perjuangan yang cukup keras, dalam tempo empat tahun setengah Lutfi mampu lulus dengan predikatcumlaude.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;      Selepas kuliah Lutfi berusaha untuk melamar kerja di beberapa instansi dan perbankan. Namun ditolak karena alasan keterbatasan fisik. Ia sempat geram dan patah arang menganggap dunia tidak adil. “Saya kecewa, belum dicoba kok dianggap tak mampu,” ungkapnya. Atas desakan dan dorongan orang tua yang selalu suport, Lutfi akhirnya kembali percaya diri. “Akhirnya saya iseng melamar di sini (YPAC), almamater saya, eh diterima ya sudah saya jalani,” ungkapnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;      Lutfi mengajar di sekolah itu dengan tujuan memberi inspirasi bagi sesamanya. “Yang dibutuhkan orang berkebutuhan khusus bukan rasa kasihan, tapi dukungan dan kesempatan yang sama,” katanya. Ia selalu berusaha memberikan semangat pada semua anak didiknya untuk dapat meraih cita-cita. “Kami juga sama dengan orang normal,” tandasnya tegas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;      Seperti juga Lutfi, Nanang Ahsanurohim juga tak ingin anak didiknya yang disabilitas patah arang. Nanang, begitu ia disapa, bertekad menjadi seorang guru bagi anak-anak disabilitas karena melihat keponakannya yang berkebutuhan khusus kesulitan mencari sekolah. “Saya terenyuh melihat ponakan saya itu, dia ingin seperti anak-anak kebanyakan, bisa sekolah dan main,” ungkapnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;      Meski awalnya ia tak berniat untuk menjadi guru anak berkebutuhan khusus, Nanang tak ingin tinggal diam melihat keponakannya tak terdidik. Berbekal kenekatan ia berusaha mencari tahu informasi mengenai jurusan Pendidikan Luar Biasa (PLB). “Awalnya ada di Surabaya, tetapi saat saya main di IKIP PGRI Jember ternyata juga buka jurusan itu,” katanya. Ia lantas kuliah di sana dan bertekad mengabdikan ilmunya untuk dapat mengembangkan anak-anak disabilitas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;      Hari itu Nanang tampak rapi dengan balutan baju batik berwarna gelap. Pria muda yang mengajar di SDNLB Patrang ini hendak membagikan rapor kepada wali murid. Wajah Nanang tampak sangat bersemangat, ia tak sabar untuk bertemu dengan para muridnya. “Jarang sekali bisa ketemu sama orang tua nya anak-anak,” katanya senang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;      Nanang hanya salah satu dari beberapa anak muda yang memutuskan mengabdikan diri sebagai pengajar di SDNLB itu. Umumnya mereka ingin berbagi kepada para siswa-siswa yang istimewa tersebut. “Anak-anak di sini membutuhkan banyak perhatian dan cinta yang tulus,” kata Nanang. Ia tahu jika pekerjaan ini tak akan memberikan kemapanan apalagi kekayaan. “Saya puas jika bisa melihat senyum anak-anak ini,” katanya singkat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;      Di ruang sebelah kelas Nanang, Riva Akmalia Amanda atau Icha, sedang asik bercanda dengan Siti Nurfadilah. Seorang anak tuna rungu wicara yang tersenyum sangat riang. “Saya akan kangen saat-saat seperti ini,” katanya tiba-tiba. Icha adalah seorang guru yang mencintai anak-anak disabilitas sejak remaja. “Saya aktif di PMR saat SMP dan SMA, dulu sering bertemu dengan anak-anak ini,” katanya. Melihat mata anak disabilitas yang polos membuat Icha jatuh hati dan selalu ingin bersama mereka.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;      “Saat saya bersama anak-anak ini, saya menjadi tenang. Mampu membuat saya lupa terhadap masalah yang ada,” katanya. Ia cenderung merasa nyaman berbagi dengan anak-anak disabilitas daripada dengan orang normal. “Kalo sama anak-anak saya bisa ngajari mereka bernyanyi, tiap anak memiliki karakter sendiri. Yang membuat saya jatuh cinta,” katany halus.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;      Icha sedapat mungkin bisa memberikan yang terbaik bagi anak-anak ini. Banyak orang yang tak sadar bahwa kaum disabilitas adalah manusia utuh yang punya hak untuk dihargai. “Seringkali orang acuh dan jahat, itu karena mereka tak tahu bahwa mereka punya kebutuhan khusus,” katanya. Masyarakat perlu membuka mata dan bersikap adil dan jangan bersikap apriori pada kaum disabilitas. “Jangan memusuhi apa yang tak kita ketahui,” lanjutnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;img src="http://4.bp.blogspot.com/-eoUquuLXx2I/Ts9Vtm4kdnI/AAAAAAAAAZE/NIpRifwzF6E/s400/DSC_0384.JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5678851897157777010" style="color: rgb(0, 0, 238); text-decoration: underline; display: block; margin-top: 0px; margin-right: auto; margin-bottom: 10px; margin-left: auto; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 268px; " /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;i&gt;Tersisih dan Terbuang&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Gedung tua di pinggri jalan Imam Bonjol nomor 42 itu ringkih diterpa zaman. Cat tembok yang berada di masing-masing sisinya sudah terkelupas. Belum lagi rerimbunan tanaman di depan gedung itu. Jika tak jeli orang akan menganggap gedung itu berhantu dan ditinggalkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;      Ada sebuah monumen nama yang menunjukan identitas gedung tersebut. Pusat Rehabilitasi Anak YPAC Jember. Beberapa huruf di monumen itu sudah hilang entah kemana. Tangan-tangan jahil merusak kisi-kisi dinding halaman gedung itu dengan berbagai coretan. Belum lagi poster-poster dan spanduk yang dipasang seenaknya di pagar gedung itu. Gedung itu seolah sendiri di tengah degilnya masyarakat sekitarnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;      Di dalam gedung tua itu ada dua orang yang tengah bercakap-cakap. Seorang ibu muda dan gadis berambut ikal yang asik membaca koran. Ibu itu adallah Mubarokah, kepala Sekolah Luar Biasa (SLB) YPAC Jember. Disampingnya adalah Lutfi, salah satu guru di sekolah itu. “Gedung ini mulai beroperasi ejak 89 yang merintis adalah istri bupati saat itu,” katanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;      Ya, gedung tua itu telah berumur lebih dari 22 tahun. “Awalnya YPAC merupakan pusat rehabilitasi bagi penderita polio,” tapi kini kondisinya tak begitu baik. Memang beberapa tahun lalu sempat ada upaya perbaikan dan penambahan fasilitas. Namun semua dirasa kurang. “Idealnya setiap kelas disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing anak,” katanya. Saat ini SLB YPAC Jember hanya mampu menampung dua kelas saja perangkatan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;      Tak hanya kurang kelas, tenaga pengajar juga menjadi kebutuhan yang penting dipenuhi. “Saya memang kepala sekolah, tapi ikut mengajar rangkap beberapa pelajaran,” katanya. Ia sendiri telah berulang kali meminta agar ada guru baru, tapi sampai saat ini belum ada tanggapan baik dari Diknas maupun yayasan. “Sabar saja,” ujarnya seraya tersenyum.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;      “Saya tak banyak menuntut, tapi memang begini kondisinya,” ujar Mobarokah. Dalam ruangan utama YPAC memang ada lantai yang terkelupas sepanjang dua meter. Langit-langit yang tak tertutup internit. “Belum lagi fasilitas bagi anak anak, semacam mesin jahit dan komputer,” katanya. Meski demikian Mubarokah dan seluruh pengajar yang ada tetap berusaha memberikan yang terbaik bagi anak-anak mereka.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;      Mubarokah sendiri adalah salah satu dari sedikit pengajar yang merintis usaha pendidikan pada anak disabilitas di Jember. “Saya dulu bersama pak Tamsun (salah satu pengelola SDLB Bintoro) yang memulai mengajar disini,” katanya. Dalam 20 tahun terakhir sudah banyak perkembangan menggembirakan yang terjadi. “Kini mulai ada kesadaran untuk menyekolahkan anak-anak disabilitas, dulunya mereka diasingkan bahkan dipasung,” ungkapnya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;      Mubarokah telah mengecap pahit getir sebagai pendidik anak-anak disabilitas. Meski telah banyak berkembang tetapi ada beberapa hal yang masih menjadi perhatian wanita ini. “Dari lingkungan sini saja tak tau apa itu YPAC, kadang masih ragu menyekolahkan, padahal tiap anak disabilitas punya potensi,” katanya. Ada pekerjaan besar yang masih menunggu diselesaikan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;      Umi Salman adalah kepala SDNLB Patrang Jember. Dalam komplek sekolah itu ada pula SMPLB dan SMALB, semua dikelola dengan swadaya dan dibantu oleh dinas pendidikan setempat. Seperti juga Mubarokah, ia masih khawatir dengan pola pikir masyarakat yang menafikan keberadaan kaum disabilitas. “Mereka (anak disabilitas) diasingkan dan tak diurus, padahal mereka manusia juga,” ungkapnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;      Perempuan yang juga telah mengabdi sejak 1989 ini tak berhenti mengembangkan sekolahnya. “Dulu hanya ada SDNLB, tapi karena banyak permintaan dari orang tua wali murid. Saya ajukan untuk membuat SMPLB dan SMALB,” aku Umi. Ia ingin memberikan kesempatan bagi para anak-anak untuk mengeyam pendidikan terbaik. “Mereka adalah anak bangsa yang berhak dapat pendidikan,” lanjutnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;      Keberadaan SDNLB Patrang sebenarnya cukup tersembunyi. Dari jalan utama dr Soebandi, sekolah ini terletak didalam sebuah gang kecil. Plang pengumuman sekolah ini pun tertutup rimbun pohon dan warung di pinggir jalan. “Memang tersembunyi, tapi ini yang ada,” ujar Umi sambil tersenyum.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;      Baik SDNLB Patrang dan SDLB YPAC merupakan sedikit diantara sekolah yang berbasis pendidikan inklusif bagi kaum disabilitas. “Ada juga sekolah di Bintoro, tapi ini semua terpusat di kota,” kata Umi. Ia tak hendak membandingkan apalagi berkomentar. Namun jarak yang harus ditempuh orang tua siswa demi pendidikan anak disabilitas memang lumayan jauh.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;      Modhar misalnya, pria asal Jelbuk ini tak tahu jika di Jember ada sekolah bagi kaum disabilitas. “Saat pertama datang kayak sekolah yang gak diurus, tapi ternyata pendidikannya baik,” ungkap pria yang memiliki anak tuna rungu wicara ini. Ia tak ambil pusing yang penting putrinya bisa mendapat pendidikan yang baik. Tetapi apakah akan seperti ini terus? “Mereka yang berkebutuhan khusus juga berhak mendapat pendidikan baik,” ujar ibu guru Mubarokah lesu.(*)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/983291090388480151-9009025534005706623?l=terumbukarya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://terumbukarya.blogspot.com/feeds/9009025534005706623/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://terumbukarya.blogspot.com/2011/11/tiga-cerita-satu-narasi-disabilitas.html#comment-form' title='8 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/983291090388480151/posts/default/9009025534005706623'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/983291090388480151/posts/default/9009025534005706623'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://terumbukarya.blogspot.com/2011/11/tiga-cerita-satu-narasi-disabilitas.html' title='Tiga cerita, Satu Narasi. Disabilitas'/><author><name>Arman Dhani Bustomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09710999134909778313</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-x0-TY8scle4/TsIUelg00YI/AAAAAAAAAXY/BatguPLze9Q/s220/309682_2423314513268_1563636231_2548318_1025409700_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-Bgb6bQBIy24/Ts9WjiX8UXI/AAAAAAAAAZc/fYrhULNuPRY/s72-c/DSC_0112.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-983291090388480151.post-3335580721478674894</id><published>2011-11-24T10:52:00.000+07:00</published><updated>2011-11-24T10:53:17.288+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='obituari'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kematian'/><title type='text'>Tentang kematian yang tak perlu jadi Melodrama</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: normal;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal"&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: normal;"&gt;~ &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size:10.0pt;mso-bidi-font-size:11.0pt; line-height:115%"&gt;Saya percaya kematian itu bukan ending, tapi sekedar prolog untuk episode hidup yang berikutnya.&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size:10.0pt;mso-bidi-font-size:11.0pt; line-height:115%"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style="mso-tab-count:1"&gt;                &lt;/span&gt;Apa yang lebih menyedihkan dari kematian? Saya belum tahu dan semoga saya tidak akan hidup untuk merasakan hal yang lebih menyedihkan dari kematian. Karena dalam hidup saya yang Cuma 2 dekade lebih sedikit ini, saya cukup melihat banyak kematian. Saya melihat bagaimana Ibu saya terdiam sedih melihat nenek meninggal dan 4 tahun lalu saya sendiri begitu terkapar melihat sahabat saya meninggal. Dan sejauh yang saya tahu, itulah hal yang paling menyedihkan yang bisa &lt;/span&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:EN-US"&gt;dirasakan manusia&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style="mso-tab-count:1"&gt;                &lt;/span&gt;Hari ini sebenarnya saya ingin tidur seharian, bermalas-malasan, karena semalam saya memeriahkan natal bersama saudara yang kebetulan beragama nasrani. Saya sudah beranjak pada ranjang empuk saya, saat tepat pukul 10.05 ponsel saya berbunyi nyaring. Entah apa yang menggerakan tangan saya meraih ponsel itu, karena biasanya saya membiarkan saja dan lanjut tidur. Beberapa detik setelah pesan terbuka, uluhati saya seperti dihantam Mike Tyson. Ayah teman baik saya meninggal.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style="mso-tab-count:1"&gt;                &lt;/span&gt;“&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal"&gt;bapakku baru aja meninggal dunia, ak minta maaf kalo almarhum pernah punya salah&lt;/i&gt;”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style="mso-tab-count:1"&gt;                &lt;/span&gt;Saat itu waktu rasanya berhenti, saya mematung melihat pesan itu, statis dalam diam. Saat itu saya merasa de javu, mengingat &lt;/span&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:EN-US"&gt;perasaan saat kita menghadapi kematian&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;. Saat semua kata tak mampu lagi melukiskan rasa kehilangan, maka hanya dalam diam kehilangan itu akan berbahasa.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style="mso-tab-count:1"&gt;                &lt;/span&gt;Kesadaran saya kembali saat Ibu saya masuk dan menyuruh saya memberi makan Ayam dan bebek peliharaan kami. Saya menatap Ibu dan bercerita tentang peristiwa yang baru saja berlangsung. Beliau hanya tersenyum dan berkata “kalau kamu umat islam yang baik, tugas kamu sekarang adalah menghibur temenmu dan berdoa buat Bapaknya”. Saya bergegas bangun dan memberi melaksanakan tugas dari Ibu lalu mandi dan siap-siap menuju Jember.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style="mso-tab-count:1"&gt;                &lt;/span&gt;Sebelum berangkat saya menyampaikan kabar duka tersebut kepada teman-teman saya. Setelah mengetik pesan singkat itu kemudian saya mengirimkannya, sekali lagi saya terdiam. Hampir separuh dari phonebook saya adalah temannya juga. &lt;/span&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:EN-US"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Konon anda bisa menilai karakter dan kebaikan kehidupan seseorang dari suasana kematiannya. Saya percaya itu, karena dalam hidup saya mengalami dua kali momen kematian yang dihadiri banyak orang. Dan hari ini adalah salah satunya&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Hari ini saya menemani teman baik saya itu sejak dalam pengusungan jasad almarhum sampai dengan dikuburkan di liang lahat. Saya terpukau melihat dia diam dalam ketabahan, melihat dia kuat ditonjok kehilangan. Dan sesekali tersenyum bercanda dengan saya. Hari ini saya merasa dia jauh lebih dewasa dari dua kali umur saya yang tidak seberapa ini.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/983291090388480151-3335580721478674894?l=terumbukarya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://terumbukarya.blogspot.com/feeds/3335580721478674894/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://terumbukarya.blogspot.com/2011/11/tentang-kematian-yang-tak-perlu-jadi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/983291090388480151/posts/default/3335580721478674894'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/983291090388480151/posts/default/3335580721478674894'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://terumbukarya.blogspot.com/2011/11/tentang-kematian-yang-tak-perlu-jadi.html' title='Tentang kematian yang tak perlu jadi Melodrama'/><author><name>Arman Dhani Bustomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09710999134909778313</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-x0-TY8scle4/TsIUelg00YI/AAAAAAAAAXY/BatguPLze9Q/s220/309682_2423314513268_1563636231_2548318_1025409700_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-983291090388480151.post-7785915070755687846</id><published>2011-11-24T08:20:00.006+07:00</published><updated>2011-11-24T18:15:31.609+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tegalboto'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ulang tahun'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ucapan'/><title type='text'>Ber umur</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-fMy2jPRvzpY/Ts2d9p-APdI/AAAAAAAAAYI/Fu7-lPQyv_8/s1600/155935_1695825886507_1563636231_1607921_5139178_n%2B%25281%2529.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 318px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-fMy2jPRvzpY/Ts2d9p-APdI/AAAAAAAAAYI/Fu7-lPQyv_8/s400/155935_1695825886507_1563636231_1607921_5139178_n%2B%25281%2529.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5678368387747560914" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:100%;"&gt;Jumat kemarin saya hampir mati. Oke itu sedikit berlebihan. Tapi yang benar hampir selama dua hari saya sekarat dan tak bisa melakukan apa-apa selain tidur dan terlentang. Duduk pun rasanya sangat sakit. Kata seorang teman yang perawat itu karena liver saya, yang lain bilang&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:100%;"&gt;karena sondep (&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;you know that kinda stomach ache but like hell&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:100%;"&gt;), dan ibu saya bilang karena kelelahan. Saya pribadi entah kenapa lebih percaya pada yang terakhir.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Hampir selama dua minggu saya liputan seperti orang gila. Berkisar dari Bondowoso sampai dengan Semboro. Itu sekitar 200 km bolak balik. Setiap hari saya lakukan dengan jam kerja dari jam 08.00 sampai pulang jam 23.00. Entah kenapa waktu itu saya hanya ingin keluar, bekerja, menulis dan baca komik. Seperti ada ketakutan-ketakutan jika saya diam. Saya akan tersedot masuk kedalam sebuah ruang gelap bernama kebencian dan dendam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Mungkin ada kaitannya dengan masalah pribadi yang saya alami dengan seorang kawan, seorang gebetan dan juga sebuah perkumpulan. &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Well, shit do happens right? Some handle it with care, some others handle it like shit.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt; Kita bisa lari dari masalah dan menganggapnya selesai. Atau berdiri menghadapi sebagai seorang jantan. Sayangnya saya bukan keduanya Dan sekali lagi sepertinya saya melakukan apa yang saya bisa. Diam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Hidup adalah keberanian menghadapi tanda tanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Sayangnya saya tak punya mental atau kemampuan seperti Gie. Dia bisa saja bilang begitu karena dia punya banyak teman karib, barisan groupies, pekerjaan menyenangkan, hobi asik dan sederet hal-hal keren yang lebih menarik daripada nongkrong seharian di café wifi. Hidup adalah soal hitam dan putih buat Gie. Dan sialnya saya selalu memilih untuk jadi abu-abu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Pada bulan ini sekitar 2007 saya ikut organisasi pers mahasiswa. Namanya Tegalboto. Terlepas dari nama kampungan dan &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;ece&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt; able. Disana saya banyak belajar mengenai kemampuan bertahan hidup. tentang bagaimana menghadapi manusia arogan, berkata kasar, sok kuasa, sok pinter (yang memang pinter) dan bagaimana cara menulis. Oh tentu saja tidak gratis.&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Semuanya dibayar dengan ketundukan dan rasa patuh.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Perintah pertama yang saya terima adalah membaca. Saya suka membaca tapi tidak dengan buku-buku tebal berjudul pos realitas, bumi manusia, apalagi kamus besar bahasa Indonesia. &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Whats the point anyway&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;? Well memang saya tak pernah disuruh membaca semua itu, tapi seperti ada dorongan untuk membaca itu. Buku-buku tadi bergeletakan di ruang redaksi Tegalboto. &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;And I’m a bit curious about what they read.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;They said ignorance is a bliss.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Well can’t agree more. Sok tau itu berbahaya mau tahu itu lebih berbahaya. Keingintahuan kerapkali membuat orang jadi lupa diri dan akhirnya berakhir pada hal-hal buruk. Oke, tidak semuanya. Beberapa. Sebagian kecil. Oke fine! Sangat kecil dari rasa ingin tahu menyebabkan anda tidak beruntung. Tapi rasa ingin tahu saya waktu itu membuat saya terpapar nanar karena rasa malu. Apa itu KOMODIFIKASI CITRA? APA ITU MAGNUM OPUS? APA ITU&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;TRANSENDEN?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Akhirnya saya harus berteman dengan KBBI untuk mencari itu semua. Saya terlahir pemalu. Oke maksudnya malu-maluin. Cenderung sok tahu dan sok hebat. &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;But peoples change. As age goes by, so does maturity&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;. Saya berusaha untuk tak lagi sok tahu dengan mencari tahu. Anehnya hal ini saya lakukan atas kesadaran sendiri. Bukan karena dorongan orang lain, ya meski kadang masih suka nanya dengan beberapa senior di Tegalboto.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Hari ini Tegalboto ulang tahun. Entahlah saya tiba-tiba ingin menulis tentang bagaimana rasa rindu yang lindap itu berjelaga. Bahwa saya merindukan diskusi kritis di malam dengan penuh makian. Tentang bagaimana hidup di luar Tegalboto itu kejam. Dan bagaimana kami harus begadang setiap malam untuk mengejar deadline. Tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa berlalu beku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Ini muka penuh luka Siapa punya ?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Ya bahkan Chairil pun pernah labil dan krisis identitas bukan? Bahwa segala yang lalu kerap kali legit dan membuat kita mabuk kepayang. Nostaligia selalu menawarkan kisah-kisah manis hidup yang telah usai. Sedangkan hari-hari kita di depan masih menunggu untuk dirubuhkan. Saya rindu Tegalboto yang lalu. Sedangkan hari ini saya bahkan tak bisa pergi kesana untuk sekedar menghidu bau apak udaranya. Dasar gombal.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Kita semua gombal. Siapa yang tidak? Seorang penulis, apalagi jika dia penyair, adalah mahluk paling gombal kedua setelah penyanyi dangdut. Oh benar. Kasta tertinggi mahluk gombal bukan penyair. Cih! Mereka tak akan bisa bikin syair bagus macam penyanyi dangdut. Sebuah gitar, sesisir sajak. Putuslah semua urat malu para perawan. Dikejarnya kau nanti bagai seorang maling hati. Aih.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Gombal atau tidak itu perkara perspektif. Kalau kau tanyakan pada Marx dia bakal bilang, gombal itu candu kaum borjuis supaya proletar tetap tertindas. Jika kau tanyakan pada Wittgeinstein, dia bakal bilang gombal itu permainan bahasa untuk menyembunyikan makna sebenarnya. Jika kau tanya Rhoma Irama, bisa panjang urusannya. Dia punya puluhan lagu soal gombal. Dikata terlalu habis kau dikejar pemain gendang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Tiada insan yang bebas dari ujian.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Aih manis benar bang Rhoma bikin syair. Saya kira Tegalboto juga demikian. Ia tak bebas dari ujian zaman. Jika dahulu angkatan saya menerima enam orang keparat yang sebagaian besar telah lulus dan berprestasi nasional. Maka Tegalboto juga sudah meraih berbagai penghargaan nasional. Sudah pula sampai ke Jerman dan sudah pula sampai ke Merauke.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Ini bukan tentang identitas cauvinis kolektif. Tetapi mengenai memaknai proses sebagai usaha berkelanjutan tanpa akhir. Saya bisa hilang arah, atau mentok berkarir, atau disoriensatasi hidup, atau post power syndrome atau bahkan mungkin menopouse. Tapi setiap era punya caranya sendiri beradaptasi dan membuat karya monumental. Saya kira ini yang sudah tecatat dalam masing-masing kepala alumnus Tegalboto.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Proses adalah laku hidup kepanditaan. Serupa keras hati Bambang Ekalaya yang berlatih memanah meski tanpa guru. Awak Tegalboto, pada zaman saya, kehilangan sosok guru. Karena kami merasakan kesetaraan dan kesejajaran. Tak ada yang patut di gugu dan di tiru. Karena role model dan patronase hanya akan berbuntut kekecewaan jika luput pada amanah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Pada akhirnya perjuangan kita hanya sloganistis.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Ahmad Wahib, meski HMI tapi tidak asu, boleh berkata begitu. Embel-embel platonik ‘menuju pencerahan masyarakat’ itu berat. Saya tidak tahu siapa jancuk yang membuat kata-kata itu. Dikira gampang melakukan pencerahan. Apalagi mengajak serta masyarakat yang amoral, sakit dan gendeng ini menuju kesana. Membawa diri sendiri belum tentu bisa apalagi orang lain. Meh!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Kuncinya adalah menuju pencerahan. Itu adalah ajakan berproses. Menuju bukan hasil, karenanya proses itu sendiri di Tegalboto adalah sebuah zetgeist. Bildungprozze. Pembentukan jati diri yang dilakukan perlahan dan didasari pemahaman. Saya yakin Tegalboto bukan pabrik yang berorientasi pada hasil keluaran. Tapi lebih kepada pembentukan kedalam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;“Pengarang” sebut Pramodya Ananta Toer, “mendapatkan tekanan terberat atas perlakuan yang ditimpakan padanya, pengalaman pribadinya adah juga pengalaman bangsanya, dan pengalaman bangsanya adalah juga pengalaman pribadinya.” Maka maknai proses sebagai pengalaman. Dan kalian akan mendapati tugas seorang pengarang (penulis) adalah mahaberat. Karena harus menuliskan keabadian.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Karena Hidup adalah keberanian menjadi kita.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Saya sudah muak untuk kemudian terus menerus berproses di Tegalboto. Karena seorang bayi yang disapih pun akan sampai pada masa peralihan. Apa yang diberikan tegalboto pada saya jauh lebih dari cukup. Jauh dari memadai untuk memulai hidup sebagai seorang pemikir atau penulis. Itupun jika saya punya cukup nyali untuk melakukannya. Karena seringkali alasan lebih panjang daripada keinginan untuk memulai.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Inilah Tegalboto berusia 18 tahun. Sudah cukup dewasa untuk menonton naughty america. Dan sudah cukup matang untuk ikut SNMPTN. Tapi kembali, proses seringkali meminta tumbal atau martir. Dan kebanyakan dari mereka dilupakan. Semoga saja pengurus Tegalboto hari ini tidak perlu jadi keduanya. Semoga mereka jadi anak-anak zaman yang berlari mengejar narasinya sendiri. Narasi pencerahan. Tabik.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/983291090388480151-7785915070755687846?l=terumbukarya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://terumbukarya.blogspot.com/feeds/7785915070755687846/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://terumbukarya.blogspot.com/2011/11/ber-umur.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/983291090388480151/posts/default/7785915070755687846'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/983291090388480151/posts/default/7785915070755687846'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://terumbukarya.blogspot.com/2011/11/ber-umur.html' title='Ber umur'/><author><name>Arman Dhani Bustomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09710999134909778313</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-x0-TY8scle4/TsIUelg00YI/AAAAAAAAAXY/BatguPLze9Q/s220/309682_2423314513268_1563636231_2548318_1025409700_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-fMy2jPRvzpY/Ts2d9p-APdI/AAAAAAAAAYI/Fu7-lPQyv_8/s72-c/155935_1695825886507_1563636231_1607921_5139178_n%2B%25281%2529.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-983291090388480151.post-5635154839089604602</id><published>2011-11-16T07:39:00.000+07:00</published><updated>2011-11-16T07:40:25.865+07:00</updated><title type='text'>Losers Campaign</title><content type='html'>&lt;iframe src="http://player.vimeo.com/video/32151543?title=0&amp;amp;byline=0&amp;amp;portrait=0&amp;amp;color=ffffff" width="400" height="225" frameborder="0" webkitallowfullscreen="" allowfullscreen=""&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Kampanye keren tentang plonco. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://vimeo.com/32151543"&gt;Losers&lt;/a&gt; from &lt;a href="http://vimeo.com/everynone"&gt;Everynone&lt;/a&gt; on &lt;a href="http://vimeo.com/"&gt;Vimeo&lt;/a&gt;.&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/983291090388480151-5635154839089604602?l=terumbukarya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://terumbukarya.blogspot.com/feeds/5635154839089604602/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://terumbukarya.blogspot.com/2011/11/losers-campaign.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/983291090388480151/posts/default/5635154839089604602'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/983291090388480151/posts/default/5635154839089604602'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://terumbukarya.blogspot.com/2011/11/losers-campaign.html' title='Losers Campaign'/><author><name>Arman Dhani Bustomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09710999134909778313</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-x0-TY8scle4/TsIUelg00YI/AAAAAAAAAXY/BatguPLze9Q/s220/309682_2423314513268_1563636231_2548318_1025409700_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-983291090388480151.post-1358698197361277077</id><published>2011-11-12T17:46:00.001+07:00</published><updated>2011-11-12T17:47:47.284+07:00</updated><title type='text'>a little Prayer</title><content type='html'>&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-pJlhO0LJkgM/Tr5OwJM19ZI/AAAAAAAAAXA/6rQ0XTC25QI/s1600/388670_2538276334737_1188484831_2950219_320596594_n%2B%25281%2529.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 349px; height: 400px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-pJlhO0LJkgM/Tr5OwJM19ZI/AAAAAAAAAXA/6rQ0XTC25QI/s400/388670_2538276334737_1188484831_2950219_320596594_n%2B%25281%2529.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5674059169543878034" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Amin &lt;/i&gt;:)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/983291090388480151-1358698197361277077?l=terumbukarya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://terumbukarya.blogspot.com/feeds/1358698197361277077/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://terumbukarya.blogspot.com/2011/11/little-prayer.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/983291090388480151/posts/default/1358698197361277077'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/983291090388480151/posts/default/1358698197361277077'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://terumbukarya.blogspot.com/2011/11/little-prayer.html' title='a little Prayer'/><author><name>Arman Dhani Bustomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09710999134909778313</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-x0-TY8scle4/TsIUelg00YI/AAAAAAAAAXY/BatguPLze9Q/s220/309682_2423314513268_1563636231_2548318_1025409700_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-pJlhO0LJkgM/Tr5OwJM19ZI/AAAAAAAAAXA/6rQ0XTC25QI/s72-c/388670_2538276334737_1188484831_2950219_320596594_n%2B%25281%2529.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-983291090388480151.post-8177679873440556735</id><published>2011-11-09T20:40:00.007+07:00</published><updated>2011-11-23T11:11:31.994+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sejarah'/><title type='text'>Palagan Jumerto</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/div&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;i&gt;~ sejarah menguburkan para pelakunya diam-diam&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Nama saya Hj Siti Romlah. Tapi dulu saya dikenal sebagai Arsiti,” kata perempuan renta itu bertutur. Ada segurat rasa curiga saat saya mendekatinya. Ia enggan bercerita lebih banyak. Namun setelah beberapa lama kami mengobrol ia lantas mau membuka diri dan sesekali tersenyum.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;            Bu Haji, begitu ia disapa, merupakan salah ssatu janda peristiwa palagan Jumerto. Dan satu dari sedikit saksi sejarah yang masih hidup. Di tengah usianya yang beranjak senja ia hidup secara sederhana bersama keponakan dan kerabatnya. “Saya tak punya anak. Dan dua suami saya terdahulu sudah meninggal,” katanya lirih.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;            Ibu yang juga janda pahlawan ini tinggal di Desa Jumerto kecamatan Patrang. Rumahnya berjarak sekitar enam kilometer sebelah utara dari kota Jember. Udara desa ini terasa sejuk. Karena masih banyak rindang pepohonan yang tumbuh dikawasan itu. “Kalau musim hukan seperti ini makin dingin. Suka sakit tengah (pinggang) kalau malam,” tuturnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-BAGhWVCTIkI/TrqFOasxKQI/AAAAAAAAAW0/ree9aJS39m0/s1600/DSC_4442.JPG" style="text-align: left;"&gt;&lt;img src="http://3.bp.blogspot.com/-BAGhWVCTIkI/TrqFOasxKQI/AAAAAAAAAW0/ree9aJS39m0/s400/DSC_4442.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5672993163358316802" style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 196px; height: 400px;" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;i&gt;Monumen Palagan Jumerto&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;            Tiba-tiba raut wajah Bu Haji berubah saat melihat monumen tinggi di sebelah rumahnya. Bangunan itu adalah monumen peringatan palagan Jumerto, dibuat sebagai penghormatan pada para pahlawan yang gugur saat peristiwa peristiwa tahun 1949.  “Dulu suami pertama saya mati di tembak belanda. Kakak kandung saya juga,” katanya tiba-tiba. Bagi beberapa orang menceritakan kematian bukan perkara mudah. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Tepat pada 11 Februari 1949 terjadi peristiwa heroik, perlawanan masyarakat desa Jumerto dan pasukan Mobrig (sekarang Brimob) terhadap penjajah Belanda. Saat itu pasukan Mobrig di bawah pimpinan AKP Soekari, datang ke desa Jumerto dengan kekuatan 3 Pleton atau kurang lebih 90 orang. Mereka tengah melakukan perjalanan gerilya dari daerah Malang, Lumajang dan Jember.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Pak Soekari mampir untuk istirahat. Itu sudah malam kalo gak salah jam 1an,” tutur Bu Haji. Namun kehadiran mereka ternyata diketahui oleh salah seorang mata-mata Belanda. Sepanjang malam pasukan Mobrig yang beristirahat itu tak menyadari bahaya yang mengintai. “Kalau ingat itu saya sering menangisi saudara saya,” seru Bu Haji.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Esok harinya pukul 06.00 tentara Belanda yang terdiri dari KNIL dan Gurkha (pasukan elit India dari Inggris) mengepung tempat peristirahatan tentara Mobrig. “Waktu itu dak pake ngomong. Sukur tembak aja dor dor dor saya yang di rumah jaraknya jauh sampai dengar,” kata Bu Haji. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Pertempuran memang tak bisa dielakkan. Karena pada saat itu telah ditanda tangani perjanjian Renvile yang bersisi semua pasukan Republik harus ditarik mundur dari daerah-daerah kantongnya di wilayah pendudukan di Jawa Timur. “Kakak saya yang jadi tentara pelajar langsung kesana. Suami pertama saya juga padahal udah rame bak tembakan,” serunya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-U6FZPpjZKOA/TrqFN71oGOI/AAAAAAAAAWc/1yt5h0AasbQ/s1600/DSC_4447.JPG" style="text-align: left; text-indent: 0px;"&gt;&lt;img src="http://4.bp.blogspot.com/-U6FZPpjZKOA/TrqFN71oGOI/AAAAAAAAAWc/1yt5h0AasbQ/s400/DSC_4447.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5672993155073972450" style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 291px;" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Nama-nama korban Mobbrig&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sebagian tentara Mobrig yang tak sadar dengan mudah dihabisi oleh pasukan KNIL dan Gurkha. Mengetahui itu warga desa Jumerto yang setia pada Negara Indonesia tak terima dan melakukan pertempuran melawan pasukan Belanda. Sampai menjelang siang, disaat pertempuran berlangsung pasukan Brimob mendapatkan perintah untuk tidak melanjutkan perlawanan. “Pas mau Ashar itu pak Sukari mundur padahal sudah banyak yang mati,” runut Bu Haji.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dari puing pertempuran ditemukan bahwa ada 13 anggota Mobrig yang gugur dan 20 warga Jumerto. Bu Haji yang kehilangan saudara dan suaminya berusaha tegar sebagai kerabat pejuang. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-zebPekLwb6o/TrqFN4iAsRI/AAAAAAAAAWk/YjldF1oNsn0/s1600/DSC_4446.JPG" style="text-align: left; text-indent: 0px;"&gt;&lt;img src="http://4.bp.blogspot.com/-zebPekLwb6o/TrqFN4iAsRI/AAAAAAAAAWk/YjldF1oNsn0/s400/DSC_4446.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5672993154186391826" style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 266px;" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;i&gt;Nama-nama korban dari desa Jumerto&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;“Saya rela sungguh rela. Ini demi negara,” katanya pelan.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Kini telah 62 tahun sejak peristiwa itu terjadi Bu Haji masih sendiri memperjuangkan hidup. Rumah sederhananya tak ada yang istimewa. Dingin dan sepi dari hiruk pikuk. Tak satupun penghargaan yang ia terima selain sebuah monumen mati dan seperangkat mukena atas jasa keluarganya. “Saya pernah diberi mukena sama pak Kapolres itu saja,” katanya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Konon bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannnya. Kini Bu Haji menikmati sisa umur dalam kesunyian. Ia ikhlas merelakan keluarganya sebagai tumbal perjuangan kemerdekaan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Ya sudah mungkin ini rejeki saya. Alhamdulillah seng penting merdeka,” ujarnya lirih. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;img src="http://1.bp.blogspot.com/-Q_HKtmUKM8U/TrqEwFDMk5I/AAAAAAAAAWQ/bv7u73Mg4eQ/s400/a.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5672992642150732690" style="color: rgb(0, 0, 238); text-indent: 0px; text-decoration: underline; display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 266px; height: 400px;" border="0" /&gt;&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center; text-indent: 0px;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="white-space: normal;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;i&gt;Bu Haji&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/983291090388480151-8177679873440556735?l=terumbukarya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://terumbukarya.blogspot.com/feeds/8177679873440556735/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://terumbukarya.blogspot.com/2011/11/palagan-jumerto.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/983291090388480151/posts/default/8177679873440556735'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/983291090388480151/posts/default/8177679873440556735'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://terumbukarya.blogspot.com/2011/11/palagan-jumerto.html' title='Palagan Jumerto'/><author><name>Arman Dhani Bustomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09710999134909778313</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-x0-TY8scle4/TsIUelg00YI/AAAAAAAAAXY/BatguPLze9Q/s220/309682_2423314513268_1563636231_2548318_1025409700_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-BAGhWVCTIkI/TrqFOasxKQI/AAAAAAAAAW0/ree9aJS39m0/s72-c/DSC_4442.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-983291090388480151.post-4565862216093821832</id><published>2011-11-07T12:35:00.008+07:00</published><updated>2011-11-15T12:38:47.403+07:00</updated><title type='text'>Skłodowska</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-9eCOE8rRPDg/TsHvTnVda7I/AAAAAAAAAXM/MIaX4fyq6T4/s1600/curie.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 298px; height: 400px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-9eCOE8rRPDg/TsHvTnVda7I/AAAAAAAAAXM/MIaX4fyq6T4/s400/curie.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5675080125719079858" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;blockquote style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;i&gt;~ I am among those who think that science has great beauty.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Saya membayangkan di ujung hidupnya, Skłodowska, sedang memandang rerumputan hijau. Mengingat masa kecilnya di pinggiran kota Warsawa. Segala kenangan berkelindan dalam pikirannya dan sebuah senyum simpul tersungging di wajahnya. Sementara seperti biasa tatapan mata Skłodowska datar. Seolah tak pernah ada emosi dalam hidupnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Suatu pagi di Sancellemoz  Sanatorium Passy, Haute-Savoie, di timur Prancis. Skłodowska sedang terbaring sangat lemah. Kanker dalam tubuhnya sudah memasuki tahapan yang tak tersembuhkan. Ia menyadari bahwa hidupnya sudah memasuki tahap akhir dan sebentar lagi tirai tertutup. Tak ada gurat kesedihan atau penyesalan dalam hidupnya. Sebuah tahapan kebebasan yang terlepas dari hiruk pikuk dunia.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebuah usaha &lt;span style="font-style: italic;"&gt;moksa&lt;/span&gt; dari betari ilmu pengetahuan yang menghendaki kesempurnaan hidup. Ia tak mengenal agama. Segala pengetahuan mengenai ajaran kasih sudah lama ditinggalkan dalam tumpukan tabung kimia. Namun ujung hidupnya merujuk sebuah kemiripan pada jalan para bodhi. &lt;i&gt;Dukkha Nirodha Ariya Sacca. &lt;/i&gt;Jalan kerelaan dan keikhlasan untuk melepaskan segala keinginan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Skłodowska muda adalah seorang ilmuan brilian yang jatuh cinta pada ilmu pengetahuan. Serupa Faustus yang menjual jiwanya untuk pengetahuan pada Mephisto, maka si gadis brilian dari Warasawa menjual jiwanya demi sains.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Apakah ia menyesal? Tidak. Sejarah mencatatkan ada harga mahal untuk sebuah perubahan. Tumbal dari martir sebagai sebuah jalan lain pencerahan. Kisah Ibrahin dan Ismail. Komodor Yos Sudarso dan berbagai kisah epik lainnya. Bahwa ada sebuah sisi tengah mata uang yang jarang sekali dipahami sebagai proses.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tentu ada melankolia. Romantisme. Apalah arti sebuah epos tanpa kisah romantik? Si gadis kecil dari pinggiran Polandia jatuh cinta dengan seorang Pieere Curie si kutu buku dari paris. Bukan karena ia mencintai magnet sehingga Skłodowska dan Pieere bersatu. Tapi karena memang seringkali cinta terjadi dengan cara yang salah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Maka sesungguhnya tak ada  radium tanpa Skłodowska dan Pieere.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tapi seperti setiap drama yang baik. Maka tragedi adalah salah satu ending paling monumental dalam kisah cinta manapun. Pieere harus meluluh dalam kematian karena sebuah kecelakaan tragis. Apakah sekali lagi Skłodowska kecewa? Tidak. Ia menemukan eskapisme baru. Radiologi memperoleh messiahnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kita tahu tak pernah bisa dan tak boleh bermain-main dengan kematian. Seperti mendekati nuklir dan mengotak-atiknya sebagai sebuah sumbu pemanas. Melarutkannya dalam tabung-tabung kimia. Serta memaparkan sinarnya kepada tubuh. Sebuah usaha bunuh diri yang manis demi umat manusia.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Seringkali tak banyak para martir sadar akan perbuatannya. Mereka seperti sedang berbincang mengenai tiket konser untuk bertemu santo Petrus di gerbang surga. Atau meniti sirathul mustakim seperti sebuah kegiatan akhir pekan. Skłodowska tak pernah menyadar bahwa eskapisme masokisnya adalah sebuah titik balik pengobatan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ada ritus kemudian yang mengenang jejak mereka sebagai tindakan profetik. Bahwa ada campur tangan tuhan dalam kisah-kisah transenden penemuan umat manusia. Dimana seringkali ada sebuah mitos-mitos dan kisah kisah sampingan tak perlu dalam narasi tersebut. Bukankah semua tragedi harus diawali dari sebuah sikap nyinyir yang pejal?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bahwa Skłodowska adalah seorang genit yang mengganggu pria muda beristri?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Entahlah. Saya tak pernah percaya santo dan rasul membawa kebaikan pada dunia. Para pendosa-lah yang memberi gigir dunia sebuah perspektif baru. Penyeimbang akan kebaikan yang harus dihindari, ditinggalkan dan dimusuhi. Tapi seringkali nilai-nilai normatif degil memberi kabut paling besar pada pencapaian yang luar biasa.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dan inilah ia Skłodowska si Gadis Dari Pinggiran Warsawa. Masih menjadi satu-satunya wanita yang meraih dua penghargaan raja dinamit. Bahkan melampaui ekspektasi semua laki-laki, jika anda berpikir dari kaca mata feminis. Seorang wanita yang terluka bisa menemukan pengobatan dengan cara melukai diri. Konyol? Mungkin, tapi seluruh dunia menikmatinya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Seraya mengamini Chairil Anwar bahwa hidup hanya menunda kekalahan.  Karena kita tahu ada banyak hal yang tetap tidak terucapkan meski telah coba diutarakan. Kata-kata sudah kehilangan makna dan kekuatannya saat hati dan pikiran kita sudah tak lagi linier. Namun sebelum pada akhirnya kita menyerah mengapa tak buat keabadian.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ah Marie Skłodowska Curie yang malang. Untuk apa hidupmu terbuang?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-baD0Fy1f6qI/TrdvlbD0tOI/AAAAAAAAAWE/C9yf1oNZXJY/s1600/untitled.JPG" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img src="http://3.bp.blogspot.com/-baD0Fy1f6qI/TrdvlbD0tOI/AAAAAAAAAWE/C9yf1oNZXJY/s400/untitled.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5672124944406066402" border="0" style="text-align: justify; display: block; margin-top: 0px; margin-right: auto; margin-bottom: 10px; margin-left: auto; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px; " /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/983291090388480151-4565862216093821832?l=terumbukarya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://terumbukarya.blogspot.com/feeds/4565862216093821832/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://terumbukarya.blogspot.com/2011/11/skodowska.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/983291090388480151/posts/default/4565862216093821832'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/983291090388480151/posts/default/4565862216093821832'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://terumbukarya.blogspot.com/2011/11/skodowska.html' title='Skłodowska'/><author><name>Arman Dhani Bustomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09710999134909778313</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-x0-TY8scle4/TsIUelg00YI/AAAAAAAAAXY/BatguPLze9Q/s220/309682_2423314513268_1563636231_2548318_1025409700_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-9eCOE8rRPDg/TsHvTnVda7I/AAAAAAAAAXM/MIaX4fyq6T4/s72-c/curie.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-983291090388480151.post-7569874738890240108</id><published>2011-11-06T14:28:00.003+07:00</published><updated>2011-11-06T16:05:16.727+07:00</updated><title type='text'>Merah</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-2lXEiLKhdgY/TrZNwPUvi4I/AAAAAAAAAV4/0Xh7PbDR93E/s1600/red_by_saintaradist-d48b52c.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 265px; height: 400px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-2lXEiLKhdgY/TrZNwPUvi4I/AAAAAAAAAV4/0Xh7PbDR93E/s400/red_by_saintaradist-d48b52c.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5671806271862311810" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;&lt;u&gt;&lt;br /&gt;&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;i&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;i&gt;Ini dalam kamar ini&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;i&gt;Aku bersembunyi lagi&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;i&gt;Mereka yang kita sayangi&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;i&gt;Yang paling mampu melukai&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;Monkey to Millionaire&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;Merah&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;i&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/983291090388480151-7569874738890240108?l=terumbukarya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://terumbukarya.blogspot.com/feeds/7569874738890240108/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://terumbukarya.blogspot.com/2011/11/merah.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/983291090388480151/posts/default/7569874738890240108'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/983291090388480151/posts/default/7569874738890240108'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://terumbukarya.blogspot.com/2011/11/merah.html' title='Merah'/><author><name>Arman Dhani Bustomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09710999134909778313</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-x0-TY8scle4/TsIUelg00YI/AAAAAAAAAXY/BatguPLze9Q/s220/309682_2423314513268_1563636231_2548318_1025409700_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-2lXEiLKhdgY/TrZNwPUvi4I/AAAAAAAAAV4/0Xh7PbDR93E/s72-c/red_by_saintaradist-d48b52c.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-983291090388480151.post-7197758241241893530</id><published>2011-11-04T11:19:00.002+07:00</published><updated>2011-11-04T11:26:43.296+07:00</updated><title type='text'>[REVOLVERE PROJECT] Kau Yang Mengutuhkan Aku</title><content type='html'>&lt;iframe width="459" height="344" src="http://www.youtube.com/embed/L0pLhwvfpg0?fs=1" frameborder="0" allowfullscreen=""&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Ada banyak peristiwa sederhana yang kasat mata kita pahami sebagai keseharian. Namun apabila hal tersebut dibingkai dalam sebuah sudut pandang yang berbeda. Akan ada estetika, keharuan dan perasaan bebal. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Keseharian mencengkeram kita kedalam kubikel kubikel kumal yang mengharuskan kita jadi robot. Menjadikan kita sebagai individu yang mekanis dan acuh pada sekitar. Lalu secara perlahan kita kehilangan identitas diri sebagai manusia, sebagai mahluk yang memiliki perasaan, dan yang paling mengerikan kita kehilangan cinta.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;Ini yang coba diretas Revolvere Project (RP). Project hibrida sastra-musik-visual menjadi sebuah bentuk kreatif yang baru. RP ini mengajak pembacanya berinteraksi dan menikmati sebuah karya melalui rasa, mata, dan telinga sekaligus. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Tema-tema yang diangkat project ini merupakan tema-tema sederhana di keseharian namun berusaha dilihat melalui sudut pandang yang berbeda; untuk meninjau ulang maknanya dan memperdalam perannya dalam meningkatkan kualitas diri kita sebagai manusia biasa yang seharusnya luar biasa. :) &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Didirikan pada pertengahan bulan Agustus 2011 di sebuah café di Bandung, project ini digawangi tiga kreator lintas-bidang: Fahd Djibran (penulis), Fiersa Besari (musisi), dan Futih Al Jihadi (seniman visual).&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Mari membuka mata, telinga, dan rasa... Selamat menikmati karya mereka yang pertama.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Kau Yang Mengutuhkan Aku&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Revolvere Project&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Naskah Fahd Djibran&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Senja makin tua ketika kita tiba di kota itu.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Kau melingkarkan lenganmu di tubuhku ketika kita melintasi bangunan-bangunan tua, ruko-ruko yang asing. Ada debar yang tak biasa, bertalu dalam hatiku; Naik turun seperti roda sepeda motor yang sedang kita kendarai bersama, menari di punggung jalan kota yang berlubang.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Selepas kelokan itu, kau mempersempit lingkar lenganmu, mendekatkan tubuhmu dengan punggungku, menyandarkan pipi kirimu di bahu kananku. Entah apa yang sedang terjadi, sesuatu membimbingku memegang tanganmu dengan tangan kiriku. Tiba-tiba debar itu semakin cepat, membuyarkan konsentrasiku: dan tubuh kita tersintak saat ban depan sepeda motorku anjlok di sebuah lubang. Kamu tertawa. Sementara aku masih manahan napas sambil berusaha mengendalikan kemudi yang oleng.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Tangan kita kembali jadi milik masing-masing. Es mencair dalam pikiran. Sejujurnya, apa yang kubayangkan, melebihi apa yang sudah terjadi. Plang-plang hotel kelas melati, reklame bergambar gadis manis berpakaian seksi, ciuman pertama: rasa waswas yang buas. Itu salahku, sungguh: pikiran-pikiran buruk telah membuyarkan konsentrasiku, dan hampir saja membuat hidup kita berakhir di jalanan kota yang asing.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Kita sudah hampir sampai,” katamu. “Dua kelok lagi, di kanan jalan, rumah nenek bercat hijau dengan pagar putih.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Aku mengangguk perlahan. Sedikit mempercepat laju roda sepeda motorku.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Kamu mau menginap?” tanyamu.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Kota yang sepi, rumah yang tak dihuni siapa-siapa, nenek sudah tua, lampu jalan remang-reman, liburan yang panjang: menyamarkan kata pulang. Apakah di kota ini kita akan merayakan ciuman pertama? Bercumbu di bawah dingin bulan?&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Ah, tidak,” kataku padamu, “aku langsung pulang ke Bandung setelah Isya.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Kamu tersenyum. Mengangguk perlahan. “Kita bisa telponan atau sms-an, kan? Kamu bisa jemput aku dua minggu lagi.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Aku mengangguk. Kita sudah sampai.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Ciuman pertama kita, selalu urung kita rayakan. Bukan tidak bisa, tapi tidak saja. Meski sebenarnya ingin, aku harus bertahan. Kamu bukan hakku, dan aku tak mau kehilangan debar itu: rasa rindu yang tak habis-habis menghadirkan bayangmu di malam-malam insomniaku.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Kencan kita adalah pertemuan-pertemuan biasa: bioskop, toko buku, pertunjukan teater, makan malam di pinggir jalan. Kita selalu punya banyak kesempatan untuk berciuman, bahkan lebih dari itu. Kita punya banyak kesempatan untuk bisa seperti pasangan kekasih yang lain, selayaknya mereka yang kasmaran di zaman ini. Tapi kita saling bertahan, aku dan kamu: Kita harus menunggu.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Ada dua jenis kerinduan,” katamu suatu hari, “Kerinduan pertama tersebab kita pernah merasakan sesuatu dan kita menginginkannya kembali. Kerinduan kedua tersebab kita tak pernah mengalaminya dan benar-benar ingin merasakannya, setia menunggu dalam penantian yang lugu.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Aku memilih yang kedua,” kataku.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Aku juga,” katamu. Tersenyum.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Dari sekian banyak pasangan kekasih di zaman ini, barangkali cara kita yang paling asing. Untuk tidak mengatakannya aneh. Dulu kamu selalu marah. Kamu ingin seperti pasangan kekasih lain yang mendapatkan pelukan dan ciuman. Tapi, seperti sudah aku jelaskan, “Yang penting bukan itu. Apa artinya kita berdua, bermesraan, tapi tak pernah saling mendoakan?”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Waktu itu, kamu terdiam. Aku juga tak tahu dari mana aku mendapatkan kata-kata itu. Kamu menangis. Kamu minta maaf. Tapi itu bukan salahmu, kok. Aku juga manusia biasa yang menginginkannya. Kita hanya perlu kesabaran, sebab aku benar-benar mencintaimu. Aku tak ingin merusak kesungguhan cintaku dengan keinginan-keinginan yang merendahkan. Syukurlah kamu setuju.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Bersabarlah, sebentar lagi, dua bulan lagi kita akan menikah.” Kataku, sebelum berpamitan pulang malam itu.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Kamu tersenyum. Mengangguk perlahan. “Aku mencintaimu,” katamu.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Aku juga. Kau yang mengutuhkan aku.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Nanyikan lagu kesukaan kita&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Percepat laju roda&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Ku tak peduli dengan mereka&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Asal kau di sini&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Jangan pergi&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Kau yang mengutuhkan aku&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Bertahanlah sebentar lagi&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Sampai kuikat dirimu&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Tak bosan-bosan&lt;/div&gt;&lt;div&gt;aku ucapkan tiga kata itu&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Aku tak pernah merasa lengkap&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Sampai kau datang&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Jangan pergi&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Kau yang mengutuhkan aku&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Bertahanlah sebentar lagi&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Sampai kuikat dirimu&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;…dan dunia seakan membenci kita&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Raih tanganku agar kutahu ku tak sendiri&lt;/div&gt;&lt;div&gt;…dan aku melihat segalanya&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Saat aku melihatmu&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Lalu kita berpamitan. Berpisah lagi, seperti biasa. Kembali bersalin rupa menjadi sepasang kekasih yang mengakrabi makna cinta dari dua tempat yang berbeda.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Dari mana aku belajar bersabar mencintaimu, menunda segala hal yang terus-menerus menggoda kita berdua? Aku juga tak tahu. Aku hanya ingin mencintaimu tanpa alasan-alasan yang pada saatnya akan tiada—wajahmu yang cantik, rambutmu yang hitam dan panjang, kulit kencangmu. Biarlah cinta tumbuh sebagaimana para petani bersabar menanti padi, hingga saatnya panen akan tiba.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Demi apapun, aku mencintaimu. Cintamu telah mengubahku menjadi lelaki yang tak tunduk pada kelaminnya sendiri. Lalu aku akan tidur dengan tenang; memimpikanmu menari di taman bunga; lalu kupu-kupu hinggap di rambutmu yang puitis, melengkungkan senyummu yang manis.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Pagi-pagi, selepas sembahyang, aku akan mendoakanmu dan kamu mendoakanku. Hingga pada saatnya sebuah SMS akan tiba, berisi tiga kata seperti biasanya: aku cinta kamu.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Bertahanlah,&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;sebentar lagi,&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;sampai kau ikat diriku...&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/983291090388480151-7197758241241893530?l=terumbukarya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://terumbukarya.blogspot.com/feeds/7197758241241893530/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://terumbukarya.blogspot.com/2011/11/revolvere-project-kau-yang-mengutuhkan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/983291090388480151/posts/default/7197758241241893530'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/983291090388480151/posts/default/7197758241241893530'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://terumbukarya.blogspot.com/2011/11/revolvere-project-kau-yang-mengutuhkan.html' title='[REVOLVERE PROJECT] Kau Yang Mengutuhkan Aku'/><author><name>Arman Dhani Bustomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09710999134909778313</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-x0-TY8scle4/TsIUelg00YI/AAAAAAAAAXY/BatguPLze9Q/s220/309682_2423314513268_1563636231_2548318_1025409700_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://img.youtube.com/vi/L0pLhwvfpg0/default.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-983291090388480151.post-4482898667700029975</id><published>2011-11-04T10:41:00.009+07:00</published><updated>2011-11-24T10:23:49.861+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='fotografi'/><title type='text'>Bingkai Cahaya</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-NO9FYplH5w8/Ts212QZoJOI/AAAAAAAAAY0/DqzsmDtHQxk/s1600/james_nachtwey.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-HcU8pa8OAHE/Ts211xbBQsI/AAAAAAAAAYU/stw_n5h6uzU/s1600/Charleston.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;/a&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;iframe width="459" height="344" src="http://www.youtube.com/embed/kikYnOohL7E?fs=1" frameborder="0" allowfullscreen=""&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;blockquote style="text-align: justify;font-style: italic; "&gt;~ Great music and great photo. And we do hate our miserable life right?&lt;/blockquote&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saya tak kenal Robert Frank sebelum membaca dan meliat kumpulan foto yang berjudul &lt;i&gt;The Americans&lt;/i&gt;. Tapi sekarang saya tahu, jika James Nacthwey adalah Perseus dalam dunia fotografi. Maka Robert Frank adalah Hommer. Tidak, saya tidak sedang membicarakan mengenai penciptaan fotografi. Karena itu akan sama saja dengan memperdebatkan mengenai kuasa tuhan atas cahaya.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Nachtwey adalah begawan genre fotografi perang dan kemanusiaan. Lewat salah satu film semi biografi dokumenternya, &lt;i&gt;the war photographer, &lt;/i&gt;Nachtwey menelanjangi peperangan sebagai sebuah keegoisan yang hanya berujung pada kemusnahan masal. Namun tak berhenti sampai disitu ia juga berusaha lebih dekat menyusun narasi kemanusiaan tentang kemiskinan. Sebuah usaha platonik yang naif.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-NO9FYplH5w8/Ts212QZoJOI/AAAAAAAAAY0/DqzsmDtHQxk/s1600/james_nachtwey.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img src="http://1.bp.blogspot.com/-NO9FYplH5w8/Ts212QZoJOI/AAAAAAAAAY0/DqzsmDtHQxk/s400/james_nachtwey.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5678394648904082658" style="display: block; margin-top: 0px; margin-right: auto; margin-bottom: 10px; margin-left: auto; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 274px; " /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-V_meYLvIOXE/Ts212NzAolI/AAAAAAAAAYk/JIXGcF0YYYU/s1600/nachtwey%2Bjakarta.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-V_meYLvIOXE/Ts212NzAolI/AAAAAAAAAYk/JIXGcF0YYYU/s1600/nachtwey%2Bjakarta.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-V_meYLvIOXE/Ts212NzAolI/AAAAAAAAAYk/JIXGcF0YYYU/s1600/nachtwey%2Bjakarta.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kemiskinan adalah klise. Sebuah tema usang yang sekalu sukses meruntuhkan air mata. Nachtwey sukses menggarap tema itu sampai kepelosok dunia (bahkan Indonesia) dan mengembangkannya sebagai isu sentral perubahan. Ada ketakutan yang tak teraba dalam setiap karyanya. Bahwa manusia cenderung selalu mengulang sejarah. Sialnya, bukan sejarah kegemilangan tetapi darah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div&gt;Dalam suatu fragmen dalam bukunya yang berjudul Inferno ia berkata "&lt;i&gt;I have been a witness, and these pictures are  my testimony.&lt;/i&gt;" Sebuah prolog atas teror yang ia lanjutkan "&lt;i&gt;The events I have recorded should not be forgotten and must not be repeated.&lt;/i&gt;" Sebuah ketakutan dan teror yang berjelaga dalam diri Nachtwey.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 238); -webkit-text-decorations-in-effect: underline; "&gt;&lt;img src="http://4.bp.blogspot.com/-V_meYLvIOXE/Ts212NzAolI/AAAAAAAAAYk/JIXGcF0YYYU/s400/nachtwey%2Bjakarta.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5678394648205238866" style="display: block; margin-top: 0px; margin-right: auto; margin-bottom: 10px; margin-left: auto; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 266px; " /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 238); -webkit-text-decorations-in-effect: underline; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Seperti perasaan Valkyrie saat ia harus menunggu dan menyaksikan para pejuang tewas meregang nyawa di medan perang. Menggenapkan epigraph Dante dalam “&lt;i&gt;Inferno&lt;/i&gt;”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;i&gt;“Through me is the way to the sorrowful city. Through me is the way to join the lost people.”&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Berbeda dengan Nachtwey yang cenderung frontal menyuarakan perang, kepedihan, kehilangan, kematian dan kesedihan. Robert Frank lebih lembut dan landai menyuarakan isu isu minor. Mengenai rasisme kulit hitam di Amerika. Jim Crows Laws dan bagaimana black power berusaha mengangkat derajat kaum tertindas itu.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Sangat luar biasa jika melihat bagaimana sebuah foto dapat mempengaruhi kebijakan. konon foto-foto yang dibuat oleh Robert Frank mampu menggugah publik Amerika untuk lebih arif bersikap. Dan mengakhiri ratusan tahun penindasan atas nama warna kulit.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Foto-foto yang dibuat oleh Robert Frank dalam The Americans, cenderung tidak artistik dalam kaca mata kesenian. Ia lebih banyak bicara dengan bahasa kemanusiaan. Seperti gambar-gambar yang disusun secara tak sengaja dan bukan by design. Hal inilah yang juga menjadi dasar mengapa beberapa orang menganggap Robert Frank sebagai bapak street potography atau fotografi jalanan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 238); -webkit-text-decorations-in-effect: underline; "&gt;&lt;img src="http://4.bp.blogspot.com/-HcU8pa8OAHE/Ts211xbBQsI/AAAAAAAAAYU/stw_n5h6uzU/s400/Charleston.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5678394640588423874" style="display: block; margin-top: 0px; margin-right: auto; margin-bottom: 10px; margin-left: auto; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 289px; " /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 238); -webkit-text-decorations-in-effect: underline; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Sebagian besar foto yang dibuatnya berkisar di jalanan Mississippi, Bronk, dan juga daerah dengan persinggungan kulit hitam putih yang besar. Disana ia bisa mengolah foto dengan begitu nadir, satir dan getir. Membuat bingkai seolah-olah paradoks kemanusiaan atas nama warna kulit itu hanya sekedar imaji. Repetoir inilah yang kerap membuatnya diburu oleh Klu Klu Klan karena dianggap anti segregasi kelas.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;The Americans juga membawa Jack Kerouac, Allen Ginsberg, dan gerombiolan beat lainnya untuk bersinggungan dengan Robert Frank. Dari intimasi ini lahirlah dokumenter kontroversial &lt;i&gt;the Rolling Stones&lt;/i&gt;. Hal inipula yang kelak membawa Robert Frank untuk melakukan perlawanan sunyi dengan caranya sendiri. Melalui frame foto yang mengambarkan kedegilan hidup.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 238); -webkit-text-decorations-in-effect: underline; "&gt;&lt;img src="http://4.bp.blogspot.com/-ZoysSY5Jf7k/Ts212CvwPcI/AAAAAAAAAYc/TYPnh1lTGio/s400/New-Orleans.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5678394645238791618" style="display: block; margin-top: 0px; margin-right: auto; margin-bottom: 10px; margin-left: auto; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 283px; " /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Saya kira fotografi hari ini sudah terlalu jengah dengan model, inframerah dan segala hal kerdil macam hobi-hobi kekanakan. Fotografi bisa jadi cara lain untuk melakukan pekerjaan kemanusiaan. Dan juga bisa jadi sebuah katalis untuk menggambarkan pemberitaan. Sebuah narasi berita memang tak akan jadi menarik tanpa adanya foto-foto yang baik. Tapi juga bukan berarti semua orang bisa dan serta merta jadi pandai hanya karena punya kamera mahal seharga mobil.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Akhir-akhir ini saya sedikit muak dengan keberadaan label pada foto yang ditasbihkan dengan nama pembuatnya. Condet Photography, Japrak Photoworks dan Juleha Photo Studio. Saya tak pernah ingat melihat foto-foto yang dibuat Robert Frank atau James Nachtway (bahkan pada awal karir mereka sekalipun) tidak menyertakan nama-nama labil.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Tapi, entahlah, bukankah dulu fotografi hanya hobi bagi segelintir. Mereka yang terasing dan hanya mampu melihat suatu hal dari perspektif lain. Bahkan hingga hari ini fotografi di hollywood (bukan Amerika) dicitrakan sebagai kegiatan kaum nerd. Tapi entah kenapa di sini (kota saya) jadi parade orang-orang snobs. Ah.. mungkin saya hanya sirik saja.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 238); -webkit-text-decorations-in-effect: underline; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;i&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/983291090388480151-4482898667700029975?l=terumbukarya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://terumbukarya.blogspot.com/feeds/4482898667700029975/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://terumbukarya.blogspot.com/2011/11/street-photography-london.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/983291090388480151/posts/default/4482898667700029975'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/983291090388480151/posts/default/4482898667700029975'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://terumbukarya.blogspot.com/2011/11/street-photography-london.html' title='Bingkai Cahaya'/><author><name>Arman Dhani Bustomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09710999134909778313</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-x0-TY8scle4/TsIUelg00YI/AAAAAAAAAXY/BatguPLze9Q/s220/309682_2423314513268_1563636231_2548318_1025409700_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://img.youtube.com/vi/kikYnOohL7E/default.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-983291090388480151.post-5850118278068209070</id><published>2011-11-04T10:13:00.003+07:00</published><updated>2011-11-04T12:02:32.359+07:00</updated><title type='text'>82 Tatal mengenai Cinta Yang Terlampau Usang</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-htzHgOGf9H0/TrNdK1MqfkI/AAAAAAAAAVU/vYgM2ypANQw/s1600/dhan.JPG" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 259px; height: 400px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-htzHgOGf9H0/TrNdK1MqfkI/AAAAAAAAAVU/vYgM2ypANQw/s400/dhan.JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5670978796449857090" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;&lt;u&gt;&lt;br /&gt;&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt;  &lt;/span&gt;Sebermula rasa penasaran. Seorang kenalan saya &lt;i&gt;&lt;a href="http://www.lightstalkers.org/idham-rahmanarto"&gt;Idham Rahmanarto&lt;/a&gt; &lt;/i&gt;fotografer jenius muda berbakat mentwtit tentang buku. The book of waiting, katanya dalam sebuah tweet. Seperti kebanyakan kaum snobs buku saya tertarik untuk kemudian mencari tahu dan meminta Idham untuk memberinya kepada saya. Dan inilah buku yang ia berikan. &lt;i&gt;A Lover's Discourse&lt;/i&gt;, sebuah gumam, racauan dan kicau resah mengenai cinta.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt; &lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Saya tidak pernah tahu bila Roland Barthes, sang filsuf &lt;i&gt;dandy&lt;/i&gt; ini, adalah seorang yang melankolis. Setidaknya itu yang saya raba dari kumpulan 82 tatal perihal cinta yang ia buat. Barthes, merangkai sekumpulan fragmen-fragmen definisi dan perenungan mengenai perasaan yang ia curigai sebagai cinta. Tentu saja tidak melulu pemaknaan yang rapuh, lembek, menye, atau memuakkan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt; &lt;/span&gt;Salah satu fragmen tatal yang saya sukai adalah exil / exile. Sebuah kondisi kalah, atawa pengakuan terhadap superioritas terhadap liyan. Atau dalam bahasa Barthes, "&lt;i&gt;Deciding to give up the amorous condition,&lt;/i&gt;" katanya. Sebagai sebuah bentuk penyesalan dan ketidakmampuan menghadapi kenyataan. "&lt;i&gt;The subject sadly discovers himself exiled from his Image-repetoire."&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-tab-span" style="font-style: italic; white-space: pre; "&gt; &lt;/span&gt;Jika Barthes menulis &lt;i&gt;Mythology &lt;/i&gt;dalam keadaan geram terhadap kondisi sastra Perancis saat itu. Maka saya boleh menduga Ia menulis &lt;i&gt;A Lover's Discourse &lt;/i&gt;dalam keadaan galau yang akut. Banyak fragmen-fragmen kisah, cerpen, puisi dan gumaman tak jelas yang melingkupi tatal ini. Seolah tak hendak memberikan penjelasan yang utuh terhadap permasalahan yang kerap menempel ketat pada cinta itu sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt; &lt;/span&gt;Seperti penjelasan Barthes pada &lt;i&gt;fading / fade-out.&lt;/i&gt; Saya merasa kondisi ini merupakan titik nadir Barthes dalam mendefiniskan cinta yang gagal. "&lt;i&gt;Painful ordeal in which the loved being appears to withdraw from all contact,&lt;/i&gt;" katanya. Sekilas kondisi ini mirip dengan &lt;i&gt;exil / exile &lt;/i&gt;karena menggambarkan sebuah pelarian dan sikap desertir. Namun Barthes lebih ingin mengambarkan fading / fade-out sebagai sebuah sikap nyepi daripada harus menghadapi permasalahan cinta secara frontal.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt; &lt;/span&gt;Barthes menggambarkan penokohan seseorang yang pengecut. &lt;i&gt;"Without such enigmatic indifference even being directed against the amorous subject or pronounced to the advantage of anyone else, world or rival."&lt;/i&gt; katanya. Ada rasa getir dan lelah dari tatal ini. Seperti kisah cinta Lancelot dan Guinevere yang berkubang di bawah tahta Artur. Kondisi dilematis yang kerapkali diselesaikan dengan penyerahan diri terhadap super-ego.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt; &lt;/span&gt;Sedikit banyak selama beberapa waktu ini saya merasa didewasakan. Kerapkali dengan cara yang tengik dan brengsek. Namun diam-diam buku ini memberikan semacam pencerahan terhadap cinta. Sebuah usaha merekonstruksi definisi dan pemahaman terhadap cinta. Tapi pada akhirnya, jika saya boleh meminjam sajak Chairil Anwar, cinta serupa nasib. &lt;i&gt;Adalah kesunyian masing-masing&lt;/i&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt; &lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/983291090388480151-5850118278068209070?l=terumbukarya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://terumbukarya.blogspot.com/feeds/5850118278068209070/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://terumbukarya.blogspot.com/2011/11/82-tatal-mengenai-cinta-yang-terlampau.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/983291090388480151/posts/default/5850118278068209070'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/983291090388480151/posts/default/5850118278068209070'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://terumbukarya.blogspot.com/2011/11/82-tatal-mengenai-cinta-yang-terlampau.html' title='82 Tatal mengenai Cinta Yang Terlampau Usang'/><author><name>Arman Dhani Bustomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09710999134909778313</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-x0-TY8scle4/TsIUelg00YI/AAAAAAAAAXY/BatguPLze9Q/s220/309682_2423314513268_1563636231_2548318_1025409700_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-htzHgOGf9H0/TrNdK1MqfkI/AAAAAAAAAVU/vYgM2ypANQw/s72-c/dhan.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-983291090388480151.post-8008618922249135269</id><published>2011-10-31T11:28:00.007+07:00</published><updated>2011-11-04T10:09:09.498+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kutipan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='film'/><title type='text'>Closer Kick Ass Quote Ever!</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-d0iovJNWHic/Tq4j-bc2r-I/AAAAAAAAATc/qUIY_SrompY/s1600/closer018.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="text-align: justify;display: block; margin-top: 0px; margin-right: auto; margin-bottom: 10px; margin-left: auto; cursor: pointer; width: 320px; height: 205px; " src="http://4.bp.blogspot.com/-d0iovJNWHic/Tq4j-bc2r-I/AAAAAAAAATc/qUIY_SrompY/s400/closer018.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5669508536333676514" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt; &lt;/span&gt;Saya selalu percaya, cinta atau apalah anda memaknainya, adalah sebuah proses apa boleh buat yang kadang terjadi secara alami. Tak perlu sedu sedan atau sebuah roman hiperbolis yang menjadikan cinta itu tereduksi maknanya. Banyak orang yang tak setuju dengan saya namun ada beberapa pula yang sepakat dengan pemahaman saya.&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt; &lt;/span&gt;Sampai pada sekitar awal 2005 lalu saya menonton film Closer yang di tulis oleh Patrick Marber dan disutradarai oleh Mike Nichols. Film ini dengan kritis menyatakan penggambaran empatorang asing, dengan satu persamaan yaitu keterasingan dan birahi. Definisi cinta disini menjadi kabur dan menjadi sangat cair karena pemaknaan masing masing karakter tentang cinta sangat bias.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt; &lt;/span&gt;Karakter itu adalah Dan (Jude Law) seorang penulis obituari yang juga novelis gagal, Anna (Julia Roberts) fotografer profesional, Alice (Natalie Portman) penari telanjang dan Larry (Clive Owen) seorang dokter kulit. Masing-masing latar belakang yang berbeda ini menjadikan pemahaman mereka mengenai cinta menjadi beragam. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt; &lt;/span&gt;Plot film ini mengalir sederhana. Sesederhana anda melihat sebuah daun jatuh di taman atawa meramalkan reaksi seseorang yang sedang muak. Namun kesederhanaan inilah yang menjadikan Closer buat saya sangat personal dan intim. Karena tidak mengumbar romansa secara memuakan atau menebarkan dialog-dialog boros yang tak berguna.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt; &lt;/span&gt;Pada mulanya kisah dimulai dengan pertemuan antara Dan dan Alice yang terjadi secara tidak sengaja. Saat itu Dan menolong Alice yang mengalami kecelakaan, lalu membawanya ke rumah sakit. Dalam trailernya produser film ini membuat sebuah kutipan yang sangat monumental "&lt;i&gt;Love is an accident, waiting to happens&lt;/i&gt;". Serupa dengan segala macam kecelakaan, jatuh cinta, bisa terasa sangat menyakitkan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt; &lt;/span&gt;Pertemuan Alice dan Dan sendiri dimulai dengan sebuah dialog yang sangat manis. "Hello Stranger," sebuah diktum komikal. Bahwa tak pernah seorang manusia waras jatuh cinta pada orang yang dikenalnya. Rasa asing dan sikap penasaran akan seseoranglah yang membuat kita jatuh cinta. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt; &lt;/span&gt;Kisah berlanjut dengan momen dimana Dan dan Alice jatuh cinta lalu hidup bersama. Setahun berlalu, kini Dan sedang akan merilis buku yang dia tulis dimana buku tersebut terinspirasi dari kehidupan Alice. Saat itu Dan sedang berada di studio foto dari Anna. Ternyata perasaan yang mereka miliki lebih dari sekedar hubungan kerja. Walaupun begitu Anna tidak ingin menyakiti perasaan Alice dengan merebut Dan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt; &lt;/span&gt;Ada pula sosok Larry yang merupakan suami Anna digambarkan sebagai pria yang merasa harus memiliki wanita yang dia cintai. Bisa dibilang ini adalah sebuah obsesi terhadap kepemilikan ketimbang rasa cinta. Tapi sekali lagi perasaan ingin memiliki orang yang kita cinta entah cinta tersebut tulus ataupun obsesi, adalah hal yang wajar. Erich Fromm menggambarkan ini sebagai sebuah penyimpangan &lt;i&gt;eros&lt;/i&gt; yang melahirkan tuntutan akan kepemilikan individu (manusia lain). Tapi cinta semacam ini kerap kali melahirkan penyesalan. Karena kadang kita tak pernah sadar apa yang kita miliki sampai kita kehilangan mereka.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt; &lt;/span&gt;P&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;enceritaan film ini yang unik dalam pemotongan momennya membuat kejutan menjadi hal yang sering terjadi. Tiap selesai satu momen dan melompat ke momen berikutnya kita akan disuguhi fakta baru yang cukup mengejutkan walau terkadang tetap ada juga yang tertebak. Adalah hal menarik dalam film romantis mempunyai twist yang cukup mengejutkan baik di tengah hingga di ending. Tapi sayang ada beberapa hal yang saya rasa menjadi agak dipaksakan. Salah satunya adalah pada fakta sebenarnya mengenai Alice yang diungkap di akhir film. Apabila selama 4 tahun ini dia sungguh-sungguh mencintai Dan, sungguh aneh dia menyembunyikan hal tersebut bukan? Kenapa juga dia malah mengatakan yang sebenarnya pada Larry?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt; &lt;/span&gt;Saya juga selalu percaya True love nerver run smooth. Serupa penantian Florentino Ariza demi cinta dari Fermina Daza selama 50 tahun. Tapi penantian adalah penyiksaan paling keji bagi mereka yang sedang jatuh cinta. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt; &lt;/span&gt;Selama film berlangsung saya tak henti-henti dibuat tercengang dengan dialog film ini yang konyol, profetik, romantis (tanpa harus puitis) dan cerdas. Meski tak bisa mengalahkan dialog dalam Before Sunset dan V for Vendetta. Berikut saya sampaikan beberapa kutipan yang menurut saya sangat keren dan &lt;i&gt;kick ass&lt;/i&gt;!&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dan: I want Anna back. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Larry: She's made her choice. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dan: I owe you an apology. I fell in love with her. My intention was not to make you suffer. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Larry: So where's the apology? Ya cunt. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dan: I apologize. If you love her you'll let her go so she can be happy. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Larry: She doesn't want to be happy. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dan: Everybody wants to be happy. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Larry: Depressives don't. They want to be unhappy to confirm they're depressed. If they were happy they couldn't be depressed anymore. They'd have to go out into the world and live. Which can be depressing. &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tapi kata si &lt;a href="http://dyaisme.tumblr.com/"&gt;Idung&lt;/a&gt; teman saya yang imut berhidung mungil. Ini yang paling &lt;i&gt;kick ass.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dan    : You think love is simple. You think the heart is like a diagram. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Larry : Have you ever seen a human heart? It looks like a fist, wrapped in blood! Go fuck yourself! You writer! You liar!&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Agak nyindir sih. Mentang mentang penulis semuanya pembohong. Kutu kupret mah XD. oh ini kutipan lain yang agak sarkastik dan sedikit profetik.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Anna: Love bores you. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dan  : No, it disappoints me. &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Hahaha i find it kinda funny though.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Yeah, she likes guilty fuck!&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/983291090388480151-8008618922249135269?l=terumbukarya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://terumbukarya.blogspot.com/feeds/8008618922249135269/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://terumbukarya.blogspot.com/2011/10/closer-kick-ass-quote-ever.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/983291090388480151/posts/default/8008618922249135269'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/983291090388480151/posts/default/8008618922249135269'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://terumbukarya.blogspot.com/2011/10/closer-kick-ass-quote-ever.html' title='Closer Kick Ass Quote Ever!'/><author><name>Arman Dhani Bustomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09710999134909778313</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-x0-TY8scle4/TsIUelg00YI/AAAAAAAAAXY/BatguPLze9Q/s220/309682_2423314513268_1563636231_2548318_1025409700_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-d0iovJNWHic/Tq4j-bc2r-I/AAAAAAAAATc/qUIY_SrompY/s72-c/closer018.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-983291090388480151.post-8796384722038417349</id><published>2011-10-31T07:44:00.000+07:00</published><updated>2011-10-31T07:44:04.915+07:00</updated><title type='text'>First as Tragedy, Then as Farce</title><content type='html'>&lt;div&gt;&lt;iframe width="480" height="270" src="http://www.youtube.com/embed/hpAMbpQ8J7g?fs=1" frameborder="0" allowfullscreen=""&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;You see or you better die in agony!&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/983291090388480151-8796384722038417349?l=terumbukarya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://terumbukarya.blogspot.com/feeds/8796384722038417349/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://terumbukarya.blogspot.com/2011/10/first-as-tragedy-then-as-farce.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/983291090388480151/posts/default/8796384722038417349'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/983291090388480151/posts/default/8796384722038417349'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://terumbukarya.blogspot.com/2011/10/first-as-tragedy-then-as-farce.html' title='First as Tragedy, Then as Farce'/><author><name>Arman Dhani Bustomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09710999134909778313</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-x0-TY8scle4/TsIUelg00YI/AAAAAAAAAXY/BatguPLze9Q/s220/309682_2423314513268_1563636231_2548318_1025409700_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://img.youtube.com/vi/hpAMbpQ8J7g/default.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-983291090388480151.post-4706389343087529511</id><published>2011-10-29T18:43:00.003+07:00</published><updated>2011-10-31T11:17:57.875+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='musik'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='anak muda'/><title type='text'>The Bahamas - Pesta</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;iframe src="http://www.youtube.com/embed/Iag2kQQO5As?fs=1" allowfullscreen="" width="459" frameborder="0" height="344"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir setiap hari selama seminggu terakhir ini saya mendengarkan Pesta nya The Bahamas dengan volume tear your fuckin ear off! Hell yeah. Musik adalah eskapis paling waras dan cerdas, buat saya, jika sedang sumpek atau tertekan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa The Bahamas? Band ini berdiri tahun 2001 dengan formasi awal Conat (gitar, vokal), Moro (drum) dan Robin (bas, vokal). Awalnya hanya sebagai &lt;span style="font-style: italic;"&gt;side-project &lt;/span&gt;dari personilnya, tapi kemudian malah keterusan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Formasi pertama The Bahamas tidak bertahan lama, lantaran Moro harus kembali ke DKSB dan project Biosampler. Posisinya digantikan oleh Andry, mantan drumer band rock indie legendaris Puppen (Semoga mereka reuni Tuhaan). Persoalan belum selesai lantaran Robin memilih gabung dengan sebuah perusahaan di Bali. Akhirnya Chandra pada bas dan Dendy pada bas, meramaikan The Bahamas bersama Conat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, buat mereka yang paham scene lokal indie Bandung pasti setidaknya mendengar mereka dari kompilasi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;New Generation Calling&lt;/span&gt;. Satu album bersama Teenage Death Star (band nya Sir Dandy Harington), Boys Are Toys (Asukenapa mereka milih judul ini?), Superman Is Dead dan The Disconected.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;In short, those big new rising star back there&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gimana ceritanya bisa mendapat album ini waktu itu? Well ceritanya lumayan konyol. Waktu SMA kelas tiga saya suka seseorang. Cewek tentunya. Dan pada waktu itu, tak seperti hari ini, lagu-lagu bagus hanya diputar di MTV (&lt;i&gt;how small minded i was?&lt;/i&gt;), Radio dan jika kau cukup kaya, membeli kasetnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka demi menyenangkan dan menarik perhatian gadis yang saya sukai itu. Saya mencari tahu apa musik yang ia suka. Dan tentu saja, seperti kebanyakan gadis muda pada tahun 200an, ia suka Westlife.. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Fuck&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;But man gotta do what he gotta do for his love right?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan semangat saya mencari kaset westlife coast to coast. khusus buat diajeng saya tercinta. Tapi tentu saja, Tuhan selalu punya lelucon yang tak selesai. Perhatian saya malah terpaku pada sebuah kover kaset kumuh busuk berwarna kuning yang bertuliskan New Generation Calling.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-vmVjMe-Y6D4/TqvqP-rfV7I/AAAAAAAAATQ/V98PZ6qEhKY/s1600/new-gen-call.JPG" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 194px; height: 280px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-vmVjMe-Y6D4/TqvqP-rfV7I/AAAAAAAAATQ/V98PZ6qEhKY/s400/new-gen-call.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5668882116220245938" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Gambar depannya secara semiotis menyiratkan seorang remaja tanggung yang cuek sedang merokok. Sedang gambar dalamnya gitaris hangover dan mendapat jackpot di atas panggung. What The Fuck. Saya dilema antara membeli Westlife dan merusak peradaban atau membeli kaset busuk ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;And here we are talking about those bahamas shit!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puji segala Tuhan saya diselamatkan dari kebodohan purba yang melakukan apapun untuk seorang wanita. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Come on&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;We all know who's got to blame when Adam got dumped out from heaven right?&lt;/span&gt; Jadi sebagai umat yang baik saya tak mau melakukan kesalahan yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musik yang dimainkan oleh The Bahamas adalah punk rock dengan keceriaan. Lirik banyak ditulis oleh Conat yang banyak dipengaruhi oleh band punk rock macam J Church atau Green Day. Oke saat itu (dan sampai hari ini) musik mereka masih tetap sama. Cadas, lugas dan bertenaga kuda!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Enough talk let hear they sing shall we?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;i&gt;&lt;div&gt;katanya semua&lt;/div&gt;&lt;div&gt;tak mungkin jalan kita beda&lt;/div&gt;&lt;div&gt;biarkan semua&lt;/div&gt;&lt;div&gt;jika tak bisa&lt;/div&gt;&lt;div&gt;tak ku paksa&lt;/div&gt;&lt;div&gt;sayangku&lt;/div&gt;&lt;div&gt;pacarku&lt;/div&gt;&lt;div&gt;malam pun berjalan biasa&lt;/div&gt;&lt;div&gt;ternyata temanku telah di depan menunggu&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;malam ini kami berpesta&lt;/div&gt;&lt;div&gt;seperti kemarin dan lusa&lt;/div&gt;&lt;div&gt;malam tak berbeda&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;dan ini bukannya&lt;/div&gt;&lt;div&gt;aku melupakan adanya&lt;/div&gt;&lt;div&gt;tetapi ini hanya&lt;/div&gt;&lt;div&gt;teman teman dan teman teman&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;malam ini kami berpesta&lt;/div&gt;&lt;div&gt;seperti kemarin dan lusa&lt;/div&gt;&lt;div&gt;malam tak berbeda&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;ku berjanji tak berkata&lt;/div&gt;&lt;div&gt;akan tetap tak menyapa&lt;/div&gt;&lt;div&gt;ku kan pulang dan bersulang&lt;/div&gt;&lt;div&gt;dengan hati yang menjulang&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;ku berjanji tak berkata&lt;/div&gt;&lt;div&gt;usah kau kirim mata-mata&lt;/div&gt;&lt;div&gt;dan kunyanyikan na na na&lt;/div&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/983291090388480151-4706389343087529511?l=terumbukarya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://terumbukarya.blogspot.com/feeds/4706389343087529511/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://terumbukarya.blogspot.com/2011/10/bahamas-pesta.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/983291090388480151/posts/default/4706389343087529511'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/983291090388480151/posts/default/4706389343087529511'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://terumbukarya.blogspot.com/2011/10/bahamas-pesta.html' title='The Bahamas - Pesta'/><author><name>Arman Dhani Bustomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09710999134909778313</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-x0-TY8scle4/TsIUelg00YI/AAAAAAAAAXY/BatguPLze9Q/s220/309682_2423314513268_1563636231_2548318_1025409700_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://img.youtube.com/vi/Iag2kQQO5As/default.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-983291090388480151.post-5179448465275207205</id><published>2011-10-28T21:40:00.001+07:00</published><updated>2011-10-28T21:42:03.245+07:00</updated><title type='text'>Epos Lancelot II</title><content type='html'>senyum yang kau buat itu Guinevere&lt;div&gt;akan kurobek pelanpelan&lt;/div&gt;&lt;div&gt;hingga segala airmata malaikat&lt;/div&gt;&lt;div&gt;berganti darah&lt;/div&gt;&lt;div&gt;saat melihatmu sekarat&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/983291090388480151-5179448465275207205?l=terumbukarya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://terumbukarya.blogspot.com/feeds/5179448465275207205/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://terumbukarya.blogspot.com/2011/10/epos-lancelot-ii.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/983291090388480151/posts/default/5179448465275207205'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/983291090388480151/posts/default/5179448465275207205'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://terumbukarya.blogspot.com/2011/10/epos-lancelot-ii.html' title='Epos Lancelot II'/><author><name>Arman Dhani Bustomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09710999134909778313</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-x0-TY8scle4/TsIUelg00YI/AAAAAAAAAXY/BatguPLze9Q/s220/309682_2423314513268_1563636231_2548318_1025409700_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-983291090388480151.post-5128061918047724308</id><published>2011-10-28T18:17:00.006+07:00</published><updated>2011-10-28T21:43:01.223+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sastra'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sajak'/><title type='text'>Epos Lancelot</title><content type='html'>Apa yang kau cari di sunyi kelamnya danau itu?&lt;div&gt;Angsa hitam telah usai bertelur&lt;/div&gt;&lt;div&gt;dan merahnya darah pagan sudah mengering&lt;/div&gt;&lt;div&gt;batu batu, angin, pualam air, dingin malam&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Apa yang kau cari Lancelot?&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Apakah kepingan perasaan?&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Yang dicerai berai badai&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;blockquote&gt;:&lt;i&gt;hilang sesudah hujan&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Bukankah tahta sudah berdiri&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Kesatria meja bundar&lt;/div&gt;&lt;div&gt;dan kurusetra usai digelar&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Tahta bergetar ditanah hitam&lt;/div&gt;&lt;div&gt;semua salib telah tegak&lt;/div&gt;&lt;div&gt;kabarkan tentang juru selamat dari gembala&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Artur datang&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt; &lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;malam usang&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt;  &lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;genderang perang&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt;   &lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;lumpur pedang&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt;    &lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;huru hara padang&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Perigi danau hitam penuh dengan air mata&lt;/div&gt;&lt;div&gt;seperti tangisan Guinevere pada malam pertama&lt;/div&gt;&lt;div&gt;kabulkan segala jerit sengsara peri-peri&lt;/div&gt;&lt;div&gt;"tahta suci kerajaannya" katamu&lt;/div&gt;&lt;div&gt;"Adalah garba luka para pengembara sesat"&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Lalu apakah kisikisi matamu itu Lancelot&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Kebencian&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt; &lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Dendam&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt;  &lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Amarah&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt;  &lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt;   &lt;/span&gt; &lt;/span&gt;Perih&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt;    &lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Pedih&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt;     &lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Luka?&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;"Lukaku adalah pengorbanan," katamu &lt;/div&gt;&lt;div&gt;pada seonggok bayangan di danau hitam&lt;/div&gt;&lt;div&gt;seperti Narsisus yang jatuh cinta pada bayangan&lt;/div&gt;&lt;div&gt;kau pun demikian&lt;/div&gt;&lt;div&gt;ditawan pesona ular&lt;/div&gt;&lt;div&gt;dalam cermin danau hitam&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Katakan lah Apa yang kau cari Lancelot?&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Putra raja agung Benoic&lt;/div&gt;&lt;div&gt;yang ditahbiskan langit sebagai penguasa&lt;/div&gt;&lt;div&gt;mengapa kau tanggalkan mahkota&lt;/div&gt;&lt;div&gt;menapaki jejak perunggu penjaga kepercayaan&lt;/div&gt;&lt;div&gt;putra raja, melata&lt;/div&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;div&gt;Katakan Lancelot&lt;/div&gt;&lt;div&gt;apa yang kau cari di sunyi kelam danau hitam&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;bukankah pesona Guinevere yang ranum&lt;/div&gt;&lt;div&gt;atawa tahta kuasa britania&lt;/div&gt;&lt;div&gt;sudahkah kau menyerah pada ikatan-ikatan&lt;/div&gt;&lt;div&gt;"ibu suci bumi," katamu&lt;/div&gt;&lt;div&gt;"tak pernah usai memberi,"&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Lalu apa yang tersisa untuk mu Lancelot?&lt;/div&gt;&lt;div&gt;simbol rune berpendar&lt;/div&gt;&lt;div&gt;jenggot merlin berkibar&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;i&gt;:hati yang padam tak pantas hidupi cahaya&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Lancelot malang, Lancelot malang&lt;/div&gt;&lt;div&gt;rima kebodohanmu sumbang&lt;/div&gt;&lt;div&gt;dikenang sepanjang jalan&lt;/div&gt;&lt;div&gt;orang-orang yang kalah&lt;/div&gt;&lt;div&gt;tak boleh ambil peran dalam sejarah&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Lancelot malang, Lancelot malang&lt;/div&gt;&lt;div&gt;apalagi yang hendak kau korbankan&lt;/div&gt;&lt;div&gt;jika hatimu sudah tak di badan?&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/983291090388480151-5128061918047724308?l=terumbukarya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://terumbukarya.blogspot.com/feeds/5128061918047724308/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://terumbukarya.blogspot.com/2011/10/epos-lancelot-i.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/983291090388480151/posts/default/5128061918047724308'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/983291090388480151/posts/default/5128061918047724308'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://terumbukarya.blogspot.com/2011/10/epos-lancelot-i.html' title='Epos Lancelot'/><author><name>Arman Dhani Bustomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09710999134909778313</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-x0-TY8scle4/TsIUelg00YI/AAAAAAAAAXY/BatguPLze9Q/s220/309682_2423314513268_1563636231_2548318_1025409700_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-983291090388480151.post-80971039495599799</id><published>2011-10-27T17:39:00.003+07:00</published><updated>2011-10-27T18:11:34.021+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sastra'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sajak'/><title type='text'>Ode To Broken Things</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-AlHLxKmCDnc/Tqk6Gfq_vCI/AAAAAAAAATE/Z5O9RM7WoGE/s1600/the_ruins_by_saintaradist.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 262px; height: 400px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-AlHLxKmCDnc/Tqk6Gfq_vCI/AAAAAAAAATE/Z5O9RM7WoGE/s400/the_ruins_by_saintaradist.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5668125489277942818" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt; &lt;/span&gt; &lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt; &lt;/span&gt; &lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt; &lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Things get broken &lt;/div&gt;&lt;div&gt;at home &lt;/div&gt;&lt;div&gt;like they were pushed &lt;/div&gt;&lt;div&gt;by an invisible, deliberate smasher. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;It's not my hands &lt;/div&gt;&lt;div&gt;or yours &lt;/div&gt;&lt;div&gt;It wasn't the girls &lt;/div&gt;&lt;div&gt;with their hard fingernails &lt;/div&gt;&lt;div&gt;or the motion of the planet. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;div&gt;It wasn't anything or anybody &lt;/div&gt;&lt;div&gt;It wasn't the wind &lt;/div&gt;&lt;div&gt;It wasn't the orange-colored noontime &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Or night over the earth &lt;/div&gt;&lt;div&gt;It wasn't even the nose or the elbow &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Or the hips getting bigger &lt;/div&gt;&lt;div&gt;or the ankle &lt;/div&gt;&lt;div&gt;or the air.&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;The plate broke, the lamp fell &lt;/div&gt;&lt;div&gt;All the flower pots tumbled over &lt;/div&gt;&lt;div&gt;one by one. That pot &lt;/div&gt;&lt;div&gt;which overflowed with scarlet &lt;/div&gt;&lt;div&gt;in the middle of October, &lt;/div&gt;&lt;div&gt;it got tired from all the violets &lt;/div&gt;&lt;div&gt;and another empty one &lt;/div&gt;&lt;div&gt;rolled round and round and round &lt;/div&gt;&lt;div&gt;all through winter &lt;/div&gt;&lt;div&gt;until it was only the powder &lt;/div&gt;&lt;div&gt;of a flowerpot, &lt;/div&gt;&lt;div&gt;a broken memory, shining dust. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;div&gt;And that clock &lt;/div&gt;&lt;div&gt;whose sound &lt;/div&gt;&lt;div&gt;was &lt;/div&gt;&lt;div&gt;the voice of our lives, &lt;/div&gt;&lt;div&gt;the secret &lt;/div&gt;&lt;div&gt;thread of our weeks, &lt;/div&gt;&lt;div&gt;which released &lt;/div&gt;&lt;div&gt;one by one, so many hours &lt;/div&gt;&lt;div&gt;for honey and silence &lt;/div&gt;&lt;div&gt;for so many births and jobs, &lt;/div&gt;&lt;div&gt;that clock also &lt;/div&gt;&lt;div&gt;fell &lt;/div&gt;&lt;div&gt;and its delicate blue guts &lt;/div&gt;&lt;div&gt;vibrated &lt;/div&gt;&lt;div&gt;among the broken glass &lt;/div&gt;&lt;div&gt;its wide heart &lt;/div&gt;&lt;div&gt;unsprung.&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Life goes on grinding up &lt;/div&gt;&lt;div&gt;glass, wearing out clothes &lt;/div&gt;&lt;div&gt;making fragments &lt;/div&gt;&lt;div&gt;breaking down &lt;/div&gt;&lt;div&gt;forms &lt;/div&gt;&lt;div&gt;and what lasts through time &lt;/div&gt;&lt;div&gt;is like an island on a ship in the sea, &lt;/div&gt;&lt;div&gt;perishable &lt;/div&gt;&lt;div&gt;surrounded by dangerous fragility &lt;/div&gt;&lt;div&gt;by merciless waters and threats. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;div&gt;Let's put all our treasures together &lt;/div&gt;&lt;div&gt;-- the clocks, plates, cups cracked by the cold -- &lt;/div&gt;&lt;div&gt;into a sack and carry them &lt;/div&gt;&lt;div&gt;to the sea &lt;/div&gt;&lt;div&gt;and let our possessions sink &lt;/div&gt;&lt;div&gt;into one alarming breaker &lt;/div&gt;&lt;div&gt;that sounds like a river. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;May whatever breaks &lt;/div&gt;&lt;div&gt;be reconstructed by the sea &lt;/div&gt;&lt;div&gt;with the long labor of its tides. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;So many useless things &lt;/div&gt;&lt;div&gt;which nobody broke&lt;/div&gt;&lt;div&gt;but which got broken anyway&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt; &lt;/span&gt;Ada beberapa hal yang kadang bisa rusak dan tak akan pernah kembali utuh seperti semula. Seperti kisah Murakami dalam Norwegian Woods atau seperti kisah Balthazar Odyssey yang disusun Amien Maalouf. Dan puisi ini ditulis Neruda entah kapan. Tentang hal-hal sepele dan sederhana. Mengenai lampu, piring, bunga dan jam.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt; &lt;/span&gt;Ada beberapa hal yang rusak dan tak akan pernah bisa kembali utuh. Tetapi tak selalu kerusakan itu terjadi karena keinginan. Bukankah segala hal yang rusak adalah konflik. Dan tak pernah ada manusia waras yang menginginkan konflik. Tapi kemudian memang ada beberapa hal yang harus rusak dan memang telah rusak tanpa pernah kita menginginkanya.  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;i&gt;So many useless things &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;i&gt;which nobody broke &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;i&gt;but which got broken anyway &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/983291090388480151-80971039495599799?l=terumbukarya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://terumbukarya.blogspot.com/feeds/80971039495599799/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://terumbukarya.blogspot.com/2011/10/ode-to-broken-things.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/983291090388480151/posts/default/80971039495599799'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/983291090388480151/posts/default/80971039495599799'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://terumbukarya.blogspot.com/2011/10/ode-to-broken-things.html' title='Ode To Broken Things'/><author><name>Arman Dhani Bustomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09710999134909778313</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-x0-TY8scle4/TsIUelg00YI/AAAAAAAAAXY/BatguPLze9Q/s220/309682_2423314513268_1563636231_2548318_1025409700_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-AlHLxKmCDnc/Tqk6Gfq_vCI/AAAAAAAAATE/Z5O9RM7WoGE/s72-c/the_ruins_by_saintaradist.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-983291090388480151.post-1863888265033294562</id><published>2011-10-27T14:26:00.004+07:00</published><updated>2011-10-27T14:40:34.008+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='soliloqi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='gumam'/><title type='text'>Hari Ngeblog Nasional</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-IYU8Y39gGCw/TqkKyx8bqVI/AAAAAAAAAS4/aK12c3C9pMI/s1600/sss.JPG" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 226px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-IYU8Y39gGCw/TqkKyx8bqVI/AAAAAAAAAS4/aK12c3C9pMI/s400/sss.JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5668073473539025234" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="white-space: normal; "&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Dapat kabar dari blognya mas &lt;a href="http://bukuygkubaca.blogspot.com/2011/10/ngeblog-untuk-berbagi-kesan-membaca.html"&gt;Hary Tanzil&lt;/a&gt; kalau setiap 27 Oktober secara syah dan meyakinkan dijadikan hari Blogger Nasional.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="white-space: normal; "&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="white-space: normal; "&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebenarnya saya baru ngeblog sejak dua tahun terakhir. Karena kanal kreatif menulis saya seolah mandeg. Bukan dalam artian negatif. Tapi di lembaga tempat dimana saya belajar menulis perlu juga regenerasi. Maka saya lebih memilih mengalah dan memberikan ruang bagi anak-anak baru untuk menulis.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dan inilah saya masih mengasuh terumbukarya setelah sekitar 400 harian. Tapi bukankah setiap manusia itu ingin punya hal yang dibanggakan?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebuah usaha untuk meraih &lt;i&gt;ad vitam aeternam.&lt;/i&gt; Menuju keabadian.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jadi di era digital yang terlampau tengik ini. Kalian yang punya kemampuan membaca dan menulis. Kenapa tak buat keabadian di internet?&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/983291090388480151-1863888265033294562?l=terumbukarya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://terumbukarya.blogspot.com/feeds/1863888265033294562/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://terumbukarya.blogspot.com/2011/10/hari-ngeblog-nasional.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/983291090388480151/posts/default/1863888265033294562'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/983291090388480151/posts/default/1863888265033294562'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://terumbukarya.blogspot.com/2011/10/hari-ngeblog-nasional.html' title='Hari Ngeblog Nasional'/><author><name>Arman Dhani Bustomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09710999134909778313</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-x0-TY8scle4/TsIUelg00YI/AAAAAAAAAXY/BatguPLze9Q/s220/309682_2423314513268_1563636231_2548318_1025409700_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-IYU8Y39gGCw/TqkKyx8bqVI/AAAAAAAAAS4/aK12c3C9pMI/s72-c/sss.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-983291090388480151.post-251925431235053790</id><published>2011-10-27T13:27:00.007+07:00</published><updated>2011-10-27T14:08:02.370+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='teman'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sahabat baik'/><title type='text'>Putra Terbaik Jember</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-Zxi8oGjj1cA/Tqj6s1UsA5I/AAAAAAAAASg/Jgo9aV2oLh4/s1600/156917_1733749274568_1563636231_1682280_1962242_n.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 326px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-Zxi8oGjj1cA/Tqj6s1UsA5I/AAAAAAAAASg/Jgo9aV2oLh4/s400/156917_1733749274568_1563636231_1682280_1962242_n.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5668055779180807058" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;/i&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;i&gt;Orang di sebelah saya itu adalah &lt;/i&gt;living superstar&lt;i&gt;. Seekor macan. Pejantan tangguh. Pemuda harapan bangsa. Dan &lt;/i&gt;one of Lucifer dearest friend&lt;i&gt;. Aunuraman Wibisono A.K.A kaka Uyan &lt;/i&gt;is back in town&lt;i&gt;.&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;i&gt;&lt;/i&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kemarin saya ditelpon oleh pak Dedy. Salah satu rekanan di Kantor Urusan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Jember. Beliau bertanya mengenai keberadaan Aunurahman Wibisono, imam besar the macan sangar, yang konon sedang menyepi di salah satu lereng merapi. Berbaur di antara khalayak ramai sebagai mahasiswa paska sarjana Universitas Gede Mbayare.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pak Dedy juga bertanya kemungkinan untuk segera mendatangkan Uyan ke Jember dalam waktu dekat. Saya bilang itu bukan kuasa saya. Kedatangan Uyan itu seperti hits kangen band. Sehari bisa di puncak charts lagu terbaik Deringss. Tapi bisa juga menghilang saat 7icon memutuskan mengeluarkan &lt;i&gt;single&lt;/i&gt; terbaru.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tapi saya menyanggupi untuk menghubungi Uyan dan memintanya datang ke Jember sesegera mungkin. Tapi ada pertanyaan yang tertahan. Apa gerangan yang membuat pak Dedy salah satu Amtenarr di Pemda Jember mencari Uyan?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Ohh usah kau tanyakan lagi wahai kisanak. Pukulun Aunurahman Wibisono telah mendapat restu dari Swargaloka," kata Pak Dedy.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Restu apakah itu wahai bopo Dedy," tanya saya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Bahwasanya Pukulun Aunurahman Wibisono secara syah dan meyakinkan meraih predikat dan status sosial sebagai putra terbaik Jember 2011 dan selamanya,"&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bersamaan dengan pak Dedy mengucapkan itu, bumi bergetar, langit kelap kelip, ibu yang melahirkan tak jadi mengendan, dan para perjaka kehilangan kemaluannya. Dunia tak pernah jadi sama seperti sebelumnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hikayat dibaliknya. Konon pihak Universitas Jember mengajukan permohonan putra terbaik daerah kepada Pemerintah Republik Indonesia. Melalui Kantor Pemuda dan Olahraga Kabupaten Jember.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tak dinyana gayung ini bersambut. Berbekal prestasi telah menaklukan 15.000 cewek dan 1.200 lelaki. Uyan terpilih menjadi putra terbaik daerah. Meski ia mendapatkan sedikit poin tambahan dari artikel di koran lokal yang menyebutnya sebagai 'penulis muda Jember yang berprestasi hingga ke Jerman'.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kembali ke pak Dedy yang dengan haru menunggu saya mengabarkan mengenai kepastian kedatangan pemuda besar harapan Jember, Uyan Wibisono.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dan tuhan memang selalu punya lelucon yang tak selesai.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Langit baru mulai tergelincir. Saat Uyan, sang macan sangar itu, menelpon saya. Dengan penuh peluh dan rasa gentar yang berlebih saya menerima telpon itu. Di ujung sana suara falseto vokalis &lt;i&gt;sex in the car&lt;/i&gt; ini menjalar penuh haru.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Ono opo cuk?" katanya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sesungguhnya Tuhan pernah berfirman dalam Al Humazah. Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela. Tapi saya tau seorang Uyan Wibisono, kakak yang bijak bestari bagi orin. Pemuda solehah bagi mamaknya itu tak sedang mengumpat sungguh-sungguh.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Kowe dienteni nang Jember penting. Kesuk Jumat digolek bupati," kata saya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Adalah seluruh keberanian dan tenaga saya kerahkan untuk bersikap biasa. Jikalau kak Uyan marah pastilah saya akan kurus berdiri seketika. Apalah hak saya selaku manusia biasa tak berderajat berbicara semacam itu dengan peraih beasiswa Jerman dari Historia Online? Seorang &lt;i&gt;all time dynamic duo&lt;/i&gt; dari yang dipertuan agung pengasuh &lt;i&gt;hifatlobrain&lt;/i&gt;? Tak ada hei kalian pembaca yang budiman.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ternyata memang ma'rifat yang dimiliki seorang wali sekelas Uyan memang sangat tinggi. Ia rupanya telah dalam perjalanan menuju Jember. Oh bukan, tidak. Dia tidak sedang menaiki kereta eksekutif sancaka atawa menaiki Buraq. Tapi ia dengan rendah hati, tidak sombong dan santun serupa Rafi Ahmad. Memilih menaiki kereta ekonomi sejuta umat Sri Tanjung!&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dengan adanya kepastian kedatangan Uyan Wibisono. Hati pak Dedy langsung sumringah. Musim hujan langsung meraba Jember. Kemarau yang tak henti terjadi selama delapan dekade terakhir berakhir. Memang sesungguhnya Dajjal itu membawa kebaikan semu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dan inilah. Saya menunggu detik detik penyerahan penghargaan putra terbaik Jember kepada pukulun Uyan. Oh sepertinya siang terlalu terik hari ini.&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/983291090388480151-251925431235053790?l=terumbukarya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://terumbukarya.blogspot.com/feeds/251925431235053790/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://terumbukarya.blogspot.com/2011/10/putra-terbaik-jember.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/983291090388480151/posts/default/251925431235053790'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/983291090388480151/posts/default/251925431235053790'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://terumbukarya.blogspot.com/2011/10/putra-terbaik-jember.html' title='Putra Terbaik Jember'/><author><name>Arman Dhani Bustomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09710999134909778313</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-x0-TY8scle4/TsIUelg00YI/AAAAAAAAAXY/BatguPLze9Q/s220/309682_2423314513268_1563636231_2548318_1025409700_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-Zxi8oGjj1cA/Tqj6s1UsA5I/AAAAAAAAASg/Jgo9aV2oLh4/s72-c/156917_1733749274568_1563636231_1682280_1962242_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-983291090388480151.post-3635053772077267277</id><published>2011-10-27T13:09:00.007+07:00</published><updated>2011-11-15T09:14:54.442+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='teman'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sahabat baik'/><title type='text'>Angela's Word</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-IHQIiAUjDbA/Tqj33h2yF3I/AAAAAAAAASU/JOFwnq6j4KU/s1600/DSC_3034.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 266px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-IHQIiAUjDbA/Tqj33h2yF3I/AAAAAAAAASU/JOFwnq6j4KU/s400/DSC_3034.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5668052664398780274" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote style="font-style: italic; "&gt;"Eskapisme itu candu. Lebih baik kamu menghadapinya daripada berkutat dalam eskapisme yang berlarut-larut. Karena sebesar apapun kamu coba. Kenangan mungkin bisa terlupakan, tapi rasa itu abadi. Sama dengan hukum kekekalan energi. Ingatan yang hilang tak pernah mampu menghapus rasa. Mungkin ini waktunya untuk melepaskan. Sesederhana itu."&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote style="text-align: right;"&gt;Angela Betsy - 26-10-11&lt;/blockquote&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/983291090388480151-3635053772077267277?l=terumbukarya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://terumbukarya.blogspot.com/feeds/3635053772077267277/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://terumbukarya.blogspot.com/2011/10/anggelas-word.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/983291090388480151/posts/default/3635053772077267277'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/983291090388480151/posts/default/3635053772077267277'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://terumbukarya.blogspot.com/2011/10/anggelas-word.html' title='Angela&apos;s Word'/><author><name>Arman Dhani Bustomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09710999134909778313</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-x0-TY8scle4/TsIUelg00YI/AAAAAAAAAXY/BatguPLze9Q/s220/309682_2423314513268_1563636231_2548318_1025409700_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-IHQIiAUjDbA/Tqj33h2yF3I/AAAAAAAAASU/JOFwnq6j4KU/s72-c/DSC_3034.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-983291090388480151.post-5764134568404580116</id><published>2011-10-24T07:31:00.008+07:00</published><updated>2011-11-04T16:03:41.294+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='teman'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='gumam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sahabat baik'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='R'/><title type='text'>Defeated and Lose</title><content type='html'>&lt;blockquote&gt;&lt;i&gt;It's kinda funny. To think that you are invisible and yet so easyly destroyed by a single blow.&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;Have you ever been in love? Horrible, isn't it? It makes you so vulnerable. It opens up your chest and your heart and it means that someone can get inside you and messes you up. You build up all these defenses, you build up a whole suit of armor, so that nothing can hurt you, then one stupid person, no different from any other stupid person, wanders into your stupid life.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;You give her a piece of you that she never asked. And she does something dumb one day, like kiss you or smile at you, and then your life isn't your own anymore. Love takes hostages. It gets inside you. It eats you out and leaves you crying in the darkness, so simple a phrase like 'maybe we should be just friends' turns into a glass splinter working its way into your heart. It hurts. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;Not just in the imagination. Not just in the mind. It's a soul-hurt, a real gets-inside-you-and-rips-you-apart pain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;I think a defining moment in one’s life comes the instant one realizes what one could have had. Not that it makes you who you are or that you should spend your life beating yourself up over it; however, when these moments come, you often find yourself in shoulda-coulda-woulda land for at least a short period of time.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;I met her, my dear Marja, (you know the "bilangan fu" character?). She just happened to pop up on the corner of my Facebook page and then i added her as my friend. at first we didn't talk or greet each other. to be honest i just like those kind of picture that she used for FB profile.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;Then someday she's was just complaining about her job as a chief editor. and suddenly the next thing i remembered that we started chatting. We hit it off and quickly became involved. I thought she was a great girl: sweet, intelligent, straightforward, brutally honest, yet a charmer.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;With her, what you is what you get. I liked everything about her, and I thought she was rather cute too. she is a very young, simple-minded-to-naïve girl, with brown smooth skin, long legs, a nice body, and long, shiny, black hair.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;She comes from Banjarnegara, and I thought I had hit the jackpot with this heaven-made, sweet-dimpled-smile-charmer she has.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;I knew I was falling completely, totally, hopelessly head-over-heels for this girl. Maybe I couldn’t accept that right then. I know I was scared of being hurt again; jaded by one too many love-gone-wrong. So, I kept my mouth shut. I never told her how I felt. Somewhere in my mind, I had convinced myself that this was not a serious relationship; it was more of a fling or friends-with-benefits kind of thing.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;I started seeing other girls. I mean my Marja and I were not exactly a couple, so I didn’t think it would matter. The first clue that it was an issue became clear when she told me she had a feeling with someone else. The look on her face said it all. Still, she never mentioned it and neither did I.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;We just went on like usual. Although we were separately a hundred miles away. i still believe that she had the same feelings like i did. caring but too stubborn to admit that kinda feelings. Eventually, I had relationship with someone I did not really even like just because she wanted me to. I still saw my Marja when I could, just like i did recently in jogja. but eventually our meetings were few and far between.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;I missed her all the time, but was still afraid to admit how I felt. Eventually, those hidden feelings backfired on me. She told me she is dating someone. One of my dearest mate. i thought it was just another joke that she made. but it seemed she was serious. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;I was a wreck, unsure of anything in my life. I didn’t really think she loved me, so I was ready to just give up and moved on. Her last words to me as she texted me that day were “i just don't wanna hurt you and relationship with your bestfriend.” I didn’t know what to say, so I silently watched as she went away.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;She is the only things in the world that could get a hold of me, and for a while, I held onto hope that she would…aren't we all? By now, I had realized my mistake; I knew she never loved me and kept asking myself why I had not run after her and convince her?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;This failure to communicate in the beginning or to get in touch afterward was heartbreaking. Nevertheless, I could not lay it all on her’s shoulders;after all, I hadn’t said a word either.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;For a few time, I moped around – depressed, angry, and very frustrated by what I felt as life throwing one more injustice to my direction. Yes, it was a pity party, and I was the honored guest. Two days after she told me that she dated other guy,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;I found out my best friend was dating her. I was joyous but terribly sad as well. I had no idea how to let him know and it mattered very little anyway, as our relationship as a friend only survived to the next time he poped out that he was in love with my Marja.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;After the misfortune misunderstanding, I tried to rebuild my life. I tried to move on from  all the heartache and sorrow. I started working more, meeting people, and doing whatever I could to rebuild the happiness I felt I needed and deserved.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;But it's useless you know. every person that i know is connected to my friend and my marja. it's like Sisyphus moving a stone to be rolled down only to move it up again to the top. Endlessly useless&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;it's been few weeks since that time. i know that time will help me ease the pain and  will make things easier to deal with. The good memories are there, and I often miss my marja, my dearest friend and wonder what if…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;I found out that time does heal the pain, but you have to work it up a bit and  look ahead to find that bright light in your life after such pain. I could have sat back, wishing, wanting, and holding on to a past I had no control over. I could have allowed all the grief to swallow me up. Instead, knowing I had to get on with my own life, I made sure to embrace every opportunity to do so. Sure, it's still painful and hurt, but it helped tremendously to  stop and appreciate the small things in life for their simple beauty. Getting out there and living each day the best I could makes time passes easily and pain fades over. Most of all, I learned to never bottle up my.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;thoughts and emotions. It was good to talk; to remember. Eventually, I could celebrate my life with them through the good memories and knew that by moving ahead in my own. And in&lt;span lang="IN"&gt; the end. You can’t lose what you never have right? &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family:Wingdings;mso-ascii-font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-hansi-font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;mso-char-type:symbol;mso-symbol-font-family: Wingdings"&gt;&lt;span&gt;J&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;* ini ngopi dari website gak jelas hahahaha *&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/983291090388480151-5764134568404580116?l=terumbukarya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://terumbukarya.blogspot.com/feeds/5764134568404580116/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://terumbukarya.blogspot.com/2011/10/defeated-and-lose.html#comment-form' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/983291090388480151/posts/default/5764134568404580116'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/983291090388480151/posts/default/5764134568404580116'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://terumbukarya.blogspot.com/2011/10/defeated-and-lose.html' title='Defeated and Lose'/><author><name>Arman Dhani Bustomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09710999134909778313</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-x0-TY8scle4/TsIUelg00YI/AAAAAAAAAXY/BatguPLze9Q/s220/309682_2423314513268_1563636231_2548318_1025409700_n.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-983291090388480151.post-1187573706118734924</id><published>2011-10-17T16:54:00.002+07:00</published><updated>2011-10-27T18:37:14.032+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='soliloqi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='gumam'/><title type='text'>a quotes from Neil Gaiman</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;~ S.F.K&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Have you ever been in love? Horrible isn't it? It makes you so vulnerable. It opens your chest and it opens up your heart and it means that someone can get inside you and mess you up. You build up all these defenses, you build up a whole suit of armor, so that nothing can hurt you, then one stupid person, no different from any other stupid person, wanders into your stupid life...You give them a piece of you. They didn't ask for it. They did something dumb one day, like kiss you or smile at you, and then your life isn't your own anymore. Love takes hostages. It gets inside you. It eats you out and leaves you crying in the darkness, so simple a phrase like 'maybe we should be just friends' turns into a glass splinter working its way into your heart. It hurts. Not just in the imagination. Not just in the mind. It's a soul-hurt, a real gets-inside-you-and-rips-you-apart pain. I hate love.”&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/983291090388480151-1187573706118734924?l=terumbukarya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://terumbukarya.blogspot.com/feeds/1187573706118734924/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://terumbukarya.blogspot.com/2011/10/quotes-fromneil-gaiman.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/983291090388480151/posts/default/1187573706118734924'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/983291090388480151/posts/default/1187573706118734924'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://terumbukarya.blogspot.com/2011/10/quotes-fromneil-gaiman.html' title='a quotes from Neil Gaiman'/><author><name>Arman Dhani Bustomi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09710999134909778313</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-x0-TY8scle4/TsIUelg00YI/AAAAAAAAAXY/BatguPLze9Q/s220/309682_2423314513268_1563636231_2548318_1025409700_n.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-983291090388480151.post-5568833717034729220</id><published>2011-10-06T21:21:00.003+07:00</published><updated>2011-10-06T21:31:54.720+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='R'/><title type='text'>Saat Malam usai dan cahaya mulai muncul</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-0tq0dCsL3ls/To26DrlZrwI/AAAAAAAAASA/E_NH5HLFFP4/s1600/a_new_sunset_by_saintaradist-d46lq9y.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 210px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-0tq0dCsL3ls/To26DrlZrwI/AAAAAAAAASA/E_NH5HLFFP4/s400/a_new_sunset_by_saintaradist-d46lq9y.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5660384879076552450" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-Op1PLxJX8XU/To25mjEJUvI/AAAAAAAAAR4/uOM3loFvcho/s1600/the_fortress_i_by_saintaradist-d48x1ax.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;/a&gt;&lt;h2 style="text-align: center;margin-top: 0in; margin-right: 0in; margin-left: 0in; margin-bottom: 0.0001pt; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 18px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;  &lt;p style="margin:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:18.0pt"&gt;&lt;span style="color:#333333"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p style="margin:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:18.0pt"&gt;&lt;span style="color:#333333"&gt;“Apakah kamu suka memandang bintang Wesi?” katanya dengan tetap tidak melihat wajahku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:18.0pt"&gt;&lt;span style="color:#333333"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:18.0pt"&gt;&lt;span style="color:#333333"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:18.0pt"&gt;&lt;span style="color:#333333"&gt;                Malam terlalu larut untuk bisa dipahami dengan sebuah kalimat tanya. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; retakan-retakan kisah yang perlu ditambal untuk bisa menelaah pertanyaan sederhana semacam itu. Apalagi setelah seharian tak berhenti membaca 200 lembar naskah Bahasa jerman. Otakku terlalu letih bahkan untuk mencerna kata-kata itu sendiri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:18.0pt"&gt;&lt;span style="color:#333333"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:18.0pt"&gt;&lt;span style="color:#333333"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:18.0pt"&gt;&lt;span style="color:#333333"&gt;“Kadang, tapi tidak sering. Aku tak suka melihat hal hal yang tak begitu jelas.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:18.0pt"&gt;&lt;span style="color:#333333"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:18.0pt"&gt;&lt;span style="color:#333333"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:18.0pt"&gt;&lt;span style="color:#333333"&gt;“Tidak begitu jelas?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:18.0pt"&gt;&lt;span style="color:#333333"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:18.0pt"&gt;&lt;span style="color:#333333"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:18.0pt"&gt;&lt;span style="color:#333333"&gt;“Ya, bintang itu.. seperti fatamorgana. Kita hanya menginterpertasikannya. Dari buku-buku sains yang seringkali gagal menyederhanakan makna,”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:18.0pt"&gt;&lt;span style="color:#333333"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:18.0pt"&gt;&lt;span style="color:#333333"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:18.0pt"&gt;&lt;span style="color:#333333"&gt;“Hmm.. Ribet,” jawabmu sambil tersenyum.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:18.0pt"&gt;&lt;span style="color:#333333"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:18.0pt"&gt;&lt;span style="color:#333333"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:18.0pt"&gt;&lt;span style="color:#333333"&gt;                Ah senyum itu. membentuk sudut kecil yang melumpuhkan. Benar kata Mamadd. Kamu punya senyum sederhana paling mematikan se dunia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:18.0pt"&gt;&lt;span style="color:#333333"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:18.0pt"&gt;&lt;span style="color:#333333"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:18.0pt"&gt;&lt;span style="color:#333333"&gt;“Aku suka bintang. Warnanya kuning. Aku suka kuning keemasan yang temaram dan mau pudar,”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:18.0pt"&gt;&lt;span style="color:#333333"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:18.0pt"&gt;&lt;span style="color:#333333"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:18.0pt"&gt;&lt;span style="color:#333333"&gt;“Kuning? Aneh. Kukira kamu suka warna jingga,”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:18.0pt"&gt;&lt;span style="color:#333333"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:18.0pt"&gt;&lt;span style="color:#333333"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:18.0pt"&gt;&lt;span style="color:#333333"&gt;“Kamu sok tau wesi,” katanya sambil terenyum. Ah senyum itu. Senyum paling mematikan sedunia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:18.0pt"&gt;&lt;span style="color:#333333"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:18.0pt"&gt;&lt;span style="color:#333333"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:18.0pt"&gt;&lt;span style="color:#333333"&gt;                Kukira malam sudah beranjak pagi. Jalanan di Sudirman sudah tiris kendaraan bising yang memperkosa sudut-sudutnya dengan beringas. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; ini sudah waktunya dimusnahkan. &lt;st1:city st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:city&gt; adalah sengkarut &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; zombie yang menyesakkan bagi mahluk hidup. Dan aku adalah bagian dari zombie itu. menunggu untuk kemudian dihancurkan. Hilang dari peradaban busuk bernama &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;. Sayangnya Nuklir hanya sekali digunakan untuk menghancurkan sebuah peradaban. Itupun gagal.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:18.0pt"&gt;&lt;span style="color:#333333"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:18.0pt"&gt;&lt;span style="color:#333333"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:18.0pt"&gt;&lt;span style="color:#333333"&gt;“Mikir apa?” katamu memecah kesunyian.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:18.0pt"&gt;&lt;span style="color:#333333"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:18.0pt"&gt;&lt;span style="color:#333333"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:18.0pt"&gt;&lt;span style="color:#333333"&gt;“Kira-kira apa jadinya kalau malam itu tidak ada bintang? Seperti mati lampu masal yang tak ada akhirnya. Langit disapu kuas warna hitam pekat. Tapi kali ini untuk selamanya,” kataku asal bicara.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:18.0pt"&gt;&lt;span style="color:#333333"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:18.0pt"&gt;&lt;span style="color:#333333"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:18.0pt"&gt;&lt;span style="color:#333333"&gt;                Wajahmu sekilas memucat. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; ketakutan yang samar. Seperti pesakitan yang akan tamat di ujung bedil pasukan pembunuh. Ketakutan itu muncul perlahan. &lt;st1:place st="on"&gt;Samar&lt;/st1:place&gt; bahkan kini hilang sama sekali. Ah brengsek kenapa aku khawatir? Dan bodohnya kenapa aku tak membawa jaket? Malam sial ini pasti akan jadi panjang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:18.0pt"&gt;&lt;span style="color:#333333"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:18.0pt"&gt;&lt;span style="color:#333333"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:18.0pt"&gt;&lt;span style="color:#333333"&gt;“Kenapa? Kok malah kamu yang diam?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:18.0pt"&gt;&lt;span style="color:#333333"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:18.0pt"&gt;&lt;span style="color:#333333"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:18.0pt"&gt;&lt;span style="color:#333333"&gt;“Ah tidak, mungkin pikiran tentang gelap yang abadi itu terlalu menakutkan buatku, aku selalu benci gelap,”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:18.0pt"&gt;&lt;span style="color:#333333"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:18.0pt"&gt;&lt;span style="color:#333333"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:18.0pt"&gt;&lt;span style="color:#333333"&gt;“Tapi kamu suka bintang. Aneh. Mana ada bintang saat terang?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:18.0pt"&gt;&lt;span style="color:#333333"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:18.0pt"&gt;&lt;span style="color:#333333"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:18.0pt"&gt;&lt;span style="color:#333333"&gt;“Maksudku kegelapan yang mutlak. Itu.. menakutkan wesi,”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:18.0pt"&gt;&lt;span style="color:#333333"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:18.0pt"&gt;&lt;span style="color:#333333"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:18.0pt"&gt;&lt;span style="color:#333333"&gt;                Menakutkan? Biar kuberitahu kau apa yang menakutkan. Besok aku harus menyelesaikan empat ratus terjemahan tentang naskah apokalips berbahasa Jerman. Dan kini kamu memaksaku mendengarkan ceracaumu tentang bintang. Hei. Jadi penerjemah itu susah. Jika bukan karena aku kangen sudut kecil senyummu itu. Senyum paling mematikan di dunia. Tak sudi aku berdiri diatas atap gedung perkantoran &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; yang tengik ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:18.0pt"&gt;&lt;span style="color:#333333"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:18.0pt"&gt;&lt;span style="color:#333333"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:18.0pt"&gt;&lt;span style="color:#333333"&gt;“Hmm aku kadang berfikir ada milyaran bintang diangkasa,”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:18.0pt"&gt;&lt;span style="color:#333333"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:18.0pt"&gt;&lt;span style="color:#333333"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:18.0pt"&gt;&lt;span style="color:#333333"&gt;“Gak sampai milyaran, mungkin hanya jutaan,”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:18.0pt"&gt;&lt;span style="color:#333333"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:18.0pt"&gt;&lt;span style="color:#333333"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:18.0pt"&gt;&lt;span style="color:#333333"&gt;“&lt;i&gt;Whatever&lt;/i&gt;, I &lt;i&gt;mean&lt;/i&gt;, setiap bintang itu pasti ditujukan untuk satu hal &lt;st1:state st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kan&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:state&gt;? Seperti navigasi atau indikator musim,”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:18.0pt"&gt;&lt;span style="color:#333333"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:18.0pt"&gt;&lt;span style="color:#333333"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:18.0pt"&gt;&lt;span style="color:#333333"&gt;                Kamu bersemangat sekali menjelaskan perihal bintang itu. Tentang warna kuning keemasan yang muncul sebagai reaksi radiasi nuklir. Tentang cahayanya yang akan tetap ada meski bintang itu telah mati. Tentang bagaimana susunan rasi bintang itu dibuat Berdasarkan mitologi yunani yang berbeda antar satu hal yang lainnya. Tapi buatku semua itu tak penting. Kukira melihatmu bersemangat dan bergerak kesana kesini seperti tupai jauh lebih menyenangkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:18.0pt"&gt;&lt;span style="color:#333333"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:18.0pt"&gt;&lt;span style="color:#333333"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:18.0pt"&gt;&lt;span style="color:#333333"&gt;“Hmm sampai mana aku tadi?” katamu pusing sendiri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:18.0pt"&gt;&lt;span style="color:#333333"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:18.0pt"&gt;&lt;span style="color:#333333"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:18.0pt"&gt;&lt;span style="color:#333333"&gt;“Sampai bangsa viking,” jawabku singkat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:18.0pt"&gt;&lt;span style="color:#333333"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:18.0pt"&gt;&lt;span style="color:#333333"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:18.0pt"&gt;&lt;span style="color:#333333"&gt;“Ah iya. Bangsa viking percaya bintang itu adalah jiwa-jiwa pemberani yang sedang bertarung di valhalla. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Medan&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; perang abadi,”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:18.0pt"&gt;&lt;span style="color:#333333"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:18.0pt"&gt;&lt;span style="color:#333333"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:18.0pt"&gt;&lt;span style="color:#333333"&gt;“Orang-orang bodoh,”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:18.0pt"&gt;&lt;span style="color:#333333"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:18.0pt"&gt;&lt;span style="color:#333333"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:18.0pt"&gt;&lt;span style="color:#333333"&gt;“Hah?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:18.0pt"&gt;&lt;span style="color:#333333"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:18.0pt"&gt;&lt;span style="color:#333333"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:18.0pt"&gt;&lt;span style="color:#333333"&gt;“Cuma orang bodoh yang berperang. Apalagi perang abadi. Bodohnya kuadrat,”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:18.0pt"&gt;&lt;span style="color:#333333"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:18.0pt"&gt;&lt;span style="color:#333333"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:18.0pt"&gt;&lt;span style="color:#333333"&gt;“Perang. Parang. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Padang&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;. Pedang. Namamu. Parang Wesi. Kukira kamu suka hal hal yang bau kekerasan. Seperti perang,”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:18.0pt"&gt;&lt;span style="color:#333333"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:18.0pt"&gt;&lt;span style="color:#333333"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:18.0pt"&gt;&lt;span style="color:#333333"&gt;                Aih. Kadang kala pikiranmu yang sederhana itu mengejutkan. Seperti juga pertanyaan-pertanyaan mu yang serupa petasan. Tak pernah jelas apa ujung pangkalnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:18.0pt"&gt;&lt;span style="color:#333333"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:18.0pt"&gt;&lt;span style="color:#333333"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:18.0pt"&gt;&lt;span style="color:#333333"&gt;“&lt;em&gt;hmm hmm nana mhhmm mumumu&lt;/em&gt;,”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:18.0pt"&gt;&lt;span style="color:#333333"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:18.0pt"&gt;&lt;span style="color:#333333"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:18.0pt"&gt;&lt;span style="color:#333333"&gt;“Nyanyi?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:18.0pt"&gt;&lt;span style="color:#333333"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:18.0pt"&gt;&lt;span style="color:#333333"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:18.0pt"&gt;&lt;span style="color:#333333"&gt;“Lebih seperti merintih. Kamu pernah kehilangan Wesi?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:18.0pt"&gt;&lt;span style="color:#333333"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:18.0pt"&gt;&lt;span style="color:#333333"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:18.0pt"&gt;&lt;span style="color:#333333"&gt;“Tentu. Siapa yang tidak?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:18.0pt"&gt;&lt;span style="color:#333333"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:18.0pt"&gt;&lt;span style="color:#333333"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:18.0pt"&gt;&lt;span style="color:#333333"&gt;“Kehilangan itu kadang menyesakan. Meninggalkan ruang hampa yang seringkali lambat untuk kemudian dipenuhi. Ruang kosong itu lalu menekan-nekan kamu seolah mendesak untuk segera diisi yang baru,”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:18.0pt"&gt;&lt;span style="color:#333333"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:18.0pt"&gt;&lt;span style="color:#333333"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:18.0pt"&gt;&lt;span style="color:#333333"&gt;                Kamu salah alamat cerita seperti ini padaku. Penerjemah hanya mengartikan apa maksud kata-kata asing kedalam bahasa yang lebih mudah dipahami. Tapi seorang penerjemah tak pernah benar-benar paham apa maksud si penulis dalam karya-karyanya. Kalimatmu mengenai kehilangan itu tak lebih dari sekedar lalu kata yang bahkan besok tak akan kuingat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:18.0pt"&gt;&lt;span style="color:#333333"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:18.0pt"&gt;&lt;span style="color:#333333"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:18.0pt"&gt;&lt;span style="color:#333333"&gt;“Kok diem? Sekarang aku yang ribet ya?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;li
