Minggu, 29 Desember 2013

Buku Buku Terbaik 2013

Ada baiknya kita memulai membunuh harapan dipenghujung 2013 ini, bahwa segala yang terlalu baik biasanya akan berujung sangat buruk. 2013 bagi saya merupakan tahun yang sangat baik, bukan, bukan tentang diri saya tapi tentang dunia buku yang meski masih carut marut dan kacau balau, masih memberikan secercah harapan dengan hadirnya buku-buku bagus berkualitas. Saya masih dimanjakan dengan buku, baik fiksi maupun non fiksi, dengan kualitas yang jauh dari ekspektasi saya.

Awalnya setelah kejatuhan Dewi Lestari pada sekuel ke empat supernova saya sudah menyatakan diri untuk tidak lagi membaca buku penulis indonesia. Tapi seperti biasa, saya menjilat ludah saya sendiri, karena godaan beberapa buku yang diresensi/direview terlalu bagus. Entah kebanyakan orang, saya punya tendensi negatif untuk tak percaya apa yang terlanjur mapan. Hal ini juga berlaku pada buku-buku yang syarat pujian. Untungnya negativitas saya kali ini tumpul dan salah. Beberapa buku yang dipuji tadi memang benar-benar bagus dan memang sangat layak direkomendasikan.

Salah satu buku yang saya sukai, tapi tak masuk dalam daftar ini adalah Pulang karya Leila S Chudori. Buku ini barangkali adalah sebuah pembuktian dari Leila untuk mendobrak gelar cerpenis yang ia pegang selama menahun. Ini karya ketiga, jika saya tak salah, setelah kumcer Malam Terakhir dan 9 Dari Nadira yang telah ia lepas sebelumnya. Buku ini meski dengan basi mengambil tema 65 memberikan sebuah perspektif agak berbeda-meski tidak baru-yang sayangnya, oleh para kritikus (kiri) gagal ditangkap. Manusia-manusia eksil yang terbuang karena idiologi, memiliki nasionalismenya sendiri. Mereka yang dilabeli pengkhianat masih punya kerinduan dan cinta pada tanah air.

Saya sangat mengapresiasi positif atas munculnya karya ini, terlepas juga polemik tentang kemenangannya pada Katulistiwa Literary Award, karya ini adalah pembuktian bahwa Leila bisa menulis novel. Menariknya saya membaca sebuah kritik dari Dea Anugrah yang ditulis di jurnal kebudayaan Indoprogress. Sebagian besar saya setuju kritik Dea atas Pulang, meski saya kira ia tak adil jika membandingan Pulang dengan Tetralogi Pulau Buru karya Pramoedya Ananta Toer.

Dalam kritik itu ia juga mengaku tak adil, tapi entah sengaja atau tidak, perbandingan yang dipilih Dea bagi saya janggal. Ia tak apple to apple. Idealnya jika ingin membandingkan karya Novel pertama dari seorang cerpenis, maka ia harus bandingkan pula novel pertama Pram setelah sebelumnya ia dituduh berak oleh Idrus. Meski Pulang, bagi saya, terlalu biasa saja untuk bisa disebut prosa. Namun usaha dan kekuatan bertutur (yang dianggap keminther oleh kritikus karena banyak sebut nama besar) Leila tejaga apik dan bisa dibedakan dengan jelas dari cerpen-cerpennya.

Tapi cukup soal Pulang. Tahun ini saya merasa beruntung bisa bertemu beberapa penulis hebat yang saya kagumi. AS Laksana, Damhuri Muhammad, Yusi Avianto Pareanom, Agustinus Wibowo dan Rony Agustinus. Orang-orang ini adalah para kanon yang menjalani laku hidup bushido. Barangkali agak berlebihan menyebut demikian, tapi mereka adalah orang-orang yang total dalam pengembangan sastra Indonesia. Dari mereka saya belajar tentang integritas, dunia penerbitan, kepenulisan, apresiasi karya dan yang paling penting kedewasaan berpolemik.

Dalam menyusun karya ini saya tak menggunakan urutan dalam menentukan buku mana yang terbaik. Semua buku dalam daftar ini saya anggap terbaik untuk tahun ini. Jika sebelumnya saya dikritik karena tak membikin kriteria dalam penyusunan daftar, untuk kali ini saya susun sedikit syarat mengapa sebuah buku bisa dianggap terbaik. Ini bukan sesuatu yang orisinil, bahkan cenderung snobs, tapi kriteria ini bisa diaplikasikan kepada masing-masing individu pembaca terhadap karya yang mereka anggap terbaik.

Kriteria Pertama buku tersebut menjadi pembeda dengan karya sejenis, tema boleh seragam dan mirip tapi kemampuan seseorang bisa diukur baik atau tidaknya dari bagaimana ia membuat tema pop menjadi berkualitas dari bagaimana ia menuturkan sebuah narasi. Kedua buku itu memantik perdebatan sehat yang berujung pada mendidik pembaca perihal karya yang berkualitas. Ketiga buku tersebut tidak disusun untuk mengikuti sebuah trend yang tengah berlangsung dan laris di pasaran. Terakhir Keempat buku tersebut bukanlah karya instan yang lahir dari pesohor dadakan, melainkan dari penulis yang berkapasitas. Untuk yang terakhir ini adalah upaya (sangat tendensius) saya untuk membedakan buku yang lahir dari kultur sosial media dan mereka penulis (beneran) yang lahir karena dialektika karya.

1. Titik Nol – Agustinus Wibowo

Saya meresensi buku ini pada paruh awal 2013 sebagai satu-satunya travelogue terbaik yang bisa disusun dengan gaya gonzo. Pendapat itu tidak berubah. Buku ini menujukan bahwa buku perjalanan bukan sekedar tentang jumlah stempel negara di paspor, bukan pula tentang pernah ke Machu Pichu atau ke Great Wall. Barangkali ada manusia yang krisis identitas pos kolonial yang pelu memamerkan destinasi, tapi tidak Agustinus. Dalam buku ini ia biara tentang memoar perjalanan hidup. Juga tentang renungan-renungan yang dihasilkan dari sebuah kepergian.

Berbeda dengan buku sejenis yang terlampau terjebak pada destinasi dan keindahan, Agus bicara tentang dirinya sendiri juga bagaimana hidup bisa mengajarkan ironi, berjalan ke negeri-negeri jauh toh tak akan membuatmu jadi hebat. Ia hanya mengajarkanmu kerendahan hati dan menghargai perbedaan. Di sini Agus juga bicara tentang bagaimana seorang anak mengenang ibunya.  Ia bicara tentang keluarga, tentang kematian, tentang kepedihan dan tentang makna hidup.

Di sini manusia-manusia yang memiliki otak, diajarkan untuk belajar. Bahwa perjalanan bukan sekedar gaya hidup, bukan sekedar pamer, bukan sekedar membikin buku berseri-seri lantas menasbihkan diri sebagai pengelana hebat atau bahkan bukan sekedar merendahkan negara lain karena ketololan sendiri visa kita ditolak sebuah negara. Tapi bagaimana menulis dengan baik, menulis dengan estetik, menulis dengan hati tentang sebuah perjalanan tanpa terjebak gimmick murahan ala agen perjalanan.

2. Murjangkung – AS Laksana

Beberapa orang yang saya kenal mengatakan bahwa Murjangkung adalah kumpulan cerpen terbaik tahun ini. Saya tidak setuju, setidaknya selama satu dekade terakhir, dengan segala kelemahannya Murjangkung melampaui apa yang telah ada dalam kebanyakan koran kita hari ini. Cerpen-cerpen yang berusaha menyesuaikan selera dari masing-masing redaktur koran minggu alih alih mencari gaya bertutur dan berkaya sebagusnya, sebaiknya, dan sebebas bebasnya. Menyadari bahwa sastra seharusnya mencari bentuk baru dan hanya menghamba pada kreatifitas bukan kepada pasar.

Saya jarang membaca pengantar buku, selain itu tindakan sia-sia, seringkali isinya hanya “glorifikasi diri lewat ucapan terima kasih pada kolega yang punya nama,” tapi tentu saja bukan Sulak namanya kalau tak bisa bikin pembaca menjadi terkecoh. Saya mau tak mau harus ditampar dengan kalimat “Urusan pembaca adalah mengekalkan ingatan pada apa yang mereka sukai. Sebaliknya, urusan penulis adalah menghapus apa-apa yang sudah pernah ia bikin”. Ini adalah upaya menyindir, atau mengejek, dalam artian seorang penulis bisa diukur dari bagaimana karyanya diingat, juga bagaimana ia tak ambil pusing dengan nasib karangannya sendiri.

Tapi apa itu sebenarnya karya sastra yang berkualitas? Dalam buku ini anda akan menemukan sebuah ramalan dari Franz Kafka, bahwa karya yang baik adalah sebuah kapak yang akan memecahkan es dalam kepalamu. Sejak cerpen pertama Bagaimana Murjangkung Mendirikan Kota dan Mati Sakit Perut sampai dengan Peristiwa Kedua, Seperti Komedi Putar kita diajak kembali menemukan karya sastra sesungguhnya. Karya yang tidak lagi puitis hanya karena metafora picisan dari senja atau hujan. Tapi kisah sehari-hari yang dituturkan ulang dengan kesederhanaan yang subtil.

3. Kekerasan Budaya Paska 1965 – Wijaya Herlambang

Buku Kekerasan Budaya Pasca 1965 adalah upaya untuk menjelaskan secara ilmiah bagaimana kuasa dominasi hegemoni kultural, bisa masuk melalu elemen-elemen paling tak terduga dalam hidup Bahwa pada akhirnya upaya mengendalikan masyarakat tidak lagi efektif dilakukan dengan cara-cara kekerasan, tapi dengan kekuatan halus tak kasat mata seperti karya sastra dan film. Di sini represi dan tirani pemerintah merupakan elemen kecil dari sebuah narasi besar untuk melegalkan dan membenarkan kekerasan terhadap mereka yang tertuduh terlibat pada coup 65.

Wijaya lantas melakukan sebuah penelitian ala detektif untuk meneliti agen-agen yang dibayar dan dibiayai untuk melanggengkan kekerasan secara kultural terhadap komunisme. Banyak nama-nama besar dalam kebudayaan modern Indonesia yang disasar. Seperti Goenawan Mohamad, Mochtar Lubis, Taufiq Ismail dan kaitanannya dengan agen CIA Ivan Kats. Wijaya secara dingin berusaha membuktikan apa yang selama ini hanya sekedar gunjing pasar, menjadi sebuah penelitian empiris yang dapat dipertanggungjawabkan isinya.

Saya mengklaim bahwa buku ini wajib dibaca bagi mereka yang ingin paham sejarah polemik kebudayaan di Indonesia. Ia menjelaskan bagaimana sosok budayawan yang dianggap suci dan seolah berpihak pada humanisme universal, ternyata bagian dari satu sistem besar jagal yang menyudutkan korban 65. Barangkali beberapa nama yang disebutkan dalam buku ini telah cuci tangan dengan membuka dukungan terhadap upaya rekonsiliasi, tapi bukan berarti mereka bisa lepas dari pertanggungjawaban atas kejahatan yang dilanggengkan.

4. Al Rashafat – Ismail Fajrie Alatas

Al Rashafāt: Percikan Cinta para Kekasih karangan Ismail Fajri Alatas adalah oase di tengah kecamuk kejumudan dan kesempitan pemikiran islam hari ini, ia boleh jadi satu di antara sedikit nama yang membuat Islam menjadi segar dan lapang. Tentu ini hiperbolis dan romantik. Toh, dengan peradaban yang kiat gegas dan dinamis, apa yang dilakukan Fajrie bukan hal baru. Tapi menawarkan kerumitan dan keagungan narasi cinta dalam kazanah sufistik di zaman seperti inilah, ia saya pikir, sudah membuat kita sadar ada yang lebih baik dan mulia daripada sekedar merengkuh hedonisme hidup.

Ada empat bagian dalam yang dibedah dalam Al Rashafāt hal ini dilakukan agar bisa menjadi lebih
fokus untuk memahami sajak-sajak Imam Abd al-Rahman Bilfaqih. Pembagian itu adalah Minuman Cinta para Kekasih, Keadaan para Wali, Kehadiran para wali pada Setiap Masa dan Urgensi Keberadaan Mereka, Kemuliaan Manusia (insan) dan Hakikatnya sebagai Khalifah Yang Maha Pengasih (al Rahman). Pembabakan ini memudahkan kita untuk memahai jenjang-jenjang (keimanan?) usaha mencintai dalam perspektif sufisme dan relasinya dalam ibadah.

Bagaimana menyakinkan anda untuk membaca buku ini? Tidak perlu. Jika anda menganggap buku pseudo religi medioker berjudul Udah Putusin Aja seabagi buku berkualitas, anda tak akan bia memahami buku ini. Buku ini akan mengajarkan anda bahwa cinta, seperti juga agama, merupakan kesunyian masing-masing pemeluknya. Ia memberikan kebijaksanaan bagi yang mengerti, kedewasaan bagi mereka yang berpikir dan iba hati bagi mereka yang merasa. Al Rashafāt adalah ekstase kerinduan seorang hamba akan tuhannya.

5. Surat Panjang Tentang Jarak Kita Yang Jutaan Tahun Cahaya – Dewi Kharisma Michellia

Saya iri pada Michel. Ia adalah penulis cerpen terbaik dalam generasi saya, generasi K Pop yang memuja sosial media dan generasi yang gagap membaca sejarah. Michel adalah seorang kenalan yang memberikan saya garis jelas antara penulis beneran dan penulis jadi-jadian. Ia adalah apa yang mustahil saya capai. Seorang penulis muda dengan selera baca yang keren. Lebih dari itu novel epistolari yang disusun Michel tentang tuan dan nona Alien, tentang harapan, tentang cinta yang pada akhirnya harus selesai.

Saya penggemar berat karya penulisan epistolari. Bahkan teknik bercerita menggunakan sejumlah dokumen yang berurutan seperti catatan harian, artikel atau jurnal ini merupakan cara menulis paling saya gemari. Dan Michel dengan piawai menuliskan kisahnya tanpa terjebak menjadi tendensius ataupun snobs. Gaya ini banyak diadopsi sebagai gaya menulis cerpen karena relatif lebih efisien dan mudah ditulis. Namun menyusunnya sebagai sebuah novel dengan kontinyuitas perlu kemampuan lebih. Ia harus punya jahitan kuat antar satu surat dan yang lainnya. Ini yang membuat novel Michel jadi pembeda dengan generasi penulis seumurannya.

Surat-surat yang ditulis Nona Alien adalah sebuah rekam jejak. Sebuah dokumentasi akan hidup yang pernah terjadi. Sebuah salam untuk kemudian merelakan seseorang yang pernah sangat berarti bagimu untuk pergi. Novel ini ditulis dengan plot yang tidak linier, tidak terduga dan penuh kejutan. Meski kemudian pada beberapa hal, surat-surat tadi hanya sekedar remeh temeh belaka, tapi ia adalah upaya akhir seseorang untuk mengingat sebelum akhirnya menyerah lantas merelakan. Apakah karya ini indah? Tentu saja. Ia akan memberimu perspektif lain, bahwa menulis bukan sekedar cuitan 140 karakter tentang kegalauan yang itu-itu saja.

Selain lima buku tadi ada beberapa buku lain yang menarik perhatian saya. Seperti riset yang dilakukan oleh Ruang Rupa dan Yayasan Tifa berjudul Publik dan Reklame di Ruang Kota Jakarta, Based on A True Story Pure Saturday susunan Idhar Resmadi, Penghancuran Buku dari Masa ke Masa susunan Fernando Baez merupakan salah satu buku yang keren tahun ini. Sayang saya tak banyak membaca buku puisi. Kecuali Plesir Mimpi karya Adimas Imanuel, Doa Untuk Anak Cucu karya WS Rendra, Kepulangan Kelima karya Irwan Bajang dan Gandari karya Goenawan Mohammad saya tak banyak membaca buku puisi lain.

Tahun depan konon akan menjadi momen dimana buku buku puisi akan banyak diterbitkan. Saya berharap buku yang hadir adalah buku yang benar benar digarap sebaiknya bukan buku yang asal muncul hanya untuk memenuhi target produksi dari penerbit.

Jumat, 27 Desember 2013

Anak Kosan Yang Merasa Akrab

Kemarin saya membaca sebuah tulisan yang bernas dan kritis dari Ardi Wilda. Seorang kenalan di sosial media yang baru saya temui sekali di konser Melancholic Bitch. Ia adalah penulis yang saya kagumi. Bukan sekedar menjilat atau puja-puji belaka, Awe, begitu saya dengar ia biasa disapa, menulis dengan kerendahan hati. Menulis dengan bahasa sederhana tentang masalah pelik yang tidak dibuat rumit. Menulis dengan ide-ide kecil tentang hal yang besar. Ia adalah apa yang segala saya inginkan tapi tidak pernah bisa saya lakukan.

Pada tulisan itu Awe menuduh, ah tidak mengingatkan lebih tepatnya, jika saya sebagai seorang penulis terlalu cari perhatian, sehingga lupa akan subtansi. Saya lebih sering berpolemik tanpa berupaya memberikan jalan atau mengajak orang lain berpikir lebih baik. Awe tepat, saya selalu mengejar kanon satu dan kanon lainnya, mencari kesalahan mereka, seperti orang suci mengumbar bobrok, mengkritik keras lantas saya semua selesai saya pergi tanpa memberikan jawaban tentang apa maksud semua itu.

Tapi ia salah memilih parabel. Saya bukan orang ganteng yang bisa ganti-ganti pasangan, saya tak punya banyak pacar, jika pun ada barangkali ia tak mengakui saya sebagai pacar.

Tapi marilah kita sepakati parabel yang digunakan oleh Awe. Saya barangkali sering membawa pasangan ke kosan. Hari ini pasangan itu bernama Goenawan Mohamad, mungkin minggu depan pasangan itu bernama Trinity, atau minggu lalu pasangan saya bernama Dewi Lestari, dan bukan tak mungkin pasangan yang saya bawa beberapa hari lagi adalah Anies Baswedan. Awe berhak berpikir bahwa saya sedang pamer, bahwa saya bisa pacaran dengan menghantam keras nama-nama besar itu, ia boleh saja curiga dan berpendapat bahwa saya sedang cari muka kepada mereka.

Sekarang saya perjelas lagi sesuatu yang sebenarnya telah jelas. Iya, saya sedang cari muka, tapi tidak kepada mereka. Tapi kepada orang-orang yang terlanjur taklid buta dan menganggap para kanon tadi adalah manusia yang maksum. Manusia yang tanpa dosa dan mustahil salah.

Sebagai sesama anak kos, meski baru kenal, Awe tahu ia bertanya mengapa, bisa menggugat, dan ia lakukan itu dalam suratnya yang ditulis dengan jernih itu. Saya pun berhak menjawab atas gugatan dan hal yang ia permasalahkan itu. Awe punya pandangan agak buruk tentang apa yang saya lakukan dan itu hal yang wajar. Saya dan dia hidup dalam lingkungan yang berbeda, kami memiliki pola perilaku dan lingkar kawan yang barangkali berbeda cara berpikirnya.

Berbeda dengan Awe yang berfalsafah hidup taktis dan jelas. Saya mustahil untuk berpikir sederhana dan bertindak sederhana seperti yang ia lakukan. Awe tak tahu bahwa ada hal-hal sederhana yang tak bisa diselesaikan dengan cara sederhana. Saya menolak untuk menjadi inspirasi seperti yang ia lakukan dalam tulisannya. Saya ingin jadi peluru, saya ingin jadi dinamit, saya ingin jadi petasan yang membuat orang kaget dan marah. Orang butuh disadarkan bahwa ada yang salah dengan kita, ada yang salah dengan orang-orang yang kita puja, ada yang salah dengan segala yang tampaknya baik-baik saja itu.

Saya menolak diam, seperti Awe dengan keputusannya menjadi guru dan bertindak sederhana tapi nyata, saya memilih untuk jadi selilit, jadi benalu, jadi kotoran kuping, jadi upil dan jadi bisul yang membuat orang lain tak nyaman. Sesuatu yang abstrak, sesuatu yang hasilnya tak bisa dirasakan hari itu juga, tak bisa dirasakan oleh banyak orang, atau bahkan bisa terlihat seperti orang yang onani, merasa puas dan bahagia sendiri. Tapi Awe tidak tahu, saya tidak bahagia, saya merasa sedih, sedih tahu bahwa ia menganggap semuanya sedang baik-baik saja.

Awe yang terlalu rajin pergi saat ada jadwal kuliah, lalu pulang ketika kuliah usai, di akhir minggu sesekali pergi bermain futsal, tidak pernah tahu, bahwa anak-anak kosan tempat ia tinggal, lebih suka membolos daripada kuliah, lebih suka dugem daripada bermain futsal, dan lebih suka nongkrong di mall daripada aktif berorganisasi. Awe, seperti anak-anak yang suka menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan lupa, bahwa fungsi lilin adalah memberikan cahaya agar bisa melihat lebih jelas, bukan menjadi satu-satunya pemilik otoritas cahaya yang seenaknya bisa menerangi daerah daerah gelap yang ia sukai.

Awe juga lupa, bahwa saya lebih memilih mengutuk gelap dan tak menyalakan lilin seperti yang ia lakukan. Awe tak tahu, untuk bisa menyalakan lilin, seseorang harus punya lilin terlebih dahulu, sayang tak semua orang punya lilin. Bagi saya, juga ratusan juta manusia yang dibikin gelap hidupnya oleh bapak kosan yang brengsek, hanya mampu mengutuk, menggerutu, marah dan memaki. Awe yang rajin kuliah, aktif diorganisasi, sesekali main futsal, dan rajin membaca itu tak tahu. Ia tak pernah tahu bahwa anak kosan yang lain tidak sedang baik-baik saja. Setidaknya menurut saya mereka tidak baik-baik saja.

Saya tak bisa menjadi baik, orang baik seringkali diinjak. Saya memilih untuk jadi bedebah yang membuat orang lain jengah. Toh banyak dari kita yang lebih menyukai negativitas daripada menjadi baik. Orang baik seperi Awe, yang lebih memilih bekerja sendirian seperti ronin, merasa lebih baik dari yang lain. Orang yang berpikir "Saya sudah bekerja nyata, di pelosok, tak ribut ribut ngomong doang seperti kalian," adalah bagian dari masalah. The good Samaritan syndrome, sindrom merasa cukup karena telah berbuat baik sesekali, lantas berhak menghakimi orang lain.

Itulah wisdom of the crowd saat ini, merasa lebih baik daripada orang lain. Bedanya saya mengakui itu, saya lebih baik daripada kebanyakan orang, saya tak malu mengakui jika fasis sejak dalam pikiran, saya menolak jadi kerumunan yang cuma bisa ikut ikutan dan tunduk, saya menolak cuma sekedar mendidik setahun lantas merasa cukup, saya menolak menunjukan kepedulian cuma dari sosial media saja, saya tahu saya punya cara lebih efektif dari itu, menunjuk muka orang-orang yang sudah terlalu mapan untuk bertanggung jawab atas kebodohan yang ia langgengkan.

Saya tak ingin jadi inspirasi dengan menunjukan kerja-kerja nyata saya. Ada orang yang lebih tampan dan lebih bergincu untuk peran itu. Saya ingin jadi orang jahat saja, orang jahat pacarnya banyak, bisa nikung temen sendiri lagi. Begitu.

Rabu, 04 Desember 2013

The Death of Conscience

Mahasiswi ini kehilangan kehormatannyanya, pada sebuah malam, di sebuah kamar kosan di Jakarta. Seorang penyair besar, yang menolak poligami dan selalu tampil membela moralitas, menyetubuhi mahasiswi dengan paksa setelah sebelumnya si penyair merayu dengan puisi yang jadi kelihaiannya itu.
“Ah itu kan belum pasti,” kata sebagian orang. “Kita buktikan saja di pengadilan,” kata sebagian yang lain. “Tapi kok si perempuannya baru melapor,” kata para pemberi petuah (dan iklan tabib). “Saya percaya mas penyair ia tak mungkin demikian,” kata seorang kolega. “Barangkali ini pengalihan isu,” kata rekan sejawat.
RW, nama inisial korban yang terlanjur diketahui publik, mungkin tidak tahu alasan siapa yang mengalihkan isu, siapa mas penyair, siapa yang perlu dibuktikan. Ia telah mencoba berebut mempertahankan kehormatannya dari mulut manis dan paksaan si penyair. Ia telah dikunci, ditarik masuk ke kamar. Ia telah menendang. Ia berusaha berontak lagi dan dicekoki minuman keras. Ia telah berontak tapi tentu nafsu yang ditambah kekuatan binatang tak akan mampu dikalahkan oleh seorang perempuan yang lemah.
Tapi ia melihat tubuhnya sedang dinodai, ia melihat kehormatannya terbang, maka ia kembali meloncat mencoba melawan si penyair yang tengah asyik mencumbu. Ia meronta dan coba berteriak-teriak, “Tolong jangan... tolong jangan....”
Dan benar: RW kemudian kehilangan kehormatannya, di sebuah kamar yang barangkali disewa melulu hanya untuk persetubuhan liar.
“Kasihan,” kata sebagian orang. “Kok sampai begitu,” kata sebagian yang lain. “Tapi kok mau diajak ke kamar kosannya,” kata rekan sejawat si penyair. “Dan pers jangan membesar-besarkan perkara ini,” kata seorang mantan pemimpin redaksi.
Apa yang besar sebenarnya? Apa yang kecil? Satu dari ribuan mahasiswi di Jakarta adalah soal kecil. Seorang dari sekian ratus ribu orang yang kehilangan kehormatannya di Indonesia kini adalah soal kecil. Lagi pula, pada saat satu mahasiswi diperkosa, di sebuah sudut, satu genius yang sama bejat dengan si penyair mungkin sedang ngencuk (kali ini dengan tidak paksaan) dengan yang lain. Penderitaan manusia adalah ombak yang tak bisa dielakkan dari sejarah sebuah bangsa….
Penderitaan manusia?
Beberapa kali RW mencoba bunuh diri, Ia malu kepada keluarganya. Ia seolah bicara kepada keluarganya yang taat beragama itu: "Ibu aku salah. Ayah aku salah. Aku sudah tidak sanggup hidup. Tapi ia menolak tunduk. Bersama rekan. Bersama kawan ia memutuskan untuk melawan. Melaporkan tindak pelecehan seksual, bagi seorang perempuan yang bukan siapa-siapa, bukan perkara kecil.
Apa yang kecil sebenarnya? Apa yang besar?
Seorang mahasiswi yang selama ini jatuh cinta pada sajak, menyukai puisi, mencintai kata kata, percaya bahwa sastra adalah sesuatu yang besar. Tapi ia lantas dikhianati oleh apa yang ia cintai, oleh apa yang ia puja, ia ditipu, diperdaya, sampai hancur segala yang dimiliki. Padahal ia punya cita-cita, barangkali yang mulia, menjadi seseorang yang mampu berguna bagi sesama. Lantas setelah belajar keras ia dapat diterima di sebuah kampus negeri mentereng di republik ini adalah sebuah kebanggaan, juga mungkin, kehormatan yang lain.
Satu kota sebelah dari tempat RW diperkosa, ada pusat kebudayaan. Di sana tertulis sebuah visi yang mulia "...memelihara kebebasan berpikir dan berekspresi, menghormati perbedaan dan keragaman, serta menumbuhkan dan menyebarkan kekayaan artistik dan intelektual."
Kehormatan RW bukanlah sekedar barang. Ada kebanggaan memiliki. Ada rasa marah karena sebuah hak direbut. Ada makian: huruf-huruf itu memprotes dan sekaligus putus asa terhadap perilaku anggotanya sendiri. Dengan kata lain, sebuah perkara besar, karena ia justru terbit pada seorang yang begitu kecil.
Orang yang kecil adalah orang yang memprotes dengan keyakinan tipis bahwa protes itu akan didengar, dan karena itu teriaknya sampai ke liang lahad.
Seperti sebuah sajak Zagreb, ditulis oleh seorang budayawan besar Goenawan Mohammad, dalam buku Misalkan Kita di Sarajevo, ketika bangsa ini masih dalam kekuasaan diktaktor, Ketika kebudayaan adalah usaha melawan rezim. Setelah akhirnya sebuah simbol tiran, Soeharto pada Mei 1998 akhirnya kalah dan terkubur:
Hanya seakan ada yang meneriakan tuhan, lewat lubang angindi tembok kiri, ke dalam deru hujan, menyerukan ajal,memekikan jajal, dan desaunya seperti sebuah sembahyang tak jelas,nyeri, sebuah doa dalam bekas.
RW juga sebenarnya mencoba menjerit tinggi-tinggi. “Kalau betul-betul negara hukum, SS harus ditangkap,” kata mahasiswi itu, pada sebuah tembok yang diam. Dia bilang, kalau betul-betul. Dia tidak bilang, karena ini negara hukum….
RW meminta, dengan kondisi tubuh berbadan dua, dengan bayi dalam kandungan, berharap mungkin dan itu berarti dengan keras — karena ia sesungguhnya tidak begitu yakin.
Bagaimana ia bisa yakin? Ia pasti tahu ia bukan termasuk mereka yang bisa menang. Ia bahkan mungkin tak termasuk mereka yang pernah menang. Orang kecil adalah orang yang, pada akhirnya, terlalu sering kalah. RW hanya mahasiswi yang sendiri: sudah teramat rapuh untuk dikeroyok para lingkar kekuasaan budaya dan media, terlampau lemah untuk berontak. Tapi ia, yang masih punya nyala hidup, toh masih punya dosen yang peduli, rekan yang tak tinggal diam, khalayak ramai tak dikenal yang peduli. Ia harus berdiri dengan dukungan dan perlindungan. Ia boleh coba dibungkam, diteror, tapi ia tidak membisu. Dan hidup kita, kata seorang arif bijaksana, terbuat dari kematian orang-orang lain yang tidak membisu.


tulisan ini ditulis dengan menyadur tanpa ijin dari sini.