Jumat, 04 November 2011

Bingkai Cahaya






~ Great music and great photo. And we do hate our miserable life right?
Saya tak kenal Robert Frank sebelum membaca dan meliat kumpulan foto yang berjudul The Americans. Tapi sekarang saya tahu, jika James Nacthwey adalah Perseus dalam dunia fotografi. Maka Robert Frank adalah Hommer. Tidak, saya tidak sedang membicarakan mengenai penciptaan fotografi. Karena itu akan sama saja dengan memperdebatkan mengenai kuasa tuhan atas cahaya.

Nachtwey adalah begawan genre fotografi perang dan kemanusiaan. Lewat salah satu film semi biografi dokumenternya, the war photographer, Nachtwey menelanjangi peperangan sebagai sebuah keegoisan yang hanya berujung pada kemusnahan masal. Namun tak berhenti sampai disitu ia juga berusaha lebih dekat menyusun narasi kemanusiaan tentang kemiskinan. Sebuah usaha platonik yang naif.



Kemiskinan adalah klise. Sebuah tema usang yang sekalu sukses meruntuhkan air mata. Nachtwey sukses menggarap tema itu sampai kepelosok dunia (bahkan Indonesia) dan mengembangkannya sebagai isu sentral perubahan. Ada ketakutan yang tak teraba dalam setiap karyanya. Bahwa manusia cenderung selalu mengulang sejarah. Sialnya, bukan sejarah kegemilangan tetapi darah.

Dalam suatu fragmen dalam bukunya yang berjudul Inferno ia berkata "I have been a witness, and these pictures are my testimony." Sebuah prolog atas teror yang ia lanjutkan "The events I have recorded should not be forgotten and must not be repeated." Sebuah ketakutan dan teror yang berjelaga dalam diri Nachtwey.




Seperti perasaan Valkyrie saat ia harus menunggu dan menyaksikan para pejuang tewas meregang nyawa di medan perang. Menggenapkan epigraph Dante dalam “Inferno”

“Through me is the way to the sorrowful city. Through me is the way to join the lost people.”

Berbeda dengan Nachtwey yang cenderung frontal menyuarakan perang, kepedihan, kehilangan, kematian dan kesedihan. Robert Frank lebih lembut dan landai menyuarakan isu isu minor. Mengenai rasisme kulit hitam di Amerika. Jim Crows Laws dan bagaimana black power berusaha mengangkat derajat kaum tertindas itu.

Sangat luar biasa jika melihat bagaimana sebuah foto dapat mempengaruhi kebijakan. konon foto-foto yang dibuat oleh Robert Frank mampu menggugah publik Amerika untuk lebih arif bersikap. Dan mengakhiri ratusan tahun penindasan atas nama warna kulit.

Foto-foto yang dibuat oleh Robert Frank dalam The Americans, cenderung tidak artistik dalam kaca mata kesenian. Ia lebih banyak bicara dengan bahasa kemanusiaan. Seperti gambar-gambar yang disusun secara tak sengaja dan bukan by design. Hal inilah yang juga menjadi dasar mengapa beberapa orang menganggap Robert Frank sebagai bapak street potography atau fotografi jalanan.




Sebagian besar foto yang dibuatnya berkisar di jalanan Mississippi, Bronk, dan juga daerah dengan persinggungan kulit hitam putih yang besar. Disana ia bisa mengolah foto dengan begitu nadir, satir dan getir. Membuat bingkai seolah-olah paradoks kemanusiaan atas nama warna kulit itu hanya sekedar imaji. Repetoir inilah yang kerap membuatnya diburu oleh Klu Klu Klan karena dianggap anti segregasi kelas.

The Americans juga membawa Jack Kerouac, Allen Ginsberg, dan gerombiolan beat lainnya untuk bersinggungan dengan Robert Frank. Dari intimasi ini lahirlah dokumenter kontroversial the Rolling Stones. Hal inipula yang kelak membawa begawan street photography ini untuk melakukan perlawanan sunyi dengan caranya sendiri. Melalui frame foto yang mengambarkan kedegilan hidup.


Saya kira fotografi hari ini sudah terlalu jengah dengan model, inframerah dan segala hal kerdil macam hobi-hobi kekanakan. Fotografi bisa jadi cara lain untuk melakukan pekerjaan kemanusiaan. Dan juga bisa jadi sebuah katalis untuk menggambarkan pemberitaan. Sebuah narasi berita memang tak akan jadi menarik tanpa adanya foto-foto yang baik. Tapi juga bukan berarti semua orang bisa dan serta merta jadi pandai hanya karena punya kamera mahal seharga mobil.

Euforia instagram juga menenggelamkan esensi paling subtik dari fotografi. Yaitu medium untuk menyampaikan sebuah momen yang apa adanya. Kini pelukis cahaya bisa merasa menjadi paling nyeni hanya dengan sisipan elemen tambahan dari software. Kita pelan-pelan dipaksa menerima, bahwa apa yang telah dipoles lebih indah dan lebih benar dari kejadian yang apa adanya.

Akhir-akhir ini saya dibuat sedikit tidak nyaman dengan keberadaan label pada foto yang ditasbihkan dengan nama pembuatnya. Hampir dalam setiap karya baru para pembuatnya muncul dalam setiap foto yang ditautkan di laman facebook saya. Semisal Condet Photography, Japrak Photoworks dan Juleha Photo Studio. Saya tak pernah ingat melihat foto-foto yang dibuat Robert Frank atau James Nachtway (bahkan pada awal karir mereka sekalipun) menyertakan nama-nama labil.

Pada masa awal saya belajar fotografi saya juga menyertakan idiom-idiom labil dalam setiap foto yang saya buat. Ini mengingatkan saya bahwa toh ada fase-fase belajar dalam fotografi. Juga dalam setiap karya yang dibuat kita butuh pengakuan dan diakui. Namun apakah ini harus terus menerus dan selalu dilakukan? Dan apakah objek foto melulu hanya model yang (maaf) setengah telanjang dan menonjolkan sensualitas?

Tapi, entahlah, bukankah dulu fotografi hanya hobi bagi segelintir. Mereka yang terasing dan hanya mampu melihat suatu hal dari perspektif lain. Bahkan hingga hari ini fotografi di hollywood (bukan Amerika) dicitrakan sebagai kegiatan kaum nerd. Tapi entah kenapa di sini (kota saya) jadi parade orang-orang snobs. Ah.. mungkin saya hanya sirik saja.




82 Tatal mengenai Cinta Yang Terlampau Usang



Sebermula rasa penasaran. Seorang kenalan saya Idham Rahmanarto fotografer jenius muda berbakat mentwtit tentang buku. The book of waiting, katanya dalam sebuah tweet. Seperti kebanyakan kaum snobs buku saya tertarik untuk kemudian mencari tahu dan meminta Idham untuk memberinya kepada saya. Dan inilah buku yang ia berikan. A Lover's Discourse, sebuah gumam, racauan dan kicau resah mengenai cinta.

Saya tidak pernah tahu bila Roland Barthes, sang filsuf dandy ini, adalah seorang yang melankolis. Setidaknya itu yang saya raba dari kumpulan 82 tatal perihal cinta yang ia buat. Barthes, merangkai sekumpulan fragmen-fragmen definisi dan perenungan mengenai perasaan yang ia curigai sebagai cinta. Tentu saja tidak melulu pemaknaan yang rapuh, lembek, menye, atau memuakkan.
Salah satu fragmen tatal yang saya sukai adalah exil / exile. Sebuah kondisi kalah, atawa pengakuan terhadap superioritas terhadap liyan. Atau dalam bahasa Barthes, "Deciding to give up the amorous condition," katanya. Sebagai sebuah bentuk penyesalan dan ketidakmampuan menghadapi kenyataan. "The subject sadly discovers himself exiled from his Image-repetoire."

Jika Barthes menulis Mythology dalam keadaan geram terhadap kondisi sastra Perancis saat itu. Maka saya boleh menduga Ia menulis A Lover's Discourse dalam keadaan galau yang akut. Banyak fragmen-fragmen kisah, cerpen, puisi dan gumaman tak jelas yang melingkupi tatal ini. Seolah tak hendak memberikan penjelasan yang utuh terhadap permasalahan yang kerap menempel ketat pada cinta itu sendiri.

Seperti penjelasan Barthes pada fading / fade-out. Saya merasa kondisi ini merupakan titik nadir Barthes dalam mendefiniskan cinta yang gagal. "Painful ordeal in which the loved being appears to withdraw from all contact," katanya. Sekilas kondisi ini mirip dengan exil / exile karena menggambarkan sebuah pelarian dan sikap desertir. Namun Barthes lebih ingin mengambarkan fading / fade-out sebagai sebuah sikap nyepi daripada harus menghadapi permasalahan cinta secara frontal.

Barthes menggambarkan penokohan seseorang yang pengecut. "Without such enigmatic indifference even being directed against the amorous subject or pronounced to the advantage of anyone else, world or rival." katanya. Ada rasa getir dan lelah dari tatal ini. Seperti kisah cinta Lancelot dan Guinevere yang berkubang di bawah tahta Artur. Kondisi dilematis yang kerapkali diselesaikan dengan penyerahan diri terhadap super-ego.

Sedikit banyak selama beberapa waktu ini saya merasa didewasakan. Kerapkali dengan cara yang tengik dan brengsek. Namun diam-diam buku ini memberikan semacam pencerahan terhadap cinta. Sebuah usaha merekonstruksi definisi dan pemahaman terhadap cinta. Tapi pada akhirnya, jika saya boleh meminjam sajak Chairil Anwar, cinta serupa nasib. Adalah kesunyian masing-masing.