Kamis, 09 Februari 2012

Jarak


ada ragu yang gegas
yang menunggu jawab
atas terik matahari sore di atas aspal
di balik deru asap bus kota
jalan macet pukul tiga

perihal jarak yang jauh
pesan yang lambat
kabar yang hilang

kukira rindu hanya perihal waktu
yang menunggu dibayar lunas
beserta bunga dan pokoknya

Monumen Kebodohan


~ Saat hati sedang sakit. Ada baiknya diam. Karena bergegas adalah kebodohan


Pada dasarnya kita, manusia, adalah mahluk a sosial, arogan, egois, tamak, keras kepala dan penakut. Kita membutuhkan orang lain untuk sekedar rasa aman. Seseorang yang bisa menggenapkan kita. Alegori Robinson Cruise yang disusun oleh Daniel Defoe adalah sebuah guyonan komikal yang bohong belaka. Tak pernah ada manusia yang benar-benar sendiri. Bahkan dalam kesendiriannya ia sebenarnya sedang bersama sesuatu. Geist yang tersembunyi.

Homo Sapiens tak diciptakan untuk menjadi lone hunter. Mereka adalah mahluk komunal yang butuh orang lain untuk bekerja sama. Bahkan dalam mitologi agama, Adam, tak puas menikmati surga sendirian dan meminta diciptakan mahluk lain. Kosmos tak lagi sama. Ketunggalan yang dahulu didominasi Adam, berubah dengan kemunculan Hawa. Jagat raya tak lagi utuh dalam keganjilan. Genap adalah definisi sempurna.

Tapi sekali lagi jagat pramuditha membuktikan. Bahwa dua kepala jarang bisa di damaikan. Merusak adalah sifat lahiriah manusia yang paling hakiki. Bahwa menyakiti adalah sebuah keharusan yang sulit untuk dihindari. Meski telah dilengkapi nalar, manusia kerap kali jatuh pada sebuah pilihan-pilihan bodoh. Menyakiti atas dorongan perasaan. Dengan alibi sederhana "kita tak bisa mengontrol perasaan".

Saat kemarahan menguasai diri maka sifat paling purba manusia akan muncul. Sifat destruktif yang tak akan puas sampai rasa bencinya selesai. Maka manusia menciptakan eskapisme. Pelarian untuk rasa sakit yang teramat sangat. Di sini sekali lagi manusia tidak belajar mengenai hidup. Bahwa lari tak pernah jadi penyelesaian. Hidup adalah keberanian menghadapi yang tanda tanya, kata Soe Hok Gie. Lalu apa yang ditakutkan? Bukankah nasib adalah narasi yang kita tulis sendiri?