Selasa, 17 Juli 2012

In Selo We Trust

Menjadi mahasiswa, kata Ahmad Wahib, adalah bersiap keluar dari kungkungan sebagai "Pahlawan dalam Kandang Kecil". Seseorang yang harusnya berani bersikap kritis dan mampu menunjukan pemikirannya dengan rapi. Sesosok manusia yang multi talenta. Semacam perpaduan antara Broery Marantika, Rony Patinasarani dan juga Benny Moerdani. Pintar bernyanyi sambil menggocek bola dalam siaran pers Pangkomtatib soal demonstrasi harga sembako.

Tapi bagi saya menjadi mahasiswa adalah menjadi Selo. Menjadi manusia yang tidak terikat norma kesusilaan dan bebas nilai. Selo sendiri menurut pengamat JKT48 lulusan IKIP Jogja, Ardyan M Airlangga, merupakan kata /adj/ berada dalam situasi lapang; tidak terhimpit; bukan hipster; tak kuliah di sekolah tinggi. Sehingga Selo adalah sebuah zetgeist dari para pemuda-pemudi yang menikmati bangku perkuliahan unipersitas.  Sebuah definisi cutting edge avantgarde yang impresionis dan berdasar ukhuwah.

Masa kuliah buat saya adalah masa yang panjang. Saat saya bilang panjang itu merupakan terma yang merujuk pada waktu dan bukan pada satuan jarak. Oke tujuh tahun kuliah sarjana strata satu. Tapi hei bukankah Bung Hatta menyelesaikan kuliahnya selama 11 tahun? Ia pun selo bersama rekan-rekannya di Nederland sana dengan tergabung dalam geng lokal Indische Vereeniging. Dan bukan, itu bukan geng motor.

Masa kuliah bagi saya adalah momen idealis. Menjadi agen perubahan dan penyambung suara penderitaan rakyat. Atau setidaknya saya pikir begitu. Pada awal masuk kuliah saya sudah menjadi korban politik kampus antara ya sebut saja Himpunan Mahasiswa Imbisil dan Permakluman Manusia Intoleran Ih (silahkan singkat sendiri). Pertempuran perebutan pengaruh dari kedua organisasi ini sempat membuat beberapa mahasiswa menjadi panas. Termasuk saya yang terpancing untuk membunuh Presiden BEM saat itu.

Maka beruntunglah mereka yang kuliah dan menikmati segala macam keisengan, keseloan, romansa, dan juga kesedihan ala mahasiswa. Hidup cuma sekali, maka selo lah selagi bisa. Jangan salahkan si Komo lewat jika anda menjadi tua sia-sia.

5. KKN Relijius

Saya adalah salah satu dari sedikit rombongan badut angkatan 2005 yang baru bisa ikut KKN pada tahun 2010. Atau telat setahun dari yang dijadwalkan. Alasannya? Sederhana, saya ingin ngecengin adik kelas karena jika telat setahun saya berharap bisa satu kelompok dengan dedek-dedek angkatan yang unyu. Dan seperti biasa Tuhan selalu punya lelucon yang tak utuh buat saya. Dari 8 orang anggota kelompok KKN kami. Semuanya laki-laki dan satu di antaranya adalah kawan satu angkatan dan kawan ngopi. Fuck.

Karena kami semua adalah lelaki keparat yang tak mengerti bagaimana menjalankan KKN secara serius. Maka kami menyusun program KKN berdasarkan insting. Yup, ajak main poker perangkat desa, bikin monumen, dan gaul dengan pemuda setempat biar motor tak ilang. Namun lebih dari itu semua saya ditunjuk kepala desa untuk menjadi salah satu pengasuh buletin masjid yang diterbitkan tiap Jum'at.

Tak berhenti sampai di situ salah seorang pengasuh masjid meminta saya untuk menjelaskan konten dari buletin sebelum disebarkan. Saya pikir ini semacam sensor, rupanya bukan. Si pengurus ingin agar apa yang disampaikan itu bisa menjadi bahan untuk kutbah. "Soalnya kotbahnya dari dulu sama aja mas. Kalau gak soal solat lima waktu ya puasa senin kemis," katanya.

Akhirnya dengan tata artistik seadanya dibantu dengan windows office (ya saya ngelayout dengan ofis karena di komputer desa cuma ada itu) jadilah empat episod kisah perjuangan Salahudin al Ayubi yang dibuat berkala. Bayangkan buletin Jum'at dengan gaya cerpen. Tau akibatnya? Seluruh jemaat sholat Jum'at di empat masjid lebih memilih membaca buletin itu daripada dengerin khotib kutbah.

4. Konser Satu Malam

Pernahkah kalian sangat jatuh cinta pada seseorang sehingga memtuskan untuk melakukan kegiatan gila? Pernahkah kalian jatuh cinta sehingga rela mengorbankan kesempatan liburan ke tanah eksotis Lombok hanya untuk bersua wajah dengan pujaan hati? Pernahkah anda dengan begitu bodoh melakukan 11 jam perjalanan melelahkan paska thypiod hanya untuk melihat sebuah senyum? Saya pernah. Menempuh lebih dari 300 Km untuk menemani gadis pujaan anda nonton konser. Menyisihkan waktu super padat di antara jadwal kerja semacam romusha, LPJ UKM yang mepet dan juga momen bimbingan skripsi? Mungkin kalian pikir ini romantis, nyatanya toh ini tindakan selo.

3. UKPKM Tegalboto

Unit Kegiatan Pers Kampus Mahasiswa Tegalboto adalah segala yang bernama kontenplasi. Di sini saya pernah menemani kawan seorang protestan, sebut saja ia Erik Sinaga, untuk bertakbir di depan kumpulan maba di UKM Katolik. Atau menghadiri pelantikan kelompok relawan palang merah, dengan celana cutbray kekecilan yang memiliki resleting rusak? Meminjam kursi batu seberat 80kg dari klub tenis hanya untuk tempat ngopi dan ngecengin anak UKM sebelah?

UKPKM Tegalboto adalah segala yang bernama dialektika kritis. Melakukan perdebatan esensial penting antara apakah Lampung itu melayu atau bukan. Dan bagaimana cara untuk bisa mendapatkan kamar mandi pribadi pada rektorat dengan alasan kebersihan dan sanitasi? Juga melakukan pembersihan rayap dengan membakar kayu yang dimakan hama dengan sebotol bensin penuh? Atau masuk ke dalam konser Ari Lasso gratis dengan id card pers mahasiswa dan gelagapan saat diminta wawancara langsung? Well, saya sudah melakukannya semua.

2. Tukar Celana Dalam

Selama hidup di UKPKM Tegalboto saya tak banyak membawa baju. Hanya beberapa saja. Sebagai golongan menengah ke bawah saya lebih memilih beli buku daripada beli pakaian. Alhasil sebagian besar pakaian saya adalah warisan dari kakak atau sumbangan dari orang. Termasuk juga untuk urusan celana dalam. Hampir semua kawan saya tau kalau saya memiliki celana dalam (baca : sempak) paling buruk sedunia. Sudah melar, banyak bolongnya dan sobek pula. Well, bukankah pakaian itu perihal kenyamanan?

Suatu hari saya lupa untuk mencuci pakaian sementara pagi itu ada kuliah wajib dari kepala jurusan yang terkenal galak. Mau tidak mau saya bangun pagi dan berangkat kuliah. Masalahnya saya sudah empat hari tak ganti celana dalam, dan seluruh selangkangan saya terasa gatal luar biasa. Untuk itu lantas saya mencari solusi di salah satu lemari besi yang biasanya digunakan kawan-kawan untuk menyimpan pakaian.

Rupanya di lemari paling bawah ada beberapa potong pakaian, dan puji tuhan, sebuah celana dalam warna merah marun. Oh yeah. Tanpa pikir panjang saya pakai pakaian itu, yang ternyata luar biasa kecil sekali. Namun keterdesakan dan rasa gatal yang terlanjur merajalela membuat saya tak ambil pusing. Tapi tindakan ini membawa pada bencana.

Selama kuliah saya merasa tak nyaman. Selain menekan terlalu keras. Ternyata celana dalam ini juga sangat jelek bahannya dan membuat parah gatal yang saya alami. Sepulang kuliah kawan saya Miko kebingungan mencari sesuatu. Rupanya celana itu adalah miliknya. "Pe'en wis. Gak usah dibalikno," katanya. Ia tak pernah sebaik itu sebelumnya. I wonder why? Kegiatan ini juga terjadi secara tak sengaja pada seorang kacung bernama Nuran Wibisono. Entah kenapa ukuran celana dalam kami sama.

1. Kuliah 7 Tahun

Apakah anda mahasiswa yang telah menyelesaikan seluruh mata kuliah pada semester enam dengan IPK 3.40? Apakah anda pernah mendapatkan dua kali IP sempurna 4 dua kali secara berturut-turut? Namun ogah mengerjakan skripsi? Well sama. Sampai tulisan ini dimuat, kegiatan selo ini masih berlangsung. Sekian.

Senin, 09 Juli 2012

Monokrom


"Dendam" Aku memulai perbincangan itu sambil menyesap pelan asap rokok. "Melahirkan pejuang paling gigih, yang bahkan para malaikat juga iblis enggan berurusan."


Ia hanya diam memandangi rumput yang mengering. Seperti harapannya yang enggan kembali. Kehilangan semangat untuk hidup. Kadang, manusia menyerah pada pilihan-pilihan wajar dalam hidupnya. Dipaksa mengenali kemampuan diri di depan yang maha daya. Kehilangan selalu punya cara menaklukan ego

Kita semua pernah kehilangan. Well, tapi tak semuanya pernah merasakan kesedihan dan perih karena dipaksa kehilangan. Bahwa sebuah kehilangan adalah runtuhnya tatanan dunia mapan yang kita kenal. Yang sehari-hari kita jalani. Yang semata-mata kita harapkan akan terus ada dan tak pernah berakhir. Dunia utopis yang melahirkan kesempurnaan dalam imaji sederhana kita tentang kebahagiaan.

Kita semua pernah mengenal luka. Seperti juga para peziarah yang meratapi akhir perjalanan.

Ada lubang besar yang kusam saat sebuah tatanan mapan yang kita alami tiba-tiba direngut dengan paksa. Seperti perasaan seorang penjudi yang kalah dalam taruhan setelah memenangkan perjudian berturut-turut. Ia menyesali nasib sebagai sebuah kesialan yang terlambat dipahami. Bahwa kekalahan, seperti juga kehilangan, adalah niscaya. Namun terlalu bebal untuk dimengerti akan tiba dalam waktu yang gegas.

"Mengapa bertemu jika mesti berpisah?" katamu ragu. Seolah-olah pertemuan harus menjadi satu dengan kebersamaan. Apa kau pikir pertemuan dan penyatuan adalah sebuah kebenaran tunggal? Sebuah paket yang tak bisa kita dapatkan terpisah? "Kau naif," jawabku malas.

Kau menahan tangis yang hampir rubuh. Kekalahan telak yang menunggu proklamasinya sendiri.

"Hidup tak bisa diterka. Menentukan cerita sendiri pada hidup yang masih berjalan adalah sebuah kesia-siaan," kataku pelan. Kita sedang duduk memandang langit yang mengeruh kelam. Di antara ratusan orang yang berlalu menghindari rintik hujan yang turun berderai. "Seperti air mata," katamu.

"Hujan selalu seperti air mata. Ia hadir dengan keadaan yang getir. Deras atau hanya sekedar rintik menahan perih. Kadang kala dengan badai yang menggelegar. Hujan adalah air mata. Bagiku begitu,"

Di sebuah lapangan besar. Dengan atap pohon beringin yang menjalar menutupi langit. Kita bertikai mengenai sebuah kesepakatan. Satu akan kehilangan sementara yang lain menemukan.

Karena tak pernah ada sebuah kehilangan yang lunas dipersiapkan.

Kita berusaha untuk mengukur kekuatan diri. Perihal rindu yang mesti diganti dengan berbagai nama lain. "Kau tak boleh lagi merindu. Kita bukan kekasih. Tak pernah jadi kekasih," kataku pelan.

Aku tahu pertahananmu akan sekali lagi rubuh. Tersungkur dengan rasa nyeri di dada yang teramat sangat. Perasaan yang dulu pernah kau rasakan. Saat maut merengut orang yang menjadi pahlawan hidupmu. Lalu kini aku mengulang perasaan itu. Dengan kadar yang lebihh pekat. Menikam tepat di ulu hati lantas memutarnya perlahan. Aku tahu itu. Aku menikmati semua detik saat menyakitimu.

"Mari bertukar puisi." katamu tiba-tiba. "Aku selalu tahu kau suka puisi. Janji, jika ada puisi yang bagus kau akan tetap tinggal lebih lama. Tidak pergi malam ini," kau bergetar menahan tangis.

"Baik, Aku mulai?"

"Tentu kau mulai. Kau yang paham benar apa itu puisi. Aku hanya menikmati. Puisi bagiku selalu rumit untuk dipahami,"

"Di kota yang tercatat namanya itu, pagi kekal di peraduan. dan kita tak akan berbaring di dalamnya,"

"GM dalam sajak di tepi Jucar," katamu riang dengan air mengambang di ujung mata.  "Ketika sunyi menyediakan sebuah beranda merah muda yang bernama kebisuan, Lalu apakah arti percakapan kita dari halte ke halte menyusuri jalan yang berliku,"

"Hmm, dari puisi Acep Zamzam Noor - Untuk Melika Hamaudy. Pilihan yang indah," kataku.

"Aku tinggalkan harum kubangan, dan ciuman yang rapuh seperti daun luruh di belahan rambutmu,"

"Oh demi tuhan.. Dina Oktaviani. L'Acteur -  yang tak pernah kau mengerti. Dari semua puisi mengapa itu?"

"Kau kalah," kataku acuh. Dan percakapan kikuk itu berakhir. Aku pikir ini sudah waktunya mengakhiri. Menghentikan apapun yang kita pernah miliki. Perpisahan tak pernah jadi prosesi yang menyenangkan dan mengakhiri sebuah hubungan tanpa menyakiti satu yang lain adalah sebuah kebohongan besar. Meminjam kata Chairil Anwar "Ada yang tetap tidak terucapkan sebelum pada akhirnya kita menyerah,"

"Chairil?" katamu mengusap air mata dengan pinggiran lengan jaketmu. "Ia dikhianati. Aku dikhianati. Kau juga dikhianati. Kita dikhianati keadaan,"

Keadaan tak pernah khianat. Perasaan kita yang pelan-pelan menanamkan dusta. Kehilangan tak pernah mudah dan perpisahan tak pernah menyenangkan. Lalu apa yang kau harapkan dari sebuah rindu yang tak utuh kasihku?