Rabu, 25 Juli 2012

5 Buku Baik Ramadhan

Ramadhan adalah harapan bagi para pendosa. Tapi bagi saya, ramadhan adalah saat dimana saya bisa asyik membaca dengan waktu yang terbentang luas tanpa diganggu. Orang-orang yang sebelumnya penuh energi dan kapan saja bisa mengajak pergi, mendadak malas dan lebih suka tiduran daripada keluar rumah di tengah terik. Momen seperti ini adalah saat yang menyenangkan bagi saya. Ditemani sepi membaca bisa jadi sangat menyenangkan.

Ramadhan juga selalu hadir untuk mengisi garasi wacana tentang agama. Well, paham agama tidak berarti harus relijius. Beragama juga tak mesti paham benar tentang kemaslahatan umat. Buat saya belajar agama tidak linier dengan menjadi fanatik lalu fasis. Terkadang membaca kitab bisa membuat kita menjadi 100% taat atau sebaliknya 100% murtad. Itulah mengapa dalam islam, meminjam istilah Bapak saya, perlu pemahaman dan diskusi yang ketat antara apa yang ada dalam kitab dan yang tersirat di sekitarnya.

Realitas agama selalu sejalan dengan zaman yang hadir saat itu. Ia tak berhenti pada satu waktu saja, mesti demikian tafsir adalah perkara perspektif. Ingat bagaimana sebelum Muhammad berkuasa atas Mekah, perbudakan adalah niscaya. Lantas setelah islam berjaya perbudakan dan pernikahan siri di hapuskan. Ini bukti bahwa agama boleh jadi tetap, namun tafsir selalu saja dinamis.

Hamzah Fansuri, penyair sufistik yang berasal dari Barus, pernah menuliskan sajak masyur dalam Syair Perahu. Dimana ia membuat metafora ilmu dan iman sebagai kemudi. Ia berkata "Wujud Allah nama perahunya, ilmu Allah akan [dayungnya], iman Allah nama kemudinya, “yakin akan Allah” nama pawangnya." Ia bicara tak semata-mata ilmu adalah tentang membaca Qur'an. Tapi juga pengetahuan lain yang bisa menjadi 'dayung'.

Untuk itu sementara Ramadhan baru berjalan beberapa hari saya hendak menuliskan beberapa buku yang sebaiknya dibaca selama puasa. Tentu tak melulu tentang agama islam. Juga ada beberapa buku lain yang menarik untuk dibaca dan diresapi nilainya. Silahkan menikmati.


5. Idiologi Kaum Intelektual (Suatu Wawasan Islam) - Ali Syariati

Buku ini adalah apa yang saya sebut sebagai "Buku yang habis dibaca dalam setarikan nafas namun membebaskan." Buku ini tebalnya tak lebih dari 185 halaman memiliki pengantar memukau dari Jalaludin Rakhmat, seorang intelektual muslim syi'ah Indonesia. Kalimat dalam buku ini begitu melekat di kepala saya selepas membaca fragmen "Tiap hari adalah Asyura dan tiap tempat adalah Karbala." Jalaludin Rakhmat saya kira sedang bercerita tentang sejarah panjang kekerasan dalam syiah.

Buki ini baik dibaca bagi mereka yang hendak mempertanyakan arti penting seorang pemikir dalam agama islam. Terlepas buku ini disusun oleh intelektual syiah, sunni maupun ahmadi saya kira perlu membaca buku ini. Saya sendiri baru selesai membaca sekitar empat bulan lalu dan kini sedang saya baca ulang. Di dalamnya saya temukan lagi risalah-risalah mutakhir yang menempatkan Ali Syariati sebagai seorang teknokrat yang membebaskan. Ia bicara perihal pentingnya ilmu pengetahuan bagi pengembangan agama.

Anda mungkin hanya sedikit menemukan fragmen-fragmen Al Quran di dalamnya, namun akan banyak sekali menemukan jejak-jejak pemikiran dan sejarah dari masa lampau. Hal ini saya kira sangat baik dibaca untuk menambah wacana tentang bagaiman ilmu ditempatkan. Ia (ilmu pengetahuan) tak bersifat sekuler, tapi menyublim dalam ritus-ritus agama kita. Tapi juga menjadi sebuah pisau dan kendali bahwa hidup tak melulu tentang membaca, tapi juga mengalami realitas dengan segala pahit getirnya.

4. Hidup Itu Indah - Aji Prasetyo

Saya membayangkan jika Nabi masih hidup dan membaca komik Aji ia akan menghadapi dilema. Bahwa ia mesti tertawa melihat ironi yang tergambar, atau menangis melihat kondisi umatnya kini. Mau tidak mau saya juga teringat pada salah satu fragmen cerpen "Langit Makin Mendung" karya Ki Pandji Kusmin. Apakah seorang petani miskin yang memampang bendera palu arit lebih baik daripada seorang kyai yang terpukau uang segepok dalam kitab?

Mas Aji saya kira bisa melahirkan komik sebagai sebuah opini yang merdeka. Ia mungkin salah satu dari sedikit orang yang bisa membebaskan komik dari kungkungan stigma 'hanya dibaca oleh anak-anak'. Buku ini dengan cerdas menguliti secara rapi, bagaimana wajah fanatisme beragama (baca : islam) di Indonesia disalahgunakan. Tentang bagaimana ego pribadi telah mengkooptasi sebuah institusi relijius sebagai sebuah kendaraan politis.

Entah mengapa beberapa minggu setelah komik ini diluncurkan langsung raib di toko-toko buku. Kalaupun ada dengan harga yang lumayan mahal. Bagi beberapa orang di negeri ini, saya kira agama adalah perihal ketetapan. Sesuatu yang saklek dan tak pantas dikritisi. Sayangnya mereka tak paham bahwa tindakannya itu membenarkan apa yang dikritik oleh Aji. Fanatisme buta tanpa pemahaman yang utuh bahwa agama seyogyanya adalah perihal menjadi lebih baik bagi orang lain.

3. Jihad Melawan Islam Ekstrem - Al Ashmawy

Mohammad Said Al Ashmawy membuka esai panjang mengenai fanatisme dengan mengutip salah satu ayat dalam The Egyptian Book of Dead. "Aku adalah masa lalu, Aku mengetahui hari esok; Aku bisa menjadi muda, Aku adalah osiris; Aku datang untuk memerangi kegelapan." Sebuah tindakan berani dari seorang mantan ketua pengadilan tinggi Kairo Mesir. Negeri yang selama kekuasaan Hosni Mubarak, dikenal memiliki barisan ulama sangat brutal dalam menangani perbedaan keagamaan.

Dalam buku ini kita bisa melihat argumentasi dan narasi jernih dari salah seorang pejuang keberagaman asal Mesir ini. Meski lahir dalam keluarga yang kental dengan tradisi Wahabiah namun Al Ashmawy membuktikan dirinya sebagai seorang pemikir yang ulung. Ia dengan ajeg menyusun pembelaan dengan menyertakan banyak pemikiran yang tak melulu berakar dari sumber Islam. Namun juga dari Kristen dan juga Judaisme.

Baginya kebenaran tunggal bukanlah sesuatu yang didapat dari satu sudut pandang saja. Ia lahir dari berbagai visi yang menyentuh satu substansi kemanusiaan bernama pemahaman toleransi. Yang paling menarik kemudian adalah bagaimana sikap Al Ashmawy yang getol menolak negara Islam. Baginya agama tak boleh dekat dengan politik. "Karena saat agama bergabung dengan politik, ia menjadi idiologi dan tak lagi murni sebagai agama."

2. Hanya Islam Bukan Wahabi -  Nashir bin Abdul Karim Al-Aql

Saya kira Muhammad Ibn Abdul Wahab adalah orang yang selama ini menjadi korban dari sebuah nama. Ia adalah seorang pemimpin dan ulama dari sebuah suku badui kecil di Jazirah arab. Abdul Wahab merupakan salah satu dari sedikit sekali kaum badui yang terdidik secara literer, dalam arti bisa membaca dan menuliskan. Lebih khusus lagi ia adalah sedikit dari sekian banyak masyarakat suku badui yang bisa menyusun pemikirannya menjadi sebuah ajaran.

Dengan bahasa yang santun Abdul Wahab pernah menuliskan "Aqidah saya adalah sama dengan aqidah kaum Ahli Sunnah wal Jama'ah," katanya. Ia ingin menjawab sebuah tuduhan bahwa ada seorang badui yang hendak membikin mazhab baru diluar empat mazhab yang ada. Saat dimana pengaruh mazhab bisa menentukan sebuah legalitas kepemimpinan. Dengan terbata ia menekankan dalam Ad-Durrar As Sunniyah "Saya adalah pengikut mereka sampai hari kiamat nanti".

Buku ini meski ditulis dengan sangat membosankan dan hiperbolis (karena banyaknya pujian bagi Abdul Wahab), merupakan pengantar yang baik untuk mengenal siapa sebenarnya dibalik sebuah paham Wahabi. Bagi saya konten dalam buku ini lumayan adil dalam menempatkan sosok ulama yang namanya kerap dianggap sebagai penyebab teror di dunia. Kitab berjudul asli Islamiyah la Wahabiyah ini terdapat berbagai fragmen surat yang konon ditulis langsung oleh sang ulama. Dimana salah satunya ia dengan jujur mengakui pernah melakukan pembakaran buku yang dianggap menyimpang. Sehingga kita bisa menilai sendiri siapa sebenarnya Abdul Wahab itu

1. Ramadhan di Jawa- Andre Moller

Barangkali buku ini adalah salah satu buku yang akan selalu saya baca selama Ramadhan di sisa hidup saya. Buku ini memberikan sebuah parodi dan pemikiran yang naif tentang bagaimana islam berkembang di Jawa. Jika pendapat fasis saya mengenai Indonesia adalah sama dengan Jawa maka buku ini adalah sebuah kritik yang tuntas. Ia bercerita tentang dualisme, mitologi dan juga praktek relijius yang beragam dari sebuah agama yang disebut islam.

Buku yang awalnya merupakan tesis dari Moller ini berjudul asli Ramadan in Java: The Joy and Jihad of Ritual Fasting, hadir seperti sebuah linimasa dari berbagai hastag yang muncul selama ramadhan. Seperti #Tarawih, #Takjil, #Sahur #Ngabuburit, #Itikaf dan juga #Ritusdadakanlainnya. Peneliti asal Jonstrop Swedia ini dengan cerdas dan komikal menuliskan sebuah rekam jejak yang baik tentang bagaimana ramadan dilakukan di Jawa.

Ramadhan boleh jadi puncak segala konsumerisme umat islam di Jawa. Namun dengan jeli Moller menggambarkan bahwa konsumerisme yang dimaksud adalah sebuah ritus lain. Ia membandingkan banyak sekali proses lain konsumsi masif yang terjadi selama ramadhan di berbagai tempat di jawa. Mulai dari ujung timur ke barat. Saya kira buku ini merupakan bentuk lain Lonely Planet dalam versi teologis yang menyenangkan.

***

Jadi buku mana yang akan engkau dustakan selama ramadhan?

Selasa, 24 Juli 2012

RA Kosasih Seda


Pagi ini saya memulai pagi dengan berduka. Raden Ahmad Kosasih, salah satu komikus legendaris Indonesia, meninggal setelah pertarungan panjang melawan penyakit paru-paru yang dideritanya. Kematian kerap kali datang, seperti seorang sahabat jauh yang mampir tiba-tiba. Ia mengakrabi kita dengan cara yang tersembunyi.

Saya kira bangsa ini berhutang banyak pada RA Kosasih. Sedikit banyak ia telah memberikan anak-anak pada zamannya keberanian untuk bermimpi. Bahwa kepahlawanan ialah perihal karakter yang dibangun dari sikap diri. Hal ini diperlihatkan dalam jalinan narasi yang ia bangun dalam setiap cerita gambar yang dibangun. Dengan tegas dalam setiap karyanya ia membagi kubu. Hitam putih secara arbiter dengan garis yang lurus.

Dulu saat kecil Ayah saya memiliki koleksi lengkap komik karya RA Kosasih dan Teguh Santosa. Komik-komik ini, yang dahulu dibuat dalam dimensi besar, selalu memantik imaji saya yang paling liar. Bagaiman jika Gatot Kaca melawan Arjuna? Bima dan Dursasana siapa yang paling kuat? Kalau Batara Guru dan Semar berkelahi siapa yang menang? Imaji-imaji itu membuat saya berani untuk berpikir di luar konteks yang pakem. 

Sebagai penggemar sebagian besar karyanya, saya selalu menyelidik dengan ragu-ragu mengapa Kosasih menggambar karakternya dengan tubuh yang montok dan citra wajah oval. Berbeda dengan kolega satu profesinya Teguh Santosa yang cenderung tajam dan gelap. Kosasih menciptakan imaji setiap tokohnya seperti sebuah lingkaran yang kemudian diberi ekspresi. Hal ini melahirkan ciri khas yang mustahil ditiru oleh orang lain.

Lewat karakter yang oval itu pula Kosasih seolah ingin menunjukan kedekatan diri dengan manusia yang hidup. Seperti sebuah puisi yang mudah dimengerti. Seperti sebuah lagu yang mudah diingat. Menarik kemudian hampir seluruh karakter baik yang ia gambarkan selalu memiliki kumis tipis. Sementara tokoh yang jahat selali digambarkan dengan mata yang membelalak dan gigi besar dengan taring menjelang.

Mungkin jika ada yang kurang gathuk di hati saya adalah penokohan para karakter mahabaratha dan ramayana yang terlalu priyayi sentris. Hampir dalam setiap karyanya ia jarang memberikan ruang pada tokoh minor untuk muncul dan memberi nafas hidup. Seolah-olah kehidupan ini hanya diisi oleh para kaum ningrat. Entah karena hal ini pengaruh Kosasih yang lahir dari keluarga ningrat atau memang ia teguh pada pakem cerita wayang yang hanya menokohkan kaum ningrat dengan porsi utama.

Kosasih lahir pada 4 April 1919 di sebuah dusun di Bogor. Perkenalan awalnya dengan komik awalnya tidak di sengaja. Sebagai murid Hollandsc Inlands School (HIS) Pasundan, Kosasih muda mendapatkan kemudahan akses terhadap banyak buku fiksi. Salah satu yang paling ia sukai adalah kisah klasik mengenai si raja hutan Tarzan. Dari kesukaan itulah iseng-iseng ia membuat gambar ilustrasi. Bertahun-tahun usai lulus dari HIS ia tak lantas menjadi pamong praja. Malah ia mendapatkan pekerjaan pertama sebagai seorang komikus di harian Pedoman Bandung. 

Namun bukan karena sekedar sebagai komikus ia patut dikenang. Namun karena usahanya untuk melahirkan cerita yang dekat dengan para pembacanya. Meski ada beberapa hal komikal yang perlu dikenang. Seperti usaha Kosasih untuk membuat narasi Pandawa Seda yang terlalu dibuat Islami. Sepertinya ada sebuah tekanan keharusan bahwa cerita komik dari epos Hindu ini mesti di-Indonesiakan. Sehingga terpaksa memaksa pakem aslinya diadopsi dengan nilai-nilai yang 'sesuai dengan pancasila'.

Beberapa minggu yang lalu bersama seorang kawan saya menghadiri Jakarta Book Fair. Di salah satu lapak buku yang agak asing saya menemukan beberapa bendel komik Ramayana dengan tahun terbit sekitar 1968. Kami bertatap muka dengan seorang pemuda akhir tigapuluhan yang memborong tumpukan komik Kosasih. Dengan mata berbinar ia berkata "Komik RA Kosasih itu asli, kalau sampul depannya ada ijin dari Polda," katanya bangga.

Bagi mereka yang besar pada akhir 80an dan awal 90an pasti mengetahui tentang kredo ini. Perihal komik-atawa buku yang mesti lolos sensor kejaksaan dan polisi. Menjadi menarik karena meski Kosasih adalah salah satu seniman yang pernah menjadi korban kritik dan oposisi Lekra. Komiknya dianggap memiliki potensi "Mengganggu stabilitas kamtibmas". Apa pasal? Tentu karena naskah Barathayuda adalah mengenai perang dari status quo dan kebenaran. Di situ ada ketakutan yang dibuat-buat.

Bagi saya Kosasih adalah seorang pendongeng yang ulung. Meski ia sangat mencintai Komik dan Dongeng ia telah mengakui kekalahan pada umur dan telah berhenti menggambar pada medio 70an. Seingat saya komik terakhir yang ia buat adalah variasi lain dari Sri Dewi, tokoh superhero wanita lokal, yang bernama Cempaka. Karakter terakhir merupakan katarsis dari tokoh Tarzan yang menjadi idolanya selama bertahun lampau. 

Tapi lebih dari itu. Kosasih adalah penganyam mimpi. Ia mendekatkan epos Mahabarata sebagai sebuah pertarungan kebatilan dan kebenaran pada akhirnya mesti menang. Dalam babak Pandawa Seda bagi saya merupakan puncak spiritualitas dan kematangan Kosasih sebagai manusia dan komikus. Dengan panel-panel terbatas dan minim warna ia menciptakan sebuah perpisahan yang lugas. Satu-persatu tokoh baik dalam keluarga Pandawa dibunuh sesuai karmanya.

Pandawa Seda juga merupakan sebuah alegori dari sebuah zaman yang angkuh. Dibuat pada zaman ketika Lekra berkuasa kisah Mahabarata Kosasih dianggap terlalu kebarat-baratan. Melalui pena ia kemudian menggambarkan peperangan idiologis antara seniman zamannya. Ia turut jelas ambil bagian dalam perang tersebut. Bahwa kesenian tak melulu harus bersikap politis. Ia mesti bebas dan punya unsur hiburan dan tak selalu perihal propaganda.

Hari ini sekitar pukul 01.00 RA Kosasih meninggal. Seperti banyak legenda lain ia meninggalkan warisan besar bagi para pembacanya. Sebagai bapak komik modern Indonesia. Juga sebagai manusia yang dengan jeli menggambarkan zaman dalam tokoh wayang. Tentang negara beserta aparatusnya yang keji melalui simbol Hastina dan Kurawa, juga para oportunis tengil yang berkelindan diantara pemerintah yang disimbolkan melalui Sengkuni.

Saya selalu ingat tokoh Bhisma bikinan Kosasih. Tokoh ini menjadi salah satu yang paling karismatis dalam seluruh cerita bikinan kosasih. Hanya ia satu-satunya tokoh yang selalu konsisten ada dalam tiga babak cerita Mahabarata, Barathayudha dan Pandawa Seda. Bhisma yang menolak hak diri sebagai Raja dan memilih hidup sebagai seorang begawan. Manusia yang tidak takut mempersiapkan kematiannya sendiri.


RA Kosasih tak hanya menggambar. Ia menuliskan sejarah.