Kamis, 02 Februari 2012

Kerdil lagi Hina



Sesungguhnya manusia yang paling hina adalah mereka yang tak bisa menerima kekurangan diri dan mencari kelemahan orang lain. Dalam hidup manusia semacam ini pasti selalu dan akan kita temui. Mereka yang selalu jengah dengan keberhasilan dan kelebihan orang lain. Orang yang dengki dengan kemampuan orang lain. Orang yang tersiksa karena dirinya tak cukup baik untuk bisa hidup dengan rasa ikhlas.

            Saya tahu orang semacam ini. Karena saya pernah menjadi orang semacam ini. Orang yang kerdil jiwanya sehingga tak bisa melihat kebahagiaan orang lain. Selalu berusaha mencari celah salah untuk kemudian memanfaatkan cela itu sebagai senjata. Manusia yang selalu dikecam rasa sesak didada karena tak mampu meraih hidup yang lebih baik.

Mereka bukan kerdil seperti Hobbit dalam mitologi JRR Tolkien. Tapi lebih pada kekerdilan sikap seperti yang dialami Habil anak tertua Adam yang lemah. Peradaban Katolik menyebut anak adam yang ini sebagai Cain. Mereka yang tergoda iblis untuk dikuasai rasa iri dan kelemahan mental. Lalu menjatuhkan/menyakiti orang lain agar bisa menutupi kekurangan dirinya. Orang-orang yang terlalu menyedihkan untuk bisa disebut sebagai manusia.

Senin, 30 Januari 2012

Dadidudedo









~ hidup hanya tentang menghadapi rasa takut dan menyikapi kehilangan

Kamu bilang hidup itu seperti roda yang berputar. Tapi aku selalu percaya hidup itu seperti membaca buku yang tebal. Kadang kita marah, sedih, benci, senang, cemburu, dendam, jatuh cinta dan sebagainya saat membaca sebaris kalimat. Dalam banyak hal membaca buku mengajarkan kita untuk menyikapi hal-hal yang belum terjadi. Tapi bukankah segala yang sudah diprediksi itu menyebalkan. Ya, kamu dan aku tahu itu.

Aku sedang malas bercerita tentang kehilangan, karena ku pikir untuk apa? Toh sudah ada kamu yang selalu bawel dan gegas memarahiku saat lalai. Kukira manusia itu mahluk paling dhoif dan rakus diantara mahluk tuhan yang lain. Iblis sombong, tapi ia tak rakus. Ia hanya menggoda manusia untuk kemudian ditinggalkan dalam tindakan dosa. Tapi bukan untuk itu kan aku menulis ini? Mungkin ini hanya sekedar fase keresahan yang teramat labil. Seperti hujan yang datang saat hari masih terang.

Pagi ini melankolis sekali. Entahlah, mungkin fakta bahwa kita sama-sama lahir dan bertemu untuk kemudian jatuh cinta itu sepertinya komikal sekali. Kamu adalah apa yang terbalik dariku. Kamu adalah orang yang disiplin. Gegas. Patuh dan selalu taktis dalam bersikap. Sedang aku. Bahkan dalam dua menit kedepan aku masih bingung hendak melakukan apa. Sudah kubilang, hidup yang terencana, hanya akan berujung kepada kekecewaan. Itu yang tak aku mau.

Tapi biarlah toh aku mau menjadi melankolis. Seperti sajak lagu Desember dari efek rumah kaca yang sangat kamu sukai itu. Kukira lagu itu bukan lagu riang. Sedih malahan. Tapi bukankah kebahagiaan bukan hanya tentang gelak tawa? Tapi juga tentang dengan siapa kamu berbagi kesedihan. Dus kamu selalu ada saat aku sedih dan terhantam hebat. Dan yang lebih monumental kamu masih ada disana meski kesedihan dan kejumudan diriku kamu ketahui. Boleh aku tanya, hatimu terbuat dari apa?

Ya sudah, mungkin cukup sekian dulu. Aku harus pergi. Ya ya ya menemui dosen, untuk kemudian mempersiapkan sidang. Itu kan yang kamu mau? Kamu bahkan lebih bawel dari ibuku sendiri perihal kelulusan ini. Tapi semua itu tak penting. Fakta bahwa kamu ingin memberikan aku yang terbaik itu lebih dari cukup. Lebih dari sajak paling bagus yang pernah dibuat Neruda. Dan pagi ini, rindu berkecambah seperti jamur di musim hujan.