Jumat, 18 April 2014

Gabo


“Ia selalu bermimpi tentang pepohonan,” kata Placida Lenaro, tentang anaknya Santiago Nasar. Mereka adalah nama nama dari tokoh rekaan Gabriel García Márquez dalam The Cronicle of a Death Foretold. Ada yang haru di situ. Tentang bagaimana seseorang yang meninggal diingat. Pagi ini, 18 April 2014, sehari setelah Yasunari Kawabata bunuh diri puluhan tahun lalu. Gabo, begitu ia diingat, meninggal dunia. Hati saya kosong, tidak ada duka atau kesedihan. Seolah olah semua ini hanya guyonan. Gabo? Gabriel García Márquez meninggal? Oh ayolah Tuhan, setelah Mandela kini kau jemput juga Gabo?

Saya tak ingin percaya. Tapi juga tidak mungkin mengabaikan fakta bahwa sejak dini hari tadi puluhan situs berita mengutip kabar kematiannya. Cristobal Pera, mantan editor Gabo di Random House membenarkan kabar ini. Apalagi yang bisa saya lakukan selain meratap? Tapi tidak ada tangis hari ini. Barangkali juga seterusnya, saya butuh tidur lebih dari lima jam, untuk benar benar mencerna. Gabo sudah benar benar meninggal. Ia sudah pergi dengan meninggalkan seluruh warisan kebudayaan kepada generasi setelahnya.

Saya pertama kali membaca buku Gabo saat duduk di bangku Kuliah. Saya membaca Seratus Tahun Kesunyian, terbitan bentang yang berwarna biru. Realisme Magis, gaya menulis yang konon dilekatkan padanya, sebenarnya bukan selera saya. Ia rumit, bertele-tele, membosankan dan terlalu banyak simbol. Tapi Gabo meramu sebuah novel dengan bahan bahan butut menjadi sebuah cerita yang renyah, gurih dan nikmat dimamah. Ibarat makanan Gabo memberikan anda masakan eksperimental, tidak baru memang, karena ada generasi sebelumnya yang mencoba menawarkan hal serupa, tapi kali ini ia memasaknya dengan takaran yang tepat dan sedap.

Gabo menulis dengan stamina tinggi. Saya selalu percaya Gabo menulis bukan untuk menciptakan genre atau mengejar capaian estetis. Ia sedang menggenapi sebuah buku yang berjudul “La bendita manía de contar,” atau kegilaan kudus untuk bercerita. La bendita manía de contar adalah kumpulan diskusi dan petuah tentang lokakarya menulis naskah film yang pernah ia lakukan. Namun entah mengapa, saya seolah menemukan jawaban dari ragam tema tulisan yang ida kerjakan.

Menjadi penulis bukan pekerjaan mudah. Ia membutuhkan ketelatenan dan nafsu membaca yang luar biasa. Belum lagi jika anda menulis untuk media. Secara tidak sadar pilihan saya untuk menjadi jurnalis barangkali terpengaruh oleh Soe Hok Gie, Ahmad Wahib dan Gabo.  García Márquez menyebut jurnalisme sebagai pekerjaan terbaik sedunia. Ia menyatakan bahwa kemampuannya menulis fiksi sekarang diperoleh dari pengalamannya mencermati fakta-fakta saat masih menjadi jurnalis.

Saya beruntung menemukan sastra alibi, blog yang diasuh oleh begawan dan pakar sastra latin, Ronny Agustinus. Di dalamnya saya berselancar dan berulang kali membaca naskah esai, cerita satir dan kabar perihal Gabo. Dari blog kang Ronny pula, saya membaca “Usos y abusos del paraguas”. Sebuah satir pendek dari kolom Gabriel García Márquez muda saat menjadi jurnalis El Espectador. Naskah ini menyindir perilaku sosial kelas menengah atas di Kolombia yang memintingkan gaya daripada fungsi.

Kang Ronny menjelaskan apabila gaya García Márquez di sini mengingatkan akan vinyet-vinyet Julio Cortázar di Historia de cronopios y famas (1962). Tapi ia memberi penekanan bahwa kolom ini terbit bertahun-tahun sebelum García Márquez mengenal Cortázar. Saya menduga Gabo adalah seseorang yang visioner dan juga seorang eksperimentalis. Ia mencari, menjelajah dan mencoba berbagai gaya penulisan sebelum akhirnya menemukan dan mencipta gayanya sendiri.

Pada pidato kebudayaan saat meraih Nobel sastra dunia pada 8 Desember 1982, Gabo bercerita tentang “The Solitude of Latin America” kesunyian Amerika Latin. Gabo, tak seperti kebanyakan penulis hari ini, punya nyali untuk memilih dan memihak haluan politiknya. Ia membuka pidatonya tentang sosok Antonio Pigafetta, seorang navigator asal Florentine navigator yang pergi menjelajah bersama Magellan. Ia bercerita tentang “…y que aquel gigante enardecido perdió el uso de la razón por el pavor de su propia imagen,” seseosok raksasa yang kehilangan citra akan dirinya sendiri karena rasa takut.

Tapi tentang apakah pidato itu sebenarnya? Saya dan anda tahu, Gabo yang berkebangsaan Kolombia ini memiliki kedekatan dengan Fidel Castro. Hal ini membuatnya sedikit taklid buta dan menganggap kebenaran kiri adalah hal yang mutlak. Ia percaya bahwa sosialisme memiliki kebenarannya sendiri. Karya-karya Gabo bercerita tentang kondisi masyarakat latin yang tertindas, yang dijajah dan tanpa sadar sedang ditundukan oleh musuh di luar dirinya sendiri. Pada pidato itu Gabo ingin kembali mengingatkan bahwa kesadaran akan kedaulatan diri adalah hal yang paling penting agar tak lagi jadi korban.

Pilihan Gabo untuk menjadi seorang kiri memang bukan hal yang baru. Agak mengejutkan jika melihat Gabo muda diasuh oleh kakeknya yang berasal dari dinas militer. Pilihan politiknya memang sangat keras dan fanatik. Hal ini melahirkan perseteruan dengan Mario Vargas Llosa, mantan sahabatnya yang juga sesama peraih nobel sastra. Bagi Llosa, Castro tak lebih baik daripada diktaktor lain karena telah memberangus para penyair di zamannya. Perseteruannya berlangsung lebih dari 30 tahun dan menjadi pertikaian paling lama dalam sejarah sastra dunia.

Kritikus sastra dunia, Harold Bloom, menulis dengan getir bahwa Gabo berhutang kepada William Faulkner dan Franz Kafka. Bloom menuduh bahwa segala capaian estetik Gabo adalah usaha menuliskan kembali “keriangan masa lalu dan kemuraman hari akhir,” dari peradaban manusia. Bloom tidak menuduh Gabo menjiplak, lebih dari itu, Gabo menyempurnakan apa yang gagal dicapai oleh Faulkner dan Kafka. Pembacaan yang lebih ringan dari sisi gelap sejarah manusia.

Di sisi lain sosok sosok perempuan dalam cerita Gabo adalah tulang punggung cerita. Mereka adalah sebenar benarnya tokoh kunci yang memberi kekuatan pada sekitar. Tak mungkin Florentino Ariza bisa bertahan hidup tanpa harapan dan cinta pada Fermina Daza dalam Love in the Time of Cholera. Mustahil keluarga Buendia di Kota Mocondo bertahan tanpa ketegaran dari Úrsula Iguarán. Perempuan bukan sosok subaltern di sini, mereka adalah tokoh kunci yang menjadikan para prianya hidup dan berharap.

Namun memang jika dibaca secara kasat mata, cerita cerita dalam Novel Gabo adalah lanskap muram tentang Amerika Latin yang tengah ditindas. Tapi ia tidak menuliskannya dengan gaya meledak-ledak mendorong sebuah insureksi. Gabo, bagi saya, menulis dengan sebuah tawaran. Diskusi tenang di antara kepul asap cerutu dan kopi panas. Sebuah humor gelap dengan nada satir yang pekat. Seperti dalam One Hundred Years of Solitude (1967), Chronicle of a Death Foretold (1981) dan The General in His Labyrinth (1989).

Namun ia juga punya sisi romantis yang melenakan, seperti dalam kisah Love in the Time of Cholera (1985) dan Memories of My Melancholy Whores (2004). Pada sebuah wawancara Marlise Simons, di New York Times 30 Juli 2008, Gabo mengaku bahwa dalam setiap karyanya ia mencoba menggali sesuatu yang baru, tema yang baru dan kepenulisan yang baru. Bahwa menulis adalah tentang perasaan, mood dan bagaimana kau ingin menyampaikan sebuah cerita. Ia menyebut tulisanya dengan cita rasa “Karibia, sesuatu yang tak bisa dipahami kritikus,” katanya.

Mustahil bagi saya untuk tidak emosional. Barangkali ini serupa perasaan kanak-kanak yang kehilangan seorang kakek. Kakek yang gemar memberimu mainan, permen dan mahir mendongeng. Kau akan merasa bahwa si kakek ini adalah satu satunya orang yang mengertimu. Bahwa dengan segala dongeng yang ia ceritakan, kakek tak ingin mengguruimu, ia hanya menunjukkan. Menceritakan bagaimana sebuah hidup seharusnya dilalui, tentu saja, sebagai kakek ia akan memberimu kotbah, memarahimu dan sesekali memukulmu dengan geras. Gabo adalah sosok Kakek yang tidak pernah saya miliki.

Pada penutup pidato Nobelnya, Gabo mengutip kata kata dari William Faulkner, yang ia sebut sebagai gurunya. "I decline to accept the end of man". Saya menolak menerima bahwa kematian Gabo adalah sebuah akhir. Ini adalah satu titik baru, sebuah momen untuk kembali membaca. Bahwa sosoknya yang dikanonkan sebagai seorang sastrawan tinggi semestinya ditempatkan pada posisi yang tepat. Pendongeng tentang sebuah negeri yang dijajah, ditekan tiran dan diteror rasa takut. Realisme magis adalah bumbu, tapi semangat dari cerita Gabo, bagi saya, adalah tentang menjadi manusia yang merdeka.



Selamat Jalan Gabo.

Sabtu, 01 Februari 2014

Selamat Datang Hei Kemenakan Kesayangan

Halo kamu. Iya. Kamu kemenakan kesayanganku yang baru saja lahir.

Kamu bocah perempuan yang aku belum ketahui namanya. Selamat datang di dunia sayangku. Perkenalkan aku pamanmu. Namaku Arman Dhani. Kau boleh memanggilku paman endut. Suatu saat, jika ibumu mengijinkan, aku akan menggendongmu dipundak. Aku akan menggendongmu berkeliling taman, sekitar rumah dan kita akan mencipta bahasa-bahsa rahasia bersama. Tapi itu nanti, sekarang sebagai bayi mungil, tugasmu adalah tidur yang nyenyak dan menangis yang keras.

Kamu kemenakanku sayang, adalah gadis dengan beban sebesar dunia, lahir dari ibu perkasa yang menyintas. Tapi beban itu tak akan kamu panggul sendirian sayangku. Paman menjamin itu. Kamu kemenakanku yang baik, kamu akan belajar bahwa dunia memang keji, dunia memang culas, dunia dan para manusianya tak pantas dipercaya. Tapi tentang saja. Aku satu dari ribuan paman asuhmu, ayah asuhmu, juga satu di antara puluhan ribu ibu asuh, kakak asuh, dan bibi asuhmu akan berada bersamamu. Menjagamu dan melindungimu dari borok bernama kepalsuan dan moral tengik.

Keponakanku yang baik. Jangan pernah sekalipun kelak kamu membuat ibumu sedih. Ibumu, seorang pedusi setegar karang. Ia mampu menghadapi tragedi dengan kepala tegak. Ia tidak menyerahkanmu pada meja aborsi. Ibumu bisa saja melakukan itu. Ia sah dan bisa dilakukan, tapi ibumu perempuan mulia. Perempuan yang percaya bahwa seburuk dan sesalah apapun tindakan orang tuanya, seorang anak berhak untuk dilahirkan, dirawat dan dicintai dengan penuh kasih sayang yang tulus. Aku pamanmu tahu itu. Kami orang orang yang berebut untuk mencintai dan melindungimu tahu itu.

Saat ibumu sedih ia menahan diri. Ia menahan diri untuk tidak menyerah pada nasib dan membiarkan kamu hilang. Ia bisa saja memilih untuk membuangmu, melanjutkan hidupnya lantas hidup biasa-biasa saja. Tapi tidak sayangku. Kamu anak yang baik harus paham ini. Ibumu adalah jelmaan kasih sayang tuhan. Ia mencintaimu begitu rupa hingga ia memilih untuk melawan dunia daripada harus menyerah. Ia pernah melawan segala raksasa dan tiran sendirian. Tapi kini ibumu tak sendiri. Kalian tak sendiri.

Pamanmu yang payah ini tak bisa apapun membantu ibumu nak. Bahkan untuk datang menemui ibumu, menemaninya, memberi semangat padanya pun paman tak mampu. Paman seorang pengecut. Ya pengecut. Paman hanya bisa bicara di media sosial. Berteriak-teriak seolah peduli, seolah mengerti dan seolah paham. Tapi sebenarnya paman tak tahu apa-apa. Yang paman tahu, ibumu, seorang perempuan ah bukan, seorang manusia direbut paksa kedaulatan tubuhnya oleh sejenis binatang berbentuk manusia. Kemanusiaan paman terganggu. Karena itu cara menjadi manusia kemenakanku sayang, kamu harus percaya manusia memiliki rasa kemanusiaan, ia akan terganggu saat manusia lain dinistakan kedaulatan tubuh dan pikirannya oleh orang lain.

Namun ada yang lebih penting dari itu sayangku. Sekarang paman berharap kamu dan ibumu sehat. Bisa tersenyum. Saling menjaga dan menguatkan. Biar kuceritakan sesuatu yang lucu, paman adalah produk gagal dari sebuah program Keluarga Berencana. Harusnya paman digugurkan, tapi gagal. Lalu paman terpaksa dikandung, sampai akhirnya pada tengah malam bulan ramadhan, ibu paman ingin buang air, lalu keluarlah paman di kakus dengan kepala dalam jamban. Lantas ayah paman memotong tali pusar paman dengan pisau dapur yang tumpul. Lucu kan?

Tapi kau berbeda kemenakanku sayang. Kau lahir dengan begitu banyak cinta, begitu banyak kasih sayang, begitu banyak kepedulian dan empati sehingga tubuhmu memancarkan itu semua. Bayangkan ada banyak ratusan atau bahkan ribuan paman bibi yang belum pernah menemuimu. Tapi turut mendoakan kelahiranmu, mendoakan keselamatanmu dan mendoakan kesehatanmu. Dan saat kau dilahirkan di dunia ini kami bergembira selayaknya seorang kanak-kanak yang diberi saudara baru. Saudara untuk dijaga, disayangi, dicintai dan tentu saja dijahili sesekali.

Kelak paman akan mengenalkanmu dengan Hayao Miyazaki dan Studio Ghibli. Kita berdua akan belajar kemanusiaan dari anime. Belajar bagaimana cara manusia menggunakan hati dan kecerdasan mereka untuk peduli, bukan untuk mengibuli. Paman akan menujukan bagaimana cara manusia untuk bisa berempati dan merasakan sayang. Karena nanti sayang, kamu akan belajar, bahwa ada banyak orang-orang pintar berpendidikan tinggi yang doyan memanipulasi. Menggunakan kata-kata tinggi, bermakna ganda dan rumit diucapkan hanya agar mereka selamat dari skandal dan kesalahan.

Kemenakanku sayang. Jangan takut membuat salah. Takutlah saat salah kamu tak berani bersikap tulus berani dan meminta maaf. Lebih dari itu bertanggung jawablah. Ibumu, gigir hangat yang kamu sebut rumah itu, adalah contoh paripurna dari keberanian bertanggung jawab. Ia yang saat mengandungmu masih lemah, trauma dan mungkin diteror. Berani melaporkan tindakan kekejian dan sikap pengecut dari hewan yang bersembunyi di balik ketek istri dan anaknya. Ibumu memiliki sejuta lapis nyali lebih tebal daripada pecundang yang menetek pada perlindungan kawan-kawannya itu sayang.

Tapi ah sudahlah ada apa dengan kesedihan ini. Kelahiranmu harusnya dirayakan dengan cinta kasih. Nanti paman akan bacakan padamu dongeng-dongeng dari tanah yang jauh.The Little Prince oleh Antoine de Saint-Exupéry, The Conference of the Birds oleh Farid al-Din Attar atau mungkin kamu akan suka cerita karangan bundamu sendiri? Apapun itu paman akan memberimu banyak buku untuk dibaca, tapi ingat, tugas utama seorang kemenakan yang masih lucu adalah bermain sampai kelelahan. Tapi kalau kamu suka membaca boleh, tapi harus tetap bermain, pecahkan beberapa hal, tapi jangan semua. Nanti paman repot.

Kemenakanku sayang. Pamanmu hanya bisa bicara dan menulis. Pamanmu terlalu pengecut untuk pasang badan di depan jalan dan melakukan aksi menuntut keadilan untuk ibumu. Ibumu, perempuan muda yang saat tengah mengandungmu, mesti berkali-kali diperiksa, dipanggil dan ditanyai polisi. Sementara si predator dengan santainya, berleha-leha, dilindungi dan dimuliakan. Kelak sayangku, kemenakanku yang baik, kamu mesti belajar untuk tidak pernah percaya sedikitpun dengan perangkat hukum di negeri ini. Jika kau mau keadilan sayang, kerjakan sendiri. Nanti paman ajarkan caranya.

Sudah waktunya kamu tidur sayang. Bayi harus banyak tidur. Banyak menangis dan banyak makan. Supaya lekas besar dan selalu sehat. Semoga kau dan ibumu selalu bahagia. Kalian adalah sepasang manusia yang saling menguatkan. Tidak ada satu kuasa apapun yang akan membuat kalian menjadi lemah dan menjadi terpisah. Kalian adalah akal sehat dan suara kemanusiaan yang enggan didengar oleh kaum pintar dan petinggi yang merasa pejuang kemanusiaan itu. Mau tau satu doa keren? Tapi jangan bilang siapapun. Doa Kumayl namanya. Doa maha dahsyat itu akan memberimu ketenangan dan kekuatan kemenakanku sayang.

Sampai di sini dulu tulisan ini sayangku. Peluk cium untukmu.