Selasa, 30 Juni 2015

Agar Anda Sedikit Pintar

Charles Dickens memulai dengan muram novel masyurnya yang berjudul A Tale of Two Cities. “It was the best of times, it was the worst of times, it was the age of wisdom, it was the age of foolishness, it was the epoch of belief, it was the epoch of incredulity,” kata Dickens. Ia barangkali bisa menggambarkan bagaimana sebenarnya zaman kita saat ini, waktu di mana akal sehat dan kedunguan kerap begitu abu-abu hingga sulit dibedakan. Dua kutub berseberangan yang saling menegasikan. Sehingga kerap kali kata-kata banal menjadi terlihat agung hanya karena keterbatasan pemahaman.

Kemarin Mojok menurunkan sebuah naskah berjudul Oh betapa-humanisnya-para-pendukung-pernikahan-sejenis, sebuah artikel dengan tendensi misantropis yang penuh kelindan kata-kata rumit. Mengutip secara parsial sebuah penelitian, lantas menafsirkan sesukanya tanpa memahami konteks. Si penulis tentu saja adalah bung Edward Kennedy, seseorang yang kerap berlagak sok nihilis dan sok jago, padahal jika naik biang lala ia akan pucat seketika.

Bung kita yang satu ini berkata bahwa kelompok humanis tengah bermain peran, munafik secara lebih tepatnya, ketika mereka bicara soal #LoveWins dan advokasi kelompok LGBT. Tentu dia tidak secara spesifik menunjuk muka siapa yang dimaksud, ia seperti koboi yang baru belajar memegang pistol, asal menembak tak tentu sasaran. Akibatnya, ia tidak hanya menjadi konyol, namun lebih daripada itu ia terlihat serupa badut dengan lelucon yang tak lucu.

Moral, bung Edward Kennedy yang baik, tidak pernah layak menjadi argumentasi atas dialektika apapun. Maka ketika anda yang sok jagoan itu menulis tentang humanis, sebenarnya anda tidak menjelaskan apapun dari kaum humanis itu, anda hanya menjelaskan betapa sebenarnya anda cetek dalam melihat permasalahan kaum LGBT ini. Saya menuduh anda hanya sekedar memandang dari jauh permasalahan ini tanpa ada upaya untuk memahami realitas lapangan, tipikal intelektual salon yang gemar berpendapat melulu dari teks yang ia baca sekilas.

Bung menolak mengakui bahwa Gay terlahir Gay, bung mengatakan bahwa ia adalah nurture sekedar konstruksi. Maka mari kita periksa, jika Gay adalah nurture, maka seharusnya disepakati pula bahwa menjadi hetero adalah konstruksi pula. Ekspresi gender dalam masyarakat mengatakan bahwa laki laki harus menikahi perempuan, laki laki harus jadi kuat, perempuan harus cantik dan sebagainya dan sebagainya harus disepakati sebagai konstruksi gender.

Dengan mengakui hal ini, maka menuruti pemahaman anda, semestinya menjadi hetero ataupun homo adalah hak yang tidak perlu diperdebatkan. Lho, konstruksi sosial kok dan setiap konstruksi sosial boleh dan berhak dirombak selama ia tidak menyakiti hak dasar orang lain. Tapi nyatanya tidak bukan? Bung mengatakan bahwa moralitas kerap dijadikan argumen pembelaan terhadap kelompok LGBT, salah besar, moral adalah senjata pamungkas yang kerap digunakan untuk membabat habis ekspresi gender kelompok LGBT.

Bung yang ditahbiskan sebagai filsuf sepak bola, dan konon sejajar Zen RS, pasti banyak baca dong. Apakah anda tahu dalam tradisi Bugis terdapat lima ekspresi Gender? Mereka adalah: Oroane, Makkunrai, Calalai, Calabai, dan Bissu. Tiap tiap eskpresi gender ini memiliki tanggung jawab dan fungsinya dalam struktur masyarakat adat Bugis. Mereka ada jauh sebelum perdebatan LGBT ini ada dan punya peran penting dari masyarakat.

Oh sebentar, anda tahu kan jika seks dan gender adalah dua hal yang berbeda? Anda bisa melihatnya di sini jika terlalu malas, tenang ini bukan buku, ada gambarnya anda pasti bisa memahami.

Masyarakat Bugis memiliki kekayaan budaya yang demikian hebat sehingga akan membuat otak anda yang kecil itu pusing. Maaf, jika anda sekalian masih berpikir bahwa LGBT melulu perkara menikah sesama jenis, maka anda salah besar dan lebih baik mengulang mata kuliah filsafat pendidikan. Dalam tradisi masyarakat Bugis peran sosial Bissu memiliki fungsi penting terkait aspek spiritual daripada sisi seksualitasnya. Keberadaan kaum Bissu yang berada diluar gender membuat konstruksi gender dalam masyarakat modern berantakan. Sesuatu yang bung tak mungkin pahami karena mentok melulu berpikir gerakan LGBT semata perkara selangkangan.

Mengapa #LoveWins penting? Pada satu titik ia akan memberikan porsi lebih untuk menggugat omnirelevant dan doing gender  pada kelompok rentan. Yaitu kelompok transgender dan interseksual yang kerap mengalami diskriminasi serius. Peradaban patriarkhis menihilkan bahkan menindas kelompok ini sedemikian hebat sehingga kerap kali mereka diperlakukan tidak manusiawi. Banci misalnya kerap diperlakukan seperti pariya, dihina, disakiti bahkan menjadi objek bullying dan penghinaan.

Meski demikian bukan tidak ada kritik yang bisa disampaikan pada legalisasi pernikahan sejenis ini. Pada masyarakat modern LGBT masih mengalami diskriminasi dalam banyak aspek. Pendidikan, akses pekerjaan, status dalam masyarakat yang berujung pada banyak hal. Seperti kesehatan dan juga kemakmuran hidup mereka. Premisnya senderhana, untuk apa bisa menikah sesama jenis jika hak dasar seperti pendidikan dan jaminan kesehatan masih belum bisa diakses.

Malah jika Bung Edward mau menggunakan otak anda dengan sedikit saja lebih baik, sebenarnya masih banyak argumentasi yang bisa digunakan untuk melawan gerakan ini. Fakta bahwa di Amerika Serikat gerakan sipil masih terpentok pada wacana-wacana banal seperti pernikahan sejenis ketimbang perlindungan terhadap imigran, rasialisme kulit hitam, reformasi kepolisian sampai dengan pelarangan senjata api. Mungkin, tidak ada yang akan mati karena dilarang menikah, tapi banyak yang mati karena penggunaan senjata api ilegal di Amerika.

Anda tentu saja berhak berpendapat, bahkan, berhak pula curiga. Bahwa intelektual dan humanis di Indonesia barangkali mendukung pernikahan sejenis berdasarkan kehendak moral. Atau malah menuduh mereka ini adalah kelompok caper yang hanya bisa sok sokan merespon hastag. Itu sah dan bisa saja terjadi. Bung juga boleh mencibir curiga bahwa orang orang ini yang sok mendukung #LoveWins kecewa jika ada keturunan mereka yang jadi homoseksual.

Tapi bung alpa memahami gerakan ini dari kaca mata yang lebih luas. Ini bukan soal sekedar menikah, di Amerika ini adalah gerakan sipil. Serupa gerakan kulit hitam untuk diakui sebagai manusia dan serupa gerakan perempuan untuk memiliki suara dalam politik. Memandang legalisasi pernikahan di Amerika menggunakan konstruksi sosial di Indonesia, maaf, bagi saya status sarjana anda perlu dipertanyakan.

Oh ya, menyerukan toleransi adalah satu hal dan menurunkan pajak adalah satu hal lainnya. Saya ragu orang orang ahmadiyah dan kelompok minoritas lainnya peduli dengan pajak, ketika untuk berkeyakinan saja mereka mesti bertaruh dengan nyawa. Lagipula para “humanis liberal” inilah yang membuat anda bisa berpendapat begitu misantropik dan nihilis, coba jika anda hidup di korea utara atau saudi arabia. Barangkali nasib anda seperti Raif Badawi, siapa dia? Oh sekedar figuran dibanding tokoh pesudo intelektual Subcomandante Marcos yang anda elu elukan itu.

Pembukaan A Tale of Two Cities yang saya kutip di awal masih punya lanjutan. Dickens berkata "...it was the season of Light, it was the season of Darkness, it was the spring of hope, it was the winter of despair, we had everything before us, we had nothing before us, we were all going direct to Heaven, we were all going direct the other way." Barangkali ia benar. Barangkali kita sedang menuju ke sebuah zaman yang tidak ada satu setan pun tahu ke mana. Tapi setidaknya bung, saya meyakini bahwa anda sebaiknya membaca dan berpikir lebih banyak lagi.

Senin, 15 Juni 2015

Lampu Kuning Ekonomi Kita


Lesunya perekonomian Indonesia menjadi perhatian khusus Enny Sri Hartati, Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance Jakarta. Menurut Enny, bukan tidak mungkin krisis ekonomi seperti pada 1998 atau 2008 kembali terulang di Indonesia. Memang ada perbedaan antara krisis ekonomi 1998 dan saat ini.

“Saat 1998 kepercayaan publik kepada pemerintah sangat lemah. Secara fundamental ekonomi kita saat itu juga sangat lemah, utang luar negeri besar, defisit neraca pembayaran memicu harga-harga naik,” katanya.

Adapun hari ini kenaikan harga-harga lebih akibat salah urus atau pengelolaan kebijakan yang tidak tepat. Kebijakan ekonomi jangka pendek Indonesia tidak pruden. Jika ini diteruskan, bukan mustahil krisis ekonomi kembali terjadi.

Selain salah kelola kebijakan ekonomi, menurut Enny, yang menyebabkan perekonomian kita lesu adalah kredibilitas kebijakan ekonomi pemerintah yang tidak direspons dengan baik oleh para pelaku usaha. Inilah yang menyebabkan kebijakan yang dikeluarkan tidak efektif.

Kebijakan yang tidak jelas dan tumpang tindah melahirkan kebingungan para pelaku usaha. Tak ada panduan mengakibatkan mereka lebih memilih tak melakukan apa pun.

Kebijakan yang dikeluarkan pemerintah justru menimbulkan distorsi. Contohnya kebijakan menaikkan harga bahan bakar minyak, yang awalnya untuk memperbesar ruang fiskal. Ruang fiskal ini untuk stimulus dan memang ada jeda, tapi jeda tersebut tidak dikalkulasi dengan tepat.

Distorsi yang terjadi kemudian menaikkan banyak harga komoditas, sementara stimulus fiskal tak jalan. Inilah yang kemudian mengakibatkan ekonomi kita di zona lampu kuning.

Nilai tukar rupiah yang terus menurun akibat rezim devisa bebas juga memperparah kondisi ini. Uang yang keluar dan masuk tak bisa dikontrol dan ditentukan. Dengan adanya rezim devisa bebas, nilai rupiah tergantung pada berapa yang masuk dan yang keluar. Berapa permintaan terhadap dolar dan berapa dolar yang keluar. Inilah yang menentukan nilai tukar.

Jika mau, Indonesia bisa belajar dari Thailand. Hal semacam itu bisa dikontrol, karena permintaan terhadap dolar terbatas dan utang luar negeri Thailand kecil. Masalahnya, utang luar negeri kita besar. Tak ayal, ketergantungan pada impor sangat besar. Otomatis nilai dolar tak bisa dikontrol.

Menurut Enny, jika Bank Indonesia menilai penyebab krisis nilai tukar rupiah lebih pada sentimen, bukan pada fundamental, maka intervensi akan terbatas. Namun, jika sumber daya BI habis untuk intervensi terus-menerus, akan berbahaya.

Rezim keuangan yang liberal dan fluktuasi harga BBM –karena mengikuti harga pasar– juga bisa memantik ketidakstabilan harga-harga kebutuhan pokok. Energi dan pangan merupakan penyumbang terbesar stabilitas harga. “Jadi, pemerintah sendiri yang menciptakan triger untuk ketidakpastian,” ujarnya.

Menstabilkan harga-harga kebutuhan pokok tidak akan efektif jika hanya melalui imbauan, peraturan presiden, atau operasi pasar. Kita butuh langkah konkret. Masalahnya, selama ini kendalinya ada pada swasta. Akibatnya ada monopoli.

Adakah solusi? Enny menunjuk investasi pada sektor riil. Sebenarnya investasi asing akan positif ketika berdampak pada nilai tambah yang signifikan. Namun, itu bergantung pada bentuk investasi. Jika dalam bentuk penanaman modal, investasi asing punya nilai tambah. Apalagi jika masuk ke sektor yang punya unsur daya saing, seperti industri manufaktur.

Jauh lebih baik jika investasi semacam itu juga masuk ke sektor hulu, industri dasar, dan pertanian. Investasi itu jelas akan meningkatkan produktivitas. Pendek kata, jika investasi masuk sektor riil, dampaknya sangat besar untuk menumbuhkan perekonomian.

Dalam konteks ini, kata Enny Sri Hartati, kelak dalam neraca kita akan punya kewajiban dalam bentuk deviden dan repatriasi devisa. Modal yang keluar kembali dibayarkan pada pemilik modal. Jika investasi itu bisa diekspor, hal ini tidak akan berisiko pada perekonomian kita.

Sebaliknya, jika investasi asing masuk dalam bentuk padat modal dan industri yang bahan bakunya dari impor, Indonesia yang akan tekor. “Kewajiban valuta asing yang kita bayarkan akan lebih tinggi daripada valuta asing yang diterima.”