“Rindu yang ditahan itu menyakitkan. Seperti dendam yang
belum lunas,” katanya tiba-tiba.
Aku baru
pulang dari kantor setelah menerobos hujan yang begitu deras turun. Hujan yang
muntah besar seperti tak pernah hujan sebelumnya. Sementara ia sedang tertidur
di atas sofa. Separuh telanjang dengan payudara menggantung ranum.
“Pakai bajumu. Di luar hujan dan demi tuhan apa yang kamu
lakukan di rumahku R?”
“Kamu tahu Madd. Seperti harapan yang tak terpenuhi.
Rindu itu menyakitkan. Karena hanya diri kita sendiri yang merasakan,” lanjutnya tak
peduli. Ia masih terlentang dengan kaki terangkat menjuntai di sisi sofa.
Sementara bagian atas tubuhnya dibiarkan terbuka. Lampu depan rumahku yang
terang membuat bias warna emas di atas dadanya yang ranum tanpa sehelai kain.
“Kamu mabuk lagi?” tanyaku retoris.
“Aku tidak mabuk. Hanya sedikit lelah saja Madd. Kamu tahu?
Bekerja sebagai konsultan perusahaan periklanan itu melelahkan. Senyum sana
senyum sini. Menjilat klien dan sebagainya dan sebagainya.”
Ia masih
setengah telanjang. Sementara hujan
semakin gila memperkosa bumi dan angin seperti ingin mencabut segala tetumbuhan
di luar sana. Aku lelah dan ingin istirahat. Sementara satu-satunya orang yang
tak ingin aku temui malah terlentang di ruang tamu rumahku. Masuk tanpa ijin
seperti seorang maling yang piawai. Entah bagaimana ia masuk, kukira aku sudah
mengganti kunci rumahku dengan yang baru.
Aku masuk
ke kamar. Berusaha mengganti baju yang basah, bau apak, dan penuh keringat
karena seharian harus liputan di jalanan. Sementara perempuan di ruang tamu
rumahku masih tak beranjak. Bergumam dengan suara tak jelas tentang harga
bensin yang meroket dan kupon diskon yang kadaluarsa.
“Madd apakah kamu sibuk besok? Maukah kau dan aku pergi ke
pantai. Kamu tahu melihat senja.”
Senja. Ya,
dulu aku dan perempuan itu pernah sangat mengagumi senja. Menikmati bola mirip
bakso itu tergelincir perlahan-lahan menghilang ditelan kegelapan. Melihat pias
warna langit yang berganti dari biru lalu kuning lalu ungu lalu gelap lalu
hitam dan dikuasai malam. Seolah-olah kelak jika dunia kiamat maka prosesi
kehancuran bumi akan dimulai dengan tahapan-tahapan serupa senja yang turun
menuju malam.
Perempuan
itu masih mengoceh dengan kata-kata yang ditahan seperti manusia cadel. Setiap
mengatakan huruf S ia menambahkan huruf h. “Shetan, Shushah, Shakit, Shengak,”
katanya samar-samar. Cadel yang diakuinya didapat secara tak sengaja karena
digigit kucing saat ia masih kanak-kanak. Sewaktu masih duduk belajar mengeja
di taman kanak-kanak ia membawa kucing liar yang kumal. Lalu menggendongnya ke
dalam kelas. Lantas kucing itu menggigitnya kencang tanpa tendeng aling aling. Sejak
saat itu ia membenci kucing.
“Madd apa kamu
mendengarkan? Apa sih susahnya menjawab? Kamu selalu begitu tak pernah mau
peduli. Pantas jika dulu kutinggalkan. Ayolah apasih susahnya menjawab?”
katanya sambil berteriak.
Aku masih
terpaku di depan lemari baju. Aku lupa apa yang hendak kulalukan sebelumnya.
Terlalu banyak pikiran yang berseliweran di kepalaku. Mengenai cicilan rumah
yang terlambat. Potongan gaji yang terlalu tinggi dan permintaan pak RT untuk
menjadi pengajar anak-anak putus sekolah. Ah kenapa lagi anak-anak itu putus
sekolah. Kenapa juga mereka tak dibiarkan seperti itu luntang lantung di jalan.
Mereka toh punya orang tua. Terkadang orang terlalu sibuk memikirkan masalah
yang lain daripada dirinya sendiri.
Ku ambil
pakaian yang paling atas. Kaos kumal yang harum pewangi murahan. Ah Si Inah,
sudah ku bilang aku tak suka wangi yang ini. Anak itu memang susah diberi tahu.
Sebentar berapa usianya? 15-16? Kenapa dia jadi pembantu? Ah mungkin sama
dengan anak-anak putus sekolah yang lain. Ekonomi. Alasan paling mudah itu ya
ekonomi. Apa-apa ekonomi. Murah sekali. Seperti harga kaos kaki di pasar kaget.
3 pasang 25ribu. Ya meski hanya tahan di pakai beberapa kali lantas kaus
kakinya akan bolong. Segala yang murah memang lekas usang dan rusak.
“Madd hei Madd! Kamu dengar gak sih? Aku bilang kapan kamu
mau berhenti kerja? Hei jawab aku brengsek!” katanya sambil bersandar di pintu
kamarku. Masih telanjang dengan buah dada yang menggantung kencang. Matanya
memerah dengan gelap lelehan maskara dan sebelah bulu mata lepas. Rambutnya
dibiarkan menjuntai tanpa ikatan. Rambut hitam panjang yang selalu wangi seperti
bunga melati.
Aku diam
menatap matanya yang meredup seperti kelelahan. Mata yang kalah. Padahal dulu
ia memiliki mata yang terang. Mata yang menantang siapapun untuk beradu kuat.
Seperti seorang pejuang yang hendak melakukan puputan. Mata yang penuh kehidupan
dan semangat yang membuat banyak pengungsi dan relawan Merapi dua tahun lalu
kembali tersenyum. Mata yang sekilas bisa memberikan harapan untuk terus
berdiri dan menaklukan ganasnya kerja relawan dan kebosanan di pengungsian.
Mata yang
bisa menjadi sangat garang saat sebuah penyelewengan terjadi. Aku ingat
bagaimana perempuan itu berteriak lantang saat seorang pemuda tak mau memberi
duduk bagi perempuan hamil. Ia berkata-kata dengan intonasi terukur dan
memberikan pemuda itu lima menit terburuk dalam hidupnya. Dengan penutup sebuah
sumpah serapah jika kelak ada reinkarnasi ia akan dilahirkan sebagai perempuan
lemah beranak banyak. “Lelaki keparat yang suka memacu perempuan di atas
ranjang tapi ogah berbagi kursi bagi perempuan hamil. Cih lebih baik kau kebiri
dua bijimu dan lemparkan kepada anjing liar,” katanya berteriak.
Si lelaki
yang kalah pamor hanya bisa menahan amarah dengan muka memerah seperti udang
rebus. Ia lantas turun di pemberhentian berikutnya sambil mengutuk perempuan
itu sebagai sundal sinting. “Ya aku sundal! Tapi aku tak sudi melahirkan lelaki
keparat macam kau!” katanya dengan jari tengah mengacung. Sementara si
perempuan hamil hanya bisa tersenyum kikuk dan berasa tak enak hati dibela
dengan sedemikan rupa.
Tapi mata itu kini sayu dengan
kekecewaan. Seperti sebuah taman yang berganti menjadi kompleks pelacuran. Di
sana-sini kulihat sebuah pahit kegetiran atas hidup yang tak sejalan dengan
harapan.
“Pakai baju dulu. Di luar dingin. Apa kamu tak kedinginan?”
“Peduli setan dengan dingin. Kenapa kamu diam? Dan kenapa
kamu masih menyimpan baju kumal itu? Sudah ku bilang aku tak suka baju itu.
Kenapa masih disimpan?”
Matanya
masih kesepian. Masih sayu dengan lelehan maskara yang menggenang di kedua
pipinya. Mata yang menunggu waktu untuk meredup dan selamanya tertutup. Lantas
petir menyambar. Cahaya terang melewati kisi-kisi jendela seperti lampu blits
yang maha besar. Hujan masih turun dengan deras. Tetes airnya memukul-mukul
genting, seng dan tanah dengan keras dan bertalu-talu. Seperti sepasukan kecil
air yang hendak menenggelamkan bumi dengan bergegas.
Ah iya
perempuan itu membenci hujan. Membenci mendung tepatnya. Dia membenci segala
hal yang merebut cerah warna alami dunia. Di luar hujan telah lama turun, dari balik buram kaca jendela. Tak dapat kulihat apa-apa, selain bayangan warna warni lampu-lampu natal, hmmm, lampu-lampu natal*. Aku lupa jika hari ini natal. Hujan di saat natal, kidung doa maria, misa. Ah iya. Harusnya dia mengikuti misa natal.
"Selepas hujan berpakaianlah. Ini malam natal pulanglah R,"
Masih tak ada jawaban.
"Kau tak ingin pulang? Keluargamu menunggu. Pohon natal mesti dihias dan bukankah besok pagi kau ada misa?"
Hening,
"R? Hoi kau masih disitu?"
Lalu pelan suara tangis terdengar. Merambat pelan. Sesenggukan dan suara ingus yang ditarik. Tiba-tiba gelap. Mati lampu kukira. Karena di luar gelap total menyapu jalan. Bayarnya gak boleh telat matinya rutin. Kuputuskan untuk berjalan mendekati perempuan itu. Memberinya pakaian untuk dikenakan.
"Pulanglah. Malam akan semakin larut. Di sini gelap juga. Akan kutelpon taksi dan kau bisa pulang," kataku pelan. Ia menangis semakin menjadi. Aku tak bisa melihat wajahnya. Tapi kukira ia mengejang dengan wajah memerah dan maskara yang berantakan.
Aku ingat di laci meja tamu ada beberapa lilin. Ketika hendak kunyalakan ternyata tak ada korek. "Pakai ini," kata perempuan itu sambil sesenggukan. Korek? Darimana? Bukannya dia telanjang. Ah iya. Doraemon. Perempuan yang selalu siap sedia dengan segala macam benda dalam tas kecilnya. Rupanya ada beberapa hal dalam diri kita yang tak akan pernah berubah meski waktu berlalu gegas.
Cahaya lilin seperti merekatkan warna kuning yang meleleh pada setiap benda yang ada. Juga wajah perempuan itu. Perempuan yang ribut dengan dunianya sendiri dan menelan bulat-bulat segala masalah yang menyertainya.
"Aku benci gelap," katanya.
"Aku tahu. Makanya pulang yah."
"Kenapa kamu mengusir? Tak suka aku disini?" suaranya meninggi.
"Tentu. Kau datang tiba-tiba. Telanjang. Mabuk dan menangis dirumah orang. Jika warga mendengar aku bisa dituduh mencabuli," kataku.
Lalu suara tawa meledak. Suara tawa yang tulus dan sepertinya telah lama hilang sudah menemukan jalan pulang. Samar-samar dari cahaya lilin aku melihat barisan kawat gigi yang terjalin rapi. Wajahnya masih belepotan maskara yang menghitam. Tapi mata itu tidak lagi mati. Ada sedikit cahaya redup di sana.
"Kenapa ketawa?"
"Tidak. Konsepmu tentang mencabuli itu sungguh sangat absurd,"
"Well. Seorang wanita tanpa pakaian. Menangis. Setengah mabuk. Dan seorang pria dalam rumah tanpa orang lain. Itu sudah cukup,"
"Hahahaha...Tapi kau mencabuli? Akan jadi kejutan dunia!"
"Setidaknya. Aku hidup tanpa harus menangisi keputusan-keputusan lampau,"
"Ya.. Keputusan lampau,"
Hujan semakin deras sementara listrik belum juga menyala. Samar-samar kidung Malam Kudus terdengar dari seberang rumah. Hanya ada kami berdua, nyala lilin dan sunyi yang mencekam. Dari pantulan cahaya lilin yang bergoyang aku lihat mata itu kembali mati.
*dari lirik lagu Leo Kristi Bra-bra Desember
Tidak ada komentar:
Posting Komentar