![]() |
| Salah satu lukisan Toha. |
Saya membayangkan rentetan peluru berdesing cepat. Di kejauhan bunyi bom menggelegar seperti membelah bumi. Suasana panik tak terkendali. Teriakan mengaduh sayup-sayup terdengar di antara nyaring senapan. Sementara itu seorang anak, dengan selembar kertas dan cat minyak. Bersembunyi di balik pohon dan melukis suasana itu. Suasana saat Yogyakarta tenggelam dalam pertempuran hebat di awal Agresi Militer kedua Sekutu.
Hanya
itu yang saya bisa bayangkan dari hidup seorang Mohamad Toha Adimidjojo. Seorang
pelukis sekaligus kronik sejarah yang mengabadikan momen perang di jogja pada
1948. Saat itu ia masih berusia 11 tahun. Mengendap-endap di antara KNIL dan
sekutu. Menyembunyikan peralatan lukisnya untuk kelak mengabadikan momen-momen
yang menggetarkan.
Saya
kira kita berhutang banyak pada pemerintahan Belanda saat itu (dan juga kini)
yang mau menyelamatkan dan mengabadikan 45 lukisan Toha kecil. Saya kira jika
lukisan itu masih di Indonesia. Ia akan hancur. Bukan karena tak dirawat, namun
karena kedegilan politik rezim yang kerap kali tak bisa bersikap bijak pada
karya seni.
Mengingat
dan mengenali Toha bukan perkara mudah. Tak banyak orang di Indonesia yang
mengenal karya-karyanya. Bukan karena karyanya sudah di borong ke Rijksmuseum. Namun
karena keengganan masyarakat Indonesia untuk mencari dan mengenali sejarahnya
sendiri. Mereka kerap kali terjebak dalam hiruk pikuk kondisi kekinian.
Padahal
di Belanda karya-karya Toha telah beberapa kali dipamerkan dan mendapatkan
apresiasi yang luar biasa. Seperti pada 1992, ke-45 lukisan pejuang cilik ini di pamerkan di
Legermuseum di kota Delft. Di sana, menurut penuturan kurator dan kritikus seni
rupa Agus Dermawan T, “Lukisan Toha di asuransikan oleh Firma Blom En Van Der
Aa seharga 1 juta gulden dan mendapatkan pengamanan ketat oleh sejumlah polisi,”
Mau
tidak mau saya dipaksa kagum. Bahwa lukisan seorang anak usia 11 dari Indonesia
dihargai begitu rupa hingga mencapai nilai 1,4 milyar pada kurs 1992. Lebih
dari itu lukisan yang besarnya tak lebih dari telapak tangan itu mendapatkan
apresiasi yang begitu rupa dari masyarakat Belanda. Negara lain yang bukan
tanah kelahiran si pelukis. Saya kira kita berhutang sejarah pada mereka.
Kekaguman
masyarakat Belanda pada Toha tak berhenti sampai disitu. Pada 1993 sebuah film
berjudul Een waarheid met vele gezichten (Kebenaran dalam Banyak Wajah) membuat
banyak veteran dan pecinta sejarah Indonesia tercengang. Dalam film itu Toha
kecil dihidupkan dan direkonstruksi. Merekam ulang proses kreatif pelukis cilik
asal Yogyakarta itu.
Sedikit banyak saya menyimpan mimpi
untuk bisa ke Belanda. Untuk bisa masuk dan menghayati karya seni yang ada di Rijksmuseum.
Tentu untuk melihat langsung lukisan Toha yang oleh pelukis impresionis
terkemuka indonesia, Affandi, dijuluki “Berdaya tangkap tajam dan edan tenan!”
Jika Affandi sang maestro berkata demikian. Maka saya yakin Toha adalah sebuah
maestro yang terlipat dalam sejarah.
Di Rijksmuseum karya Toha bersanding
dengan para kanon-kanon lukis dunia. Seperti Vincent van Gogh, Rembrandt van
Rijn, dan maestro moii indie Raden Saleh. Dalam keremangan lampu dan penjagaan
ketat lukisan Toha memang jauh dari ‘rumah’, namun ia berada di tempat yang
tepat. Jauh dari hiruk pikuk kepentingan dan dicintai sebagai sebuah karya seni
tinggi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar