Di Indonesia tragedi, seperti
juga kematian, adalah sebuah perayaan yang dibesar-besarkan. Ada tangis,
kesedihan dan perpisahan. Tapi ada pula kasak kusuk, cerita busuk dan segenap
bumbu lain bernama fitnah.
Barangkali tak susah bagi kita
untuk mengingat kematian yang tak disertai oleh omongan-omongan tak perlu.
Tentang bagaimana sebuah kematian bisa disebabkan oleh dosa yang menumpuk. Di sini kualitas manusia hidup seringkali tak
lebih baik dari sebuah mayat yang perlahan menjadi bangkai. Kita mengenal azab.
Bahwa ajal manusia merupakan pembalasan atas sebuah kejahatan. Seolah-olah
Tuhan adalah anak kecil yang mendendam.
Apakah kematian itu selalu sebuah
takdir yang tegas?
Saya kira tidak. Kematian tak
bisa dihindari. Namun sebuah kematian akibat alasan yang tak perlu semestinya
bisa ditangguhkan. Ketika kemajuan teknologi kesehatan dan pemikiran sudah
mencapai tahap pari purna. Kematian akibat alasan sepele seharusnya tak perlu
terjadi. Apalagi hanya karena ketidakpedulian…
Tapi apakah benar kematian tak
bisa dilawan? Diego Mendieta, seorang lelaki tinggi dengan tubuh kekar dan
sehat. Ketika ia tiba di Indonesia ia tak pernah berpikir akan terbunuh oleh
kelelahan akibat sesuatu yang ia cintai. Sepak bola. Tapi bukankah kita sepakat
bahwa tuhan selalu punya lelucon yang tak tuntas? Seringkali cinta yang
menggebu membunuh paling cepat.
Diego luput dari panggung cerita
utama media. Padahal ia, seperti juga mungkin ratusan pemain sepak bola lain di
tanah ini, sedang menunggu kepastian. Perihal kisruh yang melahirkan terlalu
banyak kebohongan, kekecewaan dan sumpah serapah. Media kita lebih suka
kekerasan, sensasi dan skandal. Ada Diego lain yang lebih cocok dari peran ini,
yang barangkali kemampuannya tak lebih baik dari Diego kita.
Di Paraguay Diego meninggalkan
istri dan dua orang anak. Barangkali ketika ia berpisah dengan anak istrinya ia
berjanji banyak hal. Tentang sebuah rumah sederhana yang kelak akan dimiliki
seusai pulang dari Indonesia. Barangkali pula, sebagai seorang ayah, Diego berjanji
pada anaknya beberapa buah mainan. Sebuah robot-robotan dengan sinar merah yang
memancarkan laser. Tapi semua itu kini tak penting lagi. Sang ayah, sang suami,
sang matahari sudah meredup mati.
Siapa yang salah? Tak ada yang
patut disalahkan pada sebuah kematian. Tidak juga tuhan.
Kematian semestinya bukan
tragedi. Ia adalah perpisahan agung. Karena hidup manusia akhirnya purna dengan
beralihnya alam. Namun apakah kematian itu perlu dirayakan? Ketika peristiwa
kudus itu terjadi akibat kelalaian seseorang? Keacuhan yang melahirkan drama?
Tak ada kehormatan pada seseorang yang membiarkan kematian, sementara ia bisa
menyelamatkan hidup. Manusia yang demikian adalah kehinaan yang nyata.
“Aku hanya ingin tiket pulang ke
rumah. Agar aku bisa bertemu dengan mama,” kata Diego menjelang sakratul maut.
Kira-kira begitu. Ada yang lelah dalam kalimat itu. Sebuah penerimaan akan
kekalahan dan rasa rindu yang teramat sangat. Siapakah manusia yang bisa dengan
keji menafikan permintaan semacam ini? Adakah harga dari sebuah keinginan? Atau
semua atas nama ambisi adalah fana belaka.
Perlu ada sebuah perubahan. Kita
bersama tahu siapa pihak berseteru yang menyebabkan petaka ini. Semestinya
mereka menyadari di antara perang dua gajah yang berseteru, akan ada kehancuran
yang menyertai. Ataukah kata-kata sudah kehilangan daya, sehingga
kalimat-kalimat tak lagi dipahami. Seruan dilupakan dan peringatan
ditanggalkan. Kita adalah manusia-manusia nir bahasa yang tak lagi mampu
mengeyam perbincangan.
Kisah hidup Diego Miendeata membuat
saya teringat sebuah sajak pendek milik Alexander Sergeyevich Pushkin. Dalam Solitude ia berbicara soal mimpi dan
hidup yang layak dengan lirih. “He's
blessed, who lives in peace, that's distant” katanya. “ From the ignorant fobs with calls, Who can
provide his every instance. With dreams, or labors, or recalls;” adakah
sebuah igauan berarti ketika maut menjemput? Saya kira ia tak pernah berarti
apa-apa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar