
Ada yang luput dari perhatian kita saat seluruh jagat
penikmat musik Indonesia mengunduh Happy Coda milik Frau. Bahwa pada hari itu
jauh nun di Surabaya Taman Nada, sebuah band folk minimalis, tengah melepas EP
yang berisikan tiga lagu. Barangkali memang riuh yang terlanjur mapan itu lebih
legit daripada mencicip satu yang asing. Tapi biarlah demikian, de gustibus non est disputandum, memperpanjang
perdebatan hanya akan membuat kita jadi bodoh.
Lantas apa yang membuat band ini patut diperhitungkan? Bagi
saya tidak ada. Ia terlalu biasa untuk dapat disejajarkan dengan band sejenis
semacam Payung Teduh, Dialog Dini Hari, Banda Neira atau senior mereka di kota
yang sama Silam Pukau. Tapi menyoal kesederhanaan yang terlampau biasa itu bisa
sangat beracun. Membuat sesuatu yang mudah dipahami dan dinikmati bukan perkara
mudah. Pada beberapa aspek, selain kualitas sound yang sedikit kasar, Taman
Nada memenuhi elemen itu. Yaitu menjadi biasa dan diterima.
Pada Self-titled EP
ini Taman Nada tidak ingin menjadi pretensius dengan membuat musik berat sesuai
teori musik klasik. Mereka hanya ingin bermain-main seusai jam olah raga,
bergurau di gardu satpam, bercengkrama di hadapan api unggun atau dalam bahasa
Ivan Makshara dalam pengantar album ini, “sekedar
ode untuk menyambut pagi”. Bagi saya sendiri Taman Nada adalah oase di
tengah hiruk pikuk musik yang terlampau serius, tendensius dan obscure. Lagi pula siapa sih yang betah
melulu menjadi sendiri dan berbeda?
Tapi apakah itu membuat Taman Nada istimewa? Sekali lagi
tidak ada yang istimewa dari Taman Nada. Suara sengau-nyaris-parau sang vokalis
Atthur Razaki hampir tenggelam pada beberapa bait lagu, petik gitar Salman Muhiddin
dan Zaki Rifian pada lagu kedua seolah berusaha tidak tenggelam dari suara
pianika Nandiwardhana. Lantas lirik yang berusaha menyesuaikan rima sehingga
melahirkan kosa kata ambigu semacam ‘histori’. Untungnya masih ada suport Dwiki
Putra pada Bass dan Aryok Pratyaksha pada drum. Lalu jika band ini lebih banyak
mudharatnya, mengapa ia patut
didengar? Karena, menurut saya, Taman Nada hanya ingin didengar. Sesederhana
itu.
Nomenklatur musik Taman Nada adalah kesederhanaan. Ia sudah
bisa dikenali sejak lagu pertama dalam EP ini yang berjudul Fase. Tiras detik
pertama lagu ini dimulai dengan suara siulan yang nyaris menyebalkan. Namun ia
tak lama, beberapa saat kemudian petik merdu gitar pelan merambat. Ia
menghadirkan sebuah nostalgia tentang tanah yang lapang, montase dari fragmen
ingatan tentang masa lalu. Ini kesederhanaan yang saya cari, petik gitar malas,
lirik naif yang kelelahan-namun optimis. “Gugurlah
sang waktu, runtuhkan dinding-dinding belenggu. Dimensi yang baru, jalan
hidupku.”
Sementara lagu kedua, Marilah Mari, membuat saya ingin sekali
menjuluki Taman Nada sebagai sebuah band karang taruna yang lahir sebelum malam
17 Agustusan. Ia rancak, riang, riuh, ramai, rindang dan ramah. Lagu ini
berlirik sederhana, mudah diingat dan dinyanyikan, serta membius untuk turut
berdendang. “Regangkan lelah kitarilah
aku / Rentangkan tangan, rengkuhlah angkasa /Sempatkan puja, sisipkan doa /Langitkan
harap lautkanlah cinta”. Ia seperti sebuah lagu cinta yang malu-malu, yang
membuat pendengarnya diam-diam tersenyum dan ingin memeluk siapapun yang ada.
Ia secara magis membangun mood untuk menjadi hangat dan bersemangat.
Jalan Pulang adalah sebuah kejujuran yang otentik tentang
bagaimana sebuah perjalanan kembali ke rumah harus dilakukan. Ia tak bicara
tentang pencarian jati diri, tentang pengalaman jauh, tentang penaklukan diri.
Bagi Taman Nada, Pulang adalah saat dimana Sepasang
mata mengandung rona rumah. Pulang hanyalah perihal mengistirahatkan
sepasang mata yang kelelahan dan memanjakan kantuk yang teramat sangat.
Semua lirik dalam album ini dikarang oleh Atthur Razaki.
Entah mengapa saya mengalami kebingungan, dalam arti positif, bagaimana di kota
seperti Surabaya yang bising, ia bisa mencipta lirik yang subtil. Bagaimana
Atthur menerjemahkan narasi susurkota (Suburban) menjadi sebuah keriangan yang
meredakan kegelisahan. Hal yang sama juga saya temukan pada lirik-lirik
Silampukau dan Greats. Rata-rata mereka bicara tentang optimisme kecil yang
ringan. Mereka melampaui apa yang disebut Harold Bloom sebagai Anxiety of Influence.
Tapi mengutip Bloom tidak relevan pada persepsi serta tafsir
kita pada musik. Bagi saya Taman Nada melahirkan kerinduan pastoral ketika
hidup di metropolis. Bagi anda ia mungkin bisa jadi lain. Ketika saya
berpendapat Taman Nada tidak jatuh pada kategori sentimentil namun tidak pula
terperosok pada kriteria angkuh. Anda bisa saja mengatakan sebaliknya. Tapi
review ini terlampau panjang untuk menjelaskan tiga lagu pendek yang habis
didengar dalam rentang tempuh satu stasiun Commuter
Line.
Seperti yang saya katakan sebelumnya. Taman Nada hanya
sekedar band karang taruna yang musiknya adalah sebuah jarak akan masa silam.
Dimana kita bisa bebas bermain sebagai anak kompleks ataupun bocah pematang
sawah. Taman Nada adalah suara biasa saja yang rindu kita dengarkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar