Kediaman
Slamet Abdul Sjukur berada di sebuah gang kecil di pusat kota Surabaya. Untuk
masuk ke dalam rumahnya, pengunjung harus memasuki gapura tua dengan lorong
yang digunakan sebagai masjid. Mobil dan motor tak bisa masuk dalam tempat ini,
jika ingin mampir anda harus turun dan berjalan kaki ke dalam gang yang serupa
labirin.
Warga
sekitar tempat tinggal SAS, begitu ia disapa, mengenalnya sebagai musisi. Tak
jelas musisi apa, yang jelas SAS kerap dianggap mengerti musik. “Pak Slamet
yang maen musik itu ya?” kata tetangganya saat kami bertanya alamat tempat
tinggalnya. Rumahnya sederhana, sebagian besar ruangan di kediaman SAS kosong
tanpa perabotan. Hanya beberapa lemari yang ditempeli gambar, foto, poster dan
puisi.
Tahun ini
SAS berusia 79 tahun. Wajahnya yang dipenuhi kerutan dan beberapa uban di
rambutnya tidak mengubah jalang semangat di matanya. Bahkan dalam usianya yang
memasuki senja, karya dan aktivitasnya dalam bermusik tidak bisa dihentikan.
Tapi siapakah sebenarnya Slamet Abdul Sjukur ini?
“Saya tu
komponis, komponis itu pengarang musik,” katanya. Ia mengatakan bahwa komponis
bukan profesi yang dikenal masyarakat banyak. Kebanyakan dari kita memaknai
komponis sebagai pekerjaan yang dianggap tidak ada. Untuk memudahkan pemahaman
bagi khalayak umum, SAS menyebut dirinya sebagai pemusik saja. “Saya pernah
dianggap penyanyi,” katanya.
Slamet
Abdul Sjukur lahir di Surabaya, 30 Juni 1935. Pada mulanya SAS hanya sekedar
belajar alat musik piano ”Saya kebetulan saja belajar musik,” katanya. Ia
pertama kali belajar musik pada usia 9 tahun sampai kemudian mencapai Sekolah
Musik Indonesia SMIND (saat ini ISI Yogyakarta). Saat itu guru piano SAS
ditunjuk menjadi pengajar di sekolah itu. “Saat itu menjadi masalah, orang tua
saya keberatan,” katanya.
Pada saat
itu belajar musik adalah pekerjaan yang tidak punya masa depan. Sampai hari ini
menguasai alat musik sekedar sebagai hobi dan ketreampilan belaka. “Sampai hari
ini orang banyak yang percaya bahwa yang menguasai alat musik adalah orang yang
punya wahyu dan jenius,” katanya.
SAS
mengkritik bahwa di negeri ini proses penciptaan karya musik berpihak pada
industri ketimbang pada pengembangan minat dan bakat. Ia mencontohkan
keberadaan lembaga hak cipta. Profesi komponis sampai sekarang masih belum umum
diakui. “Tapi kita ada badan hak cipta, itu kan aneh, yang dipikirkan bukan
keseniannya tapi fulus (uang)” kata SAS. Ia melihat Indonesia sebagai sebuah
negeri dongeng yang punya banyak keanehan.
SAS tak
punya guru komposer, ia hanya belajar musik dari guru pianonya. Namun perihal
komposisi musik ia mengaku mendapat inspirasi dan belajar secara otodidak dari
majalah sastra Zenith. Dalam majalah tersebut ada artikel tentang musik, kritik
musik dan partitur dari musisi Indonesia yang terkenal. Dari sana ia lantas menyusun
dan membuat komposisi awalnya secara mandiri. “Dalam majalah itu saya kena Amir
Pasaribu, dia idola saya,” kata SAS.
Ketika
sekolah di Jogja, SAS bertemu dengan Amir Pasaribu. Ia menunjukan salah satu
komposisi awal yang dibuatnya berjudul Tobor. Amir Pasaribu menyukai dan
mengagumi karya SAS ini dan bertanya kepada siapa dalam komposisi ini. Menurut
Amir Pasaribu seorang komposer harus memiliki guru. Sejak saat itu Amir
Pasaribu memandang sedikit berbeda kepada Slamet yang dianggapnya tidak punya kejelasan
karya. “Saya bonek saja bikin komposisi ini,” kata SAS.
Tobor
merupakan karya yang dipersembahkan untuk anaknya. Karya ini terdiri dari
beberapa bagian seperti Hyong, Tiring, Dub dan Uklung. “Bagi saya musik itu
adalah keindahan bunyi,” kata SAS. Pada saat itu SAS mulai berjejaring dengan
sesama seniman lantas berjumpa dengan Utuy Tatang Sontani. SAS dipercaya
membuat komposisi musik untuk lakon opera berjudul Sangkuriang.
Ditolak
belajar oleh Amir Pasaribu, SAS lantas memutuskan untuk tidak belajar pada
siapapun. Ia lantas menginginkan belajar di luar negeri. Pada 1952 ia berangkat
ke Perancis untuk mendaftar sekolah. SAS menuju Belanda untuk transit dengan
kapal laut selama 30 hari. Sesampainya di Perancis ternyata di sana sedang
musim liburan sekolah. Ia lantas tinggal di Amsterdam di kediaman kerabatnya.
Pada saat itu SAS ditemani oleh sang ayah. Selama di Belanda SAS juga melakukan
pengobatan terhadap cacat kakinya.
Namun
karena perang dunia II makin gawat, SAS dipaksa pulang oleh sang ayah dengan
naik pesawat terbang. Sepulang ke Indonesia pada 1960 SAS mendirikan “Alliance
Francaise” sebagai lembaga persahabatan Indonesia dan Perancis. Kepeduliannya
terhadap musik membuat duta besar Perancis kagum. Ia lantas ditawari hadiah
buku dan piringan hitam “Tapi saya ngelunjak, ingin belajar di Perancis,”
katanya.
Pada 1962
SAS mendapatkan beasiswa ke Perancis dan sekolah di Concervatoire National
Superieur de Musique. Bakat SAS yang luar biasa mendapat perhatian dari Oliver
Messiaen dan Henri Dutilleux, dua maestro komposer Perancis sampai dengan 1976.
Beberapa kali dirayu SAS menolak kembali ke Indonesia karena di Perancis SAS
telah memperoleh pengakuan karya yang tinggi.
Namun meski
telah diakui karyanya bahkan oleh kalangan profesional di Perancis, dan
mendapat penghargaan oleh negara Perancis, SAS tak ingin sombong. “Setau saya
banyak orang orang kita sekolah di luar negeri, apalagi cumlaude, merasa lebih
hebat dari Gusti Allah,” katanya. Ia masih mau belajar dan berjuang capaian
dirinya. Di Perancis ia telah mapan dan menjadi komposer yang diakui.
Namun
berkat rayuan Sumaryo Lukman Efendi, seseorang yang sangat dihormati SAS, ia
akhirnya pulang. Setelah 14 ahun tinggal di Perancis SAS kemudian kembali di
Indonesia lantas mengajar di Institut Keseian Jakarta sampai 1987, lantas
mengajar di STSI (Sekolah Tinggi Seni Indonesia) di Solo.
Bagi SAS
musik adalah segalanya. Ia pernah dilarang mengajar di IKJ dan dituduh komunis
karena menerima penghargaan dari pemerintah Hungaria. Namun karena baginya
musik tak ada kaitannya dengan politik jadi ia menerima penghargaan itu. “Saya
tak ada masalah, karena kalau sekedar penghasilan murid privat saya lebih
banyak daripada jadi pengajar,” ujarnya.
Selepas di
IKJ, SAS lantas mengajar di ISI Solo. Di sini ia juga berdebat dan bertikai
perihal pola pendidikan kesenian. Baginya institusi pendidikan seni di
Indonesia tidak sedang menciptakan pekerja seni tapi malah menciptakan seniman
akademis. Seni harus ilmiah, logis dan rasional SAS menolak ini. “Misal menjadi
dalang harus punya gelar dalang,” bagi SAS ini adalah hal yang aneh.
Apresiasi
bangsa Indonesia terhadap karya seni oleh SAS masih dianggap rendah. “Kita
tidak punya kepribadian,” katanya. Ia mencontohkan keberadaan orang Indonesia
dari barat berubah kebarat-baratan, atau orang yang baru pulang naik haji yang
ke arab-araban. Jika tak punya kepribadian sehingga susah menghargai capaian
bangsa sendiri.
Hingga saat
ini capaian SAS diakui oleh dunia. Seperti: Bronze Medal dari Festival de Jeux
d’Automne in Perancis (1974), Piringan Emas dari Académie Charles Cros di
Perancis(1975, untuk karyanya berjudul Angklung) dan Medali Zoltán Kodály dari
Hungaria (1983). Dalam rangka Tahun Debussy (perayaan 150 tahun
komposer legendaris Claude Debussy di tahun 2012), SAS diminta oleh IFI untuk
menggarap sebuah proyek musik tentang pertemuan Debussy dengan musik gamelan
pada Exposition Universelle di Paris tahun 1889.
Tentang Claude
Debussy, SAS punya kisah menarik. Komposer Perancis yang dianggap dipengaruhi
oleh gamelan. “Sebenarnya bukan dipengaruhi tapi tertarik oleh gamelan,”
katanya. Debussy yang kagum dengan Gamelan merevolusi komposisi musik dunia.
“Ada buku pengaruh-pengaruh musik Indonesia terhadap musik abad 20 karya Patrick
Revol,” jelasnya lagi.
Sebagai
orang Indonesia SAS tak ingin kehilangan jati dirinya. “Bagaimanapun juga, saya
tidak bisa berpikir tidak sebagai orang Indonesia,” katanya. Segala capaian dan
karya yang ia bikin sedikit banyak adalah citra pengalamannya sebagai orang
Indonesia. “Perkara saya diakui oleh Pemerintah Indonesia itu masalah lain,”
katanya.
"Atau orang yang baru pulang naik haji yang ke arab-araban" saya suka bagian ini, sangat relevan sama keadaan disekitar kita
BalasHapusBerkesenian, memang butuh kejujuran.. Jadi diri sendiri akan selalu unik
BalasHapus