Tampilkan postingan dengan label Lingkungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lingkungan. Tampilkan semua postingan

Senin, 10 Desember 2012

Menuju Indonesia Berdikari Energi

Aldous Huxley, seorang novelis masyur Inggris, memulai novel seminalnya Brave New World dengan sebuah deskripsi yang apokaliptik tentang masa depan yang suram. Kita dipaksa percaya bahwa waktu yang belum hadir itu adalah sebuah keniscayaan. Bahwa suatu saat ketika seluruh sumber daya alam habis. Kita akan masuk ke dalam sebuah masyarakat otoritarian yang tunggal, mekanis dan terdisiplin karena terbatasnya sisa sumber daya.

Manusia hari ini saya kira sama takutnya dengan para manusia yang digambarkan Huxley dalam novelnya tersebut. Bahwa suatu saat nanti keberadaan kita mesti diatur dalam sebuah sistem yang mengontrol tumbuh  kembang populasi manusia. Takut akan masa depan yang tak pasti bahwa suatu saat dunia akah menjadi sebuah arena dominasi karena habisnya sumber energi fosil. Sementara teknologi baru sama sekali terlambat mendapatkan gantinya.

Lantas bagaimana Indonesia?

Dalam penelitian terbaru yang dilakukan Dirjen Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, konsumsi bahan bakar minyak negara ini masih sangat besar. Yaitu sebesar 42,99% dari konsumsi energi total. Kemudian diikuti gas dan batubara masing-masing 18,48% dan 34,47%. Sementara jika ini terus menerus dilakukan diperkirakan pada 10 tahun mendatang cadangan energi fosil kita akan habis sama sekali.

Pertamina sendiri sebagai salah satu penyedia jasa energi fosil Indonesia menyadari ini. Bahwa suatu saat nanti energi fosil akan habis dan manusia mau tak mau harus berganti energi. Lantas bagaimana cara untuk melakukan penghematann energi tersebut? Lebih dari itu bagaimana cara untuk melakukan perubahan paradigma ketergantungan energi fosil ke energi yang terbarukan?

Seringkali pemahaman kita terhadap sumber energi yang terbarukan salah kaprah. Bahwa untuk mendapatkan energi yang baik dan tepat guna harus mengeluarkan biaya yang sangat mahal. 

Hal inilah yang coba dipatahkan oleh siswa-siswa SMK Trisakti Tulangan, Sidoarjo, Jawa Timur. Dengan kesungguhan tekad dan pemahaman yang menyeluruh tentang energi alternatif, mereka menciptakan karya inovatif becak bertenaga surya. Tanpa dikayuh, becak ini sudah bisa berjalan dengan kecepatan rata-rata sampai 30 kilometer/jam. 

Melalui teknologi Solar cell diletakkan di atap becak. mereka memanfaatkan energi matahari atau solar cell yang melimpah di alam terbuka. Energi matahari yang diserap nantinya akan disimpan menjadi energi listrik di baterai yang sudah dirancang. Dengan kapasitas baterai yang dikonversikan dari energi surya tersebut mampu menghasilkan 288 watt dan kapasitas angkut sampai 150 kilogram. 

Menariknya teknologi ramah lingkungan dan bebas bahan bakar fosil itu tak memakan biaya mahal.

Anak muda kreatif asal SMK tersebut 'hanya' menghabiskan dana kurang dari 10 juta hingga tercipta becak tenaga surya. Becak ini tak menggunakan bahan bakar fosil yang berarti bisa menghemat pengeluaran. Minimnya limbah pembuangan berarti becak ini ramah lingkungan. Jika hendak ditotal dari perakitan hingga efek yang dihasilkan, apa yang dilakukan anak-anak ini jauh lebih mahal dari apa yang nampak.

Kita seringkali takut pada hal-hal yang belum kita pahami. Begitu juga dengan energi yang terbarukan. Misalnya dengan pembangkit energi nuklir atau panas bumi yang dianggap tidak stabil. Kita manusia sepatutnya belajar bahwa energi yang baik tak melulu lahir dari pusat pembangkit listrik yang masif dan super besar. Dengan ketekunan dan kemauan mengolah potensi lingkungan sekitar sebenarnya kita bisa mendapatkan energi murah dan gratis.

Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (Puslitkoka) Indonesia di Jember sudah lama mempraktikkan kemandirian energi di lingkungannya. Memanfaatkan limbah organik dari pabrik pengolahan kopi dan cokelat mereka mampu mendapatkan suplai gas metan gratis. Selain itu energi tadi dapat dikonversi menjadi sumber listrik mandiri yang bermanfaat bagi mesin-mesin pengolahan pabrik mereka.

Melalui pengembangan dan penelitian terpadu hampir semua bagian dari instalasi dan reaktor biogas itu dibuat sendiri oleh Puslitkoka. Komponennya pun seratus persen didapat dari produk lokal jember. Bahan baku yang dibutuhkan oleh mesin pengolah biogas terserak melimpah di sekitar lokasi pabrik. Bahan baku itu bisa berupa limbah kulit kopi, cokelat, maupun kotoran ternak.

Sebenarnya dalam lingkup yang lebih luas teknologi ini bisa diaplikasikan untuk menyuplai energi satu lingkungan masyarakat. Memang butuh pengembangan yang lebih serius agar teknologi ini bisa digunakan secara masif. Namun yang penting adalah bahwa baik pemerintah maupun masyarakat perlu diberitahu dan disadarkan bahwa masih ada alternatif energi selain bahan bakar fosil yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari.

Tapi apakah ini mungkin? Energi terbarukan yang bebas limbah atau polusi?

Mengapa tidak? Kunci penting dari sebuah energi terbarukan adalah kemampuannya untuk bisa bersinergi dengan lingkungannya. Matahari, angin, ombak laut dan juga panas bumi sangat potensial dikembangan sebagai energi, sementara disaat bersamaan dengan pengelolaan yang tepat guna mereka akan menghasilkan emisi atau limbah buang yang sama sekali kecil.

Namun yang penting selama ini adalah perubahan paradigma konsumsi bahan bakar yang masih terpaku pada energi fosil. Konsumerisme yang menjadi identitas kebudayaan juga bisa menjadi salah satu penyebab sebuah negara mengalami pemborosan energi yang besar. Bayangkan pada sebuah keluarga jika tiap anggota keluarganya memiliki masing-masing kendaraan bermotor sendiri? Polusi tinggi, konsumsi bahan bakar besar dan yang jelas keborosan yang tak perlu.

Untuk itu perlu segera ada usaha langsung untuk memperkenalkan teknologi ramah lingkungan berbasis energi terbarukan tadi. Dalam lokus yang lebih besar menghemat penggunaan bahan bakar fosil berarti menghemat beban subsidi APBN. Hal ini bisa berarti anggaran yang ada bisa dialihkan kepada pos lain yang lebih membutuhkan. Misalnya kepada penelitian pengembangan energi alternatif atau pendidikan.

Lantas apa yang saya lakukan?

Saya mencintai kendaraan umum, terutama kereta. Di kendaraan umum saya bisa bertemu banyak orang dan membayangkan apa pikiran dalam masing-masing orang yang naik kendaraan itu. Aneh memang, tapi hanya ini yang bisa saya lakukan dalam usaha mengurangi konsumsi energi fosil. Dengan memanfaatkan kendaraan umum atau bahkan berjalan kaki. Mungkin tak banyak membantu, namun saya yakin bahwa dengan menggunakan kendaraan umum saya berpartisipasi dalam usaha pengurangan polusi.

Lebih dari itu dengan berjalan kaki saya merasa lebih bisa melakukan observasi dan merenung. Berjalan kaki adalah upaya sehat yang semestinya bisa membantu kita merasapi keberadaan alam. Tentu hal ini tak mudah. Dalam banyak fragmen film Before Sunrise saya sangat iri dengan pedestrian ramah pejalan kaki yang memungkinkan kita flâneur sepuasnya. Kadang saya meyakini bahwa banyaknya kendaraan pribadi lahir akibat minimnya sarana pedestrian dan angkutan umum yang layak.

Sebagai penutup saya ingin mengutip jokes yang disampaikan komedian Amerika Bill Maher perihal energi alternatif. Ketika ia membandingkan energi fosil dan energi terbarukan. "Ketika kapal tanker jatuh ke lautan luas. Sebuah ekosistem akan terancam hancur dan tercemar. Tapi jika baling-baling (pembangkit listrik tenaga angin) jatuh kau hanya kebasahan."