
Kamis, 06 Oktober 2011
Saat Malam usai dan cahaya mulai muncul

Menunggu Hujan

Senja yang sedari tadi sibuk kupandangi seperti hendak rubuh. Apa pula maksud pertanyaan ini? Selalu saja ada pertanyaan ajaib yang kadangkala tak habis pikir muncul darimana. Seperti siapa pencipta sambal. Mengapa langit mendung warnanya keruh dan siapa sebenarnya Godot itu. Pertanyaan pertanyaan yang kerapkali harus kuhindari dengan pura-pura sakit perut.
"Nggak tahu," jawabku singkat.
Kita sama-sama tahu. Aku benci merencanakan masa depan. Itu perkara bodoh. Merencanakan masa depan itu bertindak seolah Tuhan. Belum lagi repotnya berpikir mengenai hal-hal ini dan itu. Pekerjaan yang melelahkan.
Kamu diam. Diam yang merajuk. Seperti tak puas dengan jawabanku. Tentu kamu tak puas. Aku saja tak puas. Itu sekedar jawaban. Aku malas berpanjang debat mengenai hal-hal yang bahkan kita tak tahu apa tujuannya. Seperti masa depan dan ingatan yang lunas.
"Kamu tak serius, ayolah coba pikirkan" serumu.
Bah. Sejak kapan manusia harus tahu mau jadi apa ia kedepan. Jika kujawab jadi nabi pun kamu pasti akan anggap aku bercanda. Terlalu banyak kemungkinan-kemungkinan picik dimasa depan yang membuat rencana kita itu gagal. Dan jika gagal hanya ada sedert kekecewaan yang menunggu penjelasan-penjelasan basi. Bahwa hidup tak adi. Tuhan tak ada dan bla bla bla.
"Pawang hujan,"
"Kenapa pawang hujan?"
"Menyenangkan melihat mendung. Berkuasa atas hal hal yang dibenci di perjalanan,"
"Perjalanan?"
Berbicara denganmu membutuhkan stamina seorang porter Mahalangur di puncak Everest. Kamu tak pernah puas dengan jawaban yang berkutat pada ya dan tidak. Aku sendiri heran mengapa kau tak jadi detektif atau seorang interogator. Pertanyaanmu serupa ranjau darat.
"Aiss.... Banyak pejalan yang bergantung pada cuaca untuk melakukan sebuah perziarahan,"
"Lalu?"
"Jika hujan mereka cenderung diam dirumah. Beberapa orang berpikir tetes hujan dan basah dapat membunuh mereka,"
"Ribet! Lebih singkat. Jangan pakai filsafat. Aku tak seperti kamu,"
Aih! Kenapa segala hal ini harus di jelaskan dengan sederhana?
"Pertanyaanmu rumit. Ganti yang lain sajalah,"
"Ah tidak. Kamu malas berpikir. Ayolah,"
Aku benci melihatmu memohon. Memohon dengan mata teduh dengan bulat pupil serupa anak ayam.
"Andaikan hujan adalah sebuah perjudian. Mendung dan perjalanan jauh adalah sepasang variabel yang mempengaruhi perjudian. Para peziarah pasti berharap hujan tak datang."
"Masih ribet Madd. Yang sederhana saja. Kenapa kamu gak bisa menjelaskan sederhana seperti Wesi?"
Anjing. Nama itu. Wesi, sahabatku. Jadi kamu masih berhubungan dengannya. Aku beranjak malas menjelaskan.
"Kenapa diam?"
Ah sial! Tatapan mata itu lagi.
"Andaikan kamu sedang pulang kuliah. Lapar. Tak bawa uang. Dan satu-satunya penyelamatmu adalah pulang kerumah dan makan. Sedang kamu membawa banyak kertas riset selama sebulan. Dan awan hitam datang. Mendung terlampau pekat. Disertai petir dan kilat. Apa yang kamu harapkan,"
"Menunggu seseorang mengantarkanku pulang,"
"Aih. Andaikan pula Kau sendirian,"
"Ah kamu bertele-tele katakan saja, apa maksudmu,"
"Apa yang diharapkan dari sebuah perjalanan panjang tanpa perlindungan dengan kemungkian hujan deras?"
"Tentu aku berharap tak hujan. Tapi apa hubungannya dengan pawang hujan?"
Aha. Aku selalu suka wajahmu yang mencari tahu. Ekspresi penasaran yang melahirkan kerutan di lekuk pipimu.
"Pawang hujan punya kuasa untuk menentukan hujan turun atau tidak,"
"Ah sok bersikap tuhan!"
"Baaah. Apa bedanya pertanyaanmu mengenai apa yang terjadi padaku 10 tahun lagi?"
Hening datang. Senyap yang lindap ini merongrong suasana sore di Patehan. Sementara Alun-alun Kidul masih sama seperti tadi saat kita berjalan. Ramai dengan segala keramaian dan hingar bingar para warga yang bercengkrama.
"Kalau aku Madd. 10 tahun lagi Aku akan punya anak. Banyak sekali. lima anak yang lucu-lucu," katamu.
Anak? Bah. Mengurus seekor maskoki saja kamu gagal. Bagaimana pula mengurus anak.
"Anak-anak itu manusia sempurna R. Bukan seekor maskoki yang bila mati bisa kau ganti dengan iguana,"
"Aaaaaaah. Biarlah. 10 tahun lagi aku akan jauh lebih bijak,"
Demi segala demit penguasa laut kidul. Bijak? Itu hal terakhir yang kuharapkan berubah darimu R. Membayangkanmu bijak sama seperti membayangkan Nurdin Halid berkuasa sebagai presiden.
"Kamu yang sekarang sudah sempurna. Hanya.. Sikap cerobohmu saja perlu kau rubah,"
"Ceroboh ya.."
Ada sebuah perasaan menyesal saat kamu menghela nafas. Seolah waktu berhenti dengan ditubruk serangkaian benci tertahan.
"Tapi Madd.. Kamu pernah menunggu hujan?"
"Tidak. Aku selalu melawan hujan. Perkara basah itu urusan nanti,"
"Kamu tahu. Menunggu hujan itu seperti menunggu kepastian. Seperti kamu tahu ada hal yang menyedihkan terjadi. Tapi selepas itu akan cerah,"
"It can't rains forever," kataku perlahan.
"Hah?"
"Ah nggak. Aku tak suka menunggu hujan. Kamu harus lawan basah itu untuk sampai ke tujuan,"
"Tapi tak semua orang sepertimu Madd. Cobalah untuk menunggu hujan sekali saja. Kamu akan tahu, kadang kita perlu menunggu lebih lama untuk merasakan sebuah keindahan,"
"Tak pernah ada kesenangan dalam menunggu R. Kelak di Akhirat siksaan manusia bukan neraka. Tapi menunggu kepastian itu sendiri,"
Lalu hening datang. Senja sudah rubuh. Dan lampu mulai hidup di Patehan. Seperti kunang-kunang yang beranjak terbang.
Jember. 1 Oktober.
Kamis, 08 September 2011
Rasa Nyaman
Jumat, 10 Juni 2011
Soal Perjalanan dan Kehilangan
Sepertinya pada setiap perjumpaan kita tak pernah benar-benar siap untuk kehilangan. Kepergian, seperti juga kematian, adalah keniscayaan yang sering kali gagal dimengerti. Sepertinya demikian, tapi kamu yang selalu semerawut itu seolah tak percaya. “Kepergian itu sekedar permisi kencing, akan selalu kembali, siapa juga yang betah-betah di kakus,” serumu disuatu saat.
Tapi kamu kini menghilang, berbulan-bulan, tanpa jejak dan pesan. Seolah apa yang kau sebut kencing itu memang membutuhkan waktu yang sedemikian lama. Kukira, kita semua, aku dan orang orang yang juga merindukanmu telah terbiasa dalam kecemasan. “Untuk apa cemas? Toh kalau aku memang ditakdirkan mati di singgasana saat mabuk atau di altar saat berdoa sama saja,” katamu marah. Kamu sepertinya tak mengenal rasa lindap perih ditahan saat khawatir.
Hari ini pun sama saja, kecemasan itu datang menyergap pelan-pelan. Lalu tanpa sadar aku melelehkan air mataku. Kamu tahu? Rasanya malu sekali tiba-tiba menangis saat sibuk menawar buah. Aku sebenarnya juga tak begitu paham mengapa kemudian menangis. Sekedar memori yang mampir kukira. Kau suka buah apel atau jeruk? Sedang aku tak pernah akur dengan kedua buah itu. “Kamu itu aneh, buah enak kok gak doyan. Malah suka rambutan pantes rambutmu keriting,” katamu sambil tertawa.
Sebenarnya apa maumu? Datang dan pergi sesukanya tak tahukah kamu? Musim yang empat itu pun masih bisa ditebak apa tabiatnya. Sedang kamu dan segala sikap sontoloyo mu adalah misteri. Kenapa kemudian kau harus datang untuk kemudian pergi lagi? Seperti hujan musim panas. “Aku hanya ingin melihat kamu senyum, itu saja cukup, aku harus pergi lagi,” katamu seraya membawa ransel besar yang entah apa isinya.
Sementara aku benci melihatmu semakin kurus disetiap perjumpaan kita yang singkat itu. “Bah kau pikir aku harus makan seberapa banyak untuk jadi babi?” aku benci jika kamu berkata itu. Seolah olah segala kejijikan adalah milik babi. Seekor babi tak pernah hendak dilahirkan menjadi babi, seperti juga seekor elang tak selayaknya ingin selalu terbang. “Tapi elang
***
“Tuhan tidak pernah adil membagi waktu”
“Kenapa begitu?”
“Kenapa setiap kita berjumpa, waktu sepertinya menguap secepat concord,”
“Kamu berlebihan, kiranya terlalu banyak jumpa kawanan alay,”
“Tidak ada hubungan!”
“Sangat berhubungan, eh lagu kita ini? Anyone else but you..”
“Lupakan lagu, kita sedang bicara. Kamu bisa serius gak sih? Pantas kamu tak lulus juga!”
“Nah ini ad hominem, kelulusanku tak ada hubungannya dengan lagu,”
“
“Tolol. Memang dan aku selalu bangga jadi tolol,”
Aku menyesal mengataimu tolol. Tapi kamu memang tolol menolak lulus hanya karena berdebat mengenai ya dan tidak dengan dosen. Sudah kubilang setiap dosen memiliki ego yang tak mungkin bisa diredam. Kamu selalu begitu berlari menjauh seolah dikejar kemungkinan untuk larut dalam kedegilan. Sementara yang kamu sebut kedegilan itu adalah cara hidup. Apakah kau selalu akan begitu?
“Jangan pergi, setidaknya jangan hari ini,”
“Ah manja, biasanya juga kamu ingin aku cepat pergi,”
“Tidak sekarang, kamu disini saja temani aku, kita jalan telusuri
“I wish I can,”
“Kita seolah akan berpisah dan tak akan pernah bertemu lagi,”
“Aku tak pernah percaya perpisahaan, karena mereka yang pergi tak pernah benar-benar hilang. Selalu ada ruang dimana kita mengingat, disitulah sebenarnya kita berada. Saling bertemu hanya saja realitas fisik yang tak genap,”
“Apakah kau selalu berkata seperti itu? Aku muak mendengar katamu yang seolah pintar itu,”
“Mungkin, terkadang aku pikir itulah alasan mengapa kita tak mungkin selalu satu. Kita butuh jeda dan jarak,”
“Tapi haruskah sejauh dan sesering ini?”
“Entah, setiap kereta butuh stasiun untuk berhenti bukan?”
“Stasiun itu banyak..”
“Tidak untukku, hanya ada satu stasiun, keretaku mungkin hanya mampir, tapi segala pemberhentian hanya pada satu ruang saja,”
Seru panggilan kereta berbunyi dan itulah saat terakhir aku melihat kamu dan senyummu yang sontoloyo itu. “Aku mau kencing, mungkin agak lama, kamar mandinya jauh,” saat kamu katakan itu ada semburat keraguan yang meluber. Kamu tak yakin akan bisa kembali. Sepertinya kau hendak pergi ke tempat jauh yang tak menemukan tiket kembali. “Hati-hati dan jangan lupa makan,” itu saja yang bisa kuucap.
***
Lalu kutemukan pesan itu disebuah sudut kamarmu. Sepertinya sebuah
Tetapi rasa penasaranku lebih seru mengudara daripada kecemburuanku. Aku tak peduli lagi jika nanti kamu kembali dan marah. Yang jelas aku tak ingin dibebani rasa ingin tahu dan sakwasangka. Kubuka pelan kertas itu sebagaimana benda ringkih yang hancur hanya karena angin. Lalu sambil menahan nafas kubaca pelan kata pertama
Untuk Dia
Sepertinya kencing yang kutahan ini tak akan pernah menjadi sebuah pemberhentian. Aku memutuskan untuk berlari dari bising masjid dan keheningan doa. Seperti kamu yang terpasung pilihan pilihan. Apel dan jeruk. Langit dan bumi. Hujan dan mendung. Semua tentang pilihan.
Aku juga terpaksa memilih. Tapi bukan kamu.
Aku tak tahu bagaimana harus bereaksi. Sepertinya segala waktu dan udara berhenti. Seluruh tubuhku sesak dengan kegetiran. Apa yang kamu lakukan? Kamu membuat keputusan seolah-olah hal itu adalah hal yang biasa. Yang tak perlu adanya alasan dan penjelasan. Kamu pengecut! Kamu kurang ajar. Kamu tak tahu rasanya berharap dan kemudian dihadapkan pada kenyataan bahwa kamu tak akan mendapat apa-apa.
Sepertinya duniaku berakhir detik itu juga. Menggemakan sepasukan sepi yang perlahan masuk kedalam bulu romaku. Suratmu itu selayaknya vonis mati yang terlambat datang. Aku yang terombang-ambing amarah, sedih dan kesunyian ini lantas berteriak, menangis dan kemudian terduduk. Ibu dan ayahmu pun tiba. Mereka tak tahu apa yang terjadi, yang mereka lihat hanya seroang perempuan yang terduduk dan menangis sendirian dengan sebuah
Pasangan sepuh itu kemudian mengangsurku ke atas ranjang. Memberiku segelas air yang tiba-tiba saja hadir. Kamu tahu, saat kita sedih, Kita tak pernah akan memperdulikan detail-detail kecil itu. Tentang kenapa langit sore itu tampak sangat cerah meski baru saja hujan. Tentang debu yang menumpuk dalam kamarmu yang berantakan itu. Dan beberapa buku puisi dan filsafatmu yang mulai menjamur di dekat kamar mandi. Semua menjadi tak pening saat dunia yang kita yakini ada ternyata harus hancur karena perasaan.
Sore itu aku pulang dari rumahmu sebagai orang yang kalah. Ayah dan ibumu memandangku pergi. Melihat punggungku hilang perlahan di kejauhan. Mereka tau bahwa luka yang kamu torehkan ini tak akan pernah sembuh sempurna. “Maafkan putra kami Dia,” kata Ibumu. Aku sedikit marah, apa haknya meminta maaf atas namamu? Kupikir luka ini tak akan pernah selesai. Seperti juga kisah hidup kita yang kau putuskan tuntas dalam secarik
***
Pagi ini Praha masih dingin menusuk seperti biasanya. Musim gugur di Praha sama dengan bersekutu dengan mendung. Matahari tak akan tampak setidaknya untuk enam bulan kedepan. Sudah empat tahun sejak kamu memutuskan untuk pergi dan meninggalkan aku. Tapi bodohnya aku masih saja merasa kamu tak pernah benar-benar serius. Aku masih percaya kamu sekedar kencing. “Kepergian itu sekedar permisi kencing, akan selalu kembali, siapa juga yang betah-betah di kakus,” aku masih percaya itu. Aku akan menunggu kamu untuk kembali menemaniku memilih apel atau jeruk.
05-06-2011 Ngawi, selepas tengah malam.
Sambil mendengarkan Pure Saturday
