Tampilkan postingan dengan label R. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label R. Tampilkan semua postingan

Kamis, 06 Oktober 2011

Saat Malam usai dan cahaya mulai muncul




“Apakah kamu suka memandang bintang Wesi?” katanya dengan tetap tidak melihat wajahku.

Malam terlalu larut untuk bisa dipahami dengan sebuah kalimat tanya. Ada retakan-retakan kisah yang perlu ditambal untuk bisa menelaah pertanyaan sederhana semacam itu. Apalagi setelah seharian tak berhenti membaca 200 lembar naskah Bahasa jerman. Otakku terlalu letih bahkan untuk mencerna kata-kata itu sendiri.

“Kadang, tapi tidak sering. Aku tak suka melihat hal hal yang tak begitu jelas.”

“Tidak begitu jelas?”

“Ya, bintang itu.. seperti fatamorgana. Kita hanya menginterpertasikannya. Dari buku-buku sains yang seringkali gagal menyederhanakan makna,”

“Hmm.. Ribet,” jawabmu sambil tersenyum.

Ah senyum itu. membentuk sudut kecil yang melumpuhkan. Benar kata Mamadd. Kamu punya senyum sederhana paling mematikan se dunia.

“Aku suka bintang. Warnanya kuning. Aku suka kuning keemasan yang temaram dan mau pudar,”

“Kuning? Aneh. Kukira kamu suka warna jingga,”

“Kamu sok tau wesi,” katanya sambil terenyum. Ah senyum itu. Senyum paling mematikan sedunia.

Kukira malam sudah beranjak pagi. Jalanan di Sudirman sudah tiris kendaraan bising yang memperkosa sudut-sudutnya dengan beringas. Kota ini sudah waktunya dimusnahkan. Jakarta adalah sengkarut kota zombie yang menyesakkan bagi mahluk hidup. Dan aku adalah bagian dari zombie itu. menunggu untuk kemudian dihancurkan. Hilang dari peradaban busuk bernama Jakarta. Sayangnya Nuklir hanya sekali digunakan untuk menghancurkan sebuah peradaban. Itupun gagal.

“Mikir apa?” katamu memecah kesunyian.

“Kira-kira apa jadinya kalau malam itu tidak ada bintang? Seperti mati lampu masal yang tak ada akhirnya. Langit disapu kuas warna hitam pekat. Tapi kali ini untuk selamanya,” kataku asal bicara.

Wajahmu sekilas memucat. Ada ketakutan yang samar. Seperti pesakitan yang akan tamat di ujung bedil pasukan pembunuh. Ketakutan itu muncul perlahan. Samar bahkan kini hilang sama sekali. Ah brengsek kenapa aku khawatir? Dan bodohnya kenapa aku tak membawa jaket? Malam sial ini pasti akan jadi panjang.

“Kenapa? Kok malah kamu yang diam?”

“Ah tidak, mungkin pikiran tentang gelap yang abadi itu terlalu menakutkan buatku, aku selalu benci gelap,”

“Tapi kamu suka bintang. Aneh. Mana ada bintang saat terang?”

“Maksudku kegelapan yang mutlak. Itu.. menakutkan wesi,”

Menakutkan? Biar kuberitahu kau apa yang menakutkan. Besok aku harus menyelesaikan empat ratus terjemahan tentang naskah apokalips berbahasa Jerman. Dan kini kamu memaksaku mendengarkan ceracaumu tentang bintang. Hei. Jadi penerjemah itu susah. Jika bukan karena aku kangen sudut kecil senyummu itu. Senyum paling mematikan di dunia. Tak sudi aku berdiri diatas atap gedung perkantoran Jakarta yang tengik ini.

“Hmm aku kadang berfikir ada milyaran bintang diangkasa,”

“Gak sampai milyaran, mungkin hanya jutaan,”

“Whatever, I mean, setiap bintang itu pasti ditujukan untuk satu hal kan? Seperti navigasi atau indikator musim,”

Kamu bersemangat sekali menjelaskan perihal bintang itu. Tentang warna kuning keemasan yang muncul sebagai reaksi radiasi nuklir. Tentang cahayanya yang akan tetap ada meski bintang itu telah mati. Tentang bagaimana susunan rasi bintang itu dibuat Berdasarkan mitologi yunani yang berbeda antar satu hal yang lainnya. Tapi buatku semua itu tak penting. Kukira melihatmu bersemangat dan bergerak kesana kesini seperti tupai jauh lebih menyenangkan.

“Hmm sampai mana aku tadi?” katamu pusing sendiri.

“Sampai bangsa viking,” jawabku singkat.

“Ah iya. Bangsa viking percaya bintang itu adalah jiwa-jiwa pemberani yang sedang bertarung di valhalla. Medan perang abadi,”

“Orang-orang bodoh,”

“Hah?”

“Cuma orang bodoh yang berperang. Apalagi perang abadi. Bodohnya kuadrat,”

“Perang. Parang. Padang. Pedang. Namamu. Parang Wesi. Kukira kamu suka hal hal yang bau kekerasan. Seperti perang,”

Aih. Kadang kala pikiranmu yang sederhana itu mengejutkan. Seperti juga pertanyaan-pertanyaan mu yang serupa petasan. Tak pernah jelas apa ujung pangkalnya.

“hmm hmm nana mhhmm mumumu,”

“Nyanyi?

“Lebih seperti merintih. Kamu pernah kehilangan Wesi?”

“Tentu. Siapa yang tidak?”

“Kehilangan itu kadang menyesakan. Meninggalkan ruang hampa yang seringkali lambat untuk kemudian dipenuhi. Ruang kosong itu lalu menekan-nekan kamu seolah mendesak untuk segera diisi yang baru,”

Kamu salah alamat cerita seperti ini padaku. Penerjemah hanya mengartikan apa maksud kata-kata asing kedalam bahasa yang lebih mudah dipahami. Tapi seorang penerjemah tak pernah benar-benar paham apa maksud si penulis dalam karya-karyanya. Kalimatmu mengenai kehilangan itu tak lebih dari sekedar lalu kata yang bahkan besok tak akan kuingat.

“Kok diem? Sekarang aku yang ribet ya?”

“Ada baiknya hal-hal yang terlalu menyakitkan untuk diingat kita simpan saja dalam kotak besi. Kita kunci. Lalu larung ke samudra jauh. Bersamanya lumatkan kunci pembuka kenangan itu, biar luluh lantak dan tak kembali lagi,”



Kita berdua lantas diam. Seperti bersepakat untuk tak lagi melanjutkan pembahasan mengenai kehilangan. Jakarta dan kehilangan. Dua resep manjur untuk kemudian meloncat dari gedung berlantai 70 ini. jatuh berdebam dengan kepala hancur dan otak berceceran. Mungkin judulnya akan keren di koran. Kepala penerjemah pecah. Rimanya sangat estetis.

“Tapi.. mungkin jika kamu melakukan itu Wesi. Aku akan melompat ke laut. Berenang mengejar kotak itu. membuka paksa dan mencari isinya,” katamu lirih.

“Kurang kerjaan,” kataku singkat.

Angin malam semakin jalang menerjang. Dan sialnya berkaus tanpa jaket di Jakarta yang kukira panas tak membuatku kebal angin. Sementara kamu masih asik menikmati langit. Sesekali menatap lampu-lampu kota yang berkerumun. Seperti ilalang.

“Kamu tahu? Saat kita mati. Kita hanya hidup dalam kenangan masing-masing orang yang kita kenal. Seperti hidup dalam dimensi yang berbeda. Ingatan tetang senyum. Wangi. Kata-kata. Sikap dan perilaku. Aku tak ingin mati dilupakan,” katamu tiba-tiba.

Yak kematian. Kehilangan, kematian dan Jakarta. Apalagi yang akan kamu tambahkan? Mumpung masih subuh. Dan kemungkinan besar naskahku tak akan selesai dalam waktu dekat. Ada baiknya aku meloncat dari lantai ini setelah mengetahui resep keempat kematian ala Jakarta.

“Bintangnya makin banyak. Warnanya juga indah. Kuning yang muram. Kuning yang luluh,”

“ Kukira kamu harus mulai membuat garis batas mengenai alur pikiranmu yang aneh itu R,”

“Aneh?”

“Kamu terlalu banyak berpikir aneh. Bergaul dengan Mamadd membuatmu aneh. Lelaki dengan imajinasi sepertinya sudah menerabas dinding kenyataan dengan persepsi yang tumpul,”

“Aaaah.. bisa gak sih sekali kali antara kalian berdua bicara dengan bahasa manusia yang bisa dipahami?” katamu merajuk.

“Baiklah. Begini. Akan aku buatkan sebuah garis. Misalnya ini adalah kenyataan dan sisi lainnya adalah fantasi, mimpi, atau apalah yang kamu mau,” kataku seraya membuat garis imajiner.

“Terus? Fungsinya?”

“Saat kamu berada disisi kenyataan. Berhenti mikir yang aneh-aneh. Terlalu banyak bermimpi membuat otakmu tumpul. Mungkin perlu ada orang waras yang menarikmu untuk tetap di sisi kenyataan daripada berkubang dalam imajinasi,”

“Kamu ngok sekali. Nggak banget,”

Ya. Aku nggak banget karena diam disini menemani celotehanmu soal bintang. Kemarin soal hujan dan entah besok tentang apa.

“Tapi.. mungkin itu benar. Aku butuh seseorang buat menarikku dari garis batas mimpi dan kenyataan,”

“Hah! Labil” kataku berteriak.

Lalu keheningan malam di atas langit jakarta yang bertebaran bintang itu pecah dengan suara gelak tawa. Tawa renyah yang lepas dari beban. Kamu tertawa keras sambil menahan kejang di perut. Ah oke ini resep keempat kukira. Tinggal menunggu momen untuk loncat dari gedung brengsek ini. Tapi senyum kamu. Senyum paling mematikan di dunia itu. seperti meluber keluar. Menciprati perasaanku dengan perasaan haru yang pekat.

“Hahaha ah. Oke kamu lucu sekali malam ini wesi. Lucu sekali,”

“heh? Lucu darimana pula?”

“Labil.. kamu perlu tiga tahun untuk tahu kalau aku ini labil,” katamu sambil menahan tawa.

Oke aku akan meloncat dari gedung ini sekarang juga. Tapi sebentar. Senyum itu. senyum paling mematikan dunia. Tapi tunggu sebentar. Harusnya aku sudah mati dari tadi. Oh iya, lagipula aku kan zombie. Mayat hidup yang dipaksa bekerja untuk memenuhi kebutuhan berak, makan, ngentot dan bergosip. Jadi ah mungkin loncatnya besok saja. Senyum sialan. Senyum paling mematikan se dunia.

“Eh mungkin kamu benar mengenai bintang-bintang ini R,”

“Ehhehe. Sebentar aku selesaikan tawa ini dulu. Err.. benar tentang apa Wesi,”

“Mengenai bintang ini diciptakan untuk suatu hal,”

“Oh ya? Jadi menerutmu bintang-bintang ini diciptakan untuk apa?”

“Untuk kamu,”

“Hadeehh… come on. You gotta do more than that to flirt me,”

“Bah. Kalau aku mau merayumu. Bakal ku sayat tangan ini dan kubiarkan darahnya mengering buatmu percaya, masalahnya ini bukan rayuan,”

“Lantas?”

“Ini waktunya aku menyelesaikan naskah terjemahanku. Dan kini kamu bisa nikmati sendiri bintang yang semakin menguning terang itu,”

Aku lantas beranjak pergi dari atap gedung brengsek itu. kisi-kisi temboknya merayuku untuk segera meloncat dan mengakhiri karir penerjemahku. Kuputuskan melangkah pergi menuju pintu masuk gedung. Lalu kamu memanggilku dengan suara yang cukup kencang. Deru angin yang mulai brengsek meredam segala suara yang tak terlalu pelan.

“hmm terimakasih ya?”

“Untuk apa?”

“Menemaniku labil,”

“Bah konyol. Kamu lihat saja bintang-bintang itu. Pagi ini mereka bersinar istimewa cuma buat kamu,” kataku sambil berteriak.

“Istimewa?”

“Liat cahaya bintang-bintang itu pagi ini, mereka bikin kulit dan rambut kamu menjadi sangat indah,”

“GOMBAAL,” katamu sambil berteriak.

Tentu saja aku gombal. Tapi siapa yang tidak?


*Jember 4 Oktober

Menunggu Hujan


"Apa yang akan terjadi padamu 10 tahun lagi," katanya tiba-tiba,

Senja yang sedari tadi sibuk kupandangi seperti hendak rubuh. Apa pula maksud pertanyaan ini? Selalu saja ada pertanyaan ajaib yang kadangkala tak habis pikir muncul darimana. Seperti siapa pencipta sambal. Mengapa langit mendung warnanya keruh dan siapa sebenarnya Godot itu. Pertanyaan pertanyaan yang kerapkali harus kuhindari dengan pura-pura sakit perut.

"Nggak tahu," jawabku singkat.

Kita sama-sama tahu. Aku benci merencanakan masa depan. Itu perkara bodoh. Merencanakan masa depan itu bertindak seolah Tuhan. Belum lagi repotnya berpikir mengenai hal-hal ini dan itu. Pekerjaan yang melelahkan.

Kamu diam. Diam yang merajuk. Seperti tak puas dengan jawabanku. Tentu kamu tak puas. Aku saja tak puas. Itu sekedar jawaban. Aku malas berpanjang debat mengenai hal-hal yang bahkan kita tak tahu apa tujuannya. Seperti masa depan dan ingatan yang lunas.

"Kamu tak serius, ayolah coba pikirkan" serumu.

Bah. Sejak kapan manusia harus tahu mau jadi apa ia kedepan. Jika kujawab jadi nabi pun kamu pasti akan anggap aku bercanda. Terlalu banyak kemungkinan-kemungkinan picik dimasa depan yang membuat rencana kita itu gagal. Dan jika gagal hanya ada sedert kekecewaan yang menunggu penjelasan-penjelasan basi. Bahwa hidup tak adi. Tuhan tak ada dan bla bla bla.

"Pawang hujan,"

"Kenapa pawang hujan?"

"Menyenangkan melihat mendung. Berkuasa atas hal hal yang dibenci di perjalanan,"

"Perjalanan?"

Berbicara denganmu membutuhkan stamina seorang porter Mahalangur di puncak Everest. Kamu tak pernah puas dengan jawaban yang berkutat pada ya dan tidak. Aku sendiri heran mengapa kau tak jadi detektif atau seorang interogator. Pertanyaanmu serupa ranjau darat.

"Aiss.... Banyak pejalan yang bergantung pada cuaca untuk melakukan sebuah perziarahan,"

"Lalu?"

"Jika hujan mereka cenderung diam dirumah. Beberapa orang berpikir tetes hujan dan basah dapat membunuh mereka,"

"Ribet! Lebih singkat. Jangan pakai filsafat. Aku tak seperti kamu,"

Aih! Kenapa segala hal ini harus di jelaskan dengan sederhana?

"Pertanyaanmu rumit. Ganti yang lain sajalah,"

"Ah tidak. Kamu malas berpikir. Ayolah,"

Aku benci melihatmu memohon. Memohon dengan mata teduh dengan bulat pupil serupa anak ayam.

"Andaikan hujan adalah sebuah perjudian. Mendung dan perjalanan jauh adalah sepasang variabel yang mempengaruhi perjudian. Para peziarah pasti berharap hujan tak datang."

"Masih ribet Madd. Yang sederhana saja. Kenapa kamu gak bisa menjelaskan sederhana seperti Wesi?"

Anjing. Nama itu. Wesi, sahabatku. Jadi kamu masih berhubungan dengannya. Aku beranjak malas menjelaskan.

"Kenapa diam?"

Ah sial! Tatapan mata itu lagi.

"Andaikan kamu sedang pulang kuliah. Lapar. Tak bawa uang. Dan satu-satunya penyelamatmu adalah pulang kerumah dan makan. Sedang kamu membawa banyak kertas riset selama sebulan. Dan awan hitam datang. Mendung terlampau pekat. Disertai petir dan kilat. Apa yang kamu harapkan,"

"Menunggu seseorang mengantarkanku pulang,"

"Aih. Andaikan pula Kau sendirian,"

"Ah kamu bertele-tele katakan saja, apa maksudmu,"

"Apa yang diharapkan dari sebuah perjalanan panjang tanpa perlindungan dengan kemungkian hujan deras?"

"Tentu aku berharap tak hujan. Tapi apa hubungannya dengan pawang hujan?"

Aha. Aku selalu suka wajahmu yang mencari tahu. Ekspresi penasaran yang melahirkan kerutan di lekuk pipimu.

"Pawang hujan punya kuasa untuk menentukan hujan turun atau tidak,"

"Ah sok bersikap tuhan!"

"Baaah. Apa bedanya pertanyaanmu mengenai apa yang terjadi padaku 10 tahun lagi?"

Hening datang. Senyap yang lindap ini merongrong suasana sore di Patehan. Sementara Alun-alun Kidul masih sama seperti tadi saat kita berjalan. Ramai dengan segala keramaian dan hingar bingar para warga yang bercengkrama.

"Kalau aku Madd. 10 tahun lagi Aku akan punya anak. Banyak sekali. lima anak yang lucu-lucu," katamu.

Anak? Bah. Mengurus seekor maskoki saja kamu gagal. Bagaimana pula mengurus anak.

"Anak-anak itu manusia sempurna R. Bukan seekor maskoki yang bila mati bisa kau ganti dengan iguana,"

"Aaaaaaah. Biarlah. 10 tahun lagi aku akan jauh lebih bijak,"

Demi segala demit penguasa laut kidul. Bijak? Itu hal terakhir yang kuharapkan berubah darimu R. Membayangkanmu bijak sama seperti membayangkan Nurdin Halid berkuasa sebagai presiden.

"Kamu yang sekarang sudah sempurna. Hanya.. Sikap cerobohmu saja perlu kau rubah,"

"Ceroboh ya.."

Ada sebuah perasaan menyesal saat kamu menghela nafas. Seolah waktu berhenti dengan ditubruk serangkaian benci tertahan.

"Tapi Madd.. Kamu pernah menunggu hujan?"

"Tidak. Aku selalu melawan hujan. Perkara basah itu urusan nanti,"

"Kamu tahu. Menunggu hujan itu seperti menunggu kepastian. Seperti kamu tahu ada hal yang menyedihkan terjadi. Tapi selepas itu akan cerah,"

"It can't rains forever," kataku perlahan.

"Hah?"

"Ah nggak. Aku tak suka menunggu hujan. Kamu harus lawan basah itu untuk sampai ke tujuan,"

"Tapi tak semua orang sepertimu Madd. Cobalah untuk menunggu hujan sekali saja. Kamu akan tahu, kadang kita perlu menunggu lebih lama untuk merasakan sebuah keindahan,"

"Tak pernah ada kesenangan dalam menunggu R. Kelak di Akhirat siksaan manusia bukan neraka. Tapi menunggu kepastian itu sendiri,"

Lalu hening datang. Senja sudah rubuh. Dan lampu mulai hidup di Patehan. Seperti kunang-kunang yang beranjak terbang.

Jember. 1 Oktober.

Kamis, 08 September 2011

Rasa Nyaman

Sebenarnya apa yang kita cari? Seumpama itu adalah definisi dari sebuah hubungan, maka ada baiknya kamu lupakan. Terlalu banyak hal di dunia ini yang dilabeli dan akhirnya hilang makna. Agama, Tuhan, Cinta, Tinja, Kukuh, Sikap dan Lezat. Semuanya lebur, cair dan runtuh.

"Kamu mengada-ada. Kamu hanya tak ingin terikat," katamu.

Jika terikat adalah memberikan perhatian serupa ibu pada jabang bayinya, maka ikatlah aku. Terikat seringkali adalah usaha memiliki, menguasai dan mendominasi. "Kita sama-sama paham. Logika tak pernah bersepakat dengan perasaan," jawabku.

Kita bersitegang. Lalu apakah yang kamu mau? Bukankah kita sudah sama-sama nyaman dengan kondisi ini. Anarchy. "Bah kenapa harus melabeli? Biar keren? Biar garang? Anarkhi pulak kau bawa-bawa," desisku.

"Dari segala nama, mengapa kau pilih Wesi? Kamu mau jadi besi? Keras dan tak mau dibengkokan,"

"Wesi. Wesi. Wesi. Anonimus tentu lebih keren. Tapi terlalu panjang An No Ni Mus. Belum jika salah sebut. Jadi Anus,"

Tetapi apa sebenarnya yang kita jalani ini? Sebuah lakon? Kebutuhan? Keseharian? Atau hanya sekedar kebiasaan?

"Sebut apapun yang kau suka, asal jangan paksa aku melabeli. Label itu reduksi. Pukimak lah dengan segala label yang diciptakan,"

"Termasuk dengan apa yang kamu rasakan?"

"Bah!"

Kamu hanya merasa nyaman. Nyaman itu lena. Dan segala lena adalah nila. Meracuni detak jantung lalu menjalar ke pembuluh hati. Kamu tahu. Aku tahu. Kita tahu itu. Kita bukan lagi kanak-kanak yang mengejar sebuah layang-layang putus. Atau menanti perigi mengering.

"Apapun itu," katamu menahan amuk diambang bibir. "Jangan paksa aku mengikat diri. Aku sayang kamu. Namakan itu. Tapi juga seperti angin aku ingin bebas. Tak butuh aku dua betina,"

"Bangsat. Kau kira apa aku ini? Sejenis binatang. Dasar Otak mesum,"

Ada jeda..

Lalu kita sama-sama tertawa. Keras sekali. Tertawa pertama sejak pertengkaran disebuah kereta yang memaknai pertemuan kita.

"Aku Wesi,"

"Aku R,"

"Hanya alfabet?"

"Keberatan?'

"Tidak, hanya tak bisa. Tak jamak. Perempuan khalayak suka yang jamak."

"Well aku bukan jamak. Aku istimewa"

Rasa nyaman itu nila. Meracuni. Kita lihat siapa yang lebih dulu terbunuh.


*Jember 08/09/11

Jumat, 10 Juni 2011

Soal Perjalanan dan Kehilangan


Sepertinya pada setiap perjumpaan kita tak pernah benar-benar siap untuk kehilangan. Kepergian, seperti juga kematian, adalah keniscayaan yang sering kali gagal dimengerti. Sepertinya demikian, tapi kamu yang selalu semerawut itu seolah tak percaya. “Kepergian itu sekedar permisi kencing, akan selalu kembali, siapa juga yang betah-betah di kakus,” serumu disuatu saat.

Tapi kamu kini menghilang, berbulan-bulan, tanpa jejak dan pesan. Seolah apa yang kau sebut kencing itu memang membutuhkan waktu yang sedemikian lama. Kukira, kita semua, aku dan orang orang yang juga merindukanmu telah terbiasa dalam kecemasan. “Untuk apa cemas? Toh kalau aku memang ditakdirkan mati di singgasana saat mabuk atau di altar saat berdoa sama saja,” katamu marah. Kamu sepertinya tak mengenal rasa lindap perih ditahan saat khawatir.

Hari ini pun sama saja, kecemasan itu datang menyergap pelan-pelan. Lalu tanpa sadar aku melelehkan air mataku. Kamu tahu? Rasanya malu sekali tiba-tiba menangis saat sibuk menawar buah. Aku sebenarnya juga tak begitu paham mengapa kemudian menangis. Sekedar memori yang mampir kukira. Kau suka buah apel atau jeruk? Sedang aku tak pernah akur dengan kedua buah itu. “Kamu itu aneh, buah enak kok gak doyan. Malah suka rambutan pantes rambutmu keriting,” katamu sambil tertawa.

Sebenarnya apa maumu? Datang dan pergi sesukanya tak tahukah kamu? Musim yang empat itu pun masih bisa ditebak apa tabiatnya. Sedang kamu dan segala sikap sontoloyo mu adalah misteri. Kenapa kemudian kau harus datang untuk kemudian pergi lagi? Seperti hujan musim panas. “Aku hanya ingin melihat kamu senyum, itu saja cukup, aku harus pergi lagi,” katamu seraya membawa ransel besar yang entah apa isinya.

Sementara aku benci melihatmu semakin kurus disetiap perjumpaan kita yang singkat itu. “Bah kau pikir aku harus makan seberapa banyak untuk jadi babi?” aku benci jika kamu berkata itu. Seolah olah segala kejijikan adalah milik babi. Seekor babi tak pernah hendak dilahirkan menjadi babi, seperti juga seekor elang tak selayaknya ingin selalu terbang. “Tapi elang gaya, kan gede kaya punyaku,” dan kita tertawa lepas seolah hal semacam itu nisbi saja.

***

“Tuhan tidak pernah adil membagi waktu”

“Kenapa begitu?”

“Kenapa setiap kita berjumpa, waktu sepertinya menguap secepat concord,”

“Kamu berlebihan, kiranya terlalu banyak jumpa kawanan alay,”

“Tidak ada hubungan!”

“Sangat berhubungan, eh lagu kita ini? Anyone else but you..”

“Lupakan lagu, kita sedang bicara. Kamu bisa serius gak sih? Pantas kamu tak lulus juga!”

“Nah ini ad hominem, kelulusanku tak ada hubungannya dengan lagu,”

“Ada, kamu saja yang terlalu tolol,”

“Tolol. Memang dan aku selalu bangga jadi tolol,”

Aku menyesal mengataimu tolol. Tapi kamu memang tolol menolak lulus hanya karena berdebat mengenai ya dan tidak dengan dosen. Sudah kubilang setiap dosen memiliki ego yang tak mungkin bisa diredam. Kamu selalu begitu berlari menjauh seolah dikejar kemungkinan untuk larut dalam kedegilan. Sementara yang kamu sebut kedegilan itu adalah cara hidup. Apakah kau selalu akan begitu?

“Jangan pergi, setidaknya jangan hari ini,”

“Ah manja, biasanya juga kamu ingin aku cepat pergi,”

“Tidak sekarang, kamu disini saja temani aku, kita jalan telusuri kota aku mohon,”

“I wish I can,”

“Kita seolah akan berpisah dan tak akan pernah bertemu lagi,”

“Aku tak pernah percaya perpisahaan, karena mereka yang pergi tak pernah benar-benar hilang. Selalu ada ruang dimana kita mengingat, disitulah sebenarnya kita berada. Saling bertemu hanya saja realitas fisik yang tak genap,”

“Apakah kau selalu berkata seperti itu? Aku muak mendengar katamu yang seolah pintar itu,”

“Mungkin, terkadang aku pikir itulah alasan mengapa kita tak mungkin selalu satu. Kita butuh jeda dan jarak,”

“Tapi haruskah sejauh dan sesering ini?”

“Entah, setiap kereta butuh stasiun untuk berhenti bukan?”

“Stasiun itu banyak..”

“Tidak untukku, hanya ada satu stasiun, keretaku mungkin hanya mampir, tapi segala pemberhentian hanya pada satu ruang saja,”

Seru panggilan kereta berbunyi dan itulah saat terakhir aku melihat kamu dan senyummu yang sontoloyo itu. “Aku mau kencing, mungkin agak lama, kamar mandinya jauh,” saat kamu katakan itu ada semburat keraguan yang meluber. Kamu tak yakin akan bisa kembali. Sepertinya kau hendak pergi ke tempat jauh yang tak menemukan tiket kembali. “Hati-hati dan jangan lupa makan,” itu saja yang bisa kuucap.

***

Lalu kutemukan pesan itu disebuah sudut kamarmu. Sepertinya sebuah surat yang urung kamu kirimkan. Hari ini adalah dua bulan sejak kamu pergi untuk yang kesekian kalinya. Surat usang itu berlumur kopi dan semua sudutnya telah habis dimamah rayap. Untuk sesaat aku merasakan cemburu, seperti kebencian yang tiba-tiba. Siapakah orang yang kamu kirimkan surat itu? Bahkan aku tak pernah kamu beri kabar, untuk sekedar ucapan natal atau paskah pun kamu luput utarakan.

Tetapi rasa penasaranku lebih seru mengudara daripada kecemburuanku. Aku tak peduli lagi jika nanti kamu kembali dan marah. Yang jelas aku tak ingin dibebani rasa ingin tahu dan sakwasangka. Kubuka pelan kertas itu sebagaimana benda ringkih yang hancur hanya karena angin. Lalu sambil menahan nafas kubaca pelan kata pertama surat itu.

Untuk Dia

Sepertinya kencing yang kutahan ini tak akan pernah menjadi sebuah pemberhentian. Aku memutuskan untuk berlari dari bising masjid dan keheningan doa. Seperti kamu yang terpasung pilihan pilihan. Apel dan jeruk. Langit dan bumi. Hujan dan mendung. Semua tentang pilihan.

Aku juga terpaksa memilih. Tapi bukan kamu.

Aku tak tahu bagaimana harus bereaksi. Sepertinya segala waktu dan udara berhenti. Seluruh tubuhku sesak dengan kegetiran. Apa yang kamu lakukan? Kamu membuat keputusan seolah-olah hal itu adalah hal yang biasa. Yang tak perlu adanya alasan dan penjelasan. Kamu pengecut! Kamu kurang ajar. Kamu tak tahu rasanya berharap dan kemudian dihadapkan pada kenyataan bahwa kamu tak akan mendapat apa-apa.

Sepertinya duniaku berakhir detik itu juga. Menggemakan sepasukan sepi yang perlahan masuk kedalam bulu romaku. Suratmu itu selayaknya vonis mati yang terlambat datang. Aku yang terombang-ambing amarah, sedih dan kesunyian ini lantas berteriak, menangis dan kemudian terduduk. Ibu dan ayahmu pun tiba. Mereka tak tahu apa yang terjadi, yang mereka lihat hanya seroang perempuan yang terduduk dan menangis sendirian dengan sebuah surat dekil ditangan.

Pasangan sepuh itu kemudian mengangsurku ke atas ranjang. Memberiku segelas air yang tiba-tiba saja hadir. Kamu tahu, saat kita sedih, Kita tak pernah akan memperdulikan detail-detail kecil itu. Tentang kenapa langit sore itu tampak sangat cerah meski baru saja hujan. Tentang debu yang menumpuk dalam kamarmu yang berantakan itu. Dan beberapa buku puisi dan filsafatmu yang mulai menjamur di dekat kamar mandi. Semua menjadi tak pening saat dunia yang kita yakini ada ternyata harus hancur karena perasaan.

Sore itu aku pulang dari rumahmu sebagai orang yang kalah. Ayah dan ibumu memandangku pergi. Melihat punggungku hilang perlahan di kejauhan. Mereka tau bahwa luka yang kamu torehkan ini tak akan pernah sembuh sempurna. “Maafkan putra kami Dia,” kata Ibumu. Aku sedikit marah, apa haknya meminta maaf atas namamu? Kupikir luka ini tak akan pernah selesai. Seperti juga kisah hidup kita yang kau putuskan tuntas dalam secarik surat itu.

***

Pagi ini Praha masih dingin menusuk seperti biasanya. Musim gugur di Praha sama dengan bersekutu dengan mendung. Matahari tak akan tampak setidaknya untuk enam bulan kedepan. Sudah empat tahun sejak kamu memutuskan untuk pergi dan meninggalkan aku. Tapi bodohnya aku masih saja merasa kamu tak pernah benar-benar serius. Aku masih percaya kamu sekedar kencing. “Kepergian itu sekedar permisi kencing, akan selalu kembali, siapa juga yang betah-betah di kakus,” aku masih percaya itu. Aku akan menunggu kamu untuk kembali menemaniku memilih apel atau jeruk.

05-06-2011 Ngawi, selepas tengah malam.

Sambil mendengarkan Pure Saturday