tahukah kau tentang langit yang berdetak dalam khalam-khalam yang dibahasakan manusia?
tentang surga yang tinggi
tentang singgasana yang agung
tentang bidadari yang telanjang
lalu menekuk indah bulan dalam gelap
(padahal kau tau warna bulan saat terang)
sungguh malam ini kau akan lihat
langit itu hanya sebuah gayung bocor
dari tuhan yang bosan bercanda
Minggu, 05 September 2010
Jumat, 03 September 2010
Ode Untuk Rindu yang Tak Selesai

R, ada sekeping ruang hitam yang menolak terisi saat kau
pergi. Ini bukan bualan, karena membual membuatku lapar dan kau tau aku tak
suka lapar. Ini tentang kisah-kisah kita yang di nistakan waktu waktu. Bukankah
waktu membangun kenangan? dan kenangan itu serupa tinja yang menolak di basuh.
R, aku kangen, bukankah sudah kubilang kemarin? aku tak suka
kangen sama seperti aku tak suka ular berbisa. Uh kamu ini, bisanya cuma bikin
kangen dan kasmaran. Sudahlah, bukankah kita punya masing masing cerita yang
tak mau di bahas? kau dengan masa lalu dan aku tentang masa depan. maka
berhentilah bicara. biar keheningan ini membuncah dan aku tak rindu lagi.
R, dimana kau simpan marah dan tangismu? bukankah kau dulu
datang dengan kesedihan yang serupa badai? Yang bikin aku selalu kelimpungan
dan lupa mandi karena harus menjawab pertanyaanmu. Apa itu luka? apa itu sakit?
apa itu benci dan apa itu dendam? ujarmu suatu masa. aku cuma bisa diam. karena
kau mengajarkan aku untuk tak beraksara dalam suara saat kau ingin menulis
kata.
R, kawanku bilang kau itu lemah. tapi aku tak pernah lihat.
kau mungkin rapuh, tapi tak akan lemah. aku percaya. karena butuh nyali untuk
meloncat pagar besar di alun-alun hanya untuk jatuh dan berdebat dengan satpam.
Meski kau akhirnya pulang malu-malu. Bukankah hidup untuk menguji nyali? Kau
rapuh, tapi tak lemah!
R, kenapa ya bulan itu pucat? Kau bilang 'agar tak menyaingi
warna bintangku di pojok sana'. kau lebih suka bintang daripada bulan.
mungkinkah karena terlalu banyak yang menyukai bulan sehingga kau berpaling
pada bintang? kau selalu begitu. membenci keramaian yang disukai. kau menyukai
kerang, batu, petir apa saja asal bukan bulan.
R, tau kah kau? aku sekarang sudah kurusan. ya kurusan. kau
bilang kau benci gelambir lemak di perutku. tapi kau tak suka kehilangan pipi
tembamku. aku bingung, bagaimana menegosiasikan lemak perut dan pipi. kau lupa
memeberi manualnya. ah! selalu saja, kenapa aku harus mengikuti semua pintamu?
kau tak adil. tak pernah adil. selalu meminta yang tak bisa kutolak!
R, aku kemarin makan bakso. makanan yang tak pernah kau bagi
meski aku minta dengan sangat. bakso bulat yang ada di sepanjang jalur kereta
di sebelah utara kota. ya aku tau. itu makanan kesukaanmu. entah kenapa. makan
bakso membuatku jadi sentimentil. kuputuskan makan separuh. karena mangkuk dan
sendoknya terlalu keras untuk kukunyah.
R, untuk kesekian kalinya. kapan aku boleh telpon? aku
penasaran suaramu. mungkinkah seindah Janis Joplin? aku yakin sungguh yakin
suaramu merdu. Hanya saja kau terlalu angkuh untuk mengakuinya. dan menolak
bicara. atau hanya sekedar gendang telingamu tak suka suara-suara dari telepon?
aku jadi ingat usman kawanku waktu kecil ia tak suka petasan yang diledakan di
telinganya. mungkin kau cocok dengan dia.
R, kapan kau mau jalan lagi denganku? aku rindu mata sendu
dan langit-langit dahimu yang rubuh itu. aku suka melamun saat kau bicara. kita
tak perlu kencan, hanya diam-diam saja. memandangi matahari yang terbit di
depan stadion sambil makan tahu dan minum teh. bukankah syahdu saat kau bilang
'gila, tuhan pinter ya bikin momen'. tapi buatku tetap 'gila, hebat ya tuhan
bikin kamu'.
R, ini loh, teman-teman suka bertanya kapan kau akan jujur.
aku bilang jujur apa. jujur bahwa kau mencintai kesendirian dan tak ada gunanya
aku berharap tentang hubungan yang serius. aku tertawa keras, keras sekali,
sampai mau terkencing di muka mereka. aku tak pernah berharap apa-apa dari mu.
mengenal saja sudah cukup. dan mencintai? apalagi status hubungan? bikin aku
muak. ya muak. aku yakin kau juga demikian. ya kan?
R, aku mau tobat menulis puisi. apalagi tentang hujan.
karena hujan membuat basah. tau kan? iya kamu benci hujan yang membuat cucianmu
basah. aku senang mendengar omelanmu. tapi aku tak suka sorot mata marah yang
kau timpakan saat aku membuat puisi hujan. "aku benci kenangan kau
bilang" aku juga. aku benci melihatmu marah.
R, ini paragraf terakhir. Nanti kalau kau telah sampai di
Praha. kabarkan aku rumah Kafka. Dimana ia menuliskan pengadilan. Jadi jika kau
pulang, akan kuadili kau dengan banyak dakwaan. Tentang masakan yang tak jadi,
tentang janji yang batal, tentang pesan yang tak berbalas, tentang hujan yang
basah dan tentang rindu yang tak selesai. Karena kau bersalah. Meninggalkan
ruang hitam di dadaku.
Langganan:
Postingan (Atom)