: 8:03 dan waktu berjalan pelan
berkata : sepertinya aku merindu
: 8:03 dan waktu berjalan pelan
berkata : sepertinya aku merindu
:hilang sesudah hujan
Katakan Lancelotapa yang kau cari di sunyi kelam danau hitam
:hati yang padam tak pantas hidupi cahaya

It wasn't anything or anybodyIt wasn't the windIt wasn't the orange-colored noontimeOr night over the earthIt wasn't even the nose or the elbowOr the hips getting biggeror the ankleor the air.
And that clockwhose soundwasthe voice of our lives,the secretthread of our weeks,which releasedone by one, so many hoursfor honey and silencefor so many births and jobs,that clock alsofelland its delicate blue gutsvibratedamong the broken glassits wide heartunsprung.
Let's put all our treasures together-- the clocks, plates, cups cracked by the cold --into a sack and carry themto the seaand let our possessions sinkinto one alarming breakerthat sounds like a river.May whatever breaksbe reconstructed by the seawith the long labor of its tides.So many useless thingswhich nobody brokebut which got broken anyway

Melodia
cintalah yang membuat diri betah untuk sesekali bertahan. karena sajak pun sanggup merangkum duka gelisah kehidupan. baiknya mengenal suara sendiri. dalam mengarungi hidup di luar
dalam kamar berkisah taruhan jernih memberi arti kehadirannya. membukakan diri bergumul dan menyeri hari-hari tergesa berlalu. meniup deras usia mengitari jarak dalam gempuran waktu. tak
begitu berarti kertas-kertas di bawah bantal penanggalan penuh coretan. dalam sepenanggungan mengadu padaku dalam manja bujukan. rasa-rasanya padalah dengan dunia sendiri, manis bahagia sederhana. di rumah kecil papa, tapi bergelora hidup kehidupan dan jiwa. kadang seperti terpencil, tapi gairah bersahaja harapan dan impian. yang teguh mengolah nasib, dengan urat biru di dahi dan kedua tangan.
*Umbu Landu adalah sosok misterius dalam dunia sastra Indonesia. Ini adalah salah satu sajak yang susah saya temukan. Ada rasa haru getir dan perih tapi manis yang terpancar. Suatu saat saya hendak bercerita tentang Umbu. Tapi tidak sekarang.
keranda awan datang
bawa bayangan
serupa detak waktu
menghambur rindu
di sela pikuk zaman
kukira kita telah memisahkan diri
menyatakan perang terhadap kebersamaan
melarung segala ingatan dan kenangan
kupikir ini sebuah kepastian
semacam nubuat yang telah digenapi
kukira kita setuju jika rindu
tak melulu tentang rasa pilu
tentang sendu yang tertahan di uluhati
merambati setiap pembuluh birahi
sekedar getar haru, menikam serupa belati
kukira kita sudah lunasi semua perasaan kita
di kotamu malam itu
seusai rancak lagulagu menlantun seirama lalu angin
lindap jalan, kalis hujan, dan pekat malam
menjelajahi segala yang senyap dalam bahasa sunyi
kukira kita memaafkan kebodohan
sebagaimana adam meratapi keterlanjangan
"cinta" katamu. bukan kata murah yang diobral dipasar
di hutanhutan, di peraduan
tapi bukankah segala rusuk merindu satu bersama tubuh?
kukira kukira kukira kukira kukira kukira
kukira sampai kapan kau kira kira?
semua sudah selesai
agas tak lagi sengatkan haru pada pembulu
malam ini kita hadapi
api jadah
ati gundah
rebah
Lalu saya liat mural ini di dekat kontrakan saya. Pembuat mural itu adalah seorang pemuda setempat yang konon patah hati karena diputus kekasihnya. Buat saya tak adil melakukan generalisasi terhadap suatu hal dan dibikin saat sedang galau. Emosi selalu membuat pandangan tak jernih dan seringkali berujung pada penyesalan yang pilu.
Lalu saya teringat sebuah puisi liris dari Walt Whitman, seorang pujangga kanon dari Amerika, yang kelak menginspirasi Gie dan Generasi Beat di Amerika. Buat saya, ia adalah salah satu pujangga terbesar Amerika seperti juga Charil Anwar di Indonesia.
Ia membuat puisi yang penuh dengan kegetiran, emosional dan suasana labil. Saya suka puisi yang semacam ini. Puisi yang selalu berusaha jujur dan apa adanya. Sometimes with one I love, ujarnya. I fill myself with rage. Mengisi diri dengan amarah. Sungguh sebuah sikap yang jujur. Inilah yang membuat saya menyukai Whitman sejak pertemuan saya dengan nama besar beliau difilm Dead Poet Society.
Sometimes with one I love,
Sometimes with one I love
I fill myself with rage, for fear I effuse
unreturned love;
But now I think there is no unreturned love
The pay is certain, one
way or another;
(I loved a certain person ardently, and my love was not returned;Yet out of that, I have written these songs.)
Lalu Kenapa takut jatuh cinta? Bukankah itu semua kodrat?
I'm the poet and you're the poem
we lost in the universe, seeking the truth
mine or yours?
shall we become one?
or just seperated?
just like the sea, the sky and the rainbow
find each other in solitude
"Eureka" it is yours to be said?
nor heaven or earth speak but lies
and then we all failed
as a humans and as a gods
aku mau berkisah tentang negri kalah
yang tanahnya tandus tiada terkira
lama sudah awan mendung tak lagi membawa hujan
sehingga mereka yang memiliki mata lupa
betapa indah warna pelangi sesudah hujan
aku mau berkisah tentang negri belah
yang tetuanya serupa buduk-buduk parlente
yang amboi isi mulutnya
tak lebih baik dari comberan
dimana seonggok tahi pun tak sudi mampir didalamnya
aku mau berkisah tentang negri terjajah
yang rakyatnya menjadi budak layar mini buatan cina
yang konon mereka puja dari hasil berternak keringat di pojok-pojok jalan
sambil mengiba menjual muka
lalu habis tenaga disudut kicau pertanyaan "what is your thinking?"
aku mau berkisah tentang negri resah
yang para pemuda-pemudinya sibuk berlomba untuk jadi badut tenar
karena tak tahu cara lain untuk hidup
selain merengek-rengek minta dukungan menjadi bintang layar kaca
yang pada akhirnya akan diingat sejarah sebagai sampah
aku mau berkisah tentang negri lelah
yang pada setiap harapan dan cita-cita telah tertambat harga
berlomba untuk jadi abdi negara
agar kelak tua tak perlu sengit berebut harta
sehingga dengan santun menunggu antrian kematian
aku mau berkisah tentang negeri gerah
tak ada angin, tak ada air, dan tak ada kenangan
yang menjadi basuh, tetirah dan jalan pulang
semua samar-samar, semua buram
dan akhirnya hilang
merayakan kehancuran
Malam mau mampir
kubilang "tunggu dulu juitaku sedang dijalan. Jangan bikin gelap awan,"
kita berdebat,
Lalu senja datang berwarna malu-malu
ia hendak genapkan rinduku.
"Juitamu aman, malah sedang berdendang lagu pop," kata senja
akhirnya aku pulang, dan temukan juita sedang karaoke
tapi tak sendiri
ada hujan dimatanya
*Minggu ,

untuk idz
Dan kulihat ia tak lagi keruh dengan ingatan tentang luka
Larik-larik cahaya lurus memancar mata
"Telah kutemukan lagi langit yang baru,
adalah ia sahabat luka" katamu dengan wajah berbinar
bukankah hidup mengenai runtut kebahagiaan?
dalam suram kisah purba,
semua cinderela menemukan sepatu kaca
kaupun demikian kukira
kau temukan sahabat dalam luka.
Kebahagiaan kini telah hadir.
Lebih dekat dari dua helai nafas.
Jangan menangis lagi, cahayamu terlalu terang
untuk dirundung mendung.
Jika memang pada satu jeda aku harus dipaksa menyerah
maka biarlah
bukan kemenangan yang dituju
sekedar keberadaan
"Kau tentu tau apa jua jawabku"
seperti langit yang terlajur merah saat senja
dan mengalirnya sungai bedadung
kita akan bertemu nanti saat awan mendung
pasti
untuk SFK
jarak rupanya telah bersepakat
dan malam seperti juga siang pun mufakat
ciptakan lelah panjang pucat
yang terlampau jauh tercatat
dimana keheningan ini bermuara?
dan segala akhir bercerita
"Melipat rindu puan, sungguh hamba tak bisa"
teriakku lantang
demi perigi yang mengalir panjang
jauh,
Muhammad menangis keras berdoa lantang
hingga di ujung nafasnya yang rapuh itu suaranya tak lagi bimbang
"ummati, ummati, ummati," kata Muhammad
di langit sebisik suara menjawab
"tunggu, Ku update status dulu," ujar Nya.
Jesus merajuk sepi tertancap darah paku berbisik lirih satusatu
Di bukit Golgota tiga pasak salib berjajar rapi
"Eli-eli lama sabachtani" kata Jesus
di kerajaan Nya sebising suara menjawab
"Sorry, Kau sudah Ku remove dari friendlistku" kata Nya
Musa berdebat keras dengan batubatu tentang Cahaya Terang
di bukit Sinai tanpa alas kaki ia menerima yang sepuluh tanpa debat lagi
"Eved HaShem, Avi haNeviim zya"a " kata Musa
di sebuah Api yang terang selirih suara menjawab
"oke cuy, jangan lupa folbek yah" seru Nya
untuk : Imanda D Salsabila
Untuk Dodik Yulianto
"deru deru deru campur debukibaskan segala luka dan ilalang keringdibalik terjal malam ada cahaya siang"ujarmu di waktu subuh.
untuk ASB
Aku tahu kelak ditanah penghakiman, aku akan menjadi salah seorang diantara pengecut.
Yang rela menjual ayah, ibu, saudara, istri dan anak demi sedikit keselamatan.
Aku tahu kelak ditanah pengadilan, aku akan menjadi salah seorang diantara pengkhianat.
Yang rela menagih segala hutang, janji, amanat demi sedikit pengampunan.
Aku tahu kelak ditanah Pembalasan, aku akan menjadi salah seorang diantara pesakitan.
Yang rela berdusta dengan kata, namun tak bisa, karena sepasang tangan, kaki, mata dan telinga akan bersaksi dengan kejujurannya sendiri.
Aku tahu kelak ditanah penyucian, aku akan menjadi salah satu diantara pendosa.
Yang direbus, dibakar, disiksa dengan segala kepedihan atas semua dosa secara seksama.
Aku tahu kelak di tanah penghabisan, aku akan menjadi salah satu diantara para pendusta.
yang pernah bersumpah tentang satu tuhan satu juru selamat, namun tak pernah meyakininya.
Aku tahu kelak di tanah pembuangan, aku akan menjadi salah satu diantara para celaka.
Yang melena saat muda, membuang masa jaya dan menuruti segala iba.
Aku tahu kelak di tanah penistaan, aku akan menjadi salah satu diantara para terkutuk.
yang meratapi kehidupan, segala waktu, usia dan penantian. dengan segala kesia-siaan.
Aku tahu kelak di tanah penghinaan. segala puisi dan kata-kataku tak berguna di depan Ia yang maha adil.
karena akhirat tak butuh penyair, fasik dan kafir.
akhirat hanya butuh kesaksian, kepada yang dua dan pelaksanaan yang lima.
Untuk Fransisca
aku menatap matamu Chi
yang redup, sunyi dan bening serupa kaca-kaca
bersembunyi dibalik ramai pasar tawa beruk kota
ayo kita pulang Chi
Membangun rumah dari serak-serak rindu
Lalu disekat dengan awan dan hutan