Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 30 November 2011

Gigil


: 8:03 dan waktu berjalan pelan

kukira sudah habis lukaku
di taburkan pada ingatan
tetapi dalam sekerat kisah yang belum tamat
sekali lagi tanda tanya itu hadir

adalah jeda
perih pedih pekik dan peluh itu nyata
seperti langit yang
tak hendak terang seusai senja

kukira sudah tamat sakit
kusebarkan pada kenangan
tetapi dalam potongan
masa yang tak jua akhir

koma dan titik berencana
bersepakat untuk khianat
semacam peringatan akan laku lupa
berkelindan menakik rasa pedih sedalam dalamnya
sekuat
kuatnya
sakit sakit
sakit sakit
sakit sakit sakit
perih perih perih

menggigilah
hingga pudar semua hutang
sampai lunas semua rencana
lalu meratap sampai degil

haru
menyisakan ruang pekat hati

berkata : sepertinya aku merindu

Jumat, 28 Oktober 2011

Epos Lancelot

Apa yang kau cari di sunyi kelamnya danau itu?
Angsa hitam telah usai bertelur
dan merahnya darah pagan sudah mengering
batu batu, angin, pualam air, dingin malam

Apa yang kau cari Lancelot?
Apakah kepingan perasaan?
Yang dicerai berai badai

:hilang sesudah hujan

Bukankah tahta sudah berdiri
Kesatria meja bundar
dan kurusetra usai digelar
Tahta bergetar ditanah hitam
semua salib telah tegak
kabarkan tentang juru selamat dari gembala

Artur datang
malam usang
genderang perang
lumpur pedang
huru hara padang

Perigi danau hitam penuh dengan air mata
seperti tangisan Guinevere pada malam pertama
kabulkan segala jerit sengsara peri-peri
"tahta suci kerajaannya" katamu
"Adalah garba luka para pengembara sesat"

Lalu apakah kisikisi matamu itu Lancelot
Kebencian
Dendam
Amarah
Perih
Pedih
Luka?

"Lukaku adalah pengorbanan," katamu
pada seonggok bayangan di danau hitam
seperti Narsisus yang jatuh cinta pada bayangan
kau pun demikian
ditawan pesona ular
dalam cermin danau hitam

Katakan lah Apa yang kau cari Lancelot?

Putra raja agung Benoic
yang ditahbiskan langit sebagai penguasa
mengapa kau tanggalkan mahkota
menapaki jejak perunggu penjaga kepercayaan
putra raja, melata
Katakan Lancelot
apa yang kau cari di sunyi kelam danau hitam
bukankah pesona Guinevere yang ranum
atawa tahta kuasa britania
sudahkah kau menyerah pada ikatan-ikatan
"ibu suci bumi," katamu
"tak pernah usai memberi,"

Lalu apa yang tersisa untuk mu Lancelot?
simbol rune berpendar
jenggot merlin berkibar
:hati yang padam tak pantas hidupi cahaya
Lancelot malang, Lancelot malang
rima kebodohanmu sumbang
dikenang sepanjang jalan
orang-orang yang kalah
tak boleh ambil peran dalam sejarah

Lancelot malang, Lancelot malang
apalagi yang hendak kau korbankan
jika hatimu sudah tak di badan?



Kamis, 27 Oktober 2011

Ode To Broken Things



Things get broken
at home
like they were pushed
by an invisible, deliberate smasher.
It's not my hands
or yours
It wasn't the girls
with their hard fingernails
or the motion of the planet.

It wasn't anything or anybody
It wasn't the wind
It wasn't the orange-colored noontime
Or night over the earth
It wasn't even the nose or the elbow
Or the hips getting bigger
or the ankle
or the air.

The plate broke, the lamp fell
All the flower pots tumbled over
one by one. That pot
which overflowed with scarlet
in the middle of October,
it got tired from all the violets
and another empty one
rolled round and round and round
all through winter
until it was only the powder
of a flowerpot,
a broken memory, shining dust.

And that clock
whose sound
was
the voice of our lives,
the secret
thread of our weeks,
which released
one by one, so many hours
for honey and silence
for so many births and jobs,
that clock also
fell
and its delicate blue guts
vibrated
among the broken glass
its wide heart
unsprung.

Life goes on grinding up
glass, wearing out clothes
making fragments
breaking down
forms
and what lasts through time
is like an island on a ship in the sea,
perishable
surrounded by dangerous fragility
by merciless waters and threats.

Let's put all our treasures together
-- the clocks, plates, cups cracked by the cold --
into a sack and carry them
to the sea
and let our possessions sink
into one alarming breaker
that sounds like a river.
May whatever breaks
be reconstructed by the sea
with the long labor of its tides.
So many useless things
which nobody broke
but which got broken anyway
Ada beberapa hal yang kadang bisa rusak dan tak akan pernah kembali utuh seperti semula. Seperti kisah Murakami dalam Norwegian Woods atau seperti kisah Balthazar Odyssey yang disusun Amien Maalouf. Dan puisi ini ditulis Neruda entah kapan. Tentang hal-hal sepele dan sederhana. Mengenai lampu, piring, bunga dan jam.
Ada beberapa hal yang rusak dan tak akan pernah bisa kembali utuh. Tetapi tak selalu kerusakan itu terjadi karena keinginan. Bukankah segala hal yang rusak adalah konflik. Dan tak pernah ada manusia waras yang menginginkan konflik. Tapi kemudian memang ada beberapa hal yang harus rusak dan memang telah rusak tanpa pernah kita menginginkanya.

So many useless things
which nobody broke
but which got broken anyway

Sabtu, 25 Juni 2011

Melodia - Sebuah Puisi dari Umbu Landu Paranggi


Melodia

cintalah yang membuat diri betah untuk sesekali bertahan. karena sajak pun sanggup merangkum duka gelisah kehidupan. baiknya mengenal suara sendiri. dalam mengarungi hidup di luar sana. sekali waktu mesti berjaga dan pergi membawa langkah ke mana saja. karena kesetiaanlah maka jinak mata dan hati pengembara.

dalam kamar berkisah taruhan jernih memberi arti kehadirannya. membukakan diri bergumul dan menyeri hari-hari tergesa berlalu. meniup deras usia mengitari jarak dalam gempuran waktu. tak kan jemu napas berdegup di sini, dengan sunyi dan rindu menyanyi. dalam kerja bergumul suka duka, hikmah pengertian melipur damai.

begitu berarti kertas-kertas di bawah bantal penanggalan penuh coretan. dalam sepenanggungan mengadu padaku dalam manja bujukan. rasa-rasanya padalah dengan dunia sendiri, manis bahagia sederhana. di rumah kecil papa, tapi bergelora hidup kehidupan dan jiwa. kadang seperti terpencil, tapi gairah bersahaja harapan dan impian. yang teguh mengolah nasib, dengan urat biru di dahi dan kedua tangan.


*Umbu Landu adalah sosok misterius dalam dunia sastra Indonesia. Ini adalah salah satu sajak yang susah saya temukan. Ada rasa haru getir dan perih tapi manis yang terpancar. Suatu saat saya hendak bercerita tentang Umbu. Tapi tidak sekarang.

Selasa, 14 Juni 2011

Semalam Di Atap Langit


keranda awan datang
bawa bayangan
serupa detak waktu
menghambur rindu
di sela pikuk zaman


kukira kita telah memisahkan diri
menyatakan perang terhadap kebersamaan
melarung segala ingatan dan kenangan
kupikir ini sebuah kepastian
semacam nubuat yang telah digenapi

kukira kita setuju jika rindu
tak melulu tentang rasa pilu
tentang sendu yang tertahan di uluhati
merambati setiap pembuluh birahi
sekedar getar haru, menikam serupa belati

kukira kita sudah lunasi semua perasaan kita
di kotamu malam itu
seusai rancak lagulagu menlantun seirama lalu angin
lindap jalan, kalis hujan, dan pekat malam
menjelajahi segala yang senyap dalam bahasa sunyi

kukira kita memaafkan kebodohan
sebagaimana adam meratapi keterlanjangan
"cinta" katamu. bukan kata murah yang diobral dipasar
di hutanhutan, di peraduan
tapi bukankah segala rusuk merindu satu bersama tubuh?

kukira kukira kukira kukira kukira kukira
kukira sampai kapan kau kira kira?

semua sudah selesai
agas tak lagi sengatkan haru pada pembulu
malam ini kita hadapi
api jadah
ati gundah
rebah


4-6-2011 - Sragen selepas Surakarta

Sambil mendengarkan The Mars Volta

Sabtu, 11 Juni 2011

Ada yang Salah Dengan Jatuh Cinta?


Ada yang salah dengan jatuh cinta? Lalu kenapa bila kita sedang mengalami kondisi tersebut? Maksud saya adalah, apakah salah dengan jatuh cinta? Dalam banyak hal Jatuh cinta seperti menjadi sangat memalukan dan kekanak-kanakan. Saya tak setuju itu. Sesungguhnya kita harus merayakan saat-saat jatuh cinta.

Lalu saya liat mural ini di dekat kontrakan saya. Pembuat mural itu adalah seorang pemuda setempat yang konon patah hati karena diputus kekasihnya. Buat saya tak adil melakukan generalisasi terhadap suatu hal dan dibikin saat sedang galau. Emosi selalu membuat pandangan tak jernih dan seringkali berujung pada penyesalan yang pilu.

Lalu saya teringat sebuah puisi liris dari Walt Whitman, seorang pujangga kanon dari Amerika, yang kelak menginspirasi Gie dan Generasi Beat di Amerika. Buat saya, ia adalah salah satu pujangga terbesar Amerika seperti juga Charil Anwar di Indonesia.

Ia membuat puisi yang penuh dengan kegetiran, emosional dan suasana labil. Saya suka puisi yang semacam ini. Puisi yang selalu berusaha jujur dan apa adanya. Sometimes with one I love, ujarnya. I fill myself with rage. Mengisi diri dengan amarah. Sungguh sebuah sikap yang jujur. Inilah yang membuat saya menyukai Whitman sejak pertemuan saya dengan nama besar beliau difilm Dead Poet Society.

Sometimes with one I love,

Sometimes with one I love
I fill myself with rage, for fear I effuse
unreturned love;
But now I think there is no unreturned love
The pay is certain, one
way or another;

(I loved a certain person ardently, and my love was not returned;
Yet out of that, I have written these songs.)

Lalu Kenapa takut jatuh cinta? Bukankah itu semua kodrat?

Sabtu, 28 Mei 2011

At Midnight

I'm the poet and you're the poem

we lost in the universe, seeking the truth

mine or yours?

shall we become one?

or just seperated?


just like the sea, the sky and the rainbow

find each other in solitude

"Eureka" it is yours to be said?

nor heaven or earth speak but lies


and then we all failed

as a humans and as a gods

Selasa, 10 Mei 2011

Ceracau Tanah

aku mau berkisah tentang negri kalah

yang tanahnya tandus tiada terkira

lama sudah awan mendung tak lagi membawa hujan

sehingga mereka yang memiliki mata lupa

betapa indah warna pelangi sesudah hujan


aku mau berkisah tentang negri belah

yang tetuanya serupa buduk-buduk parlente

yang amboi isi mulutnya

tak lebih baik dari comberan

dimana seonggok tahi pun tak sudi mampir didalamnya


aku mau berkisah tentang negri terjajah

yang rakyatnya menjadi budak layar mini buatan cina

yang konon mereka puja dari hasil berternak keringat di pojok-pojok jalan

sambil mengiba menjual muka

lalu habis tenaga disudut kicau pertanyaan "what is your thinking?"


aku mau berkisah tentang negri resah

yang para pemuda-pemudinya sibuk berlomba untuk jadi badut tenar

karena tak tahu cara lain untuk hidup

selain merengek-rengek minta dukungan menjadi bintang layar kaca

yang pada akhirnya akan diingat sejarah sebagai sampah


aku mau berkisah tentang negri lelah

yang pada setiap harapan dan cita-cita telah tertambat harga

berlomba untuk jadi abdi negara

agar kelak tua tak perlu sengit berebut harta

sehingga dengan santun menunggu antrian kematian


aku mau berkisah tentang negeri gerah

tak ada angin, tak ada air, dan tak ada kenangan

yang menjadi basuh, tetirah dan jalan pulang

semua samar-samar, semua buram

dan akhirnya hilang

merayakan kehancuran

Sabtu, 30 April 2011

Sebelum rapat malam


moon over the grave

Malam mau mampir

kubilang "tunggu dulu juitaku sedang dijalan. Jangan bikin gelap awan,"

kita berdebat, baku ludah dan sambit

Lalu senja datang berwarna malu-malu

ia hendak genapkan rinduku.

"Juitamu aman, malah sedang berdendang lagu pop," kata senja

akhirnya aku pulang, dan temukan juita sedang karaoke

tapi tak sendiri

ada hujan dimatanya






*Minggu , 17 April 2011. Tepat sebelum SmS jauh datang dan rapat terlalu malam.

Sabtu, 16 April 2011

Langit Seusai Mendung


untuk idz

Dan kulihat ia tak lagi keruh dengan ingatan tentang luka
Larik-larik cahaya lurus memancar mata
"Telah kutemukan lagi langit yang baru,
adalah ia sahabat luka" katamu dengan wajah berbinar

bukankah hidup mengenai runtut kebahagiaan?
dalam suram kisah purba,
semua cinderela menemukan sepatu kaca
kaupun demikian kukira
kau temukan sahabat dalam luka.

Kebahagiaan kini telah hadir.
Lebih dekat dari dua helai nafas.
Jangan menangis lagi, cahayamu terlalu terang
untuk dirundung mendung.

post scriptum


Jika memang pada satu jeda aku harus dipaksa menyerah
maka biarlah
bukan kemenangan yang dituju
sekedar keberadaan

"Kau tentu tau apa jua jawabku"

seperti langit yang terlajur merah saat senja
dan mengalirnya sungai bedadung
kita akan bertemu nanti saat awan mendung
pasti

Jauh

untuk SFK

jarak rupanya telah bersepakat
dan malam seperti juga siang pun mufakat
ciptakan lelah panjang pucat
yang terlampau jauh tercatat

dimana keheningan ini bermuara?
dan segala akhir bercerita

"Melipat rindu puan, sungguh hamba tak bisa"
teriakku lantang
demi perigi yang mengalir panjang
jauh, kan kutebas hingga terlentang!

Tentang Tiga Firman

Muhammad menangis keras berdoa lantang
hingga di ujung nafasnya yang rapuh itu suaranya tak lagi bimbang
"ummati, ummati, ummati," kata Muhammad
di langit sebisik suara menjawab
"tunggu, Ku update status dulu," ujar Nya.


Jesus merajuk sepi tertancap darah paku berbisik lirih satusatu
Di bukit Golgota tiga pasak salib berjajar rapi
"Eli-eli lama sabachtani" kata Jesus
di kerajaan Nya sebising suara menjawab
"Sorry, Kau sudah Ku remove dari friendlistku" kata Nya

Musa berdebat keras dengan batubatu tentang Cahaya Terang
di bukit Sinai tanpa alas kaki ia menerima yang sepuluh tanpa debat lagi
"Eved HaShem, Avi haNeviim zya"a " kata Musa
di sebuah Api yang terang selirih suara menjawab
"oke cuy, jangan lupa folbek yah" seru Nya

Jumat, 15 April 2011

Tentang Sepetak Mata

untuk : Imanda D Salsabila


Adalah ia yang mengaliri kenangan dengan air yang tak mungkin surut.
"aku sedang menunggu es krim" kau bilang
seraya memandang malam yang terlajur uzur
bukankah kita semua sedang menunggu dik?
menunggu untuk menjadi hitam dalam sekilat matamu yang tertutup.


Proficiat?
tidak, tak perlu ada perayaan atas kemenangan.
tentang es krim, maskara, dan celak hitam mata.
Matamu yang sederhana telah meruntuhkan segala yang banyak,
tetapi yang diam pun akhirnya akan bersuara.
entah kapan..


Jember 14.2.2011 di tengah malam sebelum hujan

Tarikh Massa Muda

Untuk Dodik Yulianto


Kau pernah berkata padaku jangan takut menerjang ombak
karang yang keras takan mampu lukai hati yang serak
kau suruh aku mendaki bukit paling terjal dan meludahi segala rintangan
karena kau percaya, aku yang mereka sebut pesakitan ini
akan mampu sudahi tantangan



kau sahabat lekat serupa langit dan ujung awan itu
bertautan tak hendak lalu
merobek bendera putihku dan memaksaku melaju


"deru deru deru campur debu
kibaskan segala luka dan ilalang kering
dibalik terjal malam ada cahaya siang"
ujarmu di waktu subuh.

sementara telah tuntas langit kau takik
bukit kau daki
samudra kau terjang


O yang bijak
O yang terang
O yang menyejukan

padamu aku berkata, aku rindu kau saudaraku



* Senin 24 Maret 2011, Saat perut lapar dan undangan makan ditinggalkan.

Minggu, 20 Maret 2011

Kepada ia Yang memiliki Hari Pembalasan

untuk ASB

Aku tahu kelak ditanah penghakiman, aku akan menjadi salah seorang diantara pengecut.
Yang rela menjual ayah, ibu, saudara, istri dan anak demi sedikit keselamatan.

Aku tahu kelak ditanah pengadilan, aku akan menjadi salah seorang diantara pengkhianat.
Yang rela menagih segala hutang, janji, amanat demi sedikit pengampunan.

Aku tahu kelak ditanah Pembalasan, aku akan menjadi salah seorang diantara pesakitan.
Yang rela berdusta dengan kata, namun tak bisa, karena sepasang tangan, kaki, mata dan telinga akan bersaksi dengan kejujurannya sendiri.


Aku tahu kelak ditanah penyucian, aku akan menjadi salah satu diantara pendosa.
Yang direbus, dibakar, disiksa dengan segala kepedihan atas semua dosa secara seksama.

Aku tahu kelak di tanah penghabisan, aku akan menjadi salah satu diantara para pendusta.
yang pernah bersumpah tentang satu tuhan satu juru selamat, namun tak pernah meyakininya.

Aku tahu kelak di tanah pembuangan, aku akan menjadi salah satu diantara para celaka.
Yang melena saat muda, membuang masa jaya dan menuruti segala iba.

Aku tahu kelak di tanah penistaan, aku akan menjadi salah satu diantara para terkutuk.
yang meratapi kehidupan, segala waktu, usia dan penantian. dengan segala kesia-siaan.

Aku tahu kelak di tanah penghinaan. segala puisi dan kata-kataku tak berguna di depan Ia yang maha adil.
karena akhirat tak butuh penyair, fasik dan kafir.
akhirat hanya butuh kesaksian, kepada yang dua dan pelaksanaan yang lima.

Kamis, 03 Februari 2011

Nama Cinta setelah aku bertemu denganmu (atawa ode untuk Zaki II)


Nama cinta itu adalah harapan, seperti mendung yang membawa kalis hujan meski kelam.
Nama cinta itu adalah perjuangan, seperti persalinan, atas nama kasih sayang tulus ibu pada anaknya.
Nama cinta itu adalah kesalihan, seperti khusyuk harapan pendosa dimalam taubat saat maut tiba.
Nama cinta itu adalah malam, yang menjanjikan redup lembut untuk beristirahat.
Nama cinta itu adalah air, yang melindungi kafilah jauh dalam kesegaran.
Nama cinta itu adalah ombak, yang selalu setia menemani tepian pantai sampai akhir zaman.
Nama cinta itu adalah kebajikan ,layaknya guru pada murid, mencerdaskan dan memberikan pemahaman.
Nama cinta itu adalah kebijakan , layaknya pengembara dan kakinya, bersama-sama menapaki pengalaman.
Nama cinta itu adalah kenangan, layaknya penyair dan kata-kata berbagi ingatan.
Nama cinta itu adalah bintang, menjanjikanmu imajinasi, khayalan dan cita-cita yang tinggi.
Nama cinta itu adalah bumi, menjanjikanmu daratan luas, laut yang dalam dan gunung yang terjal.
Nama cinta itu adalah udara, menjanjikanmu kehidupan, kesederhanaan dan rasa ikhlas.
Nama cinta itu adalah luka, mengajarkanmu penderitaan, rasa perih dan pengorbanan.
Nama cinta itu adalah benci, mengajarkanmu permusuhan, rasa dendam dan memaafkan.
Nama cinta itu adalah tawa, mengajarkanmu kebahagiaan, rasa syukur dan berbagi.
Nama cinta itu adalah buaya, hewan degil, setia dan tak serakah.
Nama cinta itu adalah kuda, hewan binal, bebas dan tak terikat.
Nama cinta itu adalah serigala, hewan lugas, posesif dan tak toleran.
Nama cinta itu adalah kamu.
Nama cinta itu adalah aku.
Nama cinta itu adalah kita.
Apa nama cintamu?

Kamis, 23 Desember 2010

Disela Malam Sebelum Natal

Untuk Fransisca


ada sisa pelangi dimatamu Chi,
yang tak bosan kupandangi meski usang
yang pada malam harinya berubah jadi tokek warna merah muda
berderet-deret bersuara nyaring,
pada dentang sunyi malam yang kedua belas

Paginya kita bertemu lagi Chi,
lewat embun, kokok ayam dan rintihan pulang vampir-vampir jompo
lewat jalan lapang disebelah rumah, lalu hilang di ujung subuh
dan menyesap sisa jejak yang disergap angin gunung

aku menatap matamu Chi
yang redup, sunyi dan bening serupa kaca-kaca
bersembunyi dibalik ramai pasar tawa beruk kota

aku ingin kita berjalan Chi, bergandeng lengan,
agar nampak mesra sekali seperti sedang jatuh cinta
agar tak gegas lenyap seperti uap
karena waktu selalu khianat pada bahagia

aku masih tak bosan memandang matamu Chi
yang di dalamnya ada bintang kecil, sungai susu dan labirin gula-gula
yang meski sudah bangkrut, tapi sesak dengan kenangan-kenangan
jangan kau berkedip, menutup matamu yang indah itu Chi
nanti sungai itu tumpah, bintang itu hilang dan labirin itu rusak
(diam-diam menyeka mata air yang lupa menetes)

ayo kita pulang Chi
Membangun rumah dari serak-serak rindu
Lalu disekat dengan awan dan hutan


Jember
20:19
23/12/2010