Kamis, 03 Februari 2011

Pecundang

Benar bahwa tak ada yang lebih perih menyakitkan seperti terjatuh dalam sebuah kekalahan yang dirayakan dengan demikian rupa tanpa ada semacam kesempatan untuk bangkit berdiri dan terus-menerus dihinakan dengan begitu rupa seolah-olah kekalahan itu adalah takdir yang tak dapat dihindarkan dan telah dicatat dan disahkan dalam majelis takdir tanpa ada satu kalipun pecundang itu mampu membela diri meski hanya dengan berkata tidak atau bukan atau tak mau atau apalah itu sebagai perjuangan melawan nasib sendiri yang hingga kini disorak sorai dengan jalanan dilapisi karpet merah sehingga ia yang tersungkur jatuh meyakini takdirnya sebagai orang yang kalah adalah benar adanya dan tak perlu dibela lagi.

Seperti halnya Mitsuhide Akechi sang ronin yang mesti sembunyi dalam hutan untuk menyelamatkan sepotong nyawa yang tertinggal sebelum tebasan katana meruntuhkan segala kebanggaan yang dalam dua detik habis seraya menggelepar merah darahnya mengaliri segala sungai-sungai keputus asaan atas segala hinaan yang menggema menolak tunduk pada titah Oda yang tak sekalipun ingat merayakan kebanggaan atas pencapaian Akechi yang begitu rupa tak lebih baik dari seonggok sampah di atas comberan sehingga Akechi merasa perlu membayar segala perlakuan tersebut dengan tumpahnya darah merah sebelum perayaan Honnō-ji terjadi.

Seperti halnya Prometheus sang titan yang segala kebaikannya untuk memberi pengetahuan kepada manusia tengik dibalas rantai-rantai tebal nan tak terpatahkan diujung pantai gunung Caucasus sebagai buah atas bibit kebaikan yang dikiranya akan berbalas budi tapi tak seperti lautan tenang yang menghantarkan ombak manusia adalah serangkaian duri onak yang terlalu sombong untuk mengakui kelemahan diri apalagi berkata terima kasih atas nama kenikmatan dan pengetahuan yang mereka selalu lupakan demi kepuasan selangkangan dan perut tambun mereka dimana tak satupun belatung hendak hidup melalui ketamakan selain cacing-cacing busuk yang menggerogoti hati manusia yang fesesnya hidup sebagai nafas baru manusia-manusia tersebut.

Seperti halnya para serdadu Alamo yang dengan setia tabah merayakan kehancurannya dalam semangat gilang gemilang untuk memperingatkan kepada mereka para penjajah bahwa semangat yang tak terpatah mampu meredam segala yang tajam tetapi dengan sekejap segala kegagahan itu menjadi sekedar olok-olok bacin yang tolol karena sekuat apapun mereka mengingat Alamo hanya sekedar kisah para mayat yang kalah atas tetabuhan sejarah dan terhinakan dalam kubur mereka tanpa mampu membalas darah yang telah mengucur keras membuat mereka menyanyikan nada-nada kensunyian dalam bias kalimat “remember the Alamo”.

Seperti halnya Rasputin yang menggenang dalam anggur setelah tak sekali duakali tigakali empatkali cabikan belati disegala tubuhnya bisa meregang nyawa si tua penyihir Rusia tak juga racun dan tembakan melubangi dahi dapat membunuhnya dengan segala ilmu kebal nyawa tak mampu melindungi dari ketakutan yang jamak pada yang liyan dimana kemudian atas nama revolusi ia dibakar ditenggelamkan dan dimusnahkan diam-diam ketakutan pun menyebar karena yang kalah tak mampu lagi menggenapi nasib yang tak utuh.

Seperti halnya Judas yang merayakan kutukan dalam tangis hening cinta yang dikecewakan ia yang maha Kasih dan Penyang dalam lamunan keji ia bersumpah akan membasuh bumi dengan kepedihan Nya tangisan Nya ratapan Nya dan keputusasaan Nya agar segala dendam dan sakit hati atas cinta yang bertepuk sebelah tangan mampu terbayar lunas dalam bisik lirih “Eli Eli Lama sabahctani” meski kelak sepanjang zaman ia akan dikenal sebagai yang tersesat yang terhina dan yang terkutuk namun apalah arti itu semua daripada rasa sakit atas cinta yang tak bertunas?

Seperti halnya Muhammad yang meringis perih dalam Uhud atas nama luka kehilangan Hamzah dan ketidakpatuhan umat terbujur rakus dihadapan harta-harta rampasan perang melupakan titah untuk tidak turun menikmati ketamakan yang telah dijanjikan memberi kesempatan pada mereka yang jahil merayakan kemenangan atas pekik maut para syuhada dihabisi dendam kekalahan yang pahit sehingga mereka tak segan merusak segala mayat kaku dengan cara yang paling hina agar lunas rasa sesak sakit yang berjelaga dalam hati-hati mereka.

Seperti halnya Musa yang menghujat maha Esa dalam pertanyaan diujung bukit Sinai atas segala bebal pemahaman umat yang tak mau tahu tentang apapun selain keagungan diri apalagi memahami sepuluh perintah yang terlalu tolol untuk mereka yakini karena pada dasarnya Musa hanya seorang pemimpi yang gagal memaknai zaman dan ketika perubahan ditawarkan ia menjadi sesosok badut berjanggut yang terlalu tua untuk di terima oleh Youtube.

Diatas Nisanku Kelak Kutulis Bahwa :


Sahabatku pernah belajar mengeja kekalahan saat ia kecewa pada nasib yang seumpama belati terlalu tajam menghujam jantungnya hingga berkali-kali ia minta ampun belati itu tak sedikitpun menghela nafas malah semakin dalam menikam sehingga ia lupa bagaimana rasa sakit itu dan menikmati segala luka dengan khidmat.

Sahabatku pernah belajar mengeja kesunyian saat ia tertunduk jatuh dan mengiba pada keramaian agar ditinggalkan jauh dan bersembunyi tetapi tetap saja derai tawa dan gelegar kebisingan yang hingar bingar masih mampir sehingga ia percaya nasibnya yang tak lebih baik dari seekor katak yang belajar berenang dalam kubangan lumpur.

Sahabatku pernah belajar mengeja kebekuan saai ia berjalan ditepi sungai memunguti sisa harapan menunggu kalau saja ada jalan memutar menuju waktu yang lampau ia akan kembali menggubah segala rentetan kisah kelam yang hitam dan sedikit memberinya warna-warna cerah agar tak perlu lagi menangisi yang sudah usai.

Sahabatku pernah belajar mengeja kemarahan saat ia mesti tunduk patuh pada guru-guru yang tak mau salah merasa dirinya lebih tinggi dari pada tuhan sementara murid hanya hamba budak yang hina sehingga dalam hati kecilnya sahabatku itu mulai memelihara dengki sebesar gunung-gunung dan menunggu meletus dengan segala kehancurannya.

Sahabatku pernah belajar mengeja keterasingan saat ia sekali lagi musti dipaksa percaya bahwa tak ada kuasa yang lebih besar daripada selembar kertas bernama uang sehingga sepintar apapun pengetahuan yang kau yakini tak akan bisa merobohkan dinding bebal isi kepala manusia-manusia yang di otaknya hanya ada uang uang uang dan uang.

Sahabatku pernah belajar mengeja kesendirian saat ia harus menelan sekali lagi penolakan atas nama cinta dan dikhianati keyakinan platonis bahwa ada semacam malaikat dalam hati manusia-manusia yang tak lagi berpijak pada wajah untuk mengharungi kehidupan lebih baik atas nama kasih sayang yang ternyata tak lebih taik kucing daripada wajahnya itu.

Sahabatku pernah belajar mengeja ketakutan saat ia berlari menghindari kehidupan yang isinya tak lebih dari masalah-masalah yang bahkan tak satu (t)uhan pun sanggup membantunya sehingga ia berpaling pada ketidaksadaran yang dijanjikan botol-botol, kapsul-kapsul dan selangkangan-selangkangan - amboi nikmat sekali mampu membantu melupakan hidup.

Sahabatku seperti juga Aku sekarang sedang belajar mengeja kematian karena tak mampu lagi berdamai dengan masa lalu yang hanya menjanjikan kisah pahit sementara masa depan terlalu suram untuk dijalani sendirian sehingga segala yang bernama keyakinan sudah kami gorok beramai-ramai dan mengalirkan darahnya di tiap-tiap surat lamaran pekerjaan.

Lalu apa yang saat ini kau eja? Kemenangan kah atau yang lain?

Apapun itu jangan lupa kau kirim kisahmu di atas nisanku yang disampingnya berdiri milik sahabat-sahabatku dan dalam damai kami merayakan betapa tengik hidup yang kau jalani. Proficiat