Tampilkan postingan dengan label soliloqi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label soliloqi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 27 Oktober 2011

Hari Ngeblog Nasional

Dapat kabar dari blognya mas Hary Tanzil kalau setiap 27 Oktober secara syah dan meyakinkan dijadikan hari Blogger Nasional.


Sebenarnya saya baru ngeblog sejak dua tahun terakhir. Karena kanal kreatif menulis saya seolah mandeg. Bukan dalam artian negatif. Tapi di lembaga tempat dimana saya belajar menulis perlu juga regenerasi. Maka saya lebih memilih mengalah dan memberikan ruang bagi anak-anak baru untuk menulis.

Dan inilah saya masih mengasuh terumbukarya setelah sekitar 400 harian. Tapi bukankah setiap manusia itu ingin punya hal yang dibanggakan?

Sebuah usaha untuk meraih ad vitam aeternam. Menuju keabadian.

Jadi di era digital yang terlampau tengik ini. Kalian yang punya kemampuan membaca dan menulis. Kenapa tak buat keabadian di internet?

Senin, 17 Oktober 2011

a quotes from Neil Gaiman

~ S.F.K


“Have you ever been in love? Horrible isn't it? It makes you so vulnerable. It opens your chest and it opens up your heart and it means that someone can get inside you and mess you up. You build up all these defenses, you build up a whole suit of armor, so that nothing can hurt you, then one stupid person, no different from any other stupid person, wanders into your stupid life...You give them a piece of you. They didn't ask for it. They did something dumb one day, like kiss you or smile at you, and then your life isn't your own anymore. Love takes hostages. It gets inside you. It eats you out and leaves you crying in the darkness, so simple a phrase like 'maybe we should be just friends' turns into a glass splinter working its way into your heart. It hurts. Not just in the imagination. Not just in the mind. It's a soul-hurt, a real gets-inside-you-and-rips-you-apart pain. I hate love.”

Rabu, 24 Agustus 2011

Comfort Zone

Peradaban dimulai dari sebuah pertentangan. Kekuatan yang lalim dan yang lemah. Saling memangsa dalam identitas yang kemudian melebur dalam ikatan ikatan komunal. Di ujung hari manusia mengenal penaklukan dan kekuasaan. Terselamatkan konsensus bersama yang kemudian kita kenal sebagai norma.

Tapi semua seperti menjadi bahan ejekan dalam film idiocracy. Bahwa kita hanya terbentuk dari persepsi dimana kita tinggal. Bahwa sesungguhnya apa yang menjadi kebenaran diri bukan berarti menjadi kebenaran bersama. Sebuah pencarian yang berubah menjadi bildungsprozess. Pencarian jati diri.

Sekam-sekam definisi antar komunal membenturkan pencarian tadi. Bahwa apa yang menjadi sebuah standar normatif di satu kelompok, belum tentu menjadi kebenaran bagi pihak yang lainnya. Ada sebuah chaos yang bersembunyi dalam setiap definisi normal dan wajar.

Akhirnya manusia dan seperti kebanyakan dari kita mengamini bahwa normal dalam definisi normatif. Adalah mereka yang tak berbeda, tak macam-macam dan biasa-biasa saja. Seperti pepatah, menyembunyikan daun di dalam hutan, keseragaman merupakan jalan tengah bagi sebuah keselamatan.

Namun menjadi normal dan menjadi biasa saja adalah sebuah penjara. Khianat karena pada dasarnya tak pernah ada manusia yang seragam, tak pernah ada kisah yang serupa, dan tak huruf yang benar-benar sama. Maka menjadi normal adalah abnormal dan menjadi biasa adalah tidak biasa.

Mungkin ini yang kemudian menjadikan Cristopher McAndles untuk kemudian berziarah mencari pelarian. Menyigi hidup dengan jalan yang paling pejala. Melarung diri ke alam raya, sendiri dan tanpa bantuan manusia lain. Dalam pandangan manusia normal McAndles-atawa Alexander Supertramp, merupakan liyan. Kutil dan aib yang musti disimpan.

Serupa kisah dari Gadel. Dimana kejujuran Siami (yang konon merupakan nilai normatif) merupakan awal mula perusakan dan kedengkian. Kejujuran untuk mengungkap sebuah praktik curang terpaksa membuat seorang Siami harus angkat kaki dari rumahnya. Pergi karena ia adalah kutil adalah aib diantara para tengik yang sudah nyaman dalam kebohongan degil.

Kenyamanan, meski dalam comberan, adalah sebuah surga kecil yang seringkali sulit untuk ditinggalkan. Pekerjaan, status sosial, istri dan rasa sakit. Merupakan surga kecil yang tak sudi ditinggalkan. Meski sebenarnya comfort zone tadi adalah sebuah living hell. Ada ketakutan bahwa memulai dari awal lebih menyusahkan daripada bertahan dengan siksaan yang sudah ada.

Jika demikian maka benar kata Jamie Cullum dalam twenty something. Bahwasanya i'm an expert in Shakespeare, but world doesnt seem need it. Bahwa segala yang kita nilai pemberontakan sebenarnya adalah sebuah comfort zone baru. Bahwa Che yang merupakan simbol segala perlawnan harus bersanding dengan sexpistols dalam remang butik mahal di Milan. Definisi surga lebih cair daripada comfort zone itu sendiri. Bahwa ruang yang tak nyaman adalah surga, dan segala neraka adalah kenyaman itu sendiri.

Kamis, 04 Agustus 2011

Kritik


In the finest critics one hears the full cry of the human. They tell one why it matters to read. Harold Bloom
Saya suka kritik. Jika kritik dimaknai sebagai sebuah hinaan, cercaan dan kata-kata pedas dari orang yang anda kenal. Well, saya suka kritik itu. Tapi bukan berarti saya kebal. Sesekali saat mood dan emosi tidak stabil saya kadang ikut tersulut dan marah. Tapi selebihnya kritik membuat saya tahu apa yang salah dan memperbaikinya dengan seksama. Mungkin terdengar naif dan sangat bijak, tapi sebenarnya itu tindakan pragmatis yang perlu dilakukan jika kita ingin terus berkembang.

Adalah Cicero yang kemudian mempekerjakan seorang budak untuk selalu berbisik kepadanya di tengah kerumunan. "Kamu adalah manusia biasa, manusia yang punya banyak salah," kira-kira seperti itu si budak berkata pada Cicero. Sebagai salah satu pemikir dan orator t terhebat Roma, Cicero selalu dalam lingkaran pujian yang tak henti-henti. Ia membutuhkan seseorang yang mengingatkan bahwa seorang Cicero adalah manusia biasa yang bisa gagal dan salah.
Adapula Louis Amstrong, legenda Jazz asal New Orleans yang lebih dikenal sebagai penyanyi (di Indonesia) daripada seorang pemain trumpet. Ia kerap kali menolak membuat satu repetoire jazz yang sama setiap manggung. Akan ada sebuah karya dan teknik baru yang ia kembangkan. Meski berulang kali menyanyikan lagu yang sama. "I will not let people to criticizes me. That Why i made whole new songs," ujarnya suatu saat. Kritik kerap kali terjadi karena repetisi dan miskinnya improvisasi.

Saya membenci kritik yang didasari oleh prasangka dan kebencian pribadi. Meski kadang saya pernah melakukannya, tapi saya tahu kebencian membuat kritik jadi tidak objektif. Seperti menilai sebuah sambal pedas tanpa mencobanya.

Jumat, 22 Juli 2011

God

god is greed

Hari ini saya sekali lagi gak Jumatan. Bukan menjadi Atheis, tapi sedang memikirkan ulang keimanan kepada agama yang saya pilih. Daripada melakukan ibadah sebagai sebuah rutinitas, saya lebih memilih tak melakukan apapun. Akhirnya memutuskan untuk tidur di UKM daripada turut duduk khusyuk mendengarkan khotbah jahil yang menyeru kepada kebencian sektarian. Well, itu saya lakukan secara sadar.

Selepas masa pulang sholat Jumatan saya kemudian keluar UKM untuk mencari makan. Tapi sebelumnya buang air dahulu. Celana dilipat hingga diatas mata kaki, meski percuma, saya usahakan agar najis kencing tak menciprat ke celana. Lalu saat hajat sudah hilang waktu pergi ke warung untuk makan.

Di warung saya bertemu kawan saya. Sebut saja ia Udin. Kami sudah lama tak bertemu hampir selama tiga tahun. Rupanya selama tiga tahun terakhir ia aktif dalam sebuah organisasi yang mengusung khilafah agama arab sebagai idiologi. entah kenapa gaya bicaranya kini menjadi bernuansa arab. Padahal jelas-jelas saya tahu dia kelahiran Lumajang.

"Subhanallah Antum sehat ya? Banyak rejeki," katanya
"Alhamdulillah doa sampean juga," entah kenapa saya ingin berbasa basi.

Selepas itu ia kemudian menceritakan pencerahan yang ia klaim semenjak bergabung dengan organisasi berbasis khilafah agama arab itu. Mengenai kafir-isasi umat A, monopoli kekuasaan yahudi di Indonesia, komprador-komprador thagut, serta dajjal-dajjal yang menyaru dalam tontonan televisi.

Dengan berapi-api ia menyalahkan bobroknya iman karena sekulerisme dan liberalisme ala barat yang dianut sebagian bangsa ini. Mengenai bagaimana golongan muda yang semakin terjebak nafsu syahwat dan kebebasan yang kebablasan.

"Hanya khilafah yang mampu menyelamatkan bangsa ini. Dengan akidah dan penerapan hukum yang sesuai ajaran maka kita akan bahagia dunia akherat,"

Biasanya saya sebal sekali jika ada orang yang berkata demikian. Meski dalam hati kecil saya setuju bahwa akidah dan syar'i mampu membawa kebaikan, namun penempatanya perlu konteks sosial yang jelas. Saya biarkan dia ngoceh ngalur ngidul tentang bagaimana ia ingin merapatkan barisan untuk mengganti sekulerisme negeri ini dengan sistem yang sudah berabad lalu musnah.

"Pokoknya tuhan akan merestui kita. Dengan kembali kepada ajaran rasul dan para sahabat niscaya Indonesia akan dirahmati,"

Dirahmati? Oh come on, saya ingin sekali menanyakan kemana rahmat tuhan itu saat Marsinah tewas di bantai, saat Munir diracun, atau saat tiga juta manusia di nusantara dibantai atas nama prasangka? Tapi sebagai teman yang baik saya hanya tersenyum sambil menghabiskan sisa krupuk di meja.

Udin rupanya semakin giras dan binal melihat reaksi positif yang saya berikan. Dia pikir saya mendengarkan, padahal sedikitpun tidak. Padahal saya sedang kesal dan berkhayal saat ini sedang di Jogja dan berkumpul bersama Pidi Baiq. Imam besar The Panasdalam. Sambil menghabiskan sisa teh tawar, saya mendengar ia semakin garang berbicara.

"Kita harus menumpas habis para infidel yang hidup dalam tampilan-tampilan generasi muda kita. Melawan kapitalisme Amerika dan sekutunya yang merusak persaudaraan umat sedunia,"

Saya mau tertawa keras sekali. Selepas ia mengucapkan kata kapitalisme dering Blackberry di sakunya terdengar. Melawan kapitalisme dengan memakai jasa simbol kapitalis di negara dunia ketiga? Sama seperti berkotbah tentang bahaya homoseksualitas sambil melakukan anal seks di Sodom.

Saya memutuskan untuk menghentikan kawan baik saya ini. Ia sudah terlalu berisik.

"Jadi kamu menyembah siapa?" saya iseng bertanya.
"Ya tuhan lah, aneh kamu ini,"
"Iya tuhan siapa? Tuhan yang menciptakan Muhammad atau tuhan yang menciptakan Dajjal,"
"Tentu saja tuhan yang menciptakan Muhammad," katanya.
"Tuhan yang menciptakan hitler atau Sayid Qutb?" lanjut saya.
"tentu saja tuhan yang menciptakan Sayid Qutb," jawabnya.
"tuhan yang menciptakan Abu Lahab atau tuhan yang menciptakan Abu Bakar As Sidiq?"
"Ya tuhan yang menciptakan abu bakar. Apa-apaan kamu tanya begitu?

Sambil berdiri saya menuju pemilik warung untuk membayar makanan. Udin ternyata masih penasaran dengan pertanyaan saya. Seperti anak kecil yang merajuk-rajuk. Ia memaksa saya untuk menjelaskan maksud pertanyaan saya.

Sambil lalu menaiki motor saya kemudian menjawab pertanyaan si Udin itu.
"Maaf din, saya sudah lama bersyahadat untuk menyembah tuhan yang menciptakan Hitler, Abu Jahal, dan yang kelak menciptakan Dajjal,"
"astagfirullah antum kafir! antum sudah terjebak kedalam sekulerisme bertaubatlah," jawab Udin.
"hahaha kamu itu yang perlu tobat,"

Saya biarkan Udin sendiri di warung itu yang tampak sangat kebingungan. Sepertinya saya rindu kotbah mbah saya soal nabi Khaidir.

Senin, 04 Juli 2011

How " Pasti " Are You?


Universitas Kampret of Cambridge, calon kampus saya :D


Oke, sebelumnya saya ingin mengingatkan bahwa ini bukan tulisan motivasi. Bukan pula tulisan penyemangat yang diharapkan setelah lunas membaca ini kalian akan langsung masuk surga. No, in fact half of this writings is almost shit.

Berawal dari keisengan saya dan kawan-kawan di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang berkata "Kalau ngerasa pasti bisa, pasti bisa beneran." Saat sedang capek menulis dan membaca. Sekedar penyemangat saat sedang sumpek atau merasa sesak dengan kondisi diri sendiri. Tak disangka mantra itu ampuh untuk membuat saya dan kawan-kawan mencapai apapun yang kami inginkan.

Ada kawan yang berkata Pasti Bisa juara satu Desain. Dan dia menang juara tak hanya juara satu tapi juga juara umum. Ada kawan yang berkata Pasti Bisa lolos beasiswa. Dan dia lolos beasiswa selama setahun. Ada juga seorang bigot kawan saya yang bersumpah akan menziarahi makam tuhan Jim Morrison. And that mother fucker fly to paris and meet his god! FUCK!

Ini bukan kisah "man jadda wa jadda" ala Ahmad Fuadi. Bukan sama sekali. Jika AF adalah fatalis akut yang berhamba pada doa akan menyelesaikan segala. Saya dan kawan-kawan saya merupakan budak matrealisme logis yang bertumpu pada kerja keras dan usaha diri. Rumus Pasti Bisa itu seringkali membuat saya tak percaya. Seperti saat saya bermimpi bisa ikut kelas jurnalisme sastrawi Pantau, atau melancong ke Sulawesi atau menemukan buku langka Amartya Sen. Semua karena keisengan berkata "Pasti Bisa"

Dan ini mimpi saya. Untuk kuliah di Universitas Kampret of Cambridge. Salah satu universitas terbaik dan (termahal di Dunia). Saya ingin belajar bagaimana universitas yang didirikan para desertir Oxford ini melakukan riset, menganalisa dan bagaimana produk penelitian mereka bisa melakukan perubahan kebijakan. Well, saya pasti bisa. Pasti. Entah kapan.

Minggu, 03 Juli 2011

James Dauglas Morrison


He said he a lizard king, he can do anything

Saya mengenal Jim Morrison, atau lebih lengkapnya James Dauglas Morrison, dari kakak saya yang pertama. Dia penggemar berat musik jazz dan psydelic yang tentu saja sangat diakomodiasi oleh The Doors nya Morrison. Ada saat-saat dimana pada saat kakak saya sedang suntuk dia akan memutar keras Light My Fire dan Riders on the Storm dengan volume penuh. Well, saat itu saya masih kelas dua SD. Dan buat saya repertoire Light My Fire yang lebih dari tujuh menit itu terlalu bising dan membosankan.

Lalu pertemuan kedua saat saya kuliah dan masuk sebuah organisasi pers. Di sana saya bertemu seorang begundal yang menyaru jadi musisi bernama Nuran. Sekali waktu dia memutar The End nya Doros. Sontak saya kaget, kok bisa ada orang Jember yang kenal dan mendengar The Doors. Mana orangnya relatif muda. Mindset saya saat itu mereka yang mendengarkan musik-musik semacam Jazz, Psydelic, hanya orang-orang uzur yang termakan usia. Ternyata saya salah.

Tanpa sadar saya juga mulai menikmati musik The Doors. Tentu, saya menafikan ketokohan Jim. Buat saya mereka yang terlalu menokohkan, dalam konteks ini band, biasanya band yang akhirnya akan bubar seiring ego dari sang patron. Well, setelah saya mencari tahu tentang Doors. Semakin saya tahu, keberadaan Jim dan Doors serupa dengan keberadaan Atlas dan Dunia dalam mitologi Yunani. Keberadaan mereka terpisah sebagai individu namun saling menyokong satu sama lain.

Sosok Jim adalah sosok mistis, dari tulisan Nuran kawan saya yang pemuja Denie Sakrie itu, Jim memiliki alter ego. Beberapa sosok yang terbangun seiring dengan masa hidupnya. Terkadang ia adalah Mr. Mojo Rising lalu berganti menjadi Jimbo sang pemabuk beralih rupa menjadi Lizard King lalu tiba tiba kembali menjadi James Dauglas Morrison.

Hari ini adalah hari dimana Jim meninggal. 40 tahun lalu di sebuah apartemen, Jim ditemukan meninggal. Tidak ada yang tahu pasti apa penyebabnya. Konon ini hanya isu, bahwa sebenarnya Jim masih hidup dan mengejar mimpi Arthur Rimbaud ke Afrika. Namun satu hal yang pasti sosoknya sebagai James Dauglas Morrison manusia biasa belum pernah terungkap. Ini hanya sekedar pengantar. Nanti kalau sudah selesai meriset akan saya lanjut lagi. Untuk sekarang ini dulu. :D

Sabtu, 25 Juni 2011

Mitos Diplomasi Dan Kedaulatan

~ Het is geen roman,’t is een aanklacht!

Mari kita mulai catatan ini dari sebuah fragmen dari film 300 garapan Zack Snyder. Saat utusan Kaisar Xerses dari Persia datang menemui Raja Leonidas penguasa Sparta. Membicarakan penyerahan dan kepatuhan total Sparta kepada Xerses dengan imbalan keamanan dan kejayaan. Namun di sisi lain harus tunduk sebagai budak dan menjadi jajahan. Melihat kekuatan Persia yang Maha Kuasa seolah tuhan, Xerses menyebut dirinya God Kings, raja biasa akan gentar dan sesegera mungkin akan mengiyakan ketundukan.

Tapi Leonidas bukan sembarang raja. Dia adalah Leonidas yang mengalami upacara kedewasaan di alam bebas dengan segala keliarannya. Dengan buas Leonidas menolak tawaran itu sembari menendang utusan Persia itu ke dalam the bottomless pitt. Akhir diplomasi sudah dapat jelas terlihat. Tidak ada tawaran untuk sebuah ketundukan, lebih baik mati berkalang tanah daripada diinjak sebagai budak.

Lalu kita pindah sedikit ke fragmen lain dimana 280 pasukan Republik Texas dibawah pimpinan William Travis dan James Bowie terkepung dalam benteng Alamo. Sementara itu ke 2.400 barisan pasukan Gubernur Antonio López de Santa Anna dengan garang mengepung benteng itu lebih dari 13 hari. Segala macam diplomasi yang diberikan Gubernur Antonio tak juga diterima oleh benteng Alamo. Segalanya tumpul di depan semangat nasionalisme dan tanggung jawab yang bebal.

Apakah mereka menang? Tentu tidak, ke 280 pasukan Republik Texas berujung pada kematian yang terhormat. Sedangkan Gubernur Antonio terpaksa kehilangan 600 lebih pasukannya. Hanya itu? Tidak, sebuah gerakan revolusioner muncul di Texas dengan masif meluluh lantakan segala invasi Meksiko. Dengan teriakan “Remember the Alamo,” batalion intifada Texas mampu mengusir gerombolan Gubernur Antonio jauh-jauh. Kedaulatan lahir diantara tumpukan tumbal (atau martir?) yang dihormati sebagai semangat kolektif dan bukan hanya statistik mortalitas perang belaka.

Tak perlu berlama-lama untuk kita menuju Singasari sekitar Abad XI dimana Raja Kertanegara sedang duduk dihadapan dua utusan Kubilai Khan. Penguasa mutlak daratan mongol yang sedang menjadi pengendali langit dan bumi. Dengan sedikit basa basi dua utusan itu meminta Kertanegara untuk tunduk. Dengan imbalan menjadi bagian dari kerajaan adikuasa Mongol, jika menolak maka balatentara Khan agung akan menggetarkan Javadwipa. Apakah Kertanegara gentar?

Sedikitpun Kertanegara tak gentar, malah dengan gahar ia mengambil sebilah keris di punggungnya dan mengiris telinga kedua utusan itu. “Khan boleh datang ke Javadwipa, dengan jalan duduk dan meminta maaf padaku, selebihnya ia berujung sebagai bangkai,” teriaknya geram. Apakah ia berbuat naif? Tentu, melihat peta kekuatan Singasari dan Mongol saat itu. Tindakan Kertanegara tak lebih dari bunuh diri. Tapi sekali lagi kedaulatan bukan sesuatu yang kita pelajari di buku dan dalam kelas. Ia berada dalam diri dan pikiran.

Ketiga kerajaan dan negara di atas sudah tumpas, hancur, bubar dan gulung tikar. Mereka berujung pada kefanaan karena tak mampu memenuhi diktum Darwin mengenai “Survival of the fittest.” Tetapi semangat mereka tetap menginspirasi masing masing pewarisnya dengan kebanggan (atau fasisme?) akan negara dan tanah airnya. Bahwa segala penghinaan yang tak berbalas merupakan kehinaan. Dan hanya ada satu padang Kurusetra untuk menyelesaikan segala sengketa itu.

Katakan bahwa adigium John Dingell, anggota senat terlama dan rekan dekat lebih dari 4 presiden Amerika, yang berujar bahwa “Perang adalah kegagalan diplomasi” adalah benar. Namun dalam perspektif kedaulatan negara orang orang yang saya sebutkan sebelumnya, “Diplomasi adalah kegagalan dari perang.” Tak ada satupun dalam perang yang mewakili diplomasi, namun dalam diplomasi segalanya adalah perang kepentingan.

Diplomasi sesungguhnya hanya tentang kompromi, mengenai bargaining dari komprador dan penjajah, mengenai kedegilan intelektual di depan mitos negara adi kuasa, paranoia atas statistik jumlah senjata dan kekuatan ekonomi, serta impotennya nyali untuk melakukan perjudian terhadap kekuatan diri sendiri. Menyitir kata-kata pukulun diplomasi Amerika, Henry A Kissinger, Diplomasi adalah seni untuk tetap berkuasa.

Lalu sebenarnya apa itu diplomasi? Mengapa begitu penting? Atau malah sebenarnya, seperti banyak kebudayaan pop, dibuat seolah-olah sangat dibutuhkan. Secara sederhana diplomasi adalah upaya menengahi, menyelesaikan, dan membuat kesepakatan bersama terhadap suatu masalah dan keinginan. Tak lebih dari itu, namun kebutuhan dan pola pikir manusia yang terlampau (dibuat) kompleks menjadikan diplomasi suatu hal yang susah dilakukan.

Dalam banyak hal diplomasi dilakukan karena suatu permasalahan yang terjadi sudah terlampau pelik dan mentok. Seperti utang yang terlampau banyak, hukuman yang terlalu berat atau arogansi yang teramat sangat. Semua adalah ranah dan tujuan dari diplomasi. Kembali meminjam pemikiran Kissinger dalam Diplomacy, yang mengungkapkan, bahwa kebutuhan bersama dan kepentingan yang berbeda menjadi faktor utama dalam terhambatnya penyelesaian (rekonsiliasi).

Tetapi apakah sebutuh itu? Diplomasi dalam konteks kekinian adalah seni berkata-kata, berdebat dan berjualan. Seperti seorang makelar di pasar maling. Ia selalu diliputi rasa takut salah membuat keputusan dan gagal lalu berujung pada penjara. Sementara itu diplomat (sebutan orang yang jago diplomasi?), yang entah apa fungsinya, seringkali malah menjadi sekedar jabatan kosong atau liburan bergaji.

Terlalu banyak kegagalan permasalahan politi luar negeri kita untuk dimaklumi. Afirmasi atas kurangnya kekuatan ekonomi, politik dan militer selalu jadi kambing hitam. Mereka yang demikian ini apa tak malu kepada Dalai Lama yang negaranya bahkan tak punya kekuatan militer, namun berani melakukan kampanye dan perlawanan terhadap Cina.

Okelah Dalai Lama memang tak menang, tak berkuasa, tapi setidaknya ia berani menjadi diplomat tanpa perlu berbasa basi. Tak perlu melumat banyak buku politik namun pada akhirnya hanya stagnan pada wacana kosong dan busa debat. Saya bahkan sangat malu untuk menuliskan nama Teuku Tiro dan Aung San Su Kyi. Karena dua nama itu terlalu heroik dan suci jika dibandingkan dengan diplomat kelas kacang yang ada di Indonesia. Apakah saya sedang melankolis? Tidak, ini hanya Het is geen roman,’t is een aanklacht! Bukan sekedar roman, ini adalah gugatan!

Saya sudah terlanjur jijik dan antipati terhadap mereka yang mengaku sebagai diplomat. Entah karena fungsi mereka yang seringkali tak berguna atau keberadaan mereka yang sebenarnya malah menambah ruwet masalah. Saya ingat permasalahan Indonesia, GAM, dan perdamaian diselesaikan oleh orang-orang yang malah bukan diplomat. Yang satu insinyur, yang satu sarjana sosial dan yang terakhir bahkan lulusan ekonomi.

Sebenarnya bagaimana cara kita memperoleh diplomat? Sejauh pemahaman saya belum pernaha da sekolah tinggi pendidikan diplomat di Indonesia. Kalau sekolah camat yang luar biasa kampret bertebaran di mana-mana. Saya malah jadi sinis, dari 350 juta penduduk Indonesia apakah tak ada satupun yang bisa berani berbuat dan melakukan perubahan sigifikan?

Semua yang saya kenal telah belajar politik luar negeri dan diplomasi selalu berkata. “Semua terlalu kompleks untuk bisa dimengerti otakmu yang sederhana itu,” well, try me. Apakah saya harus terus menunggu kegagalan demi kegagalan kebijakan politik? Seperti kematian buruh migran, pencaplokan wilayah, penistaan kedaulatan dan sebagainya dan sebagainya.

Mereka yang saya tanya selalu menjawab sistem politik Indonesialah yang korup dan rusak sebagai biang keladinya. Lalu apa guna segala macam ilmu, buku dan pertemuan-pertemuan yang dikonsumsi oleh para diplomat? Sekedar show of force atawa retorika? Kata-kata, diluar usaha pemberdayaan, adalah taik kucing. Serupa orasi sompral dari mahasiswa baru yang tak tuntas mengeja marxisme sebagai gerakan sosial.

Sejarah terlampau banyak membuktikan bahwa kedaulatan negara tak selalu diraih dari diplomasi. Kedaulatan negara diraih dari konsistensi sebuah pemerintahan/kerajaan terhadap apa yang mereka yakini sebagai tanggung jawab. Lupakan pancasila, uud, dan segala simbol brengsek mengenai nasionalisme. Semangat kolektif yang lahir karena kesamaan nasib dan kepedulian sosial merupakan inisiasi paling awal untuk memulai kedaulatan. Memulai segalanya dari nol, peduli setan dengan orang lain dan kerja keras bersama.

Tentu semua itu tak mudah. Manusia adalah mahluk sosial paling manja yang pernah diciptakan tuhan. Manusia akan sulit bertahan hidup tanpa blackberry, mall, buku, musik, listrik, viagra, facebook, Justin Bieber dan segala macam residu televisi. Kita mungkin hidup tanpa mereka, tapi akan sangat sulit sekali. Egoisme yang terlalu pekat karena paparan egosentrisme teknologi dan ketersesatan kebutuhan membuat manusia terlampau nyinyir terhadap perubahan yang merujuk pada kebersamaan.

Meminjam istilah Adorno dan Horkheimer, masyarakat paska industri, merupakan citra manusia yang hanya bisa merengek terhadap kesulitan dan menghamba pada kemudahan. Kedaulatan yang diimpikan akan selalu imajiner jika tak dibarengi usaha nyata melakukan perubahan. Semacam onani tanpa meraih orgasmus. Lalu sampai kapan diplomasi kita, yang didasari kedaulatan rakyat, akan dicapai dan diperoleh? Tak satu setan pun tahu! Ujar Gie dalam liang kuburnya.

Tapi tentu saja semua yang saya tulis ini hanya sekedar omong kosong. Apalah saya yang tak pernah belajar tentang diplomasi, politik dan basa basi bacot mengenai negara (yang saya anggap tak lebih menarik daripada mendengarkan hairmetal dan membaca Ary Ginandjar). Tetapi dengungan kata-kata Max Havelar, yang ditulis Multatuli, membuat saya terlampau jengah. Dengan memegang kepala dan mendelik pada resident Hindia, Max berkata “Saya tak suka menggugat siapa pun,” teriaknya kasar. “Tapi kalau harus, biar dia kepala tentu saya akan gugat.” Ah Max kau hanya sok tahu!(*)

Sabtu, 18 Juni 2011

Menua, Membesar dan Berkarat


Saya Sekarang, gendut dan berkarat

Sepertinya saya akan mati muda. Pola hidup saya yang berantakan tak memberikan ruang saya untuk cukup istirahat. Ditambah lagi kebiasaan makan yang tak teratur dan konsumsi kopi yang gila-gilaan. Semua akan mengurangi jatah hidup saya yang tak seberapa ini.

Dalam banyak hal saya yakin akan menyusul rombongan para perusuh yang berakhir dalam kesunyian. Chairil, Hendrix, Joplin dan Anarki. Bukan, jika kalian berpikir saya menyamakan diri dengan mereka. Kalian salah besar, saya bilang saya akan mati muda sepertinya jika tak segera mengubah kebiasaan hidup saya.

Saat kecil saya bisa bertahan dari demam berdarah, kata ibu selama seminggu saya koma dan tak bangun bangun. Itu terjadi saat saya berumur delapan tahun, saat saya baca literatur tentang demam berdarah saya jadi tahu kalau ibu saya hanya khawatir berlebihan. Saya mungkin sakit demam berdarah, tapi tak sampai koma.

Lalu menginjak SMA saya sakit tipus setelah ikut orientasi pendidikan Pecinta Alam di sekolah. Padahal hanya latihan fisik selama seminggu di gunung Putri, tapi memang dasarnya saya lemah. Dua minggu saya harus terkapar di kamar karena tipes. Sepertinya daya tahan tubuh saya berbanding terbalik dengan ukurannya.

Tapi ibu saya yang bijak memang luar biasa. Dalam satu kesempatan ia berkata bahwa semua penyakit yang saya terima adalah berkah. Sebuah penanda bahwa ada alarm untuk berhenti berkegiatan atau berproses. "Awakmu kui musti loro yen kebacut kerjo, kebacut moco, ngerti artine? Kudu rumongso waras yen awakmu due batas," ujarnya dengan kecut. Kalian tahu? Pengetahuan dan kebijakan seorang ibu terkadang bisa mengalahkan filsuf paling jenius sekalipun.

Sepertinya saya ingin mabuk malam ini, tidak dengan minuman keras tentunya. Saya menolak alkohol, tuak dan segala macam yang menghilangkan kesadaran. Lebih dari itu, meminjam istilah Baudelaire, Drunk Wine, poetry or virtue, as you wish. Ah, puisi dan kebajikan tentu itu lebih baik. Saya tak percaya dengan minuman keras seperti saya tak percaya tembakau. Keduanya hanya racun, dan saya tak suka menjejali tubuh saya dengan racun.

Lalu mengapa tak sekalian saja kita bacakan be drunk yang masyur itu? Salah satu nukilan sajak Les Fleurs du mal atawa The Flowers of Evil (Bunga-bunga Kejahatan) yang sempat membuat geram aparatus negara dan gereja di Prancis kala itu. Bahkan menuai pujian dari 'Papinya' Madame Bovary. Dalam satu kesempatan Gustave Flaubert berkata "Baudelaire telah menemukan cara untuk meremajakan Romantisisme," katanya yang dilanjutkan "Ia memiliki sikap keras kepala seperti marmer, dan bertingkah seperti penyibak kabut sastra Inggris."
Seperti setiap terbitnya matahari, tentu gemilang mentari, sastra Prancis harus berakhir pada sebuah senja tanggal 31 Agustus 1867. Baudelaire meninggal dalam kesakitan stroke, penyakit yang menggerogoti dan hutang yang melilit. Sajak tak membuat seorang penyair menjadi kaya dan terjamin. Si pemabuk dibaptis sesaat sebelum kematianya dengan rindu yang membuncah pada kekasihnya yang jauh disana. Dan inilah senukil sajaknya yang masyur itu. Saat Baudelaire masih jalang dan mabuk. Be drunk..

Be Drunk

You have to be always drunk.

That's all there is to it--it's the only way.

So as not to feel the horrible burden of time

that breaks your back and bends you to the earth,

you have to be continually drunk.

But on what?

Wine, poetry or virtue, as you wish.

But be drunk.

And if sometimes, on the steps of a palace

or the green grass of a ditch,

in the mournful solitude of your room,

you wake again, drunkenness already diminishing or gone,

ask the wind, the wave, the star, the bird, the clock,

everything that is flying,

everything that is groaning,

everything that is rolling,

everything that is singing,

everything that is speaking. . .

ask what time it is and wind, wave, star, bird, clock

will answer you:

"It is time to be drunk! So as not to be the martyred slaves of time,

be drunk, be continually drunk! On wine, on poetry or on virtue as you wish."

Semua pasti punya akhir, seperti juga saya, mati muda pun tak masalah. Tapi harus tercatat dalam sejarah. Saya tak hendak mati lalu dilupakan. Saya tak hendak jadi orang biasa yang dalam kuburnya hanya diziarahi saat lebaran tiba. Kelak kematian saya akan dikenang sebagai suatu yang luarbiasa. Kematian dan sejarah, kalian akan mencatat saya dengan tinta terang.

Sabtu, 11 Juni 2011

Ada yang Salah Dengan Jatuh Cinta?


Ada yang salah dengan jatuh cinta? Lalu kenapa bila kita sedang mengalami kondisi tersebut? Maksud saya adalah, apakah salah dengan jatuh cinta? Dalam banyak hal Jatuh cinta seperti menjadi sangat memalukan dan kekanak-kanakan. Saya tak setuju itu. Sesungguhnya kita harus merayakan saat-saat jatuh cinta.

Lalu saya liat mural ini di dekat kontrakan saya. Pembuat mural itu adalah seorang pemuda setempat yang konon patah hati karena diputus kekasihnya. Buat saya tak adil melakukan generalisasi terhadap suatu hal dan dibikin saat sedang galau. Emosi selalu membuat pandangan tak jernih dan seringkali berujung pada penyesalan yang pilu.

Lalu saya teringat sebuah puisi liris dari Walt Whitman, seorang pujangga kanon dari Amerika, yang kelak menginspirasi Gie dan Generasi Beat di Amerika. Buat saya, ia adalah salah satu pujangga terbesar Amerika seperti juga Charil Anwar di Indonesia.

Ia membuat puisi yang penuh dengan kegetiran, emosional dan suasana labil. Saya suka puisi yang semacam ini. Puisi yang selalu berusaha jujur dan apa adanya. Sometimes with one I love, ujarnya. I fill myself with rage. Mengisi diri dengan amarah. Sungguh sebuah sikap yang jujur. Inilah yang membuat saya menyukai Whitman sejak pertemuan saya dengan nama besar beliau difilm Dead Poet Society.

Sometimes with one I love,

Sometimes with one I love
I fill myself with rage, for fear I effuse
unreturned love;
But now I think there is no unreturned love
The pay is certain, one
way or another;

(I loved a certain person ardently, and my love was not returned;
Yet out of that, I have written these songs.)

Lalu Kenapa takut jatuh cinta? Bukankah itu semua kodrat?

Pertanyaan Yang Sempat Luput Dijawab



Ada sebuah pertanyaan yang kerap mengganggu saya. Seperti sebuah bersin yang ditahan, undian yang tak dicabut, dan salam yang tak berbalas. Sebuah perasaan pilu yang sepertinya mendesak-desak hendak keluar. Ini pertanyaan itu.

may i ask you, boy

are you give every girl your Poetry

are you give every girl your sign

are you give every girl your love

and boy,

if, one of your girl say yes to you

will you,

stay just for one girl…?

Saya percaya keraguan itu selalu muncul. Dan saya tak akan mengatakan bahwa kamu yang pertama yang saya cintai. Karena itu adalah kebohongan dan dusta. Tapi yakinlah bahwa hanya kamu yang ingin saya temani sampai mati. Tetapi untuk menjawab keraguan kamu itu saya ingin membacakan sedikit puisi dari Octavio Paz, penyair dari Meksiko.

Judulnya pas sekali dengan segala keraguan kamu, no more clichés. Seolah mengatakan bahwa segala yang aku tulis kelak akan berpotensi menjadi basa-basi. Tetapi inilah hidup, seperti sedang berdiri dalam kondisi yang kita sama-sama tak tahu apa hasilnya.

No More Clichés

Beautiful face

That like a daisy opens its petals to the sun

So do you

Open your face to me as I turn the page.

Enchanting smile

Any man would be under your spell,

Oh, beauty of a magazine.

How many poems have been written to you?

How many Dantes have written to you, Beatrice?

To your obsessive illusion

To you manufacture fantasy.

But today I won't make one more Cliché

And write this poem to you.

No, no more clichés.

This poem is dedicated to those women

Whose beauty is in their charm,

In their intelligence,

In their character,

Not on their fabricated looks.

This poem is to you women,

That like a Shahrazade wake up

Everyday with a new story to tell,

A story that sings for change

That hopes for battles:

Battles for the love of the united flesh

Battles for passions aroused by a new day

Battle for the neglected rights

Or just battles to survive one more night.

Yes, to you women in a world of pain

To you, bright star in this ever-spending universe

To you, fighter of a thousand-and-one fights

To you, friend of my heart.

From now on, my head won't look down to a magazine

Rather, it will contemplate the night

And its bright stars,

And so, no more clichés.


Sepertinya saya sedang rindu kamu yang jauh :)

11-06-2011 -Bondowoso

Sambil mendengarkan Asian Kung Fu Generation


Minggu, 29 Mei 2011

116 So Called Karya dan Pertentangan Mengenai Gerhana

~ Dimana letak keabadian dalam kata-kata?

Hari ini pada 585 sebelum masehi terjadi sebuah perang hebat di Kızılırmak, sebuah sungai di Turki, yang terjadi antara kaum Medes dan kaum Lydians. Setidaknya begitu menurut catatan Herodotus sang pencatat kronik. Pada hari itu juga salah satu filsuf tertua dunia, Thales, memprediksikan mengenai sebuah gerhana. Dan ia benar, tepat pada siang hari, Gerhana yang saat itu dimaknai sebagai kuasa dewa muncul.

Helios sang dewa matahari dikabarkan sedang libur menaiki chariot nya yang membawa serta cahaya dan panas. Tapi tentu saja bukan tentang itu saya akan bercerita. Kali ini saya hendak bercerita tentang blog yang anda baca saat ini. Tentang bagaimana saya memulainya dengan semangat riya’ dan pamer. Lalu dengan sangat naif ingin menjadikan blog ini semacam sarana pencerahan. Oh yeah, I made this fuckin blog to show ya all I can write!

Tentu semua berakhir konyol. Kalian bisa melihat sendiri alasannya, saya dalam banyak posting hanya menulis segala remeh temeh tentang curhat menye-menye yang tak memiliki pengaruh tehadap tatanan dunia global. Jangankan mempengaruhi kebijakan Amerika yang telah dikakangi AIPAC, untuk sekedar membungkam cocot Ruhut Si Tompel aja tak bisa. Dalam banyak hal, blog ini gagal.

Saya membuat blog ini pada tanggal 28 Mei 2010, tujuh hari setelah saya lahir, dan dua minggu setelah almarhum kakak saya juga dilahirkan. Tak ada alasan khusus mengenai kenapa saya memilih tanggal ini, tapi yang jelas saya membuat blog ini karena ajakan bigot bernama Aunurahman Wibisono. Tidak, bukan karena saya menghamba pada dia. Tapi alasan yang ia kemukakan untuk memaksa saya membuat blog sangat masuk akal. “Kalau kita mati besok, apa yang akan dikenal orang tentang kita? Blog cuk! Biar kamu diingat,” katanya.

Selayaknya Adam yang dirayu ular di surga untuk menikmati buah khuldi. Saya nunut gitu saja, patuh pada rayuan setan. Saya menulis layaknya orang kesetanan, tentu saja niatnya adalah riya’ dan posting yang ada sebagian besar merupakan tulisan lama saat saya di Tegalboto. Hasilnya adalah kesia-siaan yang berbuntut pada rasa pesimis dan inferior. “Ah taik buat apa juga nulis?” ujar pikiran saya.

Tapi pada suatu kesempatan seorang kawan membawakan saya film Ikiru karya Akira Kurosawa. Film yang tak akan saya jelaskan ini berkisah tentang kemauan seseorang mencapai tujuan terakhirnya. Terlepas dari rasa ingin dikenal dan disanjung tokoh dalam film itu memberikan pemahaman baru tentang integritas diri. Bukan tentang siapa yang menulis, tetapi tentang untuk apa kita menulis.

And that hit me, saya pikir saya membuat kekeliruan besar. Menulis adalah kerja untuk pencerahan dan segala niat busuk di antaranya hanya akan membuat tulisan itu sia-sia. Padahal di lemari ada setumpuk buku Pramoedya Ananta Toer, yang selama hidup ia dikenal menulis hanya untuk meberikan pengetahuan. Saya malu untuk mengakui bahwa saya gagal sejak dalam pikiran.

Dalam satu fragment film Ikiru, Watanabe, sang tokoh utama mendapatkan pencerahan mengenai alasan hidup justru saat ia akan mati. Tentunya jika saja ia hidup lebih awal dengan tahu alasan ia hidup, maka karya yang akan ia buat akan lebih maksimal. Perjuangan untuk meraih tujuan sepertinya sangat keras. Tapi itulah harga sebuah kehidupan.

Watanabe dan Thales dari Miletus memang tak saling kenal. Tetapi usaha mereka untuk mencapai pemikiran yang lebih baik adalah sama. Thales yang menolak penjelasan mitologis menemukan jalan hidupnya setelah berhasil memprediksikan datangnya gerhana. Sedang Watanabe menemukannya dalam vonis kanker lambung yang dimilikinya.

Gerhana, dalam pemikiran Thales, adalah sebuah momen dimana segala yang ada dijagat raya ini gelap. Sebuah periode pasti yang akan selalu hadir. Dan ia benar, sejarah manusia mengenal perang, genosida, drugs, lady gaga, alay, Djenar Maesa Ayu, dan segala hal yang menunggu untuk tercerahkan.

Saya tidak ingin bertindak seperti Walter Benjamin yang dengan sangat gagah melakukan dikotomi atas apa yang disebutnya high art atau low art. Segala seni, sebutnya, menuju tahapan post auratic dimana segalanya akan dipahami dan dicerna dengan sederhana. Thales dan Benjamin kemudian larut dalam definisi Andy Warhol sebagai Pop Art, yes in the future everybody will be famous kata Andy, for fifteen minutes.

Tapi seperti juga Thales yang mencari alur hidup tak lurus, saya juga demikian. Setidaknya dalam blog ini saya bisa merdeka, atau saya pikir saya merdeka, who knows akan ada orang yang menganggap blog ini sebagai spam, melaporkannya dan sejarah terumbukarya hanya akan jadi nothing but a minor history.

Tapi seperti juga kata Thales, Nothing is more active than thought, for it travels over the universe, and nothing is stronger than necessity for all must submit to it. Saya percaya, suatu saat saya akan menjadi sejarah dan bukan sekedar gerhana.

Selasa, 10 Mei 2011

Mengingat Gie dan sekedar catatan tentang Persma

~ Pada akhirnya kita memilih jadi tumbal atau martir.

Jadi dimana saya harus memulai untuk berkisah tentang pers mahasiswa. Sungguh sebenarnya bercerita mengenai sejarah adalah usaha melawan kebosanan. Seperti kamu, saya juga benci untuk duduk dan mendengarkan orang tak jelas bercerita tentang hal yang sebenarnya tak menarik. Persma adalah segala puncak dari ke-tak-menarikan.


Pers mahasiswa adalah sebuah entitas organ mahasiswa yang bergerak dalm bidang jurnalistik. Seharusnya demikian, tetapi praktek dilapangan seringkali tak jauh beda dengan ekskul menulis. Ya menulis. Sekedar mencurahkan uneg-uneg dalam kata dan ditautkan seolah itu menjadi karya hebat.


Saya mungkin terdengar nyinyir, tapi lebih baik kamu sekalian yang hendak berproses dalam pers mahasiswa tahu lebih awal. Bergelut dengan persma adalah bergelut dengan segala yang bernama absurditas dan kedegilan pemikiran. Menjadi orang yang diasingkan karena berbeda dan kritis. Karena bukanlah persma jika tak kritis, ia hanya sekedar penulis medioker kampungan.


Pers mahasiswa dimulai dari ratusan tahun lalu. Pada saat para mahasiswa hindia di Belanda berusaha menulis untuk menuntut pelaksanaan politik etis. Sebuah usaha mencerdaskan pribumi dengan akses pendidikan yang merata dan lebih luas. Kala itu belum dikenal pers mahasiswa. Hanya perjuangan atas dasar kesukuan demi kemajuan daerahnya masing-masing.


Kemudian hal ini berkembang setelah ide-ide nasionalisme kebangsaan dikenal. Tentu saja hal ini dimulai pada tanggal 28 Oktober 1928 yang konon adalah hari sumpah pemuda. Melalui sumpah “berbahasa satu bahasa Indonesia” kanal perjuangan yang dahulu berupa diplomasi dan perjuangan perang. Kini perjuangan menemukan jalannya yang baru. Kata-kata.


Tulisan dan kaitannya dengan pers mahasiswa, adalah perjuangan untuk mengabarkan. Informasi dan usaha menarasikan perlawanan. Kamu akan memulai proses panjang yang diawali satu huruf, kata, kalimat dan pamflet yang bisa menggugah dan menggerakan hati. Dalam banyak peradaban, sebuah tulisan bisa mengawali sebuah revolusi pemikiran.


Adalah Soe Hok Gie, seorang tionghoa pemikir cum wartawan, yang menyadari hal tersebut. Menulis untuknya adalah sebuah usaha untuk melakukan perjuangan. Lebih dari itu, sebagai wartawan mahasiswa, Gie secara frontal melakukan kritik terhadap pemerintah dan tokoh berkuasa kala itu. Takut? Tentu tetapi apalah arti seorang intelektual yang gagal memanfaatkan kemampuannya untuk kebaikan bersama. Mereka tak lebih dari sampah.


Jika kemudian saya harus bertanya maka pertanyaan pertama yang harus kita jawab adalah: Who am I? Gie telah menjawabnya dengan garang ia berkata :


Saya telah menjawab bahwa saya adalah seorang intelektual yang tidak mengejar kuasa tapi seorang yang ingin mencanangkan kebenaran. Dan saya bersedia menghadapi ketidak-populeran, karena ada suatu yang lebih besar: Kebenaran.


Bukankah kebenaran merupakan hal yang paling hakiki? Lalu kemanakah kebenaran itu kemudian akan berjalan. Saya pikir ia akan berjalan melalui kata-kata menuju setiap hati nurani para pembacanya. Dan pers mahasiswa sebagai salah satu organ yang bergerak di dalamnya harus konsisten untuk melakukan hal itu.


Kemudian di manakah pers mahasiswa harus berada? Saya pikir pers mahasiswa yang aktif berkegiatan di kampus, harus mulai bekerja dan peduli dengan segala hal di sekitar kampusnya. Hal-hal remeh temeh yang terkait dengan permasalahan kampus. Semisal; dedikasi dosen terhadap proses perkuliahan atau akses terhadap berkegiatan. Jangan terpaku pada hal-hal besar yang nantinya akan membuat kita melayang dan lupa diri. Tulislah hal di sekitar kampus kamu dan kabarkan dengan lantang tanpa embel-embel.


Lalu apakah yang harusnya dikerjakan oleh pers mahasiswa untuk menghasilkan sebuah tulisan yang baik? Banyaklah membaca dan membaca dan membaca dan membaca. Karena mustahil memiliki tulisan yang baik jika kamu tak pernah membaca. Gie adalah seorang pembaca yang rakus. Ketika ia sekolah setingkat SMP ia telah melahap buku-buku karya Andre Gide, Ghandi dan juga Chairil. Maka tak heran jika ia memiliki kualitas tulisan tajam yang kuat.


Bagaimana setelah kita membaca? Banyaklah berdiskusi dan ingat CATAT SEGALA HAL PENTING selama diskusi berlangsung. Carilah teman diskusi yang kamu anggap ia menguasai hal yang ingin kamu atau telah kamu baca. Dengan demikian kamu akan punya pandangan yang lebih menyeluruh dan lebih baik. Setelah itu lakukan proses pengendapan, membiarkan pemikiran dengan cara kontenplasi, lalu meminjam sajak Saut Sitompul “Tulis, Tulis, Tulis!”


Menulis bukan untuk gaya-gayaan dan unjuk kepintaran, lebih dari itu, menulis adalah usaha perjuangan. Sudah berapa kali saya gambarkan dalam tulisan ini, bagaimana sebuah tulisan dapat mempengaruhi seseorang. Sebagai contoh kalian perlu membaca Sebongkah Emas Di Kaki Pelangi karya wartawan gaek Bondan Winarno. Sebuah penulisan investigastif yang mampu membuat mentri pada zaman Soeharto meradang.


Jangan takut saat menulis, seperti yang dikatakan Napoleon Bonaparte, “Aku lebih memilih menghadapi seribu bayonet dari pada sebuah pena,” Ia tak sedang gombal. Menulis kawan akan menjadikan kamu seroang pejuang tersembunyi. Tetapi perlu diingat jangan kemudian privilage itu membuat kalian merasa lebih baik dari orang lain. Jika demikian kalian boleh masuk tong sampah secara hina.


Ini bukan panduan, semacam rasa semangat untuk berbagi saja. Kamu bisa belajar dengan sendirinya. Pers mahasiswa sejatinya adalah sekedar usaha untuk mencari jati diri melalui organ penulisan jurnalistik. Jangan telan bulat-bulat apa yang saya tulis. Itu hanya akan menjadikan kamu boneka dan kacung saja. Jadilah besar karena kemampuan kamu sendiri, bukan karena orang lain. Seperti apa yang dikatakan Gie.


Mimpi saya yang terbesar, yang ingin saya laksanakan adalah, agar mahasiswa Indonesia berkembang menjadi “manusia-manusia yang biasa”. Menjadi pemuda-pemuda dan pemudi-pemudi yang bertingkah laku sebagai seorang manusia yang normal, sebagai seorang manusia yang tidak mengingkari eksistensi hidupnya sebagai seorang mahasiswa, sebagai seorang pemuda dan sebagai seorang manusia.


Tetapi itu adalah Gie, kamu boleh setuju, boleh tidak, boleh juga meludahinya sebagai ide absurd yang gila. Setiap masa punya Zeitgeist-nya sendiri, semangat zaman yang menginspirasi jalannya sebuah perjuangan. Definisikan apa perjuangan yang hendak kalian lakukan melalui pers mahasiswa. Sekedar mengisi waktu kosong, sekedar usaha mencari pacar, atau berdialektika mencari pemahaman. Dan selebihnya dusta.


Satu hal yang ingin saya tekankan jika kalian memutuskan untuk berjuang melalui pers mahasiswa. Jangan pernah menulis hal yang tak pernah kalian yakini itu adalah sebuah usaha untuk mencerahkan. Jangan terjebak pada hal global-masal-banal yang sebenarnya bacin. Kamu bingung? Tontonlah televisi dan pikirkan mana yang lebih penting antara pernikahan William-Kate dengan kondisi petani yang ditembak TNI di Kebumen. Dalam banyak hal kawan, kamu harus berpikir sadis demi perubahan.


Pada akhirnya Gie berkata demikian “Saya memutuskan bahwa saya akan bertahan dengan prinsip-prinsip saya. Lebih baik diasingkan daripada menyerah terhadap kemunafikan.” Sebuah sumpah yang keras. Lalu bagaimana dengan kamu?