Selasa, 10 Mei 2011

O_O Zaki

~ Tapi bukankah kita selalu datang sembari mempersiapkan kepergian?

Kawan saya Arys pernah berkata “Jika kamu duduk dekat Zaki, bersiaplah untuk tersedot masuk kedalam dunianya”. Saya kira dia hanya hiperbola, main-main, sekedar memuji dan basa-basi. Tapi ternyata tidak. Arys benar, dalam kata sederhana, berada di dekat Zaki, kita akan diajak menggenapi ramalan Bertold Brecht soal Gelap Masa.

Entah kenapa pada suatu ba’da maghrib yang tidak terlalu terang. Saya iseng membuka file di hardisk portable. Ada kumpulan file orang-orang yang titip data di situ, saya iseng mengintip, lalu nama Zaki loncat keluar. Sebagai orang iseng yang sudah banyak makan asam garam dengan sikap kurang ajar. Saya membuka file itu dengan istiqomah, tentu tidak lupa basmalah.

Saya main-main dalam folder Zaki, menjelajah segala isinya yang sebagian besar adalah file java script. Saya tak jelas apa itu, susunan notes yang bikin pusing. Lalu dengan sengaja membuka folder yang dinamakan ‘catatan kecil’. Didalamnya saya membaca renungan, seperti suara sumbang, seperti bisikan, seperti kalimat yang putus, seperti kata yang ditahan, seperti seperti seperti apapun. Saya tidak tahu cara mendefinisikannya. Mungkin cuma Zaki, dua malaikatnya dan Tuhan yang tahu.

Folder itu merupakan bisik pribadi Zaki. Saya tak hendak mengungkapnya disini. Saya bukan pecinta gosip yang suka mengumbar kata-kata dan aib. Meski saya kadang suka mengumbar aib sendiri. Namun jika boleh saya mengutip salah satu sajaknya, Si penelusur rupa rupa jejak purba yang sok berguna ini, / hanya ingin meneruskan lagi luka batu / pada titik kediamannya yang paling letih dan tragis. Ada semacam jeda yang ragu ragu disana. Dan secara resmi saya tenggelam dalam hidup Zaki.

Baru kemarin rasanya saya duduk berbincang dengan mas Edi, Arys dan saya lupa sisanya. Mungkin Fandy atau mas Ebi. Dalam kantin ekonomi yang ramai itu, saya hanya menangkap satu kalimat. “Zaki sudah seperti GM” kata mas Edy. Hari ini saya sepakat, tanpa syarat dan tanpa debat. Zaki dalam tulisan, adalah GM muda, tapi dalam sikap? Entahlah, saya hanya bisa membayangkan penyair pinggir sungai Praha di film before sunrise, kumal dan jenius.

Awal mula saya kenal Zaki samar-samar, mungkin dalam ruang diskusi, atau dijalanan saat unjuk rasa. Dahulu turun kejalan adalah semacam etalase diri. Entahlah saya benar-benar lupa tapi yang jelas, saat itu saya tidak begitu tertarik dengan Zaki. Penampilannya serampangan, citra seniman atau penyair saya tidak terlalu hapal. Saya menjaga jarak dengan orang-orang semacam itu. Selain karena saya bukan Homo, saya memang tidak menyenangi sastra, terutama puisi.

Buat saya saat itu, puisi tidak menyelesaikan masalah, ia hanya membahasakan masalah dengan lebih syahdu. Sekeras apapun William Blake mengkritik gereja, pada zamannya toh ia tetap tak berhasil. Sekeras apapun Wiji Tukul bersyair, ia akhirnya hilang ditelan zaman. Puisi, menurut saya dahulu, adalah semacam lekat buta pesakitan. Apologi paling murah untuk menolak realitas.

Dalam suatu esei GM bilang saat revolusi tak ada lagi, maka semua akan mati. Sempat kemudian saya bertanya. Semua itu mengacu pada apa? Apakah kehidupan? Apakah sastra? Apakah gerakan? Atau apakah semangat? Biar GM saja yang berpikir. Tetapi jika saya mengingat puisi-puisi Zaki. Saya percaya bahwa negativitas dan nihilisme adalah semacam lelucon saja baginya. Dalam bising sunyi sajak dan perilaku Zaki. Saya dipaksa mengamini diktum Chairil Anwar 'hidup hanya menunda kekalahan'.

Zaki membuat saya melacur pada degil mesra dunia sastra. Mengamini segala bentuk ekspresi kata-kata sebagai senjata yang bahkan lebih tengik dari serbuan bayonet.

Hari ini Zaki berulang tahun, tetapi saya tak tahu ia dimana. Pernah saya merasa sangat rindu lalu membikinkan sajak untuknya. Tentu sajak abal-abal, apalah arti sajak saya itu dihadapan Zaki. Dalam sajak itu saya menyebutnya sebagai gembala kata-kata. Entahlah mungkin akan ia anggap lalapan saja. Tetapi bukankah kamu selalu berkata, tak pernah ada kata selesai pada proses. Seperti puisi yang ia bacakan pada launcing majalah Tegalboto kemarin 'Ambil gunting lalu tusukan'.

Selamat berkurang masa Zak. Kita adalah orang-orang yang terbuang. Yang dipaksa menyerah pada pilihan-pilihan paling picis. Semoga kau terberkati, carilah jalan belakang lain jika suatu saat kau jatuh cinta, perjuangkanlah. Jangan menyerah, puisimu adalah senyawa prana yang memberi hidup.


*28 Maret saat saya pikir telah selesai dengan puisi

Rani

~ Sepertinya mata jadi hulubalang jalang

Saya benci untuk mengakui bahwa dalam banyak hal saya kangen kamu. Hahaha tolol ya? Padahal dekat, mau ketemu tinggal loncat pager juga ketemu. Tapi ya itu lagi, lelaki punya ego yang kadang terlalu tolol untuk bisa dipahami dengan kesabaran paling bebal. Lagipula kamu juga menghilang, untuk itu saya pikir kamu menjaga jarak.

Tapi bukan untuk itu saya menulis ini. Ya kamu tahulah sebagai pria muda yang jadi idola remaja sekarisidenan Mozambique saya ini sibuk. Tapi pas kemarin lagi kondangan di Westminster Abbey ada reminder dari I Phone saya. Katanya kamu ulang tahun. Nah itu dia, saya gak pernah tahu kalau kamu juga dilahirkan. Saya kira seperti kebanyakan manusia kamu dibuat dari tanah. Ternyata saya salah, kamu diciptakan setidaknya bercampur dengan cahaya.

Oke, jadi dimana saya harus bercerita. Hmm saya sebenarnya lupa kapan pertama kali kita bertemu. Saya hanya ingat Fuad. Selebihnya sekedar blur, ya karena dunia ini jadi lonjong miring karena pesona yang kamu buat. Gombal ya? Biar, wong kodrat kok seorang perempuan di gombali. Tapi bukan kodrat lelaki untuk selingkuh, itu adalah penistaan. Jadi entah kamu sekarang berpacaran dengan siapa, selingkuh adalah vonis mati perasaan. Ingat itu.

Kemarin kamu bikin puisi indah sekali, malah saya baru lihat ada puisi yang mengalir. Puisi kamu yang lelaki jingga itu, ah sial benar bagusnya. Kapan-kapan kamu kirim saja itu ke tikungan. Biar nanti diapresiasi. Kalau perlu nanti ikut rencana kami bikin antalogi puisi Jember - Jogja. Kamu musti ikut, biar ada pembanding penyair wanita. Tak melulu Zaki, Halim atau Arys saja. Kukira kamu punya warna sendiri sebagai penyair lugas dan sendu.

Jika pun saya harus menyamakan puisimu mirip sekali dengan puisi Emily Dickinson. Emily dilahirkan di Amerika tepatnya di Amherst, Massachusetts pada tahun 1830. Ia dikenal sebagai salah satu penyair paling cantik yang pernah ada. Tentunya tak kalah beda dengan kecantikan kamu 11-12 saya kira. Seperti juga kamu, Emily tak selalu berhasil kisah cintanya. Beberapa kali kandas dan berakhir dengan perang dingin.

Emily dikenal sebagai penyair yang mengutamakan diksi dan jalinan puisi yang deskriptif. Artinya menjelaskan latar, suasana, dan perasaan yang ia rasakan. Dipengaruhi kondisi 'galau'nya. Seperti kesepian, kesunyian, kerinduan, jatuh cinta dan patah hati. Sejenak sama kan? Hanya saja kamu lebih beruntung, memiliki keluarga dan teman yang tulus. Emily tak sempat memilikinya. Untuk itu kamu pantas bersyukur.

Jika kamu mau berlatih membaca dan menulis. Saya yakin kamu akan bisa mengalahkan novel dan narasi liris dari Nukila Amal. Tapi apalah saya bercerita ini dihari ulang tahunmu yang telat sehari. Maaf, saya tak sempat kasih kado. Belum gajian, maklum wartawan medioker, pemula pula. Sekedar sapa salam doa dan mungkin secarik sajak

Ini ada puisi Emily Dickinson yang paling saya sukai judulnya There is no Frigate like a Boo. Tentu kamu tahu alasannya, karena saya suka buku. Dan puisi ini berkisah tentang buku.

There is no Frigate like a Book

There is no Frigate like a Book

To take us Lands away,

Nor any Coursers like a Page

Of prancing Poetry –

This Traverse may the poorest take

Without oppress of Toll –

How frugal is the Chariot

That bears a Human soul.

Lalu apakah kamu sekarang sudah selesai membaca buku Puthut EA yang saya pinjamkan? Ah biarlah, kadang seperti kenangan, buku itu hadir sesukanya. Tak kenal momen. Mau kita ulang tahun atau tidak. Tetapi bukankah itu yang indah? Menjalani hidup seperti buku. Melalui baris demi baris dan lembar demi lembar. Seperti kisah yang kita tak pernah tahu apa akhirnya.

Dan inilah saya, buta sama sekali dengan kondisi yang ada padamu. Saya tak tahu usia kamu berapa, pacar kamu siapa, atau kapan kamu mau lulus. Yang jelas segala kebaikan dan proses semoga akan menjadikan kamu pribadi yang lebih bijak, lebih baik dan lebih anggun. Dan akhirnya malam memang terlalu larut di luar.

*30 April tengah malam Mei